Anda di halaman 1dari 31

Lampiran Surat Keputusan Direktur RSPP

No. Kpts /B00000/2013-S0


Tanggal 01 Juli 2013

PEDOMAN
PELAYANAN PERAWATAN
RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA

RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA


2 0 1 3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pelayanan keperawatan adalah bagian terbesar dari rumah sakit yang
mandiri, dilakukan oleh profesi perawat dalam melayani kebutuhan
pelayanan kesehatan pasien baik rawat inap maupun rawat jalan. Dalam
memberikan layanan keperawatan didasarkan pada ilmu, kiat dan seni
perawatan dengan pendekatan metode Asuhan Keperawatan secara
berkesinambungan.
Sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dirasakan
perlunya meningkatkan pelayanan di semua lini perawatan melalui
standarisasi prosedur, melakukan pengamanan penggunaan peralatan
medik, peningkatan keterampilan perawat dan peningkatan fasilitas/sarana
medik sesuai dengan kemajuan teknologi.
Dengan dilandasi prinsip bahwa pelayanan perawatan RSPP menyediakan
pelayanan yang seragam dan menyeluruh kepada pasien yang
memerlukan perawatan dalam rangka memenuhi kebutuhan kesehatannya,
maka diperlukan pengetahuan, keterampilan dan sikap perawat yang
dilandasi oleh moral etik perawat dalam memberikan layanan keperawatan
sehari-hari serta tidak lepas dari penerapan Standar Asuhan Keperawatan
dan Standar Prosedur Operasi.
Pelayanan perawatan harus dapat mempertimbangkan semua aspek
pasien dan hal ini hanya dapat dilakukan dengan pemberian informasi yang
sejelas-jelasnya kepada pasien/keluarga.

B. TUJUAN PEDOMAN
Pedoman pelayanan keperawatan dimaksudkan sebagai pedoman dalam
penyelenggaraan pelayanan keperawatan di RSPP.

C. RUANG LINGKUP PELAYANAN

1
Ruang lingkup pelayanan keperawatan di RSPP terdiri dari 5 unit yaitu :
Unit Rawat Jalan,Unit Rawat Inap A, Unit Rawat Inap B,Unit Rawat Khusus,
dan Unit Rawat Inap Ibu dan Anak. Selain itu ada beberapa pelayanan
keperawatan dibawah Instalasi antara lain : Instalasi Gawat Darurat,
Instalasi Rehabilitasi Medik, Instalasi Medical Check Up, Instalasi
Hemodialisis, Instalasi Radiologi & Radiotherapi, Instalasi Kedokteran
Nuklir, Instalasi Kardiologi Invasif dan Instalasi Gigi & Mulut
Pelayanan keperawatan yang diberikan :
1. Pengkajian Keperawatan baik di Rawat Jalan maupun Rawat Inap
2. Menetapkan Diagnosis Keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian.
3. Membuat Rencana Tindakan Keperawatan yang terdiri dari Penetapan
Tujuan dan Rencana Intervensi
4. Melaksanakan Tindakan Keperawatan baik mandiri, kolaborasi dan
standing order.
5. Melakukan Evaluasi Keperawatan baik evaluasi proses maupun
evaluasi hasil.
Pelayanan keperawatan yang diberikan mencakup bio-psiko-sosial-spiritual
baik preventif, promotif dan rehabilitatif.

D. BATASAN OPERASIONAL
1. Unit Rawat Jalan
Pelayanan keperawanan di unit rawat jalan terdiri dari 20 poliklinik yaitu:
 Poliklinik Umum
 Poliklinik Saraf
 Poliklinik Bedah Saraf
 Poliklinik Jantung
 Poliklinik Paru
 Poliklinik Penyakit Dalam
 Poliklinik Endoskopi
 Poliklinik Psikiatri
 Poliklinik Akupuntur
 Poliklinik Kebidanan
 Poliklinik THT

2
 Poliklinik Kulit dan Kelamin
 Poliklinik Mata
 Poliklinik Bedah
 Poliklinik Orthopaedi
 Poliklinik Anak
 Poliklinik Gizi
 Poliklinik Bedah Urologi
 Poliklinik Bedah Thorak dan Kardiovaskular
 Poliklinik Gigi
2. Unit Rawat Inap Khusus
Pelayanan keperawatan yang terdiri dari 4 ruangan yaitu :
 Ruang rawat ICU A
 Ruang rawat ICU B
 Ruang rawat Luka Bakar
 Ruang rawat Stroke Unit
3. Unit Rawat Inap Ibu dan Anak
Pelayanan keperawatan yang terdiri dari 3 ruangan yaitu :
 Ruang rawat 7F
 Ruang rawat 3F
 Ruang rawat Kamar Bayi
4. Unit Rawat Inap A
Pelayanan keperawatan yang terdiri dari 3 ruangan yaitu :
 Ruang rawat 7B
 Ruang rawat 6B
 Ruang rawat
5. Unit Rawat Inap B
Pelayanan keperawatan yang terdiri dari 4 ruangan yaitu :
 Ruang rawat 5B
 Ruang rawat 4B
 Ruang rawat 4F
 Ruang rawat 3B

E. LANDASAN HUKUM

3
1. Undang – undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran.
2. Undang – undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Undang – undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
4. Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan.
5. Peraturan Menteri Kesehatan No. 512/Menkes/Per/IV/2007 tentang Izin
Praktek dan Pelaksanaan Praktek Kedokteran.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM dikeperawatan adalah :

4
NO Nama Jabatan Kualifikasi Keterangan

- BLS, Kursus Dasar PPI,


Wadir
1 S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran
Keperawatan
- Manajemen Keperawatan
2 Kepala Unit - S1 Keperawatan - BLS, Pelatihan Dasar PPI,
Rawat Jalan - D III Keperawatan - Pemadam Kebakaran
- Manajemen Keperawatan
3 Kepala Unit - S1 Keperawatan - Bersertifikat ICU/KD
Rawat Inap - D III Keperawatan - BCLS/ACLS
Khusus - BLS, Pelatihan Dasar PPI,
Pemadam Kebakaran.
- Manajemen Keperawatan
4 Kepala Unit - D III Keperawatan - BLS, Pelatihan Dasar PPI,
Rawat Inap A - S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran.
- Manajemen Keperawatan
5 Kepala Unit - D III Keperawatan - BLS, Pelatihan Dasar PPI,
Rawat Inap B - S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran
- Manajemen Keperawatan
6 Kepala Unit - D III Keperawatan - BLS, Pelatihan Dasar PPI,
Rawat Ibu - S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran.
Anak - Manajemen Keperawatan
7 Supervisor - D III Keperawatan - BLS, Pelatihan Dasar PPI,
- S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran.
- Manajemen Keperawatan
8 PPI - D III Keperawatan - BLS, Pelatihan Dasar PPI,
- S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran.
- Manajemen Keperawatan
9 Diklitbang - D III Keperawatan - BLS, Pelatihan Dasar PPI,
- S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran.
- Manajemen Keperawatan
10 Koordinator - D III Keperawatan - BLS, Hand Hygiene,
Rawat Inap - S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran.
dan Rawat - Manajemen Keperawatan
Jalan

5
11 Ketua Regu - D III Keperawatan - BLS, Hand Hygiene,
Rawat Inap - S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran.
dan Rawat
Jalan
12 Ketua Layanan - D III Keperawatan - BLS, Hand Hygiene,
Penunjang - S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran.
13 Anggota - D III Keperawatan - BLS, Hand Hygiene,
Layanan - S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran.
Penunjang
14 Anggota Regu - D III Keperawatan - BLS, Hand Hygiene,
Perawatan - S1 Keperawatan Pemadam Kebakaran.

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN

Pola pengaturan ketenagaan unit rawat inap disesuaikan dengan kapasitas tempat
tidur dan tingkat ketergantungaan pasien dengan penghitungan tenaga
berdasarkan WLA (Work Load Analisys) menggunakan metode Gillies, sedangkan
untuk pengaturan tenaga di rawat jalan, IGD, MCU, Kamar Bedah, Anastesi
berdasarkan metode Time and Motion Study seperti terlampir dalam pedoman
pengorganisasian keperawatan.

C. PENGATURAN JAGA
Pengaturan Jaga Perawat Rawat Jalan dan MCU.
Jam pelayanan poliklinik :
 Praktek pagi : Senin – Jum’at pukul 07.30 – 16.00.
 Praktek sore : Senin – Jum’at pukul 16.00 – 20.00 dan Sabtu pukul 08.00-20.00
Pengaturan jaga poliklinik setiap satu perawat untuk satu kamar poliklinik dan 2
orang perawat jaga nurse station. Sedangkan untuk jaga praktek sore dan hari
Sabtu dibantu oleh tenaga perawat ruang rawat inap yang libur.

Pengaturan Jaga Perawat Rawat Inap terbagi dalam 3 (tiga) katagori yaitu:
1. Pekerja harian dengan waktu kerja:
Senin – Jumat pukul 07.30 – 16.00
2. Pekerja 3 (tiga) shift dengan waktu kerja :
 Shift pagi : pukul 07.30 – 14.30
 Shift sore : pukul 14.30 – 20.30
 Shift malam : pukul 20.30 – 07.30

6
3. Pekerja 2 (dua) shift dengan waktu kerja:
 Shift pagi ; pukul 07.30 – 14.30
 Shift sore : pukul 13.00 – 21.00
Setiap shift terdiri dari satu tim yang dipimpin oleh ketua regu dengan total 4 tim
untuk satu ruangan. Pengaturan jaga seperti tersebut diatas dan satu tim libur.
Pengaturan dinas masing-masing tim adalah dengan sistem 3:1 yaitu 3 hari kerja
dengan 1 hari libur.
Pengaturan tenaga shift diluar jam kerja untuk mobilisasi tenaga di ruangan atau
IGD diatur oleh supervisor termasuk pada saat terjadi bencana masal.
Perubahan anggota tim dapat dilakukan setiap saat sesuai dengan kebutuhan
ruangan masing-masing dan dilakukan oleh koordinator ruangan. Apabila ada
anggota tim yang berhalangan oleh karena sesuatu hal seperti sakit, cuti atau hal
lain harus memberitahukan ke koordinator ruangan untuk pengaturan tenaga.
Program yang berkaitan dengan ketenagaan terdiri dari : Program Penerimaan
Pekerja Baru, Program Orientasi, Program Rotasi dan Mutasi, Program
Pendidikan dan Pelatihan.

D. PELATIHAN
Pelatihan yang harus diikuti oleh seluruh perawat adalah:
1. BLS ( Basic Life Support )
2. Hand Hygiene
3. Pemadam Kebakaran
4. Pelatihan sesuai kompetensi dasar sesuai penempatan ruangan
Setiap perawat diwajibkan untuk selalu meningkatkan kompetensi dalam
menunjang peningkatan mutu layanan keperawatan baik secara formal maupun
informal dengan biaya perusahaan atau secara pribadi.

7
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANGAN
1. Ruang ICU A dan ICU B dan Anak

R. TUNGGU
R. GANTI PERAWAT

R. GANTI PRWT
KM
PANTRY ICU B

PANTRY ICU A
SPOOLHOCK

SPOOLHOCK
LOBBY ICU
GUDANG

R.GANTI DR

R. PASIEN ICU A

KORIDOR ICU
R. PASIEN ICU A DEPAN
R.KONSULTASI
R. ADMINISTRASI

R. SIMPAN ALAT
R. ICU ANAK

R. PASIEN
R. PASIEN

R. PASIEN ICU B
R. DR

R. PASIEN

2. Ruang Stroke Unit

KM KM
MANDI MANDI

KORIDOR LT 3 GD B
K
NS STATION 3 B R. TUNGGU

O
R
I RUANG PASIEN STROKE UNIT
D
O
R

L R. PERAWAT
T R. DOKTER
R. ADMINISTRASI
3 SPOEL HOOK
KM PASIEN LT 3 B

RUANG GANTI
G
D
GUDANG
PANTRY
B

8
B. STANDAR FASILITAS
1. Fasilitas dan Sarana
Pelayanan perawatan terdiri dari :
a. Unit Rawat Jalan
Unit ini terdiri dari Rawat Jalan Atas dan Rawat Jalan Bawah, menempati
Gedung B lantai 1 dan Lantai 2 yang terdiri dari 20 Polikllinik Umum,
Spesialis dan Sub Spesialis, 1 Nurse Station, 3 Kamar Tindakan
Endoskopy dan 2 Kamar Bedah Kecil.
Fasilitas yang ada di Unit Rawat Jalan disesuaikan dengan kebutuhan
masing-masing SMF dimulai dari Ruang Periksa, Ruang Diagnostik dan
Ruang Tindakan yang ditunjang oleh peralatan yang sesuai dengan
kebutuhan masing-masing poliklinik.
b. Unit Rawat Khusus
Unit ini terdiri dari Ruang Rawat Luka Bakar dan Ruang Rawat Stroke Unit.
Ruang Luka Bakar menempati Gedung D Lantai 2 dengan kapasitas 6
tempat tidur ruang biasa, 2 tempat tidur ICU dan 1 kamar bedah khusus
luka bakar, sedangkan untuk Stroke Unit menempati Gedung B Lantai 3,
dengan kapasitas 6 tempat tidur dan fasilitas sama dengan ICU.
Selain dua ruang tersebut juga berkoordinasi dengan Ruang ICU A dan
ICU B berkaitan dengan pengaturan tenaga dan penempatan pasien jika
ruang rawat Stroke Unit penuh.
c. Unit Rawat Inap A
Unit ini terdiri dari 3 ruangan yaitu:
 Ruang Rawat Lt 7 B diutamakan untuk merawat pasien dengan kasus
Penyakit Dalam dan Penyakit Paru dengan kapasitas terdiri dari :
- Kelas 1 …. Tempat tidur
- Kelas 2 …. Tempat tidur
- Kelas 3 …. Tempat tidur
Ruang Rawat Lt 6 B menerima semua jenis penyakit dan diutamakan
untuk pasien pejabat Negara, pejabat Pertamina, Pejabat Perusahaan
langganan dengan kapasitas terdiri dari:
- Kelas VVIP 1 Tempat tidur
- Kelas VIP … Tempat tidur
- Kelas 1 ….. Tempat tidur

9
Ruang Rawat Lt 6 F menerima semua jenis penyakit dan diutamakan
untuk pasien pejabat Negara, pejabat Pertamina, Pejabat Perusahaan
langganan dengan kapasitas terdiri dari:
- Kelas VVIP 1 Tempat tidur
- Kelas VIP … Tempat tidur
- Kelas 1 ….. Tempat tidur

Sarana yang ada di ruang perawatan intensif adalah:


- Area pasien dengan luas 12 – 16 m2/tempat tidur untuk area terbuka,
sedangkan untuk area tertutup 16 – 20 m2/tempat tidur dengan jarak antar
tempat tidur adalah 2 m. Masing – masing tempat tidur terdapat 3 outlet
udara tekan dan stop kontak antara 8 – 16 titik, dengan dinding dan lantai
mudah dibersihkan.
- Area kerja meliputi ruang staf dokter, ruang perawat, ruang administrasi.
- Lingkungan dengan pendingin ruangan antara 22 – 25 o
C dengan
kelembaban antara 50 – 70%.
- Ruang penyimpanan peralatan dan barang bersih.
- Ruang tempat pembuangan alat/bahan kotor.
- Ruang tunggu keluarga pasien.

2. Peralatan
- Peralatan yang tersedia di ruang perawatan intensif RSPP mengacu
kepada Buku Standar Pelayanan ICU Departermen Kesehatan RI untuk
penunjang kegiatan pelayanan terhadap pasien kritis.
- Alat yang tersedia adalah bersifat peralatan monitoring baik invasif maupun
non invasif serta peralatan untuk bantuan life saving untuk kasus kritis dan
kegawatan.
- Peralatan yang dimiliki di ruang perawatan intensif terdiri dari
a. Ventilator infant sampai dewasa
b. Alat ventilasi manual dan alat penunjang jalan nafas, termasuk
laringoskop bayi, anak dan dewasa
c. Alat hisap / suction baik sentral maupun portable
d. Peralatan akses vaskuler
e. Peralatan monitor invasif dan non infasif
f. Defibrilator dan alat pacu jantung
g. Alat pengatur suhu pasien
h. Peralatan drain toraks

10
i. Pompa infus dan pompa syringe
j. Peralatan portable untuk transportasi
k. Tempat tidur khusus dan inkubator
l. Timbangan bayi dan timbangan dewasa
m. Lampu untuk tindakan dan lampu terapi sinar
n. Continous Renal Replacement Therapy
- Peralatan lain (peralatan hemodialisis dan lain-lain) untuk prosedur
diagnosis dan atau terapi khusus tersedia bila secara klinis ada indikasi
dan untuk mendukung fungsi perawatan intensif

C. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN DAN KALIBRASI PERALATAN


Dalam rangka pemeliharaan, perbaikan dan kalibrasi peralatan medis yang ada di
ruang perawatan intensif selalu bekerjasama dengan bagian teknik. Untuk itu
dibuatlah program pemeliharaan peralatan di unit perawatan intensif.

11
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. KRITERIA MASUK RUANG PERAWATAN INTENSIF


1. Model Diagnosa Masuk Ruang ICU
- Sistem jantung dan pembuluh darah
 Akut myocard infark dengan komplikasi
 Shock kardiogenik
 Aritmia kompleks yang membutuhkan pemantauan dan intervensi ketat
 Jantung kongestif akut dengan kegagalan pernafasan dan
membutuhkan support hemodinamik
 Hypertensi emergency
 Unstable angina dengan disritmia, hemodinamik tidak stabil dan nyeri
dada yang menetap
 Pasca cardiac arest
 Tamponade jantung dengan hemodinamik tidak stabil
 Diseksi aneurisma aorta
 Total blok jantung
- Sistem pernafasan
 Gagal nafas akut yang membutuhkan bantuan ventilator
 Emboli paru dengan hemodinamik tidak stabil
 Batuk darah masif
 Gagal nafas dan membutuhkan intubasi.
- Pemberian obat dan overdosis obat
 Pemberian obat pada pasien dengan hemodinamik tidak stabil
 Pemberian obat dengan status perubahan mental yang signifikan
dengan potensi jalan nafas tidak adekuat
 Pemberian obat pada pasien dengan kejang
- Sistem pencernaan
 Perdarahan saluran cerna disertai hypotensi, angina, perdarahan masif
atau risiko kematian
 Gagal hati
 Pankreatitis berat
 Perforasi oesopagus dengan atau tanpa mediastinitis.
- Sistem endokrin

12
 Komplikasi ketoasidosis diabetik dengan hemodinamik tidak stabil,
perubahan status mental, kegagalan pernafasan dan asidosis berat
 Struma tyroid atau koma miksudema dengan hemodinamik tidak stabil.
 Status hyperosmolar dengan koma dan atau hemodinamik tidak stabil
 Krisis adrenal dengan hemodinamik tidak stabil
 Hypercalsemia berat dengan perubahan status mental yang
membutuhkan pemantauan hemodinamik ketat
 Hypo atau hypernatremia dengan kejang atau perubahan status mental
 Hypo atau hypermagnesemia dengan gangguan hemodinamik dan
disritmia
 Hypo atau hyperkalemia dengan disritmia dan kelemahan otot
 Hypopospatemia dengan kelemahan otot.
- Pembedahan
 Pasca bedah yang membutuhkan pemantauan hemodinamik ketat atau
membutuhkan support ventilasi mekanik
- Lain-lain
 Shock septik dengan hemodinamik tidak stabil
 Monitoring hemodinamik ketat
 Kondisi klinis yang membutuhkan perawatan intensif
 Trauma lingkungan (luka bakar, hypo/hypertermia,tenggelam)
 Terapi percobaan yang berpotensi menimbulkan komplikasi.
2. Model Diagnosa Masuk Ruang Stroke Unit
- Sistem Persarafan
 Stroke akut dengan gangguan penurunan kesadaran
 Koma metabolik, keracunan maupun anoxic
 Perdarahan intrakranial dengan potensi terjadi herniasi
 Perdarahan subarachnoid akut
 Meningitis dengan kesadaran menurun
 GBS dengan gangguan kesadaran dan pernafasan
 Myastenia Gravis dengan gangguan kesadaran dan pernafasan
 Status epilepsi
 Vasospasme
 Cedera kepala berat

3. Model Parameter Terukur


- Vital sign

13
 Denyut nadi < 40 atau > 150 kali permenit
 Tekanan sistolik < 80 atau 20 mmHg dibawah tekanan biasanya
 Tekanan arteri rata-rata <60 mmHg
 Tekanan diastolik >120 mmHg
 Laju pernafasan >35 x/menit.
- Nilai laboratorium
 Natrium <110 atau >170 mEq/L
 Kalium <2.0 atau > 7.0 mEq/L
 PaO2 < 50 mmHg
 Ph <7.1 atau >7.7
 Gula Darah > 800 mg/Cl
 Kalsium >15 mg/Cl
 Tingkat ureum dan kreatinin yang berpengaruh pada perubahan status
mental dan hemodinamik.
- Radiografi/USG/Tomografi
 Perdarahan serebral, kontusio atau perdarahan sub arachnoid dengan
perubahan status mental dan gangguan neurologi
 Rupture visera, kandung kemih, varises esofagus atau uterus dengan
hemodinamik tidak stabil
 Diseksi aneurisma aorta
- Kelainan fisik
 Pupil anisokor pada pasien tidak sadar
 Luka bakar >10%
 Anuria
 Obstruksi jalan nafas
 Coma
 Kejang berulang
 Sianosis
 Tamponade jantung
4. Indikasi masuk ICU Anak
- Bayi dengan gangguan hemodinamik
- Apnoe
- Gawat nafas sedang atau berat yang memerlukan CPAP atau ventilasi
mekanik
- Bayi baru lahir sangat rendah <1500 gr
- Bayi dengan hasil pemeriksaan neurologis abnormal

14
- Bayi dengan kejang
- Bayi yang perlu transfusi tukar untuk hiperbilirubinemia atau polisitemia
- Nutrisi parenteral total untuk <7 hari.
- Pasien anak dengan gangguan seperti indikasi masuk Intensif dewasa

B. KRITERIA KELUAR RUANG INTENSIF


Status pasien dirawat di ruang perawatan intensif harus direvisi terus menerus
untuk mengidentifikasi pasien yang mungkin tidak lagi membutuhkan perawatan
intensif;
1. Ketika status fisiologi pasien sudah stabil tidak membutuhkan monitoring dan
perawatan intensif sudah tidak diperlukan.
2. Ketika status fisiologi pasien memburuk dan intervensi aktif tidak dapat
memperbaiki kondisi pasien maka pasien dapat dipindahkan ke ruangan biasa
Indikasi keluar ruang intensif:
1. Vital sign
a. Denyut nadi 50-120 kali permenit
b. Tekanan sistolik 100 atau <20 mmHg dibawah tekanan biasanya
c. Tekanan arteri rata-rata >60 mmHg
d. Tekanan diastolik <100 mmHg
e. Laju pernafasan <28 x/menit.
2. Nilai laboratorium
a. Natrium 110-170 mEq/L
b. Kalium 2.0-7.0 mEq/L
c. PaO2 > 50 mmHg
d. Ph 7.1-7.7
e. Gula Darah <400 mg/Cl
f. Kalsium <15 mg/Cl
g. Tingkat ureum dan kreatinin yang tidak berpengaruh pada perubahan
status mental dan hemodinamik.

Sebelum pasien dikeluarkan dari ruang perawatan intensif sebaiknya keluarga


pasien diberikan penjelasan alasan pasien dikeluarkan dari ruang perawatan
intensif:
1. Pasien atau keluarga menolak untuk dirawat lebih lanjut di ruang perawatan
intensif / keluar paksa.
2. Pasien hanya memerlukan observasi intensif saja, sedangkan ada pasien lain
yang lebih gawat yang memerlukan terapi dan observasi yang lebih intensif.

15
Untuk pasien dalam kondisi End of Life maka petugas di perawatan intensif harus
memfasilitasi pasien dan keluarga untuk mempersiapkan akhir kehidupannya.

C. PERSIAPAN PENERIMAAN PASIEN


1. Asal Pasien dan Alur Kerja
Pasien yang dirawat di ruang perawatan intensif dapat berasal dari Rawat
Jalan, Instalasi Gawat Darurat, Ruang Rawat Inap, Ruang Tindakan (Kamar
Bedah, Hemodialisis, Kardiologi Invasif, Kamar Bersalin, dll).
Alur pelayanan pasien di ruang perawatan intensif mengacu pada Alur Kerja
yang sudah ada yaitu : Alur Pasien Baru, Alur Pasien Pindah Ke Ruang Rawat
Biasa, Alur Pasien Pindah Rumah Sakit, Alur Pasien Pulang Paksa, dan Alur
Pasien Meninggal.
2. Informed Consent
Setiap pasien yang masuk ke ruang perawatan intensif maka pasien dan atau
keluarganya harus mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang dasar
pertimbangan mengapa pasien harus mendapatkan perawatan di ruang
perawatan intensif serta berbagai macam tindakan kedokteran yang mungkin
akan dilakukan selama pasien dirawat serta prognosis penyakit yang diderita
pasien.
Penjelasan tersebut diberikan oleh DPJP atau dokter yang bertugas sebelum
pasien masuk ruang perawatan intensif. Setelah mendapatkan penjelasan,
pasien dan atau keluarga bisa menerima atau tidak bisa menerima harus
dinyatakan dalam formulir yang ditandatangani (informed consent).

D. MONITORING PASIEN DI RUANG PERAWATAN INTENSIF


1. Pasien yang memerlukan perawatan intensif ditempatkan secara selektif
berdasarkan indikasi medis serta mempertimbangkan kebutuhan keluarga dari
aspek psikososial yang dihadapi pasien dan keluarga selama perawatan.
2. Penempatan pasien di ICU A diutamakan untuk pasien dengan kasus sistem
kardiovaskuler, paru dan penyakit dalam. ICU B dan Anak diutamakan untuk
kasus bedah dan pasien bayi dan anak, dan Stroke Unit diutamakan untuk
pasien dengan kasus saraf dan bedah saraf dalam kondisi kritis, namun
mengingat keterbatasan jumlah tempat tidur di perawatan ruang intensif maka
pelaksanaanya disesuaikan dengan ketersedian tempat yang ada.
3. Pasien yang dirawat di ruang perawatan intensif dikelola oleh seorang DPJP
berdasarkan kriteria penyakit yang paling dominan atau dokter yang pertama
kali menangani pasien atau atas permintaan pasien atau keluarga. Selama

16
perawatan DPJP berhak untuk melakukan konsultasi dengan dokter spesialis
lain bila dari hasil penilaian terhadap pasien menunjukan hasil yang
memerlukan konsultasi ke bagian lain melalui sistem rujukan.
4. Perawatan pasien di ruang perawatan intensif dilakukan secara team yang
terdiri dari multi disiplin, multi profesi, dan multi sektoral secara terus menerus
serta dikoordinasikan oleh DPJP.
5. Monitoring pasien yang dirawat di ruang perawatan intensif didokumentasikan
dengan alat bantu yaitu formulir observasi pasien intensif selain dengan di
Rekam Medis pasien.
6. Perawatan pasien di ruang perawatan intensif meliputi:
a. Melakukan observasi dan interpretasi parameter-parameter vital secara
terus menerus.
b. Melakukan koreksi terhadap penyimpangan parameter-parameter vital
secara dini (Intensif Diagnosis Instan Treatment)
c. Menunjang fungsi vital tubuh yang terganggu atau gagal dengan obat-
obatan dan alat-alat (Life Support)
d. Melakukan diagnosis dan terapi terhadap gangguan atau penyakit primer
penyebab masalah tersebut.
e. Mencegah dan mengatasi penyakit yang timbul akibat penyakit atau
tindakan yang dilakukan.
f. Memberikan rasa aman, nyaman dan manusiawi baik fisik maupun psikis,
misalnya dengan terapi nyeri dan emosional sport

E. PROSEDUR MEDIK DI RUANG PERAWATAN INTENSIF


1. Prosedur yang dilakukan oleh team perawatan intensif terdiri dari:
a. Mengelola jalan nafas, intubasi trachea, tracheostomy termasuk ekstubasi
b. Ventilasi mekanis jangka pendek – jangka panjang
c. Punksi arteri dan pengambilan sampel darah
d. Kanulasi pembuluh darah perifer dan sentral, kateter arteri pulmonalis dan
pengukuran kardiak output
e. Pemasangan pace maker tranvenous/temporer
f. Resusitasi jantung, paru, otak (basic, advance dan prolong life support)
g. Tube thoracostomy dan thoracic drainage
h. Pemasangan kateter tekanan intrakranial
i. Nutrisi parentral dan enteral khusus
j. Hemodialisis (kecuali di stroke unit)
k. Intravaskuler assist/ intra aortioc ballon pumping

17
l. Monitoring balas cairan setiap 1 – 3 jam sekali dan setiap 24 jam.
m. Pelaksanaan rehabilitasi medik pasif baik oleh perawat atau fisioterapis
n. Penilaian kematian batang otak.
2. Pada keadaan emergensi perawat ruang intensif yang terlatih dapat melakukan
intubasi trachea dan pemasangan ventilator atas sepengetahuan dokter ruang
intensif/Dokter Anastesi yang jaga.
3. Prosedur pelayanan medis dan standar terapinya mengikuti Buku Standar
Pelayanan Medis RSPP

F. INDIKASI PENGGUNAAN DAN PENGHENTIAN VENTILASI MEKANIK


1. Indikasi penggunaan ventilasi mekanik
a. Pa02 kurang dari 50-60 mmHg
b. PC02 lebih dari 50-60 mmHg
c. Vital capacity kurang dari 500-800 ml
d. Resiko tinggi mendapat aspirasi
e. Takhipnea lebih dari 35x/menit
f. Dispnea dan penggunaan otot bukan otot dada
g. Pernapasan asidosis berat
2. Indikasi penghentian ventilasi mekanik
a. GCS >10
b. Hypoksia dan hiperkarbia sudah teratasi.
c. Mampu bernafas spontan
d. Tidak ada distensi lambung
e. TV Spontan 4-6 ml/kgBB
f. TTV normal
g. Reflek batuk kuat
h. Laju nafas <20 kali/menit.

G. PENGGUNAAN ALAT MEDIK


Pelayanan perawatan di ruangan intensif tidak pernah lepas dari penggunaan
peralatan medis. RSPP harus menjamin alat – alat yang digunakan berfungsi baik
dan tidak rusak. Pemeliharaan peralatan medis bekerjasama dengan bagian
teknik. Setiap ada kerusakan alat segera dilaporkan dan dibuatkan memo untuk
dilakukan perbaikan.

18
Untuk peralatan medis yang berkaitan dengan pengukuran, maka peralatan
tersebut dilakukan kalibrasi setiap tahun. Unit perawatan intensif melakukan
inventarisasi peralatan yang membutuhkan kalibrasi secara berkala. Bekerjasama
dengan bagian teknik, kalibrasi dilakukan oleh badan kalibrasi.
Penggunaan peralatan medik di ruang intensif termasuk penggunaan inkubator,
syringe pump, infus pump, suction dan defibrilitaror serta peralatan medis lainnya
mengacu ke SPO yang berlaku.

H. KONSULTASI DAN SISTEM RUJUKAN


1. Rujukan adalah penyelenggaraan kesehatan yang mengatur pelimpahan
tugas / wewenang dan tanggung jawab secara timbal balik baik horizontal
maupun vertikal terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau
permasalahan kesehatan karena adanya keterbatasan dalam memberikan
pelayanan yang dibutuhkan oleh pasien.
2. Jenis rujukan yang dilakukan adalah:
- Rujukan eksternal (rujukan keluar RSPP) yang terdiri dari :
a) Rujukan vertikal yaitu rujukan yang dilakukan dari ruang perawatan
intensif RSPP ke ICU RS yang mempunyai kemampuan dan fasilitas
lebih tinggi seperti RSCM/RSAB Harapan Kita yang dikarenakan
membutuhkan penanganan medis yang lebih lengkap.
b) Rujukan horizontal yaitu rujukan yang dilakukan dari ruang intensif
RSPP ke ICU RS yang mempunyai kemampuan setara dengan RSPP
yang dikarenakan permohonan pasien dan keluarganya.
- Rujukan internal (rujukan di dalam RSPP, dari tenaga kesehatan ke tenaga
kesehatan lainnya : dokter umum ke dokter spesialis, atau antar spesialis)
yang terdiri dari:
a) Rujukan kasus penyakit atau masalah penyakit yaitu rujukan yang
dilakukan berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa
pengiriman pasien (kasus), spesimen dan pengetahuan tentang
penyakit.
b) Rujukan permasalahan kesehatan yaitu rujukan yang dilakukan
berkaitan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan
berupa fasilitas, teknologi dan operasional.
c) Rujukan antar dokter spesialis menggunakan form konsultasi (Form
SU/KES-403/7.7
3. RSPP mempunyai kewajiban untuk merujuk pasien yang memerlukan
pelayanan diluar kemampuannya. RS penerima rujukan harus mampu

19
menjamin bahwa pasien yang dirujuk tersebut akan mendapat penanganan
segera. Rujukan balik ke fasilitas pelayanan kesehatan yang merujuk
dilakukan segera setelah alasan rujukan sudah tertangani, oleh karena itu
rujukan merupakan proses timbal balik yang meliputi kerja sama, koordinasi
dan transfer informasi antar fasilitas pelayanan kesehatan. RSPP sebagai
rumah sakit referal tertinggi di Group PERTAMEDIKA menerima rujukan dari
RS unit PERTAMEDIKA. Selain itu RSPP menjalin kerja sama dengan
beberapa rumah sakit rujukan maupun rumah sakit yang merujuk.
4. Tujuan dilakukan sistem rujukan antara lain adalah:
- Membutuhkan pendapat dari ahli (second opinion)
- Memerlukan pemeriksaan yang tidak tersedia di fasilitas RSPP
- Memerlukan intervensi medis di luar kemampuan RSPP
- Memerlukan penatalaksanaan bersama dengan ahli lainnya
- Memerlukan perawatan dan pemantauan lanjutan.

I. INDIKASI DAN PROSEDUR PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pasien yang dirawat di ruang intensif yang memerlukan pemeriksaan laboratorium
dan radiologi direncanakan oleh DPJP atau dokter konsulen dan ditulis di Form
Catatan Terintegrasi atau Form Konsultasi. Prosedur pemeriksaan laboratorium
dan pemeriksaan radiologi mengacu kepada SPO yang berlaku.

J. PENGIRIMAN PASIEN
1. Pasien yang dirawat di ruang intensif dengan kondisi stabil dan telah melewati
kondisi kritis dapat dipindahkan ke ruang biasa sesuai indikasi keluar ruang
intensif dan mengacu kepada SPO Pemindahan Pasien dari Ruang Intensif ke
Ruang Biasa.
2. Pasien di ruang intensif yang memerlukan tindakan operasi dapat dikirim ke
ruang operasi dengan tetap memperhatikan kebutuhan pasien dan peralatan
yang terpasang tetap digunakan dan dibawa. Selama dalam perjalanan pasien
harus tetap dimonitor dan membawa peralatan portabel untuk pertolongan bila
terjadi kegawatdaruratan.
3. Pasien yang memerlukan rujukan ke luar RSPP maka akan dilakukan rujukan
sesuai dengan SPO Merujuk Pasien dari Ruang Intensif.
4. Pasien yang meninggal dunia di ruang intensif akan dikirim ke kamar jenazah
sesuai dengan Alur Kerja Pasien Meninggal di Ruang Intensif.

K. REKAM MEDIS

20
Berkas rekam medis pasien selama perawatan di ruang intensif disimpan dan
dijaga kerahasiannya. Semua catatan yang berkaitan dengan perkembangan
penyakit, riwayat pengobatan dan perawatan, serta hasil – hasil pemeriksaan
pasien disimpan dalam rekam medis.

L. PENCATATAN DAN PELAPORAN


Catatan perawatan intensif diverifikasi dan ditandatangani oleh dokter yang
melakukan pelayanan di ruang perawatan intensif dan dokter tersebut harus
bertanggung jawab atas semua yang dicatat dan dikerjakan. Pencatatan
menggunakan form khusus perawatan intensif yang meliputi diagnosis lengkap
yang menyebabkan dirawat, data tanda vital, pemantauan fungsi organ khusus,
(jantung, paru, ginjal) secara berkala, jenis dan jumlah asupan nutrisi dan cairan,
catatan pemberian obat, serta jumlah cairan tubuh yang keluar dari pasien.
Pencatatan nilai – nilai pengukuran tanda vital secara berkala dilakukan oleh
perawat ruang intensif minimal 1 jam sekali dengan interval sesuai kondisi pasien.
Pemantauan secara umum dan khusus setiap pagi hari oleh dokter jaga dan
perawat ruang intensif serta dikoordinasikan oleh DPJP.
Pemantauan umum meliputi :
1. Pemeriksaan tanda – tanda vital : tekanan darah, denyut nadi, laju pernafasan,
temperatur badan dan kadar saturasi oksigen perifer.
2. Pemeriksaan fisik : sistem syaraf, kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal,
tractus urinarius dan sistem lokomotif.
3. Balans cairan dilakukan setiap 3 – 6 jam diperhitungkan intake dan output
cairan.
4. Evaluasi tekanan vena sentral dengan melihat gelombang, hasil dan fluid
chalenge test
5. Pemeriksaan laboratorium : AGD, gula darah, darah rutin, elektrolit, ureum,
kreatinin, (keton darah dan urine, hemostase lengkap, SGOT/SGPT, sesuai
kebutuhan), pemeriksaan lain bila dibutuhkan.

M. EVALUASI HASIL PERAWATAN PASIEN


Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan guna
mewujudkan pelayanan intensif yang aman, bermutu dan mengutamakan
keselamatan pasien. Monitoring dan evaluasi dimaksud harus ditindaklanjuti untuk
menentukan faktor – faktor yang potensial berpengaruh agar dapat diupayakan
penyelesaian yang efektif. Indikator pelayanan intensif digunakan adalah sistem
skoring prognosis dan keluaran perawatan intensif. Sistem skoring prognosis

21
dibuat dalam 24 jam pasien masuk ke perawatan intensif dengan menggunakan
APACHE II (Acute Physiologic Ana Chronic Health Evaluation). Rerata nilai skoring
prognosis dalam periode tertentu dibandingkan dengan keluaran aktualnya.
Pencapaian yang diharapkan adalah angka kematian yang sama atau lebih rendah
dari angka mortalitas terhadap rerata nilai skoring prognosis.
Untuk pasien dengan kasus sulit, multidisipliner dan perkiraan waktu rawat lama
harus dilakukan clinical meeting untuk membahas tindak lanjut perawatan
bekerjasama dengan komite medik. Hasil clinical meeting didokumentasikan dan
disimpan dalam berkas rekam medis pasien.

N. KONDISI BENCANA
Semua petugas di unit perawatan intensif harus memahami prosedur penanganan
bencana baik internal maupun eksternal.
Dalam kondisi bencana masal, ruang perawatan intensif harus menyediakan satu
tempat tidur untuk menolong pasien korban bencana dan berkoordinasi dengan
Instalasi Gawat Darurat.

O. PENGUNJUNG
Setiap pasien yang dirawat di ruang intensif ditunggu oleh keluarganya. Peraturan
mengenai pengunjung sesuai dengan peraturan yang berlaku di RSPP.

22
BAB V
LOGISTIK

A. PENYEDIAAN FARMASI
Penyediaan kebutuhan obat – obatan dan alat kesehatan disediakan oleh bagian
farmasi rawat inap melalui resep. Persediaan obat injeksi dan cairan infus
diresepkan untuk persediaan satu hari, sedangkan untuk obat oral diresepkan
untuk 2 – 3 hari. Bila obat dihentikan maka sisa obat dan alkes tersebut
dikembalikan ke bagian farmasi.
Untuk kebutuhan obat dan alkes dalam kondisi kegawatan dan kedaruratan, unit
perawatan intensif menyediakan persediaan di dalam emergency trolley yang jenis
dan jumlahnya telah ditetapkan. Bila terjadi kegawatan maka akan menggunakan
obat di emergency trolley dan setelah kegawatan tertangani, maka dilakukan
penggantian terhadap penggunaan obat dan alat tersebut sehingga jumlah dan
jenisnya adalah tetap. Setiap petugas di unit perawatan intensif berkewajiban
menjaga agar emergency trolley selalu terpelihara.
Penggunaan alkes pendukung disediakan oleh unit perawatan intensif melalui
permintaan barang ke bagian farmasi dimana permintaan dan pengeluarannya
dicatat serta dilakukan stok opname secara berkala.

B. PENYEDIAAN BARANG UMUM


Penyediaan barang umum dilakukan bekerja sama dengan bagian Layanan
Umum. Prosedur permintaan barang umum mengacu pada prosedur yang ada,
dan laporan penggunaan perbulan harus dipantau.

C. PENYEDIAAN BARANG INVESTASI


Penyediaan barang investasi mengacu pada pedoman pengadaan barang dan
jasa dari Bagian Logistik.

23
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. PENGERTIAN KESELAMATAN PASIEN (PATIENT SAFETY)


Adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman,
yang meliputi :
1. Ketepatan identifikasi pasien
Identifikasi pasien di ruang perawatan intensif mengacu pada standar yang
berlaku di RSPP yaitu menggunakan 2 identitas berupa gelang yang dipakai
oleh pasien yang terdiri dari nama pasien dan tanggal lahir pasien.
Penggunaan identifikasi dengan menggunakan nomor tempat tidur sudah tidak
digunakan lagi.
Untuk pasien yang sadar, petugas harus memastikan identitas pasien dengan
meminta pasien menyebutkan nama dan tanggal lahirnya sebelum melakukan
tindakan dan mencocokan dengan gelang identitas.
2. Peningkatan komunikasi yang efektif
Tujuan dari komunikasi efektif adalah mengurangi kesalahan dan
meningkatkan keselamatan pasien. Setiap instruksi dokter harus tertulis, bila
instruksi diberikan secara perlisan/pertelpon, maka penerima instruksi harus
mencatat instruksi tersebut dan wajib meminta pengesahan dari yang
memberikan instruksi (dokter).
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (High Alert Medications)
Penerapan 6 benar sebelum memberikan obat ke pasien mutlak dilakukan
untuk menghindari kesalahan. Selain itu bekerjasama dengan Bagian Farmasi
untuk obat – obat tertentu (LASA/Look A Iike Sound A like) dengan
menggunakan kode atau tanda tertentu.
4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien operasi
Setiap ada rencana tindakan operasi petugas di unit perawatan intensif harus
memastikan benar pasien, benar lokasi dan benar prosedur.
5. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
Dalam pencegahan infeksi di ruang intensif bekerja sama dengan IPCN
(Infection Preventive Control Nurse) melalui program kebersihan tangan,
pengelolaan sampah yang benar, pencegahan infeksi rumah sakit,
pembersihan alat, pembersihan ruangan dan pemantauan mikrobiologi (pasien
dan ruangan) serta pembatasan pengunjung.

24
6. Pengurangan risiko pasien jatuh
Di unit perawatan intensif pasien harus dipantau untuk risiko jatuh, melalui
pengkajian,penggunaan tempat tidur khusus, penjelasan ke pasien dan atau
keluarga pasien, dan bila perlu melalui restraint.

B. TUJUAN KESELAMATAN PASIEN


1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
3. Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD ) di rumah sakit
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD )

C. METODE KESELAMATAN PASIEN


1. Menghormati hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi
dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
6. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

D. KEJADIAN BERKAITAN DENGAN KESELAMATAN PASIEN


1. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) / Adverse Event
Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan cedera
pasien akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan
yang seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi
pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan
medis karena tidak dapat dicegah.
2. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) / Near Miss
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan (commission)
atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), yang
dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi :
- Karena “ keberuntungan”
- Karena “ pencegahan ”
- Karena “ peringanan ”

25
3. Kesalahan Medis / Medical Error
Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien
4. Kejadian Sentinel / Sentinel Event
Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius;
biasanya dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat
diterima, seperti : operasi pada bagian tubuh yang salah.
Pemilihan kata “sentinel” terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi
(seperti, amputasi pada kaki yang salah) sehingga pencarian fakta terhadap
kejadian ini mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan dan
prosedur yang berlaku.
5. Pencatatan dan pelaporan kejadian yang berkaitan dengan Keselamatan
Pasien sesuai dengan Pedoman Keselamatan Pasien RSPP.

26
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. PENGERTIAN
Pelaksanaan keselamatan kerja adalah berkaitan dengan upaya pencegahan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh berbagai faktor
bahaya, baik berasal dari pelaksanaan pekerjaan maupun lingkungan kerja serta
tindakan pekerja sendiri.

B. TUJUAN
1. Melindungi keselamatan pekerja dalam melakukan pekerjaannya untuk
kesejahteraan hidup dan meningkatkan produktifitas kerja
2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada ditempat kerja.
3. Sumber produksi terpelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.
4. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat
melindungi diri sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.

C. TINDAKAN RISIKO TERPAJAN INFEKSI


1. Kebersihan tangan yang kurang benar.
2. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
3. Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.
4. Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.
5. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
6. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.

D. PRINSIP KESELAMATAN KERJA


Prinsip utama prosedur kewaspadaan universal dalam kaitan keselamatan kerja
adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi
peralatan. Ketiga prinsip tesebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok yaitu :
1. Kebersihan tangan guna mencegah infeksi silang
2. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain.
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

27
E. PROGRAM KESELAMATAN KERJA
1. Pencegahan infeksi melalui kewaspadaan universal dalam setiap pelaksanaan
pekerjaan.
2. Melakukan pekerjaan sesuai dengan Standar Prosedur Operasi yang berlaku.
3. Pemeriksaaan kesehatan calon pekerja sebelum diterima sebagai pekerja.
4. Pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi setiap pekerja.
5. Pelatihan penanggulangan bencana kebakaran secara berkala.

28
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu dan kualitas pelayanan perawatan intensif merupakan satu


program yang bersifat objektif dan berkelanjutan untuk menilai dan memecahkan
masalah yang ada sehingga dapat memberikan kepuasan pada pelanggan dan
mencapai standar klinis yang bermutu.
Pemantauan kualitas adalah kegiatan pemantauan yang dilaksanakan setiap hari
secara objektif bekerjasama dengan Manajemen Mutu dan Infection Preventive
Control Nurse.
Pelaksanaan pemantauan meliputi:
1. Self Assesment adalah kegiatan memantau parameter mutu pelayanan dan
hasilnya dilaporkan ke Manajemen Mutu, IPCN dan Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit.
Pemantauan meliputi penilaian angka readmision, angka kematian, dan angka
infeksi pneumonia terkait pemasangan ventilator, angka ketidaklengkapan rekam
medis, serta indikator klinik dan insiden keselamatan pasien.
2. Independent Audit merupakan pelaksanaan parameter mutu pelayanan yang tolak
ukur keberhasilannya ditentukan sesuai prioritas dan dilaksanakan oleh
Manajemen Mutu.

29
BAB IX
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Perawatan Intensif di RSPP ini diharapkan dapat menjadi


panduan bagi unit perawatan intensif di RSPP. Pedoman ini memberikan panduan
bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap layanan perawatan intensif di RSPP
yang selanjutnya perlu dijabarkan dalam bentuk Standar Prosedur Operasional guna
kelancaran pelaksanaannya.
Apabila dikemudian hari diperlukan adanya perubahan pada Pedoman Pelayanan
Perawatan Intensif di RSPP ini, maka akan dilakukan penyempurnaan pada
penyusunan petunjuk teknis selanjutnya.

RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA


Direktur,

dr. Musthofa Fauzi,SpAn

30