Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN HEMORAGIK ANTEPARTUM

DI RUANG IGD KEBIDANAN


RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN
Tanggal 9 April – 14 April 2018

Oleh :
Khairus Sadiq, S.Kep
NIM 1730913310073

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2018
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN HEMORAGIK ANTEPARTUM


DI RUANG IGD KEBIDANAN
RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN
Tanggal 9 April – 14 April 2018

Oleh :
Khairus Sadiq, S.Kep
NIM 1730913310073

Banjarmasin, 9 April 2018


Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Emmelia Astika F. D., S.Kep, Ns,. M.Kep Hj. Fauziah, S.Kep, Ns


NIK.1990 2011 1 098 NIP. 19730323 199703 2 001
LAPORAN PENDAHULUAN
HEMORAGIK ANTEPARTUM

A. Definisi
Perdarahan antepartum adalah perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 28
minggu. Perdarahan antepartum terjadi pada kehamilan di atas 28 minggu maka
sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trisemeter ketiga. Walaupun
perdarahannya sering dikatakan terjadi pada trimester ketiga. Perdarahan
antepartum yang berbahaya umumnya berasal pada kelainan plasenta. Hal ini
disebabkan perdarahan yang bersumber pada kelainan plasenta biasanya lebih
banyak, sehingga dapat menganggu sirkulasi O2 dan CO2 serta nutrisi dari ibu
kepada janin. Sedangkan perdarahan yang tidak berumber pada kelainan plasenta
seperti kelainan serviks biasanya relatif tidak berbahaya (Wiknjosastro, 2005).
B. Etiologi
Etiologi pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh :
1. Bersumber dari kelainan plasenta
a. Plasenta previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada
tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi
sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ).
Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 :
1) Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta.

2) Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh


plasenta.
3) Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat
jaringan plasenta.
Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
1) Endometrium yang kurang baik
2) Chorion leave yang peresisten
3) Korpus luteum yang berreaksi lambat
b. Solusi plasenta
Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya
normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir.Biasanya dihitung
kehamilan 28 minggu. Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3
berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain :
1) Solusi plasenta ringan
a) Tanpa rasa sakit
b) Pendarahan kurang 500cc
c) Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian
d) Fibrinogen diatas 250 mg %
2) Solusi plasenta sedang
a) Bagian janin masih teraba
b) Perdarahan antara 500 – 1000 cc
c) Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian
3) Solusi plasenta berat
a) Abdomen nyeri-palpasi janin sukar
b) Janin telah meninggal
c) Plasenta lepas diatas 2/3 bagian
d) Terjadi gangguan pembekuan darah
2. Tidak bersumber dari kelainan plasenta, biasanya tidak begtu berbahaya,
misalnya kelainan serviks dan vagina ( erosion, polip, varises yang pecah ).
C. Patofisiologi
1. Plasenta previa
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang
bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana
hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa.Karena segmen bawah agak
merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha mencapai
dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding usus
sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.
2. Solusi plasenta
Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang
membentuk hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya
terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil itu hanya akan
mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus dan plasenta belum
terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru
diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan
pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya
kehitam-hitaman. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus
karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu
untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Akibatnya, hematom
retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh
plasenta terlepas dari dinding uterus.

Pathway :
Etiologi : kelainan plasenta

Dilatasi serviks Nyeri

Perdarahan Cemas

Hipovolemia Anemia Kekurangan volume cairan

Perubahan perfusi jaringan


D. Manifestasi Klinis
1. Plasenta previa
a. Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III
b. Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala
c. Perdarahan berwarna merah segar
d. Letak janin abnormal
2. Solusi plasenta
a. Perdarahan disertai rasa sakit
b. Asfiksia ringan sampai kematian intrauterine
c. Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat
d. Abdomen menjadi tegang
e. Perdarahan berwarna kehitaman
f. Sakit perut terus menerus
E. Komplikasi
1. Plasenta previa
a. Prolaps tali pusat
b. Prolaps plasenta
c. Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu
dibersihkan dengan kerokan
d. Robekan-robekan jalan lahir
e. Perdarahan post partum
f. Infeksi karena perdarahan yang banyak
g. Bayi prematuritas atau kelahiran mati
2. Solusi plasenta
a. Langsung
1) Perdarahan
2) Infeksi
3) Emboli dan obstetrik syok
b. Komplikasi tidak langsung
1) Couvelair uterus kontraksi tak baik, menyebabkan pendarahan post
partum
2) Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum
3) Nekrosis korteks renalis, menyebabkan anuria dan uremia
4) Kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofise dll.
F. Penatalaksanaan
1. Plasenta previa
a. Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show ( perdarahan
inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi
apapun baik rectal apalagi vaginal)
b. Apabila ada penilaian yang baik, perdarahan sedikt janin masih hidup,
belum inpartus. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin
di bawah 2500 gr. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat.Berikan obat-
obatan spasmolitika, progestin atau progesterone observasi teliti
c. Sambil mengawasi periksa golongan darah, dan siapkan donor transfusi
darah. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar
dari premature.
d. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan
plasenta previa, kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan
tranfuse darah ada
e. Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan.
2. Solusio plasenta
a. Terapi konservatif
Prinsip :
1) Tunggu sampai perdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan.
Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah
lama, bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang
robek
2) Sambil menunggu atau mengawasi berikan :
a) Morphin suntikan subkutan
b) Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine, cardizol, dan
pentazol
c) Tranfuse darah.
b. Terapi aktif
Prinsip :
1) Melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan
perdarahan segera berhenti
2) Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta :
a) Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan
dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan
b) Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti
dengan pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks
c) Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap, kepala sudah turun
sampai hodge III-IV : Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau
forceps. Janin meninggal : lakukan embriotomi
d) Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan : Solusio plasenta
dengan anak hidup, pembukaan kecil, Solusio plasenta dengan
toksemia berat, perdarahan agak banyak, pembukaan masih kecil,
Solusio plasenta dengan panggul sempit, Solusio plasenta dengan
letak lintang
e) Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan :Bila terjadi
afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan darah
atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup. Couvelair uterus
dengan kontraksi uterus yang tidak baik. Ligasi arteri hipogastrika
bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin
dipertahankan. Pada hipofibrinogenemia berikan : Darah segar
beberapa botol, Plasma darah dan Fibrinogen.
G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Data Subjektif
1) Data umum
Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya.
2) Keluhan utama
Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28
minggu.
3) Riwayat kesehatan yang lalu
4) Riwayat kehamilan
a) Haid terakhir
b) Keluhan
c) Imunisasi
5) Riwayat keluarga
a) Riwayat penyakit ringan
b) Penyakit berat
c) Keadaan psikososial
d) Dukungan keluarga
e) Pandangan terhadap kehamilan
6) Riwayat persalinan
7) Riwayat menstruasi
a) Haid pertama
b) Sirkulasi haid
c) Lamanya haid
d) Banyaknya darah haid
e) Nyeri
f) Haid terakhir
8) Riwayat perkawinan
a) Status perkawinan
b) Kawin pertama
c) Lama kawin
b. Data Objektif
1) Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil.
a) Rambut dan kulit
Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea
nigra. Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan
paha. Laju pertumbuhan rambut berkurang.
b) Wajah
Mata : pucat, anemis, Hidung, Gigi dan mulut.
c) Leher
d) Payudara
Peningkatan pigmentasi areola putting susu. Bertambahnya ukuran
dan noduler.
e) Jantung dan paru
Volume darah meningkat. Peningkatan frekuensi nadi. Penurunan
resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.
Terjadi hiperventilasi selama kehamilan. Peningkatan volume
tidal, penurunan resistensi jalan nafas. Diafragma meninggi serta
Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
f) Abdomen
Menentukan letak janin. Menentukan tinggi fundus uteri.
g) Vagina
Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan
(tanda Chandwick) serta Hipertropi epithelium.
h) System musculoskeletal
Persendian tulang pinggul yang mengendur. Gaya berjalan yang
canggung. Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan
dengan diastasis rectal.
c. Khusus
1) Tinggi fundus uteri
2) Posisi dan persentasi janin
3) Panggul dan janin lahir
4) Denyut jantung janin
2. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan inspekulo
b. Pemeriksaan radio isotopic
c. Ultrasonografi
d. Pemeriksaan dalam
H. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan vaskuler
berlebihan
2. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemi
3. Nyeri berhubungan dengan kontraksi otot atau dilatasi serviks
4. Ansietas berhubungan ancaman kematian pada diri sendiri dan janin
I. Rencana Tindakan Keperawatan

Dx
No NOC NIC
Keperawatan
1. Kekurangan NOC : NIC :
volume Fluid Balance Fluid Management
cairan b.d
Setelah dilakukan 1. Pertahankan catatan
kehilangan
tindakan keperawatan intake dan output
cairan
selama kekurangan yang akurat
vaskuler
volume cairan teratasi, 2. Monitor status
berlebihan
dengan kriteria hasil: dehidrasi

1. Keseimbangan output 3. Terapi IV

dan intake dalam 24 administrasi cairan

jam 4. Berikan cairan


5. Distribusikan cairan
2. Tekanan darah dalam selama 24 jam
batas normal 120/80
mmHg
Vital Sign Monotoring
3. Turgor kulit < 2 detik
1. Monitor tekanan
darah, nadi, dan
pernafasan sebelum,
selama, dan sesudah
aktifitas, dengan
sesuai

2. Monitor pelebaran
atau penyempitan
tekanan nadi
3. Identifikasi
kemungkinan
penyebab
perubahan tanda
vital

2. Perubahan NOC : NIC :


perfusi Circulation status Peripheral Sensation
jaringan b.d Management
Setelah dilakukan (Manajemen sensasi
hipovolemi tindakan keperawatan perifer)
setiap 1 x 24 jam 1. Observasi tanda
diharapkan nyeri akan vital
berkurang. 2. Kaji pengisian
Kriteria hasil: kapiler, warna
a. Klien menunjukkan kulit/membran
perfusi adekuat, mukosa, dasar kuku.
misalnya tanda vital 3. Tinggikan kepala
stabil. tempat tidur sesuai
toleransi
4. Awasi upaya
pernapasan;
auskultasi bunyi
napas.
5. Observasi keluhan
nyeri dada/palpitasi
6. Kolaborasi
pengawasan hasil
pemeriksaan
laboraturium.
Berikan sel darah
merah
lengkap/packed
produk darah sesuai
indikasi
7. Berikan oksigen
tambahan sesuai
indikasi.
3. Nyeri b.d NOC : Pain level, Pain NIC :
dilatasi Control, Comfort Level
Pain Management
serviks atau Setelah dilakukan
kontraksi tindakan keperawatan 1. Lakukan pengkajian
selama 1 x 30 menit nyeri secara
otot rahim kompherensif
masalah pasien teratasi,
dengan kriteria hasil: 2. Berikan informasi
tentang nyeri seperti
1. TD = 120/80mmHg, penyebab nyeri
N = 60-80x/menit, 3. Observasi reaksi
RR = 16-20x/menit, nonverbal dari
T = 36,5-37,5oC ketidaknyamanan
2. Mampu mengontrol 4. Ajarkan tentang
nyeri (tahu penyebab teknik non
nyeri, mampu farmakologi:
menggunakan tehnik massase
nonfarmakologi 5. Kolaborasikan
untuk mengurangi dengan dokter
nyeri, mencari pemberian analgetik
bantuan) 6. Monitor vital sign
3. Melaporkan nyeri
berkurang Analgesic
4. Menyatakan rasa Administration
1. Cek instruksi
nyaman setelah nyeri
dokter tentang jenis
berkurang obat, dosis, dan
5. Tidak mengalami frekuensi
gangguan tidur 2. Cek riwayat alergi
3. Tentukan pilihan
analgesic dari tipe
dan beratnya nyeri
4. Berikan obat sesuai
rute pemberian
5. Monitor ttv pasien
sebelum dan
sesudah pengobatan
6. Berikan analgesic
tepat waktu
terutama saat nyeri
hebat

4. Ansietas b.d NOC: Anxiety self- NIC:


ancaman control
Anxiety Reduction
kematian diri Setelah dilakukan
1. Gunakan
sendiri dan tindakan keperawatan pendekatan yang
selama 1 x 30 menit menenangkan
janin
masalah anxietas pasien 2. Jelaskan diagnosis
teratasi dengan kriteria dan semua prosedur
hasil: dan apa yang
dirasakan selama
1. Pasien mampu prosedur
mengidentifikasi dan 3. Dorong keluarga
mengungkapkan untuk menemani
gejala cemas pasein
2. Vital sign dalam 4. Lakukan back /
batas normal neck rub
3. Postur tubuh, 5. Dengarkan dengan
ekspresi wajah, penuh perhatian
bahasa tubuh dan 6. Instruksikan pasien
tingkat aktivitas menggunakan
menunjukkan teknik relaksasi
berkurangnya
kecemasan
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro,Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Edisi ketiga. Yayasan Bina Pustak


Sarwono Prawiroharjo. Jakarta.
2. Prawirohardjo,Sarwono .2002.Ultrasonografi dalam Obstetri, Ilmu kebidanan.
Jakarta:Yayasan Bina Pustaka
3. Pusdiknakes, 1993, Asuhan Kebidanan pada Ibu Gangguan Sistem Reproduksi,
Jakarta
4. Saifudin, A.B. dkk, 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal, Jakarta
5. Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius :
Jakarta
6. Manuaba, Ida Bagus Gde. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC
7. Hanafiah, T.M 2004. Plasenta Previa, on line, (http://www.
Library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-tmhanafiah2.pdf, diakses tanggal 7 April
2018)
8. Manuaba, Chandarnita, dkk,. 2008. Gawat-darurat obstetri-ginekologi & obstetri-
ginekologi sosial untuk profesi bidan. Jakarta: EGC.