Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

RESPIRATORY DISTRESS OF NEWBORN (P22.9) e.c. MECONIUM


ASPIRATION SYNDROME (P24.01) + SEVERE BIRTH ASPHYXIA (R.09.0)

Oleh
Putri Anggana Dewi
NIM. I11111078

Pembimbing:
dr. Hilmi K. Riskawa, Sp. A, M.Kes

SMF ILMU KESEHATAN ANAK


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
RS KARTIKA HUSADA
KUBU RAYA
2018
LEMBAR PERSETUJUAN

Telah disetujui Laporan Kasus dengan judul :

RESPIRATORY DISTRESS OF NEWBORN (P22.9) e.c. MECONIUM


ASPIRATION SYNDROME (P24.01) + SEVERE BIRTH ASPHYXIA (R.09.0)

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan kegiatan


Kepaniteraan Klinik Madya Ilmu Kesehatan Anak

Pontianak, 04 April 2018


Pembimbing, Penyusun,

dr. Hilmi K. Riskawa, Sp.A., M.Kes Putri Anggana Dewi


NIM. I11111078

1
LAPORAN KASUS
OLEH : PUTRI ANGGANA DEWI
PEMBIMBING : DR. HILMI KURNIAWAN RISKAWA, Sp.A, M.Kes
TANGGAL / HARI : 04 April 2018 / RABU

RESPIRATORY DISTRESS OF NEWBORN (P22.9) e.c. MECONIUM


ASPIRATION SYNDROME (P24.01) + SEVERE BIRTH ASPHYXIA (R.09.0)

A. IDENTITAS
By. Ny. E, bayi perempuan berusia 0 hari, nomor Rekam Medik (RM) 132313,
dirawat di Ruang Flamboyan RS Kartika Husada selama 11 hari dari tanggal 22
januari 2018 sampai tanggal 2 februari 2018.

B. ANAMNESIS (anamnesis secara allo anamnesis tanggal 22 januari 2018,


perawatan hari ke-1)
Keluhan Utama : lahir tidak langsung menangis
Riwayat Penyakit Sekarang
Tanggal 22 januari 2017 pukul 18.50 lahir spontan bayi laki-laki dari ibu
G2P1A0M1, usia 30 tahun, hamil 37-38 minggu, ANC (+) di dokter kandungan,
riwayat asma (+), riwayat demam (-), riwayat KPD (+), riwayat KWH (-), riwayat
minum jamu saat hamil (-), trauma (-), diabetes (-), darah tinggi (-), minum obat
selain resep dokter (-).
Ketuban pecah 5 jam sebelum persalinan, warna putih keruh, bau wajar.
Bayi lahir secara spontan, presentasi bokong, lahir tidak langsung menangis,
sianosis (+), APGAR skor 3/5/8, berat badan lahir 3000 gram, PB 50 cm,
dilakukan resusitasi langkah awal.
Bayi lahir tidak langsung menangis. Saat lahir, bayi tampak biru pada
ujung tubuh tidak bernafas secara spontan dan gerakan yang lemah. Kemudian
dilakukan, penghangatan, menjaga jalan nafas, dilakukan penghisapan cairan
amnion lewat mulut dan kedua lubang hidung sambil dilakukan pengeringan dan
perangsangan, didapatkan cairan amnion yang berwarna putih keruh. Bayi

2
tampak lemas dan mulai bernafas spontan setelah 30 detik kemudian, namun
bernafas masih merintih. Dilakukan pemeriksaan frekuensi jantung bayi
diperoleh hasil <100x/m setelah itu dipasang oksigen 3 liter per menit (lpm)
nasal canule (NC) dan diberikan alat bantu nafas tekanan positif serta monitor
kadar oksigen jaringan bayi. Pada 1 menit setelah kelahiran denyut jantung bayi
masih pelan dibawah 100x/m, bayi bernafas spontan namun masih tidak teratur,
kekuatan otot bayi lemah, bayi tidak meringis, kulit bayi tampak kebiruan pada
tangan dan kaki. Kemudian dilanjutkan pemberian oksigen dan alat bantu nafas.
Pada 5 menit setelah lahir, denyut jantung menjadi >130x/m, pernafasan spontan
mulai terjadi namun masih tidak teratur, kekuatan otot bayi mulai sedang, bayi
masih meringis, dengan kulit tampak merah jambu dengan tangan dan kaki biru,
pada kondisi ini bayi tetap diberikan oksigen sambil dipantau tanda vital setiap
30 menit. Setelah itu, dilakukan perawatn tali pusat, bayi diselimuti dengan kain
agar tetap hangat, diberikan suntikan vitamin K dan salep mata gentamicin pada
bayi.
Bayi lahir secara spontan pada tanggal 22/01/2018 pukul 18.10 WIB, Bayi
berjenis kelamin laki – laki, presentasi kepala, ketuban putih keruh, dengan
perkiraan usia kehamilan 37-38 minggu. Bayi merupakan anak ke dua. Selama
kehamilan ibu teratur memeriksakan kandungannya ke bidan. Ibu pasien
memiliki riwayat asma, tidak memiliki riwayat penyakit kencing manis, darah
tinggi, riwayat stroke, penyakit jantung, alergi makanan maupun obat – obatan.
Tidak ada riwayat konsumsi obat-obatan selama kehamilan. Tidak ada kontak
dengan hewan peliharaan di dalam rumah.
Ibu pasien tidak pernah mengalami keguguran. Anak pertama lahir secara
spontan lewat bantuan bidan pada tanggal 09/08/2012, dengan berat lahir 3500
gr. Selama kehamilan kedua, ibu pasien mengaku memeriksakan kandungannya
ke bidan. Anak pertama saat ini sudah berusia 5 tahun 5 bulan dan tumbuh sehat
hingga saat ini tanpa ada riwayat kejang atau pun sakit yang parah.
Biaya pengobatan pasien ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS). Pendidikan terakhir ayah dan ibu pasien lulus SMA. Ayah pasien
merupakan seorang TNI angkatan darat dengan penghasilan yang menetap,

3
sedangkan ibu pasien tidak bekerja, hanya sebagai ibu rumah tangga. Pasien
merupakan anak ke dua dan tinggal serumah dengan orang tua dan saudara laki –
lakinya. Ibu pasien merawat semua anaknya sendiri tanpa menggunakan jasa
asisten rumah tangga, sehingga hubungan antara ibu dan anak cukup dekat.
Semua anggota keluarga tinggal di dalam satu rumah dengan ukuran 8x10 meter,
bangunan semipermanen, bangunan di pinggiran kota. Jarak antara rumah cukup
berdekatan. Kondisi sanitasi cukup baik, dengan menggunakan air PDAM untuk
keperluan mandi, cuci & kakus serta menggunakan air galon untuk memasak
makan dan minum.

C. PEMERIKSAAN FISIK (tanggal 22 Januari 2017, perawatan hari ke-1)


Seorang anak laki-laki, umur 0 hari, BB ; 3000 gr, PB : 50 cm

1) Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Aktivitas : Gerak kurang aktif
Tangis : Kurang kuat
Refleks Hisap : Lemah
2) Kesadaran : Compos mentis
3) Antropometri
- Berat badan lahir : 3000 gram
- Berat badan : 3000 gram
- Panjang badan : 50 cm
- Lingkar kepala : 34 cm
- Lingkar dada : 32 cm
- Lingkar perut : 30 cm
4) Status Generalis
Tanda Vital
- Nadi : 148 x/menit
- Napas : 77 kali/menit
- Suhu : 36,6°C

4
- SpO2 : 98%
Kepala : Normosefali (+),Caput succedaneum (+),
Rambut : Rambut berwarna hitam, tipis
Mata : Bersih, bentuk simetris, konjungtiva tidak anemia,
sklera tidak ikterik.
Telinga : Bersih, bentuk simetris, tidak ada sekret di kedua
liang telinga
Hidung : Bentuk baik, tidak ada pernafasan cuping hidung
Mulut : Bentuk baik, tidak sianosis, lidah bersih.
Leher : Simetris, terdapat retraksi suprasternal
Dada :
a. Inspeksi : Bentuk dan gerak dada simetris, terdapat retraksi
subcostal minimal
b. Palpasi : Fremitus taktil paru kanan dan kiri sama
c. Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
d. Auskultasi : Suara napas dasar bronkovesikuler di paru kanan dan
kiri, tidak ada wheezing, tidak ada ronki.tidak ada
grunting.
Bunyi jantung S1 dan S2 reguler, tidak ada murmur,
tidak ada gallop.
Abdomen
a. Inspeksi : Tampak datar, soepel, tidak tampak massa, tali pusar
terawat.
b. Auskultasi : Bising usus dalam batas normal
c. Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen
d. Palpasi : Hepar dan lien tidak teraba, tidak teraba massa,
cubitan kulit abdomen kembali cepat.
Anus dan genitalia : Anus bersih, bentuk normal. Memiliki genitalia
eksterna berjenis laki-laki, tidak ada kelainan pada
genitalia.

5
Ekstremitas : Akral dingin, Capillary Refill Time (CRT) < 3 detik,
sianosis pada keempat ekstrimitas, tidak edema.
Kulit : biru pada ekstremitas yang hilang setelah diberikan
oksigen. Rambut halus sedikit, tidak ditemukan
Mottling dan Sclerema.
5) Apgar Score : menit pertama (3), menit ke lima (5), menit ke sepuluh
(8)
6) Downe Score :
-5 menit setelah lahir : 3 (retraksi ringan, nafas lebih dari 60 kali permenit
dan sianosis hilang dengan pemberian oksigen)
-15 menit setelah lahir : 3 (retraksi ringan, nafas lebih dari 60 kali permenit
dan sianosis hilang dengan pemberian oksigen)
7) Ballard Score : 37 (Perkiraan usia kehamilan 38 - 40 minggu)

D. PEMERIKSAANPENUNJANG
Pemeriksaan darah tanggal 22 januari 2018, hasil pemeriksaan di laboratorium
RS Kartika Husada (20:24)
- Leukosit : 12.800/mm3 (Normal : 9.000-35.000 /mm3 )
- Eritrosit : 4.44 juta/mm3(Normal : 4,00-6,60 juta/mm3)
- Hemoglobin : 15,6 g/dl (Normal : 14,5-22,5 g/dl)
- Trombosit : 245.000/mm3 (Normal : 150.000-450.000/mm3 )
- Hematokrit : 50% (Normal : 45-67%)
- Mean Corpuscular Hemoglobin : 35,1 pg (Normal : 31-37 pg)
- Mean Corpuscular Volume : 112,6 fl (Normal : 95-121 fl)
- Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration: 31,2 g/dl (Normal:29-37 g/dl)
- % Limfosit : 27,2% (Normal : 19-29%)
- % Granulosit : 59,7% (Normal : 35-80%)
- Gula Darah Sewaktu : 123 mg/dl (Normal : 40-60 mg/dl)

6
E. DIAGNOSIS BANDING
1. Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome +
Severe Birth Asphyxia
2. Respiratory Distress Of Newborn e.c. Transient Tachypnea of the Newborn
+ Severe Birth Asphyxia
3. Respiratory Distress Of Newborn e.c. Respiratory Distress Syndrome +
Severe Birth Asphyxia
4. Respiratory Distress Of Newborn e.c. Pneumonia + Severe Birth Asphyxia

F. DIAGNOSIS KERJA
 Masalah Aktual
Respiratory Distress Of Newborn (P22.9) e.c. Meconium Aspiration
Syndrome (P24.01) + Severe Birth Asphyxia (R.09.0)
 Masalah Kumulatif :
Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi Bokong +
Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan

G. TATA LAKSANA
- O2 2 lpm via nasal kanul
- Termoregulasi inkubator
- Puasa
- Observasi TTV, SpO2 dan tanda distress pernapasan
- Inj. Vit K 1 mg IM
- Zalf mata gentamicin
- Rawat tali pusat
- Intra Venous Fluid Drop (IVFD) D10% 10 cc/jam via infuse pump
- Inj. Cefotaxime 2 x 150 mg IV
- OGT dekompresi

7
H. SARAN USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan analisis gas darah : Menunjukkan kadar pH darah yang rendah,
penurunan pO2 dan peningkatan pCO2

I. PEMANTAUAN
1. Selasa/ 23 januari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 1 hari, Perawatan hari ke 2)
BB: 3000 gr.
S :neonates puasa, OGT dekompresi, BAB (+), BAK (+)
O : KU : gerak kurang aktif, tangis kurang kuat, HR 159 x/menit, RR 77x/menit,
T 36,3ºC, SpO2 : 99%, PCH (+), retraksi substernal (+), ronkhi (-/-), grunting
(+) terdengar dengan stetoskop, sianosis hilang dengan O2, downe skor : 5
A: MA : Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome
+ Severe Birth Asphyxia
MK : Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi
Bokong + Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan

P : + O2 2 lpm NK
+ Test feeding; minum 2 x 5 cc; 2 x 10 cc / sonde kalau bagus 4 x 20 cc/spen

2. Rabu / 24 januari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 2 hari, Perawatan hari ke 3)
BB: 2970 gr
S : minum SF habis 20 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (+), BAB (+)
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 120 x/menit, RR 64x/menit, T 37,1ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-), sianosis (-),
downe skor : 1
A: MA : Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome
+ Severe Birth Asphyxia
MK : Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi
Bokong + Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan

P : + gentamicin 1 x 12 mg IV

8
+ rontgen thorax AP (hasil rontgen thorax terlampir)

3. Kamis / 25 januari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 3 hari, Perawatan hari ke
4) BB: 2900 gr
S : minum SF habis 20 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (+), BAB (+)
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 139 x/menit, RR 64x/menit, T 36,2ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-/-), sianosis (-),
downe skor : 1
A : MA : Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome
+ Severe Birth Asphyxia
MK : Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi
Bokong + Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan

P : + O2 2 lpm NK turun menjadi 1,5 lpm


+ inj. Cefotaxime 2 x 150 mg (H4) ganti IM
+ inj. gentamicin 1 x 12 mg IV(H2) ganti IM
+ minum susu adlib

4. Jumat / 26 januari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 4 hari, Perawatan hari ke
5) BB: 2800 gr
S : minum SF habis 20 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (+), BAB (+), retensi
OGT (-)
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 139 x/menit, RR 68x/menit, T 36,2ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-/-), sianosis (-),
downe skor : 1
A : MA : Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome
+ Severe Birth Asphyxia
MK : Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi
Bokong + Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan

P : + O2 1,5 lpm NK naik menjadi 2,5 lpm

9
+ periksa DL dan GDS ulang (hasil terlampir)
+ OGT ter aff tidak perlu dipasang lagi
+ inj. Cefotaxime 2 x 150 mg IM (H5) ganti ceftazidime 2 x 100 mg
IM

5. Sabtu / 27 januari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 5 hari, Perawatan hari ke
6) BB: 2800 gr
S : minum SF/ASI habis 30 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (+), BAB (+),
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 138 x/menit, RR 68x/menit, T 37,0ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-/-), sianosis (-),
downe skor : 1
A : MA : Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome
+ Severe Birth Asphyxia
MK : Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi
Bokong + Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan

P : + O2 2,5 lpm NK turun menjadi 1,5 lpm

6. Minggu / 28 januari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 6 hari, Perawatan hari
ke 7) BB: 2900 gr
S : minum SF/ASI habis 40 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (+), BAB (+),
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 130 x/menit, RR 62x/menit, T 36,6ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-/-), sianosis (-),
downe skor : 1
MA : Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome
+ Severe Birth Asphyxia
MK : Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi
Bokong + Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan

P : + O2 1,5 lpm NK turun menjadi 0,5 lpm

10
7. Senin / 29 januari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 7 hari, Perawatan hari ke
8) BB: 2900 gr
S : minum SF/ASI habis 50 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (-), BAB (+),
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 130 x/menit, RR 62x/menit, T 36,5ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-/-), sianosis (-),
downe skor : 1
MA : Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome
+ Severe Birth Asphyxia
MK : Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi
Bokong + Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan
P : + O2 1,5 lpm NK turun menjadi 0,5 lpm

8. Selasa / 30 januari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 8 hari, Perawatan hari ke
9) BB: 2840 gr
S : minum SF/ASI habis 50 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (+), BAB (+),
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 132 x/menit, RR 40x/menit, T 36,4ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-/-), sianosis (-),
downe skor : 0, ikterik (+) kremer grade 3
A : MA : Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome
+ Severe Birth Asphyxia
MK : Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi
Bokong + Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan

P : + Inj. ceftazidime 2 x 100 mg IM (H4) stop


+ inj. gentamicin 1 x 12 mg IM (H7)
+ PO azytrhromycin syr 2 x 0,7 ml
+ Fototerapi 12 jam
+ aff oksigen

9. Rabu / 31 januari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 9 hari, Perawatan hari ke
10) BB: 2950 gr

11
S : minum SF/ASI habis 60 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (+), BAB (+),
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 164 x/menit, RR 80x/menit, T 36,5ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-/-), sianosis (-),
downe skor : 1, ikterik (-)
A : asfiksia berat
P : + pasang oksigen 3 lpm nasal kanul

10. Kamis / 1 Februari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 10 hari, Perawatan hari
ke 11) BB: 2950 gr
S : minum SF/ASI habis 60 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (+), BAB (+),
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 159 x/menit, RR 48x/menit, T 36,3ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-/-), sianosis (-),
downe skor : 0, ikterik (+) kremer tidak dapat dinilai.
A : MA : Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome
+ Severe Birth Asphyxia
MK : Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi
Bokong + Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan

P : + rontgen thorax ulang (hasil terlampir )


+ flconazole 1 x 20 mg pulv
+ periksa DL GDS ulang (hasil terlampir)
+ fototerapi 1 x 24 jam

11. Jumat / 2 Februari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 11 hari, Perawatan hari
ke 12) BB: 2930 gr
S : minum SF/ASI habis 60 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (+), BAB (+),
fototerapi selesai pukul 23.00
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 152 x/menit, RR 48x/menit, T 36,3ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-/-), sianosis (-),
downe skor : 0, ikterik (-)

12
A : MA : Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome
+ Severe Birth Asphyxia
MK : Term Infant (TI)+ Apropriate Gestational Age (AGA)+ Presentasi
Bokong + Ketuban Putih Keruh + Bayi Baru Lahir (BBL) Spontan

P : + aff oksigen

12. Sabtu / 3 Februari 2018 pukul 07.00 WIB (usia 12 hari, Perawatan hari
ke 13) BB: 2930 gr
S : minum SF/ASI habis 60 cc/3 jam/spen, muntah (-), BAK (+), BAB (+),
fototerapi selesai pukul 23.00
O : KU : gerak aktif, tangis kuat, HR 146 x/menit, RR 32x/menit, T 36,3ºC,
SpO2 : 99%, PCH (-), retraksi (-), ronkhi (-/-), grunting (-/-), sianosis (-),
downe skor : 0, ikterik (-)
A : asfiksia berat
P : + BLPL, kontrol poli 1 minggu lagi

Hasil Rontgen Thorax (24 Januari 2018)

Kesan: bronkopneumonia dextra (e.c aspirasi)

13
Hasil rontgen thorax (1 Februari 2018)

Kesan : bronkopneumonia dextra (perbaikan)

Tabel 1.Pemantauan Hasil Laboratorium

Pemeriksaan 26 jannuari 1 Februari


hematologi 2018 2018
Leukosit 20.000/mm3 14.000/ mm3
Eritrosit 3,69juta/mm3 3,71 juta/mm3
Hemoglobin 11,5 g/dl 13,2 g/dl
Trombosit 208.000/mm3 304.000/mm3
Hematokrit 39,1% 37,4%
LYM% 31,9% 45,3%
GRA % 60,6% 44,2%
MCV 105,9 fl 100,9fl
MCH 31,2 pg 35,5 pg
MCHC 29,5 g/dl 35,2 g/dl
GDS 81 105

14
J. PROGNOSIS
AdVitam :Dubia ad bonam
AdFunctionam : Dubia ad Bonam
AdSanactionam : Dubia ad Bonam

K. DIAGNOSIS AKHIR
Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium Aspiration Syndrome + Severe
Birth Asphyxia

L. RINGKASAN
By. Ny. E, bayi perempuan berusia 0 hari, nomor Rekam Medik (RM)
132313, dirawat di Ruang Flamboyan RS Kartika Husada selama 11 hari dari
tanggal 22 januari 2018 sampai tanggal 2 februari 2018.
Bayi lahir tidak langsung menangis, sianosis sentral, tidak bernafas spontan
dan tonus otot yang lemah. Setelah dilakukan resusitasi langkah awal dan
lanjutan, nilai APGAR pada menit 1/3 dan menit ke 5/5, kemudian menit ke
10/8. Pasien didiagnosis dengan Respiratory Distress Of Newborn e.c. Meconium
Aspiration Syndrome + Severe Birth Asphyxia.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan bayi kurang aktif, tangis
lemah, berat badan 3000 gram, napas takipneu, retraksi subcostal dan sianosis
hilang dengan pemberian oksigen. Setelah dilakukan pengecekan hematologi
rutin didapatkan hasil kadar leukosit pasien 12.800 mg/dl & GDS 123 mg/dl.
Bayi dirawat dalam inkubator, bayi masih sesak nafas sehingga diberikan
oksigen 2 lpm disertai dengan IVFD D10% 10 cc/jam, dilakukan puasa, OGT
dekompresi, diberikan antibiotik cefotaxime 2 x 150 mg IV serta dilakukan
observasi Tanda vital, SpO2 dan tanda distress pernapasan. pada hari perawatan
ke 2 oksigen diturunkan menjadi 1,5 lpm via nasal kanul, dan neonatus mulai
diberi test feeding 2 x 5 cc; 2 x 10 cc dan neonatus merespon dengan baik
sehingga feedng test dilanjutkan menjaadi 4 x 20 cc. Lalu pada hari perawatan
ke-3 kondisi neonatus nafas masih cepat dan ada retraksi subcostal, sehingga

15
diberi tambahan injeksi gentamicin 1 x 12 mg IV dan dilakukan rontgent thorax
AP. dari rontgent thorax didapatkan hasil adanya bronkopneumonia ec aspirasi,
sehingga oksigen dinaikkan menjadi 2 lpm via nasal kanul. pada hari perawatan
ke-4 kondisi neonatus cenderung stabil dengan down skor 0, sehingga oksigen
diturunkan menjadi 1,5 lpm dan infus dicoba di aff. antibiotik diberikan secara
intramuskular. Pada hari ke 5 perawatan, napas neonatus kembali cepat dan
terdapat retraksi subcostae sehingga oksigen dinaikkan menjadi 2,5 lpm.
Kemudian dilakukan pemeriksaan darah rutin dan GDS ulang. Dari hasil
pemeriksaan darah rutin didapatkan hasil kadar leukosit 20.000 mg/dl & GDS 81
mg/dl. Dari hasil tersebut maka injeksi cefotaxime dihentikan diganti dengan
injeksi ceftazidim 2 x 100 mg IM. Pada hari ke 6 perawatan, kondisi neonatus
cenderung stabil dengan down skor 0 sehingga oksigen diturunkan menjadi 1,5
lpm. Pada perawatan hari ke 7 hingga hari rawat ke 9 kondisi neonatus
cenderung stabil ke arah perbaikan sehingga oksigen dicoba di aff pada hari ke 9
perawatan, dan antibiotik dilanjutkan dengan antibiotik peroral yaitu
azythromycin syr 2 x 0,7 ml. Pada hari perawatan ke 9, tubuh neonatus terlihat
ikterik pada daerah wajah, thorax, dan abdomen, sehingga dilakukan fototerapi
selama 12 jam. Pada hari perawatan ke 11 tubuh neonatus masih terlihat ikterik
pada wajah dan thorax sehingga dilakukan fototerapi tambahan selama 1 x 24
jam. Kondisi neonatus stabil dengan down skor 0, sehingga dilakukan rontgent
thorax, pemeriksaan darah rutin dan GDS untuk evaluasi. Neonatus juga
diberikan antibiotik tambahan yaitu fuconazole 1 x 20 mg pulv. Dari hasil
rontgent thorax didapatkan hasil bronkopneumonia dextra (perbaikan) dan
leukosit sebesar 14.000 mg/dL, dan GDS 105 mg/dL. Kondisi neonatus
cenderung stabil pada hari rawat ke 12 dan pada hari ke 13 neonatus sudah
diperbolehkan pulang dengan mendapatkan antibiotik azythromycin 3 x 0,7 ml
PO dan fluconazole 1 x 20 mg pulv sebagai obat pulang. Neonatus disaarankan
kontrol ke poli 5 hari selanjutnya.

16
M. PEMBAHASAN

Pada neonatus ini mengalami asfiksia, dimana saat lahir bayi tersebut
gagal bernapas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini ditandai dengan
neonatus yang tidak menangis secara spontan. Yang terpenting adalah penilaian
sebelum bayi lahir agar dapat mengetahui seberapa besar risiko bayi lahir dengan
asfiksia. Sebelum bayi lahir kita harus mengetahui apakah kehamilan tersebut
cukup bulan atau tidak (37-42 bulan)?
Apakah air ketubannya jernih ataukah tercampur dengan mekonium?
Sebab jika bercampur mekonium maka semakin besar risiko bayi tersebut
mengalami sindrom aspirasi mekonium (Meconium aspiration syndrome), yaitu
kondisi dimana aspirasi yang disebabkan cairan amnion yang mengandung
mekonium. Sesuai dengan kasus ini dimana neonatus mengalami asfiksia (gagal
napas spontan), yang dicurigai dikarenakan aspirasi dari cairan amnion.1
Meconium Aspiration Syndrome dapat terjadi akibat janin menghirup
Mekonium yang tercampur dengan cairan ketuban, baik ketika bayi berada di
dalam rahim maupun sesaat setelah dilahirkan. meconium sendiri adalah tinja
yang pertama, muncul biasanya pada usia kehamilan 34 minggu, sehingga
aspirasi mekonium terutama terjadi pada bayi yang term infant dan post term,
sesuai pada kasus ini, neonatus merupakan bayi term infant. Aspirasi mekonium
juga mengandung sel-sel epitel, lanugo, mucus dan cairan empedu, serta
komponen pro inflamasi. Biasanya gejalanya yang dapat dilihat adalah cairan
ketuban bewarna kehijauan, kulit tampak kehujauan (jika mekonium telah
dikeluarkan lama sebelum persalinan), kulit tampak kebiruan (sianosis), lemas,
bayi terlihat kurang aktif, takipneu (napas cepat > 60 kali/menit) dan Apnea
(henti napas).
Untuk mekanismenya, selama persalinan berlangsung, bayi bisa saja
mengalami kekurangan oksigen, hal ini menyebabkan meningkatnya gerakan
usus dan pengendoran spingter ani, sehingga meconium dikeluarkan ke dalam
cairan ketuban yang mengelilingi bayi di dalam rahim. Cairan amnion dan

17
meconium yang bercampur inilah yang membentuk cairan berwarna hijau dengan
kekentalan yang bervariasi.
Jika, selama masih berada di dalam rahim, janis bernafas atau jika bayi
menghirup napas pertamanya, maka campuran amnion dan meconium ini dapat
terhirup hingga ke paru-paru (aspirasi). Hal ini sesuai dengan gambaran radiologi
pada neonatus ini, terdapat corakan bronkovesikuler bilateral disertai bercak
lunak di perihilar dextra. Hal ini memberikan kesan bronkopneunonia dextra
dikarenakan Aspirasi, dalam hal kasus ini adalah cairan amnion dan meconium.1
Sementara itu, Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga
Hyaline Membrane Disease (HMD), merupakan sindrom gawat napas yang
disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi yang lahir dengan masa
gestasi kurang, pada bayi premature insinsidensinya 50,8%.2
Menurut World Health Organization (WHO), asfiksia merupakan
kegagalan bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Menurut
American Congress of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) dan American
Academy of Pediatrics (AAP), neonatus disebut mengalami asfiksia bila
memenuhi kondisi seperti nilai APGAR menit kelima 0-3, adanya asidosis pada
pemeriksaan darah tali pusat (pH<7), gangguan neurologis (kejang, hipotonia
atau koma), gangguan sistem multiorgan (gangguan kardiovaskular,
gastrointestinal, hematologi, pulmoner, atau sistem renal)2
Tujuan utama mengatasi asfiksia ialah untuk mempertahankan
kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin timbul di
kemudian hari. Tindakan yang dikerjakan pada bayi lazim disebut resusitasi bayi
baru lahir. Penilaian awal dilakukan pada setiap bayi baru lahir untuk menetukan
apakah tindakan resusitasi harus segera dimulai. Segera setelah lahir dilakukan
penilaian pada semua bayi dengan cara melihat :
1.Apakah bayi bernapas atau menangis ?
2.Apakah tonus baik ?
Apabila semua jawaban diatas ‘Ya’, berarti bayi baik dan tidak
memerlukan tindakan resusitasi. Pada bayi ini segera dilakukan Asuhan Bayi

18
Normal. Bila salah satu atau lebih jawaban ‘tidak’, bayi memerlukan tindakan
resusitasi segera.
1). Langkah awal dalam stabilisasi
a. Memberikan kehangatan
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant warmer) dalam
keadaan telanjang agar panas dapat mencapai tubuh bayi dan
memudahkan eksplorasi seluruh tubuh.
b. Memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya
Bayi diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam posisi
menghidu agar posisi farings, larings dan trakea dalam satu garis lurus
yang akan mempermudah masuknya udara. Posisi ini adalah posisi
terbaik untuk melakukan ventilasi dengan balon dan sungkup atau untuk
pemasangan pipa endotrakeal.
c. Membersihkan jalan napas
Aspirasi mekoneum saat proses persalinan dapat menyebabkan
pneumonia aspirasi. Bila terdapat mekoneum dalam cairan amnion dan
bayi tidak bugar (bayi mengalami depresi pernapasan, tonus otot kurang
dan frekuensi jantung kurang dari 100 x/menit) segera dilakukan
penghisapan trakea sebelum timbul pernapasan untuk mencegah
sindrom aspirasi mekonium. Bila terdapat mekoneum dalam cairan
amnion namun bayi tampak bugar, pembersihan sekret dari jalan napas
dilakukan seperti pada bayi tanpa mekoneum.2
d. Mengeringkan bayi, merangsang pernapasan dan meletakkan pada posisi
yang benar
Meletakkan pada posisi yang benar, menghisap sekret, dan
mengeringkan akan memberi rangsang yang cukup pada bayi untuk
memulai pernapasan. Bila setelah posisi yang benar, penghisapan sekret
dan pengeringan, bayi belum bernapas adekuat, maka perangsangan
taktil dapat dilakukan dengan menepuk atau menyentil telapak kaki,
atau dengan menggosok punggung, tubuh dan ekstremitas bayi.
2). Ventilasi tekanan positif

19
Setelah dilakukan langkah awal resusitasi, ventilasi tekanan positif
harus dimulai bila bayi tetap apnea setelah stimulasi atau pernapasan tidak
adekuat, dan / atau frekuensi jantung memadai tetapi sianosis sentral, bayi
diberi oksigen aliran bebas. Bila setelah ini bayi tetap sianosis, dapat dicoba
melakukan ventilasi tekanan positif.3
3). Pemberian Oksigen
Bila bayi masih terlihat sianosis sentral, maka diberikan tambahan
oksigen. Pemberian oksigen aliran bebas dapat dilakukan dengan
menggunakan sungkup oksigen, sungkup dengan balon tidak mengembang
sendiri, T-piece resuscitator dan selang/pipa oksigen.
Pemberian oksigen 100% tidak dianjurkan pada bayi kurang bulan
karena dapat merusak jaringan. Penghentian pemberian oksigen dilakukan
secara bertahap bila tidak terdapat sianosis sentral lagi yaitu bayi tetap
merah atau saturasi oksigen tetap baik walaupun konsentrasi oksigen sama
dengan konsentrasi oksigen ruangan. Bila bayi kembali sianosis, maka
pemeberian oksigen perlu dilanjutkan sampai sianosis sentral hilang.
Kemudian secepatnya dilakukan pemeriksaan gas darah arteri dan oksimetri
untuk menyesuaikan kadar oksigen mencapai normal.
4). Kompresi dada
Kompresi dada dimulai jika frekuensi jantung kurang dari 60x/menit
setelah dilakukan ventilasi tekanan positif selama 30 detik. Kompresi dada
dilakukan dengan menekan sternum menggunakan 1 jempol atau 2 jari tegak
lurus di linea parasentralis kiri sedalam 1/3 diameter anteroposterior rongga
dada dengan 3 kali penekanan dan 1 kali ventilasi dalam 2 detik (45 kali
kompresi dada dan 15 kali ventilasi selama 30 detik).
5).Terapi Medikamentosa

a. Epinefrin 1:10.000
Dosis : 0,1-0,3 ml/kg berat badan atau 0,01-0,03 mg/kg berat badan
diberikan secara cepat, dilarutkan dengan larutan NaCl 0,9% menjadi 1-2
ml bila secara endotrakea.

20
b. Cairan penambah volume darah (plasma expander)
Dosis awal 10 ml/kg dengan kecepatan 5-10 menit secara intravena. Bila
bayi menunjukkan perbaikan yang minimal setelah pemberian dosis
pertama, dapat dberikan dosis tambahan lagi 10 ml/kg.
c. Nalokson
Dosis : 0,1 mg/kg diberikan secara intravena atau intramuskular.
d. Natrium Bikarbonat
Dosis : 1-2 mEq/kg diberikan secara intravena setelah ventilasi dan perfusi
adekuat dicapai, diberikan dalam kira-kira 2 menit yaitu 1 mEq/kg/menit.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. : Country, regional, and global estimates.


UNICEF, New York, 2014.
2. Hermansen CL, Kevin N L. Respiratory distress in the newborn. Am Fam
Physician. 2017;76(7):987-94.
3. Gomella TL. Eyal FG and Zenk KE. Neonatology: Management, Procedure,
On-Call Problem, Disease and Drugs 7th Edition. McGraww Hill.2013.p.427-
429;673-674

22