Anda di halaman 1dari 7

DASAR-DASAR PENDIDIKAN IPA

“Masalah-Masalah Pembelajaran Sains di Sekolah”

Nama :Delviana Novita Jelita


Nim :1701050003
Kelas :A

PRODI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
A. PERMASALAHAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SAINS

Berdasarkan data hasil PISA (Program for International Assessment of Student) tahun
2009, peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. Ada tiga aspek
yang diteliti PISA, yakni kemampuan membaca, matematika, dan sains, berikut hasil survey PISA
tahun 2009; Reading (57), Matematika (61) dan Sains (60). Dengan predikat ini bisa
mencerminkan bagaimana sistem pendidikan Indonesia yang sedang berjalan saat ini.
Berdasarkan data PISA tahun 2009 tersebut, anak Indonesia masih rendah dalam kemampuan
literasi sains diantaranya mengidentifikasi masalah ilmiah, menggunakan fakta ilmiah, memahami
sistem kehidupan dan memahami penggunaan peralatan sains.

Berdasarkan data prestasi sains di TIMSS (Trends in International Mathematics and


Science Study) Indonesia pada tahun 2003 Indonesia berada diurutan 36 dan tahun 2007 diurutan
41. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan di Indonesia memang harus terus dilakukan. Perlu
diupayakan penataan pendidikan yang bermutu dan terus menerus yang adaptif terhadap
perubahan zaman. Rendahnya mutu sumber daya manusia Indonesia itu memang tidak terlepas
dari hasil yang dicapai oleh pendidikan kita selama ini. Oleh Choiri mengatakan bahwa banyak
permasalahan pembelajaran sains yang diangkat ke media tanpa adanya inovasi pembelajaran di
kelas, Selain itu pemberian materipun harus diperhatikan, hal ini untuk menghindari
kesalahan/kekurangan penerimaan konsep pada anak dengan benar dengan memperhatikan
psikologi anak tersebut dari awal pelajaran hingga evaluasi.

Masalah-masalah pembelajaran sains di sekolah:

1. Masalah yang dialami oleh guru, diantaranya :


 Guru tidak siap mengajar, dalam arti terkadang guru belum memahami konsep materi yang
diajarkan.
 Kesulitan memahami pelajaran, guru sering kesulitan dalam memunculkan minat belajar
anak
 Kurang optimal dalam penerapan metode pembelajaran yang ada.
 Kesulitan memilih dan menentukan alat peraga yang sesuai dengan materi yang diajarkan
 Kesulitan menanamkan konsep yang benar pada siswa dan sering bersifat verbalistik.
2. Sedangkan masalah yang timbul dari siswa diantaranya:
 sukar untuk mengubah paradigma yang berpandangan bahwa guru adalah satu-satunya
sumber belajar.
 Kurangnya minat siswa terhadap pelajaran sains karena bagi mereka sains itu sulit dan
sangat dibenci.
3. Masalah dalam proses berlangsungnya pembelajaran antaranya :
 pola pembelajaran DDCH (duduk, dengar, catat dan hapal). Pola pembelajaran DDCH
punya kelemahan, yaitu:
a) kurangnya interaksi guru dengan murid sehingga dapat menurunkan motivasi
anak belajar
b) murid apatis karena tidak ada keaktifan terlihat dalam proses pembelajaran.
c) murid kesulitan memahami konsep materi pelajaran.
d) munculnya trauma murid kepada guru yang mengajar
e) materi pelajaran yang diserap murid masuk dalam ingatan jangka pendek alias
STM (short time memory)
f) prestasi pembelajaran sains cenderung menurun.
 Fasilitas baik sarana dan prasarana yang kurang menunjuang membuat proses belajar
mengajar terhambat.
 Metode pembelajaran yang di terapkan guru kurang sesuai dengan konsep materi .
 Kurangnya kreativitas dan inovasi dari guru dalam mengajar sehingga siswa menjadi
bosan dan jenuh.
 Jumlah siswa di atas 20 anak dalam satu kelas menyebabkan guru kesulitan untuk
mengatasi masalah perbedaan kemampuan individu.Contoh kendala lain adalah
ketersediaan waktu; ketidakcocokan antara kurikulum, pembelajaran, dan evaluasi;
keterbatasan sumber belajar; pola hubungan antara guru dan siswa; dan lain-lain.

B. SOLUSI ATAS PERMASALAHAN PEMBELAJARAN SAINS


1. Kegiatan Membenahi Motivasi dan Prestasi.

Kegiatan membenahi motivasi dan prestasi merupakan kegiatan awal pembelajaran.


Kegiatan itu perlu dirancang sebaik mungkin guna mengkoordinasikan murid-murid untuk
“siap” belajar, menerima pelajaran dengan bertanya dan menggali ilmu pengetahuan yang akan
dipelajari. Kegiatan yang bisa memberikan motivasi dapat dilakukan dengan menggunakan
berbagai metode dan pendekatan, misalnya metode ceramah (bercerita), peragaan,
demonstrasi, dan sosiodrama dengan bermain peran, serta metode tanya jawab. Pada kegiatan
memberikan motivasi, guru hendaknya memberikan pertanyaan awal yang mengarahkan pada
materi yang akan dibahas, sehingga muncul opini anak.

2. Guru dapat mengembangkan pembelajaran yang aktif.

Pendekatan pembelajaran “PAKEMI” dan inovatif, pembelajaran aktif, kreatif, enak,


menyenangkan. Pendekatan pembelajaran PAKEMI paling tidak dapat membawa angin
perubahan dalam pembelajaran, yaitu:

a. guru dan murid sama-sama aktif dan terjadi interaksi timbal balik antar keduanya.
b. guru dan murid dapat mengembangkan kreatifitasnya dalam pembelajaran.
c. murid merasa senang dan nyaman dalam pembelajaran
d. munculnya pembahasan dalam pembelajaran di kelas.

Selain itu pembelajaran aktif bisa dilakukan dengan pembelajaran CBSA. Dalam
pembelajaran ini dirubah system dari guru yang aktif seperti pembelajaran dahulu, dimana
guru memegang peran yang besar karena guru dianggap sumber satu-satunya materi
pembelajaran menjadi siswa yang aktif.anak-anak diperlakukan sebagai pribadi yang potensial
dan sedang berkembang. Keaktifan siswa harus meliputi intelektual dan emosional. Dalam
CBSA peranan guru menjadi ganda tidak hanya ceramah namun ada peran lain diantaranya:
sebagai informator, sebagai komunikator, sebagai organisator, sebagai fasilisator,sebagai
motivator, sebagai director, sebagai kasalisator, sebagai konduktor, sebagai inisiator, sebagai
moderator, sebagai administrator dan sebagai evaluator.

3. Menentukan model pembelajaran yang mengembangkan misi pembelajaran sains

Dalam pelaksanaannya pembelajan sains selalu berkaitan dengan metode ilmiah.


Penggunaan metode ini pada dasarnya tidak terlepas dari bebagai pendekatan-pendekatan
terutama pendekatan proses. Proses merupakan sekumpulan keterampilan intelektual yang
harus dimiliki oleh para siswa sebagai bekal dalam mempelajari sains. Prestasi belajar siswa
tidak semata-mata berasal dari pengetahuan yang ditransfer langsung dari pikiran guru ke
dalam pikiran siswa. Hal ini disebabkan siswa yang datang ke sekolah sudah membawa
pengetahuan awal yang siap dikembangkan dengan bimbingan guru, sesuai dengan kaidah
pembelajaran yakni proses interaksi antara guru dengan siswa.

Dalam proses pembelajaran, guru memberikan bimbingan, menyediakan berbagai


kesempatan yang dapt mendorong siswa belajar, dan memperoleh pengalaman sesuai dengan
tujuan pembelajaran. mengintegrasikan isi sains kedalam kegiatan-kegiatan pembelajaran
yang membekali siswa pengalaman belajar siswa secara langsung. Pemberian pengalaman
belajar secara langsung ini sangat ditekankan melalui penggunaan dan pengembangan
keterampilan proses dan sikap ilmiah dengan tujuan untuk memahami konsep-konsep dan
mampu memecahkan masalah. Selain itu dalam proses pembelajaran sains kita bisa
menggunakan beberapa macam pendekatan seperti halnya pendekatan lingkungan dimana
pembelajaran sains itu langsung kelapangan dan pengamatan langsung terhadap fenomena
sains ada juga pendekatan STM (sains teknologi masyarakat) atau pendekatan STS (science
technology society), pendekatan konstruktivis dan pendekatan lainnya.

4. Membantu pemahaman hakikat sains dalam proses pembelajaran

Membantu siswa dalam pemahaman hakikat sains dapat dilakukan dengan cara :

a) Para siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam aktivitas yang didasari sains yang
merefleksikan metode ilmiah dan keterampilan proses yang mengarah pada diskoveri atau
inkuiri terbimbing.
b) Para siswa perlu didorong melakukan aktivitas yang melibatkan pencarian jawaban bagi
masalah dalam masyarakat ilmiah dan teknologi
c) Para siswa perlu dilatih”learning by doing = belajar dengan berbuat sesuatu” dan kemudian
merefleksikannya. Mereka harus secara aktif mengkonstruksi konsep, prinsip, dan
generalisasi melalui proses ilmiah.
d) Para guru perlu menggunakan berbagai pendekatan/model pembelajaran yang bervariasi
dalam pembelajaran sains. Siswa perlu diarahkan juga pada pemahaman produk dan konten
materi ajar melalui aktivitas membaca, menulis dan mengunjungi tempat tertentu.
e) Para siswa perlu dibantu untuk memahami keterbatasan/ketentatifan sains, nilai-nilai, sikap
yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran sains di masyarakat sehingga mereka
dapat membuat keputusan.
5. Menempatkan siswa pada pusat proses pembelajaran
Metoda mengajar tradisional dengan pendekatan ekspositori sebaiknya mulai
dikurangi. Guru yang hanya men-transmisi pengetahuan kurang menstimulasi siswa untuk
belajar secara aktif. Hal ini bukan berarti bahwa metoda ceramah tidak baik, atau siswa tidak
mengalami proses belajar. Variasi proses pembelajaran lebih memicu siswa untuk aktif belajar.
Menempatkan siswa pada pusat poses pembelajaran berarti memberikan kesempatan bagi
siswa untuk mengonstruksi hal yang dipelajarinya berdasarkan pengetahuan yang diketahuinya
dan menginterpretasi konsep, bukan memberikan informasi melalui buku teks.
REFERENSI

Kristina, Elisa. 2012. Permasalahan Pelaksanaan Pembelajaran Sains di Sekolah. (berkas pdf)
(online) (https://www.scribd.com/doc/2018/05/29/permasalahan-pembelajaran-sains )