Anda di halaman 1dari 45

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang dilahirkan dengan
berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa usia gestasi
(Depkes RI, 2008). Menurut Pantiwati (2010) menyatakan bahwa Prevalensi
bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di
dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan
90%kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya
35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500
gram.
Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah
dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah
multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2,1%-17,2%. Secara
nasional bedasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5%. Angka
ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program
perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7% (Proverawati
& Sulistyorini 2010).
B. Tujuan
Asuhan keperawatan BBLR ini disusun dengan tujuan sebagai berikut
:
1. Untuk memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif terhadap
klien dan keluarga klien dengan kasus BBLR
2. Untuk menambah referensi dalam pemberian asuhan keperawatan

1
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat
badannya saat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR tidak hanya dapat terjadi
pada bayi prematur, tapi juga pada bayi cukup bulan yang mengalami
hambatan pertumbuhan selama kehamilan (KemenKes RI, 2015).
Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau
sama dengan 2500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO
semua bayi yang lahir dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram
disebut Low Birth Weight Infant (BBLR) karena terdapat dua bentuk
penyebab kelahiran bayi BBLR, yaitu karena usia kehamilan kurang dari 37
minggu (prematur), berat badan lebih rendah dari semestinya, sekalipun
cukup bulan atau karena kombinasi keduanya (Maryanti, dkk 2011).
Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir
dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memperhatikan usia gestasi
(Wong, 2008).

B. Klasifikasi BBLR
Menurut Prawirohardjo ( 2009), berkaitan dengan penanganan dan
harapan hidupnya, bayi berat lahir rendah dibedakan dalam :
a. Bayi berat lahir rendah (BBLR) : berat lahir 1500 - 2500 gram
b. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) : berat lahir < 1500 gram
c. Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) : berat lahir < 1000 gram

Berdasarkan pengertian di atas, Maryanti (2011) menggolongkan bayi


dengan berat badan lahir rendah menjadi 2 golongan sebagai berikut:
a. Prematuritas Murni/Prematur
Adalah neonatus dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan
mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan

2
atau disebut neonutas kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB –
SMK) (Maryanti, dkk, 2011).
Ciri-ciri prematuritas murni:
1) Berat badan kurang dari 2500 gram
2) Panjang badan kurang dari 45 cm
3) Lingkar kepala kurang dari 33 cm
4) Masa gestasi kurang dari 37 minggu
5) Kulit transparan
6) Kepala lebih besar daripada badan
7) Lanugo banyak, terutama pada dahi, pelipis, telinga dan lengan
8) Lemak subkutan kurang
9) Ubun-ubun dan sutura lebar
10) Labio minora belum tertutup oleh labio mayora (pada wanita),
pada laki-laki testis belum turun
11) Tulang rawan dan daun telinga imatur
12) Bayi kecil
13) Posisi masih fetal
14) Pergerakan kurang dan lemah
15) Pernafasan belum teratur dan sering mengalami serangan apnea
16) Reflex tonus leher lemah, reflex menghisap dan menelan serta
refleks batuk belum sempurna.
b. Dismaturitas
Menurut Maryanti (2011), dismatur dapat juga berupa Neonatus Kurang
Bulan-Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB-KMK), Neonatus Cukup
Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NCB-KMK) dan Neonatus Lebih Bulan-
Kecil Masa Kehamilan (NLB-KMK). Dalam Maryanti (2011), bayi
dikatakan dismatur jika memiliki ciri sebagai berikut :
1) Kulit terselubung verniks kaseosa tipis atau tidak ada
2) Kulit pucat atau bernoda meconium
3) Kulit kering keriput tipis
4) Jaringan lemak di bawah kulit tipis
5) Bayi tampak gesit, aktif dan kuat

3
6) Tali pusat berwarna kuning kehijauan

C. Etiologi
Menurut Maryanti, dkk (2011), ada beberapa faktor yang menjadi
etiologi kejadian BBLR:
a. Faktor ibu
1) Penyakit
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya :
perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, DM. Toksemia
gravidarum fan nefritis akut.
2) Usia ibu
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia < 20 tahun dan
multi gravida yang jarak kelahiran terlalu dekat. Kejadian terendah
ialah pada usia antara 26-35 tahun.
3) Keadaan sosial ekonomi
Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas.
Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal
ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan
antenatal yang kurang. Demikian pula kejadian prematuritas pada
bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah, ternyata lebih tinggi
bila dibandingkan dengan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah.
4) Sebab lain, seperti : ibu perokok, ibu peminum alkohol dan pecandu
obat narkotik.
b. Faktor janin
Faktor janin meliputi : hidramnion, kehamilan ganda dan kelainan
kromosom.
c. Faktor plasenta
Faktor plasenta disebabkan oleh: hidramnion, plasenta previa, solutio
plasenta, sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban
pecah dini.
d. Faktor lingkungan
Tempat tinggal di dataran tinggi, radiasi dan zat-zat racun.

4
D. Patofisiologi (Pathway)
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan
yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan
dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi
berat badan (BB) lahirnya lebih kecil dari masa kehamilannya, yaitu tidak
mencapai 2.500 gram. Masalah ini terjadi karena adanya gangguan
pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit
ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan
lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.
Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin
tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan
berat badan lahir normal. Kondisi kesehatan yang baik, sistem reproduksi
normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra
hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih
sehat dari pada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan
kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR,
vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu
menderita anemia.
Ibu hamil umumnya mengalami deplesi atau penyusutan besi sehingga
hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme
besi yang normal. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau
hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia
gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat
bawaan, dan BBLR. Hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan
kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi, sehingga kemungkinan
melahirkan bayi BBLR dan premature juga lebih besar (Nelson, 2010).

5
6
E. Manisfestasi Klinis
Manifestasi klinis yang dapat ditemukan dengan bayi berat lahir rendah
(Mitayani, 2009):
a. Berat badan kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang dari 45 cm,
lingkar dada kurang dari 30 cm, dan lingkar kepala kurang dari 33cm.
b. Masa gestasi kurang dari 37 minggu.
c. Kulit tipis, transparan, lanugo banyak, dan lemak subkutan amat sedikit.
d. Osofikasi tengkorak sedikit serta ubun-ubun dan sutura lebar.
e. Genitalia imatur, labia minora belum tertutup dengan labia mayora.
f. Pergerakan kurang dan lemah, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan
sering mendapatkan serangan apnea.
g. Lebih banyak tidur dari pada bangun, reflek menghisap dan menelan belum
sempurna.

Secara umum, dalam Depkes RI (2008c) disebutkan masalah-masalah


BBLR sebagai berikut:
a. Asfisksia
BBLR bisa kurang, cukup atau lebih bulan, semuanya berdampak pada
proses adaptasi pernafasan waktu lahir sehingga mengalami asfiksia lahir.
BBLR membutuhkan kecepatan dan keterampilan resusitasi.
b. Gangguan nafas
Gangguan nafs yang sering terjadi pada BBLR kurang bulan adalah penyakit
membran hialin, sedangkan pada BBLR lebih bulan adalah aspirasi
mekonium. BBLR yang mengalami gangguan nafas harus segera dirujuk ke
fasilitas rujukan yang lebih tinggi.
c. Hipotermi
Terjadi karena hanya sedikitnya lemak tubuh dan sistem pengaturan suhu
tubuh pada bayi baru lahir belum matang. Metode kanguru dengan “kontak
kulit ke kulit” membantu BBLR tetap hangat.

7
d. Hipoglikemi
Terjadi karena hanya sedikitnya simpanan energi pada bayi baru lahir
dengan BBLR. BBLR membutuhkan ASI sesegera mungkin setelah lahir
dan minum sangat sering (setiap 2 jam) pada minggu pertama.
e. Masalah pemberian ASI
Menjadi masalah karena ukuran tubuh BBLR kecil, kurang energi, lemah,
lambungnya kecil dan tidak dapat mengisap. BLR sering mendapatkan ASI
dengan bantuan, membutuhkan pemberian ASI dalam jumlah yang lebih
sedikit tapi sering. BBLR dengan kehamilan ≥35 minggu dan berat lahir
≥2000 gram umunya bisa langsung menetek.
f. Infeksi
Masalah infeksi pada BBLR karena sistem kekebalan tubuh BBLR belum
matang. Keluarga dan tenaga kesehatan yang merawat BBLR harus
melakukan tindakan pencegahan infeksi antara lain dengan mencuci tangan
dengan baik.
g. Ikterus
Fungsi hati bayi belum matang. BBLR menjadi kuning lebih awal dan lebih
lama dari pada bayi yang cukup beratnya.
h. Masalah perdarahan
Hal ini berhubungan dengan belum matangnya sisten pembekuan darah saat
lahir. Pemberian injeksi vitamin K dengan dosis 1 mg segera sesudah (dalam
6 jam pertama) untuk semua bayi baru lahir dapat mencegah kejadian
perdarahan ini. Injeksi ini dilakukan di paha kiri.

F. Komplikasi BBLR
Komplikasi yang dapat timbul pada bayi dengan berat lahir rendah
(Mitayani, 2009) :
a. Sindrom aspirasi mekonium

8
Sindrom aspirasi mekonium adalah gangguan pernapasan pada bayi baru
lahir yang disebabkan oleh masuknya mekonium (tinja bayi) ke paru-paru
sebelum atau sekitar waktu kelahiran (menyebabkan kesulitan bernafas pada
bayi).
b. Hipoglikemi simptomatik
Hipoglikemi adalah kondisi ketidaknormalan kadar glokosa serum yang
rendah. Keadaan ini dapat didefinisikan sebagai kadar glukosa dibawah 40
mg/dL. Hipoglikemi sering terjadi pada BBLR, karena cadangan glukosa
rendah ,terutama pada laki-laki.
c. Penyakit membran hialin yang disebabkan karena membran surfaktan belum
sempurna atau cukup, sehingga alveoli kolaps. Sesudah bayi mengadakan
aspirasi, tidak tertinggal udara dalam alveoli, sehingga dibutuhkan tenaga
negative yang tinggi untuk pernafasan berikutnya.
d. Asfiksia neonatorum
Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas
secara spontan dan teratur segera setelah lahir.
e. Hiperbilirubinemia (gangguan pertumbuhan hati)
Hiperbilirubinemia (ikterus bayi baru lahir) adalah meningginya kadar
bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler, sehingga kulit, konjungtiva,
mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning.

G. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik pada bayi BBLR (Mitayani, 2009):
a. Jumlah darah lengkap: penurunan pada Hb (normal: 12-24gr/dL), Ht (normal:
33 -38% ) mungkin dibutuhkan.
b. Dektrosik: menyatakan hipoglikemi (normal: 40 mg/dL).
c. Analisis Gas Darah (AGD): menentukan derajat keparahan distres pernafasan
bila ada.
Rentang nilai normal:
pH : 7,35-7,45

9
TCO2 : 23-27 mmol/L
PCO2 : 35-45 mmHg
PO2 : 80-100 mmHg
Saturasi O2 : 95 % atau lebih
d. Elektrolit serum: mengkaji adanya hipokalsemia.
e. Bilirubin: mungkin meningkat pada polisitemia.
Bilirubin normal: bilirubin indirek 0,3 – 1,1 mg/dl dan bilirubin direk 0,1 –
0,4 mg/dl.
f. Urinalisis: mengkaji homeostatis.
g. Jumlah trombosit (normal: 200000 - 475000 mikroliter): Trombositopenia
mungkin menyertai sepsis.
h. EKG, EEG, USG, angiografi: defek kongenital atau komplikasi.

H. Perawatan BBLR
a. Pemberian Nutrisi
Pemberian ASI pada bayi prematur sehat
Kemampuan bayi untuk menyusu bergantung pada kematangan fungsi refleks
hisap dan menelan. Bayi dengan usia kehamilan ibu di atas 34 minggu (berat
di atas 1800 gram) dapat disusukan langsung kepada ibu karena refleks hisap
dan menelannya biasanya sudah cukup baik. Bayi yang usia kehamilan ibu 32
minggu hingga 34 minggu (berat badan 1500-1800 gram) seringkali refleks
menelan cukup baik, namun refleks menghisap masih kurang baik, oleh
karena itu, Ibu dapat memerah ASI dan ASI dapat diberikan dengan
menggunakan sendok, cangkir, atau pipet. Jika bayi lahir dengan usia
kehamilan ibu kurang dari 32 minggu (berat badan 1250-1500 gram), bayi
belum memiliki refleks hisap dan menelan yang baik, maka ASI perah
diberikan dengan menggunakan pipa lambung/orogastrik (sonde). Gambaran
klinis yang dapat dijadikan acuan bahwa bayi prematur dapat mulai diberikan
asupan nutrisi oral yaitu jika didapatkan: bayi dapat menoleransi pemberian
nutrisi oral bolus, stabil fisiologinya, fungsi respirasi stabil, terdapat non-

10
nutritive sucking yang ritmis dan usia kehamilan sekurangnya antara 32-34
minggu (IDAI, 2013).

Pemberian ASI pada bayi prematur sakit


Bayi lahir prematur seringkali disertai masalah kesehatan. Bayi prematur
sakit berat mungkin belum dapat minum (nutrisi enteral) sehingga perlu
diberikan nutrisi melalui infus (nutrisi parenteral). Bayi yang lahir dengan
berat lahir di bawah 1250 gram dengan permasalahan medis, mungkin perlu
mendapat pemberian nutrisi parenteral selama 24 sampai 48 jam pertama,
kemudian diberikan trophic feeding 10 mL/kgBB/24 jam. Jika bayi sudah
dapat menoleransi pemberian minum, maka jumlah minum dapat dinaikkan
sambil menurunkan pemberian nutrisi parenteral (IDAI, 2013).

b. Thermoregulasi
Beberapa cara penghangatan dan mempertahankan suhu tubuh bayi dapat
dilakukan melalui:
1) Kangaroo Mother Care atau kontak kulit dengan kulit antara bayi dengan
ibunya.
2) Pemancar pemanas
3) Ruangan yang hangat
4) Inkubator (Kosim Sholeh, 2012).

c. Dukungan respirasi
Tujuan utama dalam asuhan bayi risiko tinggi adalah mencapai dan
mempertahankan respirasi. Bayi berat lahir rendah mempunyai risiko
mengalami defisiensi surfaktan dan periodik apneu. Dalam kondisi seperti ini
diperlukan pembersihan jalan nafas, merangsang pernafasan, diposisikan
miring untuk mencegah aspirasi, posisikan tertelungkup jika mungkin, karena
posisi ini menghasilkan oksigenasi yang lebih baik, dan terapi oksigen
diberikan berdasarkan kebutuhan dan penyakit bayi.

11
d. Pencegahan Infeksi
Pada BBLR, imunitas seluler dan humoral masih kurang sehingga sangat
rentan terhadap penyakit. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk
mencegah infeksi, yaitu:
1) Semua orang yang akan mengadakan kontak dengan bayi harus cuci
tangan terlebih dahulu.
2) Peralatan yang digunakan dalam asuhan bayi harus dibersihkan secara
teratur. Ruang perawatan bayi juga harus dijaga kebersihannya.
3) Petugas dan orang tua yang memiliki penyakit infeksi tidak boleh
memasuki ruang perawatan bayi sampai mereka dinyatakan sembuh atau
disyaratkan agar memakai alat pelindung seperti masker ataupun sarung
tangan untuk mencegah penularan.

I. Prognosa
Winknjosastro (2008) menyebutkan bahwa prognosis bayi BBLR
tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa gestasi (makin
muda masa gestasi/makin rendah berat bayi, makin tinggi angka kematian),
asfiksia/iskemia otak, sindroma gangguan pernafasan, perdarahan
intraventrikuler, displasia bronkopulmonal, retrolental fibriplasia, infeksi,
gangguan metabolik (asidosis, hipoglikemia, hiperbilirubinemia). Prognosis ini
juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi, pendidikan orangtua dan perawatan
pada saat kehamilan, persalinan dan post natal.

J. Pengkajian Keperawatan
Pada saat kelahiran bayi baru harus menjalani pengkajian cepat namun
seksama untuk menentukan setiap masalah yang muncul dan mengidentifikasi
masalah yang menuntut perhatian yang cepat. Pemeriksaan ini terutama
ditujukan untuk mengevaluasi kardiopulmonal dan neurologis. Pengkajian

12
meliputi penyusunan nilai APGAR dan evaluasi setiap anomaly congenital yang
jelas atau adanya tanda gawat neonatus (Wong, 2008).
a. Pengkajian umum
1) Timbang bayi tiap hari, atau lebih bila ada permintaan dengan
menggunakan timbangan elektronik
2) Ukur panjang badan, dan lingkar kepala secara berkala
3) Kaji bentuk dan ukuran tubuh secara umum, postur saat istirahat,
kemudian bernafas, dan adanya lokasi edema
4) Observasi adanya deformitas yang tampak
5) Observasi setiap tanda kegawatan, warna yang buruk, hipotonia, tidak
responsive, dan apnea.
b. Pengkajian respirasi
1) Observasi bentuk dada (barrel, konkaf), simetri, adanya insisi, selang
dada, atau devisiasi lainnya
2) Observasi adanya penggunaan otot penapasan tambahan cuping hidung
atau retraksi substernal, interkostal atau subklavikular
3) Tentukan frekuensi pernapasan dan keteraturannya
4) Lakukan auskultasi dan jelaskan suara napas (stridor, krepitasi, mengi,
suara basah berkurang, daerah tanpa suara, grunting), berkurangnya
masukan udara, dan kesamaan suara napas
5) Tentukan apakah diperlukan pengisapan.
c. Pengkajian kardiovaskuler
1) Tentukan denyut jantung dan iramanya
2) Kaji bunyi jantung, termasuk adanya bising
3) Tentukan titik intensitas maksimal (point of maximum intensity/ PMI),
titik ketika bunyi denyut jantung paling keras terdengar dan teraba
(perubahan PMI menunjukkan adanya pergeseran imediastinum)
4) Kaji warna kulit bayi (bisa karena gangguan jantung, respirasi atau
hematopoetik), sianosis pucat, plethora, jaundis, dan bercak-bercak
5) Kaji warna dasar kuku, membran mukosa, dan bibir

13
6) Tentukan tekanan darah, dan tunjukkan ekstermitas yang dipakai.
d. Pengkajian gastrointestinal
1) Tentukan adanya distensi abdomen, adanya edema dinding abdomen,
tampak pelistaltik, tampak gulungan usus, dan status umbilicus
2) Tentukan adanya tanda regurgitasi dan waktu yang berkaitan dengan
pemberian makanan, karakter dan jumlah residu jika makanan keluar,
jika terpasang selang nasogasrtik, jelaskan tipe penghisap, dan haluaran
(warna, konsistensi, pH)
3) Palpasi batas hati (3 cm dibawah batas kosta kanan)
4) Kaji jumlah, warna, dan konsistensi feses, periksa adanya darah
5) Kaji bising usus.
e. Pengkajian genitourinaria
1) Kaji setiap abnormalitas genitalia
2) Kaji jumlah (dibandingkan dengan berat badan), warna pH, temuan lab-
stick, dan berat jenis urine (untuk menyaring kecukupan hidrasi)
3) Periksa berat badan (pengukuran yang paling akurat dalam mengkaji
hidrasi).
f. Pengkajian neurologis-muskuloskeletal
1) Kaji gerakan bayi, kejang, kedutan, tingkat aktivitas terhadap rangsang,
dan evaluasi sesuai masa gestasinya
2) kaji posisi bayi atau perilakunya (fleksi, ekstensi)
3) Kaji refleks yang ada (moro, rooting, sucking, plantar, tonick neck,
palmar)
4) Tentukan tingkat respons dan kenyamanan.
g. Pengkajian kulit
1) Kaji adanya perubahan warna, daerah yang memerah, tanda iritasi,
melepuh, abrasi, atau daerah terkelupas, terutama dimana peralatan
pemantau infus atau alat lain bersentuhan dengan kulit. Periksa juga dan
catat preparat kulit yang dipakai (missal plester, povidone-jodine)

14
2) Tentukan tekstur dan turgor kulit kering, lembut, bersisik, terkelupas dan
lain-lain
3) Kaji adanya ruam, lesi kulit, atau tanda lahir
4) Kaji suhu kulit dan aksilar.

K. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan immaturitas neurologis
b. Hipotermia berhubungan dengan berat badan ekstrem, kurang suplai lemak
subkutan, peningkatan area permukaan tubuh terhadap rasio berat badan
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
faktor biologis
d. Risiko infeksi

L. Intervensi keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
1. Ketidakefektifan Status Pernapasan Monitor Pernapasan
pola napas Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor kecepatan, irama,
berhubungan keperawatan selama 1x20 kedalaman dan kesulitan
dengan imaturitas menit, bayi tidak mengalami bernapas
neurologis masalah dalam pola napas 2. Monitor suara napas tambahan
dengan kriteria hasil: 3. Monitor pola napas
1. Frekuensi pernafasan 4. Monitor saturasi oksigen
dari skala 4 (deviasi 5. Kaji perlunya penyedotan pada
ringan dari kisaran jalan napas dengan auskultasi
normal) ke skala 5 (tidak suara napas ronki di paru
ada deviasi dari kisaran 6. Berikan resusitasi jika
normal) diperlukan
2. Irama napas dari skala 4 7. Berikan bantuan terapi napas
(deviasi ringan dari jika diperlukan
kisaran normal) ke skala
5 (tidak ada deviasi dari Pengaturan posisi
kisaran normal) 8. Posisikan bayi untuk
3. Saturasi oksigen skala 4 mengurangi dyspnea
(deviasi ringan dari 9. Monitor status oksigenasi
kisaran normal) ke skala sebelum dan setelah perubahan
5 (tidak ada deviasi dari posisi
kisaran normal)

15
4. Retraksi dinding dada Manajemen Obat
skala 4 (deviasi ringan 10. Tentukan obat apa yang
dari kisaran normal) ke diperlukan, dan kelola menurut
skala 5 (tidak ada deviasi resep
dari kisaran normal) 11. Monitor bayi mengenai efek
5. Suara auskultasi nafas terapeutik obat
skala 4 (deviasi ringan 12. Monitor efek samping obat
dari kisaran normal) ke
skala 5 (tidak ada deviasi
dari kisaran normal)
2. Hipotermia Termoregulasi: bayi baru Perawatan Hipotermia
berhubungan lahir 1. Monitor warna dan suhu kulit
dengan berat Setelah dilakukan tindakan bayi
badan ekstrem, keperawatan selama 1x20 2. Bebaskan bayi dari lingkungan
kurang suplai menit, bayi tidak mengalami yang dingin
lemak subkutan, hipotermia dengan kriteria 3. Tempatkan pada posisi supine
peningkatan area hasil: 4. Minimalkan stimulasi pada
permukaan tubuh 1. Hipotermia skala 4 bayi
terhadap rasio (ringan) ke skala 5 (tidak 5. Berikan pemanas pasif
berat badan ada) (selimut, penutup kepala, dan
2. Napas tidak teratur skala pakaian hangat)
skala 4 (ringan) ke skala 6. Berikan pemanas eksternal
5 (tidak ada) aktif (lampu radiasi, dll)
3. Takipnea skala 4 7. Monitor adanya tanda gejala
(ringan) ke skala 5 (tidak yang berhubungan dengan
ada) hipotermia ringan (takipnea,
4. Perubahan warna kulit dysarthria, mengigil dan
skala 4 (ringan) ke skala diuresis), hipotermia berat
5 (tidak ada) (olguria, tidak ada refleks
neurologi, edema paru, dan
ketidaknormalan asam basa)

3. Ketidakseimbang Status nutrisi bayi Bantuan peningkatan berat badan


an nutrisi kurang Setelah dilakukan tindakan 1. Timbang bayi pada jam yang
dari kebutuhan keperawatan selama 3x24 sama setiap hari
tubuh jam, nutrisi bayi membaik 2. Berikan nutrisi yang sesuai
berhubungan dengan kriteria hasil : dengan instruksi dokter
dengan faktor 1. Intake nutrisi skala 3 3. Gambarkan dalam grafik
biologis (cukup adekuat) ke skala 4 kenaikan berat badan bayi dan
(sebagian besar adekuat buat rencana yang sesuai
2. Perbandingan berat/ tinggi
skala 3 (cukup adekuat) ke Konseling lakstasi
skala 4 (sebagian besar 4. Berikan informasi mengenai
adekuat) manfaat menyusui baik

16
3. Hidrasi skala 3 (cukup fisiologis maupun psikologis
adekuat) ke skala 4 5. Monitor kemampuan bayi
(sebagian besar adekuat) menghisap
4. Intake cairan parenteral 6. Ajarkan teknik menyusui yang
skala 4 (sebagian besar baik dan benar
adekuat) ke skala 5 7. Diskusikan cara untuk
(sepenuhnya adekuat) memfasilitasi kelancaran ASI
(teknik relaksasi, pijatan
payudara dan lingkungan yang
tenang)
8. Informasikan mengenai
perbedaan antara hisapan yang
memberikan nutrisi dan yang
tidak memberikan nutrisi

4. Risiko infeksi Kontrol Risiko Kontrol infeksi


Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji tanda-tanda terjadinya
selama 1x24 jam, masalah infeksi (Hasil Lab, dll)
teratasi dengan kriteria hasil: 2. Lakukan pencucian tangan
1. Bayi bebas dari tanda dan pada 5 momen
gejala infeksi 3. Lakukan tindakan pencegahan
2. Jumlah leukosit dalam infeksi dengan melakukan
batas normal (4.300- tindakan secara aseptik
10.800/mm3) 4. Batasi jumlah pengunjung
5. Anjurkan pengunjung untuk
mencuci tangan pada saat
memasuki dan meninggalkan
ruangan pasien
6. Tingakatkan intake nutrisi
yang tepat
7. Dorong intake cairan yang
sesuai
8. Berikan terapi antibiotic yang
sesuai
9. Berikan imunisasi yang sesuai
10. Ajarkan keluarga mengenai
tanda dan gejala infeksi dna
kapan harus melaporkan
kepada penyedia perawatan
kesehatan
11. Ajarkan keluarga mengenai
bagaimana menghindari
infeksi

17
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Kelompok :D
Tempat praktek : Ruang Bayi RS.Dr. H.Moch.Ansari Saleh
Banjarmasin
Tanggal : 05 April s/d 07 April 2018

I. IDENTITAS DATA
Nama : Bayi Ny. K
Tempat/tanggal lahir : 22 Maret 2018
Nama Ayah/lbu : Tn. HD (34 tahun)/ Ny. H (32 tahun)
Pekerjaan Ayah : Swasta
Pendidikan Ayah : SMK
Pekerjaan lbu : Swasta
Pendidikan. Ibu : SMA
Alamat / No. Telpon : Jl. Batu Safir 11 Sei Andai RT 49
Kultur : Banjar
Agama : Islam
Diagnosa : BBLR
Usia : 13 hari
II. Keluhan Utama
Pada tanggal 22 Maret 2018, Tn. HD mengatakan bahwa bayinya sesak napas
III. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ny. K melakukan persalinan kemudian bayi langsung masuk ruang bayi untuk
mendapatkan penanganan lebih lanjut karena kondisi bayi yang sesak nafas dan
berat badan lahir rendah.
IV.Riwayat Kehamilan & kelahiran
1. Prenatal
 Jumlah Kunjungan = Tidak terkaji
 Bidan/ dokter = Tidak terkaji
- Penkes yang didapat = tidak ada penkes yang didapat
- HPHT = Tidak terkaji
- Kenaikan BB selama Hamil = 6 kg
- Komplikasi kehamilan = perlengketan plasenta
- Komplikasi obat = tidak ada
- Obat-obatan yang didapat = tidak ada

18
- Riwayat hospitalisasi = tidak ada
- Golonplan darah ibu = Tidak terkaji
- Pemeriksaan kehamilan /Maternal screening
( ) Rubella ( ) Hepatitis ( ) CMV ( ) GO ( ) Herpes
( ) HIV
( ) lain-lain; tidak ada pemeriksaan saat kehamilan
2. Natal
 Awal persalinan = 6 Jam
 Lama persalinan = 30 menit
 Komplikasi Persalinan = Prematur 23-34 minggu dengan perlengketan
plasenta
 Terapi yang diberikan =Injeksi Neo K (IM), Gentamisin ( salep mata)
 Cara Melahirkan =
(  ) Pervaginam ( ) Caesar
( ) Lain-lain, lahir Spontan dengan letak Bokong
3. Post natal
-Usaha nafas = (  ) dengan bantuan nasal kanul
( ) tanpa bantuan
-Kebutuhan resusitasi =
 jenis dan lamanya dari 1 dan 5 menit
 skor Apgar

APGAR Menit 1 Menit 2 Menit 3


Appearance 1 1 1
Pulse 1 1 1
Grimace 0 0 1
Activity 1 1 1
Respiration 0 1 1
Total 3 4 5

 Obat-obatan yang diberikan pada neonates = Injeksi Neo K (IM),


Gentamisin salep mata
 Interaksi orang tua dan bavi
 Kualitas = Baik
 Lamanya = 30 menit setiap kali berkunjung
 Trauma lahir = ( ) ada ( ) tidak
 Narkosis = ( ) ada (  ) tidak
 Keluarnya urin/bab ada = (  ) ada ( ) tidak

19
 Respon fisiologis atau perilaku yang bermakna : Tidak ada

IV . R IW A Y AT K E LU A R GA
Ny. K tidak mengetahui keluarganya ada yang mengalami penyakit
keturunan atau penyakit menular.

GENOGRAM

Keterangan :
= laki-laki = menikah

= perempuan = meninggal

V. RIWAYAT SOSIAL
1. Sistem pendukung/ keluarga terdekat yang dapat dihubungi :
Orang tua dari bayi yaitu Tn. HD dan Ny. K
2. Hubungan orang tua & bayi :
Ibu Ayah
Tidak dapat memeluk Memeluk Tidak dapat memeluk
karena bayi dalam karena bayi dalam
inkubator dan ibu inkubator
mengatakan tidak
berani untuk
mengendong
Sering tampak Berbicara Sering tampak mengajak
mengajak anaknya anaknya berbicara
berbicara
Sering berkunjung Berkunjung Sering berkunjung dalam
dalam satu hari selalu satu hari selalu ada
ada menemani istrinya

20
Tampak Ny. H sering Kontak mata Tampak Tn. HD sering
menatap bayinya menatap bayinya
Tampak Ny. NR Menyentuh Tampak Tn.HD
menyentuh tangan menyentuh bayinya
bayinya

3. Anak yang lain


Jenis Kelamin anak Riwayat Persalinan Riwayat Imunisasi
Laki-laki (15 tahun) Normal Lengkap
Perempuan (7 tahun ) Normal Lengkap
4. Lingkungan rumah
Ny. K mengatakan dia tinggal bersama suami dan anaknya di sebuah rumah
5. Problem sosial yang penting
( ) Kurangnya Sistem pendukung social = tidak ada
( ) Perbedaan bahasa = tidak ada
( ) Riwayat penyalahgunaan zat adiktif & obat-obatan ) =tidak ada
( ) Lingkungan rumah yang kurang memadai = tidak ada
( ) Keuangan = BPJS
( ) Lain-lain, sebutkan
ibu bayi sangat khawatir dengan keadaan bayinya

VI. KEADAAN KESEHATAN SAAT INI


1. Diagnosa medis
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
2. Tindakan Operasi
Bayi. Ny. K Belum pernah dilakukan tindakan operasi
3. Status Nutrisi
Pemberian ASI 11 cc/3 jam via OGT
Cek residu berwarna putih susu
4. Status Cairan
Terpasang infus di D10 % 8 Tpm
5. Obat- obatan
Injeksi Ampicilin 2 x 100 mg
Injeksi Gentamisin 1 x40 mg
6. Aktivitas
Bayi merintih lemah, Gerakan tangan dan kaki lemas
7. Tindakan Keperawatan Yang telah dilakukan
Pada pengkajian tanggal 03 April 2018 tindakan keperawatan yang telah
dilakukan oleh perawat ruangan adalah :

21
a. Merubah posisi tiap 3 jam
b. Memasang OGT dan pemberian PASI via OGT
c. TTV tiap 1 jam
d. Pemasangan Infus
e. Personal hygiene tiap jam 08.00 wita, diseka, diganti baju dan di ganti
popok bayi.
f. Pemberian O2 nasal kanul 5 Lpm

8. Hasil Laboratorium
WBC :12.5 x 10 ^3/uL
Lymph # : 2.9 x 10 ^3/uL
Mid# : 1.2 x 10 ^3/uL
Gran# :8.4 x 10 ^3/uL
Lymph % :22.8 %
Mid% :10.1%
Gran% :67.1%
HGB :21.7 α/dl
RBC :5.60 x 10 ^6/uL
HCT :63.2%
MCV :112 fL
MCH ;38.7
MCHC :34.3
RDW-CV :16.8%
RDW-SP :68.1 fL
PLT :304 x 10 ^3/uL
MPV :8.1 fL
PDW :15.2
PCT :0.246%

9. Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada pemeriksaan penunjang lainnya.

VII. PEMERIKSAAN FISIK


-Keadaan umum = lemah
-Kesadaran = compos mentis
-Tanda Vital = Nadi : 120 x/ menit Suhu : 36.5 0C
RR 45 x/ menit (dengan O2 nasal kanul 5 Lpm) Saturasi = 90%

22
Saat lahir Saat ini
Berat badan 1550 gram 1600 gram
Panjang badan 46 cm 46 cm
Lingkar kepala 30 cm 30 cm
Lingkar Dada 23 cm 23 cm

Beri tanda (cek) pada istilah yang tepat dari data - data dibawah ini.
Gambarkan semua temuan abnormal secara obyektif, gunakan kolom
komentar berikut:
1. Refleks
(  ) Moro (  ) Menggenggam = lemah ( ) Mengisap = lemah
2. Tonus /aktivitas
( )Aktif ( √ ) Tenang ( ) letargi ( ) Kejang
( ) Menangis keras (√ ) Lemah ( ) Melengking
( ) Sulit menangis
3. Kepala / leher
a. Fontanel anterior
( ) Lunak ( ) Tegas ( ) Datar ( ) Menonjol
( ) Cekung
b. Sutura sagitalis
( ) Tepat ( ) Terpisah ( ) Menjauh
c. Gambaran wajah (  ) Simetris ( ) Asimetris

d. M o l d i n g ( ) Caput succedaneum ( ) Chepalohematoma

4. Mata ( ) bersih ( ) Sekresi = tidak ada


5. THT :
a. Telinga (  ) Normal ( )Abnormal
b. Hidung ( ) Bilateral ( )Obstruksi
( )Cuping Hidung
c. Palatum (  ) Normal ( ) abnormal
6. Abdomen
a. (  ) Lunak ( ) Tegas ( ) Datar ( ) Kembung
b. Lingkar perut : cm
c. Liver : (  ) kurang dari 2 cm ( ) Lebih dari 2 cm
7. Toraks
a. (  ) simetris ( ) asimetris
b. Retraksi : ( ) derajat I ( ) derajat 2 ( ) derajat 3

23
c. Klavikula : (  ) Normal ( ) abnormal
8. Paru- paru
a. Suara nafas : ( ) sama kanan kiri ( ) tidak sama kanan kiri
( ) bersih ( ) ronchi ( ) rales ( ) secret

b. Bunyi napas (  ) terdengar pada semua lapang paru


( ) menurun
( ) tdk ada
c. Respirasi
( ) Spontan, Jumlah : - 60 x/menit
( ) nasal kanul/boxhead, Jumlah : 5 LPM
( ) ventilasi assisted CPAP

9. Jantung
a. Bunyi Normal Sinus Rytrm. (NS R), jumlah x/mnt saat tidur
Mur- mur : tidak ada

b. Waktu pengisian kapasitas :


Batang tubuh = > 2 detik
Ekstrimitas = > 2 detik
c. Nadi perifer
Kuat Lemah Tidak ada
Brakhial -kanan - - 
Brakhial – kiri - - 
Femoral - kanan - - 
Femoral – kiri - - 

10. Ekstrimitas
(  ) semua ekstremitas bergerak = tetapi lemah ( ) ROM terbatas ( )
tidak dapat dikaji

Ekstremitas atas & bawah (  ) Simetris( ) Asimetris

11. Umbilikus
( ) Normal ( ) Abnormal
( ) Inflamasi ( ) Drainase
12. Genital ( ) Perempuan (  ) Laki-laki normal ( ) ambivalen
13. Anus (  ) Paten ( ) Imperforata
14. Spina (  ) Normal ( ) Abnormal

24
15. Kulit
a. Warna ( ) Pink ( ) Pucat ( ) Jaudice
(  ) Rash/ kemerahan ( ) Tanda lahir
16. Suhu
a. Lingkungan
( ) Penghangat radian ( ) Pengaturan suhu
(  ) Inkubator ( ) suhu ruang ( ) Boks terbuka
0
b. Suhu kulit : 36.5 C dengan termometer axila

VIII PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN/ REFLEKS PRIMITIF


1. Dancing (berjalan): tidak dapat terkaji
2. Babinski: positif
3. Tonic neck: tidak dapat terkaji
4. Moro: postif ( terkejut)
5. Swallowing : ada
6. Gagging : tidak dapat terkaji
7. Sneing and couging : ada bersin
8. Extrusion : tidak dapat terkaji

X. RINGKASAN RIWAYAT KEPERAWATAN

Pada tanggal 22 Maret 2018 lahir seorang bayi dari ibu Ny. K dengan usia kehamilan
33-34 minggu bayi lahir spontan letang bokong langsung menangis dengan BB 1550
gram, PB 46 cm, LK 30 cm 15 menit kemudian bayi tidak menangis dan sesak napas
kemudian Bayi dibawa ke RS Dr. H. Moch ANSARI SALEH pada tanggal 22 maret
2018. Tindakan Keperawatan yang telah dilakukan pada pengkajian tanggal 03 April
2018 oleh perawat ruangan adalah merubah posisi tiap 3 jam, memasang OGT dan
pemberian pasi via ogt ttv tiap 1 jam, pemasangan infus, personal hygiene tiap jam
08.00 wita, diseka, diganti baju dan di ganti popok bayi, serta pemberian o2 headbox.

25
XI ANALISIS DATA
DATA MASALAH ETIOLOGI
DS: Ketidakefektifan Imaturitas
- Tn HD (bapak bayi) mengatakan bahwa Pola Napas Neurologis
bayinya sesak napas
DO:
1. Usia gestasi bayi adalah 33-34
minggu
2. Berat badan 1600 gram
3. Panjang badan 46 cm
4. Lingkar kepala 30 cm
5. Apgar skor 3, 4, 5
6. RR: 45 x/menit dengan O2 nasal
canul 5 lpm
7. Terlihat adanya retraksi dinding
dada pada saat bayi bernapas
8. Frekuensi napas irregular
9. Bayi tampak bernapas dalam dan
cepat
DS: - Ketidakefektifan Prematuritas
DO: Pola Makan Bayi
1. Usia gestasi bayi adalah 33-34
minggu
2. Berat badan 1600 gram
3. Panjang badan 46 cm
4. Lingkar kepala 30 cm
5. Bayi tampak tidak menunjukkan
refleks menghisap yang efektif
Faktor Resiko: Risiko
1. Usia gestasi bayi adalah 33-34 Hipotermia
minggu
2. Berat badan 1600 gram
3. Aktivitas bayi tampak lemah
4. Kulit bayi tampak keriput dan kering
5. Kulit bayi tampak transparan dan
tipis
6. Temperatur: 36.5⁰C

26
Faktor Resiko: Resiko aspirasi
1. Usia gestasi bayi adalah 33-34
minggu
2. Berat badan 1600 gram
3. Aktivitas bayi tampak lemah
4. Bayi tampak tidak menunjukkan
refleks menghisap yang efektif

27
RENCANA KEPERAWATAN
No. Diagnosis Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Keperawatan
1. Ketidakefektifan Pola Napas Setelah dilakukan tindakan Monitor Pernafasan:
b.d Imaturitas Neurologis keperawatan selama proses 1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernafas
keperawatan 1 x 6 jam 2. Catat pergerakan dada, catat ketidaksimetrisa, penggunaan otot-
diharapkan pola nafas menjadi otot bantu nafas
efektif. 3. Monitor pola nafas
4. Monitor saturasi oksigen
Kriteria hasil : 5. Posisikan pasien miring ke samping, sesuai indikasi.
1. Frekuensi pernafasan 6. Berikan bantuan terapi nafas jika diperlukan
(Deviasi ringan dari kisaran Pengaturan posisi
normal : 4)
2. Saturasi oksigen (tidak ada 1. Posisikan bayi untuk mengurangi dyspnea
deviasi dari kisaran normal : 2. Monitor status oksigenasi sebelum dan setelah perubahan posisi
5)
Mengantuk (ringan : 4)
Manajemen Obat
1. Tentukan obat apa yang diperlukan, dan kelola menurut resep
2. Monitor bayi mengenai efek terapeutik obat
3. Monitor efek samping obat

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Keperawatan


2. Ketidakefektifan Pola Makan Setelah dilakukan tindakan Breastfeeding assistance
Bayi b.d Prematuritas keperawatan selama proses 1. Fasilitasi kontak ibu dengan bayi sawal mungkin (maksimal 2 jam
keperawatan 1 x 6 jam setelah lahir )
diharapkan pola makan menjadi 2. Monitor kemampuan bayi untuk menghisap

28
efektif : 3. Dorong orang tua untuk meminta perawat untuk menemani saat
menyusui sebanyak 8-10 kali/hari
1. Breastfeeding Estabilshment 4. Sediakan kenyamanan dan privasi selama menyusui
: infant 5. Monitor kemampuan bayi untukmenggapai putting
2. Knowledge : breastfeeding 6. Dorong ibu untuk tidak membatasi bayi menyusu
3. Breastfeeding Maintenance 7. Monitor integritas kulit sekitar putting
8. Instruksikan perawatan putting untukmencegah lecet
9. Diskusikan penggunaan pompa ASI kalau bayi tidakmampu
Kriteria Hasil :
menyusu
1. Klien dapat menyusui
10. Monitor peningkatan pengisian ASI
dengan efektif
11. Jelaskan penggunaan susu formula hanya jika diperlukan
2. Memverbalisasikan tehnik
12. Instruksikan ibu untuk makan makanan bergizi selama menyusui
untk mengatasi masalah
13. Dorong ibu untuk minum jika sudah merasa haus
menyusui
14. Dorong ibu untuk menghindari penggunaan rokok danPil KB
3. Bayi menandakan kepuasan
selama menyusui
menyusu
15. Anjurkan ibu untuk memakai Bra yang nyaman, terbuat dari cootn
4. Ibu menunjukkan harga diri
dan menyokong payudara
yang positif dengan
menyusui

No. Diagnosis Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Keperawatan


3. Resiko Hipotermia Setelah dilakukan tindakan Pengkajian
keperawatan selama proses 1. Catat nilai dasar TTV
keperawatan 1 x 3 jam 2. Lakukan pemantauan jantung pada pasien
diharapkan hipotermia tidak 3. Gunakan thermometer rentang rendah, bila perlu
4. Kaji gejala hipotermia
5. Kaji kondisi medis yang dapat menyebabkan hipotermia

29
terjadi
Regulasi suhu
Batasan karakteristik : 1. Pasang alat pantau inti suhu tubuh kontinu, jika perlu
1. Kulit dingin 2. Pantau suhu paling sedikit 2 jam sekali, jika perlu
2. Bantalan kuku sianosis
3. Hipertensi
4. Pucat Penyuluhan untuk pasien dan keluaraga tentang regulasi suhu
5. Merinding 1. Ajarkan kepada pasien khususnya pasien usia lanjut tindakan
6. Penurunan suhu tubuh
dibawah normal untuk mencegah hipotermi akibat terpajan suhu dingin
7. Menggigil 2. Ajarkan indikasi hipotermia dan tindakan kedaruratan yang
8. Pengisian kapiler lambat diperlukan, jika perlu
9. Takikardi

4. Resiko aspirasi NOC : Aspiration precaution


1. Monitor tingkat kesadaran, reflek batuk dan kemampuan menelan
1. Respiratory status : 2. Monitor status paru pelihara jalan nafas
ventilation 3. Lakukan suction jika diperlukan
2. Aspiration control 4. Cek nasogastrik sebelum makan
3. Swallowing status 5. Hindari makan kalau residu masih banyak
6. Potong makanan kecil-kecil
7. Haluskan obat sebelum pemberian
8. Posisi tegak 90 derajat atau sejauh mungkin
Kriteria Hasil : 9. Jauhkan manset trakea meningkat
10. Jauhkan pengaturan hisap yang tersedia
1. Klien dapat bernafas dengan 11. Periksa penempatan tabung NG atau gastrostomy sebelum
mudah, tidak irama, menyusui

30
frekuensi pernafasan normal 12. Periksa tabung NG atau gastrostomy sisa sebelum makan
2. Pasien mampu menelan, 13. Hindari makan, jika residu tinggi tempat “pewarna” dalam tabung
mengunyah tanpa terjadi pengisi NG
14. Hindari cairan atau menggunakan zat pengental
aspirasi, dan mampu
15. Penawaran makanan atau cairan yang dapat dibentuk menjadi
melakukan oral hygine bolus sebelum menelan
3. Jalan nafas paten, mudah 16. Potong makanan menjadi potongan-potongan kecil
bernafas, tidak merasa 17. Istirahat atau menghancurkan pil sebelum pemberian
tercekik dan tidak ada suara
nafas abnormal

31
TINDAKAN KEPERAWATAN DAN CATATAN PERKEMBANGAN

No. Waktu Waktu Catatan Perkembangan


Dx. Tindakan Keperawatan TTD TTD
Kep. Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)

1. Kamis 5 April 1. Memonitor kecepatan, irama, Kamis 5 April S:


2018 09.30 WITA kedalaman dan kesulitan bernafas 2018
O:
2. Mencatat pergerakan dada, catat
09.30 WITA 12.00 WITA
ketidaksimetrisa, penggunaan otot-otot 1. RR: 45 x/menit dengan O2
bantu nafas nasal kanul 5 lpm
09.30 WITA 2. Terlihat adanya retraksi
3. Memonitor pola nafas dinding dada pada saat bayi
09.30 WITA 4. Posisikan pasien miring ke samping, bernapas
sesuai indikasi. 3. Frekuensi napas irregular
4. Bayi tampak bernapas
09.30 WITA 5. Memberikan bantuan terapi nafas nasal
dalam dan cepat
kanul 5 Lpm A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3, 4
dan 5

32
No. Waktu Waktu Catatan Perkembangan
Dx. Tindakan Keperawatan TTD TTD
Kep. Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)

2. Kamis 5 April 1. Memonitor kemampuan bayi untuk Kamis 5 April S:


2018 menghisap
2018
09.30 WITA 2. Mendiskusikan penggunaan pompa O:
12.00 WITA ASI kalau bayi tidak mampu menyusu
3. Menjelaskan penggunaan susu formula 12.00 WITA
1. Berat badan 1600 gram
12.00 WITA hanya jika diperlukan
4. Menginstruksikan ibu untuk makan 2. Panjang badan 46 cm
12.00 WITA makanan bergizi selama menyusui 3. Lingkar kepala 30 cm
4. Bayi tampak tidak
menunjukkan refleks
menghisap yang efektif

A : MAsalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3
dan 4

33
No. Waktu Tindakan Keperawatan TTD Waktu Catatan Perkembangan TTD
Dx.
Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)
Kep.

3. Kamis 5 April 1. Mencatat nilai dasar TTV Kamis 5 April S:


2018
2. Mengkaji gejala hipotermia 2018
09.00 WITA O:
09.00 WITA 3. Memantau suhu setiap 3 jam
09.00 WITA 12.00 WITA
4. Menempatkan bayi dalam inkubator 1. Aktivitas bayi tampak lemah
09.00 WITA
2. Kulit bayi tampak
transparan dan tipis
3. Temperatur: 36.5⁰C
RR=45x/m Nadi=118x/m

A : Hipotermi tidak terjadi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3
dan 4

34
No. Waktu Tindakan Keperawatan TTD Waktu Catatan Perkembangan TTD
Dx.
Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)
Kep.

4. Kamis 5 April 1. Memonitor kemampuan menelan Kamis 5 April S:


2018 2. Memonitor jalan nafas 2018
09.30 WITA 3. Melakukan Pengecek selang OGT O:
09.30 WITA
sebelum memberikan ASI 12.00 WITA
4. Menghindari makan kalau residu masih 1. Usia gestasi bayi adalah 33-
09.30 WITA
banyak 34 minggu
2. Berat badan 1950 gram
3. Aktivitas bayi tampak lemah
4. Terpasang selang OGT
5. Bayi tampak tidak
menunjukkan refleks
menghisap yang efektif

A : Aspirasi tidak terjadi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3
dan 4

35
TINDAKAN KEPERAWATAN DAN CATATAN PERKEMBANGAN

No. Waktu Waktu Catatan Perkembangan


Dx. Tindakan Keperawatan TTD TTD
Kep. Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)

1. Jumat 6 April 2018 1. Memonitor kecepatan, irama, Jumat 6 April S:


09.00 WITA kedalaman dan kesulitan bernafas 2018
O:
2. Mencatat pergerakan dada, catat
09.00 WITA 12.00 WITA
ketidaksimetrisa, penggunaan otot-otot 1. RR: 48 x/menit dengan O2
bantu nafas nasal kanul 5 lpm
09.00 WITA 2. Terlihat adanya retraksi
3. Memonitor pola nafas dinding dada pada saat bayi
09.00 WITA 4. Memposisikan pasien miring ke bernapas
samping, sesuai indikasi 3. Frekuensi napas irregular
4. Bayi tampak bernapas
09.00 WITA 5. Memberikan bantuan terapi nafas nasal
dalam dan cepat
kanul 5 Lpm. A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3, 4
dan 5

36
No. Waktu Waktu Catatan Perkembangan
Dx. Tindakan Keperawatan TTD TTD
Kep. Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)

2. Jumat 6 April 2018 1. Memonitor kemampuan bayi untuk Jumat 6 April S:


09.30 WITA menghisap
2018
12.00 WITA 2. Mendiskusikan penggunaan pompa O:
ASI kalau bayi tidak mampu menyusu
12.00 WITA 3. Menjelaskan penggunaan susu formula 13.00 WITA
1. Berat badan 1600 gram
hanya jika diperlukan
12.00 WITA 4. Menginstruksikan ibu untuk makan 2. Panjang badan 46 cm
makanan bergizi selama menyusui 3. Lingkar kepala 30 cm
4. Bayi tampak tidak
menunjukkan refleks
menghisap yang efektif

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3
dan 4

37
No. Waktu Tindakan Keperawatan TTD Waktu Catatan Perkembangan TTD
Dx.
Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)
Kep.

3. Jumat 6 April 2018 1. Mencatat nilai dasar TTV Jumat 6 April S:


09.00 WITA
2. Mengkaji gejala hipotermia 2018
09.00 WITA O:
09.00 WITA 3. Memantau suhu setiap 3 jam
09.00 WITA 12.00 WITA
4. Menempatkan bayi dalam inkubator 1. Aktivitas bayi tampak lemah
2. Kulit bayi tampak
transparan dan tipis
3. Temperatur: 36.7⁰C
RR=48x/m Nadi=122x/m

A : Hipotermi tidak terjadi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3
dan 4

38
No. Waktu Tindakan Keperawatan TTD Waktu Catatan Perkembangan TTD
Dx.
Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)
Kep.

4. Jumat 6 April 2018 1. Memonitor kemampuan menelan Jumat 6 April S:


09.00 WITA 2. Memonitor jalan nafas 2018
09.00 WITA 3. Melakukan pengecekan selang OGT O:
sebelum memberikan ASI 12.00 WITA
09.00 WITA
4. Menghindari makan kalau residu masih 1. Usia gestasi bayi adalah 33-
banyak 34 minggu
2. Berat badan 1600 gram
3. Aktivitas bayi tampak lemah
4. Terpasang selang OGT
5. Bayi tampak tidak
menunjukkan refleks
menghisap yang efektif

A : Aspirasi tidak terjadi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3
dan 4

39
TINDAKAN KEPERAWATAN DAN CATATAN PERKEMBANGAN

No. Waktu Waktu Catatan Perkembangan


Dx. Tindakan Keperawatan TTD TTD
Kep. Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)

1. Sabtu 7 April 2018 1. Memonitor kecepatan, irama, Sabtu 7 April S:


09.00 WITA kedalaman dan kesulitan bernafas 2018
O:
2. Mencatat pergerakan dada, catat
09.00 WITA 12.00 WITA
ketidaksimetrisan, penggunaan otot- 1. RR: 50 x/menit dengan O2
otot bantu nafas nasal kanul 5 lpm
09.00 WITA 2. Terlihat adanya retraksi
3. Memonitor pola nafas dinding dada pada saat bayi
09.00 WITA 4. Memposisikan pasien miring ke bernapas
samping, sesuai indikasi 3. Frekuensi napas irregular
09.00 WITA 4. Bayi tampak bernapas
5. Memberikan bantuan terapi nafas nasal
dalam dan cepat
kanul 5 Lpm. A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3, 4
dan 5

40
No. Waktu Waktu Catatan Perkembangan
Dx. Tindakan Keperawatan TTD TTD
Kep. Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)

2. Sabtu 7 April 2018 1. Memonitor kemampuan bayi untuk Sabtu 7 April S:


09.00 WITA menghisap
2018
12.00 WITA 2. Mendiskusikan penggunaan pompa O:
ASI kalau bayi tidak mampu menyusu
12.00 WITA 3. Menjelaskan penggunaan susu formula 13.00 WITA
1. Berat badan 1600 gram
hanya jika diperlukan
12.00 WITA 4. Menginstruksikan ibu untuk makan 2. Panjang badan 46 cm
makanan bergizi selama menyusui 3. Lingkar kepala 30 cm
4. Bayi tampak tidak
menunjukkan refleks
menghisap yang efektif

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3
dan 4

41
No. Waktu Tindakan Keperawatan TTD Waktu Catatan Perkembangan TTD
Dx.
Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)
Kep.

3. Sabtu 7 April 2018 1. Mencatat nilai dasar TTV Sabtu 7 April S:


09.00 WITA
2. Mengkaji gejala hipotermia 2018
09.00 WITA O:
09.00 WITA 3. Memantau suhu setiap 3 jam
09.00 WITA 12.00 WITA
4. Menempatkan bayi dalam inkubator 1. Aktivitas bayi tampak lemah
2. Kulit bayi tampak
transparan dan tipis
3. Temperatur: 36.6⁰C
RR=50x/m Nadi=125x/m

A : Hipotermi tidak terjadi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3
dan 4

42
No. Waktu Tindakan Keperawatan TTD Waktu Catatan Perkembangan TTD
Dx.
Tanggal/Jam Tanggal/Jam (SOAP)
Kep.

4. Sabtu 7 April 2018 1. Memonitor kemampuan menelan Sabtu 7 April S:


09.30 WITA 2. Memonitor jalan nafas 2018
09.30 WITA 3. Melakukan Pengecek selang OGT O:
sebelum memberikan ASI 12.00 WITA
09.30ITA
4. Menghindari makan kalau residu masih 1. Usia gestasi bayi adalah 33-
banyak 34 minggu
2. Berat badan 1600 gram
3. Aktivitas bayi tampak lemah
4. Terpasang selang OGT
5. Bayi tampak tidak
menunjukkan refleks
menghisap yang efektif

A : Aspirasi tidak terjadi

P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3
dan 4

43
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat
badannya saat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR tidak hanya dapat terjadi
pada bayi prematur, tapi juga pada bayi cukup bulan yang mengalami
hambatan pertumbuhan selama kehamilan.
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan
yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan
dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi
berat badan (BB) lahirnya lebih kecil dari masa kehamilannya, yaitu tidak
mencapai 2.500 gram. Masalah ini terjadi karena adanya gangguan
pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit
ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan
lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.
B. Saran
1. Memberikan asuhan keperawtan secara komprehensif pada bayi baru lahir
dengan BBLR
2. Meningkatkan pelayanan pada bayi baru lahir dengan BBLR.

44
DAFTAR PUSTAKA

1. Herdman, TH & Kamitsuru, S. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi &


Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10. Jakarta: EGC.
2. IDAI. 2013. Pemberian ASI pada Bayi Prematur. Diakses pada 31/03/2018
di www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-asi-pada-bayi-prematur
3. Moorhead, S, et al. 2013. Nursing Outcomes Classificaton (NOC). Edisi
Kelima. UK: Elsevier.
4. Bulechek, GM., et al. 2013. Nursing Interventions Classificaton (NIC).
Edisi Keenam.
5. Maryanti, Dwi, dkk. 2011. Penatalaksanaan Pada Bayi Risiko Tinggi.
Jakarta : Rineka Cipta.
6. Prawirohardjo, S. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
7. Depkes RI. 2008c. Modul (Buku Acuan) Manajemen Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR) Untuk Bidan di Desa. Jakarta : Depkes RI.
8. Winknjosastro, Hanifa. 2008. Ilmu Kebidanan Edisi V. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo.
9. Wong Dona, L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong.Volume 1.
Edisi 6. Jakarta: EGC.
10. Nelson, 2010. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. Jakarta: EGC.
11. Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba
Medika.
12. M. Sholeh kosim , dkk. 2012. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia.
13. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Profil Kesehatan
Indonesia Tahun 2014. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.

45