Anda di halaman 1dari 11

By Timur Abimanyu, SH.

MH

PERSFEKTIF PERBEDAAN PENDAPAT TERHADAP


UPAYA HUKUM PENINJAUAN KEMBALI YANG
DIAJUKAN JAKSA PENUNTUT UMUM

Menganalisa serta mengkaji terhadap fenomena-fenomena, fakta-kata yang saling


mempertentangkan didalam hukum acara mengenai pengajuan upaya hukum Peninjauan Kembali
yang dilakukan oleh pihak Kejaksaan serta implikasi secara yuridis terhadap dimungkinkannya
pengajuan upaya hukum Peninjauan Kembali oleh Jaksa Penuntut Umum pada wilayah hukum
peradilan di Indonesia. Secara teoritik perundangan Peninjauan Kembali merupakan hak terpidana
atau ahli warisnya, tetapi dalam praktek peradilan didalam hawa politik era reformasi indonesia,
dimana pengajuan upaya hukum Peninjauan Kembali oleh Jaksa Penuntut umum telah beberapa
kali dilakukan didalam beracara diperadilan.
Pada masa-masa orde baru dimana hawa politik yang mempengaruhi kewenangan
peradilan, yang didalam beracara diperadilan menunjukkan bahwa Jaksa Penuntut Umum secara
teoritik memang tidak memiliki hak untuk mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali, akan
tetapi didalam prakteknya Mahkamah Agung pernah mengabulkan upaya hukum Peninjauan
Kembali yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum melalui putusan No. 55PK/Pid/1996 dalam
kasus Muchtar Pakpahan. Majelis hakim Agung dalam pertimbangan hukumnya menggunakan
Pasal 263 KUHAP dan Pasal 21 Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 yang sekarang telah diganti
oleh Undang-Undang No. 4 tahun 2004 dengan menafsirkan pihak-pihak berkepentingan dalam
perkara pidana adalah Jaksa Penuntut Umum dan terpidana sebagai pihak yang dapat mengajukan
upaya hukum Peninjauan Kembali. Namun sebenarnya penafsiran tersebut tidak diperbolehkan
karena ketentuan Pasal 21 Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 yang sekarang telah diganti oleh
Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 telah dijelaskan dalam penjelasan pasalnya bahwa yang
dimaksud pihak-pihak berkepentingan adalah terhukum dan ahli warisnya. Dari uraian tersebut
dapat dilihat terlihat terdapat pertentangan dasar hukum yang digunakan Mahkamah Agung
sehingga putusan Mahkamah Agung RI No. 55PK/Pid/1996 tidak dapat dijadikan yurisprudensi ke
depan.
Pengaturan terhadap Jaksa Penuntut umum dalam mengajukan upaya hukum Peninjauan
Kembali mengenai boleh atau tidaknya perlu diatur secara tegas (apakah berbentuk PERMA atau
peraturan lainnya untuk mencegah kekosongan Hukum didalam beracara), yang sehingga terhadap
upaya kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat bisa tercapai/terpenuhi. Sementara
menunggu revisi KUHAP, Mahkamah Agung dapat menggunakan wewenangnya sesuai Pasal 79
Undang-Undang 5 Tahun 2004 tentang mahkamah Agung dalam memberikan ketentuan mengenai
dimungkinkannya Peninjauan Kembali oleh Jaksa Penuntut Umum.
Sebagai uraian tersebut diatas marilah kita melihat berdasarkan fakta yang terjadi dengan
melihat kasus-kasus yang didapat dari beberapa sumber data dan informasi terkait :
PUTUSAN
MAHKAMAH AGUNG RI
Reg. No. 15 PK/Pid/2006

Resume Perkara:
Terdakwa merupakan pemilik sewa atas suatu rumah. Pada tahun 1965 terdakwa menyewakan
rumahnya kepada saksi korban. Pada bulan juni 2002 saksi korban/penyewa meninggalkan rumah
sewanya selama kurun waktu 2 bulan (tidak terlalu jelas apakah yang dimaksud 2 bulan atau kurun
waktu juni s/d november). Pada bulan November 2002 terdakwa membongkar pintu rumah yang
disewa tersebut dengan merusak kusen, pintu dan kunci rumah, kemudian menggantinya dengan
kunci rantai sepeda. Ketika saksi korban mengetahui kejadian tersebut saksi korban mengganti
kunci rantai sepeda yang dipasang Terdakwa dengan dengan kunci baru. Ketika saksi korban tidak
ada dirumah Terdakwa kembali memaksa masuk ke rumah dengan jalan merusak kunci yang baru
dipasang saksi korban. Atas perbuatan tersebut terdakwa didakwa dengan pasal 200 ayat 1 KUHP,
pasal 406 KUHP, dan pasal 335 KUHP.

Pada tingkat pertama terdakwa dinyatakan terbukti atas dakwaan kedua (406 KUHP –
pengerusakan barang) dan dihukum dengan hukuman penjara selama 6 bulan. Pada tingkat
banding putusan PN dibatalkan, Pengadilan Tinggi menyatakan terdakwa tidak terbukti atas semua
dakwaan. Pada tingkat kasasi Mahkamah Agung membatalkan putusan PT, MA memutus
perbuatan terdakwa terbukti namun perbuatan tersebut bukan tindak pidana (onslaght). Putusan
MA tersebut diputus pada tanggal 21 September 2005. Pada tanggal 28 Juli 2005 JPU mengajukan
PK. Pada tanggal 19 Juni 2006 MA memutus permohonan PK tersebut, menyatakan membatalkan
putusan kasasi. Dalam putusan PK tersebut MA menyatakan terdakwa terbukti melanggar pasal
406 KUHP dan dijatuhi hukuman penjara selama 4 bulan.

Pertimbangan MA
Menimbang, bahwa terlebih dahulu perlu dipertimbangkan apakah permohonan Peninjauan
Kembali terhadap putusan yang telah berkekuatan hukum yang diajukan oleh Jaksa Penuntut
Umum/saksi korban/pihak ketiga yang berkepentingan tersebut secara formil dapat diterima,
mengingat Pasal 263 ayat 1 KUHAP secara limitatief sekali, menentukan bahwa yang berhak
untuk mengajukan permohonan Peninjauan Kembali hanya terpidana atau ahli warisnya dan
putusan yang dapat dimohonkan Peninjauan Kembali tidak boleh merupakan putusan bebas atau
putusan dilepaskan dari segala tuntutan hukum;

Menimbang, bahwa sehubungan dengan hal tersebut Mahkamah Agung menganggap perlu untuk
mengemukakan hal-hal sebagai berikut :
1. Bahwa ditinjau dari teori dan praktek yurisprudensi, dibenarkan melakukan penafsiran
ekstensif dalam bentuk to growth the meaning atau over rule maupun depature. Akan tetapi,
ada yang berpendapat penafsiran ekstensif tidak dibenarkan dalam bidang hukum acara.
Alasannya, hukum acara (terutama acara pidana) adalah “hukum public” yang bersifat
“imperative”, prinsipnya sebagai hukum public yang bersifat imperative, berfungsi sebagai the
rule of the game. Tidak boleh dikesampingkan melalui penafsiran luas oleh aparat penegak
hukum. Oleh karena itu, ketentuan hukum acara tidak boleh dikesampingkan melalui tindakan
diskresi (discretion) atau kebijaksanaan, tindakan yang seperti itu dianggap: Mengakibatkan
terjadinya proses pemeriksaan yang tidak sesuai dengan hukum acara atau undue process;
Dan setiap pemeriksaan yang undue process merupakan pelanggaran dan perkosaan terhadap
hak asasi tersangka atau terdakwa;
2. Oleh karena itu, proses penyelesaian perkara yang menyimpang dari hukum acara,
dikualifikasikan sebagai unfair trial (peradilan yang tidak jujur);

Bertitik tolak dari argumentasi ini, pada prisipinya tidak boleh melakukan penafsiran atau
diskresi yang luas dalam penerapan hukum acara. Setiap tindakan yang mengesampingkan
ketentuan acara, dianggap melanggar asas due process dan fair trial. Oleh karena itu, penafsrian
luas terhadap hukum acara dapat menjerumuskan penegakan hukum ke arah : where law ends,
tyranny begin (ungkapan ini tertulis pada pintu masuk Departemen of justice di Washington DC);
Sehubungan dengan itu, putusan No.55 PK/Pid/1996 yang mengembangkan (to growth)
atau menyimpangi (overrule) ketentuan Pasal 263 KUHAP atas alasan kepentingan umum dan
keadilan moral, tidak dapat dibenarkan karena melanggar prinsip due process dan fair trial serta
sifat imperative yang menjurus kepada peradilan “tirani”; Akan tetapi, sebaliknya ada yang
berpendapat, meskipun hukum acara tergolong hukum public yang berifat imperative,
dimungkinkan untuk melakukan penafsiran atau diskresi apabila hal itu dibutuhkan untukmencapai
proses penyelesaian yang lebih fair ditinjau dari aspek kepentingan umum dan tuntutan rasa
keadilan yang lebih hakiki serta manusiawi atau disebut according to the principle of justice;
Bahkan berkembang pendapat umum yang mengatakan : tanpa penafsiran atau diskresi dalam
penerapan hukum acara, tidak mungkin aparat penyidik, penuntut, dan peradilan dapat
menyelesaikan kasus perkara pidana. Sifat hukum acara sebagai ketentuan public memang diakui
“imperative” , tetapi tidak seluruhnya absolute. Ada ketentuan yang dapat “dilenturkan” (flexible)
dikembangkan (growth) bahkan disingkirkan (overrule) sesuai dengan tuntutan perkembangan rasa
keadilan dan kemanusiaan dalam satu konsep : to improve the quality of justice and to reduce
injustice.

Salah satu bukti nyata yang tidak dapat dipungkiri dalam sejarah perjalanan KUHAP, kasus
Natalegawa dalam perkara No.275 K/Pid/1983 (10 Desember 1993). Dalam perkara ini,
Mahkamah Agung telah mewujudkan case law yang telah menjadi state decisis melalui “extensive
interpretation”:
· Dalam kasus ini, walaupun Pasal 244 KUHAP “tidak memberi hak” kepada penuntut umum
mengajukan kasasi terhadap “putusan bebas” (…terdakwa atau penunut umum dapat
mengajukan permintaan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agung kecuali terhadap putusan
bebas);
· Akan tetapi, ternyata dalam kasus Natalegawa sifat imperative yang melekat pada ketentuan ini
“dilenturkan”, bahkan disingkirkan (overrule) dengan syarat apabila putusan bebas yang
dijatuhkan, bukan pembebasan murni. Sejak saat itu, kasasi yang diajukan penuntut umum
terhadap putusan bebas pada prinsipnya dibenarkan oleh Mahkamah Agung, berarti penerimaan
kasasi yang diajukan penuntut umum terhadap putusan bebas, merupakan bentuk penafsiran luas
yang jelasjelas bersifat contra legem atau “bertentangan dengan undang-undang “ (dalam hal ini
bertentangan dengan Pasal 244 KUHAP). Jika pertimbangan yang tertuang dalam putusan
perkara ini diperas, intisari atau esensinya : to improve the quality of justice and to reduce in
justice yang terkandung dalam putusan bebas Natalegawa;
Motivasi tersembunyi yang paling dalam mengcontra legem Pasal 244 KUHAP, bertujuan untuk
mengoreksi dan meluruskan putusan bebas atau kekeliruan yang terkandung dalam putusan,
dianggap sangat tidak adil dan tidak bermoral, apabila pengadilan tidak mampu menghukum orang
yang bersalah. Sangat bertentangan dengan keadilan dan kebenaran apabila pembebasan terdakwa
didasarkan pada alasan “non yuridis”. Dalam kasus yang seperti itu sangat beralasan untuk
mengoreksinya dalam tingkat kasasi. Oleh karena itu dianggap tidak adil untuk menutup upaya
kasasi terhadap putusan bebas., demi terwujudnya penegakan hukum, kebenaran, dan keadilan
semaksimal mungkin. Bertitik tolak pada motivasi yang seperti itulah yang mendorong Majelis
Peninjauan Kembali dalam kasus Muchtar Pakpahan melenturkan atau mengembangkan ketentuan
Pasal 263 KUHAP. Demi untuk mengejar tercapainya kebenaran dan keadilan hakiki yang lebih
maksimal, harus diberi hak kepada penuntut umum mengajukan peninjauan kembali terhadap
putusan bebas, dengan cara memberi kesempatan kepada penuntut umum membuktikan bahwa
pembebasan yang dijatuhkan pengadilan “tidak adil” (injustice) karena didasarkan ada alasan
“nonjuridis “ ( M.Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP, Penerbit
Sinar Grafika, Edisi Kedua, hal. 642 – 643 ) ;
Bahwa pengadilan mempunyai kedudukan penting dalam sistim hukum kita, karena ia
melakukan fungsi yang pada hakikatnya melengkapi ketentuan ketentuan hukum tertulis melalui
pembentukan hukum (rechtvorming) dan penemuan hukum (rechtvinding).Dengan kata lain,
hakim/pengadilan dalam system hukum kita, yang pada dasarnya tertulis itu, mempunyai fungsi
membuat hukum baru (creation of new law).Karena itu walaupun sistem hukum Indonesia
merupakan sistem hukum tertulis, tetapi merupakan sistem yang terbuka (open system ). Fungsi
membentuk hukum ( baru) oleh pengadilan/hakim diatas harus dilakukan olehnya untuk mengisi
kekosongan dalam hukum dan mencegah tidak ditanganinya suatu perkara karena hukum (tertulis )
tidak jelas atau tidak ada.( H.Pontang Moerad , Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan
Dalam Perkara Pidana , Penerbit P.T ALUMNI, Edisi Pertama, Cetakan ke – 1, hal. 15 – 16 );

Bahwa fungsi, kewajiban dan tugas dari Pengadilan/ hakim berdasarkan Undang- Undang
Nomor 4 Tahun 2004 , dapat disimpulkan dari ketentuanketentuan sebagai berikut :
a). Pasal 5 :
(1) Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda bedakan orang.
(2) Pengadilan membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan
rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan
b). Pasal 16 ayat 1, Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutus
suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan
wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.
c). Pasal 28 ayat 1 “ Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilainilai hukum dan rasa
keadilan yang hidup dalam masyarakat “ ;

Bahwa sejalan dengan jiwa ketentuan-ketetuan undang-undang tersebut adalah pendapat


dari Hamaker dalam karangannya Het recht en de maatschappij dan juga Recht, Wet en Rechter
yang antara lain menyatakan bahwa hakim seyogianya mendasarkan putusannya sesuai dengan
kesadaran hukum dan perasaan hukum yang sedang hidup dalam masyarakat ketika putusan itu
dijatuhkan. Dan bagi Hymans (dalam karangannya Het recht der werklijkheid), hanya putusan
hukum yang sesuai dengan kesadaran hukum dan kebutuhan hukum warga masyarakatnya yang
merupakan “ hukum dalam makna sebenarnya”( het recht der werkelijkheid) ( Acmad Ali,
Menguak Tabir Hukum (suatu Kajian Filosofis Dan Sosiologis),Cet.ke II (Kedua),2002,Hal .140 ).
Bahwa dari putusan Mahkamah Agung tanggal 25 Oktober 1996 Nomor : 55 PK/Pid/1996 ,
tanggal 2 Agustus 2001 Nomor : 2 Agustus 2001 Nomor : 3 PK/PID/2001 dan putusan Mahkamah
Agung tanggal 28 Nopember 2001Nomor : 4 PK/PID/ 2000, dapat disimpulkan secara global
alasan diterimanya secara formal permohonan Peninjauan Kembali dari Jaksa Penuntut Umum dan
Pihak ketiga yang berkepentingan, sebagai berikut :
a. Pasal 263 ayat 1 KUHAP tidak secara tegas melarang Jaksa Penuntut Umum mengajukan upaya
hukum Peninjauan Kembali, sebab logikanya tidak mungkin terpidana/ahli warisnya akan
mengajukan Peninjauan Kembali atas putusan vrijspraak dan onslag van alle rechtsvervolging.
Karena dalam konteks ini yang berkepentingan adalah Jaksa Penuntut Umum atas dasar alasan
dalam ketentuan Pasal 263 ayat 2 KUHAP.
b. Konsekuensi logis aspek demikian, maka Pasal 263 ayat 3 KUHAP yang menentukan “Atas
dasar alasan yang sama sebagaimana tersebut pada ayat (2) terhadap suatu putusan pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat diajukan permintaan peninjauan kembali
apabila dalam putusan itu suatu perbuatan yang didakwakan telah dinyatakan terbukti akan
tetapi tidak dikuti oleh suatu pemidanaan” juga tidak mungkin dimanfaatkan oleh terpidana atau
ahli warisnya sebab akan merugikan yang bersangkutan, sehinga dalam hal ini adalah logis bila
hak untuk mengajukan permintaan Peninjauan Kembali tersebut diberikan kepada Jaksa
Penuntut Umum.
c. Berdasarkan azas legalitas serta penerapan azas keseimbangan Hak Azasi antara kepentingan
perseorangan (Termohon Peninjauan Kembali) dengan kepentingan Umum, Bangsa dan Negara
dilain pihak disamping perseorangan (terdakwa) juga kepentingan umum yang dimiliki oleh
Jaksa Penuntut Umum tersebut dapat pula mengajukan permintaan Peninjauan Kembal terhadap
putusan pengadilan yang telah berkekuatan tetap, yang merupakan putusan bebas dan atau
dilepaskan dari segala tuntutan hukum .Alasan ini adalah sesuai dengan Model yang tertumpu
pada konsep daad-dader-strafrecht yang oleh Muladi disebut Model Keseimbangan
Kepentingan, yaitu model yang realistis yang memperhatikan pelbagai kepentingan yang harus
dilindungi hukum pidana yaitu kepentingan Negara, kepentingan umum, kepentingan individu ,
kepentingan pelaku tindak pidana dan kepentingan korban kejahatan.(Muladi,Kapita Selekta
Hukum Pidana, Universitas Diponegoro, Semarang,1995, hal.5) dan selaras pula dengan tujuan
hukum dari pandangan hidup Pancasila , yaitu Pengayoman dimana hukum harus mengayomi
semua orang, baik yang menjadi tersangka, terdakwa atau terpidana, maupun yang menjadi
korban tindak pidana.
d. Berdasarkan asas legalitas dan pengawasan horizontal serta ketentuan pasal 79 Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1985 maka Mahkamah Agung berwenang membuat peraturan sebagai
pelengkap tentang cara menyelesaikan suatu soal yang tidak atau belum diatur oleh Undang-
Undang. Untuk mengisi kekosongan, kekurangan Hukum maka Pasal 263 ayat ( 1 ) KUHAP
mengenai permohonan Peninjauan Kembali oleh hanya terpidana atau ahli warisnya dalam
perkara pidana ini mesti dilenturkan berdasarkan kekurangan dan kekosongan hukum sekaligus
suatu kebutuhan dalam acara, sehingga mencakup juga permohonan peninjauan kembali oleh
“Pihak Ketiga Yang Berkepentingan” sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 80 KUHAP
atau “Pihak Ketiga Yang Berkepentingan” dalam Pasal 21 UU Nomor 14 Tahun 1970 atau
Jaksa Agung atau Pihak yang berkepentingan lainnya dalam Pasal 10 ayat (1) Peraturan
Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1980.
e. Bahwa berdasarkan asas legalitas dan asas pengawasan horizontal dalam Pasal 80 KUHAP serta
ketentuan Pasal 79 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 berikut penjelasan asasnya maka
dalam acara pemeriksaan Peninjauan Kembali untuk memeriksa dan mengadili serta
menyelesaikan permohonan praperadilan ini Mahkamah Agung berlandaskan kebutuhan dan
kekosongan hukum sehingga berakibatkan ketidakpastian hukum sekaligus merupakan suatu
kebutuhan dalam acara pemeriksaan permintaan Peninjauan Kembali atas permohonan
praperadilan maka ketentuan Pasal 263 ayat (1) KUHAP mengenai putusan pengadilan mesti
dilenturkan kembali hingga mencakup putusan Pengadilan (dalam Pasal 156 ayat 1 KUHAP<
href="http://www.kulitkrupuk.com/">http://www.kulitkrupuk.com/.

Selain dari kasus diatas masih terdapat pula kasus Tindak Pidana dalam perkara Cessie
Bank Bali yang diajukan oleh Pihak Jaksa Penuntut Umum, dimana :
Majelis Hakim Peninjauan Kembali (PK) kasus pidana cessie Bank Bali telah menyatakan
menerima permohonan PK yang diajukan oleh pihak kejaksaan. Putusan yang diketok pada tanggal
11 Juni 2009 tersebut telah menjatuhkan vonis penjara selama dua tahun kepada Joko Tjandra,
beban denda sebesar Rp 15 juta, dan menyatakan uang Joko di Bank Bali sejumlah Rp
546.166.166.369 dirampas untuk negara.
Kuasa hukum Joko Tjandra menyatakan akan melakukan upaya hukum PK atas putusan
PK yang telah memvonis kliennya tersebut. Menurutnya, hak permohonan PK hanya dapat
diberikan terbatas kepada terpidana atau ahli waris sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Aca ra Pidana (KUHAP). Karena kliennya belum pernah mengajukan haknya
maka kuasa hukum juga berencana mengajukan upaya hukum PK.Persoalan PK atas PK terus
menjadi isu pembahasan da lam berbagai diskusi hukum. Menjadi polemistis karena ti dak satu
pun legal basis dalam ketentuan normatif yang dapat melegitimasi keberadaan PK atas PK.
Ketentuan UU No 4/2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menegaskan bah wa terhadap putusan
PK tidak dapat dilakukan PK. Selan jut nya Pasal 268 Ayat (3) KUHAP membatasi bahwa
permintaan PK atas suatu pu tusan hanya dapat dilakukan satu kali saja. Dalam konteks bahasa
awam penyebutan “PK atas PK” memberikan kesan gambaran bahwa telah terjadi dua kali PK,
atau pengajuan PK dilakukan lebih dari satu kali. Menurut hemat penulis konotasi bahasa “PK atas
PK” tidak menjadikan PK dilakukan dua kali atau lebih dari satu kali, melainkan tetap satu kali
secara hakikatnya, yaitu PK yang diajukan satu kali oleh terpidana (offender) dan PK yang
diajukan satu kali oleh jaksa.

Dan terhadap perkara Pidana lainnya yaitu Peristiwa Sengkon-Karta (yang berkaitan
dengan perkara perburuhan) :
Upaya hukum PK sebagai upaya hukum luar biasa (ex tra ordinary remedy) pengajuannya dibatasi
berdasarkan syarat-syarat yang materiil dan formil sifatnya. Secara materiil pengajuan PK dibatasi
pada ke ada an-keadaan:
(1) adanya bukti atau keadaan baru (no vum),
(2) terdapat dua atau lebih putusan pengadilan yang saling bertentangan (a contrary verdict),
(3) adanya kekeli ruan atau kekhilafan hakim secara nyata.Selanjutnya pada segi formalitas
pengajuan PK dibatasi pada keadaan (1) telah adanya putusan pengadilan yang berkekuatan
hukum tetap (inkracht van gewisjde), (2) putusan tersebut memuat suatu pemidanaan
(punishment), artinya bukan putusan bebas (vrijspraak) atau putusan lepas dari segala tuntutan
hukum (ontslag van alle rechtvervolging) (3) dan diaju kan oleh terpidana atau ahli warisnya
berdasarkan KUHAP maupun oleh “pihak-pihak yang bersangkutan” ber da sar kan UU
Kekuasaan Kehakiman.PK sebagai upaya hukum yang extraordinary sifatnya diletakkan pada
posisi terakhir di samping upaya-upaya hukum lainnya yang ditentukan pada ketentuan
normatif de ngan tujuan mendapatkan ke be naran secara materiil atas suatu perkara pidana
yang telah diakhiri pemeriksaannya.
Upaya Hukum luar biasa (PK) secara historis lahir pada peristiwa Sengkon-Karta (yang
diungkap oleh Sinar Ha rapan, 1980) yang menjadi korban penghukuman pidana akibat “peradilan
sesat” yang di kemudian hari ditemukan ada nya novum bahwa Sengkon-Kar ta bukanlah
pelakunya. Jadi, secara historis PK adalah upaya hukum yang lahir demi melindungi kepentingan
terpidana (offender) atas ada nya fak ta suatu novum maupun sebagai control atas adanya ke ke li
ruan atau kekhilafan hakim da lam menjatuhkan suatu putusan. Namun, dalam perkembangannya
PK, sebagai extraordinary remedy, telah mengalami pergeseran paradigma, terutama dari segi
pemohonnya. Berulang kali Mahkamah Agung mengabulkan PK yang diajukan oleh kejaksaan
sebagai pemohon antara lain: kasus Muchtar Pakpahan (1996), kasus Ram Gulumal (2001), kasus
Praperadilan IKBLA melawan Kejaksaan Negeri Samarinda (2002), kasus pembunuhan aktivis
HAM Munir atas nama terdakwa Polly carpus Budihari Priyanto (2008), dan yang terakhir adalah
kasus pidana cessie Bank Bali atas nama terdakwa Joko Tjandra (2009).Dari “Offender Oriented”
ke “Victim Oriented” Meskipun secara eksplisit tidak ada ketentuan normatif yang melegitimasi
kewenangan jaksa mengajukan PK, pada akhirnya secara garis besar MA telah melakukan
interpretasi normatif dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan bahwa (1) tidak terdapat
ketentuan yang melarang pihak kejaksaan untuk mengajukan PK, kemudian (2) jaksa dapat
dikategorikan sebagai “pihak-pihak yang berkepentingan/bersangkutan” yang dapat mengajukan
PK sebagaimana diatur dalam UU Kekuasaan Kehakiman. Maraknya pengabulan PK Kejaksaan
yang dilakukan oleh MA menggambarkan bahwa dalam perkembangannya PK telah mengalami
pergeseran fungsi, yang pada awal peng aturannya ditujukan untuk ke pen tingan terpidana semata
(offender oriented) selanjutnya juga bergeser ke arah kepen ting an pihak korban (victim oriented).
Guna mendapatkan kebenaran materiil dalam realitas perkembangan permasalahan hukum pidana
yang sema kin dinamis, bentuk interpretasi normatif yang memberi peluang dilakukannya PK oleh
kejaksaan sebagai wakil pihak korban menjadi suatu kenisca ya an. Apalagi terhadap per ka ra-
perkara pidana yang membawa impact luas terhadap ma syarakat selaku korban seperti korupsi,
HAM, dan terorisme.

Terdapatnya perbedaan pendapat,


Pendapat yang mengatakan PK oleh kejaksaan sebagai bentuk intervensi kekuasaan dalam proses
peradilan seperti kasus Muchtar Pakpahan (1996), su dah tidak perlu menjadi alasan kekhawatiran
sejak dilakukannya pemisahan fung si administratif badan peradilan dari eksekutif (Departemen
Hukum dan Perundang-un dang an) dengan UU Ke kua sa an Ke ha kiman (UU No 4 /
2004).Peluwesan berdasarkan interpretasi normatif guna memberikan hak kepada kejaksaan untuk
mengajukan PK juga tidak boleh mengkebiri hak terpidana (offender rights) untuk tetap
mengajukan upaya PK berdasarkan fakta historis tujuan upaya PK. Kemudian apakah dengan
keadaan tersebut menyebabkan PK atas PK menjadi legitimate? Upaya PK atas PK jangan
ditafsirkan sebagai suatu keadaan yang dapat mengarah terhadap terjadinya suatu ketidakpastian
proses hukum, melainkan sebagai suatu kondisi yang diberikan masing-masing kepada terpidana
(offender) dan kejaksaan sebagai wakil korban (victim) guna memenuhi asas keseimbangan pe me
riksaan (audi et alteram par tem) demi mendapatkan kebenaran materiil guna menegak kan
kebenaran dan keadil an. Sumber Data : http://www.sinar/ harapan.com, Pergeseran Fungsi PK ke
Arah “Victim Oriented” oleh: Alfin Sulaiman, Sabtu, 25 Juli 2009.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas dimana terlihatlah bahwa terdapat terdapat perbedaan
pendapat dikalangan para petinggi dibidang peradilan beserta intansi terkait yang
mempermasalahkan mengenai pengajuan Peninjauan Kembali yang diajukan oleh Jaksa Penuntut
Umum. Mengenai uraian tersebut mari kita tinjau pada permasalahan dibawah ini :
Dalam mengenai wewenang Jaksa Mengajukan PK Kembali Dipersoalkan, dimana Peninjauan
Kembali adalah hak terdakwa atau terpidana sepenuhnya. Dan tampaknya Rancangan KUHAP
akan mempertahankan prinsip tersebut. Perdebatan boleh tidaknya jaksa mengajukan permohonan
peninjauan kembali (PK) masih saja mengemuka. Kali ini, perdebatan yang cukup usang ini terjadi
di luar persidangan PK pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir. Istri terdakwa
Pollycarpus, Yosepha Hera Iswandari, mempertanyakan PK yang diajukan oleh Kejaksaan.
“Seharusnya yang berhak mengajukan PK adalah terdakwa,” ujarnya.
Uraian Yosepha Hera mengutip ketentuan Pasal 263 KUHAP yang menyebutkan “Terhadap
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau
lepas dari segala tuntutan hukum, terpidana atau ahli warisnya dapat mengajukan permintaan
peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung”.

Selama ini, wewenang jaksa mengajukan PK telah menjadi perdebatan di kalangan hukum,
terutama sejak yurisprudensi kasus Muchtar Pakpahan. Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk
Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) Usman Hamid menggunakan
penafsiran a contrario, yang menyatakan sepanjang tidak ada larangan maka dibolehkan. Dalam
hal ini, menurutnya jaksa boleh saja mengajukan PK karena Pasal tersebut tidak ada larangan
terhadap jaksa kalau ingin mengajukan PK.

Perdebatan mengenai wewenang jaksa mengajukan PK akan terus berlarut-larut jika tidak
dipertegas dalam revisi KUHAP. Akademisi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang
juga anggota penyusun KUHAP, Mudzakkir, menegaskan bahwa pembahasan tim perumus belum
menyentuh masalah ini. Namun secara pribadi ia berpendapat perlu pengaturan yang lebih tegas
agar ‘terobosan’ hukum itu mendapat payung hukum.

Menurut Mudzakkir, redaksional yang terdapat dalam Pasal 263 KUHAP tersebut sudah cukup
baik. Tetapi, ia mengakui dalam prakteknya sering terjadi penafsiran yang memperbolehkan jaksa
mengajukan PK, seperti penafsiran yang digunakan Usman. Apalagi hal ini didukung oleh
Yurisprudensi. Namun, pendapat pribadi Mudzakkir adalah jaksa tetap tidak boleh mengajukan
PK.

Mudzakkir berpendapat PK merupakan hak sepenuhnya dari terdakwa atau terpidana.


“Semestinya, mengacu pada logika hukum dimana yang menuntut yang harus membuktikan,”
ujarnya. “Berarti kalau jaksa gagal membuktikan, maka tidakmungkin dia bisa mengajukan PK,”
dan menjelaskan juga bahwa jaksa sudah memiliki kewenangan yang cukup besar untuk
membuktikan seorang terdakwa salah atau tidak. “Karena dia dari mulai penyelidikan, penyidikan,
persidangan sampai tingkat MA untuk membuktikan. Kalau dalam proses itu jaksa gagal, itu
merupakan resiko yang menguntungkan terdakwa,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Mudzakkir mengatakan dalam RKUHAP harus ditegaskan kembali, agar
penafsiran semua orang sejalan, bahwa jaksa tidak boleh mengajukan PK. Ia mengusulkan
penambahan dalam penjelasan pasal seperti pihak-pihak lain diluar ini (terdakwa atau terpidana)
tidak boleh mengajukan PK.

Penegasan ini berguna agar memastikan tidak adalagi yang menggunakan penafsiran a contrario
atau menggunakan yurisprudensi. Bahkan Mudzakkir menilai penggunaan penafsiran tersebut
dalam hukum acara pidana merupakan salah kaprah serta menjelaskan bahwa hukum acara pidana
adalah prosedural justice, artinya proses-proses diakui manakala sesuai dengan prosedur akan
tetapai jika “di luar prosedur, maka tidak bias dilakukan”.

Menembus kekakuan legalistic


Kembali ke dalam konteks pada kasus PK Munir, dimana Usman tetap perpegang teguh kepada
prinsip bahwa jaksa dapat mengajukan PK. “Kekakuan atau keterbatasan yang bersifat legalistik
itu bisa ditembus kalau memang dilakukan untuk menciptakan keadilan,” jelasnya. Dalam sudut
pandang inilah, ia mempersilahkan pihak jaksa sbg pemohon peninjauan kembali.

Adanya sebuah dilema, akan tetapi alasan keadilanlah yang menurut Usman paling utama. “Kita
tidak dalam posisi mempersoalkan ketentuan legalistik dari PK, akan tetapi sebagai tolok ukurnya,
apakah negara bersungguh-sungguh memberikan keadilan bagi pihak korban”.

Sementara itu, Yosepha Hera justeru mengkritik tidak konsistennya akrivis HAM seperti Usman
Hamid, yang menjelaskan awal dibolehkan jaksa mengajukan PK berasal kasus Mochtar
Pakpahan. Menurut Yosepha Hera PK oleh jaksa pada kasus Mochtar merupakan arogansi
kekuasaan pada zaman Orde Baru. “Pada waktu itu ditentang habis-habisan oleh para aktivis
LSM,” dan pada kasus PK Munir ini adalah diibaratkan menjilat ludahnya sendiri”.

Menyoroti perlindungan hukum bagi pihak korban. “Sampai hari ini korban (keluarga Munir,-red)
masih kebingungan, ada kejahatan tapi tidak ada hukuman, ada pengadilan tapi tidak ada keadilan.
Terhadap pandangan tersebut Mudzakkir memahami kekecewaan orang-orang/pencari keadilan
yang menjadi korban suatu kejahatan, akan tetapi berpaling lagi pada sistim hukum Indonesia yang
tidak melibatkan korban menjadi pihak dimana “Korban tidak tampil dalam setiap proses-proses
hukum dan itulah resikonya, dimana korban dilayani oleh negara, dalam konteks ini adalah pihka
polisi dan jaksa. Sedangkan pada wilayah hukum negara/luar negeri, pihak korban sudah bisa
menjadi pihak ketiga untuk berpartisipasi dalam proses pengadilan. Sehingga korban juga dapat
ikut serta memperjuangkan keadilan terhadap dirinya sebagai akibat dijatuhkannya putusan
pengadilan yang dirasakan tidak memncerminkan rasa keadilan.

=======================

Ilustrasi By Timur Abimanyu, SH.MH.

Jika berbicara mengenai Peninjauan Kembali/PK, yang di lakukan oleh jaksa,maka dapat di
katakan bahwa ini adalah hal yang sangat aneh dan tidak Lasim dalam konteks hukum di
Indonesia, karena jaksa tidak memiliki ruang apapun di dalam KUHAP untuk melakukan PK
karena satu satunya pasal yang berbicara mengenai ketentuan PK hanyalah pasal 263 KUHAP, dan
hanya memberikan ruang kepada terdakwa atau terpidana dan ahliwarisnya untuk dapat melakukan
peninjauan kembali jika yang bersangkutan merasa tidak puas dengan putusan hakim dan memang
aitem PK ini bukan di maksudkan kepada jaksa, walaupun di dalam KUHAP tidak mengatur ihwal
jaksa tdk dapat mengajukan PK tetapi, menurut saya pasal 263 KUHAP sudah sangat jelas,
sehingga tidak perlu lagi di interpretasikan dengan pendekatan tafsiran apapun. karena sesuatu
yang sudah jelas untuk apalagi di interpretasikan. kecuali KUHAP di revivisi untuk memasukan
aitem ini, menurut pendapat sumber data hendri toisuta.
Email : htoisuta@yahoo.com
Berdasarkan sumber data lainnya, yang mempersoalkan Peninjauan Kembali yang dilakukan Jaksa
Penuntut Umum, dimana menurut KUHAP yang menyatakan hanya terdakwa dan ahli warisnya
yang dapat mengajukan PK, karena Peninjauan Kembali adalah merupakan salah satu upaya
hukum, prinsipnya pihak dapat menempuh upaya hukum apabila tidak puas atas putusan atau
mempunyai bukti baru.kalo kita lihat dlm perkara perdata para pihak (Penggugat/tergugat) dapat
menempuh segala upaya hukum apabila ditemukan bukti baru (termasuk PK). begitupun jaksa,
prinsipnya dalam KUHAP beban pembuktian ada pada jaksa. sepanjang jaksa memiliki bukti baru
bahwa terdakwa itu bersalah dan dapat dibuktikan dengan bukti yang diajukan tersebut saya pikir
boleh-boleh saja. sungguhpun redaksional KUHAP tidak tegas membolehkan itu tetapi
yurisprudensi membuktikannya mebolehkan. Edi Prayitno, S.H.
Email:eprayitno_law@yahoo.co.id.

Dengan demikian bahwa wewenang Jaksa Mengajukan PK yang menjadi persoalan atau
permasalahan dimana suatu pengajuan PK harus melihat dari fersi kasus perkasus hukumnya,
karena apabila terhadap kasus menghilangkan nyawa orang lain, maka orang tersebut tidak berhak
untuk mengajukan PK (akan tetapi jika terdakwa yang sebenarnya tidak melakukan pembunuhan
dan terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa dia tidak melakukan pembunuhan bagaimana ?),
kembali pada kasus diatas dan sebagai contohnya dinegara Arab Saudi, apabila seorang telah
menghilangkan nyawa orang lain, maka harus dihadapkan kepada hukuman pancung ? (sistim
hukumnya berbeda ?) sumber data : Adi Partogi Singal Simbolon, SH.
http://www.hukumonline.com

Menurut analisa penulis dalam hal terhadap perkara tindak Peninjau Kembali, dimana menurut
pandangan para Petinggi Mahkamah Agung terdapat dua perbedaan pendapat yaitu :
”Ada yang berpendapat bahwa Peninjauan Kembali dapat diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum
pada setiap perkara tindak Pidana”. Akan tetapi pada masalah ini jika Jaksa Penuntut Umum ingin
memperjuangkan keadilan terhadap perkara atau kasus, misalnya percurian ayam, penipuan,
menurut hemat penulis adalah tidak relevan karena keuntungan apa yang diperjuangkan oleh Jaksa
Penuntut Umum tersebut ?”

”Pendapat lainnya bahwa Peninjauan Kembali dapat diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum adalah
dalam kasus perkara Korupsi (Khusus), dengan asumsi dan bertujuan untuk mengambil aset negara
yang telah dikorupsi oleh terdakwa ? dan analisa penulis bahwa PK yang diajukan oleh Jaksa dapat
dilakukan, hanya dalam perkara-perkara khusus/Pidana Khusus yang berkaitan dengan keuangan
negara yang telah dirugikan akibat perbuatan tersebut.

Kedepan perlunya suatu peraturan yang bersifat penunjuang atau sebagai payung hukum yang
berupa Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) dan didampingi oleh Surat Edaran Mahkamah
Agung (SEMA), sebelum upaya merefisi KUHAPidana dengan point-point yang mengatur PK
dapat diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (dalam pasal-pasal yang memperjelas ketentuan
tersebut).

Sumber Data :
http://www.timoer.infomediailmiah.blogspot.com/
http://www.indonesiaunite.com
http://www.google.com/
http://www.hukumonline.com/
http://www.yahoo.com/
http://www.qtv.com/
http://www.sinarharapan.com/
http://www.kulitkrupuk.com/.