Anda di halaman 1dari 19

PERKEMBANGAN USIA DEWASA

A. Periode Perkembangan Masa Dewasa Awal


Individu yang menginjak usia 24 tahun sampai usia 30 tahun termasuk kedalam
periode dewasa awal. Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian diri terhadap
pola-pola kehidupan baru mulai dari segi fisik hingga segi psikis. Adapun periode
penyesuaian dari segi fisik dan psikis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Periode Penyesuaian Diri Dewasa Awal dalam Segi Fisik
Puncak efisiensi fisik biasanya dicapai pada usia pertengahan dua puluhan,
namun kemudian terjadi penurunan lambat laun hingga awal usia empat puluhan.
Dengan demikian dalam periode penyesuaian, secara fisik orang mampu menghadapi
dan mengatasi masalah-masalah yang sukar dan paling banyak jumlahnya dalam
periode ini.
Ketika orang tumbuh menjadi dewasa, pria dan wanita dewasa telah
belajar untuk menerima perubahan-perubahan fisik. Meskipun terkadang
penampilan seseorang secara fisik tidak sebagaimana yang diharapkan,
namun orang tersebut dapat berusaha untuk menjadikan dirinya menarik
dan bertujuan untuk meningkatkan kebugaran fisiknya. Contohnya saja dengan
melakukan olah raga agar fisik tetap bugar dan melakukan diet tertentu, tidak hanya
pada orang yang menderita kegemukan, namun juga diet pada makanan tertentu juga
dilakukan pada orang yang ingin menjaga kesehatannya. Seperti orang yang menderita
penyakit diabetes melakukan diet makan atau minuman yang mengandung kadar gula
yang tinggi yang bertujuan untuk menjaga kesehatannya.
2. Periode Penyesuaian Diri Dewasa Awal dalam Segi Psikis
Periode dewasa awal mengalami perubahan-perubahan secara psikis,
diantaranya dapat dipaparkan dalam berbagai segi yaitu sebagai berikut ini:
a. Intelegensi / Kognitif
Intelegensi merupakan Kemampuan berfikir lebih realistis dan berfikir
jauh kedepan, strategis dan selalu bersemangat untuk berwawasan luas.
Usia dewasa awal adala masa pengoptimalan intelegensi setiap individu. Terlebih lagi
jika seseorang berkecimpung dalam dunia perkuliahan, akan banyak sekali perubahan
signifikan yang terjadi dari segi intelegensi dan pemikiran. Dewasa awal adalah masa
dimana seseorang dapat berpikir luas dan dapat mengembangkan segala hal yang
terdapat dalam pemikirannya. Biasanya seseorang akan langsung dapat menuangkan
segala pemikirannya dalam sebuah perbuatan.
b. Moral
Dalam teori Kohlberg, perkembangan moral anak-anak dan remaja
mengiringi kematangan kognisi. Pada masa dewasa, penilaian moral
seringkali menjadi lebih kompleks. Pengalaman mungkin mengarahkan orang
dewasa untuk mengevaluasi kembali criteria mereka tentang bener dan salah. Sebagian
orang secara spontan menyebut pengalaman personal sebagai alasan jawaban mereka
terhadap dilemma moral. Misalnya, orang-orang yang mengidap kanker atau saudara
yang memiliki penyakit tersebut, berkecenderungan lebih besar memaafkan pria yang
mencuri obat mahal semi istrinya yang sedang sakit sekarat, dan menjelaskan
pandangan ini dari pengalaman mereka sendiri (Bielby&Papalia, 1975). Pengalaman
seperti ini amat di warnai oleh emosi, memicu pemikiran ulang dengan cara yang tidak
biasa dilakukan oleh diskusi impersonal dan hipotesis, dan pengalaman ini lebih
mungkin membuat orang melihat sudut pandang orang lain.
c. Emosional
Sekitar awal atau pertengahan umur tiga puluhan, kebanyakan orang
muda telah mampu memecahkan masalah-masalah mereka dengan cukup
baik sehingga menjadi stabil dan tenang secara emosional. Apabila emosi yang
menggelora yang merupakan cirri tahun-tahun awal kedewasaan masih tetap kuat pada
usia tiga puluhan, maka hal ini merupakan tanda bahwa penyesuaian diri pada
kehidupan orang-orang dewasa belum terlaksana secara memuaskan.
Apabila ketegangan emosi terus berlanjut sampai usia tiga puluhan, hal itu
umumnya tampak dalam bentuk keresahan. Apa yang diresahkan orang-orang muda itu
tergantung dari masalah-masalah penyesuaian diri yang harus dihadapi saat itu dan
berhasil tidaknya mereka dalam upaya penyelesaian itu. Kekhawatiran-kekhawatiran
utama mungkin terpusat pada pekerjaan mereka, karena mereka merasa bahwa
mereka tidak mengalami kemajuan secepat mereka harapkan atau kekhawatiran
mereka mungkin terpusat pada masalah-masalah perkawinan atau peran sebagai orang
tua. Apabila seseorang merasa tidak mampu mengatasi masala-masalah utama dalam
kehidupan mereka, mereka sering sedemikian terganggu secara emosional sehingga
mereka memikirkan atau mencoba untuk bunuh diri.
d. Sosial
Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke
dalam pola kehidupan orang dewasa yaitu karier, perkawinan dan rumah
tangga hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya masa remaja
menjadi renggang dan berbarengan dengan itu keterlibatan dalam kegiatan
kelompok di luar rumah akan terus berkurang. Sebagai akibatnya, untuk pertama
kali sejak bayi semua orang muda, bahkan yang populer pun, akan mengalami
keterpencilan sosial atau apa yang disebut Erikson sebagai “ krisis keterasingan”.
Keterasingan diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat kuat
untuk maju dalam karier – dengan demikian keramah tamahan masa remaja diganti
dengan persaingan dalam masyarakat dewasa – dan mereka juga harus mencurahkan
sebagian besar tenaga mereka untuk pekerjaan mereka, sehingga mereka dapat
menyisihkan waktu sedikit untuk sosialisasi yang diperlukan untuk membina hubungan-
hubungan yang akrab. Akibatnya, mereka menjadi egosentris dan ini tentunya
menambah kesepian mereka.
e. Bahasa
Usia dewasa awal adalah masa seseorang dapat lebih berfikir matang
dibandingkan masa remaja dan anak-anak. Segala sesuatu yang akan
dilakukan pasti sudah dipikirkan secara matang. Dengan demikian, dalam segi
berbahasapun, orang yang menginjak masa dewasa awal akan lebih anggun dalam
bertutur kata. Orang yang menginjak masa dewasa awal dapat lebih pandai
menggunakan bahasa yang tepat sesuai dengan lawan bicaranya. Rata-rata kosa kata
bahasa yang digunakan pada usia dewasa awal lebih banyak dibandingkan masa
sebelumnya, apalagi bagi orang yang sedang atau pernah berkecimpung dalam dunia
perkuliahan.
f. Kepribadian
Ketika seseorang tumbuh menjadi dewasa, pria dan wanita dewasa
telah belajar untuk menerima perubahan-perubahan fisik dan telah tahu pula
memanfaatkannya. Meskipun penampilannya tidak sebagaimana yang diharapakn,
namun orang sudah menyadari kekurangan-kekurangan dirinya dan menyadari bahwa
ia tidak dapat menghapus kekurangan sekalipun dapat berusaha untuk memperbaiki
penampilannya. Kesadaran tersebut menimbulkan minat mereka akan hal-hal yang
menyangkut kecantikan ,diet, dan olahraga.
Minat untuk meningkatkan penampilan mulai berkurang menjelang umur tiga
puluhan, ketika ketegangan dalam pekerjaan dan rumah tangga terasa kuat namun
minat akan penampilan muncul lagi jika mulai ada tanda-tanda ketuaan.
g. Rasa Keinginan
Akhir masa remaja, keinginan untuk keluar dari lingkungan rumah
menjadi semakin besar lagi. Mereka semakin terdorong dengan keinginan
untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi di tempat lain, atau bekerja di
tempat yang baru. Dalam bersosialisasi mereka umumnya sudah
cukup nyaman dengan kemampuan dirinya dan sudah mulai menemukan
identitas dirinya. Dalam berinteraksi dengan orang lain bahkan mereka sudah
berani untuk lebih serius, misalnya dengan menjalin hubungan dengan lawan jenisnya
dalam bentuk berpacaran.
h. Keagamaan
Biasanya, sesudah orang menjadi dewasa ia telah dapat mengatasi
keragu-raguan di bidang kepercayaan atau agamanya, yang menggangunya
pada waktu ia masa remaja. Setelah menjadi dewasa ia biasanya sudah mempunyai
suatu pandangan hidup, yang didasarkan pada agama, yang member kepuasan
baginya. Atau dapat terjadi bahwa orang yang meninggalkan agama yang dianut
keluarga, karena agama itu tidak memberi kepuasan baginya. Bagaimana pun juga,
orang dewasa muda tampaknya kurang memperhatikan masalah agama dibandingkan
dengan sewaktu mereka masih lebih muda dulu. Itulah sebabnya mengapa Peacock
menamakan periode usia dua puluhan ini sebagai “periode dalam kehidupan yang
paling tidak religious”. Sikap kurang meminat agama ini tampak pada jarangnya orang
pergi ke tempat ibadah atau sikap acuh terhadap ibadah.
Apabila seseorang sudah berkeluarga, umunya ia kembali kepada agama, atau
setidak-tidaknya ia tampak menaruh cukup perhatian. Orang tua dengan anak-anak
kecil, sring merasa bahwa ,mengajarkan dasar-dasar agama yang dianut kepada anak-
anak merupakan tanggung jawab moral sebagai orang tua, dan kewajiban untuk
memberi teladan bagi anak-anaknya. Oleh sebab itu, orang berupaya membiasakan diri
lagi untuk beribadah serta melakukan praktek-praktek agama dan ikut serta dalam
kegiatan-kagiatan organisasi agama.
Adapun optimalisasi perkembangan dewasa awal mengacu pada tugas-tugas
perkembangan dewasa awal menurut R.J. Havighurst (1953), telah mengemukakan
rumusan tugas-tugas perkembangan dalam masa dewasa awal sebagai berikut:
a. Memilih teman bergaul (sebagai calon suami atau istri)
Setelah melewati masa remaja, golongan dewasa muda semakin memiliki
kematangan fisiologis (seksual) sehingga mereka siap melakukan tugas reproduksi,
yaitu mampu melakukan hubungan seksual dengan lawan jenisnya. Dia mencari
pasangan untuk bisa menyalurkan kebutuhan biologis.
Mereka akan berupaya mencari calon teman hidup yang cocok untuk dijadikan
pasangan dalam perkawinan ataupun untuk membentuk kehidupan rumah tangga
berikutnya. Mereka akan menentukan kriteria usia, pendidikan, pekerjaan, atau suku
bangsa tertentu, sebagai prasyarat pasangan hidupnya. Setiap orang mempunyai
kriteria yang berbeda-beda.
b. Belajar hidup bersama dengan suami istri
Dari pernikahannya, dia akan saling menerima dan memahami pasangan masing-
masing, saling menerima kekurangan dan saling bantu membantu membangun rumah
tangga. Terkadang terdapat batu saandungan yang tidak bisa dilewati, sehingga
berakibat pada perceraian. Ini lebih banyak diakibatkan oleh ketidak siapan atau
ketidak dewasaan dalam menanggapi masalah yang dihadapi bersama.
c. Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga
Masa dewasa yang memiliki rentang waktu sekitar 20 tahun (20 – 40) dianggap
sebagai rentang yang cukup panjang. Terlepas dari panjang atau pendek rentang
waktu tersebut, golongan dewasa muda yang berusia di atas 25 tahun, umumnya telah
menyelesaikan pendidikannya minimal setingkat SLTA (SMU-Sekolah Menengah
Umum), akademi atau universitas. Selain itu, sebagian besar dari mereka yang telah
menyelesaikan pendidikan, umumnya telah memasuki dunia pekerjaan guna meraih
karier tertinggi. Dari sini, mereka mempersiapkan dan membukukan diri bahwa mereka
sudah mandiri secara ekonomis, artinya sudah tidak bergantung lagi pada orang tua.
Sikap yang mandiri ini merupakan langkah positif bagi mereka karena sekaligus
dijadikan sebagai persiapan untuk memasuki kehidupan rumah tangga yang baru.
Belajar mengasuh anak-anak.

d. Mengelolah rumah tangga


Setelah menjadi pernikahan, dia akan berusaha mengelolah rumah tangganya.
Dia akan berusaha membentuk, membina, dan mengembangkan kehidupan rumah
tangga dengan sebaik-baiknya agar dapat mencapai kebahagiaan hidup. Mereka harus
dapat menyesuaikan diri dan bekerja sama dengan pasangan hidup masing-masing.
Mereka juga harus dapat melahirkan, membesarkan, mendidik, dan membina anak-
anak dalam keluarga. Selain itu, tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tua
ataupun saudara-saudaranya yang lain.

e. Mulai bekerja dalam suatu jabatan


Usai menyelesaikan pendidikan formal setingkat SMU, akademi atau universitas,
umumnya dewasa muda memasuki dunia kerja, guna menerapkan ilmu dan
keahliannya. Mereka berupaya menekuni karier sesuai dengan minat dan bakat yang
dimiliki, serta memberi jaminan masa depan keuangan yang baik. Bila mereka merasa
cocok dengan kriteria tersebut, mereka akan merasa puas dengan pekerjaan dan
tempat kerja. Sebalik-nya, bila tidak atau belurn cocok antara minat/ bakat dengan
jenis pekerjaan, mereka akan berhenti dan mencari jenis pekerjaan yang sesuai dengan
selera.
Tetapi kadang-kadang ditemukan, meskipun tidak cocok dengan latar belakang
ilrnu, pekerjaan tersebut memberi hasil keuangan yang layak {baik), mereka akan
bertahan dengan pekerjaan itu. Sebab dengan penghasilan yang layak (memadai),
mereka akan dapat membangun kehidupan ekonomi rumah tangga yang mantap dan
mapan. Masa dewasa muda adalah masa untuk mencapai puncak prestasi. Dengan
semangat yang menyala-nyala dan penuh idealisme, mereka bekerja keras dan
bersaing dengan teman sebaya (atau kelompok yang lebih tua) untuk menunjukkan
prestasi kerja. Dengan mencapai prestasi kerja yang terbaik, mereka akan mampu
memberi kehidupan yang makmur-sejahtera bagi keluarganya.

f. Mulai bertangungjawab sebagai warga Negara secara layak


Warga negara yang baik adalah dambaan bagi setiap orang yang ingin hidup
tenang, damai, dan bahagia di tengah-tengah masyarakat. Warga negara yang baik
adalah warga negara yang taat dan patuh pada tata aturan perundang-undangan yang
ber-laku. Hal ini diwujudkan dengan cara-cara, seperti (1) mengurus dan memiliki
surat-surat kewarganegaraan (KTP, akta kelahiran, surat paspor/visa bagi yang akan
pergi ke luar negeri), (2) membayar pajak (pajak televisi, telepon, listrik, air. pajak
kendaraan bermotor, pajak penghasilan, (3) menjaga ketertiban dan keamanan
masyarakat dengan mengendalikan diri agar tidak tercela di mata masyarakat, dan (4)
mampu menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial di masyarakat (ikut terlibat dalam
kegiatan gotong royong, kerja bakti membersihkan selokan, memperbaiki jalan, dan
sebagainya.
Tugas-tugas perkembangan tersebut merupakan tuntutan yang harus dipenuhi
seseorang, sesuai dengan norma sosial-budaya yang berlaku di masyarakat. Bagi orang
tertentu, yang menjalani ajaran agama (rnisalnya hidup sendiri/selibat), mungkin tidak
mengikuti tugas perkembangan bagian ini, yaitu mencari pasangan hidup dan membina
kehidupan rumah tangga. Baik disadari atau tidak, setiap orang dewasa muda akan
melakukan tugas perkembangan tersebut dengan baik.
g. Memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilai-nilai pahamnya
Masa dewasa awal ditandai juga dengan membntuk kelompok-kelompok yang
sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. Salah satu contohnya adalah membentuk
ikatan sesuai dengan profesi dan keahlian.

B. Periode Perkembangan Masa Dewasa Madya


Individu yang berusia 30 tahun sampai 55 tahun disebut sebagai masa dewasa
madya. Usia ini secara keseluruhan kondisi kejiwaannya (psikis) semakin stabil, namun
pada kondisi fisiknya semakin menurun dengan bertambahnya usia. Kondisi fisik
maupun psikis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut ini:
1. Penyesuaian Terhadap Perubahan Kondisi Fisik
Perubahan kondisi secara fisik ini meliputi penerimaan dan
penyusuaian dengan berbagai perubahan fisik. Penyusuaian yang sulit pada
pria dan wanita berusia madya karena adanya kenyataan bahwa sikap
individu yang kurang menguntungkan semakin diintensifkan lagi oleh
perilaku sosial yang kurang menyenangkan terhadap perubahan norma yang
muncul bersama pada tahun-tahun selanjutnya.
Pada usia ini dapat teridentifikasi berbagai kemunduran-kemunduran yang
terjadi, seperti pada laki-laki mulai timbul kerutan-kerutan pada wajah, rambut yang
semakin memutih, stamina yang semakin menurun dengan ditandai sering pegal-pegal,
kesemutan, capek, ataupun terkena rematik. Sedangkan pada perempuan terjadi hal
yang serupa juga pada laki-laki dan ditambah dengan terhentinya menstruasi dan
terjadinya manopouse (tidak menghasilkan sel telur lagi) pada perempuan. Dengan
adanya kemunduran fisik tersebut, dapat berakibat pada penyesuaian psikis seseorang
dan akan berpengaruh terhadap mentalnya.

2. Penyesuaian Terhadap Perubahan Kondisi Psikis


Usia dewasa madya atau yang popular dengan istilah setengah baya, dari sudut
posisi usia, terjadi perubahan-perubahan fisik. Selain itu adapula perubahan-perubahan
psikologis yang dialami, diantaranya sebagai berikut:

a. Intelegensi / Kognitif
Perkembangan pada tahap ini intelektual dewasa sudah mencapai titik
akhir puncaknya yang sama dengan perkembangan tahap sebelumnya
(tahap pemuda). Semua hal yang berikutnya sebenarnya merupakan perluasan,
penerapan, dan penghalusan dari pola pemikiran ini. Orang dewasa madya mampu
memasuki dunia logis yang berlaku secara mutlak dan universal yaitu dunia idealitas
paling tinggi. Orang dewasa dalam menyelesaikan suatu masalah langsung memasuki
masalahnya. Ia mampu mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan dapat
melihat akibat langsung dari usaha-usahanya guna menyelesaikan masalah tersebut.
Orang dewasa madya mampu menyadari keterbatasan baik yang ada pada
dirinya maupun yang berhubungan dengan realitas di lingkungan hidupnya. Orang
dewasa dalam menyelesaikan masalahnya juga memikirkannya terlebih dahulu secara
teoritis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang
mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, orang dewasa lalu membuat suatu strategi
penyelesaian secara verbal. Yang kemudian mengajukan pendapat-pendapat tertentu
yang sering disebut sebagai proporsi, kemudian mencari sintesa dan relasi antara
proporsi yang berbeda-beda tadi.
Menurut Erikson, pada masa ini individu dihadapkan atas dua hal generativity vs
stagnasi. Mencakup rencana-rencana orang dewasa atas apa yang mereka harap guna
membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang
berguna melalui generativitas / bangkit. Sebaliknya, stagnasi (berhenti), yaitu ketika
individu tidak melakukan apa-apa untuk generasi berikutnya. Memberikan asuhan,
bimbingan pada anak-anak, individu generatif adalah seseorang yang mempelajari
keahlian, mengembangkan warisan diri yang positif dan membimbing orang yang lebih
muda.
Tugas kita dalam fase ini adalah mengembangkan keseimbangan antara
generativity dan stagnasi. Generativity adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan
luas dari pada intimacy (keakraban) karena rasa kasih ini telah men"generalize"
(menyamaratakan) ke kelompok lain, terutama generasi selanjutnya. Bila dengan
intimacy kita terlibat dalam hubungan di mana kita mengharapkan suatu timbal balik
dari partner kita, maka dengan generativity kita tidak mengharapkan balasan. Misalnya
saja, sebagian sangat besar dari para orang tua tidak keberatan untuk menderita atau
meninggal demi keturunannya, walau perkecualian pasti ada.
b. Moral
Pada masa ini aspek-aspek perkembangan moral dan keagamaan
tumbuh dengan pesat. Tentu hal ini tidak lepas dari kesadaran terhadap dirinya
untuk menjadi serang individu yang utuh dan terintegrasi. Masa dewasa ini selalu
memiliki keinginan untuk bisa mengikuti niliai-nilai adat istiadat yang berlaku, begitu
pula dengan nilai keagamaan yang memiliki tempat tersendiri di hati orang dewasa,
namun sering kali dewasa muda belum bisa mengikuti nilai-nilai tersebut secara
sempurna.
Menurut fowler, pada masa ini individu mampu mengambil dan
melakukan tanggung jawab secara penuh terhadap yang diyakininnya. Sering
kali konsekuensi yang paling buruk akibat dari keyakinan tersebut harus ditanggungnya.
Masa dewasa ini telah memasuki masa post-conventional yaitu mampu menguji
secara mandiri keyakinan atau kepercayaan yang terlepas dari pengaruh rang lain atau
kelompok masyarakat.
c. Emosional
Menurut Erikson, pada masa ini individu dihadapkan atas dua hal
generativity vs stagnasi Mencakup rencana-rencana orang dewasa atas apa
yang mereka harap guna membantu generasi muda mengembangkan dan
mengarahkan kehidupan yang berguna melalui generativitas / bangkit.
Sebaliknya, stagnasi (berhenti), yaitu ketika individu tidak melakukan apa-
apa untuk generasi berikutnya. Memberikan asuhan, bimbingan pada anak-anak,
individu generatif adalah seseorang yang mempelajari keahlian, mengembangkan
warisan diri yang positif dan membimbing orang yang lebih muda.
Tugas kita dalam fase ini adalah mengembangkan keseimbangan antara
generativity dan stagnasi. Generativity adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan
luas dari pada intimacy (keakraban) karena rasa kasih ini telah men"generalize"
(menyamaratakan) ke kelompok lain, terutama generasi selanjutnya. Bila dengan
intimacy kita terlibat dalam hubungan di mana kita mengharapkan suatu timbal balik
dari partner kita, maka dengan generativity kita tidak mengharapkan balasan. Misalnya
saja, sebagian sangat besar dari para orang tua tidak keberatan untuk menderita atau
meninggal demi keturunannya, walau perkecualian pasti ada.
d. Sosial
Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial pada masa Dewasa madya
( Middle Adulthood) ini antara lain:
1. Masa dewasa madya merupakan periode yang ditakuti dilihat dari seluruh
kehidupan manusia.
2. Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita
meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu
periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru.
3. Masa dewasa madya adalah masa berprestasi. Menurut Erikson, selama usia
madya ini orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti
(stagnasi).
4. Pada masa dewasa madya ini perhatian terhadap agama lebih besar
dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan
perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
e. Bahasa
Menguasai bahasa adalah salah satu cara terjalinnya komunikasi yang lebih
dekat. Antara satu individu dengan individu lain dapat terjalin keakraban ketika satu
dengan yang lain menjalin komunikasi yang intensif. Pada usia dewasa madya,
terdapatnya suatu kesulitan dalam berkomunikasi. Usia madya ini mulai
mengalami kemunduran dalam segi bahasa setelah mengalami pucaknya.
Kosa kata tinggi yang dulu pernah dimengerti, kini sedikit-sedikit mulai terlupakan
akibat faktor kemunduran ingatan. Sehingga dalam berkomunikasipun sedikit terganggu
apalagi terhadap generasi yang lebih muda yang sering menggunakan bahasa gaul
masa kini. Usia dewasa madya lebih sering menuturkan bahasa yang sedikit agak kaku
dan baku, dibandingkan generasi yang lebih muda darinya.

f. Kepribadian
Usia madya cenderung mulai terlihat sifat yang sedikit seperti
kekanak-kanakan. Orang yang menginjak usia madya ini lebih suka untuk lebih
diperhatikan oleh orang-orang sekitar. Hal ini dikarenakan dengan menyadarinya
adanya kemunduran-kemunduran fisik yang dialami sehingga timbul perasaan
membutuhkan keberadaan orang lain untuk membantu beberapa aktivitas tertentu.
g. Rasa Keinginan
Rasa keinginan pada usia dewasa madya sedikit lebih berkurang
daripada masa sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya perasaan sudah
terpenuhinya segala kebutuhan, ambisi, dan cita-cita yang sudah dicapai. Adanya
kepuasan ini menimbulkan berkurangnya motivasi untuk mengejar karier terus-menerus
seperti masa sebelumnya. Bagi individu yang telah bekerja keras di masa mudanya,
pada masa inilah ia dapat merasakan hasil kerja keras yang pernah ia lakukan dan
menikmati hasil usahanya.
h. Keagamaan
Masa dewasa madya menunjukkan tanda positiv pada aspek
keagamaan. Seseorang yang menginjak masa ini lebih meningkatkan diri
dalam melakukan ibadah dengan khusuk kepada Tuhan. Orang pada masa
dewasa madya ini menyadari bahwa ketenangan dan kedamaian hanya didapat dengan
kedekatannya dengan Tuhan. Sekaya apapun seseorang, seterkenal apapun seseorang,
hal yang paling membahagiakan adalah ketika jiwa merasa damai dan dekat dengan
Tuhan.

C. Periode Perkembangan Masa Dewasa Akhir


Masa dewasa akhir disebut juga usia lanjut. Masa dewasa akhir adalah periode
penutup dalam rentang hidup seseorang. Periode perkembangan masa dewasa akhir
dari usia 55 – 60 tahun. Usia dewasa akhir ini ditandai dengan adanya perubahan fisik
dan psikologis yang semakin menurun. Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan
penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan yang menyangkut
kemampuan motorik, peruban kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis,
perubahan dalam system syaraf, perubahan penampilan.

1. Perubahan fisik
Perubahan fisik yang dialami oleh dewasa akhir atau usia lanjut terjadi dengan
ditandai dengan menurunnya dan memburuknya fungsi dan keadaan fisik. Perubahan
ini pasti terjadi pada usia lanjut hanya saja berbeda untuk setiap individu. Perubahan
penampilan pada usia lanjut sangat terlihat dari wajah individu, wajah akan mulai
mengendor dan memunculkan ciri penuaan lainnya. Selain pada wajah perubahan
secara fisik juga dapat dilihat dari individu yang kulit nampak keriput dan otot terlihat.
Perubahan fisik yang terjadi pada masa dewasa akhir, pada umumnya terjadi pada
penurunan beberapa fungsi organ tubuh seperti menurunnya kemampuan otak dan
sistem syaraf, yang meliputi; hilangnya sejumlah neuron yang merupakan unit-unit sel
dasar dari sistem syaraf, serta kemampuan otak yang semakin menurun, dan
melemahnya daya ingat, seperti:
a. Daya Ingat (memori), berupa penurunan kemampuan penamaan (naming) dan
kecepatan mencari kembali informasi yang telah tersimpan dalam pusat memori
(speed of information retrieval from memory). Dalam hal ini adalah sangat
penting untuk menjaga agar memori itu tetap eksis dan karenanya perlu
digunakan secara terus-menerus dan jangan dibuat menganggur atau
diistirahatkan. Untuk itu membaca, mendengar berbagai berita, atau cerita
melalui berbagai media sangat penting bagi lansia. Namun bagi lansia yang
“mengistirahatkan diri,” atau dipaksa untuk istirahat tanpa kegiatan apapun,
tidak mau membaca Koran, maunya ongkang-ongkang kaki, enak-enak, apalagi
sambil merenungi nasibnya diyakini akan semakin mempercepat kemunduran
fungsi ingatan dan fungsi mentalnya. Hal semacam ini menjadi bahaya bagi
lansia, karena hal-hal lain pun mengalami kemunduran secara cepat.
b. Indera penglihatan, ada penurunan yang konsisten dalam kemampuan untuk
melihat objek pada tingkat penerangan rendah dan menurunnya sensitivitas
terhadap warna. Orang berusia lanjut pada umumnya menderita presbyopia atau
tidak dapat melihat jarak jauh dengan jelas, yang terjadi karena elastisitas lensa
mata berkurang.
c. Indera pendengaran, orang berusia lanjut kehilangan kemampuan mendengar
bunyi nada yang sangat tinggi, sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan
syaraf dan berakhirnya pertumbuhan organ basal yang mengakibatkan matinya
rumah siput di dalam telinga (cochlea), walaupun mereka pada umumnya tetap
dapat mendengar pada suara yang lebih rendah daripada nada C sejelas orang
yang lebih muda. Menuru Hurlock pria cenderung lebih banyak kehilangan
pendengaran pada masa tuanya dibandingkan wanita.
d. Terjadi perubahan penting dalam alat perasa pada usia lanjut adalah sebagai
akibat dari berhentinya pertumbuhan tunas perasa yang terletak di lidah dan di
permukaan bagian dalam pipi. Syaraf perasa yang berhenti tumbuh ini semakin
bertambah banyak sejalan dengan bertambahnya usia.
e. Indera penciuman menjadi kurang tajam sejalan dengan bertambahnya usia,
sebagian karena oleh pertumbuhan sel dalam hidung berhenti dan sebagian lagi
karena semakin lebatnya buku rambut di lubang hidung.
f. Karena kulit menjadi semakin kering dan keras, maka indera peraba di kulit
semakin kurang peka.
g. Daerah kepala terjadi perubahan, seperti:
1) Hidung menjulur lemas
2) Bentuk mulut berubah akibat hilangnya gigi atau harus memakai gigi palsu
3) Mata kelihatan pudar, tak bercahaya dan sering mengeluarkan cairan
4) Dagu berlipat 2 atau 3
5) Pipi berkerut, longgar dan bergelombang
6) Kulit berkerut dan kering, berbintik hitam, banyak tai lalat atau di tumbuhi
kutil
7) Rambut mernipis, berubah menjadi putih atau abu-abu dan keku
8) Tumbuh rambut halus pada hidung, telinga dan alis.
h. Daerah tubuh terjadi perubahan seperti:
1) Bahu membungkuk dan nampak kecil
2) Perut membesar dan membuncit
3) Pinggul tampak mengendor dan lebih lebar di bandingkan dengan waktu
sebelumnya
4) Garis pinggang melebar, menjadikan badan tampak seperti terisap
5) Payudara pada wanita menjadi kendur dan melorot
i. Daerah persendian terjadi perubahan, seperti:
1) Panggal tangan menjadi kendor dan terasa berat, sedangkan ujung tangan
tampak mengkerut
2) Kaki menjadi kendor dan pembuluh darah balik menonjol, terutam yang ada
disekitar pergelangan kaki
3) Tangan menjad kurus kering dan pembuluh vena disepanjang bagian
belakang tangan menonjol
4) Kaki membesar karena otot-otot mengendor, timbul benjolan-benjolan, ibu
jari kaki membengkak dan bisa meradang serta sering timbul kelosis
5) Kuku tangan dan kaki menebal mengeras dan mengapur.
j. Sistem Pernafasan, kapasitas paru-paru menurun antara usia 20 dan 80 tahun,
sekalipun tanpa penyakit (Fozard, 1992). Paru-paru kehilangan elastisitasnya, dada
menyusut, dan diafragma melemah. Meskipun begitu, berita baiknya adalah bahwa
orang-orang dewasa lanjut dapat memperbaiki fungsi paru-paru dengan latihan-
latihan memperkuat diafragma. Perubahan fisik ini diteliti oleh para peneliti
sehingga menghasilkan “Teori-teori Biologi Mengenai Penuaan” yaitu sebagai
berikut:
1) Kerangka tubuh (skelton) mengalami perubahan, disebabkan karena
mengerasnya tulang-tulang, menumpuknya garam mineral dan modifikasi pada
susunan organ tulang bagian dalam. Berakibat tulang menjadi mengapur dan
mudah retak atau patah dan sembuhnya lambat.
2) Sistem syaraf (nervous sistem) terutama pada otak, berat otak menyempit,
bilik-bilik jantung melebar pita jaringan portikal menyempit. Menyebabkan
menurunnya kecepatan belajar dan kemampuan intelektual.
3) Viscera atau isi perut, mengalami perubahan bentuk. Terjadi athropia atau
berhentinya pertumbuhan pada limpa, hati, alat reproduksi, jantung, paru-paru,
pankreas, dan ginjal.
4) Jantung, berubahnya posisi jantung. Berkurangnya ratio berat jantung dan
berat tubuh. Perubahan kualitas elastisitas jaringan pada jantung, katup
jantung secara bertahap menjadi kurang halus dan kurang lentur. Merupakan
akibat dari meningkatnya jumlah timbunan jaringan lemak dan kalsium.
5) Seluruh saluran usus , saluran kencing, dan organ otot yang lembut paling
sedikit berpengaruh dan paling akhir terpengaruhi.

2. Perubahan Psikis
Akibat perubahan fisik yang semakin menua maka perubahan ini akan sangat
berpengaruh terhadap peran dan hubungan dirinya dengan lingkungannya. Dengan
semakin lanjut usia seseorang secara berangsur-angsur ia mulai melepaskan diri dari
kehidupan sosialnya karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya ini mengakibatkan
interaksi sosial para lansia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya
sehingga hal ini secara perlahan mengakibatkan terjadinya kehilangan dalam berbagai
hal yaitu : kehilangan peran di tengah masyarakat, hambatan kontak fisik dan
berkurangnya komitmen. Adapun perubahan-perubahan psikis tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Intelegensi/Kognitif
Usia dewasa akhir dilihat dari segi kognitif menglami kemunduran dengan
ditandai munculnya penyakit lupa atau pikun. Dengan timbulnya penyakit lupa ini,
membuat individu dalam kehidupannya mengalami ketidak teraturan. Pada usia inilah
diperlukan perhatian yang lebih dari orang-orang terdekat untuk mengarahkan dan
menuntun orang dewasa akhir dalam melakukan suatu hal, seperti mengarahkan dalam
menaruh benda sesuai dengan tempatnya dan mengingatkannya menaruh benda itu
dimana ketika dibutuhkan. Ataupun mengingatkan sudah sholat atau belum, atau
bahkan menuntunnya pada saat membaca bacaan sholat.
b. Moral
Secara segi moral, usia dewasa akhir lebih cenderung tidak perduli lagi dengan
norma-norma atau aturan-aturan yang ada di lingkungan tersebut. Hal ini dikarenakan
banyaknya terjadi kemunduran dalam fisiknya yang berakibat berdampak pada
moralnya. Contohnya saja usia dewasa akhir tidak lagi memikirkan perasaan malu
ketika mandi bahkan buang air besar atau buang air kecil dibantu oleh orang lain. Usia
dewasa akhir ini hanya bisa pasrah dengan keadaan kemunduran fisik yang terjadi pada
dirinya dan justru ia menyadari bahwa ia membutuhkan bantuan orang lain dalam
berbagai hal.
c. Emosional
Usia dewasa akhir lebih tempramen dalam segi emosional. Hal ini dikarenakan
berawal dari faktor fisik yang semakin mengalami kemunduran sehingga berpengaruh
pada segi psikis termasuk emosionalnya. Beberapa orang yang mencapai usia dewasa
akhir mengalami ketidaksiapan dalam menghadapi segala kemunduran fisik yang terjadi
baik dilihat dari luar maupun fungsi organ-organ tubuh yang dimiliki. Sebelum
menginjak usia dewasa akhir, seseorang pernah mengalami kemajuan yang sangat
pesat dan pernah melakukan berbagai prestasi. Sedangkan ketika orang tersebut
menginjak usia dewasa akhir, ia hampir tidak percaya bahwa dirinya tidak lagi dapat
berkarya secara maksimal seperti dulu sehingga timbul perasaan kesal pada dirinya
sendiri karena segala sesuatu harus dibantu oleh orang lain. Ditambahlagi terkadang
orang yang membantu tidaklah sesuai dengan yang diharapkannya. Oleh karena itulah
usia dewasa akhir lebih cepat temperamental.
d. Sosial
Akibat adanya kemunduran dari segi aspek fisik, moral, intelegensi, dan lebih
cepat temperamental, maka usia dewasa akhir semakin jauh dari lingkungan
masyarakat dan mulai terkucilkan. Usia dewasa akhir lebih sedikit berinteraksi dengan
lingkungan masyarakat. Pada usia ini justru lebih membutuhkan perhatian yang lebih
dari keluarga terdekat untuk menguatkan diri dan membantu memunculkan
kepercayadirian agar tetap bersemangat dalam menjalankan kehidupan meskipun mulai
terjauh dari lingkungan masyarakat.
e. Bahasa
Usia dewasa akhir dari segi bahasa juga mengalami kemunduran dengan
ditandai pelafalan kosa kata yang kurang jelas. Hal ini dikarenakan telah menanggalnya
beberapa gigi yang membuat artikulasi kurang jelas. Selain itu, terkadang pada
beberapa orang yang telah menginjak usia dewasa akhir kurang dapat berkomunikasi
dengan baik terhadap lawan bicaranya.
f. Kepribadian
Segi kepibadian usia dewasa akhir lebih cenderung seperti kekanak-kanakan.
Orang yang menginjak usia ini lebih manja seperti anak-anak dikarenakan ia sendiri
menyadari bahwa ia membutuhkan bantuan dari orang-orang terdekat dan berharap
orang-orang terdekat tersebut dapat mengindahkan keinginannya tersebut. Oleh karena
itulah peran orang-orang sekitar sangatlah dibutuhkan untuk membangun semangat
hidup orang yang berada pada masa dewasa akhir ini. Kunci dari menangani hal seperti
ini adalah antara orang yang berusia dewasa akhir dan orang yang lebih muda darinya
harus bisa mengambil peranannya masing-masing dan saling mengerti dengan
keadaan.
g. Rasa Keinginan
Usia dewasa akhir cenderung lebih mengalami kemunduran dalam rasa keinginan
dan motivasi. Pada usia ini bahkan ada yang begitu saja pasrah dengan ketidak
berdayaan melakukan berbagai hal. Tidak ada lagi rasa ingin mengejar karier seperti
saat ia muda an tidak ada lagi keinginan untuk mencapai sesuatu. Disinilah peran
kelurga dan orang terdekat sangat penting untuk membangkitkan gairah hidupnya.
Orang-orang sekitar dapat memotivasi untuk melakukan suatu hal yang bermakna di
sisa hidup orang dewasa akhir.
h. Keagamaan
Berbeda halnya dari segi aspek psikologis lainnya yang mengalami banyak
kemunduran, justru dari segi agama semakin adanya kemajuan yang pesat. Usia
dewasa akhir lebih memfokuskan dirinya dengan kedekatan terhadap Sang Pencipta.
Orang yang menginjak usia dewasa akhir lebih giat dalam beribadah dikarenakan
munculnya pemikiran semua dari Allah dan akan kembali kagi kepada Tuhan. Ada pula
Menurut Erikson, perkembangan psikososial masa dewasa akhir ditandai dengan tiga
gejala penting, yaitu keintiman, generatif, dan integritas.
1. Perkembangan keintiman
Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memperhatikan
orang lain dan membagi pengalaman dengan mereka. Orang-orang yang tidak
dapat menjalin hubungan intim dengan orang lain akan terisolasi. Menurut
Erikson, pembentukan hubungan intim ini merupakan tantangan utama yang
dihadapi oleh orang yang memasuki masa dewasa akhir.
2. Perkembangan generatif
Generativitas adalah tahap perkembangan psikososial ketujuh yang
dialami individu selama masa pertengahan kedewasaan. Ketika seseorang
mendekati usia dewasa akhir, pandangan mereka menganai jarak kehidupan
cenderung berubah. Mereka tidak lagi memandang kehidupan dalam pengertian
waktu masa anak-anak, seperti cara anak muda memandang kahidupan, tetapi
mereka mulai memikirkan mengenai tahun yang tersisa untuk hidup. Pada masa
ini, banyak orang yang membangun kembali kehidupan mereka dalam
pengertian prioritas, menentukan apa yang penting untuk dilakukan dalam waktu
yang masih tersisa.
3. Perkembangan integritas
Integritas merupakan tahap perkembangan psikososial Erikson yang
terakhir. Integritas paling cepat dilukiskan sehingga suatub keadaan yang dicapai
seseorang setelah memlihara benda-benda, orang-orang, produk-produk dan
ide-ide, serta setelah berhasil melakukan penyesuaian diri dengan berbagai
keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupannya. Lawan dari integritas adalah
keputusan tertentu dalam menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan
individu, terhadap kondisi-kondisi.