Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT BEDAH

CELLULITIS ANTEBRACHII

DISUSUN OLEH
dr. Adinda Elisabeth Sugio
Periode Internship: 18 Oktober 2017- 18 Oktober 2018

PENDAMPING
dr. Sarlly Veronica

DOKTER INTERNSIP
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH “ANUNTALOKO” PARIGI
PARIGI MOUTONG
2017-2018
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. N
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 30 tahun
Agama : Islam
Status pernikahan : Menikah
Alamat : Avolva
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Masuk RSMR : 8 November 2017
No RM : 06-72-38

II. ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis Tanggal: 8 November 2017 Jam: 10.15

Keluhan Utama: Bengkak pada tangan sejak kurang lebih 6 hari

Riwayat Penyakit Sekarang:


Ny. N berumur 30 tahun datang ke UGD dengan keluhan bengkak disertai nyeri
pada tangan kanan sejak 6 hari SMRS. Bengkak dan nyeri dirasakan di seluruh tangan kanan,
bengkak dan nyeri dirasakan terus – menerus dan tak tertahankan lagi sehingga OS datang ke
RSUD Anuntaloko. Demam juga dirasakan sejak 4 hari SMRS. Demam dirasa sepanjang
hari. OS tidak mual, tidak muntah, BAB dan BAK tidak mengalami gangguan.
OS mengatakan awalnya tangan kanannya tertusuk jarum jahit. Daerah sekitar
luka tersebut kemudian di dirasa panas dan membengkak disertai nyeri. Nyeri pada awalnya
ringan dan masih dapat tertahankan, namun semakin hari tangan kanan dirasakan semakin
bengkak dan nyeri yang tidak tertahankan. OS sudah mencoba mengobati luka dengan
memberikan ramuan herbal namun tidak ada perbaikan. OS mengetahui kalau dirinya
menderita penyakit diabetes sejak 1 tahun lalu, namun pasien hanya beberapa kali kontrol ke
dokter dan tidak meminum obat diabetes sejak 6 bulan terakhir, ayah OS juga menderita
penyakit diabetes.

III.STATUS GENERALIS (8 November 2017)

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos Mentis
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi : 88 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 380C
Pain (Numeric Rating Scale) : 7/10
Berat badan : ± 80 kg
Tinggi badan : ± 150 cm
BMI : 31.1 kg/m2, obesitas
Kepala : Normocephali, distribusi rambut merata, tidak mudah rontok, tidak ada
sikatriks, tidak ada nyeri tekan
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sclera ikterik (-/-), injeksi (-), sekret (-)
Telinga : Normotia, tidak terdapat sekret, terdapat serumen, membran timpani utuh
Hidung : Tidak terdapat krepitasi, tidak terdapat septum deviasi, tidak ada sekret
dan hipertrofi konka.
Tenggorokan : T1/T1 tenang, faring tidak hiperemis
Leher : Tidak ada pembesaran KGB dan tiroid
Paru : suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen :
 Inspeksi :
- Abdomen anterior: Tidak ada distensi, perut mendatar, tidak ada terlihat benjolan
massa.
- Abdomen posterior: Tidak terlihat deviasi tulang vertebra, tidak terlihat adanya
penonjolan tulang.

 Palpasi :
- Abdomen anterior: Tidak ada nyeri pada seluruh regio, defans musculaire (-),
rigiditas (-), tidak teraba adanya benjolan massa
- Abdomen posterior: Tidak teraba adanya penonjolan tulang dan nyeri tekan.
 Perkusi :
- Abdomen anterior: Timpani pada seluruh lapang abdomen.
- Abdomen posterior: Nyeri ketuk CVA (-/-)
 Auskultasi :
- Abdomen anterior: Bising usus (+)
- Abdomen posterior: Bruit ginjal (-/-)
Alat kelamin
 Tidak dilakukan pemeriksaan
Colok Dubur
 Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas superior
- Kanan : tangan sulit digerakkan dan tampak bengkak dan
merah dengan batas tidak tegas. Nyeri tekan (+)
- Kiri : dalam batas normal

Pemeriksaan Penunjang :
Laboratorium (8 November 2017) :
Nama Test Hasil Satuan Nilai Rujukan
Hemoglobin 11,5 g/dL 11,0-17,0
Hematokrit 36,5 % 35-55
Eritrosit 5,04 Juta/uL 4,00-6,20
Leukosit 29.200 /mm3 4.000-12.000
Trombosit 367.000 /mm3 150.000-400.000
SGOT 24,2 U/L 0,0-31,0
SGPT 17,0 U/L 0,0-34,0
Cholesterol 105 mg/dL 0-200
Albumin 2,43 g/dL 3,50-5,20
GDS 366 mg/dL <140

IV. STATUS LOKALIS

Antebrachii dekstra:
Tangan susah digerakkan, tampak kemerahan dan
bengkak, nyeri tekan (+)
V. RESUME

Ny. N berumur 30 tahun datang ke UGD dengan keluhan bengkak disertai nyeri
pada tangan kanan sejak 6 hari SMRS. Nyeri dirasakan terutama di bagian lengan kanan
bagian bawah. OS mengatakan pada awalnya tangan kanannya tertusuk jarum jahit,
kemudian terasa panas, bengkak, dan disertai nyeri. OS tidak pernah mengalami penyakit
seperti ini sebelumnya, jarang memeriksakan kesehatan sebelumnya. Riwayat penyakit
serupa termasuk di keluarga tidak ada.

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos Mentis
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 100/60 mmHg Leukosit : 29.200
Nadi : 88 kali/menit GDS : 366
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 380C

Ekstremitas superior kanan : tangan sulit digerakkan dan tampak bengkak dan merah dengan
batas tidak tegas. Nyeri tekan (+)

VI. DIAGNOSIS KERJA


1. Cellulitis Antebrachii Dextra
Dasar diagnosis:
 OS datang dengan keluhan lengan bawah kanan bengkak, merah dan nyeri kurang lebih 6
hari. Nyeri dirasakan terus - menerus
 Sebelumnya dikatakan bahwa lengan bawah OS tertusuk jarum jahit dan sudah diobati
dengan ramuan herbal namun tidak membaik.
 OS juga mengeluhkan demam sejak 4 hari yang lalu
2. Diabetes Mellitus Tipe II
Dasar diagnosis:
 OS mengetahui kalau dirinya menderita penyakit diabetes sejak 1 tahun lalu, namun
pasien hanya beberapa kali kontrol ke dokter dan tidak meminum obat diabetes sejak 6
bulan terakhir.
 Ayah OS juga menderita penyakit diabetes
 GDS : 339

VII. DIAGNOSIS BANDING


1. Erisipelas
Dasar diagnosis:
 Adanya nyeri pada pada lengan bawah disertai demam, kulit nampak kemerahan
Alasan yang menyingkirkan:
 Biasanya pada kulit Nampak kemerahan dengan batas tegas dengan tepi meninggi. Di
peermukaan kulit adakalanya dijumpai gelembung kulit (bula)

2. PEMERIKSAAN ANJURAN
- Pemeriksaan darah lengkap untuk preoperasi (Hb, Ht, Leukosit, Trombosit, Eritrosit, ,
SGOT, SGPT, Ureum, Kreatinin, Elektrolit, HbsAg)
- X-Foto Thorax AP dan EKG untuk preoperasi.
-- Foto Antebrahcii Dextra AP - Lateral

3. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
 IVFD RL 20 tpm
 Cefuroxime 1 gr / 8jam
 Paracetamol 1 gr / 8 jam
 Ketorolac 30mg / 8 jam
 Pantoprazole 40mg / 24 jam
 Bolus insulin 0,1 IU/kgBB/IV
Insulin drips 0,1 IU/kgBB/jam
Non Medikamentosa
 Fasciotomy
 Pemeriksaan GDS / 8 jam
Edukasi
 Memberikan penjelasan kepada OS dan keluarga yang diizinkan mendengar bahwa
kemungkinan adanya infeksi dan resiko nyeri dan pembengkakan pada area yang akan
di operasi.
 Adanya kemungkinan pemakaian darah saat operasi, maka dianjurkan untuk
pengambilan kantong darah.

4. PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad bonam
Ad functionam : Dubia ad malam
Ad sanationam : Dubia ad malaM

VIII. TINJAUAN PUSTAKA

Erisipelas dan selulitis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri
Streptococcus pyogenes/hemolitikus dan Staphylococcus aureus, yang menyerang jaringan
subkutis dan daerah superfisial (dermis dan epidermis). Erisipelas adalah bentuk selulitis
superfisial yang mengenai pembuluh limfe. Selulitis merupakan peradangan akut jaringan
subkutis. Faktor risiko terjadinya infeksi ini adalah trauma lokal (robekan kulit), luka terbuka di
kulit, atau gangguan pada pembuluh vena maupun pembuluh limfe. Erisipelas dan selulitis
sering menjadi kondisi yang serius dalam perjalanan penyakitnya, sehingga membutuhkan
penanganan yang tepat. Kondisi infeksi tersebut terkadang menyebabkan masa perawatan yang
cukup lama di rumah sakit. Erisipelas dan selulitis yang tidak mendapat penatalaksanaan yang
tepat dapat menimbulkan beberapa komplikasi diantaranya yaitu: limfangitis, elefantiasis,
rekurensi, abses subkutan, gangren, bahkan komplikasi yang fatal berupa kematian.1
Erisipelas dan Selulitis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh
bakteri,yang menyerang jaringan subkutis dan daerah superficial (epidermis dan dermis). Faktor
resiko untuk terjadinya infeksi ini adalah trauma lokal (robekan kulit), luka terbuka di kulit atau
gangguan pada pembuluh vena maupun pembuluh getah bening. Angka kejadian infeksi kulit ini
kira-kira mencapai 10% pasien yang dirawat di rumah sakit.2
Daerah predilesi yang sering terkena yaitu wajah, badan, genitalia dan ekstremitas atas
dan bawah. Sekitar 85% kasus erysipelas dan selulitis terjadi pada kaki daripada wajah, dan pada
individu dari semua ras dan kedua jenis kelamin.3 Permulaan erysipelas dan selulitis didahului
oleh gejala prodormal, seperti demam dan malaise, kemudian diikuti dengan tanda-tanda
peradangan yaitu bengkak, nyeri, dan kemerahan. Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan
berdasarkan anamnesis, gambaran klinis. Penanganannya perlu memperhatikan faktor
predisposisi dan komplikasi yang ada.

DEFINISI
Selulitis merupakan peradangan akut jaringan subkutis dapat disebabkan oleh
Streptokokus betahemolitikus, Stapilokokus aureus dan pada anak oleh Hemophilus influenza.7

FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor predisposisi untuk terjadi selulitis ini merupakan keadaan yang dapat menurunkan
daya tahan tubuh terutama bila disertai higiene yang jelek; diabetes mellitus, alkoholisme, dan
malnutrisi. Selain itu umumnya terjadi akibat komplikasi suatu luka/ulkus atau lesi kulit yang
lain, namun dapat terjadi secara mendadak pada kulit yang normal.8

GEJALA KLINIS
Selulitis dikaitkan dengan 4 tanda cardinal infeksi, yaitu Eritema, rasa sakit,
pembengkakan, kehangatan. Temuan pemeriksaan fisik yang paling memungkinkan untuk terjadi
adalah:
- infeksi kulit tanpa drainase yang mendasarinya, trauma tembus, eschar, atau abses yang sangat
mungkin disebabkan oleh streptokokus, staphylococcus aureus, community – acquired MRSA
merupakan pathogen yang paling mungkin terjadi.
- Warna keunguan dan bullae meunjukkan infeksi yang lebih serius atau sistemik dengan
organisme seperti Vibrio vulnificus atau Streptococcus pneumoniae.
Temuan ini dapat ditemukan dalam infeksi berat : malaise, menggigil, demam,penyebaran
toksik memalui limfangitis (menyebar jauh dari area infeksi), selulitis sirkumferensial, rasa sakit
tidak sebanding dengan hasil pemeriksaan4

PATOGENESIS
DIAGNOSA
Untuk menegakkan diagnose antara erysipelas dan selulitis cukup sulit, karena hampir mempunyai
keluhan dan gambaran klinis yang sama, ada beberapa perbedaan antara erysipelas dan selulitis.

Gejala dan Tanda Erisipelas Selulitis


Gejala Prodormal Demam, malaise, nyeri sendi Demam, malaise, nyeri sendi
dan menggigil dan menggigil
Daerah Predileksi Ekstrimitas atas dan bawah, Ekstrimitas atas dan bawah,
wajah, badan dan genitalia wajah, badan dan genitalia
Makula eritematous Eritema terang, seperti buah Eritema cerah
cerry “red cerry”
Tepi Batas tegas Batas tidak tegas
Penonjolan Ada penonjolan Tidak terlalu menonjol
Vesikel atau Bula Biasanya disertai dengan Biasanya disertai dengan
vesikel atau bula vesikel atau bula
Edema Edema Edema
Hangat Hangat Tidak terlalu hangat
Fluktuasi - Fluktuasi
Tabel 1. Perbedaan Erisipelas dan Selulitis 2
Dapat disertai limfangitis dan limfadenitis. Penderita biasanya demam dan dapat menjadi
septikemi. Selulitis yang disebabkan oleh H. influenza, lesi kulit berwarna merah keabu-abuan,
merah kebiru-biruan atau merah keunguan. Lesi kebiru-biruan atau keunguan dapat juga
ditemukan pada selulitis yang disebabkan oleh Streptokokus pneumonia. Anak dengan selulitis
yang disebabkan oleh H. influenza tampak sakit berat dan toksik dan sering disertai gejala
infeksi traktus respiratonius bagian atas, bakteriemi dan septikemi. Pada pemeriksaan darah tepi
selulitis terdapat leukositosis dengan hitung jenis bergeser ke kiri.

KOMPLIKASI
Pada anak dan orang dewasa yang immunocompromised, penyulit pada selulitis dapat
berupa gangren, metastasis, abses dan sepsis yang berat.3 Selulitis pada wajah merupakan
indikator dini terjadinya bakterimia stafilokokus betahemolitikus grup A.Selulitis pada wajah
dapat menyebabkan penyulit intra kranial berupa meningitis.

PENATALAKSANAAN
Pada selulitis karena H. influenza diberikan untuk anak (3bln-12thn) 100-200 mg/kg/d
(150-300mg), >12 tahun seperti dosis dewasa. Selulitis karena streptokokus diberi penisilin
prokain G 600.000-2.000.000 IU IM selama 6 hari atau dengan pengobatan secara oral dengan
penisilin V 500mg setiap 6 jam, selama 10-14 hari
Pada selulitis yang ternyata penyebabnya bukan S.aureus penghasil penisilinase (non
SAPP) dapat diberi penisilin. Pada yang alergi terhadap penisilin, sebagai alternatif digunakan
eritromisin (dewasa 250-500 gram peroral; anak-anak: 30-50 mg/kgbb/ hari tiap 6 jam) selama
10 hari. Dapat juga digunakan klindamisin (dewasa 300-450 mg/hr PO; anak-anak 16-20
mg/kgbb/hari setiap 6-8jam).3 Pada yang penyebabnya SAPP selain eritnomisin dan klindamisin,
juga dapat diberikan dikloksasilin 500mg/hari secara oral selama 7-10 hari.
Aspirasi jarum hanya dilakukan pada pasien tertu atau kasis yang tidak biasa, seperi pada
kasus selulitis dengan bullae atau pada pasien yang menderita diabetes, imunokompromise, tidak
berhasil dengan terapi empiris, atau memiliki riwayat gigitan hewan 5 Pembedahan pada fascia
untuk menilai fasciitis nekrosis dapat ditentukan melalui kosultasi bedah atau diindikasi evaluasi
awal dan pemeriksaan penunjang.6
PENCEGAHAN
Untuk mencegah terjadinya selulitis maka hal-hal di bawah ini perlu dilakukan: Menjaga
kebersihan tubuh dengan mandi teratur dan menggunakan sabun atau shampo yang mengandung
antiseptik, agar kuman patogen secepatnya hilang dan kulit. Mengatasi faktor
predisposisi. Mengusahakan tidak terjadinya kerusakan kulit atau bila telah terjadi kerusakan
kulit berupa luka kecil maka segera dirawat atau diobati.

ERISIPELAS
DEFINISI
Erisipelas merupakan bentuk selulitis superfisial yang mengenai pembuluh limfe dan
disebabkan oleh Streptokokus betahemolitikus grup A ( Jarang ditemukan streptococcus grup C
dan G) dan jarang yang disebabkan oleh S.aureus.2 Erisipelas dapat terjadi pada semua usia dan
semua bangsa atau ras , namun paling sering terjadi pada bayi, anak dan usia lanjut. Sekitar 85 %
Erysipelas terjadi di kaki dan wajah, sedangkan sebagian kecil dapat terjadi di tangan, perut dan
leher serta tempat lainnya.3

ETIOLOGI
Streptococcus adalah penyebab utama erisipelas. Sebagian besar infeksi erysipelas wajah
disebabkan oleh streptokokus grup A, sedangkan infeksi erysipelas pada ekstrimitas atas dan
bawah disebabkan oleh non-kelompok streptokokus A (streptococcus G atau C). Racun
streptococcus ini diperkirakan berkontribusi terjadinya peradangan cepat yang menjadikan
pathognomonic infeksi ini. Baru-baru ini, bentuk atipikal dilaporkan telah disebabkan oleh
Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumoniae, Haemophilus influenzae, enterocolitica
Yersinia, dan spesies Moraxella.3
FAKTOR PREDISPOSISI
Erysipelas terjadi oleh penyebaran infeksi yang diawali dengan berbagai kondisi yang
berpotensi timbulnya kolonisasi bekteri, misalnya: luka, koreng, infeksi penyakit kulit lain, luka
operasi dan sejenisnya, serta kurang bagusnya hygiene. Selain itu, Erisipelas dapat terjadi pada
seseorang yang mengalami penurunan daya tahan tubuh, misalnya: diabetes millitus, malnutrisi
(kurang gizi), dan lain-lain.3

GEJALA KLINIS
Erisipelas pada umumnya diawali dengan gejala-gejala prodormal, yaitu panas,
menggigil, sakit kepala, nyeri sendi, muntah dan rasa lemah. Pada kulit nampak kemerahan,
berbatas tegas dengan bagian tepi meninggi, nyeri dan teraba panas pada area tersebut. Di
permukaan kulit adakalanya dijumpai gelembung kulit (bula) yang berisi cairan kekuningan
(seropurulen). Pada keadaan yang berat, kulit nampak melepuh dan kadang timbul erosi (kulit
mengelupas).4 Biasanya menyerang wajah, ekstremitas atas atau bawah, badan dan genitalia.
Kelenjar getah bening di sekitar daerah yang terinfeksi, sering membesar dan terasa nyeri.1

KOMPLIKASI
Bila tidak diobati atau dosis tidak adekuat, maka kuman penyebab erisipelas akan
menyebar melalui aliran limfe sehingga terjadi abses subkutan, septikemi dan infeksi ke organ
lain (nefritis). Pengobatan dini dan adekuat dapat mencegah terjadinya komplikasi supuratif dan
non supuratif. Pada bayi dan penderita usia lanjut yang lemah, serta penderita yang sementara
mendapat pengobatan dengan kortikosteroid, erisipelas dapat progresif bahkan bisa terjadi
kematian (mortalitas pada bayi bisa mencapai 50%). 6
Erisipelas cenderung rekuren pada lokasi yang sama, mungkin disebabkan oleh kelainan
imunologis, tetapi faktor predisposisi yang berperan pada serangan pertama harus
dipertimbangkan sebagai penyebab misalnya obstruksi limfatik akibat mastektomi radikal
(merupakan faktor predisposisi erisipelas rekuren).2

PENGOBATAN
Penisilin merupakan obat pilihan untuk erisipelas. Biasanya digunakan Procaine
Penicilline G 600.000-1200000 IU IM atau dengan pengobatan secara oral dengan penisilin V
500mg setiap 6 jam, selama 10-14 hari. Pada anak-anak Penisilin G prokain,untuk berat badan
<30 kg: 300,000 U/d , sedangkan >30kg: dosis seperti pada orang dewasa . Untuk Penicillin VK:
<12 years: 25-50 mg/kg/hr PO dibagi tid / qid; tidak melebihi 3 g /hr, sedangkan >12 tahun:
dosis seperti pada orang dewasa.3 Perbaikan secara umum terjadi dalam 24-48 jam tetapi
penyembuhan lesi kulit memerlukan beberapa hari. Pengobatan yang adekuat minimal selama 10
hari.2 Pada penderita yang alergi terhadap penisilin diberikan eritomisin (dewasa 250-500 gram
peroral; anak-anak: 30-50 mg/kgbb/ hari tiap 6 jam) selama 10 hari. Dapat juga digunakan
klindamisin (dewasa 300-450 mg/hr PO; anak-anak 16-20 mg/kgbb/hari setiap 6-8jam).3
Penderita dianjurkan istirahat (masuk rumah sakit) atau bed rest total dirumah. Bila lokasi
lesi pada tungkai bawah dan kaki, maka bagian yang terserang ini ditinggikan. Secara lokal,
dapat diberikan kompres terbuka yaitu kompres dingin untuk mengurangi rasa sakit. 2 Bila
terdapat vesikula atau bulla dapat dikompres dulu dengan rivanol 1%, setelah cairan mengering
dilanjutkan dengan pemberian topikal antibiotika seperti kombinasi basitrasin dan polimiksin B
atau framisetin sulfat.6

IX. PEMBAHASAN
Keluhan bengkak disertai nyeri pada tangan kanan mengarahkan adanya peradangan akut
pada jaringan subkutis, dan paling sering adalah selulitis dan erisipelas. Untuk menegakkan
diagnose antara erysipelas dan selulitis cukup sulit, karena hampir mempunyai keluhan dan
gambaran klinis yang sama. Gejala dari selulitis dan erysipelas itu sendiri mirip yaitu gejala
prodomal (demam, malaise, nyeri sendi, menggigil), daerah predileksi (ekstrimitas atas dan
bawah, wajah, badan, dan genitalia), edema. Namun perbedaannya dari batas luka pada pasien
tidak tegas dan tidak adanya penonjolan yang mana diagnosis nya lebih mengarah ke selulitis.
Faktor predisposisi untuk terjadi selulitis ini merupakan keadaan yang dapat menurunkan daya
tahan tubuh terutama bila disertai higiene yang jelek; dan pada pasien ini dicurigai memiliki
diabetes mellitus (hiperglikemi), dan malnutrisi (obesitas). Selain itu umumnya terjadi akibat
komplikasi suatu luka/ulkus atau lesi kulit yang lain, yang mana pada pasien ini mengalami
tertusuk jarum.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rositawati. Studi Retrospektif : Profil Pasien Erisipelas dan Selulitis. Departe,em Ilmu
Keseharan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Available at :
https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/2817/2036 . Diakses pada tanggal 18
Februari 2018
2. Fitzpatrick, Thomas B. Dermatology in General Medicine, Seventh Edition. New York:
McGrawHill: 2008.
3. Loretta Davis, MD, Professor. Erysipelas. Department of Internal Medicine, Division of
Dermatology, Medical College of Georgia. Available at:
http://emedicine.medscape.com /article/1052445-overview. Diakses pada tanggal 18
Februari 2018.
4. Giuseppe Micali, MD, Head, Professor. Cellulitis. Department of Dermatology,
University of Catania School of Medicine, Italy. Available at:
http://emedicine.medscape.com /article/1053686-overview. Diakses pada tanggal 18
Februari 2018.
5. Stens DL, Bisno AL, et al. Practice guidelines for the diagnosis and management of skin
and soft tissue infections. 2014 update by the Infectius Diseas Society of America.
6. Herchline TE. Cellulitis. Department of infectiois disease, Wright State University.
Available at https://emedicine.medscape.com/article/214222-overview Diakses 18
Februari 2018