Anda di halaman 1dari 38

FISIOLOGI PENGLIHATAN

Mata adalah struktur bulat berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan.
Dari bagian paling luar hingga paling dalam, lapisan-lapisan tersebut adalah (l)
sklera/kornea; (2) koroid/badan siliaris/iris; dan (3) retina. Sebagian besar bola
mata ditutupi oleh suatu lapisan kuat jaringan ikat, sklera, yang membentuk
bagian putih mata. Di sebelah anterior, lapisan luar terdiri dari kornea transparan,
yang dapat ditembus oleh berkas cahaya untuk masuk ke interior mata. Lapisan
tengah di bawah sklera adalah khoroid, yang berpigmen banyak dan mengandung
banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi bagi retina.
Lapisan koroid di sebelah anterior mengalami spesialisasi membentuk
badan siliaris dan iris.. Lapisan paling dalam di bawah koroid adalah retina, yang
terdiri dari lapisan berpigmen di sebelah luar dan lapisan jaringan saraf di sebelah
dalam. Yang terakhir, mengandung sel batang (rods) dan sel kerucut (cones),
fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf. Seperti dinding
hitam sebuah studio foto, pigmen di koroid dan retina menyerap sinar setelah sinar
mengenai retina untuk mencegah pantulan atau pembuyaran sinar di dalam mata.
Bagian interior mata terdiri dari dua rongga berisi cairan yang dipisahkan
oleh sebuah lensa elips, yang semuanya uansparan agar cahaya dapat menembus
mata dari kornea hingga ke retina. Rongga posterior (belakang) yang lebih besar
antara lensa dan retina mengandung bahan setengah cair mirip gel, humor vitreirs.
Humor vitreus penting unruk mempertahankan bentuk bola mata agar terap bulat.
Rongga anterior antara kornea dan lensa mengandung cairan jernih encer, humor
aquosus.1
Mata, seperti terlukis dalam Gambar 1, secara optik dapat disamakan
dengan sebuah kamera fotografi biasa. Mata mempunyai sistem lensa, diafragma
yang dapat berubah-ubah (pupil), dan retina yang dapat disamakan dengan film.
Sistem lensa mata terdiri atas empat perbatasan refraksi: (1) perbatasan antara
permukaan anterior kornea dan udara, (2) perbatasan antara permukaan posterior
kornea dan humor aqueous, (3) perbatasan antara humor aqueous dan permukaan
anterior lensa mata, dan (4) perbatasan antara permukaan posterior lensa dan
humor vitreous. Indeks internal udara adalah 1; kornea 1,38; humor aqueous 1,33;
lensa kristalina (rata-rata) 1,40; dan humor vitreous 1,34.
Bila seluruh permukaan refraksi mata dijumlahkan secara aljabar dan
dianggap sebagai satu lensa tunggal, susunan optik mata normal dapat
disederhanakan dan ditampilkan secara skematis sebagai "mata sederhana"
(reduced eye). Skema ini berguna untuk perhitungan sederhana. Pada "mata
sederhana" (reduced eye) tersebut dianggap terdapat suatu permukaan refraksi
tunggal dengan titik pusat 17 mm di depan retina, dengan daya bias total 59
dioptri pada saat lensa berakomodasi untuk melihat jauh.
Sekitar dua pertiga dari daya bias mata 59 dioptri dihasilkan oleh
permukaan anterior kornea (bukan oleh lensa mata). Alasan utamanya ialah
karena indeks bias kornea sangat berbeda dari indeks bias udara, sementara indeks
bias lensa mata tidak jauh berbeda dengan indeks bias humor aqueous dan humor
vitreous.
Daya bias total lensa dalam mata, karena normal terletak di dalam mata
dikelilingi cairan, hanya 20 dioptri, kira-kira sepertiga dari daya bias total mata.
Namun, pentingnya lensa dalam ini adalah karena sebagai respons terhadap sinyal
saraf dari otak, lengkung permukaannya dapat makin cembung sehingga
memungkinkan terjadinya "akomodasi''

Gambar.1 Mata sebagai sebuah kamera. Angka-angka di atas adalah indeks bias.2
Sama seperti pembentukan bayangan oleh lensa kaca pada secarik kertas,
sistem lensa mata juga dapat membentuk bayangan di retina. Bayangan ini
terbalik dibandingkan bendanya. Namun demikian, persepsi otak terhadap benda
tetap dalam keadaan tegak, meskipun terdapat orientasi terbalik di retina, karena
otak sudah dilatih menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan normal.
Pada anak-anak, daya bias lensa mata dapat ditingkatkan dari 20 dioptri
menjadi kira-kira 34 dioptri; ini berarti terjadi "akomodasi" sebesar 14 dioptri.
Untuk itu, bentuk lensa diubah dari yang tadinya konveks-sedang menjadi lensa
yang sangat konveks. Mekanismenya adalah sebagai berikut.
Pada orang muda, lensa terdiri atas kapsul elastis yang kuat berisi cairan
kental yang mengandung banyak protein namun transparan. Bila berada dalam
keadaan relaksasi tanpa tarikan terhadap kapsulnya, lensa akan berbentuk hampir
sferis, terutama akibat retraksi elastis kapsul lensa. Namun, seperti terlihat dalam
Gambar 49-10, terdapat kira-kira 70 ligamen suspensorium yang melekat di
sekeliling lensa secara radial, menarik tepi lensa ke arah lingkar luar bola mata.
Ligamen ini secara konstan diregangkan oleh pelekatannya pada tepi anterior
koroid dan retina. Regangan pada ligamen ini menyebabkan lensa tetap relatif
datar dalam keadaan mata istirahat. Walaupun demikian, di tempat pelekatan
lateral ligamen lensa pada bola mata juga terdapat otot siliaris, yang memiliki dua
set serat otot polos yang terpisah serat meridional dan serat sirkular.
Serat meridional membentang dari ujung perifer ligamen suspensorium
sampai peralihan kornea-sklera. Bila serat otot ini berkontraksi, insersi perifer dari
ligamen lensa tadi akan tertarik ke medial ke arah tepi kornea, sehingga
mengurangi regangan ligamen terhadap lensa. Serat sirkular tersusun melingkar
mengelilingi pelekatan ligamen, sehingga pada waktu berkontraksi terjadi gerak
seperti sfingter, mengurangi diameter lingkaran pelekatan ligamen; hal ini juga
menyebabkan tarikan ligamen terhadap kapsul lensa berkurang. Jadi, kontraksi
salah satu set serat otot polos dalam otot siliaris akan mengendurkan ligamen
kapsul lensa, dan lensa akan berbentuk lebih cembung, seperti balon, akibat sifat
elastisitas alami kapsul lensa.
Otot siliaris hampir seluruhnya diatur oleh sinyal saraf parasimpatis yang
dihantarkan ke mata melalui saraf kranial III dan nukleus saraf III pada batang
otak. Perangsangan saraf parasimpatis menimbulkan kontraksi kedua set serat otot
siliaris, yang akan mengendurkan ligamen lensa, sehingga menyebabkan lensa
menjadi lebih tebal dan meningkatkan daya biasnya. Dengan meningkatnya daya
bias, mata mampu melihat objek lebih dekat dibanding sewaktu daya biasnya
rendah. Akibatnya, dengan mendekatnya objek ke arah mata, jumlah impuls
parasimpatis yang sampai ke otot siliaris harus ditingkatkan secara progresif agar
objek tetap dapat dilihat dengan jelas.
Fungsi utama iris ialah untuk meningkatkan jumlah cahaya yang masuk ke
dalam mata pada waktu gelap, dan untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk
ke dalam mata pada waktu terang.Jumlah cahaya yang memasuki mata melalui
pupil sebanding dengan luas pupil atau kuadrat diameter pupil. Diameter pupil
manusia dapat mengecil sampai 1,5 mm dan membesar sampai 8 mm. Jumlah
cahaya yang memasuki mata dapat berubah sekitar 30 kali lipat sebagai akibat
dari perubahan pupil.
Secara teoretis, cahaya yang datang dari sumber titik jauh, ketika
difokuskan di retina seharusnya menjadi yang sangat kecil. Namun, karena sistem
lensa mata tidak pernah sempurna, bintik di retina semacam itu biasanya
mempunyai diameter total kirakira 11 μm, walaupun dengan resolusi maksimal
dari sistem optik mata yang normal. Bintik itu paling terang di bagian sentral dan
berangsur mengabur ke arah tepi.
Diameter rata-rata sel kerucut di fovea retina bagian sentral retina tempat
terbentuknya penglihatan yang paling tajam besarnya kira-kira 1,5 μm; yakni
sepertujuh diameter titik cahaya. Namun, karena titik cahaya itu mempunyai titik
sentral yang terang dan bagian tepi yang gelap, kita dapat membedakan dua titik
yang terpisah bila bagian sentral dari kedua titik itu terpisah sampai 2 μm di
retina, sedikit lebih besar daripada lebar sel kerucut fovea. Ketajaman penglihatan
normal pada mata manusia untuk membedakan titik sumber cahaya adalah sekitar
25 detik busur derajat. Artinya, bila berkas cahaya dari dua titik terpisah
membentur mata dengan sudut antara kedua titik tersebut paling sedikit 25 detik,
biasanya kedua titik itu dapat dikenali sebagai dua titik bukan sebagai satu titik.
Ini berarti bahwa orang dengan ketajaman penglihatan normal sewaktu melihat
dua titik terang sejauh 10 meter, hampir tidak dapat membedakan kedua titik itu
sebagai dua titik yang terpisah bila kedua titik itu terpisah 1,5 sampai 2 mm.
Fovea berdiameter kurang dari 0,5 mm (< 500 μm), yang berarti bahwa
ketajaman penglihatan yang maksimal terjadi pada kurang dari 2 derajat lapang
pandang. Di luar area fovea, ketajaman penglihatan berkurang secara progresif,
semakin ke perifer semakin menurun sampai sepuluh kali lipat. Hal ini disebabkan
oleh adanya hubungan antara makin banyak sel batang dan kerucut dengan setiap
serat saraf optik di bagian non fovea, yaitu bagian retina yang lebih perifer.
Metode Klinis untuk Menyatakan Besarnya Ketajaman Penglihatan.
Diagram untuk memeriksa mata biasanya terdiri atas huruf-huruf dengan berbagai
ukuran diletakkan 20 kaki jauhnya dari orang yang diuji. Bila dapat melihat
dengan baik huruf-huruf dengan ukuran yang seharusnya dapat dilihat pada jarak
20 kaki, orang tersebut dikatakan memiliki penglihatan 20/20—artinya,
penglihatan normal. Bila hanya dapat melihat huruf-huruf yang seharusnya
mampu dilihat pada jarak 200 kaki, dikatakan orang itu mempunyai penglihatan
sebesar 20/200. Dengan kata lain, metode klinis yang dipakai untuk menyatakan
besarnya ketajaman penglihatan adalah dengan menggunakan angka pecahan
matematis yang menyatakan rasio antara dua jarak, yang juga merupakan rasio
ketajaman penglihatan seseorang dibandingkan dengan ketajaman penglihatan
orang normal.2

MODEL FUNGSIONAL MATA


A. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum
Memahami dasar-dasar refraksi dan kelainan serta tindakan koreksinya
melalui model fungsional mata
Tujuan Khusus
1. Menjelaskan padanan bagian-bagian model fungsional mata dengan
bagian-bagian mata serta fungsinya
2. Mendemonstrasikan pelbagai keadaan refraksi serta tindakan koreksinya
dengan menggunakan model fungsional mata:
a. mata emetrop tanpa akomodasi
b. mata miopia serta tindakan koreksinya
c. mata hipermetropia serta tindakan koreksinya

B. Alat yang diperlukan


1. Model fungsional mata dengan perlengkapannya
2. Lampu senter

C. Tata kerja
Mata sebagai susunan optik (Demonstrasi)
Pelajari model fungsional mata dengan perlengkapannya (lihat Gambar. 2):
1. Kornea
2. Iris
3. Tiruan lensa yang diisi air
4. Retina yang dapat diatur pada 3 posisi

Pertanyaan 1.Mengapa disediakan 3 posisi retina?


Disediakan 3 posisi retina bertujuan agar kita dapat mengetahui
pengaruh posisi-posisi retina yang berbeda, yaitu retina pada keadaan orang
dengan mata normal, mata hipermetropi dan mata miopi, terhadap bayangan
yang terbentuk,. Pada keadaan mata normal, diameter bola mata normal
sehingga bayangan jatuh tepat di retina. Pada mata hipermetropi, diameter
bola mata memendek sehingga bayangan menjadi lebih panjang dan jatuh di
belakang retina, sedangkan pada mata miopi, diameter bola mata memanjang
sehingga bayangan lebih pendek dan jatuh di depan retina.1
5. Benda yang akan diberi cahaya.
6. Lensa sferis positif
7. Lensa sferis negatif
Pertanyaan 2.Bagaimana cara membedakanlensa sferis negatif dengan
lensa sferis positif?
Membedakan lensa sferis negatif dengan lensa sferis positif secara
langsung dengan mata telanjang akan sulit karena dari jenis lensa sendiri
terdapat lensa sferis cembung cekung maupun lensa sferis cekung cembung.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membedakannya adalah dengan
melihat hasil bayangan yang terbentuk serta sifat cahaya yang ditimbulkan
oleh lensa. Pada lensa sferis cembung, bayangan bersifat nyata dan terbalik,
dengan berkas cahaya konvergen (mengumpul).Sedangkan pada lensa sferis
cekung, bayangan bersifat semu dan tegak, serta berkas cahaya divergen
(menyebar).1
Pertanyaan 3.Cara apakah yang lebih baik untuk menentukan jenis dan
kekuatan lensa?
Cara yang lebih baik untuk menentukan jenis dan kekuatan lensa
adalah dengan menggunakan lensometer.3

Gambar. 2. Model Fungsional Mata


Pembentukan bayangan benda
1. Pasang retina di posisi II (sesuai penanda bagian tengah pada retina).
2. Letakkan benda yang akan disinari cahaya di depan model mata
3. Hidupkan senter dan arahkan pada benda hingga tampak bayangan jelas
pada retina (jarak benda dapat disesuaikan sampai diperoleh bayangan
jelas pada retina.

Gambar. 3 pembentukan bayangan pada mata.4

Kemampuan lensa mata untuk menebal dan menipis sesuai jarak


benda yang dilihat agar menghasilkan bayangan tepat di retina dinamakan
sebagai daya akomodasi mata. Mata dapat melihat dengan jelas jika letak
benda dalam jangkauan penglihatan, yaitu di antara titik dekat mata (punctum
proximum) dan titik jauh mata (punctum remotum). Titik dekat mata
(punctum proximum) adalah titik terdekat yang dapat dilihat dengan jelas
oleh mata dengan berakomodasi maksimum. Titik jauh mata (punctum
remotum) adalah titik terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata
tanpa berakomodasi. Mata normal (emetropi) memiliki titik dekat pada jarak
25 cm dan titik jauh pada jarak tak berhingga.4
Pada percobaan di letakkan lensa diantara cahya lilin dan mannequin
mata. Lensa yang digunakan yaitu lensa cekung (konkaf) dan cembung
(konveks). Ketika cahaya lilin dinyalakan maka lensa dengan permukaan
konveks, yang menyebabkan konvergensi berkas sinar (mendekatkan berkas-
berkas tersebut satu sama lain). Lensa dengan permukaan konkaf, yang
menyebabkan divergensi berkas sinar{memisahkan berkas-berkas tersebut
semakin jauh satu sama lain). 1
Berkas dari sumber sinar jauh telah berjalan sejajar ketika mencapai
mannequin mata. Berkas dari sumber sinar dekat masih mengalami
divergensi ketika mencapai mannequin mata. Diperlukan jarak yang lebih
jauh bagi suatu lensa dengan kekuatan tertentu untuk membelokkan berkas
divergen dari suatu sumber sinar dekat ke titik fokus dibandingkan dengan
berkas sejajar dari sumber sinar jauh. Untuk memfokuskan sumber cahaya
jauh dan dekat pada jarak yang sama, harus digunakan lensa yang lebih kuat
untuk sumber cahaya dekat.1

Pertanyaan 4. Sebutkan sifat bayangan yang terbentuk!


Terbalik
Pertanyaan 5. Sebutkan analogi keadaan ini dengan mata sebenarnya!
Ketika berkas-berkas cahaya divergen masuk medium padat dengan
membentuk sudut terhadap permukaan lensa bikonveks pada mata, refraksi
akan membelokkan berkas-berkas tersebut. Refraksi yang paling besar tejadi
di kornea, namun pada lensa juga terjadi refraksi. Cahaya yang datang dari
dua garis lurus atas (a) dan bawah (b) akan dibelokkan dengan arah yang
berlawanan , menghasilkan b’ yang terletak di atas dan a’ yang terletak di
bawah. Sehingga terbentuk bayangan yang terbalik di retina.2

Hipermetropia
1. Setelah diperoleh bayangan tegas (butir II nomor 3) pindahkan retina ke
posisi III (sesuai penanda bagian belakang pada retina). Perhatikan
bayangan menjadi kabur lagi.

Pertanyaan 6. Mengapa bayangan menjadi kabur?


Pada penderita hypermetropia, bayangan menjadi kabur dapat
disebabkan bola mata terlalu pendek atau lensa terlalu lemah. Benda jauh
difokuskan diretina hanya dengan akomodasi, sedangkan benda dekat
terfokus di belakang retina bahkan dengan akomodasi dan karenannya
pandangan menjadi kabur.1

2. Koreksi kelainan ini dengan meletakkan lensa yang sesuai (pada tempat
lensa sferis) sehingga bayangan menjadi tegas kembali.

Pertanyaan 7. Lensa apa yang saudara gunakan untuk koreksi?


Keadaan tersebut dapat diperbaiki dengan lensa konveks.

3. Catat jenis dan kekuatan lensa yang saudara gunakan!

Miopia
1. Angkat lensa sferis dari tempat lensa! Kembalikan retina ke posisi
Perhatikan bayangan yang tegas.
2. Pindahkan retina ke posisi I (sesuai penanda bagian depan pada retina).
Perhatikan bayangan menjadi kabur.

Pertanyaan 8. Mengapa bayangan menjadi kabur?


Pada penderita miopi, bayangan menjadi kabur dapat disebabkan oleh
bola mata terlalu panjang atau lensa terlalu kuat, maka sumber cahaya dekat
dibawa ke fokus di retina tanpa akomodasi, sementara sumber cahaya jauh
terfokus di depan retina dan tampak kabur.1 Sehingga pada rabun jauh
bayangaan tidak jatuh tepat ke retina.5

3. Perbaiki kelainan ini dengan meletakkan lensa yang sesuai di tempat lensa
sferis sehingga bayangan menjadi tegas.

Pertanyaan 9. Lensa apa yang saudara gunakan untuk tindakan


tersebut?
Keadaan tersebu dapat diperbaiki engan menggunakan lensa konkaf.1
4. Catat jenis dan kekuatan lensa yang saudara gunakan!
Mata Afakia
Afakia adalah suatu keadaan dimana mata tidak mempunyai lensa
sehingga mata tersebut menjadi hipermetropia tinggi.4
Penelitian di Swedia pada tahun 1997-2001 menyebutkan bahwa satu
dari dua ratus operasi katarak adalah afakia. Alasan paling sering terjadinya
afakia yang tidak direncanakan adalah adanya masalah kapsul ketika
operasi dan prolaps vitreous.6 Penyebab paling sering afakia adalah operasi
pengangkatan lensa.7
Gejala yang dikeluhkan pasien afakia adalah tajam penglihatan
menurun. Sedangkan pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan visus 1/60 atau
lebih rendah jika afakia tidak ada komplikasi, limbal scar yang dapat
ditemukan pada afakia akibat pembedahan, pasien mengalami penurunan
tajam penglihatan (biasanya hiperopia yang sangat tinggi) yang dapat
dikoreksi dengan lensa positif, bilik mata depan dalam, iris tremulans, jet
black pupil, test bayangan purkinje hanya memperlihatkan 2 bayangan
(normalnya 4 bayangan), pemeriksaan fundus memperlihatkan diskus kecil
hipermetropi, retinoscopy memperlihatkan hipermetropi tinggi, biasanya
terlihat bekas operasi, jika sudah mengalami komplikasi dapat ditemukan
edema kornea, peningkatan TIO, iritis, kerusakan iris, CME (cystoid macular
edema).8,9

1. Buat susunan seperti butir II nomor 3!


2. Lepaskan lensa sehingga terjadi mata afakia, yaitu mata tanpa lensa
kristalina.

Pertanyaan 10. Apa contoh keadaan yang sesuai dengan kondisi mata
afakia?
Pengangkatan lensa pada tindakan pembedahan katarak, akibat trauma
ekstrusi lensa, subluksasi atau dislokasi lensa.
Pertanyaan 11. Bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk mengoreksi
mata afakia?
Afakia dapat dikoreksi menggunakan lensa kontak, kacamata, atau
operasi. Kaca mata afakia hanya dapat digunakan jika kondisinya afakia
bilateral, jika hanya satu mata maka akan terjadi perbedaan ukuran bayangan
pada kedua mata (aniseikonia). Jika pasien tidak dapat memakai lensa kontak
atau kaca mata, maka dipertimbangkan penanaman lensa intraokuler
(pseudofakia).
Pada afakia bilateral, koreksi dapat dikoreksi dengan kacamata.
Sedangkan pada afakia unilateral, koreksi menggunakan kacamata tidak dapat
ditoleransi karena anisometrop. Lensa kontak dapat mengurangi aniseikonia.
Namun, pasien biasanya tidak nyaman menggunakan lensa kontak karena
kesusahan memasang lensa, tidak nyaman, dapat terjadi komplikasi seperti
konjungtivitis giant papil.8
Indikasi penggunaan kacamata adalah :
a. Afakia bilateral
b. Pasien dengan myopia tinggi (kekuatan IOL kurang dari 8D)
c. Akan dilakukan operasi katarak
d. Ketika pasien menolak operasi implantasi IOL
Pada pasien hipermetropia dengan afakia diberikan kacamata sebagai
berikut :4
a. Pusat lensa yang dipakai letaknya tepat pada tempatnya
b. Jarak lensa dengan mata cocok untuk pemakaian lensa afakia
c. Bagian tepi lensa tidak mengganggu lapangan pandang
d. Kacamata tidak terlalu berat.

Pertanyaan 12. Jenis lensa apakah yang dapat digunakan untuk


mengoreksi mata afakia?
Pasien dengan afakia menggunakan kacamata lensa cembung
(konveks (+)). Lensa katarak memiliki kekuatan refraksi sebesar 12 dioptri,
lensa kontak sebesar 14 dioptri, lensa intra okular anterior 20 dioptri, dan
lensa ruang posterior 23 dioptri.

REFRAKSI
A. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum
Memahami dasar-dasar refraksi dan kelainan serta tindakan koreksinya pada
manusia
Tujuan Khusus
1. Menjelaskan hubungan diskriminasi dua titik dengan sudut penglihatan
minimal
2. Menjelaskan dasar pembuatan optotipi Snellen
3. Menjelaskan pengertian visus dan refraksi pada manusia
4. Menjelaskan dasar-dasar penetapan visus seseorang dengan menggunakan
optotipi Snellen
5. Mendemonstrasikan pelbagai kelainan refraksi serta prinsip tindak
koreksinya pada manusia
a. mata miopia serta tindakan koreksinya
b. mata hipermetropia serta tindakan koreksinya

B. Alat yang diperlukan


1. Optotipi Snellen
2. Seperangkat lensa percobaan (trial lense)
3. Meteran
4. Occluder

C. Tata Kerja
Visus (Ketajaman Penglihatan)
1. Lakukan percobaan ini pada minimal satu orang percobaan (OP).
Instruksikan OP untuk duduk menghadap optotipi Snellen pada jarak 6
m.
Pertanyaan 13. Mengapa jarak baca harus 6 m?
Karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan
beristirahat atau tanpa berakomodasi.

2. Pasang bingkai kaca mata khusus pada orang percobaan dan tutup mata
kirinya dengan occluder yang tersedia dalam kotak lensa!
3. Periksa visus mata kanan OP dengan menyuruhnya membaca huruf yang
saudara tunjuk. Mulailah dari baris huruf yang terbesar (seluruh huruf)
sampai baris huruf yang terkecil (seluruh huruf) yang masih dapat dilihat
dengan jelas dan tegas serta dibaca OP dengan benar tanpa kesalahan.

Pertanyaan 14. Apabila pada pemeriksaan tersebut orang percobaan


hanya mampu membaca lancar tanpa kesalahan sampai pada baris
huruf yang ditandai dengan angka 30 Ft (9,14 m), berapakah visus mata
kanan OP?
Artinya visus mata kanan OP yaitu 20/30 karena pada pemeriksaan
tersebut orang percobaan hanya mampu membaca lancar tanpa kesalahan
sampai baris huruf yang ditandai dengan angka 30 Ft sehingga visus orang
tersebut adalah 20/30 dimana seseorang pada jarak 20 kaki dapat melihat
huruf yang seharusnya dapat dilihat pada jarak 30 kaki.
Pertanyaan 15. Apakah dasar pembuatan optotipi Snellen?
Dasar dari pembuatan snellen chart yaitu dimana rata-rata kekuatan-
pembedaan mata manusia adalah 1 menit busur. Karena huruf-huruf snellen
dibuat dari unit bujur sangkar 5 x 5, huruf berukuran 20/20 memiliki sudut
pengelihatan 5 menit busur pada jarak 20 kaki. Hal ini ekivalen dengan tinggi
dan lebar 8,7mm (0,35 inci). Mata memperkecil suatu bayangan berjarak 20
kaki sekitar 350 kali. Dengan demikian, ukuran tinggi dan lebar huruf 20/20
adalah 1,025 mm diretina. Angka ini setara dengan kapasitas resolusi 100
garis per milimeter. Untuk pupil 6 mm, dan cahaya berpanjang gelombang
0,56 mikro meter diudara, batas teoritis absolut adalah 345 garis per
milimeter.2 Kartu Snellen dibuat sedemikian rupa, sehingga huruf tertentu
dengan pusat optik mata (Nodal Point) membentuk sudut sebesar 5 derajat
untuk jarak tertentu.

4. Catat visus mata kanan OP.


5. Ulangi pemeriksaan ini pada:
a. mata kiri
b. kedua mata bersama-sama
6. Catat hasil pemeriksaan saudara.

Hasil dan Pembahasan


Pada hasil yang didapatkan setelah pemeriksaan visus mata yang
dilakukan pada kedua OP didapatkan hasil keduanya dicurigai mengalami
kelainan refraksi. Hal inidi sebabkan karena pada pemeriksaan visus
menggunakan Snellen Chart didapatkan hasil bahwa tajam penglihatan OP
menurun, yaitu OP mata kanan visusnya 20/200, mata kiri juga visusnya
20/160. Artinya OP dapat melihat huruf pada Snellen Chart dengan jarak 20
kaki yang seharusnya pada orang normal dapat terbaca pada jarak 200 kaki.
Tajam penglihatan normal rata-rata bervariasi antara 6/4 hingga 6/6 atau
20/15-20/20 kaki.
Kemudian diberikan pinhole pada mata yang diperiksa dan hasilnya
tajam penglihatan kedua OP meningkat. Salah satu tujuan dari pemeriksaan
pinhole adalah untuk mengetahui apakah turunnya tajam penglihatan pada
kedua OP disebabkan oleh kelainan refraksi atau kelainan penglihatan atau
saraf optikus. Jika OP menderita ketajaman penglihatan karena refraksi maka
tajam penglihatannya akan membaik ketika diletakkan pinhole didepan mata
tersebut.5

REFRAKSI DAN KOREKSINYA


Dari pemeriksaan visus di atas (butir I) telah diketahui visus tanpa
menggunakan
lensa. Pada pemeriksaan berikut ini akan diperiksa daya bias susunan optik
mata
(refraksi mata).

REFRAKSI
1. Jika visus orang percobaan tanpa lensa = 6/6, maka refraksi mata itu tak
mungkin miopi (M). Refraksi mata tersebut mungkin E (emetrop) atau H
(hipermetrop).

Pertanyaan 16.
a. Dapatkah visus seseorang lebih besar dari 6/6?
Visus seseorang dapat lebih dari 6/6 yang artinya tajam
pengelihatannya seseorang yang diatas 6/6 merupakan tajam penglihatan
diatas rata-rata.
b. Mengapa mata hipermetrop dapat mempunyai visus 6/6?
Pasien yang mengalami hipermetropi dapat memiliki visus yang
normal, namun kesulitan melihat dekat. Hal ini dikarenakan pada jarak yang
tak terhingga sumber terfokus langsung di retina sehingga tes pada snellen
chart yang dilakukan pada jarak jauh maka bayangan yang terbentuk dengan
akomodasi lensa akan jatuh tepat pada retina, sehingga visus pasien
hipermetropi bisa saja normal.

2. Untuk membedakan refraksi mata OP yang mempunyai visus 6/6 tersebut


emetrop atau hipermetrop, maka dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:
3. Pasang bingkai kaca mata khusus pada orang percobaan dan tutup mata
kirinya dengan occluder.
4. Pasang lensa sferis +0,25D di depan mata kanannya dan periksa lagi
visusnya.
Pertanyaan 17. Bila sekarang visusnya menjadi lebih kecil, apakah
kesimpulan Saudara?
Mata pasien mengalami presbiopia.
Pertanyaan 18. Bila visusnya ternyata tetap 6/6, bahkan OP merasa
melihat lebih jelas, apakah kesimpulan Saudara?
Mata pasien memiliki hipermetropi.

5. Jika refraksi mata kanan OP adalah emetropia, pemeriksaan dihentikan.


6. Jika refraksi mata OP adalah hipermetropia, teruskan pemasangan lensa-
lensa dengan setiap kali memberikan lensa positif yang 0,25D lebih kuat.
7. Lensa positif yang terkuat, yang memberikan visus maksimal merupakan
ukuran bagi derajat hipermetrop yang dinyatakan dalam dioptri (D).
8. Catat derajat hipermetropia orang percobaan dalam dioptri.

KOREKSI
1. Jika visus mata kanan OP tanpa lensa lebih kecil dari 6/6, maka refraksi
mata OP biasanya miopia. Untuk menetapkan derajat miopia dilakukan
pemeriksaan sebagai berikut:
2. Pasang bingkai kaca mata khusus pada orang percobaan dan tutup mata
kirinya dengan occluder.
3. Pasang lensa sferis negatif di depan mata kanannya, mulai dari -0,25D
dengan setiap kali memberikan lensa negatif yang 0,25D lebih kuat.
4. Periksa lagi visusnya setiap kali setelah perubahan kekuatan lensa.
5. Lensa negatif terlemah yang memberikan visus maksimal, merupakan
ukuran bagi derajat miopia yang dinyatakan dalam dioptri.
6. Catat derajat miopia orang percobaan dalam dioptri.

Pertanyaan 19. Jika visus mata kanan OP tanpa lensa lebih kecil dari
6/6, kelainan refraksi apa yang mungkin dijumpai selain miopia?
Bila visus mata kanan OP tanpa lensa lebih kecil dari 6/6,
kelainan refraksi yang mungkin dijumpai selain myopia adalah hipermetrop
berat.
Pertanyaan 20. Bila pada orang tua diperoleh visus tanpa lensa lebih
kecil dari 6/6, maka kelainan refraksi apa yang mungkin dijumpai pada
orang tersebut?
Orang tua tersebut memiliki kelainan refraksi presbiopia.
Pertanyaan 21. Apakah pada orang tua dapat diperoleh visus 6/6?
Bagaimana keterangannya?
Pada orang tua masih bisa diperoleh visus 6/6. Hal ini dapat terjadi
bila daya bias susunan optiknya (kornea, humor aqueous, lensa & humor
vitreus) masih berfungsi secara normal tanpa mengalami penurunan fungsi
akibat penuaan.

Hasil dan Pembahasan


Probandus Visus Koreksi
Mata Mata kiri Kedua Mata kanan Mata kiri
kanan
OP 1 20/200 20/160 20/120 Lensa Lensa
concave 4,00 concave
3,50
OP 2 20/20 20/20 20/20 - -

Pada pemeriksaan visus pada OP 1 didapatkan hasil ketajaman mata kanan


20/200 dan ketajaman mata kiri 20/160 ini berarti terjadinya penurunan visus pada
mata kanan dan kiri. Visus mata kanan 20/200 yang menunjukkan bahwa OP 1
bisa melihat huruf dengan jarak 20 kaki dimana biasanya pada normalnya bisa
melihat pada jarak 200 kaki sedangkan pada mata kiri visusnya 20/160 yang
menunjukkan bahwa OP 1 bisa melihat huruf dengan jarak 20 kaki dimana
seharusnya bisa dilihat pada jarak 160 kaki. Pada kedua mata didapatkan visus
20/120 dimana menunjukkan bahwa OP 1 bisa melihat huruf dengan jarak 20 kaki
dimana seharusnya bisa dilihat pada jarak 120 kaki.
Pemberian lensa koreksi mata kanan pada OP1 yaitu 4,00 karena OP hanya
bisa melihat jelas pada lensa 4,00 sedangkan pada mata kiri diberikan lensa
koreksi 3,50 karena jika diberikan lensa dibawah itu OP1 merasa kabur saat
melihat .
Pada OP 2 pada pemeriksaan visus didapatkan hasil mata kanan dan kiri
20/20 dimana tidak terjadi penurunan ketajaman pada mata OP2
Miopi bisa disebabkan oleh mata yang terlalu panjang atau daya bias
susunan lensa yang terlalu kuat sehingga menyebabkan bayangan jatuh di depan
retina. Sedangkan astigmatisma terjadi kelengkungan kornea yang tidak rata
sehingga berkas sinar mengalami refraksi yang tidak sama. Kemampuan refraksi
kornea tidak dapat berubah seperti lensa yang kemampuan refraksinya dapat
diubah-ubah karena kelengkungan lensa dapat diatur.10 Hal ini menyebabkan pada
penderita astigmatisma, matanya menghasilkan suatu bayangan dengan titik atau
garis focus yang multipel.3
Pada pemeriksaan optotipi snellen dilakukan pada jarak 6 m karena pada
jarak tersebut sinar akan dianggap sebagai sinar sejajar yang akan memberikan
gambaran seolah-olah berasal dari titik yang letaknya pada jarak tak terhingga di
depan mata dan akan paralel terhadap mata.10 Apabila seseorang hanya mampu
membaca lancar tanpa kesalahan sampai pada baris huruf yang ditandai angka 30
Ft (9,14 m) maka tajam penglihatannya berarti 5/9,14 m yang berarti bahwa
seseorang pada jarak 5 meter hanya dapat melihat huruf yang seharusnya dapat
dilihat pada jarak 9,14 meter.3
Dasar pembuatan optotipi Snellen adalah mata dapat mengenali suatu
objek dengan membedakan dua titik yang membentuk sudut satu menit. Satu
huruf hanya dapat dilihat bila seluruh huruf membentuk sudut lima menit dan
setiap bagian dipisahkan dengan sudut satu menit. Makin jauh huruf harus
terlihat, maka makin besar huruf tersebut harus dibuat karena sudut yang dibentuk
harus tetap lima menit. Ketajaman normal memiliki visus 6/6 atau 20/20 yang
merupakan jarak antara subjek dengan chart. Hal ini menjelaskan jarak dimana
garis yang membentuk huruf dapat dipisahkan dengan sudut penglihatan minimal
1 menit, yang dibaca pada mata tanpa kelainan refraktif dalam jarak 6 m.3
Visus seseorang dapat lebih besar dari 6/6. Hal ini menunjukkan
ketajaman penglihatannya melebihi normal, yang berarti sudut penglihatan
minimalnya lebih kecil dari 1 menit. Pada mata hipermetrop dapat mempunyai
visus 6/6 karena mata hipermetrop dapat mengadakan kompensasi dengan
akomodasi. Bila seandainya setelah ditambahkan lensa sferis +0.25 D visusnya
menjadi lebih kecil, maka mata kanan OP termasuk emetrop. Bila visusnya
ternyata tetap 6/6, bahkan OP merasa melihat lebih jelas, maka mata kanan OP
hipermetrop.3
Bila visus mata kanan OP tanpa lensa lebih kecil dari 6/6, maka kelainan
refraksi yang mungkin terjadi selain miopia adalah hipermetrop berat. Bila pada
orang tua diperoleh visus tanpa lensa lebih kecil dari 6/6, maka kelainan refraksi
yang paling mungkin dijumpai adalah daya akomodasi yang berkurang (presbiopi)
atau miopi. Pada orang tua mungkin saja diperoleh visus 6/6, bila daya bias
susunan optiknya (kornea, humor aqueous, lensa & humor vitreus) masih
berfungsi secara normal tanpa mengalami penurunan fungsi akibat penuaan.3
Adapun alat lain untuk menentukan adanya kelainan refraksi astigmatisma
adalah selain dengan pemeriksaan optotipi snellen adalah dengan keratoskop
placido.3
Dari pemeriksaan visus penglihatan, didapatkan visus OP adalah 20/200
(kiri) dan 20/120 kanan. Oleh karena visus OP lebih kecil dari 20/20, maka
dilakukan pemeriksaan dengan kacamata pinhole. Hasil pemeriksaan
menunjukkan peningkatan visus yang menandakan bahwa penurunan visus
disebabkan oleh kelainan refraksi.
Jika visus lebih kecil dari 20/20 dan tes pinhole menyebabkan perbaikan
visus, maka orang tersebut mengalami miopia. Oleh karena itu, dilakukan koreksi
dengan lensa sferis negatif. Dari pemeriksaan, didapatkan bahwa lensa negatif
terlemah yang memberikan visus maksimal pada kedua OP adalah lensa negatif
dengan kekuatan -3.00D. Penurunan visus juga dapat terjadi pada ambliopia.
Penurunan visus pada orang tua juga dapat disebabkan karena glaukoma.
Pada orang tua, kelainan refraksi yang sering muncul adalah presbiopia.
Presbiopia merupakan kelainan refraksi yang disebabkan oleh berkurangnya
kemampuan akomodasi mata, sehingga titik fokus objek dekat akan jatuh di
belakang retina. Hal ini akan menyebabkan orang tua tidak dapat melihat objek
dekat dengan jelas. Walaupun orang tua tidak dapat melihat objek dekat dengan
jelas, mereka masih dapat melihat objek jauh dengan jelas. Hal ini disebabkan
karena melihat objek yang jauh tidak memerlukan akomodasi, sehingga orang tua
dapat memiliki visus 20/20.5

PERCOBAAN DIPLOPIA
A. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum
Memahami mekanisme timbulnya diplopia
Tujuan Khusus
1. Mendemonstrasikan peristiwa diplopia
2. Menjelaskan mekanisme timbulnya diplopia

B. Tata Kerja
1. Pandang suatu benda dengan kedua mata.
2. Tekan bola mata kiri dari lateral untuk menimbulkan pergeseran sumbu
bola mata ke medial.
3. Perhatikan terjadinya penglihatan rangkap.

Pertanyaan 23. Bagaimana mekanisme terjadinya penglihatan rangkap


pada percobaan diplopia?
keadaan dimana tidak sejajarnya kedua aksis visual yang
menyebabkan kedua retina secara serentak melihat objek ataupun daerah yang
berbeda, satu bayangan di satu mata jatuh di fovea sedangkan bayangan pada
mata lain jatuh di luar fovea, sehingga terbentuklah bayangan ganda.
Hasil dan Pembahasan
Dari hasil percobaan terjadi diplopia ketika OP menekan mata kiri ke arah
medial hal tersebut dapat terjadi karena suatu keadaan dimana tidak sejajarnya
kedua aksis visual yang menyebabkan kedua retina secara serentak melihat objek
ataupun daerah yang berbeda, satu bayangan di satu mata jatuh di fovea
sedangkan bayangan pada mata lain jatuh di luar fovea, sehingga terbentuklah
bayangan ganda. 11

REFLEKS PUPIL
A. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum
Memahami dasar-dasar refleks pupil langsung dan tak langsung (konsensual)
Tujuan Khusus
1. Mendemonstrasikan refleks pupil langsung dan tak langsung (konsensual)
2. Menjelaskan dasar-dasar refleks pupil langsung dan tak langsung
(konsensual)

B. Alat yang diperlukan


- Penlight

C. Tata Kerja
1. Sorot mata kanan OP dengan lampu senter dan perhatikan perubahan
diameter pupil pada mata tersebut.

Pertanyaan 24. Peristiwa apa yang Saudara lihat di sini dan bagaimana
mekanismenya?
Diameter pupil mengecil. Mekanismenya adalah akibat otot sirkular
pada iris berkontraksi. Pupil mengecil apabila otot sirkuler berkontraksi yang
terjadi pada cahaya terang untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke
mata. Apabila otot radialis memendek, ukuran pupil meningkat yang terjadi
pada cahaya temaram untuk meningkatkan jumlah cahaya yang masuk.
2. Sorot mata kanan OP dengan lampu senter dan perhatikan perubahan
diameter pupil pada mata kirinya.

Pertanyaan 25. Peristiwa apa yang Saudara lihat di sini dan bagaimana
mekanismenya?
Diameter pupil pada mata kiri ikut mengecil. Pada refleks tak
langsung juga terjadi konstriksi pupil. Hal ini disebut peristiwa respon
konsensual (consensual response), yaitu perubahan ukuran pupil pada mata
yang berlawanan dari mata yang disoroti lampu. Hal ini disebabkan karena
sinyal aferen yang dikirim melalui satu nervus optic berhubungan dengan
nucleus Edinger-Westphal, dimana aksonnya berjalan pada nervus
okulomotor mata kanan dan kiri. Pupil yang disinari mengecil, dan pupil yang
tidak disinari juga mengecil ketika mata yang lain disinari.Hai ini disebabkan
oleh saraf motorik yang mempersarafi di kedua mata merupakan saraf yang
sama sehingga ketika salah satu mata dirangsang, mata yang lain ikut
bereaksi.

Hasil dan Pembahasan


Probandus Sorot lampu Refleks Pupil
datang Pupil Kanan Pupil Kiri
OP 1 Ke mata kanan Mengecil Mengecil
OP 2 Ke mata kanan Mengecil Mengecil

Pupil akan mengatur intensitas cahaya yang masuk. Pengaturan diameter


pupil ini bekerja dengan cara :
1. Rangsangan syaraf parasimpatis merangsang otot sfingter pupil, sehingga
memperkecil syaraf pupil - Miosis.
2. Rangsangan syaraf simpatis merangsang serabut radial iris dan menimbulkan
dilatasi (pembesaran pupil) - Midriosis.
Refleks Cahaya Pupil :
Jika cahaya disinari ke dalam mata, maka pupil akan mengecil. Bila
cahaya mengenai retina terjadi impuls yang mula-mula berjalan melalui nervus
optikus dan kemudian ke nukleus edingerwestphal dan akhirnya kembali melalui
syaraf parasimpatis untuk mengkonstriksikan sfingter iris. Dalam keadaan gelap,
refleks ini dihambat sehingga terjadi dilatasi pupil. Fungsi refleks cahaya adalah
membantu mata untuk beradaptasi secara sangat cepat terhadap keadaan
perubahan cahaya. Pupil itu sendiri dapat mengecil sampai diameter 1,5 mm dan
membesar sampai diameter 8 mm. Batas adaptasi terang dan gelap yang dapat
dipengaruhi oleh refleks pupil adalah sekitar 30 – 1. Dan telah diketahui bahwa
kedalaman fokus terbesar bisa dicapai bila pupil sangat kecil. Alasannya ialah
dengan lubang yang sangat kecil seluruh berkas cahaya akan melalui bagian
tengah lensa dan diketahui bahwa cahaya tengah selalu berfokus baik. Pupil itu
sendiri berukuran normal dengan diameter 3–4 mm. Pupil kanan dan kiri hampir
sama ukurannya, ini disebut isokoria, bila ukurannya berbeda disebut anisokorida.
Reaksi pupil terhadap cahaya kemungkinan berasal dari jarak yang sama
dengan jarak rangsang cahaya yang ditangkap oleh sel kerucut dan batang, yang
menyebabkan sinyal visual kekorteks opspital jarak eferen pupilomotor, di
transmisikan melalui N.opticus dan melalui hemidekusatiodi chiasma, kemudian
jarak pupilomotor mengikuti jarak visuosensorik melalui traktus optikus dan
keluar schalum mencapai korpos genekulatum lateral, kemudian masuk batang
otak melaui brachiumdari colliculus superior. Jarak/neuron aferen tersebut
kemudian membentuk sinaps dengan nc. Pretektelu yang kemudian menuju NC
Edinger wespinal melalui neuron inter kalasi dan kontralateral. Kemudian jarak
pupilonator keluar dari NC Edinger menuju ganglion silarisipsi lateral x
bersinaps disini.
Pupil adalah bagian mata yang berfungsi mengatur cahaya yang masik bila
cahaya redup. Otot-otot pada iris akan berkontraksi dan menyebabkan lubang
pupil melebar, jika cahaya kuat maka lubang pupil akan menyempit. Syaraf di
dalam mata ada dua yaitu syaraf simpatis dan parasimpatis. Serabut preganglion
parasimpatis, muncul dari nucleus edinger westphal (nulisiveral dari saraf ketiga)
dan kemudian berjalan dalam syaraf ketiga ke ganglion siliau yang terletak
dibelakang mata. Disini serabutpreganglion bersinapsis dengan neuron
parasimatis yang kembali megirimkan serabut-serabut melaluinervus siliaris ke
dalam bola mata, nervus ini merangsang :
• otot siliaris yang mengatur lensa untuk berfokus
• spinger, iris yang mengatur koneksikan pupil
Jika cahaya disinari ke dalam mata, pupil akan mengecil, maka reaksi ini
disebut reflek cahaya pupil. Bila cahaya mengenai retina maka terjadi impuls yang
mula-mula berjalan ke nervus optikus dan kemudian nervus pretektalis darisini
impuls berjalan ke nucleus edinger westphal dan akhirnya kembali melalui syaraf
parasimpatis spingter, dalam keadaan gelap, refleks ini terhambat sehingga
mengakibatkan dilatasi pupil.4

REAKSI MELIHAT DEKAT


A. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum
Memahami peristiwa yang terjadi pada mata waktu melihat jauh dan dekat
Tujuan Khusus
3. Mendemonstrasikan 3 peristiwa yang terjadi pada waktu mata berubah
dari melihat jauh ke melihat dekat
4. Menjelaskan 3 peristiwa yang terjadi pada waktu mata berubah dari
melihat jauh ke melihat dekat

B. Tata Kerja
1. Instruksikan OP untuk melihat jari pemeriksa yang ditempatkan pada
jarak ± ½ m di depannya.
2. Sambil memperhatikan pupil OP, dekatkan jari pemeriksa sehingga
kedua mata OP terlihat berkonvergensi.
Pertanyaan 26. Perubahan apa yang saudara lihat pada pupil?
Perubahan yang terjadi pada pupil adalah konstriksi ketika objek
didekatkan pada kedua mata. Seharusnya pupil menjadi konstruksi dan
memfokuskan objek.
Pertanyaan 27. Peristiwa apa saja yang terjadi pada peristiwa melihat
dekat? Terangkan mekanismenya.
Pada saat melihat dekat terjadi perangsangan pada saraf parasimpatis
yang akan menyebabkan kontraksi pada otot siliaris untuk meningkatkan daya
bias lensa agar mata mampu melihat benda yang berada dalam jarak dekat.
Selain itu persarafan parasimpatis menyebabkan perangsangan pada sfringter
iris sehingga menyebabkan terjadinya konstriksi pupil.
Ketika melihat benda dengan jarak dekat, mata berkonvergensi untuk
memfokuskan objek. Dibelakang pupil terdapat lensa yang memfokuskan
cahaya yang datang dari retina. Ketika melihat objek berjarak dekat, ligament
menegang untuk mempertahankan lensa agat tetap berada di tempatnya yang
disesuaikan oleh otot siliaris.

Hasil dan Pembahasan


PROBANDUS PERLAKUAN REAKSI
PUPIL MATA
OP 1 Diletakkan jari ½ Semakin dekat Simetris,
m di depan mata jari pupil berkonvergensi
OP semakin
mengecil
OP 2 Diletakkan jari ½ Semakin dekat Simetris,
m di depan mata jari pupil berkonvergensi
OP semakin
mengecil

Untuk melihat objek dekat dengan jelas kecembungan lensa berubah agar
jarak fokus berubah. Proses ini disebut akomodasi. Bila m.siliaris kontraksi
ligamentum suspensorium relaksasi menambah kelengkungan lensa konvergensi
mata & konstriksi pupil cahaya melewati bagian sentral lensa. Dalam keadaan
normal, semakin dekat jarak benda dilihat maka pupil akan semakin mengecil.4

PEMERIKSAAN BINTIK BUTA


B. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum
Memahami letak bintik buta terhadap fovea sentralis di retina
Tujuan Khusus
1. Menjelaskan cara membuat proyeksi eksternal bintik buta
2. Mendemonstrasikan proyeksi eksternal bintik buta terhadap fovea
sentralis

B. Alat yang diperlukan


1. Kertas putih
2. Pulpen

C. Tata Kerja
1. Gambarlah tanda + di tengah sehelai kertas putih yang cukup lebar.
Letakkan kertas itu di atas meja.
2. Instruksikan OP untuk menutup mata kirinya, menempatkan mata kanan
tepat di atas tanda + pada jarak 20 cm, dan mengarahkan pandangannya
pada tanda tersebut.
3. Dengan mata OP tetap diarahkan pada tanda +, gerakkan ujung pensil
mulai dari tanda + tersebut ke lateral mata yang diperiksa, perlahan-lahan
sampai ujung pensil tidak terlihat dan kemudian terlihat kembali. Beri
tanda pada kertas dimana ujung pensil mulai tidak terlihat dan mulai
terlihat kembali. Tetapkan titik tengahnya (beri tanda T).
4. Dengan titik T sebagai titik pusat, buat 8 garis sesuai dengan 8 penjuru
angin. Gerakkan ujung pensil ke 8 garis dengan setiap kali melewati titik
T sambil mata OP tetap difokuskan pada tanda palang. Buatlah tanda di
kertas tiap kali ujung pensil mulai tidak terlihat dan mulai terlihat lagi
(jumlah tanda: 8, selain titik T).
5. Hubungkan semua titik ini, maka ini merupakan proyeksi eksternal bintik
buta mata kanan OP.

Pertanyaan 28. Di mana letak proyeksi bintik buta terhadap gambar


palang kecil dan mengapa demikian?
letak proyeksi bintik buta terhadap gambar palang kecil adalah
sebelah temporal, 150 di bawah garis horizontal. Hal ini disebabkan bintik
buta terletak di sebelah nasal dari fovea. Bagian nasal retina menangkap
lapang pandang temporal, sehingga bintik buta pada bagian nasal tidak
menangkap bayangan benda di temporal.
Pertanyaan 29. Di mana letak bintik buta terhadap fovea sentralis di
retina?
Pada retina mata letak bintik buta berada pada posisi 150 di sebelah
nasal agak superior dari fovea sentralis.

Hasil dan Pembahasan

Gambar. 4 hasil praktikum bintik buta


Reseptor adalah bagian tubuh yang berfungsi sebagai penerima
rangsangan. Bagian yang berfungsi sebagai penerima rangsangan tersebut adalah
indra. Konduktor adalah bagian tubuh yang berfungsi sebagai penghantar
rangsangan. Bagian tersebut adalah sel-sel saraf (neuron) yang membentuk system
saraf. Sel-sel saraf ini ada yang berfungsi membawa rangsangan ke pusat saraf ada
juga yang membawa pesan dari pusat saraf. Efektor adalah bagian tubuh yang
menanggapi rangsangan, yaitu otot dan kelenjar (baik kelenjar endokrin dan
kelenjar eksokrin).
Ketiga hal ini mempengaruhi sangat besar pada system kerja dan
kordinasi mata. Bintik buta yaitu merupakan suatu bagian dari mata yang
berfungsi sebagai daerah tempat saraf optik meninggalkan bagian dalam bola
mata dan tidak mengandung sel konus dan batang.
Saat kita tidak dapat melihat suatu obyek pada jarak tertentu, maka itulah
jarak titik buta. Setiap individu mempunyai jarak bintik buta yang berbeda dengan
individu lainnya saat melihat obyek. Sebagaimana kita ketahui bersama semua
impuls saraf yang dibangkitkan oleh batang dan kerucut. Sel batang dan kerucut
merupakan bagian retina yang mampu menerima rangsang sinar tak berwarna (sel
batang) dan mampu menerima rangsang sinar kuat dan berwarna (sel kerucut).
Sel batang dan kerucut ini berjalan kembali ke otak melalui neuron
dalam saraf optik, oleh karena itu obyek dapat ditebak bentuknya. Tidak
terlihatnya obyek dengan jarak tertentu disebabkan karena pada bagian retina
terdapat suatu titik tempat kira-kira satu juta neuron bertemu pada saraf optik,
tidak terdapat sel batang dan kerucut. Titik inilah yang disebut titik buta, dimana
seseorang tidak dapat melihat obyek pada jarak tertentu.
Pada praktikum yang dilakukan terlihat bahwa bintik buta banyak terjadi
pada setiap kalangan baik itu wanita maupun pria. Jadi ada suatu titik dimana
mata kita tidak dapat memfokuskan atau melihat benda dengan jelas sehingga
benda tersebut menjadi tidak terlihat. Bintik buta ini dapat dipengaruhi karena
seseorang mengkonsumsi rokok. Seperti yang kita ketahui kalau rokok bila
dikonsumsi banyak menyebabkan penyakit berbahaya. Salah satunya ialah
bertambahnya jarak bintik buta yang kita punya.
BUTA WARNA
A. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum
Memahami buta warna organik dan fungsional
Tujuan Khusus
Menentukan ada tidaknya buta warna organik pada seseorang dan jenis
kelainan buta warna seseorang (jika ada) berdasarkan buku
pseudoisokromatik Ishihara

B. Alat yang diperlukan


Buku pseudoisokromatik Ishihara

C. Tata Kerja
Perintahkan OP untuk menyebutkan angka atau melakukan perintah sesuai
yang tertera pada setiap halaman buku Ishihara. Lakukan interpretasi sesuai
dengan petunjuk pada buku.

Hasil dan Pembahasan


Hasil
OP 1 (Perempuan) Tidak Buta Warna
OP 2 (Laki-laki) Tidak Buta Warna

Buta warna adalah penglihatan warna-warna yang tidak sempurna.Pasien


tidak atau kurang dapat membedakan warna yang dapat terjadi kongenital ataupun
didapatkan akibat penyakit tertentu.4 Hampir 5% laki-laki di negara barat
menderita buta warna yang diturunkan, lebih sering terdapat pada laki-laki
dibanding perempuan. Bagian mata yang dapat ditemukan banyak fotoreseptor
adalah retina, dimana pada retina dapat ditemukan sekitar tujuh juta sel
fotoreseptor. Sel fotoreseptor yang dimaksud adalah sel batang dan sel kerucut
dan pada bagian tengahnya dikenal dengan makula. Sel yang sangat sensitif
terhadap cahaya adalah sel batang, namun sel ini tidak dapat membedakan warna.
Adanya sel batang pada retina, dapat membantu melihat dalam kondisi yang
kurang cahaya seperti misalnya pada malam hari dengan bayangan benda yang
tampak dipersepsikan dengan warna hitam-putih. Sel fotoreseptor yang dimiliki
oleh retina yang dapat melihat objek lebih rinci, dapat membedakan warna, namun
hanya bereaksi terhadap cahaya yang sangat terang adalah sel kerucut.
Pada praktikum kali ini, probandus adalah seorang perempuan dan laki-
laki. Tes buta warna dilakukan pada praktikum ini tanpa perlakuan, dimana
probandus diminta membedakan warna langsung dengan membaca tulisan yang
terdapat pada buku ishihara. Pada percobaan ini didapatkan hasil negatif pada
percobaan buta warna.
Uji sensitivitas spektrum ketiga tipe sel kerucut pada manusia telah
terbukti pada dasarnya sama seperti kurva absorbsi cahaya untuk ketiga tipe
pigmen yang ditemukan didalam sel kerucut. Kurva-kurva ini dapat menjelaskan
hampir semua fenomena penglihatan warna.2
Interpretasi warna dalam sistem saraf. Dengan melihat kurva diatas, kita
dapat melihat bahwa cahaya monokromatik berwarna jingga tua dengan panjang
gelombang sebesar 580 nanometer itu akan merangsang sel kerucut merah dengan
rangsangan yang besarnya kira-kira 99 (99 persen rangsangan puncak pada
panjang gelombang yang optimum), sedangkan sel kerucut hijau akan terangsang
oleh nilai rangsangan kira-kira 42 tetapi sel kerucut biru tidak terangsang sama
sekali. Jadi, perbandingan rangsangan dari ketiga tipe sel kerucut pada contoh
diatas adalah 99:42:0. Sistem saraf akan menginterpretasikan susunan rasio ini
sebagai suatu sensasi jingga. Sebaliknya, cahaya biru monokromatik dengan
panjang gelombang sebesar 450 nanometer merangsang sel kerucut merah dengan
rangsangan sebesar 0, kerucut hijau sebesar 0, dan kerucut biru dengan
rangsangan sebesar 97. Maka susunan perbandingannya sebesar 0:0:97 akan
diinterpretasikan oleh sistem saraf sebagai warna biru. Demikian juga,
perbandingan sebesar 83:83:0 akan diinterpretasikan sebagai warna kuning dan
31:67:36 sebagai warna hijau.2
Persepsi terhadap cahaya putih. Rangsangan yang kurang lebih sama besar
pada sel kerucut merah, hijau, dan biru akan memberikan sensasi penglihatan
warna putih. Namun, tidak ada satu penjang gelombangpun yang sesuai dengan
warna putih; warna putih justru merupakan suatu kombinasi dari semua panjang
gelombang spektrum cahaya. Selanjutnya, persepsi terhadap warna putih ini dapat
ditimbulkan bila retina dirangsang oleh kombinasi tiga warna terpilih secara tepat
yang akan merangsang masing-masing sel kerucut tersebut hampir sama besar.2
Buta warna biasanya adalah gangguan genetik terkait seks yang
disebabkan oleh defisiensi salah satudari tiga fotopigmen.Individu yang
mengalami buta warna hanya melihat yang terbentuk oleh aktivitas dua jenis sel
kerucut lainnya.Buta warna diwariskan melalui kromosom X; oleh karena itu,
biasnaya mengenai pria. Pada kasusu yang ekstrem, dapat terjadi defisiensi lebih
dari satu sel kerucut warna.12
Untuk buta warna didapat, hukum kollner menyatakan bahwa defisit
merah-hijau disebabkan oleh lesi saraf otak ataupun jalur penglihatan posterior,
sedangkan defek biru kuning disebabkan oleh kelainan pada epitel sensoris retina
atau lapis kerucut dan batang retina.Lesi saraf optik ditandai pula dengan
ketajaman visus yang relatif baik dengan penglihatan warna yang menurun.

PERSEPSI KEDALAMAN
1. Pegang sebuah pensil secara vertikal di depan mata OP sejauh lengan OP.
2. Dengan kedua mata terbuka, perintahkan OP untuk menyentuh ujung pensil
secara cepat menggunakan ujung telunjuk tangan dominan OP. Ulangi
percobaan sebanyak 10 kali
3. Dengan mata kiri tertutup, ulangi percobaan 2 sebanyak 10 kali.
4. Dengan mata kanan tertutup, ulangi percobaan 2 sebanyak 10 kali.
5. Berikan skor 2 jika OP dapat menyentuh ujung pensil dengan tepat dan skor 0
jika OP tidak dapat menyentuh ujung pensil dengan tepat (meleset).
6. Catat skor pada tabel yang telah disediakan.
7. Bandingkan hasil dari ketiga percobaan tersebut dengan menjawab
pertanyaan berikut:
a. Seberapa akurat OP mampu menyentuh ujung pensil antara ketika kedua
mata terubuka, dan salah satu mata tertutup
b. Apakah OP merasakan perbedaan akurasi dalam melaksanakan perintah
(menyentuh ujung pensil) dengan hanya mata kanan yang terbuka
dibandingkan dengan hanya mata kiri yang terbuka?

Hasil dan Pembahasan


Pergerakan OP
ke- 1 2 3
Kedua 1 2 2 2
mata 2 2 2 2
terbuka 3 2 0 2
4 2 2 2
5 0 2 2
6 2 0 2
7 2 2 2
8 2 2 2
9 2 2 2
10 2 2 2
Total 18 16 20
Mata kiri 1 2 2 2
tertutup 2 2 0 2
3 0 0 2
4 2 2 0
5 0 0 2
6 0 0 2
7 2 2 2
8 2 0 2
9 0 2 2
10 2 0 0
Total 12 8 16
Mata 1 2 2 2
kanan 2 2 2 2
tertutup 3 0 2 0
4 2 0 2
5 0 2 2
6 2 2 2
7 2 2 0
8 0 2 2
9 2 0 2
10 2 2 2
Total 14 16 16
Meskipun masing-masing dari separuh korteks penglihatan menerima
informasi secara bersamaan dari bagian yang sama lapang pandang seperti yang
diterima oleh kedua mata namun pesan dari kedua mata tidaklah identik. Masing-
masing mata melihat suatu benda dari titik pandang yang sedikit berbeda,
meskipun banyak terjadi tumpang-tindih. Daerah tumpang-tindih yang terlihat
oleh kedua mata pada saat yang sama dikenal sebagai lapang pandang binokular
(dua mata) yang penting dalam persepsi kedalaman. Seperti bagian-bagian korteks
lainnya, korteks penglihatan primer tersusun menjadi kolom-kolom fungsional,
masing-masing memproses informasi dari suatu bagian kecil retina. Kolom-kolom
independen didedikasikan untuk informasi rentang titik yang sama di lapang
pandang kedua mata. Otak menggunakan perbedaan kecil dalam informasi yang
diterima dari kedua mata untuk memperkirakan jarak, memungkinkan anda
mempersepsikan benda tiga dimensi dalam kedalaman ruang. Sebagian dari
persepsi kedalaman dapat diperoleh dengan menggunakan satu mata, berdasarkan
pengalaman dan pembandingan dengan petunjuk-petunjuk lain. Sebagai contoh,
jika penglihatan anda dengan satu mata memperlihatkan sebuah mobil dan sebuah
bangunan dan mobil tersebut tampak jauh lebih besar, maka anda secara tepat
dapat menginterpretasikan bahwa mobil terletak lebih dekat dan anda daripada
bangunan tersebut. Pada praktikum OP sulit untuk menempatkan telunjuk tepat
pada ujung pensil saat mata sebelah ditutup. Saat mata terbuka keduanya, OP
lebih banyak dapat untuk meletakkan telujuk diatas ujung pensil. Pada praktikum
juga didapatkan OP yang tidak selalu tepat meletakkan telunjuk pada ujung pensil
seperti OP 1 dan 2, sedangkan OP 3 dapat meletakkan telunjuk ke ujung pensil
dengan tepat pada setiap kesempatan. Pada OP 2 juga didapatkan hasi mata
terbuka dan mata kanan tertutup yang sama.
Kadang-kadang pandangan kedua mata tidak menyatu dengan tepat.
Keadaan ini dapat terjadi karena dua sebab: (1) Mata tidak difokuskan ke benda
yang sama secara bersamaan, karena defek otot mata eksternal yang menyebabkan
lapang pandang kedua mata tidak dapat menyatu; atau (2) informasi binokular
terintegrasi secara tidak tepat sewaktu pemrosesan visual. Akibatnya adalah
penglihatan ganda, atau diplopia, suatu kondisi di mana gambaran yang berbeda
dari kedua mata dilihat secara bersamaan.1

PERTANYAAN SAAT PRAKTIKUM


1. Sudut penglihatan 50° apa maksudnya?
Dasar dari pembuatan snellen chart yaitu dimana rata-rata kekuatan
pembedaan mata manusia adalah 1 menit busur. Karena huruf-huruf snellen
dibuat dari unit bujur sangkar 5 x 5, huruf berukuran 20/20 memiliki sudut
pengelihatan 5 menit busur pada jarak 20 kaki. Hal ini ekivalen dengan tinggi
dan lebar 8,7mm (0,35 inci). Mata memperkecil suatu bayangan berjarak 20
kaki sekitar 350 kali. Dengan demikian, ukuran tinggi dan lebar huruf 20/20
adalah 1,025 mm diretina. Angka ini setara dengan kapasitas resolusi 100
garis per milimeter. Untuk pupil 6 mm, dan cahaya berpanjang gelombang
0,56 mikro meter di udara, batas teoritis absolut adalah 345 garis per
milimeter. Kartu Snellen dibuat sedemikian rupa, sehingga huruf tertentu
dengan pusat optik mata (Nodal Point) membentuk sudut sebesar 5 derajat
untuk jarak tertentu. Pada pasien yang buta huruf, kartu Snellen menyediakan
diagram jenis selain Alphabet chart, seperti Echart, Cincin Landolt, dan
Gambar Bintang.13

2. Apabila persepsi cahaya tidak dapat dilihat disebut apa?


Ketika rangsangan cahaya tidak dapat terlihat lagi visusnya 1/~
perbaikan buruk. 14

3. Kapan kita sebut seseorang itu buta?


Orang yang memiliki kebutaan menurut hukum legal blindness apabila
ketajaman penglihatan sentralnya 20/200 feet atau kurang pada penglihatan
terbaiknya setelah dikoreksi dengan kacamata atau ketajaman penglihatan
sentralnya lebih dari 20/200 feet, tetapi ada kerusakan pada lapang
pandangnya yang membentuk sudut yang tidak lebih besari dari 20o pada
mata terbaiknya.15
Low vision jika tajam penglihatan berkisar <6/18-≥3/60 dan buta jika
tajam penglihatan kurang dari 3/60.16

Gambar. 5 tabel gangguan penglihatan3


Pada tabel diatas menjelaskan seseorang sudah dapat dikatakan buta
bila ketajaman penglihatan turun hingga 3/60 dan dibawahnya.3

4. Bagaimana mengecek buta warna pada buta angka?


Pemeriksaan buta warna pada yang buta angka dapat dilakukan tes
Nagel anomaloskop yang terdiri dari test plate dimana bagian bawahnya
berwarna kuning yang dapat disesuaikan kontrasnya. Pasien berusaha
mencocokkan bagian atas sampai berwarna kuning dengan mencampur warna
merah dan hijau. Orang dengan buta warna hijau akan menggunakan banyak
warna hijau dan begitu juga pada orang dengan buta warna merah. Selain itu,
ada Uji Holmgren Wool yaitu kemampuan membedakan warna dengan
menggunakan wol berwarna berturut-turut (hijau, merah, ungu dan kuning)
kemudian meminta pasien mencocokkan atau menemukan warna yang sesuai
dengan contoh warna yang diberikan. 17
DAFTAR PUSTAKA

1. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Alih bahasa, Brahm U


Pendit; editor edisi bahasa Indonesia, Herman Octavius Ong, Albertus Agung
Mahode, Dian Ramadhani. Ed. 8. Jakarta: EGC, 2014.
2. Guyton & Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12. Elsevier. 2014.
3. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta:
Widya Medika; 2009.
4. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2009.
5. Riordan-Eva P, Cunningham ET. Vaughan &asbury’s general ophthalmology.
18th ed. New York: McGraw-Hill Med; 2011.
6. Lundström M, Brege KG, Florén I, Lundh B, Stenevi U, Thorburn W.
Postoperative Aphakia in Modern Cataract Surgery Part 2 : Detailed Analysis
of The Cause of Aphakia and The Visual Outcome. J Cataract Refract Surg.
2004.
7. A.K. khurana. Opthalmology. New Delhi : New Age International. 2003.
8. Neil J. Friedman, M.D., Peter K. Kaiser, M.D. Essentials of Ophthalmology.
Cambridge : Elsevier Inc. 2007.
9. Mukherjee. Clinical Examination In Ophthalmology. India : Elsevier India.
2006.
10. Tortora GJ. Derrickson B. Principles of Anatomy & Physiology 13th Ed.
New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. 2012.
11. Hartono dan Muhammad Ali Faisal. Diplopia Binokuler Akibat Peresis N II,
IV dan VI di RS Mata dr. Yap Yogyakarta. Jurnal Oftalmologi Indonesia.
2007.
12. Corwin, Elizabeth J.Buku Saku Patofisiologi edisi 3. Jakarta : EGC. 2007
13. James B, Chew C and Bron A. Lecture Notes Oftalmologi. Edisi ke -9.
Jakarta: Erlangga, 2005.
14. Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama Edisi 1. Jakarta: IDI. 2017.
15. Hidayat; Suwandi. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tunanetra.
Jakarta Timur: PT. Luxima Metro Indah. 2013.
16. Kementrian Kesehatan RI. InfoDATIN: Situasi Gangguan Penglihatan dan
Kebutaan. Jakarta. 2014.
17. Kartika., et al. Patofisiologi dan Diagnosis Buta Warna. Jakarta: Kalbemed.
2014; 4 (41).

Anda mungkin juga menyukai