Anda di halaman 1dari 8

Nama : Hilda Anggraeni

NIM : 12030117420074
MAKSI A
Angkatan 38
Resume Akuntansi Forensik
“Red Flags”
Berbagai cara dan usaha telah dilakukan oleh hampir seluruh perusahaan
untuk mencegah terjadinya kecurangan baik dengan cara mempromsikan integritas,
maupun pengenaan sanksi yang sepadan dengan perbuatan yang dilakukannya.
Namun, risiko kecurangan tetap mungkin saja terjadi dalam suatu perusahaan. Hal
yang menjadi prtanyaan selanjutnya adalah bagaimana menilai kemungkinan
masalah demikian muncul. Dengan memahami gejala kecurangan (red flags)
manajemen dapat mengidentifikasikan kondisi kecurangan yang kemungkinan
besar akan terjadi atau telah terjadi. Dengan belajar dari kecurangan yang pernah
terjadi, maka kecurangan dapat sedini mungkin ditangani oleh manajemen atau
internal auditor. Red flags dimaksud dalam hal ini sebagai sinonim untuk mencetak
sidik jari kecurangan. Ketika terjadi kecurangan, ada bekas-bekas kecurangan yang
ditinggalkan di tempat kejadian oleh pelaku, seperti sidik jari yang mungkin
ditinggalkan di TKP. Red flags mencakup banyak hal, terutama pada skema
individu tertentu atau skema kelompok.
A. PROFESSIONAL STANDARDS
Beberapa kelompok profesional dan standarnya, yang dipilih karena peran
mereka dalam melakukan audit atas kecurangan.
1. AICPA
The AICPA Statement on Auditing Standard (SAS) No. 99 tentang
“Consideration of Fraud ina Financial Statement Audit” mengumpulkan
sebagian besar prinsip Sarbanes-Oxley Act (SOX) kemudian
menggabungkan red flags menjadi bagian dari prinsip tersebut. Sebagian
besar pekerjaan dalam mengidentifikasi red flags itu terkait dengan karya
ACFE dan Joe Wells khususnya sebagai pendiri.
2. The Information Systems Audit and Control Association (ISACA)
ISACA menyediakan daftar serupa dalam literatur teknisnya. Panduan
“Irregularities and Illegal Acts” dalam standar 030.020.010 untuk
“Procedures for Information Systems Auditing” yang mulai efektif pada
tanggal 1 November 2003. Pada bagian 4.1 berisi daftar “Audit
Considerations” yang didalamnya mencakup Red flag, yang khususnya
dibagian“Application of CAATs”.
3. The Institute of Internal Auditors (IIA)
Literatur IIA memiliki Standar Teknis dan profesional juga dalam
menangani kecurangan. Standar Internasional IIA untuk Praktik
Profesional di bidang Audit Internal terdapat di bagian 1210.A2: “Auditor
internal harus memiliki pengetahuan yang memadai untuk
mengidentifikasi indikator kecurangan namun tidak diharapkan memiliki
keahlian auditor forensik yang tanggung jawab utamanya mendeteksi dan
menyelidiki kecurangan”
Tanggung Jawab Profesional
Dari standar teknis ketiga organisasi ini, jelas bahwa auditor diharapkan dapat
mengidentifikasi indikator utama kecurangan dalam proses melakukan layanan
profesional. Karena fakta ini, auditor perlu dilatih dalam aspek identifikasi dan
deteksi kecurangan dengan menggunakan metode tekanan. Penting juga bagi
auditor untuk dilakukan pelatihan, seminar, pendidikan, dan cara lain untuk
menggembangkan strategi yang terkait dengan kecurangan dan terutama untuk
red flag.
B. RED FLAGS UMUM
Secara umum, beberapa red flags umum terjadi pada semua kecurangan,
atau terjadi pada kategori kecurangan utama di fraud tree.
1. Financial Statement Frauds
Red flags yang terkait adalah:
Anomali akuntansi
Pertumbuhan yang cepat
Keuntungan yang tidak biasa
Kelemahan pengendalian internal
Agresivitas manajemen eksekutif
Obsesi dengan harga saham oleh manajemen eksekutif
Micromanagement oleh manajemen eksekutif
2. Asset Misappropriation
Red flags meliputi:
Perubahan perilaku
Tidak berani menatap orang lain
Peningkatan iritabilitas
Riwayat kerja tidak teratur
Masalah karakter
Kemarahan yang konsisten
Kecenderungan untuk menyalahkan orang lain
Perubahan gaya hidup
3. Corruption
Red flags hal-hal berikut:
Hubungan antara karyawan dan vendor yang berwenang.
Kerahasiaan antara hubungan pihak ketiga.
Kurangnya tinjauan terhadap persetujuan manajemen untuk
mengetahui hubungan pihak ketiga yang ada
Anomali dalam pencatatan transaksi
Anomali terhadap menyetujui vendor mana yang akan dipakai
C. RED FLAGS KHUSUS
Red flags lainnya adalah khusus untuk fraud tertentu. Bagian ini
menggambarkan beberapa red flags yang dikenal untuk masing-masing
skema fraud besar.
1. Financial Statement Fraud (Skema Laporan Keuangan)
Kategori ini dibagi menjadi lima fraud tertentu. Kelima skema ini
adalah

1.1 Timing Difference (Penjualan yang tidak tepat)


Red flags untuk pusat skema ini seputar cara transaksi yang tidak
benar tersebut akan dilakukan. Misalnya, tentang penjualan yang
berpotensi tidak sah seperti channel stuffing, red flags akan menjadi
penjualan yang tercatat sebelum ditransaksikan (yaitu, pelanggaran
GAAP). channel stuffing red flags termasuk pengembalian barang
dagangan yang berlebihan, disertai dengan kredit penjualan,
terutama pada hari-hari awal periode pelaporan keuangan baru
1.2 Fictious Revenue (Pendapatan fiktif)
Red flags yang terkait dengan jenis transaksi adalah :
 Peningkatan tidak biasa aset (sisi lain dari entri untuk
menciptakan pendapatan fiktif)
 Pelanggan dengan data yang hilang (terutama alamat fisik dan
nomor telepon)
 Perubahan yang tidak dapat dijelaskan dalam hubungan tertentu
atau tren rasio (misalnya, pendapatan tumbuh tapi piutang tidak)
1.3 Concealed Liabilities (pencatatan kewajiban yang tidak benar)
Red flags yang terkait dengan jenis-jenis transaksi meliputi:
 Transfer yang berlebihan dari satu entitas ke entitas yang terkait
(misalnya, anak perusahaan)
 Transfer yang tidak biasa atau tidak dapat dijelaskan dari satu
entitas ke entitas yang terkait
 Menggunakan perusahaan audit yang berbeda untuk anak
perusahaan atau badan usaha terkait yang berbeda
 Faktur Vendor dan transaksi kewajiban lain yang tidak tercatat
dalam buku
1.4 Inadequate Disclosure (Pengungkapan yang tidak memadai)
Red flags nya meliputi:
 Catatan pengungkapan yang begitu dikaburkan/ tidak jelas
sehingga sulit untuk menentukan sifat sebenarnya dari peristiwa
atau transaksi
 Penemuan kontinjensi hukum yang dirahasiakan, atau kejadian
penting lainnya
 Penemuan fraud yang dirahasiakan
1.5 Improper Asset Valuation (Penilaian asset yang tidak benar)
Red flagsnya meliputi:
 Kenaikan yang tidak biasa atau tidak dapat dijelaskan nilai buku
aset (persediaan, piutang, aset jangka panjang)
 Pelanggaran GAAP beban sebagai aset
 Kecenderungan manajemen menjadi tidak responsif ketika
auditor internal melaporkan Aset yang perlu dihapus dari neraca
(karena mereka seharusnya telah pensiun (masanya sudah abis,
atau ditransfer ke badan usaha yang berbeda)
2. Asset Missappropriation Scheme (Skema Penyalahgunaan Aset)
2.1 Cash Lancery (Kecurangan kas)
Kecurangan kas hanyalah kecurangan uang tunai dari atasan, yang
terjadi setelah itu dicatat dalam buku catatan. Ini termasuk uang
tunai dan cek. Red flags meliputi:
 Penurunan yang tidak biasa atau tidak dapat dijelaskan dalam
tingkat deposito di bank
 Perbedaan yang tidak biasa atau tidak dapat dijelaskan antara
rekening atau laporan kegiatan dan informasi laporan bank
 Perubahan gaya hidup karyawan yang drastis
2.2 Billing Scheme (skema penagihan)
.Kategori ini juga berisi sejumlah skema yang berbeda, diantaranya:
a) Shell Company (Perusahaan Fiktif)
Diciptakan untuk satu tujuan melakukan kecurangan, untuk
menghasilkan dan mengalihkan cek dari sumber daya
perusahaan (atasan) yang akan diarahkan ke pelaku, untuk
keuntungan dirinya sendiri. Red flagsnya mencakup:
 Biasanya alamat hanyalah nomor kotak pos
 Kurangnya data kontak yang memadai
 Alamat yang cocok dengan alamat karyawan
 Tidak ada nomor identifikasi pajak penjualan/ nomornya
tidak benar
 Kenaikan harga pokok penjualan yang tidak biasa
b) Pass-Through Vendor
Red flagsnya sama dengan shell co., ditambah dengan:
 Bukti bahwa harga tinggi telah dibayar untuk produk/jasa
tertentu.
 Menurunkan keuntungan (profit), menaikkan harga pokok
penjualan.
 Buruknya intenal controls
 Jumlah faktur dibawah dari tingkat persetujuan, khususnya
jumlah faktur yang berlebihan dari pada jumlah oleh vendor
maupun karyawan yang menyetujui transaksi.
c) Nonaccomplice Vendor
Red flagsnya meliputi:
 Menggunakan nomor faktur diluar rentang urutan normal
 Tingkat pembelian yang tidak biasa dan tidak bisa
dijelaskan oleh vendor
d) Personal Purchases (pembelian pribadi)
Red flagsnya meliputi:
 Aktivitas kartu kredit perusahaan yang tidak biasa
 Pembelian barang yang tidak dapat dijelaskan
 Biaya karyawan yang berlebihan secara konsisten ( over-
budget)
2.3 Skema Penggajian
a) Karyawan Fiktif
Red flags meliputi:
 Tidak pernah berlibur.
 Tidak pernah cuti sakit.
b) Skema Komisi
Red flags meliputi:
 Peningkatan biaya komisi yang tidak dapat dijelaskan atau
tidak biasa.
 Perubahan tingkat komisi dari waktu ke waktu.
 Tingkat pengembalian atau kredit yang lebih tinggi untuk
satu orang tenaga penjualan.
c) Falsified Wages (Upah yang di palsukan)
Red flags meliputi:
 Jumlah lembur yang tidak dapat dijelaskan atau tidak biasa.
 Perubahan yang tidak biasa dalam tingkat upah.
 Jumlah jam kerja yang tidak biasa atau tidak dapat
dijelaskan.
d) Check-Tampering
Red flags meliputi:
 Jumlah cek voided yang berlebihan.
 Adanya cek yang hilang.
 Cek nonpayroll dilakukan untuk karyawan.
e) Skimming
Red flags meliputi:
 Pendapatan lebih rendah dari pendapatan yang diharapkan.
 Realisasi profit yang kurang dari proyeksi.
 Gross margin secara signifikan kurang dari proyeksi.
f) Lapping
Red flags meliputi:
 Keluhan pelanggan tentang pembayaran diposkan lama
setelah cek dikirimkan.
 Kecurangan pada piutang dagang terhadap pelanggan
tertentu meningkat secara bertahap seiring waktu dalam
jumlah hari piutang.
3. Skema Korupsi
3.1 Konflik kepentingan
Red flags meliputi:
 Sejumlah besar transaksi dengan vendor tertentu.
 Penemuan hubungan antara karyawan dan pihak ketiga yang
sebelumnya tidak diketahui.
 Pemisahan tugas yang lemah dalam menetapkan kontrak dan
menyetujui faktur.
3.2 Penyuapan
Red flags meliputi:
 Perubahan gaya hidup seorang karyawan.
 Penemuan hubungan antara karyawan dan vendor.
 Pemisahan tugas yang lemah dalam menyetujui vendor dan
faktur.
3.3 Pemerasan Ekonomi
Red flags dan metode pendeteksiannya sama dengan penyuapan.

D. MODEL DETEKSI KECURANGAN


Ketika auditor keuangan menemukan salah saji yang tidak material terhadap
akun atau kelas akun, dia tidak seharusnya mengabaikan salah saji tersebut.
Melainkan menempatkan salah saji ke dalam file yang akan diakumulasikan
dengan salah saji lainnya. Tujuan akumulasi adalah untuk menentukan
apakah salah saji adalah material dalam agregat. Proses dan tujuan yang
sama harus diterapkan pada audit kecurangan dan anomali (red flags pada
khususnya). Artinya, faktor individu dan bukti harus dipertimbangkan
dalam konteks bagaimana menyesuaikan diri dan berkontribusi terhadap
bukti dan kemungkinan yang kumulatif.