Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI SENSORIS


DI RUANG MAWAR RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT
LAWANG, MALANG

Disusun oleh :

I Made Surya Mahardika, S.Kep 14.901.0751


I Putu Ditya Prayanto, S.Kep 14.901.0753
Ni Kadek Ayu Suliastini, S.Kep 14.901.0762
Ni Ketut Prita Febriyanti, S.Kep 14.901.0763
Ni Komang Tri Yuni Ariati, S.Kep 14.901.0764
Ni Luh Gede Andryanti, S.Kep 14.901.0765

PROGRAM STUDI NERS (PROFESI)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA
PPNI BALI
2014
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI SENSORIS
DI RUANG MAWAR RUMAH SAKIT JIWA Dr. RADJIMAN
WEDIODININGRAT, LAWANG

Terapi Aktivitas Kelompok ini telah diperiksa, dikoreksi dan disahkan pada tanggal ……..
Desember 2014.

Mengetahui,

Pembimbing Pendidikan Pembimbing Klinik

( ) ( )
NIK. NIP.

Kepala Ruangan Mawar


RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang

( )
NIP.
DAFTAR HADIR PASIEN TAK STIMULASI SENSORIS

DI RUANG MAWAR RUMAH SAKIT JIWA Dr. RADJIMAN


WEDIODININGRAT

TAK SESI : ....................

Hari/Tanggal : Waktu :

NO TANGGAL NAMA PANGGILAN ALAMAT PARAF


LAPORAN PLAKSANAAN
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI SENSORI

A. TOPIK
Terapi aktivitas kelomok (TAK) : stimulasi sensori adalah upaya
menstimulasi semua pancaindra (sensori) agar memberi respons yang
adekuat.

B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Klien dapat berespons terhadap stimulus pancaindera yang diberikan.
2. Tujuan khusus
- Klien mampu berespons terhadap suara yang didengar
- Klien mampu berespons terhadap gambar yang dilihat
- Klien mampu mengekspresikan perasaan melalui gambar

C. LANDASAN TEORITIS
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera
tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem
penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh/baik.
Klien dengan gangguan jiwa psikotik, mengalami penurunan daya nilai
realitas (reality testing ability). Aktivitas stimulasi sensori dapat berupa
stimulus terhadap penglihatan, pendengaran dan lain-lain. Seperti gambar,
video, tarian, dan nyayian. Klien yang mempunyai indikasi TAK-stimulasi
sensori adalah klien isolasi sosial, menarik diri, halusinasi, harga diri rendah
yang disertai dengan kurang komunikasi verbal. Terjadinya halusinasi dapat
menyebabkan klien menjadi menarik diri terhadap lingkungan sosialnya,
hanyut dengan kesendirian dan halusinasinya sehingga semakin jauh dari
sosialisasi dengan lingkungan disekitarnya.
Untuk menanggulangi kendala ini, maka perlu ada aktivitas yang
memberi stimulus secara konsisten kepada klien tentang realitas di
sekitarnya. Stimulus tersebut meliputi stimulus tentang realitas lingkungan,
yaitu diri sendiri, orang lain, waktu, dan tempat. Pada pasien gangguan jiwa
dengan kasus Schizoprenia selalu diikuti dengan gangguan sensori persepsi
: halusinasi. Menurut Maramis (2005)

Menurut Maramis (2005) menyebutkan walaupun medikasi antipsikotik


adalah inti dari pengobatan Skizofrenia dengan gejala penyertanya, penelitian
telah menemukan bahwa intervensi psikososial dapat memperkuat perbaikan
klinis, seperti psikoterapi suportif individual dan kelompok. Salah satu terapi
keperawatan jiwa yang dapat mendukung psikoterapi suportif pada klien
gangguan jiwa adalah Terapi Aktivitas Kelompok (TAK), salah satunya
adalah TAK stimulai sensoris yang merupakan upaya menstimulasi semua
pancaindra (sensori) agar memberi respons yang adekuat.
Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu
dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama.
Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus
ditangani sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, takut, kebencian,
kompetitif, kesamaan, ketidaksamaan, kesukaan, dan menarik. Semua kondisi
ini akan mempengaruhi dinamika kelompok, ketika anggota kelompok
memberi dan menerima umpan balik yang berarti dalam berbagai interaksi
yang terjadi dalam kelompok (Keliat dan Akemat, 2005). Jumlah anggota
kelompok yang nyaman adalah kelompok kecil yang anggotanya berkisar
antara 5-12 orang (Keliat dan Akemat, 2005). Jumlah anggota kelompok kecil
menurut Stuart dan Laraia (2001, dalam Keliat dan Akemat, 2005) adalah 7-10
orang, sedangkan menurut Rawlins, Williams, dan Beck (1993, dalam Keliat
dan Akemat, 2005) adalah 5-10 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar
akibatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan
perasaan, pendapat, dan pengalamannya. Jika terlalu kecil, tidak cukup variasi
informasi dan interaksi yang terjadi. Sedangkan menurut Johnson (dalam
Yosep, 2009) terapi kelompok sebaiknya tidak lebih dari 8 anggota karena
interaksi dan reaksi interpersonal yang terbaik terjadi pada kelompok dengan
jumlah sebanyak itu. Apabila keanggotaanya lebih dari 10, maka akan terlalu
banyak tekanan yang dirasakan oleh anggota sehingga anggota merasa lebih
terekspos, lebih cemas, dan seringkali bertingkah laku irasional.

D. KLIEN
1. Jumlah
Jumlah klien yang dilibatkan sebanyak 6 orang
2. Karakteristik
Klien yang diberikan Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensoris adalah
klien yang mempunyai indikasi disorientasi realitas adalah klien halusinasi,
dimensia, kebingungan, tidak kenal dirinya, salah mengenal orang lain,
tempat, dan waktu.
3. Proses Seleksi
Proses seleksi akan dilakukan pada semua klien, hal ini ditujukan untuk
mengetahui kondisi klien yang memerlukan proses terapi aktivitas
kelompok stimulasi sensoris, dimana semua klien sebelumnya akan
dilakukan seleksi sesuai dengan kriteria yang diperlukan.

E. PENGORGANISASIAN DAN PELAKSANAAN


1. Waktu
a. TAK stimulasi sensoris Sesi 1: mendengarkan musik, yang akan
dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 23 Desember 2014
Jam : Pk. 09.30 – 10.15 WITA
b. TAK stimulasi sensoris Sesi 2 : menggambar, yang akan dilaksanakan
pada :
Hari/Tanggal : Rabu, 24 Desember 2014
Jam : Pk. 09.30 – 10.15 WITA
c. TAK stimulasi sensoris Sesi 3: menonton tv/video yang akan
dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Jumat, 26 Desember 2014
Jam : Pk. 09.30 – 10.15 WITA
2. Tempat
Ruang Mawar RSJ. DR RADJIMAN WEDIODININGRAT, LAWANG
3. Setting tempat

Keterangan:
: Klien

: Fasilitator

: Observer

: Leader dan Co leader

Narasi
Peserta dan terapis duduk melingkar dimana fasilitator duduk
berdampingan dengan peserta. Co Leader/observer berada di luar
lingkaran. Suasana ruangan tenang, nyaman, dan aman.

4. Tim terapis
Tim terapi pada pelaksanaan TAK stimulasi sensoris terdiri dari :
Leader :
Sesi I : I Putu Ditya Prayanto
Sesi II : I Made Surya Mahardika
Sesi II : Ni Luh Gede Andryanti
Tugas:
a. Membacakan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktivitas
kelompok sebelum kegiatan dimulai.
b. Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan
memperkenalkan dirinya.
c. Memimpin terapi aktivitas kelompok dengan baik dan tertib.
d. Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok.
e. Menjelaskan dan mengatur alur permainan.
Co Leader :
Sesi I : Ni Ketut Prita Febryanti
Sesi II : Ni Komang Tri Yuni Ariati
Sesi III : Ni Kadek Ayu Suliastini
Tugas:
a. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang
aktivitas klien.
b. Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang
c. Mengingatkan leader tentang waktu.
Fasilitator :
Sesi I: 1. I Made Surya Mahardika
2. Ni Komang Tri Yuni Ariati
3. Ni Luh Gede Andryanti
4. Ni Kadek Ayu Suliastini

Sesi II: 1. I Putu Ditya Prayanto


2. Ni Ketut Prita Febriyanti
3. Ni Luh Gede Andryanti
4. Ni Kadek Ayu Suliastini
Sesi III: 1. I Made Surya Mahardika
2. I Putu Ditya Prayanto
Tugas: 3. Ni Ketut Prita Febriyanti
a. Memfasilitasi4.klien
Ni yang kurang
Komang Tri aktif
Yuni Ariati
b. Berperan sebagai role model bagi klien selama kegaitan
berlangsung.
c. Mempertahankan kehadiran peserta.

Observer :
Sesi I: Ni Komang Tri Yuni Ariati
Sesi II: Ni Luh Gede Andryanti
Sesi III: Ni Kade Ayu Suliastini

Tugas:
a. Mengobservasi proses atau jalannya kegiatan.
b. Mencatat perilaku verbal dan nonverbal klien selama kegiatan
berlangsung
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, B.A. dan Akemat. 2005. Keperawatan Jiwa: Terapi Akitivitas Kelompok.
Jakarta: EGC.

Keliat, B.A. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2. Jakarta: EGC.

Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga


Universitas Press.

Purwaningsih, W. Dan Karlina, I. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa: Dilengkapi


Terapi Modalitas dan Standard Operating Procedure (SOP). Jogyakarta: Nuha
Medika Press.
Sesi 1 : Mendengar Musik

A. Tujuan
1. Klien mampu mengenali musik yang di dengar
2. Klien mampu memberi respons terhadap musik
3. Klien mampu menceritakan perasaannya setelah mendengarkan musik

B. Setting
1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran
2. Ruangan nyaman dan tenang

C. Alat
1. Tape recorder
2. Kaset lagu melayu (dipilih lagu yang memiliki cerita yang bermakna
atau lagu – lagu yang bermakna religius)

D. Metode
1. Diskusi
2. Sharing persepsi

E. Langkah kegiatan
1. Persiapan
a. Membuat kontrak dengan klien yang sesuai dengan indikasi :
halusinasi, menarik diri, harga diri rendah, dan tidak mau bicara
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
Salam dari terapis kepada klien
b. Evaluasi / validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
c. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mendengarkan
musik
2. Terapis menjelaskan aturan main berikut
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus
minta izin kepada terapis
 Lama kegiatan 45 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Terapis mengajak klien untuk saling memperkenalkan diri
(nama dan nama panggilan) dimulai dari terapis secara
berurutan searah jarum jam
b. Setiap kali seorang klien selesai memperkenalkan diri,
terapis mengajak semua klien untuk betepuk tangan
c. Terapis dan klien memakai papan nama
d. Terapis menjelaskan bahwa akan diputar lagu, klien boleh
tepuk tangan atau berjoget sesuai dengan irama lagu. Setelah
lagu selesai klien akan diminta menceritakan isi dari lagu
tersebut dan perasaan klien setelah mendengar lagu.
e. Terapis memutar lagu, klien mendengar, boleh berjoget atau
bertepuk tangan (kira – kira 15 menit). Musik yang diputar
boleh diulang beberapa kali. Terapis mengoservasi respons
klien terhadap musik
f. Secara bergiliran, klien diminta menceritakan isi lagu dan
perasaannya. Sampai semua klien mendapat giliran
g. Terapis memberikan pujian, setiap klien selesai
menceritakan perasaannya, dan mengajak klien lain bertepuk
tangan
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti
TAK
2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak lanjut
Terapis menganjurkan klien untuk mendengarkan musik
yang disukai dan bermakna dalam kehidupannya
c. Kontrak yang akan datang
1. Menyepakati TAK yang akan datang, yaitu menggambar
2. Menyepakati waktu dan tempat

F. Evaluasi dan Dokumentasi


Evaluasi
Evaluasi dilakukan saar proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap
kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan
TAK. Untuk TAK stimulasi sensoris mendengar musik, kemampuan klien
yang diharapakan adalah mengikuti kegiatan, respons terhadap musik,
memberi pendapat tentang musik yang didengar, dan perasaan saat mendengar
musik. Formulir evaluasi sebagai berikut.
Sesi 1 : TAK
Stimulasi sensoris mendengar musik
Kemampuan memberi respons pada musik

No Nama Klien
Aspek yang dinilai Fatimah Luber Maria C Maria T Rohma Reza
1 Mengikuti kegiatan
. dari awal sampai  -    
akhir
2 Memberi respons
. (ikut
bernyanyi/menari/jog
 -    
et/ menggerakkan
tangan – kaki-dagu
sesuai irama)
3 Memberi pendapat
. tentang musik yang  -    
didengar
4 Menjelaskan perasaan
. setelah mendengar Sedih Sedih Sedih Enak Senang Senang
lagu

Dokumentasi
Klien mengikuti sesi 1, TAK stimulasi sensori mendengar musik.
Klien mengikuti kegiatan sampai akhir dan menggerakkan jari sesuai dengan
irama musik, namun satu klien belum mampu memberi pendapat tentang musik
yang di dengarkan.
Sesi 2 : Menggambar

A. tujuan
1. Klien dapat mengekspresikan perasaan melalui gambar
2. Klien dapat memberi makna gambar

B. Setting
1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran
2. Ruangan nyaman dan tenang

C. Alat
1. Kertas HVS
2. Pensil 2B (Bila tersedia krayon juga dapat digunakan)

D. Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi

E. Langkah kegiatan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti sesi 1
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1. Salam dari terapis kepada klien
2. Terapis dan klien memakai papan nama
b. Evaluasi/validas
c. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu menggambar dan
menceritakannya kepada orang lain
2. Terapis menjelaskan aturan main berikut
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok,
harus meminta izin kepada terapis
 Lama kegiatan 45 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai
selesai
3. Tahap kerja
a. Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu
menggambar dan menceritakan hasil gambar kepada klien
lain
b. Terapis membagikan kertas dan pensil, untuk tiap klien
c. Terapis meminta klien menggambar apa saja sesuai dengan
yang diinginkan saat ini
d. Sementara klien mulai menggambar, terapis berkeliling dan
memberi penguatan kepada klien untuk terus menggambar.
Jangan mencela klien
e. Setelah semua klien selesai menggambar, terapis meminta
masing-masing klien untuk memperlihatkan dan
menceritakan gambar yang telah dibuatnya kepada klien
lain. Yang harus diceritakan adalah gambar apa dan apa
makna gambar tersebut menurut klien
f. Kegiatan poin e dilakukan sampai semua klien mendapat
giliran
g. Setiapn kali klien selesai menceritakan gambarnya, terapis
mengajak klien lain bertepuk tangan
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti
TAK
2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak lanjut
1. Terapis menganjurkan untuk mengekspresikan perasaan
melalui gambar
c. Kontrak yang akan datang
1. Menyepakati TAK yang akan datang, yaitu menonton
TV/video
2. Menyepakati waktu dan tempat

F. Evaluasi dan dokumentasi


Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada
tahap kerja. Aspek yang di evaluasi adalah kemampuan klien sesuai
dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi sensoris mnggambar,
kemampuan klien yang diharapkan adalah mampu mengikuti kegiatan
menggambar, menyebutkan apa yang digambar dan menceritakan makna
gambar.
Sesi 2 : TAK
Stimulasi sensori menggambar
Kemampuan memberi respons terhadap menggambar

Nama klien
No
Aspek yang dinilai Maria
Luber Titik Fatimah Rohma
T
1 Mengikuti kegiatan dari awal sampai     
akhir
2 Menggambar sampai selesai     
3 Menyebutkan gambar apa     
4 Menceritakan makna gambar     

Dokumentasi
klien mengikuti sesi 2 TAK stimulasi sensoris menggambar. Klien
mengikuti sampai selesai. Klien mampu menggambar, menyebutkan nama gambar,
dan menceritakan makna gambar.
Sesi 3 : Menonton TV/ Video

A. Tujuan
1. Klien dapat memberi respon terhadap menonton tv / video ( jika
menonton tv acara tontonan hendaknya dipilih yang positif dan
bermakna terapi untuk klien )
2. Klien menceritakan makna acara yang ditonton

B. Setting
1. Klien dan terapis duduk membentuk setengah lingkaran di depan
televisi
2. Ruangan nyaman dan tenang

C. Alat
1. Video / CD player dan video tape / CD
2. Televisi

D. Metode
Diskusi

E. Langkah Kegiatan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti TAK
sesi 2
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
- Salam dari terapis kepada klien
- Terapis dan klien memakai papan nama
b. Evaluasi / validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
c. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan yaitu menonton TV /
video dan menceritakannya
2. Terapis menjelaskan aturan main berikut
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok
harus minta izin kepada terapis
 Lama kegiatan 45 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai
selesai

3. Tahap kerja
a. Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu
menonton tv / video dan menceritakan makna yang telah di
tonton
b. Terapis memutar TV/ VCD yang telah disiapkan
c. Terapis mengobservasi klien selama menonton TV/ video
d. Setelah selesai menonton masing-masing klien diberi
kesempatan menceritakan isi tontonan dan maknanya untuk
kehidupan klien. Berurutan searah dengan jarum jam, dimulai
dari klien yang ada disebelah kiri terapis. Sampai semua klien
mendapat giliran
e. Setelah selesai klien menceritakan persepsinya, terapis
mengajak klien lain bertepuk tangan dan memberikan pujian.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak lanjut
Terapis menganjurkan klien untuk menonton acara TV yang baik
c. Kontrak yang akan datang
1. Menyepakati TAK yang akan datang sesuai dengan indikasi
klien
2. Menyepakati waktu dan tempat
Evaluasi dan dokumentasi
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap
kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.
Untuk stimulasi sensoris menonton, kemampuan klien yang diharapkan adalah
mengikuti kegiatan, berespon terhadap tontonan, menceritakan dan
mengungkapkan perasaan saat menonton. Formulir evaluasi sebagai berikut.
Sesi 3 : TAK
Stimulasi sensoris menonton
Kemampuan memberi respon pada tontonan

Nama Klien
No
Aspek yang dinilai
Fatimah Titik Rohma Maria T Luber
1 Mengikuti kegiatan dari
    
awal sampai akhir TAK
2 Memberi respon pada
saat menonton ( senyum, Gembira Gembira Gembira Gembira Gembira
sedih, dan gembira )
3 Menceritakan cerita
    
dalam TV / Video
4 Menceritakan perasaan
Lucu Senang Senang Lucu Senang
setelah menonton

Dokumentasi
klien mengikuti sesi : 3 TAK stimulus sensoris menonton. Klien
mengikuti kegiatan sampai selesai, ekspresi datar, dan tanpa respon, klien tidak
dapat menceritakan isi tontonan dan perasaannya. Tingkatkan stimulus di ruangan,
ulang kembali dengan stimulus yang berbeda.