Anda di halaman 1dari 2

Gambar 3.

Bagian pterigium

C. EPIDEMIOLOGI
Kasus pterygium yang tersebar di seluruh dunia sangat bervariasi, tergantung pada lokasi
geografisnya, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Faktor yang sering
mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator. Prevalensi juga tinggi pada daerah berdebu dan
kering.

Di Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi


geografisnya. Di daratan Amerika serikat, Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk daerah di
atas 40o lintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 28-36o. Sebuah hubungan terdapat
antara peningkatan prevalensi dan daerah yang terkena paparan ultraviolet lebih tinggi di bawah
garis lintang. Sehingga dapat disimpulkan penurunan angka kejadian di lintang atas dan
peningkatan relatif angka kejadian di lintang bawah.

Di Indonesia yang melintas di bawah garis khatuliswa, kasus-kasus pterygium cukup sering
didapati. Apalagi karena faktor risikonya adalah paparan sinar matahari (UVA & UVB), dan bisa
dipengaruhi juga oleh paparan alergen, iritasi berulang (misal karena debu atau kekeringan).

Insiden tertinggi pterygium terjadi pada pasien dengan rentang umur 20 – 49 tahun. Pasien
dibawah umur 15 tahun jarang terjadi pterygium. Rekuren lebih sering terjadi pada pasien yang
usia muda dibandingkan dengan pasien usia tua. Laki-laki lebih beresiko 2 kali daripada
perempuan.

D. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO


Penyebab pterigium belum dapat dipahami secara jelas, diduga merupakan suatu
neoplasma radang dan degenerasi. Namun, pterigium banyak terjadi pada mereka yang banyak
menghabiskan waktu di luar rumah dan banyak terkena panas terik matahari. Faktor risiko
terjadinya pterigium adalah lingkungan seperti sinar matahari, daerah yang berdebu, berpasir
atau anginnya besar. Penyebab paling umum adalah exposure atau sorotan berlebihan dari sinar
matahari yang diterima oleh mata. Ultraviolet, baik UVA ataupun UVB, dan angin (udara
panas) yang mengenai konjungtiva bulbi berperan penting dalam hal ini. Selain itu dapat pula
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti zat alergen, kimia dan zat pengiritasi lainnya.
Pterigium Sering ditemukan pada petani, nelayan dan orang-orang yang tinggal di dekat daerah
khatulistiwa. Jarang menyerang anak-anak. Faktor-faktor risiko :
1. Radiasi ultraviolet adalah penyebab tersering timbulnya pterigium. Faktor resiko radiasi
sinar UV bisa dikaitkan dengan pekerjaan.
2. Faktor genetik, hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan
kemungkinan diturunkan autosom dominan pada riwayat keluarga dengan pterigium.
3. Faktor lain seperti iritasi kronik atau inflamasi pada area limbus atau perifer kornea
merupakan pendukung terjadinya keratitis kronik dan terjadinya limbal defisiensi. Debu,
kelembaban yang rendah, dan trauma kecil dari bahan partikel tertentu (pasir, debu, angin,
asap rokok, bahan iritan), dry eye dan virus papilloma juga penyebab dari pterygium.

E. PATOFISIOLOGI
Sinar matahari yang menghasilkan ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor suppressor
gene pada limbal basal stem cell. Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta
overproduksi dan menimbulkan peningkatan kolagenase, sel-sel bermigrasi dan angiogenesis.
Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan timbulnya jaringan subepitelial
fibroveskular yang menembus kornea. Kerusakan pada kornea terdapat pada lapisan membran
bowman.
Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada keadaan defisiensi limbal dapat
terjadi pertumbuhan konjungtiva pada permukaan kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis,
kerusakan membran basement, dan