Anda di halaman 1dari 18

Kecelakaan Dalam Kerja

Elisabeth 102014011
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Telephone: (021) 5694-2061 (hunting), Fax: (021) 563-1731

Pendahuluan
Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubung dengan hubungan kerja pada
perusahaan. Hubungan kerja di sini dapat berarti, bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan oleh
pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Seperti kita ketahui bersama selama ini
angka kecelakaan yang disebabkan akibat kerja sangatlah tinggi. Di Indonesia sendiri,
berdasarkan data yang diterbitkan oleh Jamsostek, pada tahun 2007 tercatat terjadi 65.474
kecelakaan yang mengakibatkan 1.451 orang meninggal, 5.326 orang cacat tetap dan 58.697
orang cedera. Selain mengakibatkan kerugian jiwa, kerugian materi yang ditimbulkan akibat
kecelakaan kerja juga sangat besar yang berupa kerusakan sarana produksi, biaya pengobatan
dan kompensasi yang dibayarkan. Masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara
umum di Indonesia masih sering terabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya
angka kecelakaan kerja. Tingkat kepedulian dunia usaha terhadap K3 masih rendah, padahal
karyawan adalah aset penting perusahaan. Kecelakaan kerja yang mengakibatkan cacat
seumur hidup, di samping berdampak pada kerugian non-materil, juga menimbulkan kerugian
materil yang sangat besar.1

Definisi Kecelakaan Kerja


Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Tak terduga,
oleh karena di belakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih-lebih dalam
bentuk perencanaan. Maka dari itu, peristiwa sabotase atau tindakan kriminil adalah di luar
ruang lingkup kecelakaan yang sebenarnya. Tidak diharapkan, oleh karena peristiwa
kecelakaan disertai kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai
kepada yang paling berat.2
Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang ada hubungannya dengan kerja,
dalam kecelakaan terjadi karena pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan.
Hubungan kerja di sini dapat berarti, bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan oleh pekerjaan
atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Dengan demikian muncul dua permasalahan:2

1
a. Kecelakaan sebagai akibat langsung dari pekerjaan atau;
b. Kecelakaan terjadi saat melakukan pekerjaan.
Dalam perkembangan selanjutnya ruang lingkup kecelakaan ini diperluas lagi
sehingga mencakup kecelakaan-kecelakaan tenaga kerja yang terjadi pada saat perjalanan
atau transport ke dan dari tempat kerja.2
Dengan kata lain kecelakaan lalu lintas yang menimpa tenaga kerja dalam perjalanan
ke dan dari tempat kerja atau dalam rangka menjalankan pekerjaannya juga termasuk
kecelakaan kerja. Penyebab kecelakaan kerja pada umumnya digolongkan menjadi 2, yakni:2
• Faktor Fisik. Kondisi-kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman atau unsafety
condition misalnya lantai licin, pencahayaan kurang, silau, dan sebagainya.
• Faktor Manusia. Perilaku pekerja itu sendiri yang tidak memenuhi keselamatan,
misalnya karena kelengahan, ngantuk, kelelahan, dan sebagainya. Menurut hasil
penelitian yang ada, 85 % dari kecelakaan yang terjadi disebabkan oleh faktor manusia.

Faktor-Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja


Kecelakaan akibat kerja terjadi tanpa disangka-sangka dalam waktu sekejap mata.
Bennett (1991) mengemukakan bahwa di dalam setiap kejadian kecelakaan kerja, empat
faktor bergerak dalam satu kesatuan berantai, yakni a) faktor lingkungan, b) faktor bahaya, c)
faktor peralatan dan perlengkapan, dan d) faktor manusia.3
Cara penggolongan sebab-sebab kecelakaan di berbagai Negara tidak sama. Namun
ada kesamaan umum, yaitu kecelakaan disebabkan oleh dua golongan penyebab, antara lain:3
a. Penyebab langsung
(1) Perbuatan yang tidak aman (unsafe actions), didefinisikan sebagai segala
tindakan manusia yang dapat memungkinkan tejadinya kecelakaan pada diri
sendiri maupun orang lain. Contoh dari perbuatan yang tidak aman seperti
misalnya :4
- Tidak menggunakan alat yang telah disediakan.
- Salah menggunakan alat yang telah disediakan.
- Menggunakan alat yang sudah rusak.
- Metode kerja yang salah.
- Tidak mengikuti prosedur keselamatan kerja.
(2) Kondisi yang tidak aman (unsafe condition), didefinisikan sebagai suatu
kondisi lingkungan kerja yang dapat memungkinkan terjadinya kecelakaan.
Contoh kondisi yang tidak aman :4
2
- Kondisi fisik, mekanik, peralatan.
- Kondisi permukaan tempat berjalan dan bekerja.
- Kondisi penerangan, ventilasi, suara dan getaran.
- Kondisi penataan lokasi yang salah.

b. Penyebab tidak langsung5


(1) Faktor Manusia
(2) Faktor Lingkungan

a. Faktor Manusia
 Umur/usia
Usia muda relative lebih mudah terkena kecelakaan kerja dibandingkan dengan usia
lanjut yang mungkin dikarenakan sikap ceroboh dan tergesa-gesa. Pengkajian usia dan
kecelakaan akibat kerja menunjukkan angka kecelakaan pada umumnya lebih rendah dengan
bertambahnya usia, tetapi tingkat keparahan cedera dan penyembuhannya lebih serius.6

 Jenis Kelamin
Tingkat kecelakaan akibat kerja pada perempuan akan lebih tinggi daripada pada laki-
laki. Perbedaan kekuatan fisik antara perempuan dengan kekuatan fisik laki-laki adalah 65%.
Secara umum, kapasitas kerja perempuan rata-rata sekitar 30% lebih rendah dari laki-laki.
Tugas yang berkaitan dengan gerak berpindah, laki-laki mempunyai waktu reaksi lebih cepat
daripada perempuan.6

 Koordinasi Otot
Koordinasi otot berpengaruh terhadap keselamatan pekerja. Diperkirakan kekakuan
dan reaksi yang lambat berperan dalam terjadinya kecelakaan kerja.6

 Kecenderungan Celaka
Konsep popular dalam penyebab kecelakaan adalah “accident prone theory”. Teori ini
didasarkan pada pengamatan bahwa ada pekerja yang lebih besar mengalami kecelakaan
dibandingkan pekerja lainnya. Hal ini disebabkan karena ciri-ciri yanga ada dalam pribadi
yang bersangkutan.6

3
 Pengalaman Kerja
Semakin banyak pengalaman kerja dari seseorang, maka semakin kecil kemungkinan
terjadinya kecelakaan akibat kerja. Pengalaman untuk kewaspadaan terhadap kecelakaan
kerja bertambah baik sesuai dengan usia, maka kerja atau lamanya bekerrja di tempat yang
bersangkutan.6

 Tingkat Pendidikan
Pendidikan formal dan pendidikan non-formal akan mempengaruhi peningkatan
pengetahuan pekerja dalam menerima informasi dan perubahan, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Tuntutan pekerjaan atau job requirements pada seorang pekerja
adalah:6
1. Pengetahuan (pengetahuan dasar dan spesifik tentang pekerjaan).
2. Fungsional (keterampilan dasar dan spesifik dalam mengerjakan suatu pekerjaan).
3. Afektif (kemampuan dasar dan spesifikasi dalam suatu pekerjaan).

 Kelelahan
Kelelahan dapat menimbulkan kecelakaan kerja pada suatu industri. Kelelahan
merupakan suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup lagi untuk melakukan
aktivitasnya. Kelelahan ini ditandai dengan adanya penurunan fungsi-fungsi kesadaran otak
dan perubahan pada organ di luar kesadaran. Kelelahan disebabkan oleh berbagai hal, antara
lain kurang istirahat, terlalu lama bekerja, pekerjaan rutin tanpa variasi, lingkungan kerja
yang buruk serta adanya konflik.6

b. Faktor lingkungan
 Lokasi/Tempat Kerja
Tempat kerja adalah tempat dilakukannya pekerjaan bagi suatu usaha, dimana
terdapat tenaga kerja yang bekerja, dan kemungkinan adanya bahaya kerja di tempat itu.
Disain di lokasi kerja yang tidak ergonomis dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Tempat
kerja yang baikapabila lingkungan kerja aman dan sehat.6

 Peralatan dan Perlengkapan


Proses produksi adalah bagian dari perencanaan produksi. Langkah penting dalam
perencanaan adalah memilih peralatan dan perlengkapan yang efektif sesuai dengan apa yang

4
diproduksinya. Pada dasarnya peralatan/perlengkapan mempunyai bagian-bagian kritis yang
dapat menimbulkan keadaan bahaya, yaitu:6
1. Bagian-bagian fungsional
2. Bagian-bagian operasional
Bagian-bagian mesin yang berbahaya harus ditiadakan denga jalan mengubah
konstruksi, member alat perlindungan. Peralatan dan perlengkapan yang dominan
menyebabkan kecelakaan kerja, antara lain:6
1. Peralatan/perlengkapan yang menimbulkan kebisingan.
2. Peralatan/perlengkapan dengan penerangan yang tidak efektif.
3. Peralatan/perlengkapan dengan temperature tinggi ataupun terlalu rendah.
4. Peralatan/perlengkapan yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya.
5. Peralatan/perlengkapan dengan efek radiasi yang tinggi.
6. Peralatan/perlengkapan yang tidak dilengkapi dengan pelindung, dll.

 Shift Kerja
Menurut National Occupational Health and Safety Committee, shift kerja adalah
bekerja di luar jam kerja normal, dari Senin sampai Jumat termasuk hari libur dan bekerja
mulai dari jam 07.00 sampai dengan jam 19.00 atau lebih. Shift kerja malam biasanya lebih
banyak menimbulkan kecelakaan kerja dibandingkan dengan shift kerja siang, tetapi shift
kerja pagi-pagi tidak menutup kemungkinan dalam menimbulkan kecelakaan akibat kerja.6

Manajemen Keselamatan Kerja


Sistem Managemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) harus diperhatikan
terlebih bagi pemrakarsa supaya proses produksi, peningkatan kualitas dan kendali biaya
dapat terus dioptimalkan. Fungsi managemen mengarah di aspek kualitas, produksi,
kecelakaan/kerugian dan biaya. Terdapat 4 program K3 di tempat kerja, yaitu :7
(1) Komitmen manajemen dan keterlibatan pekerja.
(2) Analisis risiko di tempat kerja.
(3) Pencegahan dan pengendalian bahaya.
o Menetapkan prosedur kerja berdasarkan analisis, pekerja memahami dan
melaksanakannya.
o Aturan dan prosedur kerja dipatuhi.
o Pemeliharaan sebagai usaha preventif.
o Perencanaan untuk keadaan darurat.
5
o Pencatatan dan pelaporan kecelakaan.
o Pemeriksaan kondisi lingkungan kerja.
o Pemeriksaan tempat kerja secara berkala.

(4) Pelatihan untuk pekerja, penyelia dan manager.


SMK3 memiliki peran yang cukup penting dalam proses kerja dalam suatu
perusahaan (pemrakarsa). Apabila SMK3 yang diberlakukan tidak cukup baik maka
akibatnya dapat dilihat dari banyaknya pekerja yang mengalami kecelakaan kerja dan
juga proses produksi mengalami kemunduran. Tujuan khusus dari SMK3 adalah
mencegah atau mengurangi kecelakaan kerja, kebakaran, peledakaan dan PAK,
mengamankan mesin instalasi, pesawat, alat, bahan dan hasil produksi, menciptakan
lingkungan kerja yang aman, nyaman, sehat dan penyesuaian antara pekerjaan dengan
manusia atau antara manusia dengan pekerjaan. Penerapan K3 yang baik dan dan
terarah dalam suatu wadah industri tentunya akan memberikan dampak lain, salah
satunya adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan optimal.7
Tujuan dari Sistem Manajemen K3 adalah:7
1. Sebagai alat uniuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya, baik
buruh. petani. nelayan. pegawai negeri atau pekerja-pekerja bebas.
2. Sebagai upaya untuk mencegah dan memberantas penyakit dan kecelakaan-kecelakaan
akibat kerja, memelihara, dan meningkatkan kesehatan dan gizi para tenaga kerja,
merawat dan meningkatkan efisiensi dan daya produktifitas tenaga manusia,
memberantas kekelahan kerja dan melipatgandakan gairah serta semangat bekerja.

Langkah-langkah Penerapan SMK3


Setiap jenis Sistem Manajemen K3 mempunyai elemen atau persyaratan tertentu yang
harus dibangun dalam suatu organisasi. Sistem Manajemen K3 tersebut harus dipraktekkan
dalam semua bidang/divisi dalam organisasi. Sistem Manajemen K3 harus dijaga dalam
operasinya untuk menjamin bahwa sistem itu punya peranan dan fungsi dalam manajemen
perusahaan. Untuk lebih memudahkan penerapan standar Sistem Manajemen K3, berikut ini
dijelaskan mengenai tahapan-tahapan dan langkah-langkahnya. Tahapan dan langkah-langkah
tersebut dibagi menjadi dua bagian besar:7
1. Tahap Persiapan
Merupakan tahapan atau langkah awal yang harus dilakukan suatu
organisasi/perusahaan. Langkah ini melibatkan lapisan manajemen dan sejumlah
6
personel, mulai dari menyatakan komitmen sampai dengan menetapkan kebutuhan
sumber daya yang diperlukan. Adapun, tahap persiapan ini, antara lain:7
- Komitmen manajemen puncak.
- Menentukan ruang lingkup.
- Menetapkan cara penerapan.
- Membentuk kelompok penerapan.
- Menetapkan sumber daya yang diperlukan.

2. Tahap pengembangan dan penerapan


Sistem dalam tahapan ini berisi langkah-langkah yang hams dilakukan oleh
organisasi/perusahaan dengan melibatkan banyak personal, mulai dari
menyelenggarakan penyuluhan dan melaksanakan sendiri kegiatan audit internal
serta tindakan perbaikannya sampai dengan melakukan sertifikasi.7
Berikut ini langkah-langkah spesifik dalam menerapkan Sistem Manajemen K3 dalam
suatu perusahaan:7
• Menyatakan komitmen
Pernyataan komitmen dan penetapan kebijakan untuk menerapkan sebuah Sistem
Manajemen K3 dalam organisasi/manajemen harus dilakukan oleh manajemen
puncak. Penerapan Sistem Manajemen K3 tidak akan berjalan tanpa adanya
komitmen terhadap sistem manajemen tersebut. Manajemen harus benar-benar
menyadari bahwa merekalah yang paling bertanggung jawab terhadap
keberhasilan atau kegagalan penerapan Sistem Manajemen K3.7
• Menetapkan cara penerapan
Perusahaan dapat menggunakan jasa konsultan untuk menerapkan Sistem
Manajemen K3.Namun dapat juga tidak menggunakan jasa konsultan jika
organisasi yang bersangkutan memiliki personel yang cukup mampu untuk
mengorganisasikan dan mengarahkan orang.7
• Membentuk kelompok kerja
Jika perusahaan akan membentuk kelompok kerja sebaiknya anggota kelompok
kerja tersebut terdiri atas seorang wakil dari setiap unit kerja, biasanya manajer
unit kerja. Hal ini penting karena merekalah yang tentunya paling bertanggung
jawab terhadap unit kerja yang bersangkutan.7
• Menetapkan sumber daya yang diperlukan

7
Sumber daya di sini mencakup orang, perlengkapan, waktu dan dana. Orang yang
dimaksud adalah beberapa orang yang diangkat secara resmi di luar tugas-tugas
pokoknya dan terlibat penuh dalam proses penerapan.7
• Kegiatan penyuluhan
Penerapan Sistem Manajemen K3 adalah kegiatan dari dan untuk kebutuhan
personal perusahaan. Oleh karena itu perlu dibangun rasa adanya keikutsertaan
dari seluruh karyawan dalam perusahaan melalui program penyuluhan.7
• Peninjauan sistem
Kelompok kerja penerapan yang telah dibentuk kemudian mulai bekerja untuk
meninjau sistem yang sedang berlangsung dan kemudian dibandingkan dengan
persyaratan yang ada da lam Sistem Manajemen K3. Peninjauan ini dapat
dilakukan melatui dua cara yaitu dengan meninjau dokumen prosedur dan
meninjau pelaksanaannya.7
• Penyusunan Jadwal Kegiatan
Setelah melakukan peninjauan sistem maka kelompok kerja dapat menyusun suatu
jadwal kegiatan.7
• Pengembangan Sistem Manajemen K3
Beberapa kegiatan yang perlu dilakukan dalam tahap pengembangan sistem
manajemen K3 antara lain mencakup dokumentasi, pembagian kelompok,
penyusunan bagan alir, penulisan manual sistem manajemen K3, prosedur dan
instruksi kerja.7
• Penerapan system
Setelah semua dokumen selesai dibuat, maka setiap anggota kelompok kerja
kembali ke masing-masing untuk menerapkan sistem yang telah ditulis.7
• Proses sertifikasi
Ada sejumlah lembaga sertifikasi Sistem Manajemen K3. Misalnya sucofindo
melakukan sertifikasi terhadap Permenaker 05/Men/1996. Namun untuk OHSAS
18001:1999 organisasi bebas menentukan lembaga sertifikasi manapun yang
diinginkan.7

Diagram Fish Bone


Definisi Diagram Fish Bone
Diagram Fishbone sering juga disebut dengan istilah Diagram Ishikawa. Penyebutan
diagram ini sebagai Diagram Ishikawa karena yang mengembangkan model diagram ini
8
adalah Dr. Kaoru Ishikawa pada sekitar Tahun 1960-an. Diagram fishbone merupakan suatu
alat visual untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, dan secara grafik menggambarkan secara
detail semua penyebab yang berhubungan dengan suatu permasalahan.8
Konsep dasar dari diagram fishbone adalah permasalahan mendasar diletakkan pada
bagian kanan dari diagram atau pada bagian kepala dari kerangka tulang ikannya. Penyebab
permasalahan digambarkan pada sirip dan durinya. Kategori penyebab permasalahan yang
sering digunakan sebagai start awal meliputi materials (bahan baku), machines and
equipment (mesin dan peralatan), manpower (sumber daya manusia), methods (metode),
Mother Nature/environment (lingkungan), dan measurement (pengukuran). Keenam
penyebab munculnya masalah ini sering disingkat dengan 6M. Penyebab lain dari masalah
selain 6M tersebut dapat dipilih jika diperlukan. Untuk mencari penyebab dari permasalahan,
baik yang berasal dari 6M seperti dijelaskan di atas maupun penyebab yang mungkin lainnya
dapat digunakan teknik brainstorming.8
Diagram fishbone ini umumnya digunakan pada tahap mengidentifikasi permasalahan
dan menentukan penyebab dari munculnya permasalahan tersebut. Selain digunakan untuk
mengidentifikasi masalah dan menentukan penyebabnya, diagram fishbone ini juga dapat
digunakan pada proses perubahan.8

Manfaat Diagram Fishbone


Diagram Fishbone dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan baik pada level
individu, tim, maupun organisasi. Terdapat banyak kegunaan atau manfaat dari pemakaian
Diagram Fishbone ini dalam analisis masalah. Manfaat penggunaan diagram fishbone
tersebut antara lain:8
1. Memfokuskan individu, tim, atau organisasi pada permasalahan utama. Penggunaan
Diagram dalam tim/organisasi untuk menganalisis permasalahan akan membantu
anggota tim dalam menfokuskan permasalahan pada masalah prioritas.
2. Memudahkan dalam mengilustrasikan gambaran singkat permasalahan tim/organisasi.
Diagram Fishbone dapat mengilustrasikan permasalahan utama secara ringkas
sehingga tim akan mudah menangkap permasalahan utama.
3. Menentukan kesepakatan mengenai penyebab suatu masalah. Dengan menggunakan
teknik brainstorming para anggota tim akan memberikan sumbang saran mengenai
penyebab munculnya masalah. Berbagai sumbang saran ini akan didiskusikan untuk
menentukan mana dari penyebab tersebut yang berhubungan dengan masalah utama
termasuk menentukan penyebab yang dominan.
9
4. Membangun dukungan anggota tim untuk menghasilkan solusi. Setelah ditentukan
penyebab dari masalah, langkah untuk menghasilkan solusi akan lebih mudah
mendapat dukungan dari anggota tim.
5. Memfokuskan tim pada penyebab masalah. Diagram Fishbone akan memudahkan
anggota tim pada penyebab masalah. Juga dapat dikembangkan lebih lanjut dari setiap
penyebab yang telah ditentukan.
6. Memudahkan visualisasi hubungan antara penyebab dengan masalah. Hubungan ini
akan terlihat dengan mudah pada Diagram Fishbone yang telah dibuat.
7. Memudahkan tim beserta anggota tim untuk melakukan diskusi dan menjadikan
diskusi lebih terarah pada masalah dan penyebabnya.

Langkah-langkah dalam Penyusunan Diagram Fishbone


Langkah-langkah dalam penyusunan Diagram Fishbone dapat dijelaskan sebagai
berikut8
Langkah 1: Menyepakati pernyataan masalah

 Sepakati sebuah pernyataan masalah (problem statement). Pernyataan masalah ini


diinterpretasikan sebagai “effect”, atau secara visual dalam fishbone seperti “kepala
ikan”.
 Tuliskan masalah tersebut di tengah whiteboard di sebelah paling kanan, misal:
“Ledakan tangki boiler di peleburan besi”
 Gambarkan sebuah kotak mengelilingi tulisan pernyataan masalah tersebut dan buat
panah horizontal panjang menuju ke arah kotak (lihat Gambar 1).

Ledakan tangki
boiler di
peleburan besi

Gambar 1. Pembuatan Fishbone Diagram — Menyepakati Pernyataan Masalah


10
Langkah 2: Mengidentifikasi kategori-kategori
 Dari garis horisontal utama, buat garis diagonal yang menjadi “cabang”. Setiap
cabang mewakili “sebab utama” dari masalah yang ditulis. Sebab ini diinterpretasikan
sebagai “cause”, atau secara visual dalam fishbone seperti “tulang ikan”.
 Kategori sebab utama mengorganisasikan sebab sedemikian rupa sehingga masuk
akal dengan situasi. Kategori-kategori ini antara lain:
o Kategori 6M yang biasa digunakan dalam industri manufaktur:
 Machine (mesin atau teknologi),
 Method (metode atau proses),
 Material (termasuk raw material, consumption, dan informasi),
 Man Power (tenaga kerja atau pekerjaan fisik) / Mind Power
(pekerjaan pikiran: kaizen, saran, dan sebagainya),
 Measurement (pengukuran atau inspeksi), dan
 Milieu / Mother Nature (lingkungan).
o Kategori 8P yang biasa digunakan dalam industri jasa:
 Product (produk/jasa),
 Price (harga),
 Place (tempat),
 Promotion (promosi atau hiburan),
 People (orang),
 Process (proses),
 Physical Evidence (bukti fisik), dan
 Productivity & Quality (produktivitas dan kualitas).
o Kategori 5S yang biasa digunakan dalam industri jasa:
 Surroundings (lingkungan),
 Suppliers (pemasok),
 Systems (sistem),
 Skills (keterampilan), dan
 Safety (keselamatan).
 Kategori di atas hanya sebagai saran, kita bisa menggunakan kategori lain yang dapat
membantu mengatur gagasan-gagasan. Jumlah kategori biasanya sekitar 4 sampai
dengan 6 kategori. Kategori pada contoh ini lihat Gambar 2.

11
Ledakan tangki
boiler di
peleburan besi

Gambar 2. Pembuatan Fishbone Diagram — Mengidentifikasi Kategori-Kategori

Langkah 3: Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara brainstorming


 Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui sesi
brainstorming.
 Saat sebab-sebab dikemukakan, tentukan bersama-sama di mana sebab tersebut harus
ditempatkan dalam fishbone diagram, yaitu tentukan di bawah kategori yang mana
gagasan tersebut harus ditempatkan, misal: “Mengapa tangki boiler bisa meledak?
Penyebab: Karyawan tidak mengikuti prosedur!” Karena penyebabnya karyawan
(manusia), maka diletakkan di bawah “Man”.
 Sebab-sebab ditulis dengan garis horisontal sehingga banyak “tulang” kecil keluar
dari garis diagonal.
 Pertanyakan kembali “Mengapa sebab itu muncul?” sehingga “tulang” lebih kecil
(sub-sebab) keluar dari garis horisontal tadi, misal: “Mengapa karyawan disebut tidak
mengikuti prosedur? Jawab: karena tidak memakai APD” (lihat Gambar 3).
 Satu sebab bisa ditulis di beberapa tempat jika sebab tersebut berhubungan dengan
beberapa kategori.

12
Ledakan tangki
boiler di
peleburan besi

Gambar 3. Pembuatan Fishbone Diagram — Menemukan Sebab-Sebab Potensial

Langkah 4: Mengkaji dan menyepakati sebab-sebab yang paling mungkin


 Setelah setiap kategori diisi carilah sebab yang paling mungkin di antara semua
sebab-sebab dan sub-subnya.
 Jika ada sebab-sebab yang muncul pada lebih dari satu kategori, kemungkinan
merupakan petunjuk sebab yang paling mungkin.
 Kaji kembali sebab-sebab yang telah didaftarkan (sebab yang tampaknya paling
memungkinkan) dan tanyakan , “Mengapa ini sebabnya?”
 Pertanyaan “Mengapa?” akan membantu kita sampai pada sebab pokok dari
permasalahan teridentifikasi.
 Tanyakan “Mengapa ?” sampai saat pertanyaan itu tidak bisa dijawab lagi. Kalau
sudah sampai ke situ sebab pokok telah terindentifikasi.
 Lingkarilah sebab yang tampaknya paling memungkin pada fishbone diagram (lihat
Gambar 4).

13
Ledakan tangki
boiler di
peleburan besi

Gambar 4. Pembuatan Fishbone Diagram — Melingkari Sebab yang Paling Mungkin

Pencegahan Kecelakaan Kerja


Berdasarkan konsepsi sebab kecelakaan tersebut diatas, maka ditinjau dari sudut
keselamatan kerja unsur-unsur penyebab kecelakaan kerja mencakup 5 M yaitu :7
a. Manusia.
b. Manajemen ( unsur pengatur ).
c. Material ( bahan-bahan ).
d. Mesin ( peralatan ).
e. Medan ( tempat kerja / lingkungan kerja ).
Saat bekerja, terdapat tiga unsur kelompok, yaitu manusia, perangkat keras dan
perangkat lunak. Oleh karena itu dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian
kecelakaan adalah dengan pendekatan kepada ketiga unsur kelompok tersebut, yaitu :7
1. Pendekatan terhadap kelemahan pada unsur manusia, antara lain :7
o Pemilihan / penempatan pegawai secara tepat agar diperoleh keserasian antara
bakat dan kemampuan fisik pekerja dengan tugasnya.
o Pembinaan pengetahuan dan keterampilan melalui training yang relevan
dengan pekerjaannya.
o Pembinaan motivasi agar tenaga kerja bersikap dan bertndak sesuai dengan
keperluan perusahaan.
o Pengarahan penyaluran instruksi dan informasi yang lengkap dan jelas.
o Pengawasan dan disiplin yang wajar.
2. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat keras, antara lain : 7
14
o Perancangan, pembangunan, pengendalian, modifikasi, peralatan kilang,
mesin-mesin harus memperhitungkan keselamatan kerja.
o Pengelolaan penimbunan, pengeluaran, penyaluran, pengangkutan,
penyusunan, penyimpanan dan penggunaan bahan produksi secara tepat sesuai
dengan standar keselamatan kerja yang berlaku.
o Pemeliharaan tempat kerja tetap bersih dan aman untuk pekerja.
o Pembuangan sisa produksi dengan memperhitungkan kelestarian lingkungan.
o Perencanaan lingkungan kerja sesuai dengan kemampuan manusia.
3. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat lunak, harus melibatkan seluruh level
manajemen, antara lain :7
o Penyebaran, pelaksanaan dan pengawasan dari safety policy.
o Penentuan struktur pelimpahan wewenang dan pembagian tanggung jawab.
o Penentuan pelaksanaan pengawasan, melaksanakan dan mengawasi
sistem/prosedur
o kerja yang benar.
o Pembuatan sistem pengendalian bahaya.
o Perencanaan sistem pemeliharaan, penempatan dan pembinaan pekerja yang
terpadu.
o Penggunaan standard/code yang dapat diandalkan.
o Pembuatan sistem pemantauan untuk mengetahui ketimpangan yang ada.
Adapun cara pengendalian lingkungan kerja untuk meminimalisir kecelakaan para
pekerja sebagai berikut :7
o Pengendalian teknik
o Pengendalian administrative
o Menggunakan Alat Pelindung Diri
Berbagai cara yang umum digunakan untuk meningkatkan keselamatan kerja dalam
industri dewasa ini diklasifikasikan sebagai berikut:7
a. Peraturan-peraturan, yaitu ketentuan yang harus dipatuhi mengenai hal-halseperti
kondisi kerja umum, perancangan, konstruksi, pemeliharaan,pengawasan, pengujian
dan pengoperasian peralatan industri, kewajiban-kewajiban para pengusaha dan
pekerja, pelatihan, pengawasan kesehatan,pertolongan pertama dan pemeriksaan
kesehatan.
b. Standarisasi, yaitu menetapkan standar-standar resmi, setengah resmi, ataupuntidak
resmi.
15
c. Pengawasan, sebagai contoh adalah usaha-usaha penegakan peraturan yangharus
dipatuhi.
d. Riset teknis, termasuk hal-hal seperti penyelidikan peralatan dan ciri-ciri daribahan
berbahaya, penelitian tentang pelindung mesin, pengujian maskerpernapasan,
penyelidikan berbagai metode pencegahan ledakan gas dan debudan pencarian bahan-
bahan yang paling cocok serta perancangan tali kerekandan alat kerekan lainya
e. Riset medis, termasuk penelitian dampak fisiologis dan patologis dari faktor-faktor
lingkungan dan teknologi, serta kondisi-kondisi fisik yang amatmerangsang terjadinya
kecelakaan.
f. Riset psikologis, sebagai contoh adalah penyelidikan pola-pola psikologisyang dapat
menyebabkan kecelakaan.
g. Riset statistik, untuk mengetahui jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, berapabanyak,
kepada tipe orang yang bagaimana yang menjadi korban, dalamkegiatan seperti apa
dan apa saja yang menjadi penyebab.
Cara pengendalian ancaman bahaya kesehatan kerja, antara lain:7
• Pengendalian teknik: mengganti prosedur kerja, menutup mengisolasi bahan
berbahaya, menggunakan otomatisasi pekerjaan, menggunakan cara kerja basah
dan ventilasi pergantian udara.
• Pengendalian administrasi: mengurangi waktu pajanan, menyusun peraturan
keselamatan dan kesehatan, memakai alat pelindung, memasang tanda – tanda
peringatan, membuat daftar data bahan-bahan yang aman, melakukan pelatihan
sistem penangganan darurat.
• Pemantauan kesehatan : melakukan pemeriksaan kesehatan.

Alat Pelindung Diri (APD)


Perlindungan keselamatan pekerja melalui upaya teknis pengamanan tempat,
mesin,peralatan dan lingkungan kerja wajib diutamakan, namun kadang-kadang risiko
terjadinya kecelakaan masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan, sehingga digunakan alat
pelindung diri (alat proteksi diri) (personal protective device). Jadi, penggunaan APD adalah
alternatif terakhir yaitu perlengkapan dari segenap upaya teknis pencegahan kecelakaan. APD
harus memenuhi persyaratan :8
1. Enak (nyaman) dipakai
2. Tidak menggangu pelaksanaan pekerjaan
3. Memberingan perlindungan efektif terhadap macam bahaya yang dihadapi
16
Pakaian kerja harus dianggap sebagai alat perlindungan terhadap bahaya kecelakaan.
Pakaian kerja pria yang bekerja melayani mesin seharusnya berlangan pendek, pas (tidak
longgar) pada dada atau punggung, tidak ada dasi, tidak ada lipatan atau kerutan yang
mungkin mendatangkan bahaya. Wanita sebaiknya mengenakan celana panjang, jala atau ikat
rambut, baju yang pas dan tidak mengenakan perhiasan. Pakaian kerja sintetis hanya baik
terhadap bahan kimia korosif, tetapi justru bahaya pada lingkunan kerja dengan bahan yang
dapat meledak oleh aliran listrik statis.8
Alat proteksi diri beraneka ragam. Jika digolongkan menurut bagian tubuh yang
dilindunginya, maka jenis alat proteksi diri dapat dilihat pada daftar sebagai berikut :8
1. Kepala : pengikat rambut, penutup rambut, topi dari berbagai jenis yaitu topi
pengaman (safety helmet) topi atau tudung kepala, tutup kepala
2. Mata : kacamata pelindung (protective goggles)
3. Muka : Pelindung muka (face shields)
4. Tangan dan jari: sarung tangan(sarung tangan dengan ibu jari terpisah), sarung tangan
biasa(gloves), pelindung telapak tangan(hand pad), dan sarung tangan yang menutupi
pergelanan tangan sampai lengan (sleeve).
5. Kaki : sepatu pengaman (safety shoes)
6. Alat pernafasan : Respirator, masker alat bantu pernafasan.
7. Telinga : Sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff)
8. Tubuh : pakaian kerja menurut keperluan yaitu pakaian kerja yang tahan panas, tahan
dingin, pakaian kerja lainnya
9. Lainnya : sabuk pengaman

Kesimpulan
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi dan
menyebabkan kerugian pada manusia dan harta benda. Kecelakaan kerja dapat di identifikasi
dari penyebabnya melalui beberapa teori faktor penyebab kecelakaan kerja contohnya teori
“Heinrich” yang menyatakan kecelakaan kerja disebabkan karena 2 hal yaitu unsafe
condition dan unsafe action. Analisis dari kecelakaan kerja dapat dipakai metode Fishbone
diagram dengan dibantu oleh orang-orang professional di bidangnya. Pencegahannya dengan
bantuan K3 serta manajemen dari K3, selain itu dengan mengetahui dan mematuhi SOP yang
ada.

17
Daftar Pustaka
1. McKenzie, James F. Kesehatan masyarakat. Edisi ke-4. Jakarta: EGC;2007.h.615.
2. Suma’mur PK. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta: Gunung
Agung;1996.h.207-17.
3. Dainur. Higine perusahaan, kesehatan dan keselamatan kerja (hiperkes) dalam Materi-
materi Pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat; Editor: Jonathan Oswari. Jakarta: Widya
Medika, 1995. h.71-2
4. Ridley John. Kecelakaan dalam Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Ed.3.
Jakarta: Erlangga, 2007. h. 113-8
5. Chundawan E. Kecelakaan Kerja dan Penerapan K-3 Dalam Pengoperasian Tower
Crane pada Proyek Industri. Surabaya: Universitas Kristen Petra;
6. Okti FP. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: FKM Universitas Indonesia; 2008
7. Suardi R. Sistem manajemen K3 dan manfaat penerapannya dalam Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Penerbit PPM, 2007. h.15-6, 23-34
8. Teknik ilustrasi masalah fishbone diagrams. Edisi 1 Mei 2013. Diunduh dari
http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/418-artikel-soft-competency/10999-
teknik-ilustrasi-masalah-fishbone-diagrams. 15 Oktober 2017.

18