Anda di halaman 1dari 3

IMPLEMENTASI MUTU PELAYANAN KEFARMASIAN

DI RUMAH SAKIT

A. Reability
1. Membuka jam pelayanan farmasi tepat waktu dari hari ke hari.
2. Melakukan pelayanan farmasi klinik berupa pelayanan resep serta
pelayanan pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai.
3. Menjaga kepuasan pasien ≥ 80%

B. Responsiveness
1. Mencegah pasien menunggu terlalu lama, dengan mengoptimalkan waktu
tunggu pelayanan dalam membuat “obat jadi” harus ≤ 30 menit serta “obat
racikan” harus ≤ 1 jam.

B. Assurance
1. Karyawan memilki kompetensi dan handal
- Instalasi Farmasi dipimpin oleh seorang Apoteker lulusan sarjana
farmasi dan memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) dan
dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian yang terdiri atas Sarjana
Farmasi, Ahli Madya Farmasi, dan Analis Farmasi.
- Jumlah karyawan berdasarkan beban kerja dan kebutuhan unit farmasi
di Rumah Sakit.
- Menyeleksi karyawan yang akan bergabung dengan cara kredensial
Rumah Sakit untuk menerapkan excellent quality, serta memberikan
pelatihan atau training kepada karyawan untuk memaksimalkan fungsi
SDM farmasi.
2. memberikan pelayanan yang ramah dan sopan kepada pelanggan dengan
senyum tegur sapa serta memiliki etika dalam tindak prilaku menjalankan
tugas kefarmasian.
3. Bekerja berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) kefarmasian dan
selalu update dalam keilmuan farmasi.
4. Melakukan pengecekan terhadap penulisan resep dokter, bila resep dokter
terdapat kekeliruan dan bertentangan dengan keilmuan farmasi, maka
apoteker bertugas untuk bertukar pendapat dengan dokter, bila tulisan
tidak terbaca atau tidak jelas, maka apoteker bertugas menanyakan kepada
dokter yang bersangkutan agar tidak terjadi kesalahan dalam semua
pemberian obat dan penulisan resep.
5. Menjamin pelaksanaan kefarmasian dengan pembinaaan dan pengawasan
yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Organisasi Profesi serta Balai
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)

D. Emphaty
1. Melakukan komunikasi dengan pasien dan/atau keluarga pasien atau
perawat mengenai perubahan terapi yang terjadi.
2. Melakukan Pelayanan Informasi Obat (PIO).
3. Melakukan Konseling Obat untuk mengoptimalkan hasil terapi,
meminimalkan risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD), dan
meningkatkan cost effectiveness yang pada akhirnya meningkatkan
keamanan penggunaan Obat bagi pasien (patient safety).

E. Tangible

1. Penampilan karyawan yang rapi dan bersih dengan menggunakan baju atau
jas standar karyawan kefarmasian.
2. Memiliki sarana dan prasarana sesuai standar kefarmasian di rumah sakit
seperti Fasilitas utama berupa Ruang Kantor/Administrasi, serta Ruang
penyimpanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan.
3. Melakukan inovasi produk berupa kemasan plastik pembungkus obat pulang
terdapat cetakan informasi singkat tentang obat serta tulisan yang memotivasi
untuk kesembuhan pasien.

Referensi:

Permenkes Nomor 72 tahun 2016 Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit

Permenkes Nomor 129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal di Rumah
Sakit
Permenkes Nomor 129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal di
Rumah Sakit

Jenis Pelayanan Indikator Standar


Farmasi 1. Waktu tunggu a. Obat Jadi ≤ 30
pelayanan b. Racikan ≤ 60
a. Obat Jadi
b. Racikan
2. Tidak adanya kejadian 100%
kesalahan pemberian
obat
3. Kepuasan pelanggan ≥ 80%
4. Penulisan resep sesuai 100%
formularium