Anda di halaman 1dari 8

PENGENALAN ALAT TEBANG DAN SARAD MANUAL

KELOMPOK 7

1. Marsekal Ardli Ghafur E14140094


2. Sindang Riandiani E14150001
3. Uswatun Hasanah E14150005
4. Tamyizul Muchtar E14150008
5. Vionike Merdeka Yusefi E14150026
6. Muntasir E14150053
7. M. Rifqi Fauzan Yunus E14150058
8. Intan Noer Annisa E14150077

Asisten

1. Aspit Ranu Wijaya E14130009


2. Reza Fahlevi E14140107
3. Agustyan Arief E14140105

Dosen

Prof. Dr. Ir. Juang Rata Matangaran, MS

LABORATORIUM PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN

DEPARTEMEN MANAJEMAN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2017
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemanenan hasil hutan memegang peranan penting dalam pengusahaan


hutan. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa pemanenan yang terutama
menyangkut pembukaan wilayah hutan, pemeliharaan dan pemanenan dapat
memengaruhi efektivitas dan efisiensi kerja, produktivitas, biaya dan gangguan
lingkungan. Peralatan pemanenan yang efisien dan efektif perlu mengacu pada
konsep pemanenan hutan yang berwawasan lingkungan atau Reduce Impact
Logging (RIL) , pemanenan hutan juga memengaruhi perubahan iklim. Di
samping itu pemanenan hasil hutan non kayu belum efisien ( Suparto, 1979)
Peralatan pemanenan adalah peralatan yang efektif dan berdampak
minimal yang pada gilirannya dapat meningkatkan pasokan kayu bundar dan
bahan baku serpih. Kebutuhan kayu bundar dan bahan baku serpih cenderung
meningkat. Pasokan bahan baku kayu tersebut perlu didukung oleh teknik
pemanenan yang efisien dan berdampak minimal (Dulsalam dan Sukadaryati,
2001)
Kegiatan pemanenan kayu harus memperhatikan aspek teknis, ekonomis,
dan ekologis. Pada umumnya pelaksanaan pemanenan kayu di Indonesia tersebar
di beberapa lokasi, bahkan tempat pengumpulan kayu memiliki areal yang cukup
luas, jarak kayu yang disarad dan diangkut cukup jauh, dan jarak antara tumpukan
kayu yang satu dengan yang lain cukup jauh pula (Sitorus, 2000). Penggunaan
peralatan pemanenan kayu sangat membantu perusahaan dalam pencapaian
tujuan, yaitu: (1) mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan; (2) melaksanakan
jenis pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh tenaga manusia; dan (3) hal
tersebut dilakukan karena alasan efisiensi, keterbatasan tenaga kerja, keamanan
dan faktor ekonomi lainnya (Anonim, 1984; Suhartana dan Yuniawati, 2007;
Suhartana et al, 2007)
Secara garis besar kegiatan penyusunan rencana kegiatan pemanenan kayu
terdiri dari 3 tahapan, yaitu (Muhdi, 2007) :
1. Pengumpulan dan pengolahan data
2. Perancangan alternatif dan penetapan alternatif
3. Formulasi rencana

Tujuan

1. Memperkenalkan alat-alat tebangan yang banyak digunakan


2. Mengetahui bagian-bagian dan fungsi masing-masing
3. Dapat memahami cara pengoperasian alat tebangan
METODE

A. Waktu dan Tempat

Praktikum Pengenalan Alat Tebang dan Sarat Manual dilaksanakan pada


tanggal 14 September 2017 di Laboratorium Pemanenan Hasil Hutan.

B. Alat dan Bahan


1. Alat tulis
2. Kapak Single Bit
3. Kapak Double Bit
4. Kapak Pembelah
5. Gergaji
6. Gergaji Double Person Segitiga Selang Lengkung (SGL)
7. Gergaji Double Peson Segitiga Selang Datar (SGD)
8. Gergaji Double Person PP2
9. Gergaji Double Person PP4
10. Gergaji Bow Saw
11. Gergaji Pembelah
12. Log Zeg
13. Tirfor
14. Sapi-Sapi
15. Cant Hooks
16. Peavy
17. Skidding Tong

C. Prosedur Kerja
1. Mendengarkan penjelasan memngenai alat tebang dan sarat manual
dari asisten praktikum.
2. Mengukur alat tebang dan sarat manual yang telah dijelaskan.
3. Menggambarkan alat tebang dan sarat manual dengan menggunakan
skala tertentu.
4. Menuliskan bagian-bagian dari alat tebang dan sarat manual beserta
fungsi dari masing-masing alat tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMBAHASAN

Penebangan merupakan proses mengubah pohon yang berdiri menjadi


potongan kayu bulat yang dapat diangkut keluar hutan untuk dimanfaatkan.
Kegiatan penebangan ini dimulia dari merebahkan pohon kemudian membaginya
menjadi sortimen bulat. Tujuan penebangan itu sendiri dari sudut pandang potensi
hutan dan keadaan lingkungannya yaiitu menghasilkan kayu bulat (log) dengan
nilai hutan yang optimal dengan meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan
sebelum dan sesudah penebangan tersebut (Conway 1987).
Penyaradan kayu adalah kegiatan memindahkan kayu dari tempat
tebangan ke tempat pengumpulan kayu (TPn) atau ke pinggir jalan angkutan.
Penyaradan merupakan tahap pertama dari pengangkutan kayu, yang dimulai pada
saat kayu diikatkan pada rantai penyarad di tempat tebangan kemudian disarad ke
tempat tujuan (TPn/landing, tepi sungai, tepi jalan atau jalan rel) dan berakhir
setelah kayu dilepaskan dari rantai penyarad (Muhdi 2010)
Alat tebang manual terdiri dari kapak dan gergaji. Ada beberapa jenis
kapak yaitu kapak single bit, kapak double bit, dan kapak pembelah. Kapak single
bit merupakan kapak yang bermata satu, fungsinya untuk menebang,
membersihkan cabang, dan membagi batang. Kapak double bit mirip dengan
kapak single bit tetapi mempunyai mata kapak dua. Kapak ini digunakan untuk
menebang, membersihkan cabang,dan membagi batang. Apabila mata kapak yang
satu tumpul, dapat menggunakan mata kapak yang sisi sebelahnya pada kapak
double bit tersebut. Kapak pembelah merupakan kapak yang digunakan untuk
membelah kayu, fungsi dari kapak pembelah yaitu untuk menebang,
membersihkan cabang, membagi batang, dan pemukul baji/pasak. Pada kapak
juga terdapat dua bagian penting yaitu tangkai kapak dan kepala kapak. Tangkai
kapak biasanya digunakan untuk menggerakkan kapak secara vertikal atau
horizontal. Perbedaan pada ketiga jenis kapak ini terletak pada kepala kapak yang
dimiliki. Kapak single bit memiliki kepala kapak yang sama dengan kapak
pembelah yang memilki lingkaran tajam dan punggung kapak. Untuk kapak
double bit tidak memiliki punggung kapak tetapi kedua mata kapak memiliki
lingkaran yang tajam dan memiliki fungsi yang sama dengan kapak single bit tapi
berbeda dengan kapak pembelah. Selain itu, kapak double bit lebih ringan dan
memiliki kedua sisi yang dapat digunakan (Elias 1998). Gergaji juga terdiri dari
beberapa jenis yaitu gergaji pemotong segitiga selang lengkung (SGL), gergaji
pemotong segitiga selang datar (SGD), gergaji pemotong PP2, gergaji pemotong
PP4, gergaji pemotong bow saw atau busur dan gergaji pembelah. SGL
mempunyai fungsi untuk menebang dan membagi batang, segitiga berselang, di
mana kaki gigi bersambung langsung satu dengan lainnya. SGD memiliki ciri-ciri
antara satu gigi dengan lainnya terdapat selang datar. Selang merupakan ruang
untuk serbuk kayu sehingga penarikan gergaji lebih ringan. Fungsi SGD untuk
menebang dan membagi batang. Gergaji double person PP2 berfungsi untuk
menebang dan membagi batang. Gergaji double person PP4 mempunyai fungsi
untuk menebang dan membagi batang. Gergaji bow saw merupakan gergaji pipih
pendek, susunan gigi mendatar, tangkai pegangan melengkung dan dioperasikan
oleh satu orang fungsinya untuk menebang, membagi batang dan memangkas
cabang. Gergaji pembelah berfungsi untuk membelah kayu. Perbedaan yang bisa
kita lihat dari masing-masing fungsi gergaji tersebut adalah berdasarkan jumlah
gigi gergaji, lubang total, konfigurasi gigi gergaji dan sudut gigi gergaji. Misalnya
pada gergaji potong PP2 memiliki mata gigi Hobel Zah yang berfungsi untuk
menebang jenis pohon hardwood. Meskipun pada gergaji potong PP4 juga
memiliki mata gigi Hobel Zahn namun fungsinya berbeda, yakni untuk menebang
jenis pohon softwood. Hal ini disebabkan adanya bagian mata gigi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan mata mata gigi gergaji potong PP2. Selain itu, pada
gergaji potong segitiga selang lengkung lebih nyaman penggunaanya
dibandingkan dengan gergaji potong segitiga selang datar. Ini disebabkan karena
adanya bentuk selang lengkung yang dapat memudahkan keluarnya serbuk kayu
(Muhdi 2006).Alat sarad manual terdiri dari sapi-sapi, pengungkit cant hooks,
pengungkit peavy, dan pengungkit log zeg. Cara menggunakan sapi-sapi yaitu
kaitkan kayu yang akan dipindahkan ke pengait, kemudian panggul sapi-sapi ini
oleh 2 orang. Cara menggunakan cant hook yaitu tancapkan cant hook pada tanah,
jepit kayu yang akan dipindahkan lalu dorong tangkai cant hook hingga kayu
terangkat atau tergeser (digunakan untuk tanah yang tidak berbatu). Cara
menggunakan peavy sama dengan cant hook tetapi digunakan untuk tanah yang
berbatu. Cara menggunakan log zeg yaitu pegang tangkai log zeg, tancapkan kaki
penahan pada tanah untuk menjaga keseimbangan saat mengaitkan kayu, kaitkan
pada kayu yang sudah rebah dan dorong tangkai log zeg (posisi kayu agak
terangkat saat digeser) (Sutopo dan Idris 2002). Alat bantu tebang manual terdiri
dari tirfor, skidding tong dan baji atau pasak. Tirfor berfungsi sebagai penarik dan
digunakan apabila pohon yang ditebang menyangkut ke pohon lain. Prinsip kerja
dari trifor sama seperti prinsip kerja katrol. Skidding tong berfungsi sebagai
pengait. Baji atau pasak mempunyai fungsi untuk membantu merebahkan pohon
dan melepaskan gergaji jika terjepit atau mempercepat tumbangnya pohon. Baji
atau pasak prinsip kerjanya sama seperti paku (Muhdi 2006).

Peralatan pemanenan berperan penting terhadap kelangsungan kegiatan


pemanenan karena dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan perusahaan.
Penggunaan peralatan sangat bervariasi seperti sistem motor, manual dan
mekanis. Untuk saat ini sistem pemanenan yang dipakai menggunakan alat
mekanis seperti Harvester, Feller buncher, Forwarder, Skidder dan sistem kabel,
tetapi tidak menutup kemungkinan pada kegiatan pemanenan di hutan skala kecil
masih menggunakan peralatan manual seperti : gergaji tangan, kapak, gergaji
rantai, sapi dan kerbau. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa untuk
kelangsungan dan kelancaran pelaksanaan kegiatan pemanenan kayu terutama
penebangan maka penggunaan peralatan yang tepat sangat diperlukan (Suhartana
2009). Dewasa ini penggunaan alat pemanenan manual sangat jarang sekali
digunakan, untuk memudahkan efektivitas pekerja perusahaan menggunakan
Chainsaw, namun di HTI Jati pulau jawa masih ada yang menebang
menggunakan alat-alat penebangan yang sederhana yang non mekanis, yaitu :
gergaji potong, kapak, baji dan parang (Juta 1954). Alat bantu manual yang
masuh sering digunakan yaitu baji untuk membentu mengarahkan rebahnya pohon
dan menghindari agar gergaji tidak terjepit (Suparto 1999).

Penyaradan adalah proses penarikan kayu dari permukaan tanah dengan


alat transportasi dengan menggunakan hewan atau peralatan mekanis. Kayu
ditarik langsung diatas tanah dengan menggunakan sumber tenaga yang
digunakan. Efektifitas penggunaan sumber tenaga mungkin akan mengakibatkan
dampak bagi lantai hutan berupa pembersihan permukaan. Penggunaan hewan
sebagai sumber energi ketika digunakan dalam system penyaradan terbatas pada
kemiringan lapangan, kondisi permukaan, ukuran dan bentuk kayu. Kemiringan
yang ideal adalah lebih kecil sama dengan 3%, jika lebih maka hewan akan
kesulitan melakukan penyaradan (Stenzel, 1985). Penyaradan alat manual seperti
sapi- sapi, cant hook, peavey sudah tidak digunakan lagi, melainkan para pemanen
hutan lebih banyak menggunakan sapi atau kerbau sebagai alat pengangkut atau
penyarad pohon. Sedangkan untuk alat mekanik penyaradan yang biasa digunakan
adalah Forwarder MF 390 (Suhartana 2009).

SIMPULAN

Peralatan manual pemanenan hutan ada tiga yaitu alat tebang manual, alat
sarad manual, dan alat tebang bantu manual. Alat tebang manual terdiri dari kapak
dan gergaji. Ada beberapa jenis kapak yaitu kapak single bit, kapak double bit,
dan kapak pembelah. Gergaji juga terdiri dari beberapa jenis yaitu gergaji
pemotong segitiga selang lengkung (SGL), gergaji pemotong segitiga selang datar
(SGD), gergaji pemotong PP2, gergaji pemotong PP4, gergaji pemotong bow saw
atau busur dan gergaji pembelah. Alat tebang berfungsi untuk menebang,
membelah dan membagi batang. Alat sarad manual terdiri dari sapi-sapi,
pengungkit cant hooks, pengungkit peavy, dan pengungkit log zeg, yang berfungsi
untuk menyarad dan mengungkit kayu. Alat bantu tebang manual terdiri dari
tirfor, skidding tong dan baji atau pasak. Setiap alat mempunyai bentuk-bentuk
yang berbeda. Penggunaan alat-alat manual ini sangat banyak menguras tenaga
dalam pengoperasiannya. Saat ini, alat manual sudah banyak tidak dipakai karena
para pemanen lebih banyak memakai alat mekanis.
DAFTAR PUSTAKA

Conway, S. 1987.Timber Cutting Practices Third Edition. New York (US) :


Miller Freemen Publication, Inc.

Dulsalam dan Sukadaryati . 2001 . Produktivitas dan Biaya Penyaradan Kayu


dengan Kerbau di Jambi. Bogor : IPB

Elias. 1998. Forest Harvesting Case Study : Reduced Impact Timber


Harvesting in the Tropical Natural Forest in Indonesia. Roma: FAO.

Juta E H P .1954. Pemungutan Hasil Hutan. Bogor (ID) : Timun Mas NV

Muhdi . 2005 . Pemanenan Kayu dalam TPTI . Medan : Fakultas Kehutanan USU

Muhdi. 2006. Pemanenan Hasil Hutan . Medan:USU


Muhdi. 2010. Penyaradan Kayu Dengan Sisitem Kuda-Kuda Di Hutan Rawa
Gambut (Studi Kasus Di Areal HPH PT Kurnia Musi Polywood Industrial
Co. Ltd, Provinsi Sumatera Selatan). Medan (ID) : Fakultas Pertanian
Program Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara.

Sitorus, M.T.F . 2000 . Penebangan Liar . Majalah Tropis 10(2) : 6-9 Oktober
2000 . Warta Alam Tropis . Jakarta

Stenzel G Thomas A , J Kenneth P. 1985. Logging and Puplwood Production.


Second Edition. New York (US) : John Willey and Sons.

Suharta, S., Yuniawati dan Rahmat . 2007 . Penggunaan Jumlah Chainsaw yang
Tepat dan Efisien pada Penebangan : Studi Kasus di Satu Perusahaan
Hutan di Kalimantan Timur . Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 24(1):63-67,
Februari 2006. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi
Hasil Hutan.

Suhartana S, Yuniawati dan Rahmat. 2009. Efesiensi kebutuhan peralatan


pemanenan di hutan tanaman industry,di Kalimantan Barat. Jurnal Hutan
Tropis Borneo .(26):119-127

Suparto, R.S . 1979 . Eksploitasi Hutan Modern . Fakultas Kehutanan IPB . Bogor

Suparto R S. 1999. Pemanenan Kayu. Bogor (ID) : IPB Press

Sutopo, S. dan M.M. Idris. 2002. Sistem penyaradan pada eksploitasi hutan pinus
di Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 2(3):1-9.