Anda di halaman 1dari 25

PEDOMAN

PROGRAM KESEHATAN JIWA

PUSKESMAS PARANG

KABUPATEN MAGETAN

TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadiran Allah SWT atas segala

rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan

pedoman program Kesehatan Jiwa UPTD Puskesmas Parang. Pedoman ini kami

susun guna sebagai salah satu upaya untuk memberikan acuan dan pemudahan

dalam pelaksanaan persiapan akreditasi UPTD Puskesmas Parang. Akreditasi

mempersyaratkan adanya pembuktian pelaksanaan seluruh kegiatan pelayanan

melalui dokumentasi dan penelusuran karena pada prinsip akreditasi. Seluruh

kegiatan harus tertulis dan apa yang ditulis harus dikerjakan dengan sesuai

sehingga menjadi pedoman dalam menyusun dokumen akreditasi.

Pada kesempatan ini kami ucapkan banyak terimakasih kepada semua

pihak yang terlibat dalam penyusunan pedoman program kesehatan jiwa

Puskesmas Parang. Semoga dengan pedoman ini Kesehatan Jiwa UPTD

Puskesmas Parang ini dapat member kemudahan bagi kami dalam menyiapkan

document akreditasi puskesmas.


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gangguan jiwa dan perilaku, menurut The World Health Report 2001,

dialami kira-kira 25% dari seluruh penduduk pada suatu saat dalam hidupnya dan

lebih dari 40% diantaranya didiagnosissecara tidak tepat sehingga menghabiskan

biaya untuk biaya untuk pemeriksaan di laboratorium dan pengobatan yang tidak

tepat. gagguan jiwa dan perilaku di alami pada suatu ketika oleh kira-kira 10%

populasi orang dewasa. Dalam laporan itu di kutip juga penelitian yang menemukan

bahwa 24% dari pasien yang mengunjungi dokter pada pelayanan kesehatan dasar

ternyata mengalami gangguan jiwa. 69% dari pasien tersebut datang dengan

keluhan-keluhan fisik dan banyak di antaranya ternyata tidak ditemukan gangguan

fisiknya.

Indonesia telah menghadapi berbagai transformasi dan transisidi berbagai

bidang yang mengakibatkan terjadinya perubahan gaya hidup, pola perilaku dan tata

nilai kehidupan. Dalam bidang kesehatan terjadi transisi epidemiologik di

masyarakat dengan bergesernya kelompok peyakit menular ke kelompok tidak

menular termasuk berbagai jnis gangguan akibat perilaku manusia dan gangguan

jiwa.

Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 yang dilakukan

oleh badan penelitian dan pengebangan kesehatan. departemen kesehatan RI

dengan menggunakan rancangan sampel dari susenas-BPS (Badan Pusat Statisik)

terhadap 65.664 rumah tangga, menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa

per1000 anggota rumah tangga adalah sebagai berikut:

*Gangguan Mental Emosional (15 tahun atau lebih): 140/1000


*Gangguan Mental Emosional (5-14 tahun): 104/1000

Hasil Survei Kesehatan Metal Rumah Tangga (SKMRT) Oleh Bahar dkk, pada tahun

1995 yang dilakukan pada penduduk di 11 Kota di Indonesia, menunjukkan bahwa

185/1000 pendudukrumah tangga dewasa menunjukkan adanya gejala gangguan

jiwa. Prevalensidi atas 100 per 1000 anggota rumah tangga dianggapsebagai

masalah kesehatan masyarakatyang perlu mendapat perhatian (priority public health

problem)

Dari hasil penelitian tahun 2002 di provinsi Nangro Aceh Darussalam

(daerah konflik) di 20 puskesmas dari 10 kabupaten/kota terhadap pasien yang

pertama kali datang berobat, ternyata ditemukan 51.10% mengalami gangguan

kesehatan jiwa.Penelitian terakhir di Jawa Barat tahun 2002 (point

prevalence/unpublished) ditemukan 36% pasien yangdatang berobat ke puskesmas

mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Dari aspek "kesejahteraan sosial" dan "kualitas hidup masyarakat", status

kesehatan jiwa masyarakat dapat ditinjau dengan menggunakan indikator Human

Development Index (HDI) yang diterbitkan oleh United NationDevelopment

Program(UNDP). Pada tahun 1999 Indonesia berada pada peringkat ke 105 di

antara 180 negaradi dunia.Tahun 2000 turun jadi 108 dan tahun 2002 posisi

Indonesia berada pada peringkat 112.

Masalah kesehatan jiwa tidak menyebabkan kematian secara langsung,

namun akan menyebabkan penderitaan berkepanjangan baik bagi individu,

keluarga, masyarakat dan negara karena penderitanya menjaditidak produktif dan

bergantung pada orang lain. Dari hasil penelitian WHO bekerja sama dengan World

Bank tahun 1996 beben akibat gangguan kesehatan jiwa yang diukur dengan

DALY(disability adjusted life years) pada tahun 2000 diperkirakan mencapai12,3%.


Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan angka penyakit jantung iskemik, penyakit

serebrovaskuler dan tuberkulosis.

Masalah kesehatan jiwa juga menimbulkandampak sosial antara lain

meningkatnya angka kekerasan, kriminalitas, bunuh diri, penganiayaan anak,

perceraian, kenakalan remaja, penyalahgunaan zat, HIV/AIDS,

perjudian,pengangguran dll. Oleh karena itu masalah kesehatan jiwa perlu ditangani

secara serius.

Gangguan jiwa dalam pandangan masyarakat masih identik dengan "gila"

(psikotik) sementara kelompok gangguan jiwa lain seperti ansietas, depresi dan

gangguan jiwa yang tampil dalam bentuk berbagai keluhan fisik kurang di kenal.

Kelompok gangguan jiwa inilah yang banyak ditemukan di masyarakat. Mereeka ini

akan datang langsung ke pelayanan kesehatan umum dengan keluhan fisiknya,

sehingga petugas kesehatan sering kali terfokus pada keluhan fisik, melakukan

berbagai pemeriksaan dan memberikan berbagai jenis obat untuk mengatasinya.

masalah kesehatan jiwa yang melatarbelakangi keluhan fisik tersebut sering kali

terabaikan, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Tertanganinya kasus kesehatan jiwa di pelayanan kesehatan dasar.

2. Tujuan khusus :

1. Mendeteksi secara dini kasus kesehatan jiwa yang datang ke pelayanan

kesehatan dasar.

2. Menangani kasus kesehatan jiwa yang datang ke pelayanan kesehatan

dasar sesuai dengan kompetensi masing-masing tenaga kesehatan


3. Melakukan rujukan pada saat yang tepat bila diperlukan

C. SASARAN

sasaran dari program ini adalah petugas mampu untuk menangani

kegiatan – kegiatan program kesehatan jiwa

D.RUANG LINGKUP

Ruang lingkup pelayanan adalah Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)

klinis bagi penderita jiwa di Puskesmas, dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)

Pelayanan Jiwa Masyarakat melalui deteksi dini secara aktif,

pengobatan/psikoterapi, pemantauan pengobatan, rujukan /rujukan balik dan

rehabilitasi sosial berbasis pemberdayaan masyarakat serta kerja sama lintas

program dan lintas sektor terkait. Lingkup masalah jiwa yang ditangani secara

garis besar dibedakan menjadi :

1. Masalah kejiwaan yang terkait dengan makna dan nilai kehidupan manusia :

a. Masalah kesehatan jiwa yang berkaitan dengan life cycle kehidupan manusia

mulai dari persiapan pranikah, anak dalam kandungan, balita, anak, remaja,

dewasa, dan usia lanjut.

b. Dampak dari menderita penyakit menahun yang menimbulkan disabilitas.

c. Pemukiman yang sehat

d. Pemindahan tempat tinggal

2. Masalah Psikososial yaitu masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai

akibat terjadinya perubahan sosial :

a. Psikotik gelandangan

b. Pemasungan penderita gangguan jiwa

c. Masalah anak jalanan

d. Masalah kenakalan remaja


e. Penyalahgunaan NAPZA

f. Tindak kekerasan sosial

g. Stress pasca trauma

h. Pengungsi/migrasi

i. Masalah usia lanjut

j. Masalah kesehatan kerja : kesehatan jiwa di tempat kerja, penurunan

produktivitas, stress di tempat kerja, dan lain-lain.

3. Masalah gangguan jiwa :

a. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan NAPZA

b. Skizofrenia

c. Gangguan afektif (depresi, mania)

d. Ansietas/kecemasan, gangguan somatoform (psikosomatik)

e. Gangguan mental organik (demensia/alzheimer, delirium, epilepsi, pasca

stroke, dll)

f. Gangguan jiwa anak dan remaja (gangguan perkembangan belajar, autisme,

gangguan tingkah laku, hiperaktifitas, gangguan cemas dan depresi)

g. Retardasi mental

E. BATASAN OPERASIONAL

Batasan operasional yang digunakan dalam Pedoman Pelayanan

Kesehatan Jiwa Masyarakat sebagai berikut :

1. Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang

secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari

kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif,

dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.


2. Gangguan Jiwa (Mental Disorder) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa

seseorang yang menunjukkan sindrom dan atau perubahan perilaku yang

berlebihan terjadi tanpa alasan masuk akal secara klinik bermakna dan dapat

menimbulkan penderitaan atau hambatan di dalam satu atau lebih fungsi yang

penting dari manusia.

3. Orang Dengan Masalah Kejiwaan yang selanjutnya disingkat ODMK adalah

orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan

perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami

gangguan jiwa.

4. Orang Dengan Gangguan Jiwa yang selanjutnya disingkat ODGJ adalah orang

yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang

termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku

yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam

menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

5. Upaya Kesehatan Jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat

kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat

dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang

diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh

Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/ atau masyarakat.

6. Anamnesis adalah upaya mengumpulkan data mengenai penderita dan

penderitaannya, mengenai keluhan-keluhannya, riwayat perjalanan penyakit,

latar belakang keluarga, kejadian sekarang dan terdahulu, yang didapat melalui

pengamatan dan wawancara. Data yang terkumpul dijadikan bahan untuk

mendapatkan suatu diagnosis penyakit/masalah.


7. Sikap mental merupakan kondisi kejiwaan, perasaan dan keinginan seseorang,

yang mempengaruhi perilaku diwujudkan dalam perbuatan seseorang, dan

tumbuh sebagai hasil dari proses tumbuh kembang individu sejak masa

bayi/anak dan berkembang melalui pendidikan dan pengalaman hidup.

8. Kesehatan Jiwa Masyarakat adalah suatu orientasi kesehatan jiwa yang

mencakup semua kegiatan kesehatan jiwa, yang dilaksanakan di masyarakat

dengan menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif tanpa melupakan

upaya kuratif dan rehabilitatif.

9. Lintas Sektor Terkait adalah komponen sektor baik kelompok masyarakat,

lembaga pemerintah atau non pemerintah, organisasi (Ormas/LSM) yang

mempunyai perhatian / ketertarikan terhadap kesehatan khususnya kesehatan

jiwa masyarakat.

10.Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang

bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik.

11. Masalah Psikososial adalah masalah sosial yang mempunyai dampak dan

berpengaruh terhadap kondisi mental seseorang yang bermanifestasi dalam

gangguan kesehatan, termasuk gangguan kesehatan jiwa.

12. Psikotik Gelandangan adalah penderita gangguan jiwa kronis yang keluyuran

di jalan-jalan umum, dapat mengganggu ketertiban umum dan merusak

keindahan lingkungan.

13. Pemasungan penderita gangguan jiwa adalah tindakan masyarakat terhadap

penderita gangguan jiwa (biasanya yang berat) dengan cara dikurung, dirantai

kakinya, dimasukkan ke dalam balok kayu, dan lain-lain sehingga

kebebasannya menjadi hilang.


14. Anak Jalanan adalah anak-anak yang menghabiskan sebagian waktunya

untuk bekerja di jalanan kawasan urban.

15. Penganiayaan Anak adalah perlakuan orang dewasa/anak yang lebih tua

dengan menggunakan kekerasan/otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya

yang seharusnya menjadi tanggung jawab/pengasuhannya, yang berakibat

penderitaan, kesengsaraan, cacat atau kematian.

16. Tawuran adalah kegiatan “sampingan pelajar” yang beraninya hanya kalau

bergerombol/kelompok dan sama sekali tidak ada gunanya, bahkan dapat

dibilang merupakan tindakan pengecut.

17. Kenakalan Remaja adalah tingkah laku yang melampaui batas toleransi orang

lain dan lingkungannya, yang dapat melanggar hak asasi manusia sampai

melanggar hukum.

18. Penyalahgunaan NAPZA adalah pemakaian NAPZA yang bukan untuk tujuan

pengobatan atau yang digunakan tanpa mengikuti aturan atau pengawasan

dokter, digunakan secara berkali-kali, kadang-kadang atau terus menerus,

seringkali menyebabkan ketagihan atau ketergantungan baik secara

fisik/jasmani, maupun mental emosional sehingga menimbulkan gangguan

fisik, mental-emosional dan fungsi sosial.

19. Kekerasan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh sekelompok

orang terhadap orang lain dalam lingkup masyarakat dengan menggunakan

anggota tubuhnya atau alat bantu lainnya/benda yang berakibat penderitaan

secara fisik, seksual atau psikologis bahkan kematian.

20. Kekerasan pada perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan

pembedaan kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan

dan penderitaan perempuan secara fisik, seksual, atau psikologis, termasuk


ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan

secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dlam

kehidupan pribadi.

21. Stress Pasca Trauma adalah reaksi normal dari individu terhadap kejadian

yang luar biasa.

22. Pengungsi/migrasi adalah orang atau sekelompok orang warga negara

Indonesia yang meninggalkan tempat tinggal akibat tekanan berupa

kekerasan fisik dan atau mental akibat ulah manusia dan bencana alam guna

mencari perlindungan maupun kehidupan yang baru.

23. Usia Lanjut adalah makhluk sosial yang akan mempengaruhi dan dipengaruhi

oleh lingkungan keluarga dan masyarakat, dimana setiap perubahan

psikososial baik yang datang dari dalam dirinya, keluarga maupun lingkungan

masyarakat akan membawa dampak bagi derajat kesehatan jiwa usia lanjut

yang bersangkutan.
BAB II

STANDAR KETENAGAAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA

Semua karyawan Puskesmas wajib berpartisipasi dalam kegiatan

Program Pelayanan Kesehatan Jiwa Masyarakat dengan berpartisipasi promosi

kesehatan atau pemberdayaan masyarakat serta deteksi dini suspek gangguan

jiwa serta rujukannya ke Puskesmas. Pelaksana UKM Pelayanan Kesehatan

Jiwa Masyarakat sebagai koordinator pelaksanaan program dan bertanggung

jawab terhadap Penanggung Jawab (PJ) UKM Pengembangan. Pelaksana

pelayanan kesehatan jiwa masyarakat harus memiliki kualifikasi :

1.Dokter umum untuk semua jenis kegiatan

2.Perawat umum yang telah mengikuti orientasi dan bimbingan teknis tentang

kesehatan jiwa untuk semua kegiatan UKM Pelayanan Kesehatan Jiwa

Masyarakat, asuhan perawatan pasien jiwa pada pelayanan UKP, dan

sebagian pelayanan klinis jiwa atas pendelegasian wewenang dari dokter

umum.

3. Bidan atau perawat umum lainnya untuk seluruh kegiatan pelayanan kesehatan

jiwa masyarakat mulai promosi kesehatan, deteksi dini, rujukan kasus,

pemantauan pengobatan, pemberdayaan masyarakat.

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN

Jumlah tenaga yang memenuhi kualifikasi SDM sebagai pelaksana

Program Pelayanan Kesehatan Jiwa di Puskesmas Banyuasin sebagai berikut :

1.Dokter umum : 1 orang

2.Perawat umum yang telah mengikuti orientasi program jiwa : 1 orang


3.Bidan/perawat umum lainnya : orang

4.Tenaga kesehatan lainnya : --- orang

5.Tenaga Non Kesehatan : --- orang

Dokter umum dan perawat umum merupakan pelaksana pelayanan kesehatan

jiwa di UKP melalui Ruang Pemeriksaan Umum didukung dengan unit pelayanan

pendukung misal kefarmasian, konseling, dan laboratorium.

Perawat umum pelaksana Program Kesehatan Jiwa Masyarakat menjadi

koordinator pelaksanaan UKM Pelayanan Jiwa Masyarakat dengan koordinasi

dan integrasi dengan UKM lainnya dan bertanggung jawab kepada Penanggung

Jawab (PJ) UKM Pengembangan.

C. JADWAL KEGIATAN

Jadual pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat di

Puskesmas disepakati bersama dengan sasaran dan sektor terkait melalui

pertemuan mini lokakarya lintas sektor tiap tiga bulan sekali. Penyusunan

kesepakatan dilakukan dengan penyampaian rencana kegiatan UKM Pelayanan

Kesehatan Jiwa Masyarakat oleh Puskesmas, kemudian didiskusikan dan

disepakati bersama dengan lintas sektor. Jadwal yang telah disepakati

disosialisasikan ke sasaran/masyarakat melalui media komunikasi yang

ditetapkan (brosur, pertemuan dengan masyarakat, pengumuman di

Puskesmas). Jadwal pelaksanaannya tersebut diupayakan semaksimal mungkin

dapat terintegrasi dengan kegiatan UKM lainnya sesuai sasaran dan jenis

kegiatan, misal penyuluhan/sosialisasi dan deteksi dini gangguan jiwa pada anak

sekolah diintegrasikan dengan kegiatan UKS/penjaringan kesehatan anak


sekolah, penyuluhan/sosialisasi dan deteksi dini gangguan jiwa pada usia lanjut

diintegrasikan dengan kegiatan Posyandu Lanis atau Prolanis, dan sebagainya.

Sedangkan pelayanan klinis kesehatan jiwa melalui Upaya Kesehatan

Perorangan (UKP) di Puskesmas dilaksanakan setiap hari melalui Ruang

Pemeriksaan Umum oleh dokter dan atau perawat.


BAB III

STANDAR FASILITAS

A. DenahRuang

B. Standar Fasilitas

Peralatan atau standar fasilitas yang diperlukan antara lain :

1. Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar

2. Pedoman Umum Kesehatan Jiwa Masyarakat bagi Lintas Sektor Terkait

3. Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa di Lembaga Pemasyarakatan dan

Rumah Tahanan

4. Pedoman Umum TPKJM

5. Peralatan diagnostik pemeriksaan umum, yang meliputi minimal :

a. Stetoskop

b. Tensimeter

c. Termometer

d. Algoritma/Instrument penilaian gangguan jiwa/mental emosional

6. Prosedur pelayanan/kegiatan

7. Rekam Medis Pasien

8. Kit untuk penyuluhan : leaflet, peraga, dll

9. Kendaraan Operasional

10. Pakaian Fiksasi Pasien


BAB IV

TATALAKSANA PELAYANAN

A. LINGKUP KEGIATAN

Pelayanan klinis penderita jiwa di Upaya Kesehatan Perorangan

1.Tata Laksana Umum Pasien Jiwa

a. Petugas menerima rekam medis pasien dan memastikan identitas pasien

dengan identitas yang tertulis di rekam medis

b.Petugas melakukan anamnesis

c.Petugas menanyakan keluhan utama pasien kepada pasien/pengantar dan

mencatatnya pada rekam medis

d.Petugas mengelompokkan keluhan ke dalam keluhan fisik murni (Fm),

keluhan fisik disertai keluhan mental emosional atau fisik ganda (Fg),

keluhan psiko-somatik (PS), atau keluhan mental-emosional (ME) dan diberi

kode

e.Bila keluhan utama termasuk PS, ME atau Fg lanjutkan dengan pertanyaan

(aktif)

f. Beri paraf dibawahnya dan lanjutkan dengan pemeriksaan rutin lainnya

(tekanan darah, dll)

g. Dokter menetapkan diagnosis baik fisik maupun mental serta mencantumkan

kode diagnosis

h. Dokter menulis resep obat di rekam medis dan kertas resep yang diberikan

kepada pasien/pengantar.

i. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan pengantar tentang penyakit

dan tata laksana di rumah serta pesan untuk datang kembali.


B. METODE

Metode yang di gunakan adalah Tata Laksana Khusus (berdasarkan

diagnosisnya)

a.Pendidikan/Penyuluhan ke Masyarakat atau Sektor terkait

1. Pendidikan/Penyuluhan di Kelompok Masyarakat Berbasis UKBM

2. Pendidikan/Penyuhan di Institusi Pendidikan dan lainnya

b. Deteksi Gangguan Jiwa di Kelompok Masyarakat dan Sekolah

1. Skrining Gangguan Jiwa/Mental Emosional pada Kelompok Masyarakat

Potensial

2. Skrining Gangguan Jiwa/Mental Emosional pada Anak Sekolah

3. Skrining Gangguan Jiwa/Mental Emosional di Kelompok Pekerja di Tempat

Kerja

c. Rujukan Kasus Gangguan Jiwa dari Masyarakat ke Puskesmas

C. Langkah Kegiatan

a. Perawatan Kesehatan Masyarakat (kunjungan rumah) ke Pasien Gangguan

Jiwa

1.Kunjungan Rumah Pasien Gangguan Jiwa Baru

2.Kunjungan Rumah Pasien Gangguan Jiwa Pasca Rawat Inap

3.Kunjungan Rumah Pasien Gangguan Jiwa Mangkir Pengobatan

b. Penanganan/evakuasi Kegawatdaruratan Jiwa

1. Evakuasi Pasien Jiwa Gaduh Gelisah

2. Rujukan Pasien Jiwa Gaduh Gelisah/Pasung

c. Pemberdayaan Keluarga/Masyarakat dalam Program Pelayanan Kesehatan

Jiwa Masyarakat
1. Pembentukan Tim Kesehatan Jiwa Komunitas Tingkat Kecamatan

2. Pembentukan Kader Kesehatan Jiwa melalui Konsep Desa Siaga

3. Pendampingan pengobatan dan kemandirian pasien jiwa oleh Kader

4. Family Gathering Pasien Gangguan Jiwa Tingkat Kecamatan

d. Rehabilitasi Sosial Pasien Gangguan Jiwa Berbasis Masyarakat

1. Edukasi terhadap keluarga dan tetangga Pasien tentang Komunikasi dan

Pemberdayaan Pasien Gangguan Jiwa


BAB V

LOGISTIK

Kebutuhan dana dan logistik untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan jiwa

masyarakat direncanakan oleh pelaksana dan di usulkan ke tim perencanaan tingkat

puskesmas melalui penanggung jawab UKM pengembangan dengan tahapan

kegiatan yang akan dilaksanakan. LOgistik yang diperlukan dalam pelaksanaan

pelayanan kesehatan jiwa masyarakat antara lain obat-obatan dan bahan atau

materi penyuluhan.
BAB VI

KESELAMATAN SASARAN

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan Pelayanan

Kesehatan Jiwa Masyarakat perlu diperhatikan keselamatan pasien/sasaran dengan

melakukan identifikasi risiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada

saat pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko terhadap pasien/sasaran

harus dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan.

Identifikasi dan upaya pencegahan risiko terhadap pasien/sasaran dalam

Pelayanan Kesehatan Jiwa Masyarakat sebagai berikut :

No Pelayanan/Kegiatan Jenis Potensial Risiko Upaya Pencegahan

Risiko

1 Pelayanan UKP Pasien Kesalahan anamnesis· CR klinis petugas

Gangguan Jiwa hingga diagnosis dan 100%

terapi karena kendala· Pasien didampingi

komunikasi keluarga

· Ketersediaan obat

2
BAB VII

KESELAMATAN KERJA

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan Pelayanan

Kesehatan Jiwa Masyarakat perlu diperhatikan keselamatan kerja petugas dengan

melakukan identifikasi risiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada

saat pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko terhadap petugas harus

dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan.

Identifikasi dan upaya pencegahan risiko terhadap petugas dalam Pelayanan

Kesehatan Jiwa Masyarakat sebagai berikut :

No Pelayanan/Kegiatan Jenis Potensial Risiko Upaya Pencegahan

Risiko

1 Pelayanan UKP Pasien Keselamatan jiwa· Pasien didampingi

Gangguan Jiwa akibat pasien yang keluarga

tidak terkendali atau· Petugas menguasai

tersinggung karena dan menerapkan

kesalahan komunikasi teknik komunikasi

dengan pasien

gangguan jiwa

· Ruang pelayanan

disetting sedemikian

rupa sehingga

mengantisipasi jika

terjadi penyerangan

pasien yang dapat


membahayakan

petugas, misal 2

pintu tidak dikunci,

berada diluar daya

jangkau tangan

pasien, dll

2
BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

Kinerja pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Jiwa Masyarakat dimonitor dan

dievaluasi dengan menggunakan indikator sebagai berikut:

1. Ketepatan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadual

2. Kesesuaian petugas yang melaksanakan kegiatan

3. Ketepatan metoda yang digunakan

4. Angka kepatuhan petugas terhadap SOP minimal 80% untuk kegiatan UKM dan

100% untuk pelayanan UKP.

Monitoring dilakukan oleh Penanggung Jawab UKM Pengembangan dan Kepala

Puskesmas setiap bulan melalui pertemuan lokakarya mini. Sedangkan

pembahasan permasalahan indikator yang belum tercapai dan memerlukan peran

lintas sektor terkait akan dibahas dalam pertemuan lokakarya mini lintas sektor tiap

tribulan.
BAB IX

PENUTUP

Pedoman ini sebagai acuan bagi karyawan puskesmas dan lintas sektor terkait

dalam pelaksanaan dan pembinaan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat dengan

tetap memperhatikan prinsip proes pembelajaran dan manfaat. Keberhasilan

kegiatan peayanan kesehatan jiwa masyarakat tergantung pada komitmen yang kuat

dari semua pihak.


DAFTAR PUSTAKA

Indra Jonli,Dr.Sp.KJ, Solichin Jusni Ichsan, Dr.Sp.KJ dan Hidayat, Dr.Sp.KJ: Buku

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar,

Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2009.