Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BLAKANG
Indonesia sebagai bangsa yg bebas, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Seiring dengan pertumbuhan penduduk, pemerintah dituntut untuk mampu
menyediakan berbagai kebutuhan dan sarana-sarana yang dibutuhkan.
Sebagaimana halnya di Indonesia, negara dituntut berperan lebih jauh dalam
melakukan camput tangan terhadap aspek pemenuhan kebutuhan masyarakat
dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pemerintah sebagai pemegang otoritas
kebijakan publik yang harus memainkan peranan yang penting dalam memotivasi
seluruh kegiatan dan partipasi masyarakat, dengan melalui berbagai penyidiaan
fasilitas agar berkembangnya kegiatan perekonomian sebagai lahan masyarakat
dalam pemenuhan kebutuhan sendiri.1
Indonesia sebagai sebuah negara yang berekembang tentunya mengalami
suatu proses perubahan yang sangat penting. Pemerintah tentunya memiliki
tujuan yang hendak dicapainya, yang mana tidak berbeda dengan organisasi
pada umumnya terutama dalam hal kegiatan yang akan diimplementasikan
dalam rangka mencapai tujuan, yakni dituangkan dalam bentuk rencanarencana.2
Pada kenyataannya pembangunan di Indonesia saat ini dilakukan secara
tidak teratur baik dalam cakupan nasional maupun kabupaten/kota. Masyarakat
menganggap suatu lingkungan harus dikuasai dan dimanfaatkan. Hal ini tidak
sesuai dengan fungsi lingkungan. Oleh karena itu, konsep perencanaan harus
berusaha menjamin adanya kelangsungan pembangunan yang berkelanjutan
yang menjadi dasar upaya pengelolaan dan pemanfaatan serta pemeliharaan
perencanaan di suatu wilayah. Yang mana mempunyai peranan yang penting

1
I.Supardi, Lingkungan Hidup dan kelestariannya,Bandung: Alumni, 1985, hlm 63
2
Ridwan, HR, Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta: UII-Press, 2003, hlm. 142.

1
dalam pembangunan, suatu wilayah memiliki fungi yang penting dalam
kehidupan.
Konsep perencanaan harus berusaha menjamin adanya kelangsungan
pembangunan yang berkelanjutan yang menjadi dasar upaya pengelolaan dan
pemanfaatan serta pemeliharaan ruang di suatu wilayah. Karena itulah dibentuk
suatu perencanaa nasional diaman terdapat aturan yang mengatur mengenai
perencanaan nasional yaitu Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU
No.25 Tahun 2004) dan Perencanaan Keruangan (UU No. 26 Tahun 2007) untuk
mewujudkan terbentunya suatu perencanaan tata ruang di Indonesia.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian diatas maka penulis menarik sebuah rumusan masalah yaitu
Bagaimana Sumber Hukum Utama Perencanaan Tata Ruang di Indonesia ?

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU No.25 Tahun 2004)


Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan
yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang
tersedia. Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua
komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara. Adanya penguatan
Otonomi Daerah. memberikan kewenangan luas, nyata, dan bertanggung jawab
kepada daerah memerlukan koordinasi dan pengaturan untuk lebih
mengharmoniskan dan menyelaraskan pembangunan, baik pembangunan
Nasional, Pembangunan Daerah maupun pembangunan antardaerah.
Sistem Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan
pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka
panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur
penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah.
Sistem Pembangunan Nasional mempunyai visi misi yaitu, visi adalah
rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkanpada akhir periode
perencanaan. Sedangkan Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang
akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Sistem Pembangunan Nasional
membuat Strategi dalam langkah-langkah berisikan program-program indikatif
untuk mewujudkan visi dan misi dengan kebijakan arah/tindakan yang diambil
oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan. Sistem Pembangunan
Nasional mempunyai program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau
lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk
mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau kegiatan
masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah.

3
1. Asas da Tujuan Sistem Pembangunan Nasional
Bab II Pasal 2, Ayat 1,2,3,4 UU No.25 Tahun 2004 telah mengatur
pembangunan nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi dengan prinsip-
prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta
kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan nasional.
Perencanaan pembangunan nasional disusun secara sistematis, terarah, terpadu,
menyeluruh, dan tanggap terhadap perubahan.
SPPN diselenggarakan berdasarkan asas umum penyelenggaraan negara:
a. Asas kepastian hukum
b. Asas tertib penyelenggaraan negara
c. Asas kepentingan umum
d. Asas keterbukaan
e. Asas proporsionalitas
f. Asas profesionalitas
g. Asas akuntabilitas
Adapun tujuan dari Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yaitu
untuk :
a. Mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan;
b. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar daerah,
antar ruang, antar waktu, antar fungsi pemerintah maupun antara pusat dan
daerah;
c. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, dan pengawasan;
d. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan
e. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif,
berkeadilan, dan berkelanjutan.

4
2. Ruang Lingkup Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
Undang-Undang ini mencakup landasan hukum di bidang perencanaan
pembangunan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.
Dalam Undang-Undang ini ditetapkan bahwa Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan
pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam
jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh
unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan Daerah dengan
melibatkan masyarakat.
3. Proses Perencanaan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Undang-Undang ini
mencakup lima pendekatan dalam seluruh rangkaian perencanaan,
yaitu:
1. Politik;
2. Teknokratik;
3. Partisipatif;
4. Atas-bawah (top-down);
5. Bawah-atas (bottom-up).
Pendekatan politik memandang bahwa pemilihan Presiden/Kepala
Daerah adalah proses penyusunan rencana, karena rakyat pemilih
menentukan pilihannya berdasarkan program-program pembangunan
yang ditawarkan masing-masing calon Presiden/Kepala Daerah. Oleh
karena itu, rencana pembangunan adalah penjabaran dari agenda-agenda
pembangunan yang ditawarkan Presiden/Kepala Daerah pada saat kampanye ke
dalam rencana pembangunan jangka menengah.
Perencanaan pembangunan terdiri dari empat (4) tahapan yakni:
1. Penyusunan rencana
Tahap penyusunan rencana dilaksanakan untuk menghasilkan
rancangan lengkap suatu rencana yang siap untuk ditetapkan yang

5
terdiri dari 4 (empat) langkah. Langkah pertama adalah penyiapan
rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik,
menyeluruh, dan terukur. Langkah kedua, masing-masing instansi
pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada
rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. Langkah berikutnya
adalah melibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan rencana
pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui
musyawarah perencanaan pembangunan. Sedangkan langkah keempat
adalah penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan.
2. Penetapan rencana
Penetapan rencana menjadi produk hukum sehingga mengikat semua
pihak untuk melaksanakannya. Menurut Undang-Undang ini, rencana
pembangunan jangka panjang Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Undang
Undang/Peraturan Daerah, rencana pembangunan jangka menengah
Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Peraturan Presiden/Kepala Daerah, dan
rencana pembangunan tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai
Peraturan Presiden/Kepala Daerah.
3. Pengendalian pelaksanaan rencana
Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dimaksudkan untuk
menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam
rencana melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian selama
pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan
Kerja Perangkat Daerah. Selanjutnya, Menteri/Kepala Bappeda menghimpun
dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari
masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat
Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya.
4. Evaluasi pelaksanaan rencana.
Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari kegiatan perencanaan
pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data

6
dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran, tujuan dan kinerja
pembangunan. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran
kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. Indikator
dan sasaran kinerja mencakup masukan (input), keluaran (output), hasil
(result), manfaat (beneft) dan dampak (impact). Dalam rangka perencanaan
pembangunan, setiap Kementerian/Lembaga, baik Pusat maupun Daerah,
berkewajiban untuk melaksanakan evaluasi kinerja pembangunan yang
merupakan dan atau terkait dengan fungsi dan tanggungjawabnya. Dalam
melaksanakan evaluasi kinerja proyek pembangunan, Kementrian/Lembaga,
baik Pusat maupun Daerah, mengikuti pedoman dan petunjuk pelaksanaan
evaluasi kinerja untukmenjamin keseragaman metode, materi, dan ukuran
yang sesuai untuk masing-masing jangka waktu sebuah rencana.
Keempat tahapan diselenggarakan secara berkelanjutan sehingga
secara keseluruhan membentuk satu siklus perencanaan yang utuh.
4. Kelembagaan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
Presiden menyelenggarakan dan bertanggung jawab atas Perencanaan
Pembangunan Nasional, dibantu Menteri, dan Pimpinan Kementrian/Lembaga
sesuai tugas & Kewenangannya.
Kepala Daerah menyelenggarakan dan bertanggung jawab atas
perencanaan pembangunan daerah di daerahnya, dibantu Kepala Bappeda dan
Pimpinan SKPD sesuai tugas dan kewenangannya.
Gubernur selaku wakil pemerintah pusat mengkoordinasikan pelaksanaan
perencanaan tugas-tugas Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, serta
koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan sinergi perencanaan pembangunan antar
kabupaten/kota.

7
B. PENATAAN RUANG (UU NOMOR 26/2007)
Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan tata ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Hal tersebut
merupakan ruang lingkup penataan ruang sebagai objek Hukum Administrasi
Negara. Jadi, hukum penataan ruang menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun
2007 yaitu hukum yang berwujud struktur ruang (ialah sususnan pusat-pusat
pemukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai
pendukung kegiatan ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki
hubungan fungsional) dan pola ruang (ialah distribusi peruntukan ruang dalam
suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan
peruntukan ruang untuk fungsi budi daya).3
1. Asas dan Tujuan Penataan Ruang
Berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 ditegaskan
bahwa penataan ruang diselenggarakan berdasarkan asas:4
a. Keterpaduan
b. Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan
c. Keberlanjutan
d. Keberdayagunaan dan keberhasilgunaan
e. Keterbukaan
f. Kebersamaan dan kemitraan
g. Perlindungan kepentingan umum
h. Kepastian hukum dan keadilan
i. Akuntabilitas

3
Herman Hermit. Pembahasan Undang-Undang Penataan Ruang. Bandung: Mandar Maju.
2008. hlm. 68
4
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007. Pasal 2.

8
2. Tugas dan Wewenang Pemerintah/Pemerintah Daerah dalam Penataan
Ruang
Tugas negara dalam penyelenggaraan penatan ruang meliputi dua hal,
yaitu; (a) police making, ialah penentuan haluan negara; (b) task executing,
yaitu pelaksanaan tugas menurut haluan yang telah ditetapkan oleh negara.5
Wewenang pemerintah dalam penyelenggaraan penataan ruang meliputi:6
1. Pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan
ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, serta terhadap
pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis nasional, provinsi, dan
kabupaten/kota.
2. Pelaksanaan penataan ruang wilayah nasional.
3. Pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis nasional.
4. Kerja sama penataan ruang antarnegara dan pemfasilitasan kerja sama
penataan ruang antarprovinsi.
Wewenang pemerintah daerah provinsi dalam penyelenggaraan penataan
ruang meliputi:7
1. Pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan
ruang wilayah provinsi, dan kabupaten/kota, serta terhadap pelaksanaan
penataan ruang kawasan strategis provinsi dan kabupaten/kota.
2. Pelaksanaan penataan ruang wilayah provinsi.
3. Pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis provinsi.
4. Kerja sama penataan ruang antarprovinsi dan pemfasilitasan kerja sama
penataan ruang antarkabupaten/kota.
Wewenang pemerintah daerah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan
penataan ruang meliputi:8

5
Ridwan HR. Op.,Cit. hlm. 13
6
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Op.,Cit. Pasal 8 ayat 1.
7
Ibid, Pasal 10 ayat (1)
8
36 Ibid, Pasal 11 ayat (1).

9
1. Pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan
ruang wilayah kabupaten/kota dan kawasan strategis kabupaten/kota.
2. Pelaksanaan penataan ruang wilayah kabupaten/kota.
3. Pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis kabupaten/kota.
4. Kerja sama penataan ruang antarkabupaten/kota.
3. Pelaksanaan Penataan Ruang
Kegiatan pembangunan merupakan bagian terpenting dan tidak dapat
terpisahkan dari proses penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Indonesia
sebagai salah satu negara yang menganut paham Welfare state berkewajiban
untuk dapat menyelenggarakan pembangunan dengan memanfaatkan secara
optimal berbagai sumber daya yang ada guna memenuhi kebutuhan hidup
rakyatnya. Kewajiban negara ini diperkuat dengan dicantumkannya dalam
konstitusi negara yakni pada Pasal 33 ayat (3) yang menyatakan bahwa negara
memiliki kekuasaan atas bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya untuk digunakan sebesar besarnya bagi kemakmuran rakyat. Dengan
kata lain, ketentuan ini bermakna bahwa negara dengan berbagai cara dan tanpa
alasan apapun dituntut untuk dapat mensejahterakan rakyatnya.
4. Perencanaan Tata Ruang
Pada Pasal 19 Undang-Undang Penataan Ruang menyatakan bahwa
Penyusuanan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional harus memeperhatikan:
1. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.
2. Perkembangan permasalahan regional dan global, serta hasil pengkajian
implikasi penataan ruang nasional.
3. Upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan serta stabilitas
ekonomi.
4. Keselarasan aspirasi pembangunan nasional dan pembangunan daerah.
5. Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
6. Rencana pembangunan jangka panjang nasional.
7. Rencana tata ruang kawasan strategis nasional.

10
8. Rencana tata ruang wilayah provinsi dan rencana tata ruang wilayah
kabupaten/kota.
5. Pemanfaatan Ruang
Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan
pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan
pelaksanaan program beserta pembiayaannya. Ketentuan umum tentang
pemanfaatan ruang ditegaskan dalam Pasal 32 Undang-Undang Penataan
Ruang sebagai berikut:
1. Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan
ruang beserta pembiayaannya.
2. Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan
dengan pemanfaatan ruang, baik pemanfaatan ruang secara vertikal maupun
pemanfaatan ruang di dalam bumi.
3. Program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) termasuk jabaran dari indikasi program utama yang termuat di
dalam rencana tata ruang wilayah.
4. Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka
waktu indikasi program utama pemanfaatan ruang yang ditetapkan dalam
rencana tata ruang.
5. Pelaksanaan pemanfaatan ruang di wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) disinkronisasikan dengan pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah
administratif sekitarnya.

11
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Sumber hukum utama perencanaan tata ruang di indoensia terdiri dari 2
yaitu sistem perencanaan pembangunan nasional (uu no.25 tahun 2004) yaitu satu
kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-
rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang
dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan
daerah, dan penataan ruang (uu nomor 26/2007) yaitu hukum yang berwujud
struktur ruang (ialah sususnan pusat-pusat pemukiman dan sistem jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan ekonomi
masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional) dan pola ruang
(ialah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan
ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya).

B. SARAN
Sistem Perencanaa ruang harus memberkan efek bagi keseimbangan dan
keadilan di masyarakat yag merupakan tugas bagi pemerintah.

12
DAFTAR PUSTAKA

I.Supardi, Lingkungan Hidup dan kelestariannya,Bandung.

Ridwan, HR, Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta: UII-Press, 2003

Herman Hermit. Pembahasan Undang-Undang Penataan Ruang. Bandung:


Mandar Maju. 2008

Materi Slide Hukum Tata Ruang ”KEDUDUKAN HUKUM DALAM


PERENCANAAN ” Debby Rahmi I (15408053) dan M.Ihsani Prawira (15408057

13