Anda di halaman 1dari 16

Metode Montessori adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak, berdasar pada teori

perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori, seorang pendidik dari Italia di akhir abad 19 dan awal abad
20. Metode ini diterapkan terutama di pra-sekolah dan sekolah dasar, walaupun ada juga penerapannya
sampai jenjang pendidikan menengah.
Ciri dari metode ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri pada anak dan pengamatan
klinis dari guru (sering disebut "direktur" atau "pembimbing"). Metode ini menekankan pentingnya
penyesuaian dari lingkungan belajar anak dengan tingkat perkembangannya, dan peran aktivitas fisik dalam
menyerap konsep akademis dan keterampilan praktik. Ciri lainnya adalah adanya penggunaan peralatan
otodidak (koreksi diri) untuk memperkenalkan berbagai konsep.
Walaupun banyak sekolah-sekolah yang menggunakan nama "Montessori," kata itu sendiri bukan
merupakan merk dagang, juga tidak dihubungkan dengan organisasi tertentu saja.
SEJARAH
Dr. Maria Montessori mengembangkan "Metode Montessori" sebagai hasil dari penelitiannya
terhadap perkembangan intelektual anak, yang pada awalnya diterapkan kepada anak yang mengalami
keterbelakangan mental tapi diketahui juga efektif untuk anak-anak normal[1]. Dengan berdasar hasil kerja
dokter Perancis, Jean Marc Gaspard Itard dan Edouard Seguin, ia berupaya membangun suatu lingkungan
untuk penelitian ilmiah terhadap anak yang memiliki berbagai ketidakmampuan fisik dan mental. Mengikuti
keberhasilan dalam perlakuan terhadap anak-anak ini, ia mulai meneliti penerapan dari teknik ini pada
pendidikan anak dengan kecerdasan rata-rata.
Pada tahun 1906, Montessori telah cukup dikenal sehingga ia diminta untuk suatu pusat pengasuhan
di distrik San Lorenzo di Roma. Ia menggunakannya sebagai kesempatan untuk mengamati interaksi anak
dengan materi yang ia kembangkan, menyempurnakannya, dan mengembangkan materi baru yang bisa
dipakai anak-anak. Dalam pendekatan yang berpusat pada materi ini, tugas utama guru adalah mengamati
saat anak memilih materi yang dibuat untuk memahami konsep atau keterampilan tertentu. Pendekatan
demikian menjadi ciri utama dari pendidikan Montessori.
Awalnya perhatian Montessori lebih pada anak usia pra-sekolah. Setelah mengamati perkembangan
pada anak yang baru masuk SD, ia dan Mario (anaknya) memulai penelitian baru untuk menyesuaikan
pendekatannya terhadap anak usia SD.
Menjelang ahir hayatnya, dalam buku From Childhood To Adolescence (Dari Masa Kanak-kanak ke
Masa Remaja), Montessori membuat sketsa tentang pandangannya mengenai penerapan metodologinya bagi
pendidikan jenjang menengah dan tinggi.

KEUNGGULAN
Metode Montessori yang merupakan metode belajar yang bergantung pada masing-masing anak
yang dididik, memiliki keunggulan dalam menumbuhkan kekritisan berfikir, berkolaborasi dalam tim, dan
bertindak lebih tegas[1]. Setiap anak memiliki kebebasan dalam memilih aktifitas, yang tentu saja telah diatur
sedemikian rupa oleh para pendidiknya untuk menumbuhkan kemandirian, kebebasan dan keteraturan. Guru,
anak dan lingkungan yang diatur menciptakan segitiga pembelajaran yang baik. Anak dengan bebas
memanfaatkan lingkungan yang ada untuk mengembangkan pribadinya, dan berinteraksi dengan guru ketika
membutuhkan bantuan dan atau arahan yang diperlukan.
Setiap tingkatan usia mempelajari hal yang berbeda, ujung tombak pembelajaran dalam metode
montessori adalah penggabungan kelompok anak-anak dengan usia yang berbeda-beda. Anak yang lebih
muda dapat belajar dari anak yang lebih tua, sekaligus memberikan kesempatan kepada anak yang lebih tua
untuk lebih memperkuat kemampuan yang telah mereka kuasai sebelumnya dengan konsep mengajarkan.
Nantinya tiap individu pasti merasakannya saat bekerja dan bersosialisasi dengan banyak orang yang
berbeda usia di kehidupan nyata.
Montessori juga memperhatikan adanya saat-saat yang sensitif, ketika anak-anak memiliki
kesempatan lebih baik dalam mempelajari sesuatu dibanding masa-masa lainnya.
Misalkan di awal masa anak-anak, mereka mempelajari segala sesuatunya melalui aktifitas gerak dan
penginderaan, dengan berbagai material yang mengembangkan kekuatan kognitif melalui pengalaman
langsung.
Beranjak besar, di tingkatan dasar, anak-anak mulai mengatur pikirannya dari hal-hal yang nyata ke
arah yang abstrak. Mereka mulai mengaplikasikan pengetahuannya ke pengalaman nyata.
Pada setiap tingkatan usia, anak disiapkan untuk menghadapi dunia orang dewasa ketika pikiran dan
emosi berkembang untuk lebih memahami konsep-konsep yang lebih abstrak seperti keadilan, kebebasan
dan kesetaraan.

KEKURANGAN
Ada beberapa kritikan terhadap metode montessori ini. Salah satunya berasal dari orang tua anak
yang dikeluarkan oleh sekolah yang menerapkan metode montessori ini karena anak balitanya adalah anak
yang aktif dan memerlukan perhatian lebih tinggi[2].
Dikatakan olehnya bahwa metode montessori tidak mempertimbangkan bahwa sedikitnya material
pembelajaran tidak hanya mengarah kepada sifat berbagi tetapi dapat mengarah kepada agresi dan insting
untuk mempertahankan hak milik, terutama pada anak usia dini. Pengelompokan anak dengan berbagai usia
juga dapat menimbulkan sikap agresif dari anak yang berusia lebih tua dan keinginan untuk mengalahkan
anak yang lebih kecil dalam penggunaan material belajar yang terbatas jumlahnya. Hal ini menumbuhkan
sifat intimidasi dan merasa lebih benar di diri anak-anak.
Komunikasi dengan orang tua juga adalah hal yang perlu diperhatikan dalam metode ini.
Kadangkala, orang tua tidak tahu menahu perkembangan atau aktifitas yang lebih baik dihindari oleh anak
agar tidak mengarah kepada perilaku yang tidak diinginkan. Perkembangan anak di rumah yang diinginkan
orang tua juga tidak dapat diakomodir dalam aktifitas di sekolah montessori. Misalkan saja orang tua
melihat ada perilaku-perilaku anak yang mengkhawatirkan di rumah, tetapi aspirasi orang tua ini seringkali
tidak diperhatikan oleh pengajar. Orang tua juga tidak mengetahui keunggulan yang anak lakukan dalam
suatu pekerjaan dibandingkan aktifitas lainnya. Terkadang penggunaan jargon dan metode koreksi kesalahan
yang dilakukan di sekolah montessori ini memberikan dampak yang negatif kepada perkembangan anak.
Kemungkinan hal ini disebabkan karena terlalu sering dikoreksi tanpa adanya penghargaan atas usaha yang
dilakukan anak untuk melakukan koreksi sendiri.
Kekurangan-kekurangan yang diutarakan lebih banyak mengarah kepada kemampuan pengajar dan
sistem yang perlu dikembangkan oleh sekolah penganut metode Montessori untuk kembali ke prinsip dasar
metode tersebut. Kembali lagi, prinsip yang dianut adalah prinsip belajar yang fokus kepada masing-masing
anak. Perkembangan dan penyimpangan sedikit apapun dari tiap anak harus dapat dilihat dan dilakukan
tindakan terhadapnya agar anak dapat tumbuh dengan perilaku yang terbaik.
Perinsip dasar metode Montessori adalah:
 Pendekatan perorangan dalam belajar
 Kombinasi pendidikan akademik dan sosial
 Memupuk rasa keingintahuan anak, dan mereka didorong untuk berani melakukan eksplorasi.
 Konsep abstrak dipresentasikan secara nyata
 Ketrampilan dan rutinitas yang diajarkan di sekolah akan diterapkan anak dalam kehidupannya
sehari-hari hingga dewasa
Metode Montessori mengajarkan 5 bidang utama, yaitu:
1. Kemampuan berbahasa
2. Konsep matematika
3. Budaya
4. Sensorik
5. Kehidupan sehari-hari
Untuk pendidikan usia dini, penerapan metode Montessori di sekolah-sekolah pada umumnya adalah
sebagai berikut:
1, Kemampuan berbahasa
Anak-anak dilatih untuk berkomunikasi di hadapan orang banyak. Salah satu contohnya adalah
meminta anak-anak bercerita atau mempresentasikan tema tertentu setiap minggu di kelas.
Selain itu, anak-anak dapat diperkenalkan dengan huruf melalui permainan. Mereka tidak akan merasa
sedang belajar, tetapi mereka akan mengingat semuanya karena bermain.
Kemampuan setiap anak berbeda, sehingga guru tidak memaksa setiap anak melakukan hal yang
sama di saat yang sama.
2. Matematika
Jangan kaget dulu, matematika untuk PAUD bukanlah belajar perkalian atau rumus-rumus.
Matematika mencakup belajar mengenal aneka bentuk, memahami mana ukuran yang lebih besar/kecil,
mengenal angka, dan sebagainya.
Tanpa disadari, anak-anak belajar angka dan berhitung melalui permainan dan lagu. Mereka
mengenal konsep bentuk melalui permainan puzzle atau blok.
Dan mereka akhirnya dapat mengurutkan balok mulai dari yang terbesar hingga terkecil karena bermain
membuat menara.
3. Budaya
Anak-anak diajarkan untuk mengantri, sikap sopan santun, tata krama, dan kebaikan.
Mereka diajarkan cara mencuci tangan yang baik dan dilakukan rutin sebelum makan.
Program bermain di halaman sekolah pun dapat dimanfaatkan untuk mengajar anak untuk bersikap
sportif saat kalah dalam perlombaan dan juga membuat anak bergerak.
Saat ada dua anak bertengkar, guru mengajarkan anak untuk meminta maaf dan memaafkan.
Mungkin kita masih ingat berita viral tentang guru Australia yang mengatakan bahwa lebih baik murid-
muridnya bisa mengantri daripada pandai berhitung tetapi tidak bisa mengantri?
Mungkin di sinilah kelemahan sistem pendidikan di Indonesia, di mana aspek akademis lebih
ditekankan daripada aspek budaya, tata krama, dan moralitas, padahal kesuksesan seseorang lebih
ditentukan dari EQ, bukan IQ.
4. Sensorik
Bila Anda sering kesal karena si Kecil gemar mengacak-ngacak seisi rumah, maklumilah karena
mereka sedang mengembangkan kemampuan indra sensoriknya.
Di sekolah bermetode Montessori, anak-anak diperkenalkan dengan mainan yang melatih indra
sensorik, misalnya botol sensorik, bermain pasir, kacang-kacangan, dan sebagainya.
Kebetulan, mereka memang gemar dengan permainan-permainan seperti itu. Saat bermain dengan
kacang hijau, mereka bisa diminta untuk memasukkan butir demi butir ke botol, sehingga melatih gerak
motorik halus mereka.
Musik dan tari pun diajarkan agar anak tidak hanya diam melulu, tetapi aktif bergerak.
5. Kehidupan sehari-hari
Anak-anak diajarkan berbagai ketrampilan yang membuatnya menjadi balita mandiri, misalnya cara
menggunakan kaos kaki, sepatu, baju, dan celana sendiri.
Mereka juga diajarkan cara memegang piring dan gelas, serta makan sendiri selayaknya orang
dewasa.
Semua kegemaran balita dapat dijadikan proses belajar. Misalnya balita gemar sekali bermain air dengan
cara menuang air dari wadah satu ke wadah lainnya.
Metode Montessori mengajarkan mereka menyiram tanaman sambil menumbuhkan rasa cinta kepada
alam dan lingkungan. Anak-anakpun gembira karena bisa menyiramkan air dari gelas ukur ke pot tanaman.

METODE INKUIRI

Metode inkuiri – Penerapan Metode Inquiri – Pengertian Metode Inquiri


Metode inkuiri adalah metode pembelajaran dimana siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses
penemuan, penempatan siswa lebih banyak belajar sendiri serta mengembangkan keaktifan dalam
memecahkan masalah.

Metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara –cara mengajar yang dipergunakan oleh
seorang guru atau instruktur. Pengertian lain ialah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau
menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secaraindividual maupun kelompok, agar
pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Makin baik metode
mengajar, makin efektif pula pencapaian tujuan (Ahmadi, 2005 : 52)

Proses inquiri adalah suatu proses khusus untuk meluaskan pengetahuan melalui penelitian. Oleh
karena itu metode inquiri kadang-kadang disebut juga metode ilmiahnya penelitian. Metode inquiri adalah
metode belajar dengan inisiatif sendiri, yang dapat dilaksanakan secara individu atau kelompok kecil. Situasi
inquiri yang ideal dalam kelas matematika terjadi, apabila murid-murid merumuskan prinsip matematika
baru melalui bekerja sendiri atau dalam grup kecil dengan pengarahan minimal dari guru. Peran utama guru
dalam pelajaran inquiri sebagai metoderator (Sutrisman, Tambunan, 1987 : 6.39).

Metode inquiri pmerupakan metode pengajaran yang berusaha meletakan dasar dan mengembangkan
cara befikir ilmiah. Dalam penerapan metode ini siswa dituntut untuk lebih banyak belajar sendiri dan
berusaha mengembangkan kreatifitas dalam pengembagnaan masalah yang dihadapinya sendiri. Metode
mengajar inquiri akan menciptakan kondisi belajar yang efektif dan kundusif, serta mempermudah dan
memperlancar kegiatan belajar mengajar (Sudjana, 2004 : 154).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa metode inquiri dalam penelitian ini
adalahsuatu teknik instruksional dalam proses belajar mengajar siswa diharapkan pada suatu masalah, dan
tujuan utama menggunakan metode inquiri adalah membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan
penemuan ilmiah.

Sedangkan asumsi-asumsi yang mendasari metode inquiri adalah sebagai berikut :


1. Keterampilan berpikir kritis dan berpikir dedukatif sangat diperlukan pada waktu mengumpulkan evidensi
yang dihubungkan dengan hipotesis yang telah dirumuskan oleh kelompok
2. Keuntungan para siswa dari pengalaman-pengalaman kelompok di mana mereka berkomunikasi, berbagai
tanggung jawab dan bersama-sama mencari pengetahuan.
3. Kegiatan-kegiatan belajar yang disajikan dalam semangat berbagi inquri menambah motivasi dan
memajukan partisipasi aktif (Hamalik, 2003 : 64).

Syarat-syarat Penerapan Metode Inquiri


Adapun syarat-syarat penerapan metode inquiri adalah :
• Merumuskan topik inquiri dengan jelas dan bermanfaat bagi siswa
• Membentuk kelompok yang seimbangn, baik akademik maupun sosial
• Menjelaskan tugas dan menyediakan balikan kepada kelompok-kelompok dengan cara yang responsif dan
tepat waktunya.
• Sekali-kal perlu intervensi oleh guru agar terjadi interaksi antarpribadi yang sehat dan demi kemajuan
tugas.
• Melaksanakan penilaian terhadap kelompok, baik terhadap kemajuan kelompok maupun terhadap hasil-
hasil yang dicapai (Hamalik, 2004 : 65).

Sedangkan menurut pendapat Sudjana (2004 : 155) dalam menerapkan metode inquiri ada beberapa
tahapan yaitu :
• Perumusan masalah untuk dipecahkan siswa
• Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis
• Siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan atau hipotesis
• Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi
• Mengaflikasikan kesimpulan/generalissi dalam situasi baru.

Penerapan metode inquiri dalam proses belajar mengajar menuntut keaktifan siswa dalam belajar
individu, maupun kelompok. Mereka harus memahami dan menyelesaikan soal-soal yang terkait dengan
himpunan bagian.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Inquiri


a. Kelebihan Metode Inquiri
1. Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berfikir sebab ia berfikir dan menggunakan kemampuan
untuk hasil akhir
2. Perkembangan cara berfikir ilmiah, seperti menggali pertanyaan, mencari jawaban, dan menyimpulkan /
memperoses keterangan dengan metode inquiri dapat dikembangkan seluas-luasnya
3. Dapat melatih anak untuk belajar sendiri dengan positif sehingga dapat mengembangkan pendidikan
demokrasi.

b. Kelemahan metode inquiri


1. Belajar mengajar dengan metode inquiri memerlukan kecerdasarn anak yang tinggi. Bila anak kurang
cerdas, hasilnya kurang efektif
2. Metode inquri kurang cocok pada anak yang usianya terlalu muda, misalnya anak SD.

Berdasarkan pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap metode mempunyai kelebihan
dan kekurangan tetapi semua itu dapat diatasi dengan baik jika seorang guru kreatif dalam menggunakannya
dan siswa akan terlihat aktif dalam proses belajar mengajar. Metode Inkuiri
HASSAN AL-BANNA

Hassan al-Banna merupakan pendiri dari Ikhwanul Muslimin, salah satu organisasi Islam terbesar
dan berpengaruh pada Abad 20.

Hassan al-Banna dilahirkan pada tanggal 14 Oktober 1906 di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah,
Mesir. Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal al-Qur'an. Ia adalah seorang mujahid dakwah,
peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus sebagai pendiri dan pimpinan Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan
Muslimin).

Ia memperjuangkan Islam menurut Al-Quran dan Sunnah hingga dibunuh oleh penembak misterius
yang oleh banyak kalangan diyakini sebagai penembak 'titipan' pemerintah pada 12 Februari 1949 di Kairo.

Kepergian Hassan al-Banna pun menjadi duka berkepanjangan bagi umat Islam. Ia mewariskan 2
karya monumentalnya, yaitu Catatan Harian Dakwah dan Da'i serta Kumpulan Surat-surat. Selain itu
Hasan al-Banna mewariskan semangat dan teladan dakwah bagi seluruh aktivis dakwah saat ini.

Selain itu ia juga dikenal akan cara berdakwahnya yang sangat tidak biasa. Ia terkenal sangat tawadlu
dikarenakan ia sering berdakwah di warung-warung kopi tempat oarang-orang yang berpengetahuan rendah
berkumpul untuk minum-minum kopi sehabis lelah bekerja seharian. Dan ternyata cara tersebut memang
lebih efektif dilakukan dalam berdakwah.[butuh rujukan]

Hassan al-Banna yang lahir pada 14 Oktober 1906 di Mahmudiyya, Mesir (utara-barat dari Kairo).
adalah seorang guru dan seorang reformis Mesir sosial dan politik Islam, yang terkenal karena mendirikan
Ikhwanul Muslimin, salah satu dari abad ke-20 terbesar dan paling berpengaruh organisasi Islam revivalis.
Kepemimpinan Al-Banna adalah penting bagi pertumbuhan persaudaraan selama tahun 1930-an dan 1940-
an. Ketika Hassan al-Banna berusia dua belas tahun, ia mulai terbiasa mendislipinkan kegiatannya menjadi
empat; siang hari di pergunakanya untuk menuntut ilmu di sekolah, kemudian belajar membuat dan
membetulkan jam dengan orang tua nya hingga sore, waktu sore hingga menjelang tidur ia gunakan untu
mengulang kembali pelajaran sekolah.sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan al-qur'an ia
lakukan seusai salat shubuh. Jadi tidak mengherankan bila Hassan Al-Banna mencetak prestasi-prestasi
gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun, Hassan Al-Banna telah menghafal seluruh Al-Qur'an.
Hassan Al-Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik dan nomor lima terbaik di seluruh mesir.
Pada usia 16 tahun ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum. Demikianlah sederet
prestasi Hassan kecil. Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna, adalah seorang imam lokal yang dihormati dan
guru masjid dari ritus Hanbali. Ia belajar di Al-Azhar University (Lia 24, 1998). Dia menulis dan
berkolaborasi pada buku-buku tentang tradisi Islam, dan juga memiliki toko di mana ia memperbaiki jam
tangan dan menjual gramophones. Meskipun Syaikh Ahmad Al Banna dan istrinya memiliki beberapa
properti, mereka tidak kaya dan harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup, terlebih setelah mereka
pindah ke Kairo pada tahun 1924. Seperti kebanyakan orang lainnya, mereka menemukan bahwa belajar
Islam dan kesalehan tidak lagi sangat dihargai di ibukota (akibat paham sekuler yang begitu kuat saat itu,
yang dibawa oleh kolonial inggris untuk merobohkan semangat kaum muslimin), dan bahwa keahlian tidak
bisa bersaing dengan industri berskala besar.

Berdirinya organisasi ikhwaul muslimin bertepatan dengan tanggal 20/maret/1928. Bersama keenam
temannya, Hassan Al-Banna mendirikan organisasi ini(ikhwanul muslimin) di kota ismailiyah.

Pertumbuhan masyarakat terutama diucapkan setelah Al-Banna dipindahkan kantor pusatnya ke


Kairo pada tahun 1932. Faktor paling penting yang membuat ekspansi ini dramatis mungkin adalah
kepemimpinan organisasi dan ideologis yang disediakan oleh Al-Banna. Dalam Ismailia, di samping kelas
hari, dia melakukan niatnya memberi kuliah malam kepada orangtua muridnya. Dia juga berkhotbah di
masjid, dan bahkan di warung kopi. Pada awalnya, beberapa pandangannya tentang poin yang relatif kecil
dari praktik Islam menyebabkan perbedaan pendapat yang kuat dengan elit agama setempat, dan ia
mengadopsi kebijakan menghindari kontroversi agama. Dia terkejut oleh banyak tanda-tanda mencolok
dominasi militer dan ekonomi asing di Isma'iliyya: kamp-kamp militer Inggris, bidang pelayanan umum
yang dimiliki oleh kepentingan asing, dan tempat tinggal mewah dari karyawan asing dari Terusan Suez
Perusahaan, sebelah jorok tempat tinggal dari pekerja Mesir.

Dia berusaha untuk membawa perubahan, dia berharap untuk melalui lembaga-gedung, aktivisme
tanpa henti di tingkat akar rumput, dan bergantung pada komunikasi massa.Dia melanjutkan untuk
membangun sebuah gerakan massa yang kompleks yang menampilkan struktur pemerintahan canggih;
bagian yang bertanggung jawab untuk melanjutkan nilai-nilai masyarakat di kalangan petani, buruh, dan
profesional; unit dipercayakan dengan fungsi-fungsi kunci, termasuk propagasi pesan, penghubung dengan
dunia Islam, dan tekan dan terjemahan, dan komite khusus untuk urusan keuangan dan hukum.

Dalam penahan ini organisasi ke dalam masyarakat Mesir, Al-Banna mengandalkan jaringan sosial
yang sudah ada (ikhanul muslimin), khususnya yang dibangun di sekitar masjid, asosiasi kesejahteraan
Islam, dan kelompok-kelompok lingkungan. Tenun ini ikatan tradisional menjadi struktur khas modern pada
akar kesuksesannya. Langsung terpasang bagi persaudaraan, dan makan ekspansi, dilakukan berbagai usaha,
klinik, dan sekolah. Selain itu, anggota yang berafiliasi dengan gerakan melalui serangkaian sel, usar
revealingly disebut families tunggal: usrah. Materi, dukungan sosial dan psikologis yang diberikan
instrumental sehingga kemampuan gerakan untuk menghasilkan loyalitas yang sangat besar di antara para
anggotanya dan untuk menarik anggota baru. Layanan dan struktur organisasi masyarakat sekitar yang
dibangun tersebut dimaksudkan untuk memungkinkan individu untuk berintegrasi ke dalam pengaturan jelas
Islam, prinsip-prinsip sendiri dibentuk oleh masyarakat.

Berakar dalam Islam, pesan Al-Banna ditangani masalah termasuk kolonialisme, kesehatan
masyarakat, kebijakan pendidikan, manajemen sumber daya alam, Marxisme, kesenjangan sosial,
nasionalisme Arab, kelemahan dunia Islam di kancah internasional, dan konflik yang berkembang di
Palestina. Dengan menekankan keprihatinan yang menarik berbagai konstituen, Al-Banna mampu merekrut
dari antara bagian-lintas masyarakat Mesir - meskipun pegawai negeri modern-berpendidikan, karyawan
kantor, dan profesional tetap dominan di kalangan aktivis organisasi dan pengambil keputusan. Al-Banna
juga aktif dalam menentang imperialisme Inggris di Mesir. Selama Perang Dunia II, ia sempat ditangkap
oleh pemerintah pro-Inggris, yang melihatnya sebagai subversif.

Antara 1948 dan 1949, tidak lama setelah masyarakat mengirim relawan untuk bertempur dalam
perang di Palestina, konflik antara monarki dan masyarakat mencapai puncaknya. Prihatin dengan
meningkatnya ketegasan dan popularitas persaudaraan, serta dengan desas-desus bahwa itu merencanakan
kudeta, Perdana Menteri Mahmoud sebuah-Nukrashi Pasha bubar itu pada bulan Desember 1948. Aktivis
organisasi yang ditangkap dan puluhan anggotanya yang dikirim ke penjara. Kurang dari tiga minggu
kemudian, perdana menteri dibunuh oleh seorang anggota persaudaraan, Abdul Majid Hasan Ahmad.

Setelah pembunuhan itu, Al-Banna segera mengeluarkan pernyataan mengutuk pembunuhan itu,
yang menyatakan teror yang bukan cara yang bisa diterima dalam Islam. Hal ini pada gilirannya mendorong
pembunuhan Al-Banna. Pada tanggal 12 Februari 1949 di Kairo, Al-Banna di kantor pusat Jamiyyah al-
Shubban al-Muslimin dengan saudaranya iparnya Abdul Karim Mansur untuk bernegosiasi dengan Menteri
Zaki Ali Basha yang mewakili pihak pemerintah. Menteri Zaki Ali Basha tidak pernah tiba. 5 jam malam
Al-Banna dan saudaranya iparnya memutuskan untuk pergi. pembunuhan itu terjadi ketika Al-Banna dan
saudaranya sedang menunggu taksi.

Saat mereka berdiri menunggu taksi, mereka ditembak oleh dua orang. Al-Banna terkena tujuh
tembakan. Laterwards, dia dibawa ke rumah sakit dan mereka telah menerima perintah dari monarki untuk
tidak memberinya perawatan di mana ia meninggal kematian lambat dari luka-luka, Hassan Al-Banna
menyadari bahwa mereka telah diperintahkan untuk tidak memperlakukan dia dan dia membuat 3 doa
terhadap Monarki. Hassan Al-Banna wafat pada tanggal 12 Februari 1949.

Hassan al-Banna dikenal memiliki dampak yang besar dalam pemikiran Islam modern. Dia adalah
kakek dari Tariq Ramadan dan kakak Gamal al-Banna. Untuk membantu menguduskan tatanan Islam, al-
Banna menyerukan melarang semua pengaruh Barat dari pendidikan dan memerintahkan semua sekolah
dasar harus menjadi bagian dari mesjid. Dia juga menginginkan larangan partai politik dan lembaga
demokrasi lainnya dari Syura (Islam-dewan) dan ingin semua pejabat pemerintah untuk memiliki belajar
agama sebagai pendidikan utama.

Muwasafat Tarbiyah adalah kriteria yang perlu ditanamkan dalam diri untuk menjana keperibadian
Muslim yang syumul.
1) Aqidah Sejahtera (Salim-ul Aqidah)
Tidak menjampi kecuali dengan al-Quran yang ma’thur
Tidak berhubung dengan Jin
Tidak meminta bantuan dari orang yang meminta bantuan jin
Tidak menenung nasib
Tidak mendekati tukang tilik
Tidak mengusap kubur
Tidak meminta bantuan dari simati
Tidak bersumpah dengan selain Allah
Tidak mempercayai adanya sial
Mengikhlaskan amal kerana Allah
Mengimani rukun-rukun Iman
Mensyukuri Allah swt ketika menerima nikmat
Sentiasa sedar Syaitan adalah musuh
Menerima sepenuhnya dari Allah dan menolak sesuatu yang diturunkan selain Allah swt

2) Ibadah Yang Sahih (Shahih-ul 'Ibadah)


Tidak menolak untuk melaungkan azan
Bersuci dengan sempurna
Sangat menghargai solat berjemaah
Sangat suka berjemaah di masjid
Memperbaiki mutu solat
Qiamullail seminggu sekali
Menunaikan zakat
Berpuasa wajib
Berpuasa sunat sehari setiap bulan
Ada niat untuk menunaikan haji
Beriltizam dengan adab-adab tilawah
Khusyuk ketka membaca al-Quran
Menghafaz 1 juzuk dari al-Quran
Berdoa pada waktu-waktu yang diutamakan
Mengakhiri harinya dengan taubat dan istighfar
Menjadikan setiap amalan mempunyai niat
Menjauhi dosa-dosa besar
Sentiasa membaca zikir pagi
Sentiasa membaca zikir petang
Mengingati Allah swt pada setiap situasi
Menunaikan Nazar
Menyebarkan Salam
Menahan anggota dari perkara haram
Beri’tikaf di bulan Ramadhan jika ada peluang
Menggunakan sugi/siwak
Sentiasa bersuci (berwudhuk) sedaya mungkin

3) Akhlak Yang Mantap (Matin-ul Khuluq)


Tidak takabbur
Mempunyai pendirian
Tidak menipu
Tidak mencaci
Tidak mengadu domba
Tidak mengumpat
Tidak berdusta
Tidak mengejek
Tidak memperlekehkan sesuatu kumpulan
Tidak berkawan dengan orang yang berkelakuan buruk
Mengasihi orang yang lebih muda
Menghormati orang yang lebih tua
Menunaikan janji
Menundukkan pandangan
Menjaga rahsia
Menutup dosa orang lain
Cemburu terhadap isteri
Mempunyai perasaan cemburu atas agamanya

4) Mampu Berdikari (Qadirun 'Ala-l Kasbi)


Menjauhi pekerjaaan yang haram
Menjauhi riba
Menjauhi judi
Menjauhi penipuan
Menunaikan zakat
Membuat simpanan walaupun sedikit
Tidak menangguh-nangguhkan tugasan yang diamanahkan
Memelihara harta awam
Memelihara harta peribadi
5) Berpengetahuan luas (Mutsaqqaf-ul Fikri)
Mampu membaca dan menulis dengan baik
Membaca tafsir 1 juzuk dari al-Quran
Memelihara hukum-hukum tilawah
Menghafaz setengah dari hadith 40
Menghafaz 20 hadith dari Riyadhusshalihin
Mengkaji marhalah Makkah dan menguasai ciri-cirinya yang penting
Mengenali sepuluh orang yang dijanjikan Syurga
Mengetahui hukum-hukum taharah/bersuci
Mengetahui hukum-hukum solat
Mengetahui hukum-hukum puasa
Membaca sesuatu di luar bidangnya. 4 jam seminggu
Memahirkan diri dengan wasilah-wasilah moden
Sentiasa peka akan serangan Zionis terhadap Islam
Mengetahui pertubuhan-pertubuhan yg menyeleweng
Mengetahui aspek keburukan dari perancang keluarga
Mendengar dengan baik
Mampu memberikan pandangan
Bersedia menerima tugas-tugas kolektif
Tidak menerima syubahat yang dilemparkan keatas kita

6) Tubuh Yang Cergas (Qawwiy-ul Jism)


Bersih tubuh badan
Bersih pakaian
Tempat tinggal yang bersih
Beriltizam dgn sunnah (adab) makan dan minum
Tidak berjaga malam berlebihan
Iltizam dgn senaman 2 jam seminggu
Bangun sebelum terbit fajar/subuh
Mematuhi kaedah membaca dari aspek kesihatan
Meninggalkan tabiat merokok
Menjauhi tempat-tempat kotor
Menjauhi tempat-tempat berpenyakit

7) Menguasai Diri (Mujahadat-ul Li Nafsi)


Menjauhi perkara-perkara haram
Menjauhi tempat-tempat lalai yang diharamkan
Meninggalkan tempat-tempat maksiat

8)Teratur urusannya (Munazhzhamun Fi Syu'unihi)


Penampilan yang elok
Tidak mempunyai hubungan dengan pihak yang menentang Islam

9)Sangat Menghargai Masa (Harishun 'Ala Waqtihi)


Bangun awal
Menggunakan masa tertentu untuk belajar

10)Bermanfaat Kepada Orang Lain (Nafi'un Li Ghairihi)


Menunaikan hak ibu bapa
Menyertai majlis-majlis kegembiraan
Membantu orang-orang yang memerlukan
Membimbing orang yang sesat
Berkahwin dengan pasangan yang sesuai

10 Tarbiyah Characters (Muwashofat Tarbiyah)

1. Salimul Aqidah (Good Faith)

Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan
aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan
yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan
kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana
firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan
semesta alam’ (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka
dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman
atau tauhid.

2. Shahihul Ibadah (Right Devotion)

Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam
satu haditsnya; beliau menyatakan: ’shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan
ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah
Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq (Strong Character)

Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang
harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-
makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di
akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus
untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung
sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya
kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).

4. Qowiyyul Jismi (Physical Power)

Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada.
Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran
Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam
Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-
bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim
dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita
anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim
sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang
artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

5. Mutsaqqoful Fikri (Thinking Brilliantly)

Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting.
Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang
merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu
tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi
manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang
mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-
Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus
kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki
wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa
mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan
kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya:
Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-
orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

6. Mujahadatun Linafsihi (Continence)


Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus
ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang
buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya
kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh
karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam,
Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa
nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

7. Harishun ‘ala Waqtihi (Good time management)

Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena
waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak
bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili
dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24
jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang
rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan:

Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’ Waktu merupakan sesuatu yang cepat
berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj
waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia.
Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum
datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang
sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (Well Organized)

Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang
ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan
masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan
ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta
kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang
dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan
berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat
perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

9. Qodirun ‘alal Kasbi (Independent)

Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi)
merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan.
Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang
memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah
dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti
miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan
umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari
nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja
yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki
yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

10. Naafi’un Lighoirihi (Giving Contribution)

Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim.
Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya
merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak
menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir,
mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga
jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam
kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat
bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).