Anda di halaman 1dari 9

Pengaruh Latihan Fisik Samapta Terhadap Fungsi Paru pada Prajurit TNI

jajaran Korem 032 WIRABRAJA

Sudirman suti,Oea khairsyaf, Irvan Medison, Deddy Herman

Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK UNAND/RSUP


Dr M Djamil Padang, Sumatra Barat, Indonesia

Abstrak: Latihan fisik sangatlah penting bagi prajurit TNI untuk menjaga serta
meningkatkan kebugaran jasmani yang bertujuan untuk membentuk ketahanan fisik,
sehingga mampu melaksanakan kegiatan dan pekerjaan yang berat.1 Pada hakekatnya
setiap prajurit mempunyai kemampuan fisik seperti seorang atlet yang dituntut untuk
harus memiliki kecepatan, kekuatan, dan koordinasi atau keseimbangan dan memiliki
daya tahan fisik maupun mental yang tinggi serta keberanian. Latihan yang rutin dapat
meningkatkan kapasitas paru. Faal paru ditentukan oleh kekuatan otot respirasi,
complience rongga dada, resistensi jalan napas, dan elastisitas paru.

Metode : Penelitian yang dilakukan crous sectional dengan menggunakan bentuk


Pre-post Test with control group design.

Hasil : Penarikan sampel dilakukan dengan metode Purposive sampling dengan


jumlah sampel 350 orang, dibagi menjadi dua kelompok yaitu 175 orang sebagai
kelompok perlakuan dan 175 orang sebagai kelompok kontrol dengan jenis kelamin
laki-laki (100%), rata-rata usia kelompok perlakuan yaitu 36,37±9,38 dengan
kelompok kontrol yaitu 38,45±7,63 tahun. Pemeriksaan spirometri sebelum dan
sesudah latihan, pada fungsi paru pada perlakuan dinilai KV (85,19±85,32 ; p value
0,319), KVP (85,69±85,85; p value 0,249 ) VEP1 (75,79 ±77,02; p value 0,002) dan
VEP1/KVP ( 96,21±96,49 p value 0,066) dan fungsi paru pada kontrol sebelum dan
sesudah latihan dinilai KV (90,07±90,28; p value 0,883),KVP (90,30 ±90,58 ;p value
0,798) ,VEP1(81,03±81,81,54 ;p value 0,533) dan VEP1/KVP (95,64±95,74;p value
0,861) presentase latihan fisik terhadap fungsi paru pada kelompok perlakuan terjadi
peningkatan nilai VEP1 bermakna secara statistik.

Kesimpulan: Latihan fisik terhadap peningkatan fungsi paru sebelum dan Sesudah
latihan fisik samapta pada prajurit TNI jajaran KOREM 032/WBR yang menjalani uji
kenaikan pangkat dapat meningkatkan VEP1.
Kata kunci: Latihan fisik,fungsi paru,Kebiasaan Merokok

1
Effect of Samapta Physical Exercise on Lung Function of WIRABRAJA Korem 032
Army personnel

Sudirman suti, Oea khairsyaf, Irvan Medison, Deddy Herman

Departement of Pulmonary and Respiratory Medicine, Andalas University/M Djamil


Hospital Padang,West Sumatra,Indonesia

Abstract

Background: Physical exercise is important for soldiers to maintain and improve


physical vitality that aims to establish physical endurance, to capable to carry out
activities and heavy work. In essence, every soldier required to have a physical ability
as an athlete to have speed, strength, coordination, balance and have high physical and
mental endurance and courage. Regular exercise can increase lung capacity. Lung
function is determined by the strength of respiration muscles, chest compliance,
airway resistance and lung elasticity.

Methods: The cross sectional study by using a pre-post test with control group
design.

Results: Purposive sampling of 350 people, all men divided into two groups: 175 as
the treatment group and 175 as control group, the average age of the treatment group
is 36 , 37 ± 9.38 and the control group is 38.45 ± 7.63 years. Spirometry examination
before and after exercise in treatment group with rated VC (85.19 ± 85.32; p value
0.319), FVC (85.69 ± 85.85; p value 0.249) FEV1 (75.79 ± 77, 02; p value 0.002) and
FEV1/FVC (96.21 ± 96.49 p value 0.066) and lung function in control before and
after exercise with rated VC (90.07 ± 90.28; p value 0.883), FVC (90 , 30 ± 90.58; p
value 0.798), FEV 1 (81.03 ± 81,81,54; p value 0.533) and FEV1/FVC (95.64 ±
95.74; p value 0.861) the percentage of physical exercise of lung function in the
treatment group FEV1 value statistically significant increased.

Conclusion : Physical exercise to increase lung function before and after physical
exercise of Samapta soldiers KOREM 032/WBR who underwent promotions can
increase FEV1.

Keywords: physical exercise, lung function, Smoking Habit

Korespondensi : dr.Sudirman Suti


PPDS Pulmonologi & Kedokteran Respirasi UNAND
JL.Tamsis No.7 .Padang.
Telp: 081319918876.
Email :sudirman.suti29@yahoo.com

2
PENDAHULUAN fungsi ventilasi paru secara lebih

Latihan fisik sangatlah penting mendalam. Jenis gangguan fungsi paru

untuk menjaga serta dan meningkatkan dapat digolongkan menjadi dua yaitu

kebugaran jasmani yang bertujuan untuk gangguan obstruktif (hambatan aliran

membentuk ketahanan fisik, terutama bagi udara) dan restriktif (hambatan

prajurit TNI sehingga mampu melakukan pengembangan paru). Seseorang dianggap

kegiatan dan pekerjaan yang berat. Sistem mempunyai gangguan fungsi paru

respirasi adalah sistem penting dalam obstruktif bila nilai VEP1 kurang dari 75%

tubuh manusia tempat pertukaran gas dan menderita gangguan fungsi paru

terjadi selama aktivitas fisik. restriktif bila nilai KVP kurang dari 80%.
Merokok merupakan salah satu faktor
Paru merupakan organ pertama dan yang menyebabkan penyakit paru
paling terpengaruh saat tubuh berespon obstruktif dan restriktif, dapat
terhadap perubahan selama peningkatan mempengaruhi nilai KVP maupun FEV1
aktivitas fisik aerob berat seperti lari. pada tes spirometri.
Latihan didefinisikan sebagai aktivitas
olah raga secara sistematis dalam jangka METODE
waktu lama yaitu dengan peningkatan Penelitian ini adalah crous sectional
beban secara progresif sesuai dengan dengan menggunakan bentuk Pre-post
1
kemampuan masing-masing individu. Test with control group design. Melihat
Latihan yang rutin dapat meningkatkan pengaruh latihan fisik terhadap kapasitas
kapasitas paru. paru. Penelitian digunakan dua kelompok

Holger, dkk melaporkan bahwa yaitu kelompok perlakuaan dan kelompok

latihan merupakan kondisi yang kontrol. Dilakukan di Makorem 032 /

menghasilkan ditandai perubahan dalam WBR dan Gor H.Agus Salim padang.

tubuh dan fungsi paru.2 bahwa, terdapat Dilaksanakan pada bulan Januari- April

suatu hubungan yang kuat antara 2015 sampai selesai. Populasi yang

kesegaran jasmani dengan mental dan diambil adalah prajurit TNI jajaran Korem

emosi. 032/WBR Padang yang akan menjalani uji


kenaikan pangkat.
Salah satu uji faal paru adalah uji
Sampel dalam penelitian ini
spirometri diperoleh nilai KV, KVP, VEP1
memenuhi kriteria inklusi. Jumlah sampel
dan VEP1/KVP. Pemeriksaan dengan
pada penelitian ini adalah 350 orang.
spirometer ini penting untuk mengetahui
Kriteria Inklusi Laki-laki, Usia 20 –50

3
tahun.,Anggota TNI-AD jajaran Korem bekas perokok 13, secara statistik
032/WBR. Kriteria eksklusi prajurit yang didapatkan perbedaan persentase tersebut
sedang sakit atau cedera, prajurit yang bermakna (p<0,05). Rerata KV prediksi
menderita penyakit kardiorespirasi. sebelum latihan, 87,56±11,80, KVP
prediksi sebelum latihan 87,96± 10,62,
HASIL VEP1, prediksi sebelum latihan
Total sampel 350 orang, yang 78,63±9,34 dan nilai VEP1/KVP 95,90
dibagi menjadi dua kelompok yaitu 175 ±6,977.
orang sebagai kelompok perlakuan dan Tabel 2. Nilai perubahan fungsi paru
175 orang sebagai kelompok kontrol pada sebelum dan sesudah latihan fisik pada
prajurit TNI jajaran Korem 032/WBR, kelompok kontrol
sebelum dan sesudah latihan fisik.Dengan Variabel Kontrol P value
Mean SD
karakteristik pada tabel 1. KV% prediksi
Pre Samapta 85,19 10,19 0,001*
Tabel 1. Karakteristik Responden Post Samapta 85,32 10,45
Berdasarkan Kelompok KVP% prediksi
Pre Samapta 85,69 85,85 0,001*
Karakteristik Keterangan Post Samapta 85,85 11,03
VEP1% prediksi
Subjek (n) 350
Pre samapta 75,79 9,22 0,001*
Jenis kelamin (n,%)
Post samapta 77,02 9,88
Laki-laki 350(100)
VEP1/KVP
Usia 36,37±9,38a
Pre samapta 95,64 6,99 0,276*
Berat Badan 69,30±7,47a
Post samapta 95,74 6,16
Tinggi Badan 167,7±4,10a
Merokok(%) *t-testfor Equality of Means
Perokok 314(89,7)
Tidak perokok 23(6,6)
Bekas perokok 13(3,7) Berdasarkan tabel 2 dibawah ini
Nilai fungsi paru
KV(% prediksi) 87,56±11,80 a dapat dijelaskan dengan pemeriksaan
KVP(%prediksi) 87,96± 10,62a
VEP1(%prediksi) 78,63±9,34a spirometri terjadi peningkatan nilai fungsi
VEP1/KVP(%) 95,90± 6,977a
a: Menyatakan mean±standar deviasi
paru KV, KVP, VEP1 dan perbandingan
KV:Kapasitas Vital;KVP:Kapasitas Vital paksa;VEP:Volume
ekspirasi detik pertama VEP1 dengan KVP tidak bermakna secara

Berdasarkan tabel 1 yang statistik.

didapatkan, usia parajurit TNI uji kenaikan Berdasarkan tabel 3 diatas dapat

pangkat lebih banyak usia muda dijelaskan dengan pemeriksaan spirometri

dibandingkan dengan usia tua. Usia sampel terjadi peningkatan fungsi paru yang

rata-rata 36 tahun, kebiasaan merokok, signifikan KV, KVP, VEP1 dan nilai

didapat yang masih merokok saat ini perbandingan VEP1/KVP tidak bermakna

sebanyak 89,7% dari seluruh total secara statistik.

sampel,dan yang tidak merokok 6,6%,

4
Tabel 3. Nilai perubahan fungsi paru Tabel 5. Pengaruh merokok terhadap
sebelum dan sesudah latihan fisik pada faal paru sebelum latihan samapta
kelompok perlakuan Pre samapta Pvalue
Mean SD
Variabel Perlakuan Pvalue
KV %prediksi
Mean SD
Perokok 86.69 10,6 0,006
KV % prediksi Tidak perokok 87,34 11,36
Pre samapta 90,07 12,61 0,001* Bekas perokok 88,69 12,02
Post Samapta 90,28 12,94 KVP %prediksi
KVP % prediksi Perokok 86,96 10,64 0,015
Pre Samapta 90,30 9,77 0,001* Tidak perokok 86,96 11,15
Post Samapta 90,58 9,83 Bekas perokok 85,00 8,69
VEP1% prediksi VEP1 % prediksi
Pre Samapta 81,03 9,50 0,001* Perokok 77,84 10,88 0.001
Post samapta 81,54 8,43 Tidak merokok 83,00 8,22
VEP1/KVP(%) Bekas perokok 74,38 11,56
Pre Samapta 96,23 6,86 0,427* VEP1/ KVP %
Post Samapta 96,49 6,58 Perokok 95,84 10,44 0,409
Tidak merokok 98,22 7,67
*t-testfor Equality of Means Bekas perokok 96,77 9,44

Berdasarkan tabel 4 dibawah ini


kebiasaan merokok dapat mempengarhi Berdasarkan tabel 5 diatas, fungsi
fungsi paru nilai KV, KVP, VEP1 paru, KV dan VEP1, dengan kebiasaan
bermakna secara statistik, dan merokok bermakna secara statistik.
perbandingan VEP 1 dengan KVP tidak Perbandingan VEP1/KVP ditemukan tidak
bermakna secara statistik. bermakna secara statistik.
Tabel 4. Pengaruh merokok terhadap
faal paru sesudah latihan samapta DISKUSI
Post samapta P value
Mean SD Jumlah subyek pada penelitian ini
KV% prediksi
Perokok 86,99 10,65 0,001 adalah 350 orang prajurit TNI jajaran
Tidak perokok 88,74 9,79 KOREM 032/WBR Padang yang
Bekas perokok 90,38 12,49
KVP% prediksi mengikuti latihan uji kenaikan pangkat
Perokok 87,42 11,15 0,015
Tidak merokok 88,57 9,92 175 prajurit TNI dan yang tidak latihan uji
Bekas merokok 86,62 9,02
VEP1% prediksi kenaikan pangkat telah memenuhi kriteria
Perokok 77,88 10,86 0.001
Tidak perokok 84,00 6,23 inklusi. Karakteristik kelompok responden
Bekas perokok 74,38 11,56 (tabel 1). Usia parajurit TNI uji kenaikan
VEP1/KVP%
Perokok 95,99 10,44 0,199 pangkat lebih banyak usia dewasa muda
Tidak perokok 98,30 7,67
Bekas perokok 96,77 9,44 dibandingkan dengan usia tua. Usia
sampel rata-rata 20-57 tahun, dan untuk
menilai samapta.

5
Kemampuan latihan fisik (jarak lari menyatakan frekuensi perokok di
3000 meter dengan durasi latihan lari 6 kelompok militer didunia tergolong tinggi
kali putaran ) dengan menempuh waktu 12 terutama di AS.6 Merokok di kalangan
menit.3 Usia berhubungan dengan proses militer merupakan permasalahan yang
penuaan atau bertambahnya umur. dapat membatasi efisiensi kerja. Penelitian
Semakin tua usia seseorang maka semakin ini menunjukkan bahwa prajurit Korem
besar kemungkinan terjadi penurunan 032/ WBR terdapat 89,7% yang merokok.
fungsi paru. Andersen dkk, mengatakan Hal ini hampir sama frekuensi merokok
bahwa level pengambilan oksigen yang tergolong tinggi pada penelitian
maksimum pada saat latihan, usia sangat sebelumnya. Dengan demikian didapat
berpengaruhi, bahwa nilai kapasitas hasil yaitu terdapat hubungan antara
tertinggi terdapat pada usia 20-30 tahun, kebiasaan merokok pada prajurit bermakna
meningkat setelah melakukan latihan dan secara statistik dengan nilai p < 0,05.
akan menurun dengan bertambahnya usia.4 Penelitian ini menunjukkan bahwa prajurit
Kebiasaan merokok responden Korem 032/ WBR terdapat 89,7% yang
tertinggi pada kelompok perlakuan adalah merokok. Hal ini hampir sama frekuensi
perokok (89,7%). Secara keseluruhan, merokok tergolong tinggi pada penelitian
persentase yang tidak merokok rendah sebelumnya.6
sekali yaitu 6,5%, sedangkan yang bekas Latihan fisik akan mempengaruhi
perokok adalah perokok dan sekarang fungsi paru selama latihan oleh karena
berhenti merokok lebih rendah yaitu 3,7%. terjadi peningkatan penggunaan oksigen
Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan dalam darah. Penilaian fungsi paru setelah
perbedaan persentase tersebut bermakna latihan fisik sering memberikan arti
(p<0,05). klinis.7
Merokok dapat mengakibatkan Kapasitas vital merupakan refleksi
penurunan fungsi paru sehingga terjadi dari kemampuan elastisitas jaringan paru,
perubahan volume ambilan oksigen atau kekakuan pergerakan dinding thoraks.
maksimal, hal ini dapat menurunkan daya Selain nilainya tergantung dari bentuk
kerja jantung paru atau kapasitas latihan. anatomi tubuh, kapasitas vital juga
Kapasitas latihan menentukan kemampuan dipengaruhi oleh posisi seseorang saat
jaringan tubuh terutama otot dalam pengukuran, kekuatan otot-otot pernapasan
pemakaian optimal oksigen yang dan daya compliance paru. Nilai kapasitas
kemudian dipergunakan untuk pria dewasa lebih tinggi 20-25% dari pada
menghasilkan energi.5 Gerstenkorn dkk, wanita dewasa. Hal ini antara lain

6
disebabkan oleh perbedaan kekuatan otot kontrol yang tertuang dalam suatu
pria dan wanita. Besarnya kapasitas vital program latihan dalam waktu tertentu
pada pria dewasa muda ± 4,6 liter dan dapat menjaga serta membentuk suatu
pada wanita dewasa muda ± 3,1 liter. kapasitas vital paru yang cukup optimal.
sedangkan keadaan latihan fisik dapat Hasil penelitian ini cukup membuktikan
menambah 30%-40% dari normal.6 suatu pernyataan bahwa ”volume dan
Stolt dkk, menyatakan denyut kapasitas paru lebih besar pada orang
jantung yang lebih rendah mengakibatkan latihan dan tidak terjadi peningkatan
nilai KVP pada orang yang terlatih dikarenakan kapasitasnya optimal”.6
menjadi lebih tinggi. Denyut jantung dapat
Berdasarkan penelitian diatas pada
mengalami penurunan setelah melakukan
tabel 4,5 kebiasaan merokok memiliki
latihan fisik selama waktu tertentu ini
pengaruh yang besar terhadap nilai
merupakan kompensasi tubuh terhadap
ventilasi paru. Kebiasaan merokok dapat
latihan fisik.8
mempengaruhi kapasitas paru. Merokok
Dari hasil penelitian dari tabel 2
dapat menyebabkan perubahan struktur
analisa data tersebut diketahui bahwa ada
dan fungsi saluran pernapasan dan jaringan
perubahan yang bermakna antara nilai
paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa
sebelum dan sesudah latihan pada nilai
membesar dan kelenjar mucus bertambah
paru yang diuji tersebut. Meskipun
banyak. Pada saluran pernapasan kecil,
perubahan yang terjadi signifikan, namun
terjadi radang ringan hingga penyempitan
pada kelompok ini terjadi sedikit
akibat bertambahnya
peningkatan nilai KV, KVP, VEP1.
Kondisi diatas sangat berbeda dengan Penelitian Eppler,GR, menyatakan
keadaan ventilasi paru pada kelompok kebiasaan merokok merupakan faktor
perlakuan. Setelah melakukan latihan fisik penyerta potensial terjadinya gangguan
secara teratur selama tiga bulan, maka fungsi paru.10 Kebiasaan merokok bukan
diperoleh hasil adaptasi tubuh berupa hanya akan mengurangi tingkat pertukaran
peningkatan kapasitas vital dan aliran oksigen dalam darah, tetapi juga akan
udara pernapasan yang merupakan efek menjadi faktor potensial dari beberapa
adaptasi tubuh terhadap latihan fisik yang penyakit paru. Beberapa penelitian telah
dilakukan secara teratur.8 Hasil ini jelas diakui bahwa ada hubungan antara fungsi
menunjukkan bahwa program latihan yang paru, aktivitas fisik, dan penyakit.11
dilakukan oleh kelompok perlakuan secara Kapasitas vital paru dipengaruhi
teratur, dan berkesinambungan, kelompok oleh kebiasaan berolah raga. Latihan fisik

7
yang dilakukan secara teratur akan 3. Terdapat peningkatan VEP1/KVP
mempengaruhi fungsi paru selama latihan sebelum dan setelah latihan fisik pada
karena terjadi peningkatan penggunaan kelompok perlakuan tapi tidak terdapat
oksigen dalam darah. Latihan fisik secara perbedaan bermakna
teratur akan meningkatkan kekuatan otot 4. Terdapat perbedaan nilai fungsi paru
termasuk didalam nya kekuatan otot (KV, KVP, FEV1 ) sebelum dan
pernapasan. Peningkatan kekuatan otot sesudah melakukan latihan fisik secara
pernapasan akan menghasilkan tekanan pada kelompok perlakuan dan
inspirasi yang cukup untuk melakukan kelompok kontrol tidak ada perubahan
ventilasi maksimum sehingga fungsi perbedaan bermakna.
pernapasan akan meningkat 5. Efek merokok pada latihan pada
terhadap latihan fisik terhadap nilai faal
Lallukka dkk, melakukan
paru terdapat perbedaan bermakna.
penelitian kohort dan menyimpulkan
bahwa merokok dan latihan fisik yang
SARAN
terkait dengan aktivitas fisik yang berat
Pada penelitian ini merokok pada
tidak cukup untuk mengeliminasi efek
nilai VEP1/KVP sesudah dan sesudah
samping merokok terhadap kesehatan
latihan fisik tidak bermakna, namun
lebih rentan terhadap efek dari merokok
bahwa merokok dapat gangguan fungsi
pada fungsi paru.12
paru, serta penyakit paru dan dapat
menghambat aktifitas fisik oleh sebab itu
KESIMPULAN
peneliti menyarankan pada satuan agar
Berdasarkan atas hasil penelitian untuk berhenti merokok.
yang telah dilakukan, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut : DAFTAR PUSTAKA
1. Usia usia sangat berpengaruhi, bahwa
nilai kapasitas tertinggi terdapat pada 1. Plowman SA, Smith DL. Exercise
usia 20-30 tahun, setelah itu kekuatan Physiology For Health Fitness And
Performance; ed 4th . Baltimore,
latihan akan menurun dengan Lippinccot William and Wilkins, a
bertambahnya usia. Wolter Kluwer bussines. 2014
2. Holger J, Schunemann JD, Drydon
2. Pada kelompok kontrol terdapat JB, Grant WW Jr., Maurizio T 2000.
peningkatan nilai faal paru dan berbeda Pulmonary function is a long term
predictor of mortality in the general
bermakna. population: 29 years follow up of the

8
Buffalo Health Study. Chest,118(3): study. BMJ Open. 2015;5(7):e006988.
656-664.. http://dx.doi. org/10.1136/bmjopen-
3. TNI AD (1986) Buku Petunjuk Tehnis 2014-006988
Latihan Kesegaran Jasmani Prajurit
TNI AD.
4. Andersen, R. E. (1999). "Exercise, an
Active Lifestyle, and Obesity. Making
the Exercise Prescription Work."
Physician and Sportsmedicine
5. Shehab M, Abd El Kader 2003.
Aerobik Pelatihan Latihan dan Insentif
Spirometri Can Kontrol Umur paru
Terkait Chang es di Subyek tua.
Banteng. Fac. Ph. Th. Kairo Univ. V
(8): 1-7
6. Suwala M, Gerstenkorn A,
Kaczmarczyk-Chalas K, Drygas W.
Tobacco smoking by elderly people
according to CINDI WHO research.
Przegl Lek. 2005;62(Suppl 3):55–59.
PubMed
7. Goubault, C., et al. Effects of inhaled
salbutamol in exercising non-
asthmatic athletes. Thorax, 2001. 56:
p. 675-9.
8. Guyton AC, Hall JE. Ventilasi Paru
dalam Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran Edisi 11. Jakarta:Penerbit
Buku Kedokteran EGC,2006.p.495-
506.
9. Stolt A, Karjalainen J, Heinonen OJ,
Kujala UM.(2000).‘Left Ventricular
Mass,Geometry,and Filling in Elite
Female and Endurance Athletes’.
Scandinavian Journal of Medicine and
Science in Sports (10); p.28-32
10. Epler, G.R. 2000.Environmental and
Occupational Lung Desease.In
Clinical Overview of Occupation
Lung Desease. Return to
Epler.Columbia.Ferg
11. Jackson C. Initial and experimental
stages of tobacco and alcohol use
during late childhood: relation to peer,
parent, and personal risk factors.
Addict Behav 1997;22:685–698.
12. Lallukka T, Rahkonen O, Lahelma E,
Lahti J. Joint associations of smoking
and physical activity with disability
retirement: a registerlinked cohort