Anda di halaman 1dari 2

6.

Patogenesis dari Hipertiroiditisme


Patogenesis penyakit hipertiroid sampai sejauh ini belum diketahui secara pasti. Diduga
faktor genetik dan lingkungan ikut berperan dalam mekanisme tersebut. Berdasarkan ciri-ciri
penyakitnya, penyakit Graves’ dikelompokkan ke dalam penyakit autoimun, antara lain
dengan ditemukannya antibodi terhadap reseptor TSH (Thyrotropin Stimulating Hormone -
Receptor Antibody /TSHR-Ab) dengan kadar bervariasi. Pada penyakit Graves’, limfosit T
mengalami perangsangan terhadap antigen yang berada didalam kelenjar tiroid yang
selanjutnya akan merangsang limfosit B untuk mensintesis antibodi terhadap antigen tersebut.
Antibodi yang disintesis akan bereaksi dengan reseptor TSH didalam membran sel tiroid
sehingga akan merangsang pertumbuhan dan fungsi sel tiroid, dikenal dengan TSH-R
antibodi. Adanya antibodi didalam sirkulasi darah mempunyai korelasi yang erat dengan
aktivitas dan kekambuhan penyakit. Mekanisme autoimunitas merupakan faktor penting
dalam patogenesis terjadinya hipertiroidisme, oftalmopati, dan dermopati pada penyakit
Graves’. Sampai saat ini dikenal ada 3 autoantigen utama terhadap kelenjar tiroid yaitu
tiroglobulin (Tg), thyroidal peroxidase (TPO) dan TSH reseptor (TSH-R). Disamping itu
terdapat pula suatu protein dengan BM 64 kiloDalton pada permukaan membran sel tiroid
dan sel-sel orbita yang diduga berperan dalam proses terjadinya perubahan kandungan orbita
dan kelenjar tiroid penderitapenyakitGraves’. Sel-sel tiroid mempunyai kemampuan bereaksi
dengan antigen diatas dan bila terangsang oleh pengaruh sitokin (seperti interferon gamma)
akan mengekspresikan molekul-molekul permukaan sel kelas II (MHC kelas II, seperti DR4)
untuk mempresentasikan antigen pada limfosit T.

Terjadinya opthtalmopati Graves’ melibatkan limfosit sitotoksik (killer cells) dan antibodi
sitotoksik lain yang terangsang akibat adanya antigen yang berhubungan dengan tiroglobulin
atau TSH-R pada fibroblast, otot-otot bola mata dan jaringan tiroid. Sitokin yang terbentuk
dari limfosit akan menyebabkan inflamasi fibroblast dan miositis orbita, sehingga
menyebabkan pembengkakan otot-otot bola mata, proptosis dan diplopia. Dermopati Graves’
(miksedema pretibial) juga terjadi akibat stimulasi sitokin didalam jaringan fibroblast
didaerah pretibial yang akan menyebabkan terjadinya akumulasi glikosaminoglikans.

Hormon tiroid mempengaruhi hampir seluruh sistem pada tubuh, termasuk pada pertumbuhan
dan perkembangan, fungsi otot, fungsi Sistem Syaraf Simpatik, Sistem Kardiovaskular dan
metabolisme karbohidrat. Homorn tiroid dapat mempengaruhi metabolisme karbohidrat baik
pada kadar hormon yang meningkat (hipertiroid) ataupun menurun (hipotiroid).

Penyakit Graves’ merupakan penyebab paling umum hipertiroidisme. 6,10 1 Sekitar 60%
hipertiroidism disebabkan oleh penyakt Graves’. Tirotoksikosis dengan sendirinya adalah
diabetogenik.6 Variabel intoleransi glukosa dapat terjadi hingga 50% dari pasien
tirotoksokosis dengan kejadian diabetes terjadi pada 2-3%, ketika hipertiroid terjadi pada
individu normal. Perubahan metabolik mungkin terjadi sebagai akibat dari hipertiroidisme
dan berkontribusi terhadap penurunan kontrol glikemik.

Meskipun resiko terjadinya diabetes melitus hanya berkisar 2-3% pada individu yang
menderita hipertiroidisme namun jika ini dijumpai akan mempengaruhi dan menyebabkan
sulitnya mengontrol glukosa darah oleh karena dua kondisi metabolik yang terjadi secara
bersamaan. Berbagai perubahan metabolisme dapat terjadi selama kondisi hipertiroid dan hal
ini dapat mempengaruhi status glukosa darah. Perubahan-perubahan tersebut diantaranya
adalah 6 pada kondisi hipertiroid, waktu pengosongan lambung menjadi lebih cepat. Absorpsi
glukosa pada saluran cerna juga ikut meningkat termasuk aliran darah di vena portal. Ketika
beberapa studi menunjukkan bahwa penurunan sekresi insulin bisa terjadi pada kondisi
hipertiroid, studistudi lainnya melaporkan level insulin baik diperifer dan sirkulasi portal
justru normal atau meningkat. Sebenarnya kondisi ini bisa tertutupi oleh karena adanya
sekresi insulin yang. meningkat termasuk juga degradasi dari insulin tersebut. Pada
hipertiroid insulin clearen meningkat hingga 40%. Kondisi yang berlama-lama dari gangguan
fungsi tiroid ini juga akan menyebabkan gangguan fungsi dari sel beta sehingga akan
menurunkan produksi insulin oleh pankreas dan respon insulin terhadap glukosa. Produksi
glukosa endogenous 6 meningkat dengan beberapa mekanisme.
• Meningkatnya prekursor glukoneogenik dalam bentuk laktat, glutamin dan alanin dari otot
rangka dan gliserol dari jaringan lemak
• Meningkatnya konsentrasi free fatty acid (FFA) plasma yang bisa menstimulasi hepatik
glukoneogenesis.
• Meningkatnya glikogenolisis oleh karena inhibisi dari sintesa glikogen.
• Upregulasi dari protein transporter glukosa atau GLUT-2 pada membran plasma hepatosit.
• Meningkatnya sekresi dan efek glukagon serta adrenalin terhadap sel-sel hati

Penggunaan glukosa di jaringan adiposa meningkat pada pasien hipertiroid ini dibuktikan
melalui percobaan isolasi jaringan adiposa dari tikus dan pasien hipertiroid menunjukkan
sensitifitas dari transpor glukosa dan penggunaannya terhadap insulin yang normal,
meningkat atau menurun. Variabilitas hasil ini mungkin sebagai reflek terhadap perbedaan
regional pada jaringan adiposa yang terisolasi.Peningkatan ambilan glukosa dan
pembentukan laktat terhadap oksidasi glukosa dan proses penyimpanan pada kondisi
hipertiroid. Kondisi ini disebabkan karena meningkatnya insulin basal, stimulasi GLUT1,
GLUT4, meningkatnya respon glikogenolisis terhadap stimulasi beta adenergik,
meningkatnya aktivitas heksokinase dan fosfofruktokinase serta menurunnya sensitifitas
sintesa glikogen terhadap insulin.

12. Edukasi dan Pencegahan Hipertiroiditisme


Hal ini perlu dilakukan agar terbangun dukungan keluarga dalam hal kepatuhan meminum
obat. Dikarenakan kepatuhan meminum obat merupakan cara mengontrol penyakit.