Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI VESIKOLHITIASIS
Batu perkemihan dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan (ginjal,
ureter, kandung kemih), tetapi yang paling sering ditemukan ada di dalam ginjal (Long,
1996:322).
Vesikolitiasis merupakan batu yang menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher
kandung kemih, maka aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan berhenti dan
menetes disertai dengan rasa nyeri ( Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 1998:1027).
Pernyataan lain menyebutkan bahwa vesikolitiasis adalah batu kandung kemih yang
merupakan keadaan tidak normal di kandung kemih, batu ini mengandung komponen kristal
dan matriks organik (Sjabani dalam Soeparman, 2001:377).
Vesikolitiasis adalah batu yang ada di vesika urinaria ketika terdapat defisiensi substansi
tertentu, seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat atau ketika
terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah terjadinya
kristalisasi dalam urin (Smeltzer, 2002:1460).
Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan kaliks ginjal pada salah satu atau kedua ginjal
akibat adanya obstruksi (Smeltzer, 2002:1442). Long, (1996:318) menyatakan sumbatan
saluran kemih yang bisa terjadi dimana saja pada bagian saluran dari mulai kaliks renal
sampai meatus uretra. Hidronefrosis adalah pelebaran/dilatasi pelvis ginjal dan kaliks,
disertai dengan atrofi parenkim ginjal, disebabkan oleh hambatan aliran kemih. Hambatan
ini dapat berlangsung mendadak atau perlahan-lahan, dan dapat terjadi di semua aras
(level) saluran kemih dari uretra sampai pelvis renalis (Wijaya dan Miranti, 2001:61).
Vesikolithotomi adalah alternatif untuk membuka dan mengambil batu yang ada di
kandung kemih, sehingga pasien tersebut tidak mengalami gangguan pada aliran
perkemihannya Franzoni D.F dan Decter R.M.
B. ETIOLOGI
Menurut Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis
urin dan periode imobilitas (drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme
kalsium).
Faktor- faktor yang mempengaruhi menurut Soeparman (2001:378) batu kandung kemih
(Vesikolitiasis) adalah
1. Hiperkalsiuria: suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena,
hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium,
kalsium dan protein), hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin
D atau kelebihan kalsium.
2. Hipositraturia: suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air
kemih, khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap
atau tidak lengkap), minum Asetazolamid, dan diare dan masukan protein tinggi.
3. Hiperurikosuria: peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu
pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin yang berlebih.
4. Penurunan jumlah air kemih: dikarenakan masukan cairan yang sedikit.
5. Jenis cairan yang diminum: minuman yang banyak mengandung soda seperti soft
drink, jus apel dan jus anggur.
6. Hiperoksalouria: kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini
disebabkan oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium intestinal, dan
penyakit usus kecil atau akibat reseksi pembedahan yang mengganggu absorbsi
garam empedu.
7. Ginjal Spongiosa Medula: disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium
idiopatik (tidak dijumpai predisposisi metabolik).
8. Batu Asan Urat: batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah,
dan hiperurikosuria (primer dan sekunder).
9. Batu Struvit: batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dengan
organisme yang memproduksi urease
Kandungan batu kemih kebayakan terdiri dari :
a. 75 % kalsium.
b. 15 % batu tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat).
c. 6 % batu asam urat.
d. 1-2 % sistin (cystine).
C. MANIFESTASI KLINIS
Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan iritasi dan berhubungan
dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria, jika terjadi obstruksi pada leher kandung
kemih menyebabkan retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi ini lebih serius
yang dapat mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda seperti mual muntah,
gelisah, nyeri dan perut kembung (Smeltzer, 2002:1461).
Jika sudah terjadi komplikasi seperti seperti hidronefrosis maka gejalanya tergantung
pada penyebab penyumbatan, lokasi, dan lamanya penyumbatan. Jika penyumbatan timbul
dengan cepat (Hidronefrosis akut) biasanya akan menyebabkan koliks ginjal (nyeri yang
luar biasa di daerah antara rusuk dan tulang punggung) pada sisi ginjal yang terkena. Jika
penyumbatan berkembang secara perlahan (Hidronefrosis kronis), biasanya tidak
menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang punggung.
Selain tanda diatas, tanda hidronefrosis yang lain menurut Samsuridjal adalah:
 Hematuri.
 Sering ditemukan infeksi disaluran kemih.
 Demam.
 Rasa nyeri di daerah kandung kemih dan ginjal.
 Mual.
 Muntah.
 Nyeri abdomen.
 Disuria.
 Menggigil.

D. PATHOFISIOLOGI
Kelainan bawaan atau cidera, keadan patologis yang disebabkan karena infeksi,
pembentukan batu disaluran kemih dan tumor, keadan tersebut sering menyebabkan
bendungan. Hambatan yang menyebabkan sumbatan aliran kemih baik itu yang disebabkan
karena infeksi, trauma dan tumor serta kelainan metabolisme dapat menyebabkan
penyempitan atau struktur uretra sehingga terjadi bendungan dan statis urin. Jika sudah
terjadi bendungan dan statis urin lama kelamaan kalsium akan mengendap menjadi besar
sehingga membentuk batu (Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 2001:997).Proses
pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor yang kemudian dijadikan dalam
beberapa teori (Soeparman, 2001:388):
1. Teori Supersaturasi
Tingkat kejenuhan komponen-komponen pembentuk batu ginjal mendukung
terjadinya kristalisasi. Kristal yang banyak menetap menyebabkan terjadinya
agregasi kristal dan kemudian menjadi batu.
2. Teori Matriks
Matriks merupakan mikroprotein yang terdiri dari 65 % protein, 10 % hexose, 3-5
hexosamin dan 10 % air. Adanya matriks menyebabkan penempelan kristal-kristal
sehingga menjadi batu.
3. Teori Kurangnya Inhibitor
Pada individu normal kalsium dan fosfor hadir dalam jumlah yang melampaui
daya kelarutan, sehingga membutuhkan zat penghambat pengendapan. fosfat
mukopolisakarida dan fosfat merupakan penghambat pembentukan kristal. Bila
terjadi kekurangan zat ini maka akan mudah terjadi pengendapan.
4. Teori Epistaxy
Merupakan pembentuk batu oleh beberapa zat secara bersama-sama. Salah satu
jenis batu merupakan inti dari batu yang lain yang merupakan pembentuk pada
lapisan luarnya. Contoh ekskresi asam urat yang berlebih dalam urin akan
mendukung pembentukan batu kalsium dengan bahan urat sebagai inti
pengendapan kalsium.
5. Teori Kombinasi
Batu terbentuk karena kombinasi dari bermacam-macam teori diatas.

E. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik pasien dengan BSK dapat bervariasi mulai tanpa kelainan fisik
sampai tanda-tanda sakit berat tergantung pada letak batu dan penyulit yang ditimbulkan.
1. Pemeriksaan fisik umum : hipertensi, febris, anemia, syok
2. Pemeriksan fisik khusus urologi :
a. Sudut kosto vertebra : nyeri tekan , nyeri ketok, pembesaran ginjal
b. Supra simfisis : nyeri tekan, teraba batu, buli-buli penuh
c. Genitalia eksterna : teraba batu di uretra
d. Colok dubur : teraba batu pada buli-buli (palpasi bimanual)
3. Pemeriksaan fisik khusus abdomen
Inspeksi: Penonjolan pada daerah supra pubik
Palpasi: terdapat ballottement (pantulan yang terjadi ketika jari pemeriksa mengetuk
janin yang mengapung dalam uterus, menyebabkan janin berenang, mengapung
dalam posisinya) dan ini akan menyebabkan pasien ingin buang air kecil, terdapat
distensi kandung kemih
Perkusi: Redup

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium yang meliputi
pemeriksaan:
1. Urine
a. Ph lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme dapat
berbentuk batu magnesium amonium phosphat, ph yang rendah menyebabkan
pengendapan batu asam urat.
b. Sedimen: sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dengan batu,
bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat.
c. Biakan urin: untuk mengetahui adanya bakteri yang berkontribusi dalam proses
pembentukan batu saluran kemih.
d. Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat apakah terjadi
hiperekskresi.
2. Darah
a. Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
b. Lekosit terjadi karena infeksi.
c. Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
d. Kalsium, fosfat dan asam urat.
3. Radiologis
a. Foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi bendungan
atau tidak. Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada
keadaan ini dapat dilakukan retrogad pielografi atau dilanjutkan dengan antegrad
pielografi tidak memberikan informasi yang memadai.
b. PV (Pem Postvoid) : mengetahui pengosongan kandung kemih
c. Sistokopi : Untuk menegakkan diagnosis batu kandung kencing.
d. Foto KUB: Menunjukkan ukuran ginjal ureter dan ureter, menunjukan adanya
batu.
e. Endoskopi ginjal : Menentukan pelvis ginjal, mengeluarkan batu yang kecil.
f. EKG : Menunjukan ketidak seimbangan cairan, asam basa dan elektrolit.
g. Foto Rontgen : Menunjukan adanya di dalam kandung kemih yang abnormal
IVP (intra venous pylografi): Menunjukan perlambatan pengosongan kandung
kemih,membedakan derajat obstruksi kandung kemih divertikuli kandung kemih
dan penebalan abnormal otot kandung kemih.

a. Vesikolitektomi (sectio alta): Mengangkat batu vesika urinari atau kandung


kemih.
b. Litotripsi bergelombang kejut ekstra korporeal: Prosedur menghancurkan batu
ginjal dengan gelombang kejut.
c. Pielogram retrograd.
4. USG (Ultra Sono Grafi): Untuk mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada
jaringan ginjal.
5. Riwayat Keluarga: Untuk mengetahui apakah ada anggota keluarga yang menderita
batu saluran kemih, jika ada untuk mengetahui pencegahan, pengobatan yang telah
dilakukan, cara mengambilan batu, dan analisa jenis batu.

G. PENGOBATAN
Menurut Soeparman ( 2001:383) pengobatan dapat dilakukan dengan:
1. Mengatasi Simtom
2. Ajarkan dengan tirah baring dan cari penyebab utama dari vesikolitiasis, berikan
spasme analgetik atau inhibitor sintesis prostaglandin, bila terjadi koliks ginjal dan
tidak di kontra indikasikan pasang kateter.
3. Pengambilan Batu
a. Batu dapat keluar sendiri. Batu tidak diharapkan keluar dengan spontan jika
ukurannya melebihi 6 mm.
b. Vesikolithotomi.
c. Pengangkatan Batu
1) Lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal
Prosedur non invasif yang digunakan untuk menghancurkan batu.
Litotriptor adalah alat yang digunakan untuk memecahkan batu tersebut,
tetapi alat ini hanya dapat memecahkan batu dalam batas ukuran 3 cm ke
bawah. Bila batu di atas ukuran ini dapat ditangani dengan gelombang
kejut atau sistolitotomi melalui sayatan prannenstiel. Setelah batu itu pecah
menjadi bagian yang terkecil seperti pasir, sisa batu tersebut dikeluarkan
secara spontan.
2) Metode endourologi pengangkatan batu
Bidang endourologi mengabungkan ketrampilan ahli radiologi mengangkat batu
renal tanpa pembedahan mayor. Batu diangkat dengan forseps atau
jarring, tergantung dari ukurannya. Selain itu alat ultrasound dapat
dimasukkan ke selang nefrostomi disertai gelombang ultrasonik untuk
menghancurkan batu.
3) Ureteroskopi
Ureteroskopi mencakup visualisasi dan akses ureter dengan memasukkan alat
ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan
menggunakan laser, litotrips elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian
diangkat.
d. Pencegahan (batu kalsium kronik-kalsium oksalat)
1) Menurunkan konsentrasi reaktan (kalsium dan oksalat)
2) Meningkatkan konsentrasi inhibitor pembentuk batu yaitu sitrat (kalium
sitrat 20 mEq tiap malam hari, minum jeruk nipis atau lemon malam hari),
dan bila batu tunggal dengan meningkatkan masukan cairan dan
pemeriksaan berkala pembentukan batu baru.
3) Pengaturan diet dengan meningkatkan masukan cairan, hindari masukan
soft drinks, kurangi masukan protein (sebesar 1 g/Kg BB /hari), membatasi
masukan natrium, diet rendah natrium (80-100 meq/hari), dan masukan
kalsium.
4) Pemberian obat. Untuk mencegah presipitasi batu baru kalsium oksalat,
disesuaikan kelainan metabolik yang ada.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

Anamnesa

a. Biodata

Usia : paling sering didapatkan pada usia 30 sampai 50 tahun.

Jenis kelamin : banyak ditemukan pada pria dibanding wanita.

Suku/bangsa : banyak di temukan pada bangsa asia dan afrika.

Pekerjaan : orang yang bekerja dengan banyak duduk atau kurang aktivitas.

b. Riwayat penyakit sekarang

Keluhan utama yang sering terjadi pada pasien dengan batu kandung kemih adalah

nyeri pada kandung kemih dan menjalar ke penis, berat ringannya tergantung pada

lokasi dan besarnya batu, dapat terjadi nyeri/kolik renal. Klien juga dapat mengalami

gangguan gastrointestinal dan perubahan dalam eliminasi urine dengan merasakan

nyeri saat berkemih dan sulit untuk mengeluaran urine.

c. Riwayat penyakit dahulu

Keadaan atau penyakit – penyakit yang pernah di derita oleh penderita yang

berhubungan dengan batu saluran kemih antara lain infeksi kemih, hiperparatiroidisme,

penyakit inflamasi usus, keadaan – keadaan yang menyebabkan hiperkalasemia,

imobilasi lama dan dehidrasi.

d. Riwayat penyakit keluarga

Beberapa peyakit atau kelainan yang bersifat heriditer dapat menjadi penyebab

terjadinya batu ginjal antara lain riwayat keluarga dengan Renal Tubular Asidosis

(RTA), cystinuria, xanthinuria, dan dehidroxenadeninuria.(Munver dan Preminger,

2001)

e. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan umum
Pada pasien batu kandung kemih yang datang kerumah sakit dengan keadaan

lelah, letih, dan klien tampak gelisah,dimana kondisi psikologisnya mempengaruhi

karena manifestasi klinis yang ditimbulkan.

2) Tanda-tanda vital

N : Tidak temukan takikardi maupun barkikardi pada pasien batu kandung

kemih tetapi pada kondisi tertentu nadi tidak pada kondisi normal, yaitu

jika adanya reaksi inflamasi/infeksi.

S : Suhu pada Pasien batu kandung kemih dalam keadaan hipertermi

karena ada reaksi inflamasi dan rasa nyeri hebat yang di rasakan.

TD : Tekanan darah pada pasien batu kandung kemih tidak mengalami

peningkatan melainkan ada faktor genetik hipertensi yang

mencetuskannya.

RR : RR pada pasien batu kandung kemih normal 16-24x/mnt kecuali jika

faktor genetic penyakit saluran napas (asma) pada pasien.

3) B1 – B6

a) Pernapasan (B1: Breathing)

Hidung : Fungsi pernapasan baik, pernapasan cuping hidung (-)

Trachea : Tak ada kelainan.

Suara tambahan : wheezing (-), ronchi (-), rales (-), crackles (-)

Bentuk dada : simetris

MK: Tidak ada masalah keperawatan pada sistem pernafasan pada pasien Batu

kandung kemih, melainkan pasien mempunyai riwayat penyakit pernapasan

sebelumya.

b) Cardiovaskuler (B2: Bleeding)

Keluhan : Pusing (-), sakit kepala (-), palpitasi (-), nyeri dada (-), kram kaki (-)

Suara jantung: S1/S2 normal/ tidak terdengar suara jantung tambahan.


MK: Tidak ada masalah keperawatan pada sistem kardiovaskuler pada pasien

batu kandung kemih, melainakan ada faktor pemicu terjadinya gangguan pada

sistem kjardiovaskuler pada pasien.

c) Persyarafan (B3: Brain)

Kesadaran : Composmentis GCS: E = 4, V = 5, M = 6

MK: Tidak ada masalah keperawatan sistem persarafan pada pasien batu

kandung kemih, melainkan ada faktor pemicu terjadinya gangguan pada sistem

persarafan.

d) Perkemihan-Eliminasi Uri (B4: Bladder)

Produksi urine : < 500-1000 ml Frekuensi : > 6 x/hari, menetes

Keluhan : Warna pekat seperti teh, terlihat ada kristal (berbentu batu) dan

berbau khas, nyeri pinggang, sifat nyeri tumpul (kemeng), terus-menerus,

meningkat pada saat berkemih terutama bila keluar butiran-butiran batu, serta

disertai adanya distensi pada kandung kemih.

MK: Pada sistem perkemihan pasien batu kandung kemih lebih dirasakan, mulai

dari nyeri pada saat berkemih, dan adanya gangguan eliminasi urine kerena

adanya obstruksi pada saluran kemih dengan adanya batu.

e) Pencernaan-Eliminasi Alvi (B5: Bowel)

Mulut dan tenggorok : Fungsi mengunyah dan menelan baik

Abdomen : Bising usus normal, distensi (-), nyeri tekan (-)

Rectum : tdk dikaji

BAB : lancar, 1 x/hari

MK: Tidak ada masalah keperawatan pada sistem pencernaan pasien batu

kandung kemih, melainkan adanya gangguan pencernaan sebelumnya.

f) Tulang-Otot-Integumen (B6: Bone)

Kemampuan pergerakan sendi : intolenransi, Parese (-), paralise (-), hemiparese(-)


Extremitas : tidak ada kelainan.

Tulang belakang : skolisis (-), kifisis (-), lordosis (-).

Kulit :

(a) Warna kulit : pigmentasi normal

(b) Akral : sangat hangat

(c) Turgor : baik

MK: Pada sistem muskoloskaletal pasien batu kandung kemih sering mengalami

intoleransi aktivitas karena nyeri yang dirasakan yang melakukan mobilitas fisik

tertentu.

f. Pemeriksaan Diagnosis

BNO (Blass Nier Overzicht) untuk mengetahui pembesaran prostat, kandung kemih dan

kelainan ginjal.

g. Hasil Penelitian Laboratorium dan diagnostic.

1) Peningkatan sel darah Putih, Ureum, dan kretinin.

2) Kultur Urin ditemukan adanya kuman penyebab infeksi.

3) Pemeriksaan HB, waktu pendarahan dan pembekuan, golongan darah sebagai

persiapan preoperasi.

h. Potensial Komplikasi.

i. Hiponatrium dilusi akibat Transuretal Resection Prostat (TURP), infeksi, komplikasi

sirkulasi termasuk testis, hydrokel, syok, retensi urine akut, ileus para litikum, abses,

peningkatan suhu tubuh, dan nyeri pada saat berjalan.

j. Penatalaksanaan Medis.
Obsevasi tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu secara rutin pasca operasi,

analgesik, antispasmodic, antibiotik, irigasi kadung kemih kontinu, irigasi kandung kemih

intermiten, terapi iv parenteral.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1) Retensi urine berhubungan adanya penutupan saluran kemih oleh batu dan adanya

obstruksi mekanik, peradangan ditandai dengan urgensi dan frekuensi, oliguria (retensi)

dan hematuria.

2) Nyeri Akut berhubungan dengan robekan batu pada vesika urinaria

3) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses

keperawatan dan pengobatan

C. RENCANA KEPERAWATAN

1. Retensi urine berhubungan dengan obstruksi mekanikal: bekuan darah, edema, trauma,

prosedur bedah, tekanan dan iritasi kateter atau balon

NOC: Urinary Elimination

NIC: Urinary Retention Care

1. Lakukan penilaian kemih yang komprehensif berfokus pada inkontinensia (misalnya,

output urin, pola berkemih kemih, fungsi kognitif, dan masalah kencing praeksisten)

2. Memantau penggunaan obat dengan sifat antikolinergik atau properti alpha agonis

3. Memonitor efek dari obat-obatan yang diresepkan, seperti calcium channel blockers

dan antikolinergik

4. Merangsang refleks kandung kemih dengan menerapkan dingin untuk perut,

membelai tinggi batin, atau air

5. Sediakan waktu yang cukup untuk pengosongan kandung kemih (10 menit)

6. Masukkan kateter kemih, jika dibutuhkan


7. Anjurkan pasien / keluarga untuk merekam output urin

8. Memantau asupan dan keluaran

9. Memantau tingkat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi

10. Membantu dengan toilet secara berkala

11. Menerapkan kateterisasi intermiten

12. Merujuk ke spesialis kontinensia kemih

2. Nyeri Akut berhubungan dengan robekan batu pada vesika urinaria

NOC: Pain Level, Pain Control

NIC: Pain Management

1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

3. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,

pencahayaan dan kebisingan

5. Kurangi faktor presipitasi nyeri

6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi, kompres

hangat/ dingin

8. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

9. Tingkatkan istirahat

10. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan

berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur

11. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses keperawatan
dan pengobatan
NOC: Knowledge: Disease Process
NIC: Teaching: Disease Process
1. Kaji tingkat pengetahuan klien.
2. Berikan pendidikan kesehatan mengenai.
a). Pengertian
b). Penyebab
c). Tanda dan gejala
d). Pencegahan
e). Penatalaksanaan
3. Identifikasi tanda dan gejala yang membutuhkan evaluasi medikal.
4. Identifikasi sumber-sumber yang tersedia misalnya pelayanan perawatan di rumah.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Batu Kandung Kemih atau Buli-buli atau Vesikolithiasis. Diakses pada tanggal

11 Januari dari http:// dokterugm.wordpress.com/2010/04/23/batu-kandung-kemih-atau-batu-

bul...

NANDA International. 2015. Diagnosa Keperawatan: definisi dan klarifikasi 2015-2017(10th ed.).
Jakarta

Moorhed, (et al). 2013. Nursing Outcomes Classifications (NOC) 5th Edition. Missouri: Mosby
Elsevier
Gloria M. Bulechek, (et al).2013. Nursing Interventions Classifications (NIC) 6th Edition.
Missouri: Mosby Elsevie

R. Sjamsuhidayat, Wim de Jong, 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Penerbit Buku

Kedokteran, EGC, Jakarta.