Anda di halaman 1dari 25

www.petisi.co​ email : ​beritapetisi@gmail.com​ email : ​ronihalix09@gmail.com​ Hp.

082280023160
 

HASIL PENELITIAN DAN TEMUAN REALISASI PENGGUNAAN ALOKASI DANA DESA 


DI KABUPATEB BANYUASI SUM-SEL MENYIMPULKAN ADA 15 MODUS KKN DD 
 
 
Mulai Januari 2018, pemerintah menetapkan pola baru dalam 
pemanfaatan dana desa se-Indonesia. 
Alokasi dana desa bakal difokuskan ke sektor padat karya.modal padat 
karya. Model cash for work, ini 15 mudus penyala gunaan DD menurut 
hasil penelitian dan temuan tim petisi.co di lapangan Kabupaten 
Banyuasin Sum-Sel. 
Lokasi Penelitian dan Temuan Kecamatan Rantau Bayur. 
 
 
1. Membuat rancangan anggaran biaya di atas harga pasar. Ini 
bisa diantisipasi jika pengadaan dilakukan secara terbuka dan 
menggunakan potensi lokal Desa. Misalnya, pengadaan bahan 
bangunan di toko bangunan yang ada di Desa sehingga bisa 
melakukan cek bersama mengenai kepastian biaya atau 
harga-harga barang yang dibutuhkan.
 
2.Mempertanggung jawabkan pembiayaan bangunan fisik dengan 
Dana Desa padahal proyek tersebut bersumber dari sumber lain. 
Modus ini hanya bisa terlihat jika pengawas memahami alokasi 
pendanaan oleh Desa. Modus seperti ini banyak dilakukan karena 
relatif tersembunyi. Karena itulah APBDes harus terbuka agar 
seluruh warga bisa melakukan pengawasan atasnya.  
 
3. Meminjam sementara Dana Desa untuk kepentingan pribadi 
namun tidak dikembalikan. Ini juga sangat banyak terjadi, dari 
mulai kepentingan pribadi hingga untuk membayar biaya S2.  
 
4. Budaya ewuh-prakewuh di Desa menjadi salah satu 
penghambat pada kasus seperti ini sehingga sulit di antisipasi.  
 
5.Pungutan atau pemotongan DD oleh oknum pejabat Kecamatan 
atau Kabupaten. Ini juga banyak terjadi dengan beragam alasan. 
Perangkat desa tak boleh ragu untuk melaporkan kasus seperti 
ini karena Desa-lah yang paling dirugikan.  
 
6.Membuat perjalanan Dinas fiktif Kepala Desa dan jajarannya. 
Banyak kasus perjalanan untuk pelatihan dan sebagainya 
ternyata lebih ditujukan utuk pelesiran saja.  
 
7.Pengelembungan (mark up) pembayaran honorarium perangkat 
Desa. Jika modus ini lolos maka para perangkat Desa yang 
honornya digelembungkan seharusnya melaporkan kasus seperti 
ini. Soalnya jika tidak, itu sama saja mereka dianggap mencicipi 
uang haram itu.  
 
8. Pengelembungan (mark up) pembayaran alat tulis kantor. Ini 
bia dilihat secara fisik tetapi harus pula paham apa saja alokasi 
yang telah disusun.  
 
9. Memungut pajak atau retribusi Desa namun hasil pungutan 
tidak disetorkan ke kas Desa atau kantor pajak.Pengawas harus 
memahami alur Dana menyangkut pendapatan dari sektor pajak 
ini Misalnya beberapa sungai penghasil ikan Danau terminal,dan 
Pelabuhan secara prosedur ada yang di Lelang namun uang nya 
untuk Pribadi. 
 
10.Pembelian inventaris kantor dengan Dana Desa namun 
peruntukkan secara pribadi. Lagi-lagi ewuh prakewuh menjadi 
salah satu penghambat kasus seperti ini sehingga seringkali 
terjadi pembiaran.  
 
11. Pemangkasan anggaran publik kemudian dialokasikan untuk 
kepentingan perangkat Desa. Publik harus tahu alokasi 
pendanaan Dana Desa agar kasus ini tidak perlu terjadi .  
 
12. Melakukan permainan (kongkalingkong) dalam proyek yang 
didanai Dana Desa. Bisa ditelusuri sejak dilakukannya 
Musyawarah Desa dan aturan mengenai larangan menggunakan 
jasa kontraktor dari luar.Membuat kegiatan atau proyek fiktif 
yang dananya dibebankan dari Dana Desa. 
 
13. Tida berjalannya struktur Pemerintahan desa di monopoli oleh 
oknum Kepala Desa sehingga semuanya di akal-akali oleh Kepala 
Desa Baik dana,pembagunan maupun segala urusan yang bersipat 
menguntungkan makadari itu mempermuda Sang Kepala Desa 
untuk melakukan kejahatan yang bersipat merugikan masyarakat 
desa, sala satu contoh menunjuk Pegawai Perangkat Desa Orang2 
keluarga dekatnya (Sekdes Keponakan Kepala Desa) 
 
14. Tidak dibayarnya atau di keluarkannya dana Pemberdayaan 
Perangkat dan Lembaga Desa Oleh Kepala Desa seperti dana 
Kamtipmas,PKK,Tokoh Agama,Sarana umum dll 
 
15. MoU atau kontrak kerja Kepala Desa dan oknum Penegak 
Hukum (Kecamatan,DPMD,Inspektorat,Kejaksaan dan Kepolisian) 
atau Instansi yang terkait dengan tujuan mempaselitasi hukum 
membantu merekayasah laporan (SPJ) Cara kotor. 
 
Kepada Yth​ ​:​ Dari 15 mudus di atas ini merupakan hasil 
penelitian dan temuan tim di lapangan ini la yang terjadi di 
Kabupaten Banyuasin Sum-Sel.
Tempat Penelitian : Kecamatan Rantau Bayur. 
Anda termasuk nomor berapa dan berapa banyak muda-mudahan 
saudar/saudari tidak termasuk dari 15 mudus kejahatan KKN 
Dana Desa (DD) yang Sumber dananya dari APBN Ini. 
 
Andai Saudara/Saudari Termasuk diantara 15 mudus 
penyelewengan dd tersebut, baik di sengaja maupum tidak 
sengaja.
Kami dari media Petisi.co Siap mempaselitasi saudara/saudari 
untuk duduk di adili” jadi jangan salah kan kami seandainya itu 
terjadi 
dari 15 Poin itu yang suda pasti Saudara/Saudari lakukan dan itu 
terjadi di setiap desa iaitu : Poin ke 11 karna kami ada di dalam 
itu Ini merupakan pemberitahuan kami dari petisi.co. 
 
Untuk Instansi yang terkait hendaknya bisa menyikapi temuan temuan 
tersebut bertujuan Perbaikan kinerja dan mental para pelanggar 
pelanggar hukum siapa pun dia tetapla ia penghianat suatu konspirasi 
dengan kondisi Negarah dan Bangsah seperti ini harusnya kita sesama 
anak bangsah bahu membahu Gotong Royong untuk menyelsaikan masala 
bangsah Indonesia yang kita Cintai ini. 
 
 
Salam Nawacita​.
 
 
​MEDIA PETISI.CO BIRO SUM-SEL
 
 
 
   
RONI PASLAH 
 
 
 
 
Nama Roni Paslah 
Kepala Biro media Petisi.co Sum-Sel 
Alokasi Dana Desa  
07 Juni 2018 
 
 

PEMANTAUAN PENGGUNAAN DD 


 
Dalam rangka pengelolaan keuangan desa, Kepala Desa 
melimpahkan sebagian kewenangan kepada perangkat Desa 
yang ditunjuk. 
  
Perbuatan penyalahgunaan keuangan desa seperti 
penyalahgunaan Alokasi Dana Desa merupakan perbuatan 
yang dilarang dilakukan oleh perangkat desa. Apabila 
dilakukan, maka yang bersangkutan dikenai sanksi 
administratif berupa teguran lisan dan/atau teguran tertulis. 
Dalam hal sanksi administratif tidak dilaksanakan, dilakukan 
tindakan pemberhentian sementara dan dapat dilanjutkan 
dengan pemberhentian. 
  
Selain itu, perbuatan tersebut juga merupakan tindak pidana 
korupsi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (“ 
UU 31/1999”) sebagaimana diubah oleh Undang-Undang 
Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas 
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang 
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dimana ada ancaman 
pidana bagi orang yang menyalahgunakan wewenangnya yang 
berakibat dapat merugikan keuangan negara. 
  
Masyarakat dapat membuat pelaporan atau pengaduan 
kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat serta 
kepada Pemerintah Supra Desa (Kecamatan), mengenai obyek 
kegiatan serta perkiraan nilai kerugian yang diselewengkan. 
Dalam pelaporan ataupun pengaduan tersebut, perlu disertai 
dengan penjelasan konkrit mengenai obyek kegiatan yang 
menjadi dugaan tindak penyelewengan. 
  
Dalam hal tidak ada tindak lanjut dari kedua lembaga 
dimaksud atas pelaporan yang telah dilakukan, maka 
masyarakat dapat menyampaikan dugaan penyelewengan 
dana desa kepada Pemerintah Kabupaten, dalam hal ini 
Bupati cq. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD/OPD) yang 
membidangi pembinaan penyelenggaraan pemerintahan desa, 
serta Inspektorat Daerah Kabupaten. 
 
  
  
Jika memang masyarakat mempunyai bukti yang kuat dan 
dapat dipertanggungjawabkan di muka hukum atas dugaan 
penyelewengan dana desa (korupsi) dimaksud, maka 
masyarakat berhak melaporkan oknum tersebut kepada pihak 
aparat penegak hukum atas proses tindak lanjut. 
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di 
bawah ini. 
  
Ulasan: 
Hasil Penelitian Realisasi penggunaan Dana Desa Pada saat 
ini Penelitian di lakukan di Kecamatan Rantau Bayur 
Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan.
Disimpulkan dari hasil penelitian dan temuan ada 15 modus 
kejahatan KKN yang dilakukan Banyak Kepala Desa Di 
Kabupaten Banyuasin Sum-Sel. 
 
Sebelumnya, berdasarkan keterangan yang Dihimpun Tim 
impestigasi media petisi.co di lapangan tentang rencana 
masyarakat untuk mengambil upaya hukum, kami asumsikan 
penyalahgunaan Alokasi Dana Desa (“ADD”) yakni ADD tidak 
sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang Anda 
maksud adalah adanya dana desa yang diselewengkan oleh 
perangkat desa, sehingga perangkat desa tersebut diduga 
menyalahgunakan wewenang atau diduga melakukan korupsi 
atas tugasnya dalam mengelola keuangan desa. 
  
Untuk menjawab pertanyaan Anda, kami akan berpedoman 
pada Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa (“UU 
Desa”). Namun ketentuan lebih lanjut secara khusus terdapat 
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang 
Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Negara (“PP 60/2014”) sebagaimana yang telah 
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2015 
tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 
Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari 
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (“PP 22/2015”) 
dan terakhir diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 
Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan 
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang 
Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 
(“PP 8/2016”). 
  
Keuangan Desa 
Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban Desa yang 
dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang 
dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan 
kewajiban Desa.[1] Hak dan kewajiban menimbulkan 
pendapatan, belanja, pembiayaan, dan pengelolaan Keuangan 
Desa.[2] 
  
Pendapatan Desa bersumber dari:[3] 
a. pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, 
swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain 
pendapatan asli Desa; 
b. alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; 
c. bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah 
Kabupaten/Kota; 
d. alokasi dana Desa yang merupakan bagian dari dana 
perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota; 
e. bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja 
Daerah Provinsi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja 
Daerah Kabupaten/Kota; 
f. hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak 
ketiga; dan 
g. lain-lain pendapatan Desa yang sah. 
  
Alokasi Dana Desa 
Menurut Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah Nomor 47 
Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah 
Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan 
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (“PP 
47/2015”) yang dimaksud dengan Alokasi Dana Desa (“ADD”) 
adalah dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota 
dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 
kabupaten/kota setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus. 
  
Pemerintah daerah kabupaten/kota mengalokasikan dalam 
anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota 
ADD setiap tahun anggaran.[4] 
  
ADD tersebut paling sedikit 10% dari dana perimbangan yang 
diterima Kabupaten/Kota dalam Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Daerah setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus.[5] 
Dalam rangka pengelolaan Keuangan Desa, Kepala Desa 
melimpahkan sebagian kewenangan kepada perangkat Desa 
yang ditunjuk.[6] 
  
Bagi Kabupaten/Kota yang tidak memberikan ADD 
Pemerintah dapat melakukan penundaan dan/atau 
pemotongan sebesar alokasi dana perimbangan setelah 
dikurangi Dana Alokasi Khusus yang seharusnya disalurkan ke 
Desa.[7]  
  
ADD dibagi kepada setiap Desa dengan 
mempertimbangkan:[8] 
a. kebutuhan penghasilan tetap kepala Desa dan perangkat 
Desa; dan 
b. jumlah penduduk Desa, angka kemiskinan Desa, luas 
wilayah Desa, dan tingkat kesulitan geografis Desa. 
  
Ketentuan mengenai pengalokasian ADD dan pembagian ADD 
kepada setiap Desa ditetapkan dengan peraturan 
bupati/walikota.[9] 
  
Penjelasan lebih lanjut mengenai dana desa dapat Anda simak 
dalam artikel Pengalokasian, Penyaluran, dan Pengawasan 
Dana Desa.   
  
Jadi salah satu sumber pendapatan desa adalah ADD yang 
merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima 
Kabupaten/Kota. ADD tersebut paling sedikit 10% (sepuluh 
perseratus) dari dana perimbangan yang diterima 
Kabupaten/Kota dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja 
Daerah setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus. Dalam rangka 
pengelolaan Keuangan Desa, Kepala Desa melimpahkan 
sebagian kewenangan kepada perangkat Desa yang ditunjuk. 
  
Jika Perangkat Desa Menyalahgunakan ADD 
Perangkat Desa terdiri atas:[10] 
a. sekretariat Desa; 
b. pelaksana kewilayahan; dan 
c. pelaksana teknis. 
  
Perangkat Desa bertugas membantu Kepala Desa dalam 
melaksanakan tugas dan wewenangnya.[11] Dalam 
melaksanakan tugas dan wewenangnya, perangkat Desa 
bertanggung jawab kepada Kepala Desa.[12] 
  
Perangkat Desa dilarang:[13] 
1. merugikan kepentingan umum; 
2. membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri, 
anggota keluarga, pihak lain, dan/atau golongan tertentu; 
3. menyalahgunakan wewenang, tugas, hak, dan/atau 
kewajibannya; 
4. melakukan tindakan diskriminatif terhadap warga 
dan/atau golongan masyarakat tertentu; 
5. melakukan tindakan meresahkan sekelompok masyarakat 
Desa; 
6. melakukan kolusi, korupsi, dan nepotisme, menerima 
uang, barang, dan/atau jasa dari pihak lain yang dapat 
memengaruhi keputusan atau tindakan yang akan 
dilakukannya; 
7. menjadi pengurus partai politik; 
8. menjadi anggota dan/atau pengurus organisasi terlarang; 
9. merangkap jabatan sebagai ketua dan/atau anggota Badan 
Permusyawaratan Desa, anggota Dewan Perwakilan Rakyat 
Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah Republik 
Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi atau 
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, dan 
jabatan lain yang ditentukan dalam peraturan 
perundangan-undangan; 
10. ikut serta dan/atau terlibat dalam kampanye pemilihan 
umum dan/atau pemilihan kepala daerah; 
11. melanggar sumpah/janji jabatan; dan 
12. meninggalkan tugas selama 60 (enam puluh) hari kerja 
berturut-turut tanpa alasan yang jelas dan tidak dapat 
dipertanggungjawabkan. 
  
Perangkat Desa yang melanggar larangan tersebut dikenai 
sanksi administratif berupa teguran lisan dan/atau teguran 
tertulis.[14] Dalam hal sanksi administratif tidak 
dilaksanakan, dilakukan tindakan pemberhentian sementara 
dan dapat dilanjutkan dengan pemberhentian.[15] 
  
Jadi, pada hakikatnya, dalam menjalankan tugasnya, 
perangkat desa dilarang untuk menyalahgunakan 
wewenangnya. Bagi yang melanggarnya, perangkat desa yang 
bersangkutan bisa dikenakan sanksi administratif. 
  
Selain itu, perbuatan tersebut dapat juga dikategorikan 
sebagai tindak pidana korupsi. Untuk itu, kita merujuk pada 
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang 
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (“ UU 31/1999”) 
sebagaimana diubah oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 
2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, 
dimana ada ancaman pidana bagi orang yang 
menyalahgunakan wewenangnya yang berakibat dapat 
merugikan keuangan negara. 
  
Pasal 3 UU 31/1999, berbunyi: 
  
Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri 
atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan 
kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya 
karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan 
keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan 
pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling 
singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 tahun dan atau 
denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp1 milyar. 
  
Hal serupa juga disebutkan dalam artikel Jokowi: Salah Kelola 
Dana Desa Bisa Jadi Tersangka Korupsi sebagaimana yang 
kami akses dari laman media Tempo, Presiden Joko Widodo 
mengingatkan para kepala desa agar menggunakan dana desa 
dengan baik karena bisa berujung menjadi tersangka korupsi. 
Dana desa tersebut harus digunakan untuk pembangunan 
desa. 
  
Jadi, jika itu berkaitan dengan penyalahgunaan keuangan desa 
seperti penyalahgunaan ADD, maka perbuatan tersebut bisa 
dikategorikan korupsi. 
  
Langkah Hukum yang Dapat Dilakukan Masyarakat 
Sebagaimana menurut informasi yang kami akses dalam 
artikel Bagaimana Cara Melaporkan Perangkat Desa 
Menyelewengkan Dana Desa-Lapor yang kami akses dari 
laman Sarana Pengaduan dan Aspirasi (SaPa) Kementerian 
Dalam Negeri, dalam melaporkan adanya tindak dugaan 
penyelewangan dana desa, masyarakat dapat mengambil 
langkah-langkah sebagai berikut: 
a. Masyarakat dapat membuat pelaporan atau pengaduan 
kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat serta 
kepada Pemerintah Supra Desa (Kecamatan), mengenai obyek 
kegiatan serta perkiraan nilai kerugian yang diselewengkan. 
b. Dalam pelaporan ataupun pengaduan tersebut, perlu 
disertai dengan penjelasan konkrit mengenai obyek kegiatan 
yang menjadi dugaan tindak penyelewengan. Hal ini untuk 
menghindari persepsi bahwa laporan yang dilakukan hanya 
didasarkan atas informasi yang tidak utuh, atau 
praduga-praduga yang tidak berdasar. Oleh karena itu, 
disarankan kepada masyarakat desa, dalam menjalankan 
fungsi pengawasan pembangunan diwilayahnya, kiranya perlu 
mengedepankan upaya-upaya dialogis, dengan meminta 
penjelasan/konfirmasi mengenai indikasi terjadinya korupsi 
kepada pihak yang dicurigai terlibat melakukan tindakan 
penyelewangan tersebut. 
c. Dalam hal tidak ada tindak lanjut dari kedua lembaga 
dimaksud atas pelaporan yang telah dilakukan, maka 
masyarakat dapat menyampaikan dugaan penyelewengan 
dana desa kepada Pemerintah Kabupaten, dalam hal ini 
Bupati cq. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang 
membidangi pembinaan penyelenggaraan pemerintahan desa, 
serta Inspektorat Daerah Kabupaten, atau jika memang 
masyarakat mempunyai bukti yang kuat dan dapat 
dipertanggungjawabkan di muka hukum atas dugaan 
penyelewengan dana desa (korupsi) dimaksud, maka 
masyarakat berhak melaporkan oknum tersebut kepada pihak 
aparat penegak hukum atas proses tindak lanjut. 
d. Pemerintah menaruh perhatian penuh terhadap 
praktik-praktik tindakan korupsi maupun pungli, karena hal 
itu berdampak pada kerusakan nilai-nilai sosial dan 
kepercayaan publik pada pemerintah. Oleh karenanya, agar 
setiap tindakan atau indikasi korupsi dapat ditangani dengan 
optimal, masyarakat dapat membantu dengan memberikan 
informasi serta dukungan bukti-bukti yang memadai 
terjadinya tindakan korupsi dimaksud. 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum: 
1. Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa;  
2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang 
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang 
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; 
3. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang 
Peraturan Pelaksanaan Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 
tentang Desa sebagaimana yang telah diubah dengan 
Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang 
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 
tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 
Tahun 2014 tentang Desa; 
4. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana 
Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja 
Negara sebagaimana yang diubah terakhir dengan Peraturan 
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua 
atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang 
Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Negara. 
  
Referensi: 
1.https://nasional.tempo.co/read/news/2017/05/18/0788764
62/jokowi-salah-kelola-dana-desa-bisa-jadi-tersangka-korups
i, diakses pada 17 Juli 2017 pukul 16.30 WIB. 
2. http://sapa.kemendagri.go.id/aspirasi/20160001089, 
diakses pada 17 Juli 2017 pukul 16.35 WIB. 
  
 
[1] Pasal 1 angka 10 jo. Pasal 71 ayat (1) UU Desa 
[2] Pasal 71 ayat (2) UU Desa 
[3] Pasal 72 ayat (1) UU Desa 
[4] Pasal 96 ayat (1) PP 47/2015 
[5] Pasal 72 ayat (4) UU Desa jo. Pasal 96 ayat (2) PP 
47/2015 
[6] Pasal 72 ayat (5) UU Desa 
[7] Pasal 72 ayat (6) UU Desa 
[8] Pasal 96 ayat (3) PP 47/2015 
[9] Pasal 96 ayat (4) PP 47/2015 
[10] Pasal 48 UU Desa 
[11] Pasal 49 ayat (1) UU Desa 
[12] Pasal 49 ayat (3) UU Desa 
[13] Pasal 51 UU Desa 
[14] Pasal 52 ayat (1) UU Desa 
[15] Pasal 52 ayat (2) UU  
 
 
Dana Transer Pusat Kabupaten Banyuasin TA 2018. 
(​dalam ribuan rupia) 
1. PPH Rp 12.587.521 
2. PBB Rp62.635.375 
3. CHT Rp 0 
4. MIGAS Rp68.763.279 
5. MINERBA Rp30.023.569 
6. KEHUTANAN Rp1.146.197 
7. PERIKANAN Rp943.027 
8. PANAS BUMI Rp 19.148 
9. TOTAL DANA BAGI HASIL TA 2018 Rp 176.118.116. 
10. DANA ALOKASI UMUM TA 2018 Rp 933.631.693. 
11. BANTUAN  
OPERASIONAL  
PENYELENGGARAAN  
PENDIDIKAN USIA DINI Rp 8.517.600. 
12. TUNJANGAN  
PROFESI GURU 
Rp 138.630.923 
13. TAMBAHAN  
PENGHASILAN  
GURU Rp 3.279.000 
14. TUNJANGAN  
KHUSUS GURU RP 6.106.225 
15. BANTUAN  
OPERASIONAL  
KESEHATAN  
16. Rp 29.244.650 
17. BANTUAN  
OPERASIONAL  
KELUARGA  
BERENCANA Rp 5.659.740 
18. DANA PENINGKATAN  
KAPASITAS  
KOPERASI DAN  
UKM Rp 5.659.740 
19. DANA  
PELAYANAN  
ADMINISTRASI  
KEPENDUDUKAN Rp 0 
20. DANA  
PELAYANAN  
ADMINISTRASI  
KEPENDUDUKAN  
21. Rp 1.858.123 
22. TOTAL DAK  
NON FISIK T.A.  
2018 Rp 193.296.261 
23. DANA  
INSENTIF  
DAERAH TA  
2018 Rp 35.750.000 
24. DANA DESA TA 2018 Rp254.673.532. 
 
 
 
SALAM NAWACITA SETIA MEMBANGUN NEGERI 
DOKUMEN MEDIA PETISI.CO BIRO SUMATERA SELATAN