Anda di halaman 1dari 8

Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah VIII

Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN ISSN 1410-6086


Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-RISTEK

STRATEGI PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DI INDONESIA


DITINJAU DARI KONSEP CRADLE TO GRAVE

Mokhamad Alfiyan, Yus Rusdian Akhmad*)

ABSTRAK
STRATEGI PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DI INDONESIA DITINJAU
DARI KONSEP CRADLE TO GRAVE. Pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia terutama di
bidang Industri, kesehatan, dan penelitian telah memberikan kontribusi terhadap timbulan limbah
radioaktif di Indonesia. Pengelolaan limbah radioaktif diatur secara terpisah dari pengelolaan
limbah B3 atau limbah lainnya, akan tetapi konsep pengelolaan limbah B3 dengan Cradle to
Grave yaitu pengawasan terhadap limbah sejak ditimbulkan sampai dengan dikubur dapat
dipraktekkan dalam pengelolaan limbah radioaktif. Metode penyusunan makalah ini melalui studi
literatur, dengan tahapan inventarisasi literatur, pemahaman literatur dan analisis terhadap
literatur. Implementasi konsep Cradle to Grave dilakukan melalui pengawasan terhadap dokumen
pengiriman limbah radioaktif yang dibuat rangkap 6, penghasil limbah radioaktif menyimpan
lembar ke-6 dan menyerahkan lembar ke-5 ke Badan Pengawas serta memberikan lembar ke 1, 2,
3, dan 4 ke pengangkut, pengangkut menyimpan lembar ke 4 dan menyerahkan lembar ke 1,2, dan
3 ke pengola/penyimpan limbah radioaktif/negara asal sumber radioaktif, pengelola limbah
radioaktif/negara asal sumber radioaktif mengirimkan lembar ke 1 ke penghasil limbah radioaktif,
lembar ke 2 ke Badan Pengawas Tenaga Nuklir dan menyimpan lembar ke 3. Dengan pendekatan
Cradle to Grave maka perjalanan dan tanggungjawab terhadap limbah radioaktif dapat tertelusur
sehingga kegiatan pengelolaan limbah radioaktif memberikan jaminan terhadap lingkungan
hidup. Keberhasilan pelaksanaan konsep Cradle to Grave sangat ditentukan oleh pihak-pihak
yang berkepentingan untuk dapat mentaati semua ketentuan selama pengelolaan limbah
radioaktif.
Kata kunci: limbah radioaktif, cradle to grave, dokumen

ABSTRACT
STRATEGY OF RADIOACTIVE WASTE MANAGEMENT IN INDONESIA;
CRADLE TO GRAVE CONCEPT. The use of nuclear energy especially in industry, medicine,
and research has given contribution to radioactive waste generation in Indonesia. Radioactive
waste management should be regulated separately from hazardous waste management or other
wastes. However, hazardous waste management concept stated by cradle to grave is monitoring to
waste since generation until disposal. The concept can be applied for radioactive waste. Methode
of this paper throught literature study, literature understanding and analysis. The cradle to grave
concept can be appied by monitoring to radioactive waste transportation document. Amount of the
document is six copies, generator save the 6th copy and give the 5th copy to regulatory body and
the rest to transporter and waste organizer or origin country of radioactive source. Radioactive
waste organizer or origin country of radioactive source send the 1st copy to generator, the 2nd to
regulatory body and save the 3rd copy. The approach of cradle to grave concept provides
information regarding the responsible parties and the transportation process of radioactive waste
in order to ensure the environment quality. The success of cradle to grave concept implementation
depends on stakeholders compliance to all regulations during radioactive waste management.
Key Words: Radioactive Waste, Cradle to Grave, Document

*) P2STPFRZR - BAPETEN 29
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah VIII
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN ISSN 1410-6086
Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-RISTEK

PENDAHULUAN
Pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia perizinan yang diberikan oleh BAPETEN
di bidang industri, kesehatan dan penelitian juga memperhatikan Undang-Undang No. 32
semakin berkembang sejalan dengan Tahun 2009 tentang Perlindungan Dan
perkembangan jumlah penduduk, teknologi, Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-
pengetahuan, budaya, dll dan telah terbukti Undang No. 23 Tahun 1992 tentang
secara nyata memberikan kontribusi yang Kesehatan dan Undang-Undang lainnya yang
berarti bagi masyarakat Indonesia. Di bidang terkait beserta produk hukum dibawahnya (2).
kesehatan, tenaga nuklir berperan dalam
Pada dasarnya tingkat bahaya limbah
meningkatkan mutu layanan kesehatan
radioaktif tidak berbeda dengan limbah
masyarakat antara lain untuk tujuan
berbahaya lainnya, yang membedakan adalah
diagnostik, terapi dan penelitian.
penyebab dan mekanisme terjadinya interaksi
Pemanfaatan tenaga nukir pada sektor
dengan target. Karakteristik bahaya dari
industri secara langsung berperan dalam
limbah radioaktif adalah memancarkan
meningkatkan mutu dan laju produksi
radiasi yang dapat mengionisasi atau merusak
termasuk industri pertambangan yang
target sehingga menjadi tidak stabil/disfungsi,
merupakan salah satu sumber Pendapatan
sedangkan karakteristik bahaya dari limbah
Asli Daerah (PAD).
B3 antara lain: mudah meledak, mudak
Efisiensi proses produksi yang tidak terbakar, beracun, reaktif, menyebabkan
akan pernah mencapai 100 % berdampak infeksi dan bersifat korosif (3).
dihasilkannya limbah padat, cair, gas yang
Dalam pengelolaan limbah B3 dikenal
harus dikelola dengan bijaksana, artinya
konsep Cradle to Grave yaitu pengawasan
bahwa pengelolaan limbah tersebut mampu
terhadap limbah B3 dari sejak dihasilkan
mengoptimalkan tuntutan kepentingan dari
hingga penanganan akhir. Makalah ini akan
berbagai pihak terkait, terutama kepentingan
membahas implementasi dari sistem
masyarakat dan lingkungan hidup. Mengingat
pengelolaan limbah dengan konsep Cradle to
kompleksnya permasalahan limbah maka
Grave untuk limbah radioaktif dengan
sebelum terbentuknya limbah hendaknya
treatment dari setiap fase akan menyesuaikan
dilakukan tindakan-tindakan yang
dengan karakteristik limbah radioaktif.
berorientasi pada upaya meminimalkan
terjadinya limbah yang dapat dilakukan
melalui seleksi bahan baku, rekayasa proses
dan penerapan prinsip reuse, recycle serta BAHAN DAN METODE
recovery. Penyusunan makalah ini dilakukan
melalui studi literatur dengan tahapan
Bidang radioekologi saat ini banyak
inventarisasi safety standard mengenai
menarik perhatian para pecinta lingkungan,
terutama berkaitan dengan masalah limbah pengelolaan limbah radioaktif yang
radioaktif. Limbah radioaktif selama ini tidak dipublikasikan oleh IAEA, peraturan
perundang-undangan nasional dan pustaka
pernah dibuang ke lingkungan secara
ilmiah lainnya untuk dipahami dan dianalisis
sembarangan karena telah diatur dengan
guna merumuskan konsep ilmiah yang
peraturan perundang-undangan yang berlaku
dituangkan dalam bentuk makalah.
secara nasional dan tidak bertentangan
dengan ketentuan yang berlaku secara
internasional (1).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaturan limbah radioaktif dan
paparan radiasi secara internasional A. Jenis Limbah Radioaktif
ditetapkan oleh International Atomic Energy Limbah radioaktif adalah zat radioaktif
Agency (IAEA) dan juga oleh International dan bahan serta peralatan yang telah terkena
Commission on Radiological Protection zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena
(ICRP) (1). Sedangkan di Indonesia diawasi pengoperasian instalasi nuklir dan fasilitas
oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir pemanfaatan zat radioaktif, yang tidak dapat
(BAPETEN). Pengawasan sebagaimana digunakan lagi. Limbah radioaktif
dimaksud dalam Undang-Undang No.10 berdasarkan bentuk fisiknya terdiri dari
Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran Pasal limbah radioaktif padat, cair dan gas. Limbah
14 ayat 2 dilaksanakan melalui peraturan, cair dibedakan menjadi aqueous dan organik,
perizinan dan inspeksi. Peraturan dan sedangkan limbah padat dibedakan menjadi

30
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah VIII
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN ISSN 1410-6086
Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-RISTEK

tekompaksi - tidak terkompaksi dan terbakar diimpor dari negara lain dapat dikirimkan
– tidak terbakar. kembali ke negara tersebut sesuai dengan
perjanjian.
1. Limbah Radioaktif Cair
3. Limbah Radioaktif Gas
Pada fasilitas produksi radioisotop,
limbah radioaktif cair dihasilkan dari proses Limbah radioaktif gas dapat dihasilkan
pelindihan atau pendinginan material, dalam pada aplikasi zat radioaktif terutama bidang
jumlah kecil akan mengandung pengotor kesehatan. Aplikasi khusus di bidang
yang bersifat radioaktif sehingga bersifat kesehatan menggunakan zat radioaktif
aktif. Di bidang kesehatan, limbah radioaktif berbentuk gas, misalnya 133Xe, 81mKr, 99mTc
cair antara lain hasil ekskresi pasien yang dan pemancar positron berumur paro pendek
mendapat terapi atau diagnostik kedokteran seperti 18F dan 11C untuk investigasi terhadap
nuklir. Zat radioaktif yang digunakan pada ventilasi paru-paru. Limbah radioaktif berupa
umumnya berumur paro pendek (< 100 hari), hasil respirasi pasien dikendalikan dengan
misalnya 125I, 131I, 99mTc, 32P, dll sehingga menempatkan pada tempat khusus untuk
cepat mencapai kondisi stabil. Fasilitas membatasi dispersi radioaktif ke lingkungan.
penelitian di bidang kesehatan juga Jenis zat radioaktif yang digunakan relatif
memberikan kontribusi limbah radioaktif cair tidak berbahaya karena berumur paro pendek
melalui hasil ekskresi binatang percobaan. sehingga mudah mencapai kondisi stabil (4).
Dengan umur paro sangat pendek, maka
4. Sumber Radioaktif Bekas
penanganan limbah radioaktif tersebut
dilakukan dengan menampung sementara Sumber radioaktif yang sudah tidak
sebelum dilepas ke badan air. digunakan lagi memerlukan pengkondisian
dan disposal yang sesuai. Sumber radioaktif
Limbah radioaktif cair untuk jenis
bekas dibedakan menjadi:
organik kebanyakan diproduksi oleh fasilitas
penelitian, yang dapat terdiri dari: minyak 1) Sumber dengan umur paro ≤ 100 hari
pompa vakum, pelumas, dan larutan sintilasi. dengan aktivitas sangat tinggi.
Zat radioaktif yang terkandung pada 2) Sumber dengan aktivitas rendah,
umumnya 3H dan sebagian kecil 14C, 125I dan misalnya untuk tujuan kalibrasi.
35
S. 3) Sumber yang berpotensi memberikan
bahaya kontaminasi dan kebocoran.
Dalam pengelolaan limbah cair tersebut
4) Sumber dengan umur paro >100 hari
harus diperhitungkan pula aktivitas
yang memiliki aktivitas tinggi maupun
konsentrasi zat radioaktif yang digunakan,
rendah (5).
terutama jika zat radioaktif yang digunakan
untuk tujuan penandaan umumnya B. Kebijakan Nasional Pengelolaan
mempunyai konsentrasi aktivitas sangat Limbah Radioaktif
tinggi sehingga harus dipisahkan dengan zat
radioaktif yang mempunyai konsentrasi Pengelololaan limbah radioaktif terdiri
aktivitas rendah. dari rangkaian kegiatan yang meliputi
tahapan pengumpulan, pengelompokan,
2. Limbah Radioaktif Padat pengolahan, pengangkutan, penyimpanan
dan/atau pembuangan limbah radioaktif.
Kebanyakan limbah radioaktif padat
Pengelolaan limbah radioaktif dapat
yang dihasilkan dari fasilitas kesehatan dan
dilakukan dengan sistem sentralisasi atau
laboratorium penelitian mempunyai sifat
desentralisasi, bergantung dengan kebijakan
dapat terbakar, misalnya: tissue, kertas, kain,
setiap negara.
karton, sarung tangan, pakaian pelindung,
masker, bangkai binatang dan material Pengelolaan limbah radioaktif di
biologi lain. Sedangkan limbah radioaktif Indonesia menganut sistem sentralisasi
tidak dapat bakar antara lain: barang pecah dengan Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-
belah, serpihan logam, peralatan Badan Tenaga Nuklir Nasional (PTLR-
dekontaminasi dan limbah dari fasilitas yang BATAN) sebagai pihak pengelola sesuai
mengalami dekomisioning. Untuk limbah dengan amanat UU No. 10 Tahun 1997
padat radioaktif sebagai akibat kontaminasi tentang Ketenaganukliran. Dalam
dan limbah sumber radioaktif selanjutnya menjalankan tugasnya, PTLR-BATAN dapat
dikirimkan ke PTLR-BATAN sebagai badan bekerja sama atau mendelegasikan BUMN,
yang berwenang melakukan pengolahan Koperasi dan swasta yang ditunjuk oleh
limbah radioaktif. Sumber radioaktif yang PTLR-BATAN.

31
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah VIII
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN ISSN 1410-6086
Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-RISTEK

Sistem sentralisasi bukan berarti BAPETEN, penghasil limbah radioaktif


membebaskan penghasil limbah radioaktif mengirimkan surat permohonan
dari kewajiban mengelola limbah radioaktif pengelolaan limbah radioaktif ke PTLR-
yang dihasilkannya. Penghasil limbah BATAN dengan melampirkan salinan
radioaktif berkewajiban mengumpulkan, persetujuan pengiriman dari BAPETEN
mengelompokan atau mengolah dan tersebut. Di dalam permohonan dapat
menyimpan sementara limbah radioaktif dirinci jenis pelayanan apa saja yang
tingkat rendah dan sedang sebelum dikehendaki oleh penghasil limbah
dikirimkan ke PTLR-BATAN. radioaktif (contohnya: dalam hal
pengangkutan penghasil limbah radiaktif
Terhadap sumber radioaktif bekas
dapat saja mengangkut sendiri limbahnya
terdapat dua alternatif pengelolaan limbah
ke PTLR-BATAN, atau menggunakan
yang boleh dilakukan oleh pemilik sumber
jasa ekspedisi, atau menggunakan
radioaktif bekas yaitu sumber radioaktif
kendaraan angkut limbah PTLR-
bekas diprioritaskan untuk dapat dikirimkan
BATAN). Penghasil limbah radioaktif
kembali ke negara asal dan alternatif kedua
akan mendapatkan jawaban dari PTLR-
adalah dikirimkan ke PTLR-BATAN.
BATAN tentang biaya pengelolaan sesuai
Prioritas yang pertama adalah upaya
dengan PP No. 77 tahun 2005 tentang
pemenuhan salah satu prinsp-prinsip
Tarif Pengelolaan Limbah Radioaktif.
pengelolaan limbah radioaktif yaitu tidak
3. Penghasil limbah radioaktif mengirimkan
menjadi beban bagi generasi yang akan
limbahnya ke PTLR-BATAN, dokumen
datang.
yang harus ditandatangani ke dua belah
Dengan sistem pengelolaan tersebut pihak adalah berita acara serah terima
maka ada kegiatan pemindahan atau limbah radioaktif.
pengangkutan limbah radioaktif dari 4. Penghasil limbah radioaktif menyerahkan
penghasil ke PTLR-BATAN atau ke negara salinan berita acara serah terima limbah
asal sumber radioaktif bekas. Prosedur radioaktif ke BAPETEN.
pengiriman limbah radioaktif ke PTLR- 5. PTLR-BATAN melaporkan kegiatan
BATAN yang sudah berlangsung hingga pengelolaan limbahnya secara berkala
sekarang sebagai berikut: (tiap semester) kepada BAPETEN sesuai
dengan izin operasi yang diberikan oleh
1. Penghasil limbah radioaktif mengajukan BAPETEN.
persetujuan pengiriman limbah radioaktif
ke Badan Pengawas Tenaga Nuklir Secara skematik prosedur pengiriman limbah
(BAPETEN). radioaktif tersebut disajikan dalam Gambar 1
2. Setelah memperoleh persetujuan dari di bawah.

Penghasil Limbah
Radioaktif 2

3
1/4

BAPETEN PTLR-BATAN

Gambar 1. Skenario Pengiriman Limbah Radioaktif

32
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah VIII
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN ISSN 1410-6086
Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-RISTEK

Prosedur pengiriman limbah radioaktif limbah dapat diketahui. Karena kegiatan


sebagaimana dijelaskan di atas berpeluang tersebut melibatkan beberapa pihak maka
memberikan resiko terhadap keselamatan memerlukan pengawasan dan dokumen
masyarakat dan lingkungan apabila tidak ada perjalanan yang sesuai sebagai indikator
pengawasan selama pelaksanaan pengiriman. keberadaan limbah.
Dengan pengawasan harus dipastikan jenis
Salah satu tujuan pengawasan limbah
dan mode transportasinya tidak menggunakan
radioaktif dengan pendekatan cradle to grave
jasa transportasi umum atau jasa transportasi
untuk menunjukkan perjalanan limbah
yang tidak secara khusus digunakan untuk
radioaktif dari penghasil (industri, rumah
mengangkut limbah radioaktif sehingga
sakit, laboratorium penelitian) sampai lokasi
memunginkan limbah radioaktif tidak sampai
tujuan pengiriman limbah radioaktif melalui
tujuan atau sampai tujuan tetapi dengan
rangkaian perjalanan dokumen. Dalam setiap
kondisi limbah radioaktif tidak seperti
tahapan dari rangkaian perjalanan limbah
kondisi pada saat berada di penghasil limbah
radioaktif disertai dengan tindakan
radioaktif. Dengan hanya mengandalkan pada
keselamatan terhadap pekerja, masyarakat
sistem audit limbah radioaktif melalui
dan lingkungan.
pelaporan berkala yang dibuat oleh PTLR-
BATAN maka setiap kesalahan atau D. Perjalanan Limbah Radioaktif
pelanggaran selama pelaksanaan pengiriman
limbah radioaktif tidak dapat diketahui Dokumen perjalanan pengiriman limbah
dengan segera. radioaktif dibuat rangkap 6, dengan
mekanisme sebagai berikut: penghasil limbah
C. Implementasi Konsep Cradle to Grave radioaktif menyimpan lembar ke 6 dan
dalam Pengelolaan Limbah Radioaktif menyerahkan lembar ke-5 ke Badan
Pengawas serta memberikan lembar ke 1, 2,
Pengawasan limbah dengan pendekatan
3, dan 4 ke pengangkut, pengangkut
Cradle to Grave yaitu pengawasan limbah
menyimpan lembar ke- 4 dan menyerahkan
dari sejak ditimbulkan sampai dengan di
lembar ke 1,2, dan 3 ke pengelola/penyimpan
tempat pengolahan/penyimpanan/negara asal
limbah radioaktif/negara asal sumber
sumber radioaktif dan pada setiap fase
radioaktif, pengelola limbah radioaktif/negara
terdapat kegiatan dengan tujuan mencegah
asal sumber radioaktif mengirimkan lembar
terjadi pencemaran ke lingkungan.
ke 1 ke penghasil limbah radioaktif, lembar
Implementasi dari konsep ini melalui ke 2 ke Badan Pengawas Tenaga Nuklir dan
pengawasan terhadap jalur perjalanan limbah menyimpan lembar ke 3. Diagram alir dari
dari penghasil limbah sampai dengan pihak proses perjalanan limbah radioaktif dapat
pengolah atau penyimpan sehingga dilihat pada Gambar 2 di bawah ini:
keberadaan dan tanggungjawab terhadap

Badan Penghasil
Pengawas copy-5 (copy-6)

copy-1
Pengangkut
(copy-4)

Pengolah
copy-2 /Penyimpan
/negara asal sumber
(reexport) (copy-3)

Gambar 2 .Pengelolaan Limbah Radioaktif dengan Pendekatan Cradle to Grave

Dengan demikian, Badan Pengawas dan limbah radioaktif/penyimpan limbah


penghasil limbah dapat melacak perjalanan radioaktif/negara asal sumber radioaktif
limbah radioaktif dari penghasil (cradle) ke untuk kegiatan reexport sumber radioaktif
lokasi tujuan (grave), yaitu pihak pengolah bekas. Pada setiap fase perjalanan limbah,

33
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah VIII
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN ISSN 1410-6086
Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-RISTEK

setiap pihak mempunyai kewajiban dan peran terjadi dan cara penanggulangannya.
penting dalam mendukung sistem Penghasil limbah juga berkewajiban
pengelolaan limbah radioaktif yang memberikan tanda, label, atau plakat pada
dijelaskan berikut: kendaraan angkutan.
1. Penghasil Limbah Radioaktif 2. Pengangkut
Sebelum limbah radioaktif dikirimkan, Pengangkut merupakan mata rantai
penghasil limbah berkewajiban melakukan yang sangat penting dalam sistem ini dan
pengelolaan limbah yang dihasilkannya bertanggungjawab atas keselamatan
dengan tujuan meminimalisasi volume, pengangkutan limbah sejak menerima dari
kompleksitas, biaya dan resiko. Pengelolaan penghasil sampai kepada penerima. Apabila
yang dilakukan meliputi mengumpulkan, terjadi kerusakan/kecelakaan selama
mengelompokan, atau mengolah dan pengangkutan, pengangkut harus
menyimpan sementara. Pengumpulan dan memberitahukan kepada Badan Pengawas
pengelompokan limbah berdasarkan aktivitas, dan Penghasil. Saat ini pengangkutan limbah
waktu paro, jenis radiasi, bentuk fisik-dan radioaktif hanya boleh dilakukan oleh pihak-
kimia, sifat racun dan asal limbah radioaktif pihak yang telah mempunyai izin
atau mengolah limbahnya apabila memiliki pemanfaatan dari BAPETEN dalam bentuk
fasilitas pengolahan persetujuan pengangkutan.
Limbah padat dipisahkan menjadi dapat
3. Pengolah/Penyimpan/negara asal
terbakar - tidak dapat terbakar, terkompaksi –
sumber radioaktif (reexport)
tidak terkompaksi, aktivitas rendah dan
tinggi, umur paro panjang dan pendek, serta Pengolahan dan penyimpanan limbah
jenis radiasi. Limbah tersebut ditempatkan radioaktif saat ini dilakukan secara terpadu di
pada lokasi khusus yang diberi tanda bahaya PTLR-BATAN meskipun dalam menjalankan
radiasi sehingga hanya petugas tertentu yang tugasnya, Badan Pelaksana sebetulnya dapat
dapat masuk ke ruangan. menunjuk dan/atau bekerja sama dengan
BUMN, swasta dan Koperasi. Sehingga
Limbah cair yang berupa sisa zat
sampai saat ini pihak pengolah atau
radioaktif dan limbah cair hasil samping
penyimpan limbah radioaktif hanya PTLR-
kegiatan dekontaminasi yang memiliki
BATAN. Pihak pengolah/penyimpan/negara
aktivitas tinggi atau umur paro panjang
asal sumber radioaktif berkewajiban
ditempatkan secara terpisah dengan limbah
memeriksa kesesuaian limbah yang
aktivitas rendah atau umur paro pendek.
diserahkan oleh pengangkut dengan
Untuk limbah cair hasil ekskresi atau hasil
kualifikasi limbah sebagaimana tercantum
kegiatan mandi dan cuci disalurkan secara
dalam dokumen pengiriman limbah. Apabila
terpisah dengan saluran grey water dan
terdapat ketidaksesuaian maka pihak
disalurkan ke tempat penampungan
pengolah/penyimpan/negara asal sumber
sementara untuk mengetahui dosis paparan
radioaktif wajib memberitahukan ke Badan
radiasi yang ditimbulkan, limbah radioaktif
Pengawas dan penghasil limbah guna
tersebut dapat di lepaskan ke badan air
investigasi lebih lanjut. Namun apabila
apabila memenuhi persyaratan pelepasan.
limbah radioaktif yang diterima oleh
Limbah berbentuk gas sangat jarang pengolah sudah sesuai dengan dokumen
terjadi. Seperti yang telah disampaikan di pengiriman limbah maka pihak
muka untuk mengendalikan limbah radioaktif pengolah/penyimpan dapat melakukan
pengolahan/penyimpanan limbah radioaktif
berbentuk gas, maka sumber penghasil
dengan teknologi yang sesuai. Sedangkan
limbah ditempatkan pada tempat khusus
negara asal sumber radioaktif dapat
sehingga gas tidak mudah keluar ke
melakukan penanganan sumber radioaktif
lingkungan. Gas dapat di lepaskan ke
bekas yang diterimanya sesuai dengan
lingkungan setelah memenuhi persyaratan
kebijakan pengelolaan limbah radioaktif
pelepasan.
negara tersebut.
Penghasil limbah wajib memberikan
Pengolahan limbah radioaktif yang
informasi dengan lengkap dan benar secara
dilakukan oleh pihak pengolah dimaksudkan
tertulis (dalam manifes dokumen) kepada
untuk mereduksi volume limbah dan
pengangkut tentang identitas limbah, bahaya
mengurangi paparan radiasi dari limbah
radiasi, dan sifat bahaya lain yang mungkin
radioaktif agar tidak membahayakan manusia

34
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah VIII
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN ISSN 1410-6086
Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-RISTEK

dan lingkungan sehingga dosis radiasi yang bahan pengikat seperti semen, bitumen,
diterima oleh pekerja akibat adanya limbah polimer, dll.
tersebut tidak akan melebihi ketentuan dosis
Terdapat beberapa jenis pengolahan
tahunan yang telah ditetapkan.
limbah cair, pemilihan jenis pengolahan
Jenis pengolahan limbah radioaktif bergantung pada pertimbangan keselamatan,
berbentuk padat yang telah dipraktekkan, teknis dan keuangan. Selain itu juga
antara lain: kompaksi, insenerasi dan bergantung pH dan kandungan partikel padat,
imobilisasi tetapi tidak berlaku untuk sumber garam, dan asam. Pengolahan limbah cair
radioaktif bekas. antara lain: presipitasi, evaporasi, ion
exchange, insenerasi (limbah cair organik),
a. Kompaksi:
pengolahan tersebut akan menghasilkan
Limbah padat yang akan dikompaksi limbah cair sekunder yang harus
harus memenuhi persyaratan: dikendalikan.
1. Tidak mengandung limbah yang Pengolahan limbah radioaktif
bersifat destruktif terhadap bungkusan berbentuk gas dilakukan dengan cara
limbah pengkondisian sampai memenuhi persyaratan
2. Tidak mengandung limbah bersifat pelepasasan setempat sehingga gas tersebut
infektan dapat langsung dilepaskan ke atmosfer.
3. Tidak mengakibatkan tekanan pada Namun untuk gas yang mengandung
kointainer yang menyebabkan pelepas partikulat radioaktif perlu dikendalikan
gas atau kontaminan dengan alat penyaring udara sebelum
4. Tidak mengandung cairan untuk dilepaskan ke atmosfer.
menghindari kebocoran pada
Penanganan yang dapat dilakukan
bungkusan limbah
terhadap sumber radioaktif bekas bergantung
5. Tidak mengandung bubuk aktif yang
umur paro dari sumber radioaktif tersebut.
dapat mengkontaminasi
Sumber radioaktif yang memiliki umur paro
6. Tidak mengandung bahan kimia pendek cukup dengan menyimpan sampai
reaktif aktivitasnya mencapai nilai yang sangat
rendah sehingga dapat dianggap sebagai
c. Insenerasi: limbah non radioaktif. Untuk sumber
Limbah radioaktif padat yang diolah radioaktif dengan umur paro panjang terdapat
dengan insenerator harus memperhatikan hal- dua pilihan penanganan, yaitu dilakukan
hal berikut: imobilisasi dalam drum logam atau tabung
beton atau langsung disimpan pada tempat
1. Tidak menimbulkan tekanan yang khusus untuk tujuan penyimpanan sementara
dapat menyebabkan pelepasan tak atau penyimpanan akhir.
terkendali
2. Tidak mengandung bahan beracun Penyimpanan limbah radioaktif
yang mudah menguap dibedakan menjadi penyimpanan sementara
3. Kadar air diatur untuk menghasilkan dan penyimpanan lestari. Penyimpanan
pembakaran sempurna sementara adalah penempatan limbah
4. Dilakukan pengolahan lanjutan radioaktif sebelum penempatan tahap akhir
terhadap residu dan penyimpanan lestari adalah penempatan
5. Bahan yang bersifat lembab akhir limbah radioaktif. Jenis limbah yang
dikendalikan akan ditempatkan pada penempatan
6. Dilengkapi dengan pengendali debu akhir/dibuang hanya limbah berbentuk padat.
Penempatan akhir/pembuangan limbah
radioaktif dengan aktivitas rendah dan umur
c. Imobilisasi: paro pendek yang memenuhi tingkat klierens
dapat diperlakukan sebagaimana pembuangan
Imobilisasi terhadap limbah radioaktif limbah non radioaktif, sedangkan limbah
bertujuan mencegah pergerakan/sebaran radioaktif dengan aktivitas tinggi dan umur
radionuklida dalam limbah ke lingkungan. paro panjang pembuangan dilakukan dalam
Limbah yang diimobilisasi adalah konsentrat bentuk disposal yang dibedakan menjadi
evaporasi, abu incenerator, limbah padat hasil disposal dekat permukaan untuk waktu paro
pengkompaksian. Imobilisasi menggunakan ≤ 30 tahun dan disposal dalam formasi

35
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah VIII
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN ISSN 1410-6086
Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-RISTEK

geologi untuk limbah radioaktif dengan DAFTAR PUSTAKA


waktu paro > 30 tahun.
1. WARDHANA, WA , Radioekologi, Andi
Untuk sumber radioaktif yang diimpor
Offset, Yogyakarta, 1996.
dari luar negeri, sumber radioaktif bekasnya
2. LUBIS, E, Keselamatan Lingkungan
disarankan untuk dikirimkan kembali ke
Pengelolaan Limbah Radioaktif, Jurnal
negara penghasil. Kebijakan ini untuk
Teknologi Pengelolaan Limbah' Volume
mengurangi peredaran jumlah limbah sumber
6 No. 2 (ISSN:1410-9565), BATAN,
radioaktif di Indonesia yang dapat menjadi
Jakarta, 2003.
beban bagi generasi yang akan datang dan
3. HARUKI, A, Pengelolaan Limbah B3,
jika ditinjau dari aspek finansial biaya untuk
Materi Pelatihan Audit Lingkungan
mengolah limbah tersebut lebih mahal
diselenggarkan oleh Departmen Biologi
dibandingkan mengirimkan kembali ke
FIMPA IPB dan Bagian PKSDM Dijten
negara asal.
DEKDINAS, 2006.
4. IAEA, Management of Waste from the
KESIMPULAN
Use of Radioactive Material in Medicine,
1. Implementasi konsep cradle to grave Industry, Agriculture, Research and
dalam pengelolaan limbah radioaktif Education, Safety Guide No. WS-G-2.7,
dilakukan dengan menggunakan Vienna, 2005.
dokumen pengiriman limbah radioaktif 5. IAEA, Management of Radioactive Waste
dari penghasil ke from the Use of Radioactive Material in
pengolah/penyimpan/atau negara asal Medicine, Industry, Agriculture, Research
sumber radioaktif. and Education, TECDOC 1183, Vienna,
2000.
2. Dokumen pengiriman dibuat rangkap 6
dengan pola distribusi dokumen tersebut
dirancang sedemikan rupa sehingga
terbentuk komunikasi yang simultan
antara badan pengawas, penghasil limbah
radioaktif, pengangkut, dan
pengolah/penyimpan/negara asal sumber
radioaktif, distribusi dokumen tersebut
sebagai berikut: badan pengawas
menyimpan copy 2 dan 5, penghasil
menyimpan copy 1 dan 6, pengangkut
menyimpan copy 4,
pengolah/penyimpan/negara asal sumber
menyimpan copy 3.

36