Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN

PRAKTIKUM KIMIA PANGAN


ANALISIS ABU

Disusun Oleh:
Chansa Luthfia Hirzi
1157040011
Tanggal Percobaan: Senin, 8 Februari 2018
Tanggal Pengumpulan Laporan: Senin, 19 Maret 2018

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018
A. Tujuan
1. Menentukan kadar abu dalam nasi dengan pengabuan basah dan pengabuan
kering menggunakan metode thermogravimetri.
2. Menentukan prinsip pengabuan sampel bahan pangan dengan metode
thermogravimetri.

B. Prinsip Dasar
Abu merupakan residu anorganik sebagai hasil dari proses pembakaran atau
oksidasi komponen organik suatu bahan pangan. Kadar abu total merupakan bagian
dari analisis proksimat yang bertujuan untuk mengevaluasi nilai gizi suatu
produk/bahan pangan terutama total mineral yang terkandung. Pada prinsipnya
penentuan kadar abu yang merupakan residu anorganik akan diperoleh dengan proses
pemanasan di suhu yang tinggi. Karena zat anorganik memiliki titik lebur yang lebih
tinggi dibandingkan zat organik. Maka proses pemanasan akan lebih dulu meleburkan
zat organik yang sebagian besar senyawa karbon yang mudah melebur dan akhirnya
menyisakan zat anorganik dalam bentuk abu dan karbon yang berwarna hitam.

C. Prosedur Percobaan
Hal pertama yang dilakukan dalam percobaan analisis abu dalam bahan pangan
adalah memanaskan cawan pada suhu 105 oC selama 15 menit. Setelah dipanaskan
cawan didinginkan dengan cara disimpan dalam desikator selama 5 menit kemudian
ditimbang. Prosedur ini diulang sebanyak tiga kali atau sampai berat cawan menjadi
konstan.
Selanjutnya sampel (nasi) digerus dengan lumpang dan alu hingga menjadi
lunak. Sampel kemudian ditimbang sebanyak 5 gram didalam cawan yang telah
diketahui beratnya. Sampel dalam cawan dioven pada suhu 500 oC selama 2 jam. Hasil
pemanasan disimpan dalam desikator selama 5 menit kemudian ditimbang.
Abu hasil pemanasan sampe dimasukan kedalam gelas kimia 50 mL dan
ditambah HCl sebanyak 50 mL. kemudian dimasukan batu didih dan ditutup dengan
kaca arloji diatas gelas kimia barulah dipanaskan selama 15 menit. Setelah proses
pemanasan maka api dimatikan dan kaca aroji dibilas dengan akuades dan pemanasan
dilanjutkan selama 15 menit. Selanjutnya disaring dan filtrat yang diperoleh diencerkan
dengan akuades pada labu takar 50 mL.
D. Hasil Pengamatan dan Perhitungan
Perlakuan Pengamatan
Cawan dicuci dan dipanaskan pada suhu Berat cawan setelah pemanasan
105 oC selama 15 menit dan diulang Pemanasan Ke- Berat cawan
sebanyak 3 kali. Lalu didinginkan dalam 1 35,1706 gram
desikator selama 5 menit dan ditimbang 2 35,1828 gram
3 35,1717 gram
Rata-rata 35,1750 gram
Sampel (nasi) digerus menggunakan Nasi menjadi lengket dan lunak berwarna
mortal dan alu. putih
Sampel ditimbang dalam cawan Berat sampel = 5,0560 gram
sebanyak 5 gram
Difurnice pada suhu selama 1 jam. Berat sampel + cawan = 35,1856 gram
Kemudian disimpan dalam desikator Berat sampel = 0,0106 gram
selama 5 menit dan ditimbang.
# Hari ke – 13 Berat cawan kosong = 30,4603 gram
Sampel dihaluskan dan ditimbang Berat sampel = 5,0665 gram
dalam cawan
Difurnice pada suhu 500 oC selama 2 Sampel dari putih menjadi abu berwarna
jam hitam
Sampel + cawan hasil pemanasan Berat sampel + cawan = 30,5044 gram
ditimbang
Abu dimasukan kedalam gelas kimia 50 HCl: larutan tidak berwarna
mL dan ditambah 50 mL HCl Hasil: larutan tak berwarna dan abu tidak
larut.
Dimasukan batu didih dan ditutup Abu tidak larut, larutan tidak berwarna.
dengan kaca arloji barulah dipanaskan
selama 5 menit
Setelah 15 menit, api dimatikan dan Abu larut sebagian.
pinggiran gelas kimia dan kaca arloji
dibilas dengan akuades dan dipanaskan
lagi 15 menit.
Larutan disaring Filtrat: larutan tidak berwarna.
Residu: abu hitam.
Filtrat diencerkan dengan akuades Larutan tidak berwarna.
dalam labu takar 50 mL.

Perhitungan
(berat cawan+berat abu)−berat cawan kosong
1. Kadar Abu Basah = 𝑥 100%
berat sampel

30,5044 𝑔𝑟𝑎𝑚−30,4603 𝑔𝑟𝑎𝑚


= 𝑥 100%
5,0665 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 0,8704 %

0,0106 𝑔𝑟𝑎𝑚
2. Kadar Abu Kering = 5,0560 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑥 100%

= 0,21%
3. Pembuatan larutan HCl 0,1 N 250 mL

𝑔
1,19 𝑚𝐿 𝑥 37% 𝑥 10
𝑀= 𝑔 = 12,0630 𝑀
36,5
𝑚𝑜𝑙

M1 x V1 = M2 x V2
0,1 𝑀 𝑥 250 𝑚𝐿
V1 = = 2,0724 𝑚𝐿
12,0630 𝑀

E. Pembahasan

Pada percobaan kali ini dilakukan analisis kadar abu dalam bahan pangan,
dengan metode thermogravimetri. Sampel yang digunakan adalah nasi. Kadar abu
diperoleh dengan proses pemanasan atau pembakaran pada suhu yang tinggi. Abu
merupakan residu anorganik dari hasil pemanasan. Maka hasil pengabuan dapat
dilanjutkan pada analisis kadar mineral, kemurnian dan kebersihan bahan pangan itu
sendiri. Diketahui bahwa pangan didominasi oleh senyawa organik baik mikromolekul
atau makromolekul seperti protein, karbohidrat dan lemak. Nasi mengandung 28 gram
karbohidrat, 2,66 gram protein, 0,28 gram lemak dan 129 kalori setiap 100 gram nasi.

Terdapat dua cara dalam menganalisis kadar abu yaitu pengabuan basah dan
pengabuan kering. Pada pengabuan basah digunakan pelarut asam kuat untuk
mendestruksi komponen-komponen organik yakni senyawa hidrokarbon. Metode
pengabuan basah lebih baik dibandingkan pengabuan kering karena tidak akan
menghilangkan mineral yang disebabkan suhu tinggi. Sedangkan pengabuan kering
dilakukan dengan cara mendestruksi komponen organik pada suhu yang tinggi didalam
furnace sehingga diperoleh abu yang berwarna putih keabuan dengan berat yang
konstan. Oksigen di udara bertindak sebagai oksidator dan residu yang diperoleh adalah
total abu dari suatu bahan pangan. Kedua metode ini memiliki kelebihan dan
kekurangan tersendiri diantaranya kelebihan pengabuan basah adalah waktu yang
dibutuhkan singkat, suhu yang digunakan rendah, penentuan kadar abu lebih baik.
Untuk pengabuan kering adalah residu digunakan untuk penentuan kadar abu total
bahan pangan, untuk menganalisis abu yang larut dan tidak larut dalam air dan tidak
digunakan reagensia sehingga menurunkan resiko penggunaan bahan reagen yang
berbahaya. Kekurangan untuk pengabuan basah adalah membutuhkan reagen yang
berbahaya, hanya dapat digunakan untuk trace elemen dan logam beracun. Untuk
pengabuan kering adalah membutuhkan waktu yang relatif lama, membutuhkan suhu
yang tinggi dan kemungkinan kehilangan kadar air.

Penentuan kadar abu dimulai dengan menggerus nasi hingga menjadi lembut
dan lengket, guna mengoptimalkan sampel pada proses pemanasan. Penggerusan
membuat permukaan sampel menjadi lebih luas dimana semakin luas permukaan suatu
zat/materi maka reaksi yang akan terjadi semakin cepat. Cawan yang digunakan
dibersihkan terlebih dahulu dan dikeringkan dengan cara pengovenan pada suhu 105 oC
selama 15 menit pertama lalu didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Pemanasan
diulangi sebanyak dua kali agar kadar air pada cawan menguap dengan optimal, atau
terjadinya perubahan fasa air dari liquid menjadi gas. Berat cawan dari pemanasan
pertama hingga ketiga sebesar 35,1706 gram ; 35,1828 gram ; 35,1717 gram dan rata-
rata berat cawan sebesar 35,1750 gram. Barulah ditimbang sampel kedalam cawan
sebanyak 5,0665 gram. Setelah pengovenan, cawan berisi sampel diturunkan suhunya
dengan menyimpan cawan dalam desikator. Silika yang berada dalam desikator mampu
menjerap uap air yang masih menempel pada cawan. Desikator yang berfungsi dengan
baik adalah dengan silika yang berwarna biru. Jika silika sudah berubah warna menjadi
merah muda maka menandakan bahwa silika tidak baik dalam menjerap uap air dan hal
ini dapat diatasi dengan proses pemanasan. Berat sampel dan cawan setelah pemanasan
adalah 30,5044 gram. Sehingga didapatkan kadar pengabuan basah 0,8704 % dan kadar
pengabuan kering sebesar 0,21 %.
F. Kesimpulan
1. Didapatkan kadar abu pada sampel nasi dengan thermogravimetri pada
pengabuan basah sebesar 0,83% dan untuk pengabuan kering 0,21%
2. Prinsip dari pengabuan sampel bahan pangan adalah dengan pemanasan sampel
pada suhu tinggi yaitu 500 oC selama 2 jam. Dan penimbangan sampel abu
setelah pemanasan dengan selisih berat yang menandakan kadar air yang hilang.

Daftar Pustaka

Aprilianto, Anton. 1988. Analisis Pangan PAU dan Gizi. Bogor: IPB.

Astuti. 2012. Analisis Kadar Abu. http://astutipage.wordpress.com . (diakses pada 8 Maret


2018).

Gupita Ihza. 2017. Metode Analisis Kadar Mineral Pangan Pengabuan Basah dan Pengabuan
Kering. http://ihzagupitaa.blogspot.co.id. (diakses pada 19 maret 2018).
Saniatil H, dkk. 2016. Abu Total dan Abu Tidak Larut Asam. http://www.scribd.com.
(diakses pada 19 maret 2018)