Anda di halaman 1dari 5

Efek komorbiditas dan komplikasi terhadap mortalitas pasien luka bakar

Ringkasan
World Health Organization telah mendefinisikan 'lansia' sebagai kelompok usia 65
tahun atau lebih. Usia adalah faktor prognostik utama yang diketahui pada trauma
luka bakar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah terdapat
perbedaan epidemiologi pada kelompok lansia yang berkontribusi terhadap mortalitas
yang lebih tinggi dibandingkan kelompok pasien yang lebih muda. Pasien yang
dirawat di unit luka bakar antara 2011 dan 2014 (229 pasien) dilibatkan dalam
penelitian: 159 pasien merupakan kelompok pasien dibawah usia 65 tahun dan 70
(30,6%) pasien merupakan kelompok usia 65 tahun atau lebih. Kelompok lansia
memiliki tingkat mortalitas yang lebih tinggi, 24,6% versus 8,2% (p = 0,002). Pasien
di atas usia 65 tahun menunjukkan lebih banyak komorbiditas penyerta sebelumnya
(1.7 ± 1.1) dibandingkan pasien di bawah usia 65 tahun (1.1 ± 1.0), p <0.001, dan
PPOK secara bermakna terkait dengan tingkat mortalitas yang lebih tinggi (p =
0,014). Pasien di atas dan di bawah 65 tahun menderita luka bakar dengan TBSA
yang serupa, 15,7 versus 14,1, p = 0,720. Mengenai kedalaman luka bakar, luka bakar
yang lebih dalam secara signifikan lebih sering ditemukan pada kelompok usia diatas
65 tahun (17,1% vs 5,0%, p = 0,003). Pasien di atas 65 tahun mengalami lebih banyak
komplikasi (0,9 ± 1,1) daripada kelompok usia di bawah 65 tahun (0,5 ± 0,9), p =
0,009, dan sepsis secara bermakna terkait dengan tingkat mortalitas yang lebih tinggi
(p = 0,042) . Korban luka bakar berusia di atas 65 tahun memiliki risiko mortalitas
yang lebih tinggi dibandingkan korban berusia di bawah 65 tahun. Pasien usia lanjut
umumnya memiliki lebih banyak komorbiditas penyerta sebelumnya dan mengalami
lebih banyak komplikasi selama perawatan di rumah sakit, sehingga meningkatkan
risiko mortalitas. Nyatanya, riwayat PPOK atau komplikasi sepsis selama perawatan
rumah sakit adalah faktor risiko independen untuk mortalitas pada kelompok usia
lansia. Meskipun kelompok usia diatas 65 tahun menunjukkan luka bakar dengan luas
permukaan yang serupa dengan kelompok usia yang lebih muda, proporsi luka bakar
yang dalam lebih tinggi, menunjukkan bahwa luka bakar mungkin lebih agresif pada
lansia

Kata kunci : luka bakar, usia, komplikasi, komorbiditas

Introduksi
World Health Organization (WHO) dan Nasional Institutes of Health (NIH)
telah mendefinisikan 'lanjut usia' sebagai kelompok usia 65 tahun atau lebih. Proporsi
orang lanjut usia telah meningkat negara maju. Di Portugal, populasi orang lanjut usia
telah meningkat dari 8,0% pada tahun 1960 menjadi lebih dari dua kali lipat (16,4%)
pada tahun 2001 dan menjadi 19% pada tahun 2011. Populasi yang semakin tua akan
memiliki dampak yang cukup besar terhadap sistem pelayanan kesehatan termasuk
penyediaan perawatan luka bakar.
Literatur menunjukkan bahwa usia merupakan prognostik utama pada luka
bakar. Outcome terbaik terdapat pada anak-anak, diikuti dengan orang dewasa dan,
terakhir, orang lanjut usia. Orang yang lanjut usia sangat rentan terhadap trauma dan
luka bakar akibat masalah dalam penilaian, koordinasi, keseimbangan dan kecepatan
reaksi disertai dengan berkurangnya kemampuan untuk melarikan diri dari bahaya.
Secara umum, mereka juga memiliki kulit yang menipis, gangguan sensorik,
penurunan cadangan metabolik, perubahan mental dan kondisi medis sebelumnya
yang bersamaan dengan penurunan respon imun dapat berkontribusi terhadap
outcome yang memburuk setelah luka bakar. Selain itu, selama dirawat di rumah
sakit, pasien lanjut usia yang selamat dari luka bakar memiliki peningkatan
morbiditas yang signifikan, terutama akibat komplikasi infeksi. Mereka lebih rentan
terhadap waktu rawat inap di rumah sakit yang lebih lama dan membutuhkan fasilitas
perawatan pasca-rawat inap.
Tujuan primer dari penelitian ini adalah untuk menetukan apakah terdapat
perbedaan epidemiologi pada pasien lansia dengan luka bakar dapat berkontribusi
terhadap mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan pasien dengan usia yang lebih
muda. Tujuan sekunder adalah untuk menganalisa apakah jumlah atau jenis
komorbiditas dan komplikasi pada populasi ini dapat mempengaruhi mortalitas.

Bahan dan metode


Desain studi dan seleksi pasien
Dilakukan penelitian retrospektif, pada satu pusat di unit luka bakar Rumah Sakit
Prelada. Pasien dirawat di unit luka bakar antara Januari 2011 dan Desember 2014
termasuk: mereka yang dirawat di rumah sakit selama kurang dari 24 jam dieksklusi.
Data berikut diambil dari berkas pasien: data demografi, ko-morbiditas, karakteristik
kejadian trauma, etiologi dan karakteristik luka bakar, komplikasi utama, lama rawat
inap dan mortalitas.

Statistik dan analisis data


Data dianalisis menggunakan Microsoft Excel dan perangkat lunak IBM SPSS 22.
Analisis deskriptif disajikan dengan frekuensi absolut ( n ) dan persentase (%) atau
rata-rata (χ) ± standar deviasi (σ) dan median ( m ). Analisis multivariat dilakukan
untuk mengevaluasi bagaimana variabel terkait dengan mortalitas. Nilai p <0,05
dianggap signifikan secara statistik.

Hasil
Selama 48 bulan masa penelitian, sejumlah 233 pasien dirawat di unit bakar
kami. Namun, 4 pasien yang dirawat selama kurang dari 24 jam dieksklusi. Total 229
pasien dilibatkan dalam penelitian: 159 orang berusia di bawah 65 tahun dan 70 orang
berusia 65 tahun atau lebih, pasien lanjut usia merupakan 30,6% dari populasi pasien.
Pada kelompok usia dibawah 65 tahun, 73% pasien adalah laki-laki. Pada
kelompok usia diatas 65 tahun, proporsi jenis kelamin lebih seimbang, dengan laki-
laki sebesar 47%. Perbedaan ini signifikan secara statistik (p <0,001).
Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1 , pasien di atas 65 tahun menunjukkan
lebih banyak komorbiditas penyerta (1.7 ± 1.1) dibandingkan pasien di bawah 65
tahun (1.1± 1.0), p <0,001. Selain itu, pasien yang meninggal memiliki rata-rata
angka komorbiditas sebesar 1,8 dan mereka yang bertahan hidup memiliki angka
komorbiditas sebesar 1,2, p = 0,004. Terkait pasien yang sebelumnya terdiagnosa
memiliki Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), usia diatas 65 tahun secara
signifikan meningkatkan mortalitas (p = 0,014). Namun, pada pasien dengan riwayat
penyakit jantung, hipertensi, diabetes, penyakit mental atau neurologis,
penyalahgunaan tembakau atau alkohol dan obesitas, usia diatas 65 tahun tidak
mempengaruhi risiko mortalitas (p> 0,05). Pasien dengan riwayat asma sebelumnya,
adiksi narkoba atau penyakit imunodefisiensi tidak mencukupi untuk dilakukan uji
statistik.
Pada kelompok lansia, 95,8% dari pasien rawat inap disebabkan oleh insidenn
dalam rumah. Pada kelompok yang lebih muda distribusi proporsinya lebih merata,
dengan 51% trauma terjadi di rumah dan 40% di tempat kerja. Untuk kelompok
lansia, kecelakaan lebih banyak terjadi di ruang tertutup (78,4%), sedangkan pada
kelompok usia yang lebih muda, kecelakaan di ruang tertutup atau terbuka setara
(50%), p = 0,001.
Penyebab utama luka bakar pada kelompok usia lebih dari 65 tahun adalah api
(62,9%) dan air mendidih (22,5%). Dalam kelompok usia di bawah 65 tahun, proporsi
masing-masing penyebab lebih merata. Karena itu, api (62,9 vs. 48,4%, p = 0,004)
dan air mendidih (22,5% vs 15,1%, p = 0,012) secara signifikan lebih jarang
menyebabkan luka bakar pada kelompok usia yang lebih muda (Tabel II)
Menurut Tabel III, pasien di atas dan di bawah 65 tahun mengalami luka bakar
pada luas permukaan tubuh (TBSA) yang serupa, 15,7 versus 14,1, p = 0,720. Ketika
TBSA digolongkan kembali ke dalam kategori-kategori, ternyata kelompok usia di
atas 65 tahun secara signifikan meningkatkan mortalitas hanya pada pasien dengan
TBSA luka bakar 11-25%. Terkait kedalaman luka bakar, luka bakar yang lebih
dalam secara signifikan lebih banyak terjadi pada kelompok usia diatas 65 tahun
(17,1% vs 5,0%, p = 0,003) dan luka bakar superfisial secara signifikan lebih banyak
terjadi pada kelompok usia di bawah 65 tahun (14,3 vs 46,3, p = 0,006). Selain itu,
usia yang lebih tua meningkatkan risiko mortalitas hanya pada pasien dengan
dominan luka bakar kedalaman derajat satu atau dua
Luka bakar pada wajah, trauma inhalasi dan intubasi endotrakeal (ETI) lebih
sering pada pasien yang lebih muda. Namun, pada pasien dengan luka bakar pada
wajah dan mereka yang dilakukan pemasangan ETI, usia di atas 65 tahun secara
signifikan meningkatkan risiko mortalitas (secara berurutan, p = 0,001 dan p = 0,013).
Untuk pasien dengan trauma inhalasi, usia yang lebih tua dari 65 tahun tidak
mempengaruhi tingkat mortalitas (p = 0,052).
Seperti yang ditunjukkan pada tabel IV , pasien di atas 65 tahun umumnya
mengalami lebih banyak komplikasi (0,9 ± 1,1) dibandingkan pasien di bawah 65
tahun (0,5 ± 0,9), p = 0,009. Selain itu, pasien yang meninggal mengalami komplikasi
dengan angka rata-rata 2,2 dan mereka yang bertahan hidup mengalami komplikasi
dengan angka rata-rata 0,3, p <0,001. Terkait pasien yang mengalami sepsis selama
perawatan di rumah sakit, kelompok usia diatas 65 tahun secara signifikan
meningkatkan risiko mortalitas (p = 0,042). Namun, usia di atas 65 tahun tidak
mempengaruhi risiko mortalitas pada pasien dengan komplikasi lain(p> 0,05).
Sejumlah operasi pembedahan yang dilakukan untuk menyembuhkan barier
kulit lebih tinggi pada kelompok usia yang lebih tua, 2,1 vs 1,3 (p = 0,002).
Kelompok lansia memiliki tingkat mortalitas yang lebih tinggi, 24,6% vs8,2%
(p = 0,002) dan waktu perawatan di rumah sakit yang lebih lama, 35,1 vs 23,1 (p
<0,001).

Diskusi
Kelompok usia 65 tahun dan diatasnya mewakili yang pertumbuhan segmen
populasi yang paling cepat di Eropa dan Amerika Serikat. Karena kelompok
demografis ini rentan terhadap cidera trauma termasuk luka bakar, semakin banyak
pasien lanjut usia yang dirawat di unit luka bakar. Dalam sampel kami, 30,6% pasien
rawat inap tergolong pada populasi lansia, yang sesuai dengan penelitian terbaru
lainnya dari negara-negara lain.
Tingkat mortalitas yang lebih tinggi pada korban luka bakar usia lanjut
dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih muda terdeteksi dalam penelitian ini,
namun ini bukan merupakan masalah baru. Literatur melaporkan bahwa mortalitas
di antara pasien luka bakar usia lanjut berkisar antara 7,4-66%, dengan rata-rata
sekitar 30% pada sebagian besar penelitian tersebut. Konsisten dengan laporan yang
ada, tingkat mortalitas pada kelompok lansia kami adalah 24,6%.
Analisis kami mendeteksi adanya hubungan yang signifikan antara usia lebih
dari 65 tahun dengan jumlah komorbiditas yang lebih banyak, dan antara mortalitas
dengan jumlah komorbiditas yang lebih banyak. Namun, di antara pasien dengan
jumlah komorbiditas yang sama, usia lebih dari 65 tahun tidak meningkatkan angka
mortalitas secara signifikan. Karena itu, usia dapat meningkatkan mortalitas, secara
tidak langsung karena hubungannya dengan jumlah komorbiditas yang lebih tinggi.
Menganalisa dampak dari masing-masing komorbiditas, hanya PPOK yang
tampaknya dapat meningkatkan risiko mortalitas pada kelompok lansia, yang juga
mendukung kesimpulan sebelumnya.
Mayoritas pasien mengalami luka bakar di rumah (95,8%), dalam ruang
tertutup (78,4%) akibat api (62,9%) atau akibat cairan panas (28,5%), sesuai dengan
literatur lainnya. Kelompok lanjut usia yang menderita luka bakar biasanya hidup
sendiri dan memiliki masalah dalam jaringan dukungan sosial. Meningkatkan edukasi,
Penetapan langkah-langkah pencegahan dan memperkuat jaringan dukungan sosial
mungkin penting untuk mengurangi terjadinya insiden ini.
Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa pasien lansia dengan TBSA yang
serupa lebih mungkin meninggal daripada pasien yang lebih muda. Namun, pada hasil
kami, usia di atas 65 tahun meningkatkan mortalitas secara signifikan hanya untuk
pasien dengan TBSA 11-25%. Oleh karena itu, hanya untuk luka bakar dengan luas
permukaan yang sedang dapat digunakan usia sebagai faktor prognostik. Untuk luka
bakar yang tidak luas, mortalitas sangat rendah bahkan pada kelompok lansia. Untuk
luka bakar yang lebih luas, mortalitas bergantung pada faktor-faktor lain selain usia.
Meskipun pasien berusia di atas 65 tahun mengalami luka bakar dengan TBSA
yang serupa jika dibandingkan dengan pasien yang lebih muda, proporsi luka bakar
dalam lebih tinggi, yang menunjukkan bahwa luka bakar lebih agresif pada pasien
lansia. Hubungan ini telah diusulkan dalam penelitian-penelitian sebelumnya.
Dalam sampel kami, di antara pasien dengan luka bakar pada wajah dan
pasien yang dipasang ETI, usia di atas 65 tahun meningkatkan risiko mortalitas secara
signifikan. Menurut penelitian sebelumnya, luka bakar wajah secara positif terkait
dengan ETI dini, adanya trauma inhalasi dan TBSA yang lebih tinggi, yang
tampaknya meningkatkan komplikasi dan mortalitas. Trauma inhalasi dan TBSA
adalah variabel independen. Oleh karena itu, intubasi adalah faktor risiko yang
tersisa, yang sebagai variabel dependen, dapat dikendalikan oleh penyedia layanan
kesehatan. Intubasi dini, sebelum pasien masuk ke unit luka bakar, mungkin dapat
menyelamatkan hidup. Namun, intubasi yang tidak diperlukan, terutama pada pasien
usia lanjut, dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.
Penelitian kami mendeteksi adanya hubungan yang signifikan antara usia lebih
dari 65 tahun dengan terjadinya lebih banyak komplikasi, dan antara komplikasi yang
lebih banyak dengan mortalitas. Namun, di antara pasien dengan jumlah komplikasi
yang sama, usia di atas 65 tahun tidak secara signifikan meningkatkan angka
mortalitas. Karena itu, usia dapat terkait dengan tingkat mortalitas yang lebih tinggi,
secara tidak langsung akibat hubungannya dengan terjadinya lebih banyak
komplikasi. Menganalisa dampak dari setiap komplikasi, hanya sepsis yang
tampaknya dapat meningkatkan risiko mortalitas pada kelompok lansia, yang juga
mendukung kesimpulan sebelumnya.
Dalam literatur, prosedur bedah rata-rata yang dilakukan untuk memulihkan
barier kulit pada pasien lansia dengan luka bakar berkisar dari 1,6 hingga 4,1. Dalam
laporan kami, pasien di atas 65 tahun mengalami rata-rata operasi sebesar 2.1
Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan signifikan telah terjadi telah
dilakukan terkait outcome dari pasien dengan luka bakar, pada setiap kategori usia,
tetapi peningkatan pelayanan pada pasien lanjut usia lebih sedikit. Terlebih lagi,
populasi lansia membutuhkan lebih banyak rehabilitasi dan dukungan sosial untuk
mencapai reintegrasi yang dapat diterima. Dengan usia populasi yang semakin
bertambah, ini adalah masalah yang harus diperhatikan dalam sistem kesehatan dan
dalam pengembangan kebijakan pencegahan dan langkah-langkah dukungan sosial.

Kesimpulan
Korban luka bakar yang berusia di atas 65 tahun memiliki tingkat risiko
mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang berusia di bawah 65 tahun.
Pasien lansia umumnya memiliki komorbiditas penyerta dan mengalami lebih banyak
komorbiditas selama perawtan di rumah sakit, yang meningkatkan risiko mortalitas.
Riwayat PPOK atau komplikasi sepsis selama perawatan di rumah sakit
adalah faktor risiko independen untuk kematian pada kelompok usia lansia
Meskipun pasien dengan kelompok usia di atas 65 tahun menunjukkan TBSA
yang serupa dibandingkan pasien dengan kelompok usia yang lebih muda, proporsi
luka bakar dalam lebih tinggi, yang menunjukkan bahwa luka bakar mungkin lebih
agresif pada kelompok lansia
Prosedur intubasi lebih jarang dilakukan pada pasien di atas 65 tahun
dibandingkan yang lebih muda. Namun, apabila diintubasi mereka mengalami risiko
morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi. Oleh karena itu, keputusan untuk
melakukan intubasi pada pasien, terutama pasien yang lebih tua, harus
dipertimbangkan secara seksama.
Mayoritas pasien ini mengalami luka bakar di rumah, di ruang tertutup.
Kenyataannya, korban luka bakar usia lansia biasanya hidup sendiri dan memiliki
masalah jaringan dukungan sosial, yang seharusnya mengingatkan masyarakat dan
pihak berwenang untuk memperkuat jaringan dukungan sosial untuk para lansia.