Anda di halaman 1dari 6

INDIVIDUALISASI

Tidak ada individu yang identik bahkan pada kembar identik yang secara sekilas sangat
mirip hingga tak dapat dibedakan. Namun lain halnya bila menyangkut material rangka,
karena setiap individu memiliki keunikan tersendiri. Pada dasarnya hal ini dikaitkan dengan
pengaruh lingkungan dalam pertumbuhkembangan tulang semasa hidup seseorang yang akan
menciptakan beragam kombinasi unik yang “tersirat” pada tulangnya.
Individualisasi adalah bagian dari identifikasi terkait dengan sisa rangka manusia tak dikenal.
Individualisasi mendeskripsikan karakter-karakter, ciri-ciri seseorang berdasarkan sisa rangkanya.
Dengan demikian informasi yang dihimpun dari individualisasi akan menambah kelengkapan data
individu (biographical profile) berdasarkan sisa rangkanya. Semakin banyak informasi individu
semakin tinggi pula kemungkinan kecocokan antara sisa rangka manusia dengan seseorang yang
mungkin dilaporkan hilang akibat tindak kejahatan atau bencana. Dengan kata lain, data
individualisasi adalah supporting data dalam proses identifikasi.
Jika jenasah masih utuh maka seluruh bagian tubuh diperiksa untuk mengetahui tanda-
tanda bekas luka (scars), ciri lahir, kecacatan tubuh, dan modifikasi tubuh (tato, piercing,
cosmetic gigi, telinga, hidung dsb) yang mungkin dimiliki oleh jenasah tersebut semasa
hidupnya. Tanda-tanda tersebut dapat bersifat ciri individual, oleh karena itu sangat berguna
untuk membantu mengungkap identitas seseorang. Informasi mengenai hal ini biasanya
didapatkan dari keluarga atau kerabat dekat jenazah yang tentunya mengingat dan mengenali
tanda-tanda unik, khas atau khusus pada tubuh korban tersebut.
Namun, jika kondisi jenasah sudah menjadi rangka (skeletonized) beberapa tanda ini
ada yang masih terekam, misalnya kebiasaan pada masa hidup. Bagian tubuh yang dipasung
dalam waktu lama akan meninggalkan bekas pada rangkanya, sehingga dapat dikenali dan
dapat menjadi informasi penting. Demikian pula suatu kebiasaan yang dilakukan dalam
waktu lama dan dengan intensitas tinggi akan meninggalkan jejak pada rangka. Misalnya,
kebiasaan menggunakan pipa untuk merokok akan memberikan dampak pada bentuk gigi,
pekerjaan tertentu seperti menarik becak, kuli pelabuhan dsb, akan memberikan efek pada
punggung atau kaki. Hal ini disebut occupational stress marker, tanda pada tulang yang
diakibatkan oleh tekanan dan intensitas pekerjaan. Occupational stress marker dapat pula
terjadi pada pemain musik profesional yang membutuhkan waktu latihan panjang (misalnya,
saxofon).
Selain dari kebiasaan semasa hidup, beberapa penyakit patologis juga dapat dilihat
tanda-tandanya pada tulang. Seperti pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Toetik K,
Rusyad AS, dan Delta BM yang meneliti tengkorak yang memiliki tanda patologis, tanda
tersebut dibagi berdasarkan jenis patologisnya (tabel 1).
Tabel 1 Beberapa macam patologis yang ditemukan pada tengkorak yang diteliti (Koesbardiati et al. 2012).

No Kelompok patologis Indikasi penyakit


1 Cribra orbitalia Hematopoetic disorder, avitaminosis, infeksi,
ricket dsb
2 Porotic hyperostosis Hematopoetic disorder, avitaminosis, infeksi,
riccket dsb
3 Enamel hypoplasia Gangguan pertumbuhan, avitaminosis,
infeksi
4 Lesi Tumor, infeksi bacteria dsb
5 Periodontitis Dental disorder

Cribra orbitalia dan porotic hyperostosis adalah bentuk lesi seperti sarang semut .
Cribra orbitalia biasa muncul pada bagian atap orbita, sedangkan porotic hyperostosis dapat
timbul di seluruh bagian rangka. Lesi pada tulang dalam bentuk porositas tulang ini
disebabkan oleh kerusakan formasi tulang. Timbulnya cribra orbitalia dan porotic
hyperostosis mengindikasikan adanya infeksi, penyakit metabolik, atau kanker yang
menyerang tubuh seseorang. Penyebab paling umum dari cribra orbitalia dan porotic
hyperostosis adalah anemia, seperti sickle cell anemia dan thalasemia yang timbul secara
genetik. Porotic hyperostosis juga dapat disebabkan oleh iron deficiency, rickets, dan infeksi
(lepra, syphilis dsb) atau pendarahan kronis akibat scurvy. Lesi juga mengindikasikan adanya
infeksi bakteri seperti sifilis, lepra, dan TBC. Kerusakan akibat syphilis ditandai oleh
osteosclerotic sebagai respons terhadap infeksi, dan lesi ini disebut Carries sicca yang bila
sembuh akan meninggalkan bekas yang lebih dalam, lingkaran konsentrik, dan sclerotic.
Periodontitis adalah kelanjutan dari gingivitis yang ditandai dengan hilangnya jaringan tulang
alveolar terkait dengan ligament sekitar gigi sebagai penyangga gigi. Penyakit metabolisme
dapat mengakibatkan gangguan pada jaringan periodontal, misalnya pada diabetes mellitus.
Selain itu, scurvy juga menyebabkan gusi mudah berdarah yang bisa menyebabkan
pembengkakan pada jaringan periodontal. Demikian pula dengan ketika tubuh kekurangan
protein melemahkan dukungan jaringan pendukung dan menyebebakan periodontitis. Enamel
hypoplasia adalah gangguan pertumbuhan gigi berbentuk linear dan dapat diamati serta
diraba (tampak seperti garis-garis horizontal pada permukaan labial gigi depan rahang atas)
yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A, C dan D serta mineral fluor saat proses
pembentukan benih gigi.
Dengan mengetahui penyakit (patologis) atau gangguan pertumbuhan yang terbaca
pada sisa rangka manusia maka kita dapat memberikan informasi lebih banyak sebagai usaha
melengkapi data dalam rangka mengidentifikasi seseorang. Selain itu dengan ditemukannya
penyakit dan gangguan pertumbuhan kita dapat memproyeksikan kondisi masa hidup
seseorang, terutama jika sisa rangka ditemukan dalam jumlah banyak dan mempunyai ciri
patologis sama, kita dapat memberikan gambaran situasi kesehatan suatu wilayah atau
bahkan Negara.
Tanda-tanda lain yang dapat ditemukan pada sisa rangka adalah trauma pada tulang
(Siegel & Mirakovits 2010). Sebagian besar orang pasti pernah mendapat luka/cidera pada
tulang semasa hidupnya. Jika tulang tersebut rusak dikarenakan trauma tersebut, maka hal ini
akan menimbulkan jejak kerusakan (bekas) sebagaimana penyembuhannya. Tanda-tanda ini
biasanya akan tampak pada pemeriksaan radiografis menggunakan sinar X. Post mortem X-
ray yang dilakukan dapat dibandingkan dengan ante mortem x-ray bila ada, sehingga dapat
menjadi bukti positif dalam identifikasi. Berbagai bentuk trauma pada tulang misalnya fraktur
tulang, biasanya diperbaiki dengan penambahan plat metal, skrew, pen maupun protesa lain
(seperti implan) guna memberi kestabilan pada tulang yang mengalami trauma tersebut agar
dapat tetap digunakan secara fungsional. Kebanyakan implan disertai dengan logo pabrik
pembuat dan nomor seri yang dapat digunakan untuk melacak identitas pemakai implan
tersebut. Keberadaan benda-benda ini dapat digunakan dalam identifikasi, termasuk
keberadaan peluru dan pecahan proyektil. Selain trauma tulang, yang dapat dilihat dari
gambaran radiografis tulang adalah variasi arsitektur tulang yang berbeda dan khas setiap
individu. Misalnya, bentuk ruang-ruang sinus, juga tempat keluar-masuk pembuluh vena dan
arteri pada tengkorak dapat bersifat individualistik.

Gambar 1 Perbandingan gambaran radiografis post mortem dan ante mortem yang menunjukkan adanya
pemasangan surgical plate dan bone screw (Siegel & Saukko 2013).
Gambar 2 Implan pada cervical vertebrae yang menunjukkan adanya nomor seri (Siegel & Saukko 2013).

Bila data radiografi ante mortem tidak ada, maka foto korban atau deskripsi mengenai
ciri-ciri khusus korban yang didapat dari informasi keluarga atau kerabat dekat dapat
digunakan untuk membantu identifikasi. Misalnya informasi mengenai riwayat perawatan
gigi (riwayat pemakaian protesa gigi, tambalan jenis tertentu, perawatan saluran akar),
ataupun operasi yang pernah dilakukan sebelumnya. Selain itu, kelainan-kelainan pada tubuh
korban seperti celah langit-langit mulut, tubuh bungkuk dan miring (scoliosis), dapat
digunakan sebagai data bantu identifikasi. Jika jaringan lunak masi ada pada tubuh jenazah
maka dapat ditemukan tanda khas seperti tanda lahir, bekas luka, tato, dan sebagainya.
Superimposisi pada citra fotografi juga dapat membantu identifikasi karena dapat
membandingkan segala fitur yang ditemukan pada tengkorak dengan foto wajah korban.

Gambar 3 Hasil superimposisi tengkorak dengan foto wajah yang menunjukkan kecocokan ditambah dengan
hilangnya gigi insisif sentral kiri rahang atas (Siegel & Saukko 2013).

Ciri khusus lain yang dapat membantu identifikasi terkait dengan budaya daerah
tertentu sehingga dapat mengarahkan pada penentuan asal-usul/ras jenazah ialah modifikasi
tubuh. Modifikasi tubuh adalah tindakan yang disengaja untuk mengubah bentuk tubuh atau
bagian tubuh dengan tujuan tertentu (estetika, inisiasi, tanda keanggotaan suatu masyarakat,
status sosial, status perkawinan, tanda perkabungan dsb). Hal ini akan meninggalkan jejak
pada jenasah, baik jenasah yang utuh maupun sisa rangka, tergantung pada jenis modifikasi
tubuhnya. Beberapa bentuk modifikasi tubuh yang sudah lama dilakukan dan dikenal di
beberapa masyarakat dunia adalah kaki lotus di China, modifikasi kepala dari Amerika
Selatan, lip stretching di Afrika, perpanjangan leher di Thailand dan Myanmar, scarification
(yaitu dengan menciptakan bekas luka yang timbul) di Afrika, perpanjangan telinga di suku
Dayak Indonesia dan tato di wilayah Pasifik. Masing-masing modifikasi ini memiliki
kekhasan masing-masing sehingga jika ditemukan jenasah tak dikenal dengan ciri seperti
salah satu modifikasi tubuh tersebut di atas, akan mempermudah proses identifikasi.
Modifikasi tubuh yang dilakukan pada jaman dahulu lebih kepada tradisi atau kepercayaan
suatu etnis namun saat ini modifikasi tubuh lebih sering dilakukan sebagai suatu trend mode,
senagai identitas diri dan fungsi estetika. Berbagai macam modifikasi tubuh yang pernah
dilakukan oleh masyarakat Indonesia dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2 Jenis-Jenis Modifikasi Tubuh di Indonesia (Koesbardiati et al. 2016).
Jenis Asal Makna Keterangan
Modifikasi geografis/etnis
Tato Mentawai Simbol status sosial, simbol model tato: hewan, tumbuhan,
keseimbangan manusia dengan alam, batu, dsb.
Dayak Dibedakan antara laki-laki dan Model tato diambil dari alam:
perempuan. Tato bagi laki-laki adalah burung enggang, bunga dsb.
lambang keperkasaan dan Biasanya tato laki-laki bisa di
menghindari dari kejahatan. seluruh tubuh. Sedangkan untuk
Perempuan yang bertato perempuan bisa di kaki dan
menunjukkan status yang siap tangan saja. Semakin banyak
menikah jumlah tato bagi perempuan
semakin tinggi status perempuan
tersebut.
Timor Status sosial, bagi perempuan tanda Model tato: geometris. Biasa di
sudah menikah kaki, bagi perempuan yang sudah
menikah. Sedangkan di tangan
tato nama atau tanggal lahir.
Piercing telinga Dayak Estetika (?) Memperpanjang telinga terutama
bagi perempuan
Modifikasi gigi Toraja Mengikir gigi depan
Dayak
Mengikir gigi untuk perempuan
- Kenyah dan memberi inlay pada 2-3 gigi
seri atas pada laki-laki
Mengikir 10 gigi depan atas
- Kayan

Mengikir 8 gigi depan atas. Pada


- Punan perempuan gigi dikikir lebih
pendek disbanding laki-laki
Mengikir 6 gigi depan atas dan 6
- Murung gigi bawah

Mengikir 6 gigi depan atas dan 6


- Bukit gigi bawah

Mengikir 8 gigi depan atas dan 6


- Saputan gigi bawah

Untuk mempermudah melakukan Mengikir 2 gigi depan atas dan 2


- Dulit Dusun sumpitan gigi bawah

Mentawai Mengurangi sifat hewani Meruncingkan gigi atas dan


bawah
Jawa Estetika Mengikir gigi atas dan bawah
NTT Estetika Mengikir gigi atas dan bawah
Bali Agama Mengikir gigi atas dan bawah

DAFTAR PUSTAKA
Koesbardiati, T. et al., 2016. Modifikasi Tubuh dan Potensinya Dalam Identifikasi Jenasah
dan Rangka Tak Dikenal. , (1), pp.97–106.
Koesbardiati, T., Suriyanto, R.A. & Murti, D.B., 2012. Relevansi Identifikasi Penyakit dan
Gangguan Pertumbuhan dalam Proses Individualisasi Sisa Rangka Manusia Tak
Dikenal. Available at: http://tkoesbardiati_tok-fisip.web.unair.ac.id/artikel_detail-64146-
Antropologi Forensik-Relevansi identifikasi penyakit dan gangguan pertumbuhan
dalam proses individualisasi sisa rangka manusia tak dikenal.html [Accessed March 17,
2018].
Siegel, J.A. & Mirakovits, K., 2010. Forensic Science: The Basics 2nd ed., New York: CRC
Press, Taylor and Francis Group.
Siegel, J.A. & Saukko, P.J., 2013. Encyclopedia of Forensic Sciences, Elsevier Ltd.