Anda di halaman 1dari 8

1. Kebudayaan merupakan sebuah sistem.

Melalui kasus di Mentawai,


uraikan argumentasi anda dengan mengaitkannya dengan dunia
kedokteran (300 kata)

Kebudayaan merupakan suatu hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam proses
kehidupannya yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Kebudayaan
sendiri terdiri atas unsur-unsur yang secara teratur saling berkaitan satu sama lain
sehingga membentuk totalitas dalam mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu
kebudayaan merupakan sebuah sistem.
Masyarakat Mentawai memiliki salah satu kebudayaan yang telah diwariskan
selama beribu-ribu tahun, yaitu mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok.
Perubahan konsumsi masyarakat Mentawai dari sagu ke beras sebenarnya sudah
mulai dicanangkan sejak tahun 1920-an melalui misionaris yang berpendapat bahwa
bercocok tanam padi merupakan simbol kemajuan dan pembangunan. Selain itu
adanya kampanye mengenai swasembada beras dan program pengentasan kemiskinan
dengan indikator mengonsumsi beras, semakin membuat masyarakat Mentawai
perlahan-lahan mengubah kebudayaan mengonsumsi sagu menjadi mengonsumsi
beras.
Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan pola konsumsi masyarakat
Mentawai dari sagu menjadi beras ini menuai banyak permasalahan. Salah satu yang
terbesar adalah bahwa semenjak masyarakat Mentawai mengonsumsi beras, banyak
penyakit yang terjadi pada mereka. Penyakit yang terjadi salah satunya adalah
diabetes melitus. Terjadinya penyakit tersebut setelah ditinjau ulang ternyata memang
berkaitan dengan konsumsi beras yang mulai dilaksanakan masyarakat Mentawai.
Bahwa terdapat kandungan sagu dan beras dimana kandungan beras lebih banyak
meningkatkan resiko penyakit tersebut. Ditambah pula dengan adanya gen tubuh
manusia yang rentan terhadap penyakit diabetes melitus. Permasalahan lainnya adalah
tidak seimbangnya kebutuhan masyatakat Mentawai akan beras dengan pasokan atau
ketersediaan beras yang ada sehingga terjadi defisit. Hal ini dilatarbelakangi kondisi
ekologi daerah tersebut, dimana sagu lebih mudah tumbuh di mana saja dibandingan
dengan beras yang harus tumbuh di lahan tertentu dengan perawatan dan peralatan
yang lainnya serta jam kerja yang lebih banyak dibutuhkan. Tak heran jika beras yang
tersedia lebih sedikit dari permintaan atau kebutuhan masyarakat Mentawai sendiri.
Suatu kebijakan sebaiknya dibuat berdasarkan tinjauan dari berbagai macam
aspek agar nantinya kebijakan tersebut berhasil dan tidak berdampak negatif pada
target. Hal inilah yang belum sesuai dengan pemerintah, dimana pemerintah kurang
meninjau kebijakan atas pengubahan pola konsumsi masyarakat Mentawai dari sagu
ke beras sehingga dampak negatif berupa meningkatnya penyakit metabolik tidak
terbantahkan. Hal ini sedikit menyinggung mengenai pelanggaran HAM, dimana
pemerintah melakukan kebijakan yang masih merugikan masyarakat, dimana
kehadiran pemerintah adalah untuk menyejahterakan rakyatnya. Untuk itu komunikasi
dan sosialisasi dari pemerintah mengenai pola konsumsi beras kepada masyarakat
Mentawai sangat diperlukan agar mereka dapat mengonsumsi beras dengan layak
diimbangi dengan konsumsi sagu yang sudah menjadi budaya mereka sebelumnya.

2. Perspektif emik membantu tenaga kesehatan memahami latar belakang


budaya pasien dalam rangka menegakkan diagnosis. Dengan
menggunakan kasus di mentawai, maka contohkan manfaat perspektif
emik dalam melakukan pendidikan kesehatan kepada masyarakat
Mentawai (250 Kata)

Dalam menegakkan suatu diagnosis, dokter perlu memahami pasien secara


holistik dengan menggunakan dua pandangan yaitu perspektif etik dan emik. Jika
hanya dilihat dari perspektif etik, masyarakat belum tentu 100% menerima segala
yang diberikan oleh dokter. Untuk itu lah perspektif emik diperlukan, yakni untuk
membantu dokter dalam memahami pasien secara holistik khususnya dalam hal latar
belakang sosial-budaya pasien yang sangat berkaitan dengan penyakit pasien.
Perubahan pola konsumsi dari sagu ke beras merupakan latar belakang terjadinya
penyakit diabetes melitus, kanker, dan hipertensi pada masyarakat Mentawai. Hal ini
yang menjadi perhatian dokter dalam hal mengoreksi kesehatan melalui edukasi dan
sosialisasi pola makan dan gaya hidup masyarakat Mentawai.
Dengan menggunakan perspektif emik tersebut, dokter dapat memberi edukasi
kepada masyarakat Mentawai terkait fakta yang mengatakan bahwa konsumsi beras
berlebihan membuat kadar glikemik darah meningkat karena kandungan gula pada
beras yang lebih tinggi dari sagu. Selain itu ditambahkan materi mengenai perubahan
pola makan kurang serat, minimnya olahraga, serta gaya hidup yang cenderung tidak
sehat yang dapat menambah potensi kerentanan penyakit metabolik. Selain itu perlu
disampaikan pula bahwa sagu masih bisa dikonsumsi sebagai pengganti maupun
penyeimbang beras, mengingat lingkungan sekitar yang mendukung tumbuhnya sagu.
Penyampaian semua materi tersebut dapat dilakukan dengan penyuluhan,
menggunakan media seperti poster, serta melalui pendidikan di sekolah. Namun,
semua hal ini juga tidak terlaksana dengan baik, tanpa adanya dukungan dan kerjasam
dari pemerintah. Pemerintah juga dapat mengambil peran dalam pengelolaan lahan,
pekerja, dan sumber daya lain.
Atas dasar semua ini lah perspektif emik memiliki peran yang cukup penting
dalam melakukan edukasi kepada masyarakat Mentawai.

3. Analisis Konflik (Pohon)

Keterangan :
1 = Pokok permasalahan
 Perubahan pola konsumsi masyarakat Mentawai dari sagu menjadi nasi yang
mengakibatkan masalah kesehatan.
2 = Penyebab pokok permasalahan
 Kebudayaan masyarakat Mentawai yang bersifat kuat
 Pemerintah kurang pendekatan dengan suku Mentawai
 Kurangnya pengetahuan masyarakat Mentawai terhadap kesehatan
 Kebijakan pemerintah menjadikan nasi sebagai makanan pokok
 Perubahan gaya hidup suku Mentawai
3 = Pihak yang diuntungkan
 Negara
 Industri pertanian
 Perusahaan farmasi
4 = Akibat yang ditimbulkan dari permasalahan
 Meningkatnya penyakit diabetes, hipertensi, dan kanker
 Masyarakat Mentawai makan nasi yang berlebih
 Pandangan masyarakat Mentawai bahwa mereka miskin
 Stok beras yang terbatas
5 = Pihak yang meneliti
 Mahasiswa Kedokteran
 Dinas Kesehatan
 Pengamat budaya
DAFTAR PUSTAKA :

Sulistyowati, Lily. 2011. Promosi Kesehatan Di Daerah Bermasalah Kesehatan:


Panduan bagi Petugas Kesehatan di Puskesmas. Jakarta : Kemenkes RI

Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press

Schefold, R .1991. Mainan Bagi Roh: Kebudayaan Mentawai. Jakarta: Balai Pustaka.

Artikel :
(Sabtu, 28 Mei 2016) Wajah Asli Mentawai Kian Punah, Sagu dan Talas Pun Makin
Dilupakan ; http://www.gosumbar.com/artikel/serbaserbi/2016/05/28/wajah-asli-
mentawai-kian-punah-sagu-dan-talas-pun-makin-dilupakan#sthash.wcU9lG1q.dpbs .
Diakses pada tanggal 20 September 2016, pukul 23.15 WIB.
TUGAS AKHIR
BLOK 25: ILMU BUDAYA DASAR

Disusun oleh:

Bontor Daniel Sinaga


41130064

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2016
KOMPAS, Senin, 30 MEI 2016
“Dari Sagu ke Sega dan Konsekuensinya: Kasus Masyarakat Mentawai”

Masyarakat Mentawai yang secara tradisional mengonsumsi sagu dan taro


(Keladi), perlahan tapi pasti kini beralih ke nasi atau dalam Bahasa Jawa, sega.
Perubahan itu mulai berdampak buruk pada kesehatan masyarakat Mentawai,
kerusakan ekologi, dan ketahanan pangan.
Penelitian oleh Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Riset, Teknologi, dan
Pendidikan Tinggi di 6 (enam) wilayah di Kepulauan Mentawai pada pertengahan
Mei 2016 menyimpulkan bahwa perubahan pola konsumsi memunculkan banyak
penyakit baru. Misalnya, hipertensi yang termasuk 10 besar penyakit terbanyak
diderita masyarakat Mentawai sejak tahun 2015, bahkan sejak tahun 2015, mulai
terdeteksi adanya penyakit kanker yang diderita oleh warga asli Mentawai, kata
Kepala Dinas Kesehatan mentawai, Lahmuddin. Safarina Malik, peneliti dari
Lembaga Eijkman mengatakan penyakit-penyakit noninfeksi itu dipengaruhi
perubahan gaya hidup, terutama perubahan pola makan. Penyakit yang terkait gaya
hidup itu meliputi Diabetes Melitus, hipertensi, penyakit jantung, dan kanker.
Menurut riset antropolog dari Universites Leiden, Gerard Persoon (1992),
upaya mengubah pola makan masyarakat tradisional Mentawai ke beras sudah
berlangsung sejak lama. Pada tahun 1920-an, misionaris Jerman Borger, telah
mengajak masyarakat Siberut menanam padi dengan alasan sagu menjadi simbol
kemalasan dan kemandegan. Ia mengampanyekan bercocok tanam padi sebagai
simbol kemajuan dan pembangunan. Setelah Indonesia merdeka, kampanye
penanaman lebih masif. Pemerintah setempat mewajibkan setiap pemuda yang akan
menikah agar menanam padi terlebih dahulu. Pada tahun 1970-an, pemerintah
mencanangkan program “pengentasan warga pedalaman dari kemiskinan” dengan
memaksa warga Metawai pindah ke pesisir. Konsumsi beras menjadi indikator sukses
tidaknya program ini. Banyak orang mengonsumsi beras agar tidak dicap terbelakang
atau miskin. Perlahan, beras menjadi makanan pokok masyarakat Mentawai yang
selama ribuan tahun mengonsumsi sagu, taro, dan pisang.
Riset yang dilakukan oleh Platt (1977) ditemukan bahwa dalam 100 gram sagu
di Siberut mengandung protein 0,5 gram dan karbohidrat 88 gram dan tanpa lemak.
Beras memiliki protein dan lemak lebih tingi dari pada sagu dan ini yang kerap
diunggulkan dari beras. Akan tetapi, defisit protein dan lemak dari sagu, secara
tradisional ditutupi oleh keberlimpahan protein di Mentawai dari ikan dan hewan
buruan. Selain itu, di masa lalu masyarakat Mentawai mengonsumsi tamra, larva
kumbang dari batang sagu yang dibiarkan membusuk. Tamra amat kaya protein.
Selain perbedaan kandungan lemak dan protein, sagu dan beras amat berbeda indeks
glikemiknya. Indeks itu mengukur seberapa cepat glukosa dilepaskan di aliran darah
setelah makan. Makanan dengan indeks glikemik rendah membuat orang serasa
kenyang lebih lama dan menjaga kadar gula darah lebih stabil. Indeks glikemik nasi
di atas 70 %, sedangkan sagu 20%, dan talas 50%, menurut Safarina. Jadi,
mengonsumsi sagu atau keladi secara tradisional oleh warga Mentawai membantu
mencegah potensi terkena diabetes. Sebaliknya, perubahan ke nasi meningkatkan
risiko diabetes, padahal secara genetis masyarakat Indonesia membawa gen yang
rentan penyakit itu, sehingga perubahan pola makan ke beras menambah
kerentanannya. Deputi Direktur Eijkman yang juga ahli genetika, Herawati Sudoyo
Supolo mengatakan, warga Indonesia rata-rata memiliki kadar basa T16189C di
struktur DNA mitokondrianna di atas 30-40 persen, dengan wilayah Nias yang kadar
basa T16189C -nya 60% atau yang tertinggi.
Perubahan pola makan ini juga memicu perubahan ekologi di Mentawai.
Tanaman sagu (Metroxylon Sagu) ialah tanaman asli Mentawai, bahkan Indonesia
terutama kawasan Timur seperti Papua dan Maluku. Berbeda dengan sagu yang dapat
tumbuh di rawa-rawa atau hutan tanpa dirawat, padi memerlukan lahan terbuka dan
dirawat secara intensif. Selain harus membuka lahan, padi membutuhkan irigasi,
pupuk, obat-obatan, dan jam kerja empat kali lebih banyak untuk produksinya. Lebih
jauh lagi, satu jam kerja orang Mentawai menghasilkan 2,6 Kg sagu. Dalam kurun
waktu yang sama, dihasilkan 0,6 kg beras (Persoon, 1992). Meski terjadi pembukaan
sawah baru di Mentawai, namun kepulauan itu bergantung pada pasokan dari luar.
Sebagai contoh, tahun 2013, kebutuhan konsumsi beras di Mentawai adalah 5100 ton
namun beras yang dihasilkan 3513 ton, Jadi, terjadi defisit 1587 ton. Perubahan pola
konsumsi itu terkait kebijakan pangan nasional yang bias beras, padahal dari aspek
kesehatan, ekologi, kebudayaan, dan ketahanan pangan, penyeragaman pangan
dengan mengonsumsi beras, sarat masalah.