Anda di halaman 1dari 7

Pencemaran pestisida pada perairan perikanan di Sukabumi - Jawa Barat (Imam Taufik)

PENCEMARAN PESTISIDA PADA PERAIRAN PERIKANAN


DI SUKABUMI - JAWA BARAT
Imam Taufik *)
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar
Jl. Raya Sempur No. 1, Bogor 16154
E-mail: imam_opik67@yahoo.co.id

seluruhnya akan jatuh dan masuk ke dalam air sehingga


ABSTRAK : mencemari perairan. Terbukti dari hasil penelitian Ekaputri
(2001) yang menunjukkan bahwa perairan Sungai Ciliwung,
Penggunaan pestisida merupakan salah satu Jawa Barat yang mengalir melewati daerah Bogor, Depok,
sumber pencemar yang potensial bagi sumberdaya dan Jakarta mengandung residu insektisida endosulfan
dan lingkungan perairan. Penelitian bertujuan dengan konsentrasi berkisar antara 0,7- 4,0 μg/L. Selain
untuk mengetahui tingkat pencemaran pestisida
itu, Taufik et al. (2003) juga melaporkan bahwa perairan
pada lahan perikanan budidaya di Sukabumi, Jawa
Barat. Penelitian diawali dengan penentuan lokasi,
tambak serta saluran irigasi di Kabupaten Brebes, Jawa
dilanjutkan dengan pengambilan contoh (air, Tengah telah tercemar oleh insektisida endosulfan yang
sedimen, biota air), preparasi, identifikasi, dan berasal dari limbah pertanian dan perkebunan dengan
analisis data, serta pelaporan. Analisis contoh konsentrasi secara berturut-turut sebesar 2,7 dan 3,2 μg/L.
menggunakan alat Gas Chromatograph (GC). Hasil Perairan yang tercemar oleh residu pestisida apabila
penelitian menunjukkan bahwa pada lahan telah mencapai konsentrasi tertentu akan sangat
perikanan air tawar di daerah Sukabumi terdapat
berpengaruh terhadap lingkungan dan organisme akuatik
residu pestisida dari golongan organoklorin,
yang hidup di dalamnya. Ikan yang hidup dalam lingkungan
organofosfat, piretroid, dan karbamat dengan
konsentrasi di bawah Batas Maksimal Residu (BMR). perairan yang tercemar pestisida akan menyerap bahan
Jenis dan konsentrasi residu pestisida tersebut yang aktif pestisida tersebut dan tersimpan dalam tubuh, karena
terbesar terdapat pada ikan, kemudian di dalam ikan merupakan akumulator yang baik bagi berbagai jenis
tanah dan yang terakhir adalah dalam air. pestisida terutama yang bersifat lipofilik (mudah terikat
dalam jaringan lemak).
KATA KUNCI: lahan perikanan, pencemaran,
Dalam kondisi perairan yang subletal, kandungan
pestisida, residu
residu pestisida dalam tubuh ikan yang terbentuk melalui
proses bioakumulasi akan semakin tinggi dengan
meningkatnya konsentrasi dan bertambahnya waktu
PENDAHULUAN pemaparan hingga mencapai kondisi steady state. Selain
itu, pengaruh lanjut dari bioakumulasi pestisida pada
Dewasa ini penggunaan pestisida merupakan suatu
konsentrasi tertentu secara signifikan dapat menurunkan
hal yang sulit dipisahkan dengan kegiatan pertanian
laju pertumbuhan dan berdampak terhadap kondisi
khususnya dalam budidaya tanaman padi di sawah guna hematologis ikan (Taufik, 2005).
meningkatkan produk baik secara kualitatif maupun
kuantitatif. Sifat penting yang dimiliki pestisida adalah Hal lain yang perlu lebih diwaspadai adalah terjadinya
daya racun atau toksisitas. Meski bahan kimia tersebut biomagnifikasi, yaitu kontaminasi dan akumulasi residu
hanya dimaksudkan untuk mematikan suatu jenis hama pestisida di dalam tubuh mahluk hidup melalui rantai
makanan. Artinya, semakin tinggi kedudukan mahluk
tertentu tetapi pada hakekatnya bersifat racun untuk
hidup dalam rantai makanan maka akan semakin
semua mahluk hidup. Hampir semua jenis pestisida tidak
berpotensi untuk terkontaminasi dan mengakumulasi
bersifat selektif dan mempunyai spektrum yang luas
residu pestisida dalam tubuh termasuk manusia yang
sebagai racun sehingga merupakan sumber pencemaran
menempati posisi puncak dalam rantai makanan.
yang potensial khususnya bagi sumberdaya dan lingkungan
perairan. METODE PENELITIAN
Pestisida yang digunakan pada lahan pertanian sawah, Penelitian dilaksanakan pada beberapa lingkungan
terutama pada awal musim tanam sebagian atau bahkan perairan dan lahan perikanan air tawar di Daerah Sukabumi,

69
Media Akuakultur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011

Jawa Barat, melalui beberapa tahapan kegiatan sebagai z Preparasi contoh air sebanyak 200 mL dilakukan
berikut: melalui absorben SEP-PAK C18. Residu yang terikat pada
Penentuan lokasi absorben C18 dielusi dengan 5 mL aceton. Eluat
ditampung langsung dalam tabung uji 100 mL.
Lokasi pengambilan contoh ditentukan secara
diagnostik berdasarkan hasil survai, data sekunder, serta Analisis contoh
wawancara dengan petani dan instansi terkait. Beberapa Hasil preparasi contoh (air, sedimen, biota air) yang
aspek yang dipertimbangkan dalam menentukan lokasi berupa eluat selanjutnya dianalisis dengan alat
antara lain: faktor kondisi (geografis, sumber dan tata kromatografi gas cair (Gas Chromatograph / GC) dengan
guna air, peruntukan lahan, serta aktifitas pertanian), kondisi sebagai berikut:
sistim irigasi, luas lahan dan jenis komoditas budidaya,
tingkat penggunaan pestisida dalam aktivitas di sekitar Tipe kromatografi gas cair : Shimadzu GC-4 CM
lokasi. Suhu injektor : 230oC
Suhu kolom : 220oC
Pengambilan contoh
Jenis kolom : OV-17 Chromosorb WAW
Pengambilan contoh air dan sedimen dari setiap lokasi 1,5 meter
dilakukan secara diagonal pada sekitas 5-7 titik tergantung
pada luas kolam. Contoh air diambil sebanyak 500 mL, Kecepatan alir gas N2 : 40 mL/menit
contoh sedimen diambil pada kedalaman 10-15 cm dari Jenis detektor : ECD (organoklorin, karba-
permukaan dasar sebanyak 100-200 g (Mann, 1978). mat, dan piretroid)
Contoh biota air diambil secara acak pada 5-7 tempat FPD (organofosfat)
masing-masing sebanyak 50-100 g, kemudian disatukan Sensitivitas : 102 x 4 MΩ
menjadi sampel komposit untuk selanjutnya dianalisis di
laboratorium. Analisis data
Melalui alat integrator yang terhubung dengan GC,
Preparasi contoh bahan aktif pestisida yang terkandung dalam contoh akan
Semua contoh yang berhasil dikumpulkan (sedimen, tergambar dalam bentuk grafik. Untuk menentukan
air, dan biota air) dipreparasi dengan menggunakan konsentrasi residu pestisida yang terdapat dalam contoh
metode Kanazawa (1979) sebagai berikut: berdasarkan gambar, dilakukan perhitungan mengikuti
z Contoh biota air (10 g) dimasukkan ke dalam tabung persamaan Ardiwinata et al. (1999) sebagai berikut:
kertas soxhlet, diekstrak dengan pelarut aceton Residu (mg/L) = (Ac x Vis x Ks x Vfc) / (As x Vic x B x R)
sebanyak 100 mL pada alat soxhlet, berlangsung selama
6 jam pada suhu 80oC. Selanjutnya diuapkan dalam di mana:
evaporator pada suhu 45oC hingga agak kering. Residu Ac = Area contoh
pestisida yang diperoleh dari hasil evaporasi As = Area standar
Vic = Volume injeksi contoh
dipindahkan ke dalam corong pemisah 150 mL dengan
Vis = Volume injeksi standar
bantuan pelarut n-heksan 25 mL, kemudian diekstraksi
Ks = Konsentrasi standar (mg/L)
dengan pelarut asetonitril 25 mL sebanyak 3 kali.
B = Bobot awal /volume awal (mg atau mL)
Lapisan n-heksan akan terbentuk di bagian atas
Vfc = Volume final contoh (mL)
sedangkan lapisan asetonitril di sebelah bawah.
R = Recovery (%)
z Lapisan asetronitril hasil akstrak 3 kali kemudian
diuapkan/dipekatkan dalam evaporator pada suhu HASIL DAN BAHASAN
45oC. Larutan residu hasil evaporator selanjutnya
dilarutkan dengan pelarut n-heksan sebanyak 5 mL dan Keadaan Umum Lokasi
dimasukkan ke dalam kolom kromatografi dan dielusi Sukabumi terletak di bagian selatan tengah Jawa Barat,
dengan eluen campuran n-heksan + aceton (9 + 1). di antara kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango pada
Eluat yang mengandung residu pestisida ditampung ketinggian 584 m di atas permukaan laut (DPL) menempati
dalam labu beralas datar 125 mL. Eluat dipekatkan areal tanah seluas 4.800 ha di mana 38,54% dari areal
hingga agak bening. Eluat yang hampir kering tersebut (1.849,77 ha) adalah sawah, suhu udara 15oC-
dimasukkan ke dalam tabung uji dengan bantuan 30oC dengan curah hujan berkisar antara 2-19 mm (BPS,
pelarut aceton hingga volume menjadi 5 mL. 2009). Menurut laporan, di Kota Sukabumi saja terdapat

70
Pencemaran pestisida pada perairan perikanan di Sukabumi - Jawa Barat (Imam Taufik)

lahan produktif perikanan di masyarakat seluas 106,49 Dari hasil wawancara dengan instansi terkait seperti
ha yang terdiri dari kolam air tawar seluas 104,65 ha, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan dan Perikanan, serta
kolam sawah (minapadi) 2,2 ha dan kolam air deras 0,62 Petugas Penyuluh Lapangan maupun petani, diketahui
ha dengan jumlah produksi pada tahun 2006 sebanyak bahwa terdapat beberapa jenis pestisida yang biasa
178.938.580 ekor benih dan 1.250,46 ton ikan konsumsi digunakan untuk melindungi tanaman dan komoditas
(Dinas Pertanian, 2006). pertanian dari hama pengganggu antara lain: insektisida
Selain merupakan daerah pertanian, Sukabumi juga (serangga), herbisida (rumput/tanaman pengganggu),
dikenal sebagai sentra perikanan air tawar di Jawa Barat. fungisida (jamur), moluskisida (siput/keong) bahkan
Sejak dahulu di daerah ini banyak terdapat kolam ikan rodentisida (binatang pengerat). Intensitas penggunaan
tradisional maupun semiintensif yang cukup produktif pestisida oleh petani cukup tinggi yang dilakukan sejak
serta budidaya ikan dengan sistem minapadi. Adanya pasar awal musim tanam, pada masa pemeliharaan/perawatan
ikan Cibaraja di Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi sampai menjelang panen. Intensitas tersebut akan semakin
sebagai pusat pemasaran benih ikan yang telah meningkat apabila terjadi serangan hama, bahkan tidak
mendistribusikan berbagai jenis benih ikan air tawar jarang untuk meningkatkan efektivitasnya petani
(seperti: nila, mas, bawal bahkan koi) ke berbagai daerah mengkombinasikan beberapa macam pestisida.
maupun antar provinsi, merupakan bukti kuat betapa Sifat penting yang dimiliki suatu bahan aktif pestisida
besar peran Sukabumi dalam kegiatan bisnis perikanan adalah daya racun atau toksisitas. Meskipun bahan kimia
di Indonesia. Keadaan tersebut sangat didukung oleh tersebut hanya dimaksudkan untuk mematikan suatu jenis
faktor alam dengan kondisi tanah yang subur serta air hama tertentu tetapi pada hakekatnya bersifat racun untuk
yang berlimpah. semua mahluk hidup. Hampir semua jenis pestisida tidak
Lokasi pengambilan contoh selain di pasar ikan bersifat selektif dan mempunyai spektrum yang luas
Cibaraja juga dilakukan di beberapa lahan perikanan sebagai racun sehingga merupakan salah satu sumber
budidaya air tawar yang umumnya berdampingan atau pencemaran yang potensial khususnya bagi sumberdaya
terletak pada areal persawahan tanaman padi yang dan lingkungan perairan perikanan.
memanfaatkan sumber air dari saluran irigasi atau sungai.
Sistem tata guna air masih secara terpadu bagi semua
aktivitas di sepanjang daerah aliras sungai, termasuk
untuk kebutuhan rumah tangga, industri, pertanian, dan
perikanan.
Penggunaan air bagi aktivitas pertanian, khususnya
pada kegiatan bertanam padi di sawah, limpahan air dari
petakan sawah yang satu akan dialirkan kepetakan sawah
yang lain, dan seterusnya sampai akhirnya dibuang kembali
ke sungai atau saluran irigasi yang sama. Tidak jarang
dalam satu lokasi terdapat aktivitas pertanian dan
budidaya perikanan terletak dalam satu hamparan lahan
secara berdampingan bahkan berintegrasi antara satu dan
lainnya. Hal ini tentu akan menambah risiko tercemarnya
lahan budidaya perikanan oleh limbah pestisida dari
aktivitas pertanian.
Gambar 1. Penggunaan pestisida di sawah pada awal
Penggunaan Pestisida musim tanam padi
Dewasa ini penggunaan pestisida dalam aktivitas
pertanian, terutama tanaman padi di lahan sawah, bagi Pencemaran Pestisida
petani di Daerah Sukabumi, Jawa Barat telah menjadi Pestisida yang paling ideal adalah bersifat khusus yang
“suatu keharusan” karena merupakan salah satu usaha dapat digunakan secara selektif terhadap hama sasaran
dalam intensifikasi pertanian. Langkah ini dinilai cukup saja, namun di seluruh dunia belum dijumpai pestisida
efektif dan ekonomis dalam mengendalikan jasad yang demikian. Kebanyakan pestisida yang ada sebetulnya
pengganggu tanaman bahkan untuk melindungi produk tidak bersifat selektif karena pestisida digunakan pada
pertanian yang disimpan. suatu ekosistem yang rumit dan kompleks maka setiap

71
Media Akuakultur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011

pemakaian pestisida dapat membunuh organisme bukan analisis laboratorium (Tabel 1), ternyata residu
sasaran atau paling tidak mengganggu kehidupannya organoklorin masih terdapat dalam air (aldrin) meski
(Kadarsan, 1977). Oleh karena itu, penggunaan pestisida dalam konsentrasi rendah (0.0001 mg/L). Hal ini diduga
seharusnya dilakukan sebagai tindakan terakhir apabila akibat dari penggunaannya pada masa lalu karena bahan
sudah tidak ada lagi cara lain yang lebih aman, sehingga aktif ini bersifat persisten yang dapat bertahan hingga
kita akan terhindar dari dampak negatifnya serta dapat lebih dari 10 tahun di lingkungan, atau adanya residu
memperlakukan alam dengan lebih bijaksana. tersebut akibat pemakaian secara tidak terkontrol (ilegal).

Residu pada Air Selain Organoklorin, residu yang terdapat dalam air
adalah dari golongan Karbamat (MIPC, BPMC, karbofuran).
Perairan bertindak sebagai suatu tempat penampungan Keberadaan bahan aktif tersebut di dalam air kolam
utama bagi residu pestisida yang persisten. Masuknya perikanan secara nyata dipengaruhi oleh aktivitas
pestisida ke dalam perairan melalui berbagai jalur, antara pertanian di sepanjang daerah aliras sungai yang banyak
lain: pemakaian langsung untuk membasmi hama tanaman, menggunakan pestisida dan memanfaatkan sungai
buangan limbah perkotaan dan industri, limpasan dari sebagai tempat pembuangan limbah pertanian yang
areal persawahan, pencucian melalui tanah, penimbunan menjadi sumber air bagi kolam budidaya. Insektisida
aerosol dan partikulat, curah hujan dan penyerapan dari Karbamat memiliki suatu aksi toksik yang analog dengan
fase uap pada antar fase udara-air. Masalah ini perlu insektisida organofosfat. Meskipun demikian, kebalikan
mendapat perhatian serius karena residu pestisida dari organofosfat, karbamat merupakan penghambat
(insektisida) ada yang bersifat karsinogenik yang tentunya ChE yang reversible (dapat dibalik) karena enzim aktif
dapat mempengaruhi kesehatan manusia. dapat diregenerasi (diperbaharui) dari kompleks
Penyebaran pencemaran dalam lingkungan perairan penghambat enzim. Komponen karbamat kurang atau
sangat dipengaruhi oleh sejumlah proses pengangkutan bahkan tidak stabil di ekosistem perairan. Karbamat
interaktif seperti penguapan, presipitasi dari udara, mudah termetabolisasi oleh hewan-hewan laut, sehingga
pencucian, dan aliran. Proses penguapan berdampak pada komponen karbamat diharapkan tidak membahayakan
turunnya kepekatan dalam air, sedangkan yang lainnya lingkungan perairan.
termasuk presipitasi dari udara, pencucian, dan aliran akan Meskipun secara umum konsentrasi bahan aktif
meningkatkan kepekatan (Haque et al., 1980). tersebut masih di bawah Batas Maksimal Residu (BMR)
Mengingat pengaruh sampingnya yang cukup berbahaya pestisida, tetapi hal ini perlu diwaspadai karena
terhadap lingkungan (pengaruh residunya yang lama dan konsentrasi residu tersebut sewaktu-waktu dapat
bersifat akumulatif) maka sejak tahun 1973 formulasi meningkat sejalan dengan bertambahnya penggunaan
pestisida dengan bahan aktif dari golongan organoklorin pestisida terutama pada musim kemarau. Pengaruh letal
dilarang penggunaannya di Indonesia. Tetapi dari hasil akan langsung menyebabkan kematian ikan, sedangkan

Tabel 1. Konsentrasi residu pestisida yang terdapat dalam


air
Konsentrasi residu Batas maksimum residu
Pestisida * **
(mg/L) (mg/L)
Organoklorin :
Aldrin 0,0001 0,02

Karbamat :
MIPC 0,0008-0,0013 0,1
BPMC 0,0002 0,1
Karbofuran 0,0007-0,0010 0,1

Keterangan:
*
Angka kisaran menunjukkan konsentrasi residu pestisida yang
terdeteksi pada lebih dari satu lokasi
**
Berdasarkan kriteria air golongan C yaitu untuk kebutuhan pertanian
dan perikanan menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) No: 01- Gambar 2. Berbagai produk formulasi pestisida yang
6366-2000 dijual di kios-kios pertanian

72
Pencemaran pestisida pada perairan perikanan di Sukabumi - Jawa Barat (Imam Taufik)

pengaruh subletal pestisida terhadap ikan meliputi: (1) bertindak sebagai sistem penyangga, dan (3) sebagai
perubahan adaptasi terhadap rangsang alamiah; dan (2) pencuci bahan pencemar. Proses pengangkutan paling
perubahan fisiologis dan biokimia efek subletal pestisida menonjol yang berhubungan dengan tanah dan sedimen
dalam perairan juga akan berpengaruh terhadap organ adalah penyerapan (absorpsi) dan pencucian (Connel &
tubuh ikan seperti hati. Dengan adanya bahan aktif Miller, 1995).
pestisida dalam air yang masuk ke dalam tubuh akan Residu pestisida yang ditemukan dalam tanah yang
menyebabkan pembengkakan pada hepatosit yang berasal dari kolam budidaya perikanan, terdiri atas
merupakan pertanda terjadinya degradasi lemak, selain golongan organoklorin, organofosfat, piretroid, dan
itu hepatosit juga mengalami piknosis, karioreksis, dan karbamat dengan jenis dan konsentrasi seperti pada
kalriolisis. Tabel 2.
Hal lain yang perlu diwaspadai akibat tercemarnya air Senyawa organoklorin sangat persisten, artinya bahan
oleh pestisida, karena ikan yang terpapar dalam air yang aktifnya dapat bertahan dalan jangka waktu lama baik di
tercemar oleh pestisida dalam konsentrasi subletal akan dalam tanah, air, jaringan hewan, maupun tumbuhan. Tidak
menyerap bahan aktif tersebut melalui permukaan tubuh, mudah terurai oleh mikroorganisme, enzim, panas,
membran insang, dan difusi kutikular. Penyerapan akan ataupun cahaya ultra violet. Dari segi fungsi pestisida,
berlangsung secara terus-menerus sampai tercapai senyawa dengan sifat-sifat tersebut adalah yang paling
keadaan steady state yaitu kondisi di mana jumlah bahan baik akan tetapi tidak baik dari segi lingkungan
uji yang diserap dan didepurasi persatuan waktu seimbang (Sastroutomo, 1992). Akibat dari sifatnya yang persisten
pada suatu konsentrasi bahan dalam air (Nagel & Loskill, maka residu organoklorin masih terdeteksi dalam tanah
1991). kolam budidaya perikanan meskipun bahan aktif tersebut
Residu dalam Tanah sudah lama tidak digunakan.
Tanah dan sedimen berperan utama dalam pengang- Residu pada Ikan
kutan dan penghilangan bahan pencemar lingkungan, Interaksi antara proses lingkungan dan sifat fisika-
dengan (1) menyediakan permukaan penyerapan, (2) kimiawi pencemaran menentukan penyebarannya,
intensitas, dan pengaruhnya terhadap kehidupan mahluk
Tabel 2. Konsentrasi residu pestisida yang terdapat dalam hidup (Connel & Miller, 1995). Pengambilan pestisida oleh
tanah dari kolam budidaya perikanan hewan dapat terjadi secara langsung dari lingkungan fisik
Konsentrasi residu atau dari penyerapan gastrointestinal. Untuk organisme
Pestisida * air, kontaminasi pestisida dapat disebabkan oleh: (1)
(mg/L)
masuk bersama makanan yang terkontaminasi, (2)
Organoklorin:
pengambilan dari air yang melewati membran insang, (3)
Aldrin 0,0005
difusi kutikular, dan (4) penyerapan langsung dari sedimen
Dieldrin 0,001
(Livingstone, 1977).
Endosulfan 0,0018
Secara kualitatif maupun kuantitatif, residu beberapa
Organofosfat:
bahan aktif pestisida yang terdapat dalam daging ikan
Diazinon 0,0003
lebih tinggi dibanding residu yang terdapat dalam air dan
Fenitrotion 0,0001
tanah. Hal ini dapat terjadi karena ikan merupakan
Piretroid akumulator yang baik terutama bagi bahan aktif yang
Sipermetrin 0,0001 bersifat lipofilik sehingga sangat mudah terikat dalam
Permetrin 0,0003 jaringan lemak ikan.
L. Sihalotrin 0,0034
Menurut Edward (1976), rata-rata kenaikan residu
Penvalerat 0,0017
pestisida dalam hewan akuatik mempunyai korelasi
Karbamat: dengan aktivitas metabolisme, bobot badan, luas
MIPC 0,0056-0,0114 permukaan tubuh, dan rantai makanannya. Sedangkan
BPMC 0,001 Kusnoputranto (1995) mengemukakan bahwa penyerapan
Karbofuran 0,0006-0,0159 residu pestisida tergantung dari besarnya residu, sifat
Keterangan:
fisika-kimia, sifat bioakumulatif dan toksisitasnya, maka
*
Angka kisaran menunjukkan konsentrasi residu pestisida yang keracunan yang ditimbulkannyapun dapat bersifat letal
terdeteksi pada lebih dari satu lokasi maupun subletal.

73
Media Akuakultur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011

Tabel 3. Konsentrasi residu pestisida dalam daging ikan 3. Jenis dan konsentrasi residu pestisida yang tertinggi
yang berasal dari kolam budidaya perikanan terdapat pada ikan, kemudian di dalam tanah, dan yang
paling rendah dalam air.
Konsentrasi residu Batas maksimum residu
Pestisida 4. Konsentrasi pencemaran pestisida pada lahan budidaya
(mg/L)* (mg/L)**
perikanan di wilayah Sukabumi, Jawa Barat masih di
Organoklorin :
bawah nilai BMR.
Aldrin 0,0005 0,2
Dieldrin 0,0014 0,2 DAFTAR ACUAN
Endosulfan 0,0006 0,2
Anonim. 2006. Laporan pertanggung jawaban. Dinas
Organofosfat : Pertanian, Pemerintah Kota Sukabumi, 126 hlm.
Diazinon 0,0005 0,7 Anonim. 2009. Badan Pusat Statistik Kota Sukabumi.
Piretroid : Ardiwinata, A.N., Jatmiko, S.Y. & Harsanti, E.S. 1999.
Sipermetrin 0,0002-0,0005 Monitoring residu insektisida di Jawa Barat. Menuju
Permetrin 0,0003-0,0005 0,1 Sistem Produksi Padi Berwawasan Lingkungan. Risalah
L. Sihalotrin 0,0106 seminar hasil penelitian emisi gas rumah kaca dan
Penvalerat 0,0004-0,0047 peningkatan produktivitas padi di lahan sawah. Pusat
Karbamat : Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pertanian.
MIPC 0,0131-1,8814 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, hlm.
BPMC 0,0016-0,0020 91-105.
Karbofuran 0,0011-0,0063 0,05 Brown, A.W.A. 1978. Ecology of pesticides. John Wiley
and Sons, New York, 342 pp.
Keterangan:
Connel, D.W. & Miller, G.J. 1995. Kimia dan eko-
*
Angka kisaran menunjukkan konsentrasi residu pestisida yang
terdeteksi pada lebih dari satu lokasi toksikologi pencemaran. Penerbit Univ. Indonesia,
**
Sumber: Standar Nasional Indonesia (SNI) No: 01-6366-2000 Jakarta, hlm. 331-341.
Edwards, C.A. 1976. Persistent pesticides in the envi-
Meskipun residu pestisida yang terkandung dalam ronment. CRC Press. Ohio, 170 pp.
daging ikan masih berada di bawah BMR, tetapi perlu Ekaputri, L.S. 2001. Pola penyebaran spasial dan temporal
diwaspadai karena hal ini terjadi akibat adanya konsentrasi bahan organik, logam berat dan pestisida di perairan
subletal pestisida pada lingkungan pemeliharaan (perairan) Sungai Ciliwung. Disertasi Program Pascasarjana,
(Taufik et al., 2003). Konsentrasi subletal bahan aktif Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
pestisida secara kronis akan berakumulasi di dalam Lingkungan, IPB, 148 hlm.
organ tubuh ikan (Connel & Miller, 1995). Ikan yang Haque, R., Falco, J., Cohen, S., & Riordan, C. 1980. Role
terkena kontaminasi subletal dari berbagai jenis pestisida of transport and fate studies in the exposure assess-
akan memperlihatkan perubahan dalam aksi fisiologis, ment and screening of toxic chemicals. In R. Haque
kegagalan dalam perkembangbiakan, ketahanan, (eds) dynamic, Exposure, and Hazard Assessment of
kerentanan, biokimia, morfologi, dan pengaruh lainnya Toxic Chemicals. Ann Arbor Science, Ann Arbor,
termasuk laju pertumbuhan (Brawn, 1978). Michigan, p. 47-67.
Kanazawa, J. 1979. Measurement of the bioconcentration
KESIMPULAN
factor of pesticides by freshwater fish and their
Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat corelation with physiochemical properties or acute
diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: toxicities. National Institute of Agricultural Sciences.
1. Residu pestisida yang terdapat dalam air terdiri atas Japan, 12: 417-424.
golongan: organoklorin dan karbamat; sedangkan Kusnoputranto, H. 1995. Pengantar toksikologi
dalam tanah dan daging ikan : organoklorin, lingkungan. Dirjen Pendidikan Tinggi, Departemen
organofosfat piretroid dan karbamat Pendidikan dan Kebudayaan, 133 hlm.
2. Masuknya pestisida ke dalam lingkungan budidaya Livingstone, R.J. 1977. Review of current literature
perikanan antara lain diakibatkan oleh aktivitas concerning the accute and chronic effect of pesti-
pertanian, terutama budidaya tanaman padi di lahan cides on aquatic organism. CRC Crit. Rev. Environ.
sawah yang terdapat di sepanjang daerah aliran sungai. Control, 7(4): 325-351.

74
Pencemaran pestisida pada perairan perikanan di Sukabumi - Jawa Barat (Imam Taufik)

Mann. 1978. Manual of training in pesticides analysis. Taufik, I., Koesoemadinata, S., Sutrisno, & Nugraha, A.
University of Miami School of Medicine Dept. Of 2003. Tingkat akumulasi residu pestisida pertanian
Epidemiology and Public Health, 301 pp. di perairan tambak. J. Pen. Perik. Indonesia, 9(4): 53-
Nagel R. & Loskill, R. 1991. Bioaccumulation in aquatic 61.
system; contribution to the assessment. Proceding Taufik, I. 2005. Pengaruh lanjut bioakumulasi insektisida
of an International Workshop, Berlin. VCH Publishers endosulfan terhadap pertumbuhan dan kondisi
Inc. New York, 238 pp. hematologis ikan mas (Cyprinus carpio). Tesis. Sekolah
Sastroutomo, S.S. 1992. Pestisida, dasar-dasar dan Pascasarjana, Program Studi Ilmu Perairan, IPB, 83
dampak penggunaannya. Gramedia, Jakarta, 184 hlm. hlm.

75