Anda di halaman 1dari 32

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di rongga
mediastinum dan berasal dari salah satu struktur atau organ yang berada di
rongga tersebut (Mukty, Abdul, 2002). Proses pembentukan karsinogenesis
merupakan kejadian somatic dan sejak lama diduga disebabkan karena
akumulasi perubahan genetik dan epigenetic yang menyebabkan
perubahan pengaturan normal control molekuler perkembangbiakan sel
(Syaifudin, 2007).
Pembedahan yang dilakukan oleh Becha, dkk dari Perancis terhadap
89 pasien tumor mediastinum dan terdiri dari 35 kasus timoma invasive,
12 karsinoma timik, 17 sel germinal, 16 limfoma, 3 tumor saraf, 3
karsinoma tiroid, 2 radition induced sarcoma dan 1 kasus mesotelioma
mediastinum. Penelitian retrospektif dari tahun 1973 sampai dengan 1995
di New Mexico, USA mendapatkan 219 pasien tumor mediastinum ganas
yang diidentifikasi dari 110.284 pasien penyakit keganasan primer, jenis
terbanyak adalah limfoma 55%, sel germinal 16%, timoma 14%, sarcoma
5%, neurogenik 3% dan jenis lainnya 7%.
Jenis tumor di rongga mediastinum dapat berupa tumor jinak atau
tumor ganas dengan penatalaksanaan dan prognosis yang berbeda,
karenanya ketrampilan dalam prosedur diagnostik memegang peranan
sangat penting (PDPI, 2003).

1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah perkuliahan diharapkan mahasiswa mampu memahami konsep
dan mengaplikasikan asuhan keperawatan pada pasien yang menderita
tumor mediastinum.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui konsep teori tumor mediastinum.
1) Mengetahui anatomi mediastinum
2) Mengetahui definisi tumor mediastinum
3) Mengetahui gejala klinik tumor mediastinum

1
2

4) Mengetahui jenis tumor mediastinum


5) Mengetahui etiologi tumor mediastinum
6) Mengetahui patofisiologi tumor mediastinum
7) Menjelaskan WOC tumor mediastinum
8) Mengetahui pemeriksaan diagnotik tumor mediastinum
9) Mengetahui penatalaksanaan tumor mediastinum
10) Menjelaskan prognosis tumor mediastinum
11) Mengetahui asuahn keperawatan tumor mediastinum

1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang ingin dicapai dengan adanya makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Mahasiswa
Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami anatomi, definisi, gejala
klinik, jenis, etiologi, patofisiologi, pemeriksaan diagonstik,
penatalaksanaan, prognosis tumor mediastinum serta dapat menerapkan
asuhan keperawatan pada klien dengan dwarfisme, khususnya pada
mahasiswa keperawatan.
2. Dosen
Makalah ini dapat dijadikan tolok ukur sejauh mana mahasiswa mampu
mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen dan sebagai bahan
pertimbangan dosen dalam menilai mahasiswa.
3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


2.1.1 Anatomi Mediastinum

Gambar 2.1 Letak Mediastinum

Sumber:
Gambar 2.1 http://www.slideshare.net

Mediastinum adalah rongga yang terletak di bagian tengah toraks dan


mempunyai batas-batas anatomi. Secara garis besar, mediastinum dibagi
atas 4 bagian penting sebagai berikut (PDPI, 2003):
a. Mediastinum superior, mulai pintu atas rongga dada sampai ke
vertebra torakal ke-5 dan bagian bawah sternum. Berisi timus, trakea
atas, esophagus, dan arkus aorta serta cabangnya.
b. Mediastinum anterior, dari garis batas mediastinum superior ke
diafragma di depan jantung. Berisi aspek inferior timus maupun
jaringan adipose, limfatik, dan areola.
c. Mediastinum posterior, dari garis batas mediastinum superior ke
diafragma di belakang jantung. Berisi esophagus, nervus vagus, rantai
saraf simpatis, duktus torasikus, aorta desenden, system azigot dan
hemiazigos, kelenjar limfe paravertebralis dan jaringan arteola.
d. Mediastinum medial (tengah), dari garis batas mediastinum superior ke
diafragma di antara mediastinum anterior dan posterior. Berisi jantung,

3
4

pericardium, nervus frenikus, bifurkasio trakea dan bronkiprinsipalis,


nodi limfasit trakealis, dan bronkialis.

Gambar 2.2 Pembagian Mediastinum

Gambar 2.2 http://www.beliefnet.com

Adapun organ-organ penting yang terdapat di dalamnya antara lain:


Jantung da pembuluh darah besar, kelenjar dan saluran getah bening,
esophagus, trakea dan bronkus besar, ganglion, dan saraf otonom (Mukty,
Abdul, 2002).

2.1.2 Definisi
Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di rongga
mediastinum dan berasal dari salah satu struktur atau organ yang berada di
rongga tersebut (Mukty, Abdul, 2002).Tumor mediastinum adalah tumor
yang terdapat di dalam mediastinum yaitu rongga yang berada di antara
paru kanan dan kiri (PDPI, 2003).
Tumor adalah suatu benjolan abnormal yang ada pada tubuh,
sedangkan mediastinum adalah suatu rongga yang terdapat di antara paru-
paru kanan dan kiri yang berisi jantung, aorta, dan arteri besar, pembuluh
darah vena besar, trakea, kelenjar timus, saraf, jaringan ikat, kelenjar getah
5

bening dan salurannya. Tumor mediastinum adalah tumor yang berada di


daerah mediastinum (Rahmadi, Agus, 2010).

2.1.3 Etiologi
1. Anterior mediastinum
a. Sel kuman (germ cell): mayoritas dari sel kuman neoplasma (60-
70%) adalah tumor jinak dan bisa ditemukan pada laki-laki dan
perempuan.
b. Lymphoma: tumor ganas termasuk penyakit Hodgkin dan limfoma
non-Hodgkin
c. Timoma dan kista timus: penyebab paling sering dari massa kista.
Mayoritas timoma adalah tumor jinak yang terkandung dalam kapsul
fibrosa. Namun 30% dari timoma dapat menjadi lebih agresif dan
menjadi invasive melalui kapsul fibrosa
d. Massa tiroid mediastinum: biasanya tumbuh jinak, seperti gondok,
kadang-kadang bisa menjadi kanker.
2. Middle maediastinum
a. Kista bronkogenik: pertumbuhan tumor jinak yang berasal dari
respiratori
b. Limfadenopati mediastinal: pembesaran kelenjar limpa
c. Kista pericardial: pertumbuhan tumor jinak yang dihasilkan dari
“out-pouching” dari pericardium.
d. Massa tiroid mediastinum: biasanya tumbuh jinak, seperti gondok,
kadang-kadang bisa menjadi kanker.
e. Tumor trakea: termasuk neoplasma trakea dan massa non-euplastic
seperti tracheobronchopathia osteochondroplastica (tumor jinak).
f. Kelainan pembuluh darah: termasuk aneurisma aorta dan diseksi
aorta
3. Posterior mediastinum
a. Extramedullary haematopoiesis: penyebab yang jarang dari massa
yang terbentuk dari perluasan sumsum tulang belakang dan berkaitan
dengan anemia berat.
b. Limfadenopati mediastinal
c. Neuroenteric kista mediastinum: pertumbuhan langka yang
melibatkan saraf dan elemen gastrointestinal
d. Neurogenik neoplasma mediastinum: penyebab paling umum dari
tumor mediastinum posterior, diklasifikasikan sebagai neoplasma
seluubung saraf, neoplasma sel ganglion dan neoplasma sel
paraganglionic. Sekitar 70% dari neoplasma neurogenik adalah jinak.
Kelainan esofagus termasuk akalasia esofagus, neoplasma esofagus
dan hernia hiatus. Kelainan paravertebral termasuk kelainan menular,
ganas dan trauma tulang belakang dada.
6

Sumber:
https://my.clevelandclinic.org/services/heart/disorders/hic_mediastinal_tumor

2.1.4 Gejala Klinik


Umumnya tumor itu sendiri tidak memberikan gejala, namun
penekanan pada organ-organ di sekitarnya akan menimbulkan keluhan
antara lain (Mukty, Abdul, 2002):
a. Trakea : batuk, sesak, stridor
b. N.laringeus recurrens : suara parau
c. Esophagus : disfagi (kesulitan menelan)
d. Vena cava superior : sindroma vena cava superior
e. Jantung : gangguan hemodinamik

Tabel 2.1 Gejala klinik penderita tumor mediastinum (disusun menurut


persentase) (Mukty, Abdul, 2002).
No. Gejala Klinik Jumlah Persentase (%)
1. Sesak napas 60 88,2
2. Batuk 57 83,8
3. Sindroma vena cava superior 24 35,3
4. Pembesaran kelenjar 20 29,4
5. Nyeri dada 12 17,6
6. Suara parau 10 14,7
7. Nyeri dada 9 13,2
8. Tanpa gejala 2 2,9

Menurut PDPI (2003) gejala dan tanda yang timbul tergantung pada
organ yang terlibat, yaitu sebagai berikut :
1. Batuk, sesak atau stridor muncul bila terjadi penekanan atau invasi pada
trakeadan/atau bronkus utama,
2. Disfagia muncul bila terjadi penekanan atau invasi ke esophagus
3. Sindrom vena kava superior lebih sering terjadi pada tumor mediastinum
yang ganas dibandingkan dengan tumor jinak.
4. Suara serak dan batuk kering muncul bila nervus laringeal terlibat dan
paralisis diafragma.
5. Timbul apabila penekanan nervus frenikus.
6. Nyeri dinding dada muncul pada tumor neurogenik atau pada penekanan
sistem syaraf.

2.1.5 Jenis Tumor Mediastinum


Table 2.2 Neoplasma dan kista dari mediastinum (Tabrani, 2010).
7

Anterior Middle Posterior


Timoma Kista Tumor neurogenik
Limfoma - Pericardial (schwannoma,
Tumor germ sel - Bronkogenik neurofibroma)
- Teratoma Lesi nonkista Limpoma
- Seminoma - Limpoma
- Disgerminoma
- Tumor germ sel
campuran
Tumor endokrin
(tiroid, paratiroid,
karsinoid)
(dikutip dari Pulmonary Diseases and Disorders, Companion Handbook,
Fishman, A. P)
1. Timoma
Timoma merupakan tumor mediastinum yang paling sering dijumpai
di mediastinum anterior, dapat dijumpai pada semua umur terutama pada
golongan dewasa muda. Tidak terdapat predeleksi jenis kelamin (Mukty,
Abdul, 2002).
1) Gejala klinis
Membedakan jenis jinak atau ganas dapat dilakukan dengan
memperhatikan derajat invasi serta kesempurnaan kapsul tumornya. Tumor
jinak tidak mengadakan invasi ke jaringan sekitar serta berkapsul
sempurna. Pada foto thoraks, tumor jinak akan tampak lebih bulat, lebih
kecil, dan biasanya hanya tumbuh pada salah satu sisi dada tanpa
menyeberangi garis tengah. Duapertiga pasien dengan timoma disertai
dengan keluhan batuk, nyeri dada, sindromavena cava superior, dan
keluhan paratimus, berupa miastenia gravis (penyakit yang menyerang
hubungan antara sistem saraf (nervus) dan sistem otot (muskulus)). Sekitar
30-50% penderita timoma mengalami miastenia gravis dan sekitar 10-15%
penderita miastenia gravis menalami timoma. Miastenia gravis merupakan
gangguan autoimun, yaitu gangguan yang disebabkan oleh antibody atau
sel T yang menyerang molekul, sel, atau jaringan organism yang
memproduksi mereka (Venuta F. 2012).
Staging berdasarkan sistem Masanoka:
a. Stage 1: makroskopik berkapsul, secara mikroskopik tidak tampak invasi
ke kapsul.
8

b. Stage 2: Invasi secara makroskopik ke jaringan lemak sekitar pleura


mediastinal atau invasi ke kapsul secara mikroskopik.
c. Stage 3: Invasi secara makroskopik ke organ sekitarnya.
d. Stage 4 A: Penyebaran ke pleura atau perikardium.
e. Stage 4 B: Metastasis limfogen atau hematogen.
2) Penatalaksanaan Timoma
a) Stage 1: Extended thymo thymecthomy (ETT).
b) Stage 2: ETT + radiasioterapi.
Penatalaksanaan timoma tipe medular stage 1-2 : bedah +
kemoterapi.
c) Stage 3: ETT + extended resection + radioterapi + kemoterapi.
Pada stage 3: kemo/radioterapi neoadjuvant.
d) Stage 4 A : Debulking + kemoterapi + radioterapi.
Penatalaksanaan timoma tipe medular stage 4 A: kemoradioterapi
adjuvant 2 siklus + radiasi 4000 cGy + debulking + kemoterapi
siklus berikutnya.
e) Stage 4 B: Kemoterapi + radioterapi + debulking.
Penatalaksanaan timoma tipe medular stage 4 B : paliatif
(kemoterapi + radioterapi paliatif).
Pada timoma tipe campuran, penatalaksanaan disesuaikan dengan
tipe histologik yang dominan.

2. Tumor Teratoid
Tumor terotoid berasal dari elemen abnormal yang telah ada sejak
lahir, namun biasanya baru tampak secara radiologis menjelang dewasa.
Oleh karena itu, terutama banyak dijumpai pada golongan dewasa muda
tanpa ada predeleksi jenis kelamin.
a) Berdasarkan pemeriksaan patologi dibedakan 2 jenis tumor teratoid
(Mukty, Abdul, 2002):
I : Kista dermoid
Terdiri atas komponen ectoderm, konsistensi kistus dengan isi beraneka
ragam antara lain kulit, rambut, gigi, tulang, dan sebagainya. Biasanya
jinak.
II : Teratoma
Terdiri atas komponen mesoderm, konsistensi padat dengan isi terutama
endoderm. Biasanya ganas dari jenis adeno karsinoma.
b) Gejala klinis
Sama dengan tumor mediastinum pada umumnya, namun pada kista
dermoid, dahak dapat mengandung rambut, sehingga dapat dianggap
patognomonik untuk diagnosis (Mukty, Abdul, 2002).
9

c) Penatalaksanaan
Penatalaksanaan melalui pembedahan dengan prognosis yang cukup baik
untuk tumor yang jinak, namun pada tumor ganas mempunyai angka
kematian 50% dalam 6 bulan pasca bedah. Kecuali untuk jenis
seminoma (Mukty, Abdul, 2002).

3. Tumor Tiroid
Tumor tiroid lebih sering diderita oleh penderita umur lima puluhan.
Gejala klinik
Tidak berbeda dengan tumor mediastinum lainnya namun yang
menunjang diagnosis adalah 50% kasus disertai pembesaran kelenjar
gondok. pada pemeriksaan radiologi terdapat massa padat dengan densitas
homogeny (Mukty, Abdul, 2002).

4. Kista Perikardial
Kista dapat terjadi karena perikard bagian ventral tetap tumbuh.
Radiologi memberikan gambaran massa bulat atau lonjong, berbatas jelas
dengan densitas homogeny (Mukty, Abdul, 2002).
Penatalaksanaan tetap dianjurkan pembedahan. Walau sering tidak
memberikan gejala serta jarang mengalami penyulit keradangan (Mukty,
Abdul, 2002).

5. Limfoma
Sekitar 90% tumor mediastinum medial bersifat ganas dan sebagian besar
merupakan limfosarkoma atau penyakit Hodgkin.
a) Gejala klinik
Dapat disebabkan tumor itu sendiri, atau akibat manifestasi penyakit sistem
getah bening. Diagnosis dapat ditegakkan dengan biopsy kelenjar getah
bening terutama kelenjar skalenus, pemeriksaan sumsum tulang dan darah
tepi (Mukty, Abdul, 2002).
b) Penatalaksanaan
Berbeda dengan tumor mediastinum lainnya yaitu bukan pembedahan,
melainkan radiasi dan sitostatika.

6. Kista Bronkogenik
Sering ditemukan pada anak atau menjalang dewasa muda. Merupakan
kelainan congenital yang timbul sebagai akibat gangguan pertumbuhan
10

primitive foregut. Berdasarkan lokalisasinya dapat dibagi menjadi 5


kelompok, yaitu (Mukty, Abdul, 2002):
I : paratracheal
II : carinal
III : hilar
IV : paraesofageal
V : miscellaneous
I dan II adalah yang paling sering dijumpai.
a) Gejala klinik
Batuk persisten, sesak napas bahkan sianosis.
b) Penatalaksanaan
Harus dilakukan tindakan pembedahan.

7. Menurut Tabrani, 2010, tumor germ sel merupakan salah satu jenis tumor
mediastinum. Secara histopatogenesis tumor ini pindah ke mediastinum
pada fase embrional. Ada 5 jenis tumor yang termasuk dalam tumor germ
sel, yakni:
1) Teratoma
Bentuk jinaknya disebut dengan kista dermoid. Dalam kista ini terdapat
ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Bila kista ini pecah ke dalam
bronkus, maka pada waktu pasien batuk akan keluar rambut, daarah, atau
kelenjar keringat. Begitu pula bila tumor ini pecah ke dalam jantung,
maka akan terjadi tamponade jantung, dan bila pecah dalam pleura maka
akan terjadi pneumotoraks.
Terapi
Dilakukan tindakan reseksi yang komplit atas pertimbangan agar tidak
menjadi ganas atau agar massa tidak mengalami pembesaran.
2) Seminoma
Seminoma adalah tumor yang sensitif terhadap radiasi dan kemoterapi.
Tidak ada indikasi bedah untuk tumor jenis ini. Kemoterapi diberikan
setelah radiasi selesai, tetapi respons terapi akan lebih baik dengan cara
kombinasi radio-kemoterapi. Bila ada kegawatan napas, radiasi
diberikan secara cito, dilanjutkan dengan kemoterapi sisplatin based.
3) Disgerminoma dan koriokarsinoma
Tumor ini disebut juga karsinoma sel embrional yang kadang terjadi
bersamaan dengan koriokarsinoma.sel tumor melepaskan alfa
fetoprotein, antigen karsinoembrionik, sementara itu koriokarsinoma
akan menghasilkankorionik gonadotropin.
11

4) Tumor germ sel campuran


Tumor ini pada dasarnya adalah sel germ yang multipotensial, sehingga
dengan demikian dihasilkan berbagai macam tumor, yaknimulai dari
teratoma, karsinoma embrional, dan sebagainya.

8. Tumor Neurogenik
Dapat ditemukan pada semua umur, namun terbanyak pada golongan
usia muda. Melihat asal tumor dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu
(Mukty, Abdul, 2002):
I : berasal dari saraf tepi: neurofibroma, neurilemoma.
II : berasal dari ganglion simpatetik: ganglioneuroma, neuroblastoma,
simpatikoblastoma.
III : berasal dari sel paraganglion: phaeochromocytoma,
paraganglioma.
Penatakasanaan melalui pembedahan dengan prognosa pasca bedah yang
baik.

2.1.6 Patofisiologi
Penyebab timbulnya tumor mediastinum belum diketahui secara pasti,
hanya diduga berbagai faktor predisposisi yang kompleks berperan dalam
menimbulkan sel-sel kanker pada jaringan mediastinum.
Pertumbuhan sel-sel karsinoma dapat terjadi di dalam rongga
mediastinum. Dengan semakin meningkatnya volume massa sel-sel yang
berproliferasi secara mekanis akan menimbulkan desakan pada jaringan
sekitarnya. Timbulnya karsinoma dapat meningkatkan daya merusak sel
kanker terhadap jaringan sekitarnya terutama jaringan yang memiliki
ikatan yang relative lemah.
Menurut Price dan Wilson (2002) yang dikutip oleh Muttaqin (2007)
adanya pertumbuhan sel-sel progresif pada mediastinum secara mekanis
juga dapat menyebabkan penekanan pada jaringan sekitar yang
menimbulkan penyakit infeksi pernapasan lain seperti sesak napas, nyeri
pada saat inspirasi, peningkatan produksi sputum, bahkan batuk darah atau
lender berwarna merah (hemaptoe).
Kondisi kanker juga meningkatkan risiko timbulnya infeksi sekunder
sehingga kadang kala manifestasi klinis yang lebih menonjol mengarah
pada infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia atau TB paru
(Muttaqin, 2007).
12

2.1.7 WOC

Etiologi penyebab tumor


mediastinum

Terjadi perubahan struktur


sel

Sel
berproliferasi
Sel-sel tumor memerlukan
waktu yang lama untuk
Sel tumor
menimbulkan manifestasi
terbentuk
klinis

Formasi tumor
terbentuk

Pertumbuhan sel
tumor abnormal tidak
terkontrol

Peningkatan volume
massa

Tekanan terhadap organ,


pembuluh darah dan jaringan MK: Nyeri
di sekitar akut

Kompres Nervus
Paru Trakea
i vagus
tertekan tertekan
esofagus tertekan

Sulit Serangan Gangguan Penurunan


menela batuk, difusi fungsi dan
n bronkospasme alveoli ekspansi paru

MK: MK: MK: MK: Pola


Nutrisi Bersihan Gangguan napas tidak
kurang jalan napas pertukaran efektif
gas
13

2.1.8 Pemeriksaan Diagnostik


1. Menurut Desen (2013) tumor mediastinum secara morfologis sulit
dibedakan dari tumor primer maupun sekunder paru, limfadenopati,
hemangioma, dll. Metode pemeriksaan yang sering dipakai adalah :
1) Sinar-x: dapat menunjukkan lokasi, kontur, densitas, ada tidaknya
kalsifikasi atau osifikasi, dll, sehingga dapat menentukan secara awal
jenis tumor. Pemeriksaan minum barium dapat mengetahui apakah
esofagus atau organ sekitar terketan.
2) Bronkoskopi atau esofagoskopi fiber: membantu menunjukkan
kondisi dan derajat desakan pada bronkus atau esofagus, untuk
menilai kemungkinan di operasi.
3) Mediastinoskopi: menunjukkan ada tidaknya pembesaran kelenjar
limfe paratrakea, subkarina, juga dapat melakukan biopsi untuk
diagnosis eitologik.
4) CT-scan: terhadap tumor mediastinum anterior, limfadenopati, lesi
jaringan lemak mediastinum (misal, lipoma) lebih dapat diandalkan
dibandingkan sinar X. Akurasi CT-scan dalam diagnosis tumor dan
limfadenopati mediastinum dapat mencapai 90% lebih.
5) Biopsi kelenjar limfe leher: tuberkulosis kelenjar limfe dan limfoma
bronkial sering mengenai kelenjar limfe leher, biopsi kelenjar limfe
dapat membantu diagnosis.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium menurut PDPI, 2003 antara lain:
1) Pemeriksaan rutin sering tidak memberikan informasi yang
berkaitan dengan tumor. LED kadang meningkatkan pada limfoma
dan TB mediastinum.
2) Uji tuberculin dibutuhkan bila ada kecurigaan limfadenitis TB.
3) Pemeriksaan kadar T3 dan T4 dibutuhkan untuk tumor tiroid.
4) Pemeriksaan a-fetoprotein dan b-HCG dilakukan untuk tumor
mediastinum yang termasuk kelompok tumor sel germinal, yakni
jika ada keraguan antara seminoma atau nonseminoma.

2.1.9 Prognosis
Banyak faktor yang menentukan prognosis penderita timoma.
Menghitung umur tahan hidup 5 tahun berdasarkan staging penyakit, 92,6
% untuk stage I, 85,7 % untuk stage II, 69,6 % untuk stage II dan 50 %
untuk stage IV (Masaoka dalam Hamid, 2015). Prognosis tumor
14

mediastinum jinak cukup baik, terutama jika tanpa gejala. Berbeda variasi
prognosisnya pada pasien dengan tumor mediastinum ganas, dimana hasil
diagnostic spesifik, derajat keparahan penyakit, dan keadaan spesifik
pasien yang lain akan mempengaruhi (Sudoyo, 2006).

2.2 Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
1) Anamnesis
Tumor mediastinum sering tidak menampakkan gejala dan terdeteksi
pada saat dilakukan foto toraks. Untuk tumor jinak, keluhan biasanya
mulai timbul bila terjadi peningkatan ukuran tumor, yang menyebabkan
terjadinya penekanan struktur mediastinum. Sedangkan tumor ganas dapat
menimbulkan gejala akibat penekatan atau invasi ke struktur mediastinum.
a. Identitas
Pada tumor timoma dan tumor teratoid dijumpai pada semua umur
terutama pada golongan dewasa muda dan ada predeleksi jenis kelamin.
Kista bronkogenik sering ditemukan pada anak atau menjelang dewasa
muda. Timoma banyak terjadi pada usia 40-60 tahun.
b. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering muncul adalah sesak nafas dan nyeri dada
yang berulang dan tidak khas, batuk atau batuk darah bila ada. Pada
beberapa kasus, kebanyakan klien mencari pelayanan medis karena
keluhan infeksinya. Predisposisi penyakit saluran pernafasan lain
seperti ISPA dan influenza sering terjadi dalam rentang waktu yang
relatif lama dan berulang.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi
dalam rentang aktu yang relatif lama dan berulang.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Adanya anggota keluarga yang menderita tumor mempunyai risiko
lebih tinggi menderita tumor daripada orang yang tidak mempunyai
keturunan penyakit tumor.
e. Pengkajian Psiko-Sosio-Spiritual
Adanya kesimpulan penekanan diagnosis medis karsinoma akan
memberikan dampak terhadap keadaan status psikologis klien.
15

Mekanisme koping biasanya maladaptif yang diikuti perubahan


mekanisme peran dalam keluarga, kemampuan ekonomi untuk
pengobatan, serta prognosis yang tidak jelas merupakan faktor-faktor
pemicu kecemasan dan ketidakefektifan koping individu dan keluarga.

2.2.2 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik akan memberikan informasi sesuai dengan lokasi,
ukuran dan keterbatasan organ lain, misalnya telah terjadi penekanan ke
organ sekitarnya. Pemeriksaan yang dilakukan yaitu:
1) B1 (Breathing)
Terjadi sesak napas, dada tertekan, nyeri dada berulang, hiperventilasi, batuk
produktif ataupun nonproduktif, penggunaan otot diafragma, pernapasan
diafragma dan perut meningkat, laju pernapasan meningkat, terdengar
stridor, ronchi pada lapang paru, terdengar suara napas abnormal.
2) B2 (Blood)
Denyut nadi meningkat, disritmia, vasokontriksi pembuluh darah.
3) B3 (Brain)
Penurunan kesadaran, gelisah, letargi.
4) B4 (Bledder)
Produksi urin menurun
5) B5 (Bowl)
Mual muntah, anoreksia, disfagia, nyeri telan, berat badan menurun.
6) B6 (bone and skin)
Kulit pucat, sianosis, turgor menurun, tonus otot menurun, lemah.

2.2.3 Analisis Data

Masalah
No Data Etiologi
Keperawatan
1. DS: klien mengeluh Tumor mediastinum Pola napas tidak
sesak napas. efektif
DO: napas dalam dan Menekan trakea
cuping hidung,
Penurunan fungsi dan
takipneu, penggunaan
ekspansi paru
otot bantu pernapasan.
2. DS: klien mengatakan Tumor mediastinum Bersihan jalan
batuk berdahak. napas tidak
DO: suara nafas Menekan nervus vagus efektif
wheezing, perubahan
Serangan batuk,
irama dan frekuensi
bronkospasme
pernapasan, sputum
16

berlebihan.
3. DS: klien mengeluh Tumor mediastinum Gangguan
sesak napas. pertukaran gas
DO: AGD abnormal, Menekan paru
pH arteri abnormal,
Gangguan difusi alveoli
sianosis, hipoksia,
hipoksemia,
takikardia.
4. DS: klien mengatakan Tumor mediastinum Nutrisi kurang
mual dan tidak nafsu dari kebutuhan
makan. ↑ metabolisme dan tubuh
DO: porsi makan tidak proses keganasan,
dihabiskan, penurunan kemoterapi
berat badan, muntah
Intake tidak adekuat,
>>.
mual/muntah
5. DO: klien mengatakan Tumor mediastinum Nyeri akut
nyeri pada dada.
DS: klien meringis Pertumbuhan sel tumor
kesakitan, posisi abnormal tidak
menghindari nyeri, terkontrol
gangguan tidur.
Tekanan terhadap organ,
PD & jaringan sekitar

2.2.4 Diagnosis Keperawatan


a. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi
trakeobronkial, nyeri, penurunan ekspansi paru dan proses inflamasi.
b. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
sekresi trakeobronkial, obstruksi bronkial sekunder karena invasi
tumor.
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan aliran udara
ke alveoli atau ke bagian utama paru dan perubahan membran alveoli
kapiler (atelektasis, edema paru, effusi, perdarahan aktif dan sekresi
berlebihan).
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake inadekuat, peningkatan metabolisme dan proses
keganasan.
e. Nyeri akut berhubungan dengan invasi kanker ke pleura dan dinding
dada.

2.2.5 Intervensi Keperawatan


17

No Diagnosa Tujuan dan Intervensi


Kriteria Hasil
1. Pola Nafas tidak
efektif
berhubungan NOC : NIC :
dengan obstruksi 1. Respiratory status : Airway Management
trakeobronkial, Ventilation 1. Posisikan pasien untuk
nyeri, penurunan 2. Vital sign Status memaksimalkan
ekspansi paru dan ventilasi
proses inflamasi Kriteria Hasil : 2. Auskultasi suara nafas,
1. Mendemonstrasikan catat adanya suara
batuk efektif dan tambahan
suara nafas yang 3. Berikan bronkodilator
bersih, tidak ada bila perlu
sianosis dan 4. Atur intake untuk cairan
dyspneu (mampu mengoptimalkan
mengeluarkan keseimbangan.
sputum, mampu 5. Monitor respirasi dan
bernafas dengan status O2
6. Ajari dan anjurkan klien
mudah, tidak ada
untuk napas dalam
pursed lips)
2. Menunjukkan jalan
nafas yang paten Terapi Oksigen
(klien tidak merasa 1. Atur peralatan
tercekik, irama oksigenasi
2. Monitor aliran oksigen
nafas, frekuensi
3. Pertahankan posisi
pernafasan dalam
pasien
rentang normal, 4. Observasi adanya tanda
tidak ada suara tanda hipoventilasi
nafas abnormal) 5. Monitor adanya
3. Tanda Tanda vital kecemasan pasien
dalam rentang terhadap oksigenasi
normal (tekanan
darah, nadi, Vital sign Monitoring
pernafasan) 1. Monitor TD, nadi, suhu,
dan RR
2. Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
3. Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri
4. Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
18

setelah aktivitas
5. Monitor kualitas dari
nadi
6. Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
7. Monitor suara paru
8. Monitor pola pernapasan
abnormal
9. Monitor suhu, warna,
dan kelembaban kulit
10. Monitor sianosis perifer
2. Bersihan jalan NOC : NIC :
napas tidak efektif 1. Respiratory status : Airway suction
berhubungan Ventilation 1. Auskultasi suara nafas
dengan 2. Respiratory status : 2. Berikan O2 sesuai
peningkatan Airway patency kebutuhan
sekresi 3. Aspiration Control 3. Gunakan alat yang steril
trakeobronkial, sitiap melakukan
obstruksi Kriteria Hasil : tindakan
bronchial 4. Monitor status oksigen
1. Mendemonstrasikan
sekunder karena pasien
batuk efektif dan
invasi tumor suara nafas yang Airway Management
bersih, tidak ada
1. Posisikan pasien untuk
sianosis dan
memaksimalkan
dyspneu (mampu
ventilasi
mengeluarkan 2. Identifikasi pasien
sputum, mampu perlunya pemasangan
bernafas dengan alat jalan nafas buatan
mudah, tidak ada 3. Lakukan fisioterapi dada
pursed lips) jika perlu
2. Menunjukkan jalan 4. Keluarkan sekret dengan
nafas yang paten batuk atau suction
(klien tidak merasa 5. Auskultasi suara nafas,
tercekik, irama catat adanya suara
nafas, frekuensi tambahan
pernafasan dalam 6. Berikan bronkodilator
rentang normal, bila perlu
tidak ada suara 7. Atur intake untuk cairan
nafas abnormal) mengoptimalkan
3. Mampu keseimbangan.
mengidentifikasika 8. Monitor respirasi dan
n dan mencegah status O2
factor yang dapat
19

menghambat jalan
nafas

3. Gangguan NOC : NIC :


pertukaran gas 1. Respiratory Status : Airway Management
berhubungan Gas exchange 1. Posisikan pasien untuk
dengan gangguan 2. Respiratory Status : memaksimalkan
aliran udara ke ventilation ventilasi
alveoli atau ke 3. Vital Sign Status 2. Identifikasi pasien
bagian utama paru perlunya pemasangan
Kriteria Hasil :
dan perubahan alat jalan nafas buatan
1. Mendemonstrasikan 3. Pasang mayo bila perlu
membrane alveoli peningkatan 4. Lakukan fisioterapi dada
kapiler ventilasi dan jika perlu
(atelektasis, oksigenasi yang 5. Keluarkan sekret dengan
edema paru, adekuat batuk atau suction
effuse, perdarahan 2. Memelihara 6. Auskultasi suara nafas,
aktif dan sekresi kebersihan paru catat adanya suara
berlebihan) paru dan bebas dari tambahan
tanda tanda distress 7. Berika bronkodilator
pernafasan bial perlu
3. Mendemonstrasikan 8. Barikan pelembab udara
batuk efektif dan 9. Atur intake untuk cairan
suara nafas yang mengoptimalkan
bersih, tidak ada keseimbangan.
sianosis dan 10. Monitor respirasi dan
dyspneu (mampu status O2
mengeluarkan Respiratory Monitoring
sputum, mampu 1. Monitor rata – rata,
bernafas dengan kedalaman, irama dan
mudah, tidak ada usaha respirasi
pursed lips) 2. Catat pergerakan
4. Tanda tanda vital dada,amati kesimetrisan,
dalam rentang penggunaan otot
normal tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan
intercostal
3. Monitor suara nafas,
seperti dengkur
4. Monitor pola nafas :
bradipena, takipenia,
kussmaul, hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
20

5. Monitor kelelahan otot


diagfragma (gerakan
paradoksis)
6. Auskultasi suara nafas,
catat area penurunan /
tidak adanya ventilasi
dan suara tambahan
7. Auskultasi suara paru
setelah tindakan untuk
mengetahui hasilnya.

4. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari NOC : NIC :
kebutuhan tubuh 1. Nutritional Status : Nutrition
berhubungan dengan food and Fluid Management
intake inadekuat, Intake 1. Kaji adanya alergi
peningkatan Kriteria Hasil : makanan
metabolism dan proses 1. Adanya 2. Kolaborasi dengan ahli
keganasan peningkatan berat gizi untuk menentukan
badan sesuai jumlah kalori dan
dengan tujuan nutrisi yang dibutuhkan
2. Berat badan ideal pasien.
sesuai dengan tinggi 3. Anjurkan pasien untuk
badan meningkatkan intake Fe
3. Mampu 4. Anjurkan pasien untuk
mengidentifikasi meningkatkan protein
kebutuhan nutrisi dan vitamin C
4. Tidak ada tanda 5. Berikan substansi gula
tanda malnutrisi 6. Yakinkan diet yang
5. Tidak terjadi dimakan mengandung
penurunan berat tinggi serat untuk
badan yang berarti mencegah konstipasi
7. Berikan makanan yang
terpilih (sudah
dikonsultasikan dengan
ahli gizi)
8. Ajarkan pasien
bagaimana membuat
catatan makanan harian.
9. Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori
10. Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi
21

Nutrition Monitoring
1. BB pasien dalam batas
normal
2. Monitor adanya
penurunan berat badan
3. Monitor tipe dan
jumlah aktivitas yang
biasa dilakukan
4. Monitor lingkungan
selama makan
5. Jadwalkan pengobatan
dan tindakan tidak
selama jam makan
6. Monitor kulit kering
dan perubahan
pigmentasi
7. Monitor turgor kulit
3. Nyeri akut
berhubungan dengan
invasi kanker ke NOC : NIC :
pleura dan dinding
1. Pain Level, Pain Management
dada
2. Pain control, 1. Lakukan pengkajian
3. Comfort level nyeri secara
Kriteria Hasil : komprehensif termasuk
1. Mampu mengontrol lokasi, karakteristik,
nyeri (tahu durasi, frekuensi,
penyebab nyeri, kualitas dan faktor
mampu presipitasi
menggunakan 2. Observasi reaksi
tehnik nonverbal dari
nonfarmakologi ketidaknyamanan
untuk mengurangi 3. Gunakan teknik
nyeri, mencari komunikasi terapeutik
bantuan) untuk mengetahui
2. Melaporkan bahwa pengalaman nyeri pasien
nyeri berkurang 4. Kaji kultur yang
dengan mempengaruhi respon
menggunakan nyeri
manajemen nyeri 5. Evaluasi pengalaman
3. Mampu mengenali nyeri masa lampau
nyeri (skala, 6. Bantu pasien dan
intensitas, frekuensi keluarga untuk mencari
22

dan tanda nyeri) dan menemukan


4. Menyatakan rasa dukungan
nyaman setelah 7. Kurangi faktor
nyeri berkurang presipitasi nyeri
Tanda vital dalam 8. Pilih dan lakukan
rentang normal penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
9. Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk menentukan
intervensi
10. Ajarkan tentang teknik
non farmakologi
11. Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
23

BAB 3
STUDI KASUS

3.1 Kasus
Tn. R usia 38 tahun datang IGD RS “H” diantar oleh keluarganya
dengan keluhan sesak napas, nyeri dada di bagian tengah dan terasa sakit saat
menelan makanan yang membuat klien tidak nafsu makan kemudian klien
disarankan untuk rawat inap. Klien terlihat lemah dan menekan dadanya.
Klien mendapat terapi O2 3 lpm, obat golongan bronkodilator serta Ringer
Laktat. Berdasarkan data pengkajian dari keluarga klien bekerja sebagai
buruh di pabrik kimia tidak jauh dari tempat tinggal, 3 tahun yang lalu klien
juga pernah mengalami batuk berdarah namun tidak dibawa berobat.keluarga
juga mengatakan klien mengalami penurunan berat badan 4 kg menjadi 54
kg.
Berdasarkan hasil photo thorax, dokter menduga klien mengalami
tumor mediastinum jenis timoma derajat II. Pemeriksaan fisik, BP: 120/90
mmHg, RR: 29 bpm, Term: 37,1 oC, P: 105 bpm. Pemeriksaan lab, Hb: 7,5
g/Dl. Pemeriksaan diagnostic, photo thorax terdapat gambaran kapsul pada
mediastinum yang sudah menginvasi jaringan sekitar. Terapi kolaborasi, O2 3
lpm, obat golongan bronkodilator serta Ringer Laktat.

3.2 PENGKAJIAN
1. Anamnesa
a. Data Demografi Klien
Nama : Tn. R
Usia : 38 tahun
Jenis Kelamin : Laki - laki
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Alamat : Jl.Airlangga 5 No. 5, Surabaya
Agama : Islam
Tanggal MRS : 30 November 2015
Jam MRS : 10.00 WIB
Diagnosa : Susp. Tumor mediastinum jenis timoma derajad II

b. Identitas Penanggung Jawab

24
24

Nama : Ny. A
Usia : 35 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Hub. dengan klien : Istri klien

c. Keluhan Utama
Klien mengeluh sesak napas, nyeri dada di bagian tengah dan terasa
sakit saat menelan makanan yang membuat klien tidak nafsu makan.

d. Riwayat Penyakit Sekarang


Klien datang IGD RS “H” diantar oleh keluarganya dengan keluhan
sesak napas, nyeri dada di bagian tengah dan terasa sakit saat menelan
makanan yang membuat klien tidak nafsu makan kemudian klien
disarankan untuk rawat inap. Klien juga terlihat lemah. Klien
mendapat terapi O2 3 lpm, obat golongan bronkodilator serta Ringer
Laktat. Berdasarkan data pengkajian dari keluarga, klien bekerja
sebagai buruh di pabrik kimia tidak jauh dari tempat tinggal

e. Riwayat Penyakit Masa Lalu


Tiga tahun yang lalu klien juga pernah mengalami batuk berdarah
namun tidak dibawa berobat

f. Riwayat Penyakit Keluarga


Istri klien mengatakan keluarga tidak ada yang menderita penyakit
seperti yang di derita klien.

g. PemeriksaanFisik
1. B1 (Breathing)
- Inspeksi : terdapat penggunaan otot napas tambahan,
retraksi dada positif pada ICS dan sub sternum, RR: 29 bpm
25

- Palpasi : fremitus vocal teraba dan bentuk simetris


- Perkusi : sonor, nyeri tekan pada mediastinum
- Auskultasi :suara napas tambahan ronkhi dan ada
stridor
2. B2 (Blood)
BP: 120/90 mmHg, P: 105 bpm, Hb: 7,5 g/dL, mendapat O2 3 lpm,
CRT <2 sec. serta mendapat obat golongan bronkodilator, dan
ringer laktat
3. B3 (Brain)
Kesadaran kompos mentis, GCS 14
4. B4 (Bladder)
Tidak ada masalah, cateter tidak terpasang
5. B5 (Bowel)
Nyeri telan, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan
6. B6 (Bone and Integument)
Klien terlihat lemah dan hanya terbaring di tempat tidur, pucat,
sianosis
7. Pemeriksaan penunjang
Photo thorax terdapat gambaran kapsul pada mediastinum yang
sudah menginvasi jaringan sekitar

3.3 ANALISA DATA


N SIGN AND SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM
O
1. DS: Penurunan Ketidakefektifan
- Klien mengeluh sesak napas fungsi dan pola nafas
ekspansi
DO: paru
- RR: 29 bpm
- Terdapat penggunaan otot
napas tambahan, retraksi
26

dada positif pada ICS dan


sub sternum
- Terdapat suara napas
tambahan ronkhi dan ada
stridor
- Klien mendapat terapi O2 3
lpm serta mendapat obat
golongan bronkodilator

2. DS: Ketidakmampua Ketidakseimbangan


- Klien mengatakan sakit saat n menelan nutrisi kurang dari
menelan dan membuat makanan kebutuhan tubuh
tidak nafsu makan
DO:
- Klien terlihat lemah dan
hanya terbaring di tempat
tidur, pucat
- Penurunan berat badan 4 kg
menjadi 54 kg.

3. DS: Agen injuri Nyeri akut


- Pasien mengatakan nyeri biologi
pada dada bagian tengah

DO:
- Klien terlihat menekan
dadanya
- BP: 120/90 mmHg, RR: 29
bpm, P: 105 bpm

3.4 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Ketidakefektifan Pola Nafas berhubungan dengan penurunan fungsi dan
ekspansi paru.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan menelan makanan
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi
3.5 INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan dan Intervensi
Kriteria Hasil
1. Pola Nafas tidak
efektif berhubungan
dengan penurunan NOC : NIC :
fungsi dan ekspansi 1. Respiratory status : Airway Management
paru Ventilatio 1. Posisikan pasien untuk
27

2. Vital sign Status memaksimalkan


ventilasi
Kriteria Hasil : 2. Auskultasi suara nafas,
1. Mendemonstrasika catat adanya suara
n batuk efektif dan tambahan
suara nafas yang 3. Berikan bronkodilator
bersih, tidak ada bila perlu
sianosis dan 4. Atur intake untuk
dyspneu (mampu cairan mengoptimalkan
mengeluarkan keseimbangan.
5. Monitor respirasi dan
sputum, mampu
status O2
bernafas dengan
mudah, tidak ada
Terapi Oksigen
pursed lips)
2. Menunjukkan jalan 1. Atur peralatan
nafas yang paten oksigenasi
2. Monitor aliran oksigen
(klien tidak merasa
3. Pertahankan posisi
tercekik, irama
pasien
nafas, frekuensi 4. Observasi adanya tanda
pernafasan dalam tanda hipoventilasi
rentang normal, 5. Monitor adanya
tidak ada suara kecemasan pasien
nafas abnormal) terhadap oksigenasi
3. Tanda Tanda vital
dalam rentang Vital sign Monitoring
normal (tekanan 1. Monitor TD, nadi,
darah, nadi, suhu, dan RR
pernafasan) 2. Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
3. Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri
4. Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
5. Monitor kualitas dari
nadi
6. Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
7. Monitor suara paru
8. Monitor pola
pernapasan abnormal
9. Monitor suhu, warna,
28

dan kelembaban kulit


10. Monitor sianosis perifer
2. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
ketidakmampuan NOC : NIC:
menelan makanan Nutritional Status : Nutrition Management
food and Fluid Intake 1. Kaji adanya alergi
makanan
Kriteria Hasil : 2. Kolaborasi dengan ahli
1. Adanya gizi untuk menentukan
peningkatan berat jumlah kalori dan
badan sesuai nutrisi yang dibutuhkan
dengan tujuan pasien.
2. Berat badan ideal 3. Anjurkan pasien untuk
sesuai dengan meningkatkan intake Fe
tinggi badan 4. Anjurkan pasien untuk
3. Mampu meningkatkan protein
mengidentifikasi dan vitamin C
kebutuhan nutrisi 5. Berikan substansi gula
4. Tidak ada tanda 6. Yakinkan diet yang
tanda malnutrisi dimakan mengandung
5. Tidak terjadi tinggi serat untuk
penurunan berat mencegah konstipasi
badan yang berarti 7. Berikan makanan yang
terpilih (sudah
dikonsultasikan dengan
ahli gizi)
8. Ajarkan pasien
bagaimana membuat
catatan makanan
harian.
9. Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori
10. Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi

Nutrition Monitoring
1. BB pasien dalam batas
normal
2. Monitor adanya
29

penurunan berat badan


3. Monitor tipe dan
jumlah aktivitas yang
biasa dilakukan
4. Monitor lingkungan
selama makan
5. Jadwalkan pengobatan
dan tindakan tidak
selama jam makan
6. Monitor kulit kering
dan perubahan
pigmentasi
7. Monitor turgor kulit
3. Nyeri akut
berhubungan dengan
agen injuri biologi NOC : NIC :
1. Pain Level, Pain Management
2. Pain control, 1. Lakukan pengkajian
3. Comfort level nyeri secara
komprehensif
Kriteria Hasil :
termasuk lokasi,
5. Mampu mengontrol
karakteristik, durasi,
nyeri (tahu
frekuensi, kualitas dan
penyebab nyeri,
faktor presipitasi
mampu 2. Observasi reaksi
menggunakan nonverbal dari
tehnik ketidaknyamanan
nonfarmakologi 3. Gunakan teknik
untuk mengurangi komunikasi terapeutik
nyeri, mencari untuk mengetahui
bantuan) pengalaman nyeri
6. Melaporkan bahwa pasien
nyeri berkurang 4. Kaji kultur yang
dengan mempengaruhi respon
menggunakan nyeri
manajemen nyeri 5. Evaluasi pengalaman
7. Mampu mengenali nyeri masa lampau
nyeri (skala, 6. Bantu pasien dan
intensitas, frekuensi keluarga untuk
dan tanda nyeri) mencari dan
8. Menyatakan rasa menemukan dukungan
nyaman setelah 7. Kurangi faktor
nyeri berkurang presipitasi nyeri
9. Tanda vital dalam 8. Pilih dan lakukan
30

rentang normal penanganan nyeri


(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
9. Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk
menentukan intervensi
10. Ajarkan tentang teknik
non farmakologi
11. Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
31

BAB 4
PENUTUP

4.1 1Simpulan
Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di rongga mediastinum
dan berasal dari salah satu struktur atau organ yang berada di rongga tersebut.
Perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut untuk mengetahui
terjadinya tumor mediastinum. Rencana asuhan keperawatan pada pasien
dengan tumor mediastinum bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan
yang muncul dan meningkatkan derajat kesehatan klien.

4.2 Saran
Pencegahan tumor mediastinum dapat dilakukan dengan cara pola hidup
sehat, dengan menghindari rokok. Selain itu berolahraga secara teratur untuk
mempertahankan daya tahan tubuh. Serta dukungan keluarga bagi penderita
tumor mediastinum dalam proses pengobatan sangat diperlukan untuk
mencapai kesembuhan.
Perawat berperan penting dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan
pada pasien tumor media stinum, sehingga pengetahuan tentang konsep
tumor mediastinum harus dipahami.
32

DAFTAR PUSTAKA
33

with
Masaoka A, Monden Y, Nakahara K, Tanioka T. Follow-up study oh thymomas
with special reference to their clinical stages. Cancer 1981; 48(11): 2485-92
Temes R, Chavez T, Mapel D, Ketai L, Crowell R, Key C, et al.
Mukty, Abdul. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga
University Press.
Primary mediastinal malignancies: finding in 219 patients. West J Med 1999;
170(3): 161-6.
Venuta F, Rendina EA, Anile M, de Giacomo T, Vitolo D, Coloni GF . Thymoma
and thymic carcinoma. Eur J Cardio-Thorac. 2012;60:1-12. 6.
Wilkinson, M. Judith. 2013. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 9. Jakarta:
EGC.
https://my.clevelandclinic.org/services/heart/disorders/hic_mediastinal_tumors
diakses pada 27 Nopember 2015.
http://www.eramuslim.com/konsultasi/sehat/tumor-mediastinum-itu-apa.htm.
diakses pada 4 Nopember 2015.
http://www.klikpdpi.com.konsensuskonsensustumormediastinumtmrmediastinum.
pdf diakses pada 4 Nopember 2015.
http://mardhiyah-hayati-fkp12.web.unair.ac.id/ diakses pada tanggal 6 Nopember
2015.

34