Anda di halaman 1dari 6

Novia Oktaviani

240210160056
Kelompok 7

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Sifat optik pada bahan pangan mencakup pada penampakan atau warna pada
produk tersebut. Sifat optik penting untuk evalusi kuantitatif berbagai sifat bahan.
Selain itu perancangan alat dan mesin pengolahan membutuhkan sifat optik. Sifat
optik juga diperlukan dalam penyimpanan bahan pangan karena keawetan bahan
pangan dapat dilihat dari perubahan warna yang terjadi pada produk tersebut.
Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar atau
konsentrasi bahan terlarut misalnya gula, garam, protein dan lain-lain (Underwood,
2001). Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah dengan
memanfaatkan refraksi cahaya. Refraktometer ditemukan oleh Dr. Ernest Abbe
seorang ilmuwan dari German pada permulaan abad 20. Prinsip kerja alat ini yaitu
pembiasan. Pembiasan adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokan cahaya
karena melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya (Svehla, 1990).
Pada praktikum kali ini uji dilakukan dengan meneteskan larutan yang akan
diukur ke wadah kaca di bawah prisma. Kemudian prisma diturunkan (ditutup
rapat-rapat) (Sukarti, 2010). Garis yang membagi kedua bidang ini disebut border
line. Apabila border line kurang jelas, maka prisma (Amici) diputar sampai
pembagian ini nampak jelas. Cara membaca kadar gula yang ditunjukkan oleh
refraktometer ini yaitu dengan meneropong melalui bagian belakang dari
refraktometer tersebut dan melihat batas garis yang menunjukkan angka padatan
terlarut dalam ºBrix.
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat optik dari
suatu bahan pangan. Sampel yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu
madurasa sachet, madu nusantara, buavita mangga dan Q guava. Alat yang
digunakan adalah refraktometer hand-held dan refraktometer Abbe.
Refraktometer tipe hand-held adalah salah satu alat yang dapat digunakan
untuk menganalisis kadar sukrosa pada bahan makanan. Refraktometer tipe ini
terdiri atas beberapa bagian, yaitu kaca prisma, penutup kaca prisma, sekrup
pemutar skala, grip pegangan, dan lubang teropong (Atago, 2000). Satuan skala
pembacaan refraktometer yaitu °Brix, yaitu satuan skala yang digunakan untuk
pengukuran kandungan padatan terlarut (Purwono 2002). Skala °Brix dari
Novia Oktaviani
240210160056
Kelompok 7
refraktometer sama dengan berat gram sukrosa dari 100 g larutan sukrosa.
Refraktometer yang kedua yang juga digunakan dalam praktikum ini adalah
refraktometer abbe. Refraktometer abbe adalah refraktometer untuk mengukur
indeks bias cairan, padatan dalam cairan atau serbuk dengan indeks bias dari 1,300
sampai 1,700 dan persentase padatan 0 sampai 95% (Parmitasari dan Hidayanto,
2013).
Menurut Rofiq (2010) dalam bidang industri pangan, khususnya pada bidang
makanan dan minuman, indeks bias dapat digunakan untuk mengetahui besarnya
konsentrasi gula dalam produk makanan dan minuman, seperti contoh untuk
mengetahui kandungan gula dalam jus buah, kandungan gula dalam kue, dan lain-
lain. Indeks bias dari suatu bahan atau larutan merupakan parameter karakteristik
yang sangat penting dan berkaitan erat dengan parameterparameter lain seperti
temperatur, konsentrasi dan lain-lain (Shyam, 2002). Berikut dibawah ini
merupakan hasil uji optik terhadap beberapa sampel:

Tabel 1. Hasil Pengamatan Sifat Optik Hand


Sampel oBrix

Madu Rasa 72
Madu Nusantara 75
Buavita Mangga 15,3
Q guava 10,1
(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2018)
Parameter yang didapat dari analisis menggunakan refraktometer hand hanya
terbatas pada nilai brix (konsentrasi). Sampel yang memiliki nilai derajat brix
terbesar adalah madu nusantara, sementara sampel yang memiliki nilai derajat brix
terendah adalah Q-guava.
Menurut Kuspratomo (2012) derajat brix menunjukkan total zat padat kering
yang terlarut dalam larutan (g/100g larutan) yang dihitung sebagai sukrosa dan
padatan terlaut lainnya. Gula reduksi f brix merupakan inversi dari sukrosa dan
fruktosa. Kenaikan % brix yang terjadi secara menyeluruh disebabkan karena
terjadinya penguapan. Semakin banyak jumlah air yang keluar, jumlah padatan
yang terlarut akan semakin meningkat. Sehingga derajat brix menunjukkan
besarnya konsentrasi padatan terlarut dalam sampel. Maka dari itu dapat ditarik
kesimpulan dilihat dari besar kecilnya nilai derajat brix sampel, bahwa sampel
Novia Oktaviani
240210160056
Kelompok 7
dengan konsentrasi gula yang tinggi adalah madu nusantara, sementara sampel
dengan konsentrasi terendah adalah Q-guava.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Madu Rasa memiliki nilai derajat brix
sebesar 72 sedangkan Madu Nusantara memiliki nilai derajat brix sebesar 75.
Berdasarkan SNI-01-3545-2004 tentang madu nilai derajat brix dari madu adalah
digunakan antara 78 % sampai 82 %. Jika dibandingkan antara hasil pengamatan
dengan SNI terdapat ketidaksesuaian, adanya perbedaan ini dapat disebabkan
karena Madu Rasa sachet dan Madu Nusantara telah mengalami proses pengolahan
dengan adanya pencampuran dengan bahan lain sehingga menyebabkan derajat brix
(total padatan terlarutnya) sampel yang dianalisis lebih kecil dari literatur.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Buavita Mangga memiliki derajat
brix sebesar 15,3, sedangkan Q guava memiliki derajat brix sebesar 10,1.
Sedangkan pada sampel minuman sari buah jambu biji merah dan mangga menurut
SNI 3719-2014, bahwa Minuman Sari Buah minimal berturut-turut adalah minimal
8,5 untuk minuman sari buah jambu biji merah sedangkan minimal 11untuk sari
buah mangga.
Tabel 2. Hasil Pengamatan Sifat Optik Abbe
Sampel Brix Index bias T (oC)
Madu Rasa 78,5 1,487 25,0
Madu Nusantara 75,9 1,480 24,9
Buavita Mangga 12 1,351 25,1
Q guava 9 1,347 24,4
(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2018)
Berdasarkan SNI-01-3545-2004 tentang madu. Nilai index bias dari madu
adalah 1,475 sampai 1,504 pada suhu 20°C. Sedangkan untuk sampel minuman sari
buah yaitu buavita dan Q-guava yang memiliki index bias masing-masing 1,351
dan 1,347 berdasarkan SNI 3719-2014- Minuman Sari Buah memiliki index bias
sebesar 1,3400-1,3799.
Indeks bias terbesar dimiliki oleh sampel madu rasa, sementara indeks bias
terkecil dimiliki oleh Q-guava. Hasil pengamatan menunjukan korelasi antara
derajat brix dengan indeks bias. Semakin besar derajat brix maka berarti indeks
biasnya pun semakin besar. Adanya perbedaan indeks bias dari tiap-tiap sampel
disebabkan karena kecepatan cahaya pada masing-masing medium atau sampel
berbeda-beda, dimana laju cahaya pada kecepatan vakum lebih cepat dari pada laju
Novia Oktaviani
240210160056
Kelompok 7
cahaya ketika sudah melewati suatu medium. Konsetrasi juga dapat dihubungkan
dengan viskositas dimana semakin tinggi konsentrasi semakin tinggi pula
viskositasnya. Artinya semakin tinggi indeks biasnya semakin besar viskositasnya.
Hasil pengamatan sesuai dengan literatur dimana Menurut (Dogra, 1990)
faktor-faktor yang mempengaruhi harga indeks bias suatu cairan yaitu berbanding
terbalik dengan suhu, berbanding terbalik dengan panjang gelombang sinar yang
digunakan, berbanding lurus dengan tekanan udara dipermukaan udara, dan
berbanding lurus dengan kadar atau konsentrasi larutan. Karena pada suhu tinggi
kerapatan optik suatu zat itu berkurang, indeks biasnya akan berkurang (Dogra,
1990). Nilai indeks bias konstan untuk suatu zat pada kondisi suhu dan tekanan
standar (Hidayanto dkk, 2010). Pengaruh antara suhu dengan indeks bias yaitu
ketika suhu meningkat maka kepadatan benda berkurang sehingga kecepatan
cahaya yang melewtinya makin bertambah.
Konsetrasi juga dapat dihubungkan dengan viskositas dimana semakin tinggi
konsentrasi semakin tinggi pula viskositasnya. Artinya semakin tinggi indeks
biasnya semakin besar viskositasnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa madu
rasa kemasan botol juga memiliki viskositas atau kekentalan yang paling tinggi, dan
timun memiliki kekentalan paling rendah atau cair.
Hasil ini membuktikan bahwa semakin besar konsentrasi gula yang
terkandung dalam sampel maka akan semakin besar pula indeks biasnya, hal ini di
pengaruhi oleh kekentalan zat cair, dimana semakin kental zat cair, indeks biasnya
semakin besar. Begitu pula sebaliknya, semakin encer zat cair maka indeks biasnya
semakin kecil. suhu, dimana semakin besar suhu maka indeks biasnya semakin
kecil. Hasil pengamatan diketahui bahwa kadar gula yang terdapat dalam sampel
berbanding lurus dengan indeks biasnya sehingga Makin besar atau tinggi kadar
gula yang terdapat dalam minuman makin besar pula indeks biasnya.
Terdapat perbedaan nilai brix pada sampel yang sama dengan penggunaan
dua refaraktometer yang berbeda. Adanya perbedaan ini disebabkan karena
perbedaan tingkat keteliatian dalam pembacaan nilai brix. Jika dibandingkan antara
hasil analisis dengan literatur, hasil analisis menggunakan refraktometer abbe lebih
akurat dibandingkan dengan refraktometer hand, hal ini ditunjukkan bahwa hasil
analisis derajat brix menggunakan refraktometer lebih mendekati literatur.
Novia Oktaviani
240210160056
Kelompok 7
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Analisis menggunakan refraktometer hand menunjukkan sampel yang
memiliki derajat brix paling tinggi adalah Madu Nusantara, sementara
sampel dengan derajat brix yang paling rendah adalah Q-guava.
2. Analisis menggunakan refarktometer abbe menunjukkan bahwa sampel
yang memiliki derajat brix terbesar adalah madurasa, sementara yang
memiliki derajat brix terendah adala Q-guava.
3. Refraktometer abbe lebih akurat dibandingkan dengan refraktometer
hand.
5.2 Saran
Apabila ada prosedur praktikum yang tidak dilakukan oleh semua praktikan
maka seharusnya pengarahan praktikum lebih divisualisasikan. Seperti pada
praktikum optik kali ini, seharusnya refraktometer ditunjukkan baik berupa photo
maupun video sehingga semua praktikan dapat mengetahui bentuk dan prinsip kerja
alat tersebut.
Novia Oktaviani
240210160056
Kelompok 7
DAFTAR PUSTAKA

Atago. 2000. Hand-held Refractometer. Instruction Manual. Tokyo. Atago Co.,


Ltd.

Badan Standardisasi Nasional. 1995. Standar Kualitas Minuman Sari Buah (SNI
3719-2014) Jakarta. Badan Standardisasi Nasional Indonesia.

Badan Standardisasi Nasional. 2004. Standar Kualitas Madu SNI 01-3545-2004.


Jakarta. Badan Standardisasi Nasional Indonesia

Dogra, S.K.1990. Kimia Fisika. Jakarta. UI-Press

Hidayanto, E., A. Rofiq, dan H. Sugito. 2010. Aplikasi Portable Brix Meter untuk
Pengukuran Indeks Bias. Berkala Fisika, Volume 13 No. 4: 113-118.
2010.

Kuspratomo, A.D., Burhan, dan M. Fakhry. 2012. Pengaruh Varietas Tebu,


Potongan dan Penundaan Giling Terhadap Nira Tebu. Agrointek. Vol. 6.
No. 2. Hal.: 123–132.

Parmitasari, P. dan E. Hidayanto. 2013. Analisis Korelasi Indeks Bias


denganKonsentrasi Sukrosa Beberapa Jenis Madu Menggunakan Portable
Brix Meter. Youngster Physics Journal, Volume 1 No, 5: 191-198. 2013.

Shyam Singh. 2002. Refractive Index Measurement and Its Applications. Physics
Scripta, Vol. 65 (2002), pp. 167-180.

Sukarti, Tati. 2010. Kimia Analitik. Penerbit Widya Padjadjaran.

Svehla, G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro.
Penerjemah : Ir. L. Setiono dan Dr. A. Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta.
Penerbit PT. Kalman Media Pustaka.