Anda di halaman 1dari 7

HUKUM PERTAMBANGAN

(PEMBERIAN IZIN PERTAMBANGAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM


ADMINISTRASI)

Oleh :

HERDIN MANTO

H1A1 15 156

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2018
HUKUM PERTAMBANGAN

(PEMBERIAN IZIN PERTAMBANGAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM


ADMINISTRASI)

Herdin Manto

Stambuk : H1 A1 15 156

Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo

PENDAHULUAN pengakutan dan penjualan, serta


kguatan pasca tambang.1
Sumber daya alam di Indonesia
secara luas telah menjadi suatu Pertambangan di Indonesia
kekayaan dan kemakmuran bangsa dikuasai oleh negara berdasarkan
yang terdiri atas minyak, gas dan Pasal 33 UUD 1945. Atas dasar itulah,
pertambangan yang menyebar luas di jika ada pihak lain yang mengelolah
wilayah negara Indonesia. dan memanfaatkan haruslah
melakukan kerja sama dengan
Pertambangan adalah sebagian
pmerintah karena pemerintalah yang
atau seluuh tahapan kegiatan dalam
berwenang mengelolah dan
rangka penelitian, pengelolaan,
memanfaatkannya.
pengelolaan, pengusahaan, mineral
atau batubara yang meliputi pnyidikan N. M. Spelt dan Ten Berge
umum, eksplorasi, studi kelayakan, 2mengemukakan bahwa izin adalah
konstruksi, penambangan, suatu persetujuan dari penguasa
pengelolaan dan pemurnian, berdasarkan undang-undang atau

1
Pasal 1 angka (1) UU Minerba
2
Philipus M.Hadjon, (penyunting), N.M Spelt dan
Ten Berge, hal. 2.
peraturan pemerintah, dalam keadaan mengkaji tentang penyusunan,
tertentu menyimpang dari ketentuan pengimplemetasian dan
larangan suatu peraturan perundang- pengevaluasian kebijakan pemerintah
undangan. Oleh karena penerbitan daerah. Persyaratan yang diberikan
izin, diskresi adakalanya dapat oleh pemerintah daerah berupa izin.
menciptakan maladministrasi, korupsi, Izin dalam administrasi negara
dan keburukan kualitas lingkungan berkaitan dengan perundang-
yang mungkin dapat menghentikan undangan dalam pemberian izin
suatu perkembangan yang khusus. Izin merupakan suatu
berkelanjutan. perbuatan Hukum Administrasi
Negara yang diterapkan dalam
Didalam UU Pertambangan
peraturan berdasarkan persyaratan
Mineral dan Batubara yakni UU No. 4
dan prosedur sesuai dengan
Tahun 2009 telah cukup baik
ketentuan perundang -undangan.
memberikan panduan mengenai
Dalam kenyataannya, perusahaan
bagaimana izin pertambangan
tambang banyak melakukan kegiatan
tersebut dikeluarkan, meliputi norma
tambang secara illegal yang tidak
hukum terkait persyaratan maupun
sesuai dengan ketentuan perundang-
prosedur yang harus ditempuh oleh
undangan mengenai kejelasan dari
pemohon izin agar bisa mendapatkan
status hukum pertambangan tersebut.
izin usaha pertambangan, apakah itu
IUP Eksplorasi maupun IUP Operasi RUMUSAN MASALAH
Produksi.
Dari latar belakang diatas yang
Kegiatan pertambangan ini harus menjadi rumusan masalah dalam hal
memenuhi 2 hal yaitu persyaratan ini adalah Bagaimana norma
administrasi dan persyaratan hukum. pemberian izin usaha pertambangan
Persyaratan administrasi ini diatur dari segi Hukum Adminsitrasi?
dalam administrasi negara berkaitan
dengan pembangunan negara yang
PEMBAHASAN fungsinya dalam mengatur (regelen),
mengurus (bestureen).
Izin dalam arit sempit yaitu
perkenaan dari penguasa untuk orang Salah satu contoh permasalahan
yang memohonnya untuk melakukan dalam izin pertambangan batuan
tindakan-tindakan tertentu yang adalah rusaknya kondisi lingkungan
sebenarnya dilarang, tentunya hal disekitar pertambangan yang
tersebut menyangkut perkenaan bagi berdampak merusak kondisi alam
suatu tindakan yang demi kepentingan masyarakat setempat maupun
umum mengharuskan pengawasan makhluk hidup lainnya. Bentuk
khusus atasnya. Adapun tujuannya kesalahan semacam ini seharusnya
adalah mengatur suatu tindakan yang perlu dicegah dari awal sebelum
oleh para legis-lator yang pemohon ditetapkan sebagai
menganggap bahwa pemberian izin pemegang izin usaha
tidak seluruhnya dianggap melakukan pertambangandengan melakukan
perbuatan tercela, tetapi disisi lain pembinaan. Setelah pemohon
pemerintah/penguasa menghendaki ditetapkan sebagai pemegang izin
dapat melakukan pengawasan usaha pertambangan batuan, mutlak
sekedernya. Sedangkan izin dalam dilakukan sebuah pengawasan atas
arti luas adalah suatu tindakan yang izin usaha pertambangan yang
dilarang terkecuali diperkenankan dilakukan oleh si pemegang izin
dengan tujuan agar dalam ketentuan tersebut sebagai bentuk pencegahan
ketentuan yang disangkutkan dengan dan sarana penegakan hukum
perkenan dapat dengna teliti diberikan preventif. Dan apabila ditemukan
batas-batas tertentu bagi tiap kasus. pelanggaran dalam pelaksanaan izin
usaha pertambangan yang dilakukan
Adanya izin usaha pertambangan
maka pemerintah wajib memberikan
yang dikeluarkan pemerintah
sanksi terhadap pemegang izin usaha
diharapkan dapat melaksanakan
sebagai bentuk penegakkan hukum 3. Penetapan Wilayah Usaha
represif. Pertambangan oleh Pemerintah
setelah berkoordinasi dengan
Penerbitan Izin dalam Hukum
Pemda dan disampaikan secara
Adminsrtatif
tertulis kepada DPR RI, dimuat
Didalam UU Pertambangan dalam Pasal 14 UU Minerba;
Mineral dan Batubara yakni UU No. 4 4. Kriteria untuk menetapkan Wilayah
Tahun 2009 telah cukup baik Izin Usaha Pertambangan (WIUP)
memberikan panduan mengenai izin dalam Pasal 18 UU Minerba
pertambangan yang akan dikeluarkan, 5. Penetapan dan Kriteria
meliputi norma hukum terkait menetapkan Wilayah
persyaratan maupun prosedur yang Pertambangan Rakyat yang diatur
harus ditempuh oleh pemohon izin dalam Pasal 20-26 UU Minerba
agar bisa mendapatkan izin usaha 6. Penetapan Wilayah Pencadangan
pertambangan. Dari IUP Eksplorasi Negara (WPN) sebagaimana diatur
maupun IUP Operasi Produksi. dalam Pasal 27 UU Minerba
Berikut ini norma hukum administarsi 7. Perubahan status WPN menjadi
terkait dengan pengelolaan Wilayah Usaha Pertambangan
pertambangan diantaranya : Khusus (WUPK) dalam Pasal 28-32
8. Pemberian IUP diatur dalam Bab
1. Asas dan tujuan pengelolaan
VII Izin Usaha Pertambangan Pasal
pertambangan yang diatur dalam
36-49 UU Minerba;
Pasal 2 dan Pasal 3 UU Minerba;
9. Persyaratan Perizinan Usaha
2. Penetapan Wilayah Pertambangan
Pertambangan dalam Pasal 64-73
WP) oleh Pemerintah setelah
UU Minerba
berkoordinasi dengan Pemda dan
10. Pemberian Izin Usaha
bekonsultasi dengan DPR RI diatur
Pertambangan Khusus (IUPK)
dalam Pasal 9-13 UU Minerba;
dalam Pasal 74-84
11. Persyaratan perizinan usaha 1. Telah Sesuai dengan Hakikat
pertambangan khusus Pasal 85- Hubungan Hukum Pidana dengan
89 UU Minerba Hukum Administrasi.
12. Penghentian semnetara kegiatan Dalam hal hukum administrasi
izin usaha pertambangan dan izin negara, maka hukum pidana
usaha pertambangan khusus berfungsi sebagai “hulprecht’
Pasal 113-Pasal 116 UU minerba; (hukum pembantu), artinya setiap
13. Pembinaan dan pengawasan ketentuan dalam Hukum
terhadap penmyelenggaraan Administrasi ditaati oleh
pengelolaan usaha pertambangan masyarakat.3
Pasal 139-Pasal 144 UU Minerba. 2. Mencantumkan Ketentuan
Pemidanaan bagi Pemberi Izin
Sanksi Pidana bagi Pemberi Izin
Kriminalisasi terhadap
dalam Hukum Pidana Administratif
pemberi izin diatur dalam Pasal 165
Dalam UU Minerba telah dimuat UU Minerba. Dalam UU Ketentuan
hukum pidana (administrasi) untuk Pokok Pertambangan (UU Minerba
membantu apabila sanksi administrasi lama) sama sekali tidak
sebagaimana diatur dalam Pasal 151 diperhitungkan pertanggung
157 UU Minerba tidak mampu jawaban pidana dalam pemberi
membuat norma hukum administrasi izin.
tetap tegak dan dipatuhi oleh subjek
KESIMPULAN
hukumnya. Ketentuan pidana dalam
UU Minerba juga diatur dalam Pasal Adanya izin usaha pertambangan
158-Pasal 165. yang dikeluarkan pemerintah
diharapkan dapat melaksanakan
Dua hal penting dalam ketentuan
fungsinya dalam mengatur (regelen),
pidana dalam UU Minerba yaitu :
mengurus (bestureen). Penerbitan izin

3
Diana Halim Koentjoro, Hukum Administrasi
Negara, (Bogor, Ghalia Indonesia, 2004), hlm 21
yang menyalahi ketentuan peraturan
perundang undangan ini tidak akan
terjadi apabila perilaku hukum
pemberi izin mengikuti norma hukum
yang ada mengenai bagaimana
pengelolaan pertambangan mineral
dan batubara yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Hadjon, Philipus M., 2007,


Perlindungan Hukum Bagi
Rakyat di Indonesia, Edisi
Revisi, Surabaya: Peradaban.

Diana Halim Koentjoro, 2004, Hukum


Administrasi Negara, (Bogor,
Ghalia Indonesia.

Nugraha, Sjafri, et.al, 2007, Hukum


Administrasi, Jakarta: Center for
Law and Good Governance
Studies (CLGS) Fakultas Hukum
Universitas Indonesia.

Ragawino, Bega, 2006, Hukum


Administrasi Negara, Bandung:
Universitas Padjadjaran.