Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PELAKSANAAN

PROGRAM KESEHATAN JIWA


UPT. PUSKESMAS WONOSOBO

Disusun Sebagai :

TINDAK LANJUT
PELAKSANAAN CAKUPAN PROGRAM KESEHATAN JIWA
UPT. PUSKESMAS WONOSOBO KECAMATAN WONOSOBO
TAHUN 2018

Disusun Oleh :
Dr.VINDA RHENDIA
NRPTT. 19900826.2.010

DINAS KESEHATAN
KABUPATEN TANGGAMUS
TAHUN 2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

World Health Organization (WHO) merumuskan pengertian sehat dalam cakupan yang sangat luas,
yaitu keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau
kelemahan/cacat.
Menurut Undang-undang Kesehatan nomor 36 Tahun 2009, Kesehatan adalah keadaan sehat, baik
secara fisik, mental,spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup
produktif secara sosial dan ekonomis.
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik,
mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat
mengatasi tekanan, dan dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk
komunitasnya (UU No 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa).
Masalah kesehatan jiwa di keluarga dan masyarakat semakin meningkat, terlihat dari
banyaknya tindak kekerasan (KDRT,), kenakalan remaja (anak jalanan, kecanduan game,
tawuran), penyalahgunaan narkoba, bahkan begitu mudahnya melakukan tindakan bunuh diri.
Kurangnya pengetahuan, akses yang sulit dijangkau, dan keterbatasan tenaga kesehatan jiwa
merupakan beberapa penyebab gangguan jiwa tidak terdeteksi di keluarga dan masyarakat
Pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia masih menyelesaikan masalah di hilir dan bersifat
pasif. Fokus pelayanan pun masih di institusi atau rumah sakit jiwa. Menurut data hasil Riskesdas
tahun 2013, prevalensi orang dengan gangguan jiwa berat adalah 1,7 % ( > 400 ribu jiwa).
Sedangkan orang dengan gangguan mental emosional (gejala depresi dan anxietas) pada
penduduk umur ≥15 tahun sebesar 6,0% (>14 juta jiwa). Dan orang dengan gangguan jiwa
(ODGJ) yang pernah dipasung proporsinya sebesar 14,3% atau sekitar 57 ribu kasus. Angka
pemasungan di perkotaan 10,7 %, dan angka pemasungan di pedesaan jumlahnya cukup tinggi
yaitu 18,2 %.
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 di Provinsi Lampung terdapat 0,8 ‰ prevalensi
penduduk yang mengalami gangguan jiwa berat. Sedangkan 1,2 % penduduk umur ≥15 tahun
mengalami gangguan mental emosional. Untuk Kabupaten Lampung Barat, prevalensi penduduk
umur ≥15 tahun mengalami gangguan mental emosional sebesar 1,4 % .Dan terdapat 0,2 ‰
penduduk Kabupaten Lampung barat yang mengalami gangguan jiwa berat. (Riskesdas Propinsi
Lampung tahun 2013).
UPT. Puskesmas Wonosobo adalah salah satu Puskesmas di Tanggamus. UPT. Puskesmas
Wonosobo terletak di Kecamatan Wonosobo. Penderita gangguan jiwa di wilayah kerja UPT.
Puskesmas Wonosobo belum banyak terdeteksi. Prevalensi pasien gangguan jiwa ini berkaitan
dengan berbagai faktor antara lain rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa,
dimana masyarakat masih beranggapan bahwa pasien gangguan jiwa adalah orang yang sedang
diganggu oleh roh halus, sehingga keputusan untuk pengobatannya diserahkan ke dukun.

Faktor lainnya masyarakat malu jika ada keluarganya yang mengalami gangguan jiwa.
Sehingga jika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, tindakan yang dilakukan
adalah mengisolasi pasien dengan memasung/ mengurung pasien sehingga tidak diketahui oleh
masyarakat luas. Hal tersebut apabila tidak diantisipasi dari sekarang maka jumlah pasien jiwa
akan terus meningkat. Pada akhirnya akan menambah beban keluarga, menurunkan produktivitas
dan derajat kesehatan.

Belum tersentuhnya kasus gangguan jiwa pada level pelayanan kesehatan dasar, adanya
Program upaya Kesehatan jiwa, adanya program Indonesia bebas pasung dan visi keluarga sehat
2019 yang salah satu indikatornya adalah kesehatan jiwa dan jumlah penderita gangguan jiwa
yang angkanya lebih tinggi dari angka nasional, maka dari beberapa hal tersebut upaya kesehatan
jiwa di Indonesia dirasa sangat penting, dan tentunya juga di Kabupaten Tanggamus khususnya di
Puskesmas Wonosobo.

Oleh Karena itu untuk mencapai keberhasilan Program Kesehatan jiwa agar berjalan dengan
dengan baik, maka perlu disusun Suatu Kegiatan Perencanaan Program Kesehatan Jiwa di UPT.
Puskesmas Wonosobo

B. VISI , MISI dan STRATEGI

1. Visi Kesehatan Jiwa UPT Puskesmas Wonosobo

Mewujudkan Masyarakat di Wilayah UPT. Puskesmas Wonosobo sehat jasmani dan


rohani

2. Misi dan Strategi Kesehatan Jiwa

Menciptakan Kualitas Manusia Sehat Baik Fisik Maupun Mental dengan pendekatan :

a. Membina dan memicu kesadaran masyarakat akan pentingnya masalah Kesehatan jiwa
meliputi gejala gangguan jiwa awal agar penanganan dini dapat di terapkan,

b. Menyadarkan Masyarakat di wilayah UPT. Puskesmas Wonosobo untuk tidak


mengurung bahkan memasung penderita gangguan jiwa karena dengan penanganan
yang tepat dapat memperbaiki kehidupan pasien,

c. Mengembangkan dan meningkatkan mutu, pemerataan pelayanan dan jangkauan upaya


kesehatan jiwa sehingga pelayanan kesehatan jiwa mudah diakses secara lokal.

Pelayanan kesehatan jiwa memiliki karakteristik utama :


 dapat terjangkau dan memenuhi kebutuhan penderita dan masyarakat di wilayah
UPT. Puskesmas Wonosobo.

 dilakukan secara terpadu dan menyeluruh mencakup pelayanan yang bersifat akut
maupun jangka panjang.

 pelayanan yang bersifat komprehensif, dilakukan secara berjenjang dan


berkesinambungan.

d. Mengutamakan pemberian pelayanan yang berupa pencegahan gangguan jiwa melalui


kegiatan promosi kepada masyarakat umum dan pelayanan rehabilitasi bagi pasien
gangguan jiwa agar dapat mencapai produktivitas dan atau kualitas hidup yang lebih
baik.

e. Menyediakan dan mengembangkan pelayanan kesehatan jiwa bagi pasien yang


membutuhkan pelayanan di rumah.

C. Ruang Pokok dan fungsi

Berisi tentang tugas pokok dan Fungsi petugas Kesehatan Jiwa sebagai dasar dalam
melaksanakan tugas sebagai berikut :

a. Menyusun Rencana Program Kesehatan Jiwa

b. Melakukan Pendataan Sasaran Progran Kesehatan Jiwa

c. Melakukan pendataan, Penyuluhan dan penggerakkan peran serta masyarakat tentang


gejala gangguan jiwa awal maupun penanganan awal pada penderita gangguan jiwa.

d. Melakukan Pengawasan dan pembinaan pada pasien pasien yang sudah terdeteksi dini
gangguan jiwa.

e. Melakukan Pencatatan dan Pelaporan dan Evaluasi Program Kesehatan Jiwa

f. Mencatat hasil kegiatan program kesehatan Jiwa secara menyeluruh sebagai bahan
informasi dan pertanggung jawaban kepada kepala puskesmas

D. TUJUAN

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan menilai apakah upaya Program Kesehatan Jiwa telah dapat
dilaksanakan secara optimal seseuai dengan indikator pelayanan kesehatan yang telah di
tetapkan

2. Tujuan Khusus
a. Menilai apakah cakupan kegiatan Kesehatan Jiwa sudah mencakup semua pasien di
wilayah kerja puskesmas
b. Membuat analisis pencapaian Program Kesehatan jiwa
c. Mengukur keberhasilan kinerja upaya Promosi kesehatan jiwa secara umum dan
membuat perencanaan tindak lanjut tahun berikutnya.

BAB II
ANALISA SITUASI

A. GAMBARAN UMUM

1. Wilayah Kerja Puskesmas


UPT Puskesmas Wonosobo terletak di Pekon Wonosobo, Kecamatan Wonosobo
Kabupaten Tanggamus, dengan wilayah kerja 12 Pekon.

2. Pemerintahan
UPT Puskesmas Wonosobo merupakan suatu Unit kerja di bawah Instansi Dinas
Kesehatan Kabupaten Tanggamus, terlretak Di pekon Banjar Negara Kecamatan
Wonosobo,salah satu Pekon Di Kecamatan Wonosobo yang bertempat di Banjar Negara
dan merupakan satu-satunya Puskesmas Induk yang ada di Kecamatan Wonosobo.

3. Geografis
UPT Puskesmas Wonosobo Mempunyai Wilayah kurang lebih ± 12.329 Ha, yang terdiri
dari I2 Pekon dengan pusat pemerintahan kecamatan terletak di Pekon Banjar Negara,
Jarak dari Puskesmas ke Kecamatan ± 5.000 meter dan dapat ditempuh dengan kendaraan
roda empat. Secara administratif UPT Puskesmas
Wonosobo Kecamatan Wonosobo berbatasan dengan:
1. Sebelah Utara berbatas dengan Wilayah Kerja UPT Puskesmas Sanggi
2. Sebelah Barat berbatas dengan Wilayah Kerja UPT Puskesmas Sukaraja
3. Sebelah Selatan berbatas dengan Wilayah Kerja UPT Puskesmas Negara Batin
4. Sebelah Timur berbatas dengan Wilayah Kerja UPT Puskesmas Negara Batin

4. Geologi
Dari segi Geologi UPT Puskesmas Wonosobo sebagian besar merupakan area
persawahan,sehingga banyak terdapat irigasi dan saluran air yang di gunakan penduduk
untuk mengairi sawah.

5. Topografi
Wilayah kerja UPT Puskesmas Wonosobo terdiri dari 12 (Dua belas) Pekon 70 % terdiri
dari dataran rendah, yang merupakan areal persawahan dan pemukiman penduduk dan
30% yang merupakan perkebunan.

6. Demografi
Penduduk di wilayah UPT Puskesmas Wonosobo Pada akhir tahun 2016 sebesar 16.714
jiwa ( Rekapitulasi Pendataan Tingkat Kecamatan ) dengan Jumlah KK 4.650, Jumlah
Rumah 4.160 Rumah ,prasejatera sebanyak 52,2 %, dari jumlah KK seluruhnya .
Mayoritas pendidikan SD sebesar 45,9 %, SLTPsederajat 26,4 %,SLTA sederajat 21,9%,
Perguruan Tinggi 5,7 %. Perekonomian dan mata pencaharian penduduk mayoritas
bertani.

Grafik 1
Tingkat Pendidikan di Wilayah UPT. Puskesmas Wonosobo Tahun 2017

Adalah sector pertanian (87 % ).baik sebagai petani sendiri atau buruh tani Wilayah kerja
UPT Puskesmas Wonosobo terdiri dari 12 pekon yaitu :
1. Dadisari
2. Banjarsari
3. Wonosobo
4. Banjar Negara
5. Karanganyar
6. Kalirejo
7. Sinar Saudara
8. Banyu Urip
9. Soponyono
10. Kalisari
11. Dadirejo
12. Dadimulyo

B. ANALISA KESEHATAN JIWA


Kesehatan merupakan tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat,
pemerintah dan swasta.Apapun upaya yang di lakukan pemerintah hanya sedikit yang akan
di capai tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan
nya.Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal.

Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan optimal bagi
individu secara fisik, intelektual dan emosional sepanjang hal itu tidak bertentangn dengan
kepentingan orang lain (WHO)

C. ANALISA PELAYANAN KESEHATAN


1. Fasilitas Kesehatan
a. Sarana Pelayanan Kesehatan Pemerintah
Guna menunjang upaya kesehatan yang dijalankan, maka di UPT Puskesmas
Wonosobo kecamatan Wonosobo dilengkapi oleh berbagai sarana pelayanan
kesehatan seperti yang terlihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.3
Sarana Kesehatan UPT Puskesmas Wonosobo Tahun 2016

No Jenis Sarana Jumlah Keterangan


1 Puskesmas Induk 1 Baik
2 Puskesmas Pembantu 1 Baik
3 Rumah Dinas 4 1 kondisi baik,
3 rusak berat
4 Perumahan Dokter 1 Baik
5 Posyandu 15 Baik
6 Sepeda Motor 5 Baik
7 Poskesdes 1 Baik
8 BPS 13 Baik

b. Puskesmas
UPT Puskesmas Wonosobo berada di jalan Raya Banjar Negoro Pekon Wonosobo
Kecamatan Wonosobo Kabupaten Tanggamus, merupakan satu-satunya Puskesmas
induk yang ada di kecamatan ini, dan sampai saat ini dalam keadaan dan berfungsi
dengan baik.
c. Puskesmas Pembantu
Di dalam wilayah kerja UPT Puskesmas Wonosobo mempunyai satu unit puskesmas
pembantu (pustu), yaitu Pustu Karang anyar dengan wilayah kerja pekon karang
anyar, pekon banyu urip, pekon kalirejo dan pekon dadirejo Kondisi Pustu
Karanganyar Sampai akhir tahun 2017 pustu tersebut dalam keadaan baik dan
digunakan sebagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat terdekat.
d. Poskesdes
Poskesdes yang sudah terbentuk di wilayah UPT Puskesmas Wonosobo sebanyak 1
buah, yang berfungsi dengan baik .
e. Kendaraan Roda Empat dan Roda Dua
UPT Puskesmas Wonosobo dilengkapi dengan kendaraan roda empat atau puskesmas
keliling, saat ini dalam keadaan baik dan digunakan terutama untuk kegiatan
pelayanan pengobatan keliling, kegiatan luar gedung puskesmas dan sebagai sarana
transportasi rujukan pasien ke rumah sakit. Disamping puskesmas keliling terdapat
juga kendaraan roda dua (sepeda motor) dengan jumlah lima unit dan satu unit
kendaraan roda empat, yang dimamfaatkan sebagai sarana pendukung kegiatan luar
gedung dan menunjang pelaksanaan kegiatan-kegiatan program puskesmas.
2. Sarana Pelayanan Kesehatan Swasta
Pada umumnya pelayanan kesehatan swasta yang diamanfaatkan masyarakat Kecamatan
Wonosoboberupa Balai Pengobatan (BP) swasta dengan jumlah satu buah, Rumah
Bersalin (RB) swasta Bidan Praktek Swasta BPS) dengan jumlah dua belas buah. Dalam
wilayah kerja UPT Puskesmas Wonosobo tidak terdapat Rumah Sakit Swasta, Dokter
Spesialis, namun terdapat dua Dokter praktek swasta, Dua Apotik,. Dalam melaksanakan
kegiatan operasionalnya sarana pelayanan kesehatan swasta ini berada di bawah
pengawasan dan pembinaan serta bertanggung jawab pada UPT Puskesmas Wonosobo
Kecamatan Wonosobo.
3. Sumber Daya Kesehatan
Jumlah Tenaga Kesehatan yang bekerja di lingkup UPT Puskesmas Wonosobo sampai
dengan akhir tahun 2016 berjumlah 30 orang dengan status kepegawaian calon pegawai
negeri sipil, pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap . Dari jumlah tenaga yang ada
ini dirasakan masih kurang dibandingkan dengan standar ketenagaan yang harus dimiliki
di tiap UPT Puskesmas, hal ini sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan dan
hasil-hasil yang akan dicapai. Selain itu terdapat juga tenaga suka rela (TKS) sebanyak 7
orang dengan latar belakang pendidikan SLTA dan D3. Dari semua tenaga tersebut, tenaga
Bidan merupakan jumlah tenaga yang terbanyak yaitu 14 orang. Adapun jumlah
ketenagaan di UPT Puskesmas Wonosobo dapat terlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2.4
Jumlah Ketenagaan UPT Puskesmas Wonosobo Tahun 2016

Unit Kerja
No Jenis Tenaga
Puskesmas Pustu Desa Jumlah
1 Dokter Umum 1 0 0 1
2 Sarjana Keperawatan 1 0 0 1
3 Sarjan Kesehatan Masyarakat 1 0 0 1
4 D4 Kebidanan 2 0 0 2
5 D3 Keperawatan 1 0 0 1
6 D3 Kebidanan 1 0 0 1
7 D3 Keperawatan Gigi 1 0 0 1
8 D3 Farmasi 0 0 0 0
9 D1 Kebidanan 0 0 0 0
10 SPK 0 0 0 0
Jumlah 8 0 0 8

BAB III
HASIL PELAKSANAAN PROGRAM KESEHATAN JIWA TAHUN 2017
Berisi tentang informasi pelaksanaan program Kesehatan Jiwa UPT Puskesmas Wonosobo
Kecamatan Wonosobo tahun 2017 Yang meliputi :
A. INDIKATOR PROSES
1. Pengawasan Gangguan Jiwa
KEGIATAN BENTUK KEGIATAN TARGET CAPAIAN

Penderita 1.Penjaringan - -
gangguan penderita gangguan
jiwa yang jiwa - -
terdeteksi 2.Monitoring
penderita gangguan - -
jiwa
3.Evaluasi penderita
gangguan jiwa

2. Jumlah penderita baik laki laki maupun perempuan


Total Penderita LAKI LAKI PEREMPUAN

Penderita 35 22 orang 13 orang

3. Jenis penyakit gangguan jiwa


Kode Jenis Penyakit Jenis Total
Penyakit Kelamin
F03 Dementia
F20.9 Skizophrenia L:16 23
P:7
F23.9 Gangguan Psikotik
F41.9 Gangguan Cemas L:4 10
P:6
F44.0 Amnesia
F44.2 Pingsan (stupor), Epilepsi L:2 2
F45.0 Psychosomatik
F48.9 Gangguan Neurotic
F60.0 Gangguan Paranoid
F79 Retardasi Mental
F99 Gangguan Mental

BAB IV
IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH KESEHATAN

A. IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN JIWA


1. Identifikasi masalah kesehatan Jiwa
Berdasarkan analisa situasi dan analisa derajat kesehatan masyarakat di wilayah
Puskesmas Wonosobo tahun 2017 di peroleh permasalahan program Kesehatan Jiwa
sebagai berikut
1. Belum tersentuhnya kasus gangguan jiwa pada level pelayanan kesehatan dasar,
2. Angka Prevalensi Gangguan Jiwa di UPT. Puskesmas Wonosobo belum
sepenuhnya terdeteksi,
3. Masih sangat kurangnya kunjungan penderita gangguan jiwa ke pelayanan
kesehatan,
4. Stigma buruk / aib masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa,
5. Masih tingginya kepercayaan terhadap dukun,
6. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit gangguan jiwa dan
cara perawatan pasien gangguan jiwa di rumah.

i. Prioritas Masalah Kesehatan Jiwa


Untuk mencapai pemecahan masalah yang optimal maka kami membuat suatu
penetapan prioritas masalah, yaitu:
1. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang gangguan jiwa
sehingga stigma buruk di masyarakat tentang gangguan jiwa dapat berubah,
2. Meningkatkan cakupan dan akses pelayanan kesehatan jiwa,
3. Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektor,
4. Meningkatkan kemandirian dan produktifitas pasien,
5. Tidak ada lagi kasus pasung di wilayah kerja UPT Puskesmas Wonosobo.
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

A. DETERMINAN FAKTOR

DETERMINAN FAKTOR
MASALAH
KETURUNAN/
KESEHATAN LINGKUNGAN PERILAKU PELAYANAN KESEHATAN
DEMOGRAFI
Rendahnya pelaporan 1. Masyarakat kurang peduli 1. Pemanfaatan fasilitas kesehatan masih Input; Tingkat pendidikan
kasus ganguan jiwa ke atas penderita ganguan rendah 1. Meningkatkan kerjasama dengan bidan dan pengetahuan
palayanan kesehatan kejiwaan 2. Masih banyaknya penderita gangguan jiwa desa/gasbinsa dan kader yang telah ditunjuk, masyarakat yang
2. Pengetahuan masyarakat di kurung di rumah di rumah 2. Meningkatkan kerjasama lintas sektoral dan lintas rendah
masih kurang program
Belum terbentuknya Belum terdapat kader Melakukan pembentukan kader-kader Memberikan pengetahuan kepada kader tentang tugas Belum terbentuknya
kader-kader program program kesehatan jiwa program kesehatan jiwa dan fungsi kader program kesehatan jiwa kader
kesehatan jiwa
a. Alternatif Pemecahan Masalah

DETERMINAN FAKTOR
MASALAH
KETURUNAN/
KESEHATAN LINGKUNGAN PERILAKU PELAYANAN KESEHATAN
DEMOGRAFI
Rendahnya Pengetahuan Meningkatkan 1. Penyuluhan mengenai pentingnya Input : Penyuluhan
masyarakat tentang koordinasi lintas mengetahui gejala dan Proses:
gangguan jiwa dan program dan lintas penanganan awal gangguan 1. Meningkatkan kerjasama lintas program
penanganan awal sektoral kejiwaan dan lintas sektoral
penderita ganggauan jiwa 2. Konsultasi pengelola program ke
Kabupaten
3. Pemerataan pendistribusian alat peraga/
alat penyuluhan
Out put :
Proses:
1. Melakukan penyuluhan
2. Melakukan evaluasi
Rendahnya Pengetahuan Meningkatkan koordinisi Penyuluhan kesehatan di masyarakat Input: Penyuluhan
masyarakat tentang lintas sektoral Proses:
bahaya penyalahgunaan
1. Pelaksanaan program melibatkan semua
NAPZA di masyarakat
kader dan bidan desa/gasbinsa
2. Pemberian transport kader setiap 6 bulan
sekali
3. Melengkapi kebutuhan ATK
4. Di adakan pembinaan/ pertemuan kader
pekon setiap bulan
5. Out put;
6. Meningkatkan cakupan penderita yang
telah tertangani
AKAR PENYEBAB MASALAH

Kurangnya pengetahuan masyarakat Penyuluhan tentang gejala


tentang gejala gangguan jiwa gangguan jiwa

Belum tersentuhnya kasus Pendataan pasien gangguan jiwa


gangguan jiwa pada level
pelayanan kesehatan dasar Monitoring penderita gangguan
jiwa
Masih sangat kurangnya kunjungan
penderita gangguan jiwa ke Evaluasi penderita gangguan jiwa
pelayanan kesehatan

BELUM
OPTIMALNY
A UPAYA
KESEHATAN
JIWA

Kurangnya kerjasama lintas Belum Optimalnya dana yang di


sektoral dan pemberdayaan alokasikan untuk upaya kesehatan
masyarakat jiwa dari dana BOK puskesmas
wonosobo
Belum terbentuknya kader
BAB V
RANCANA USULAN KEGIATAN (RUK) 2019
BAB V
RANCANA PELAKSANAAN KEGIATAN (RPK) TAHUN 2018
BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pelayanan kesehatan jiwa merupakan proses interpersonal yang berupaya untuk
meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mendukung pada fungsi yang
terintegrasi sehingga sanggup mengembangkan diri secara wajar dan dapat melakukan
fungsinya dengan baik, sanggup menjelaskan tugasnya sehari-hari sebagaimana mestinya,
Dalam mengembangkan upaya pelayanan kesehatan jiwa, petugas sangat penting untuk
mengetahui dan meyakini akan peran dan fungsinya, serta memahami beberapa konsep
dasar yang berhubungan dengan Kesehatan jiwa.

Permasalahan yang diprioritaskan dalam kegiatan kesehatan jiwa di tahun 2017


dikarenakan kurangnya peran serta masyarakat serta minimalnya kerja sama lintas
sektoral.
Evaluasi program tahun 2017 ini dibuat untuk menjadi pedoman petugas promosi
kesehatan dalam pelaksanaan kegiatan kesehatan jiwa di wilayah kerja UPT Puskesmas
Wonosobo

B. SARAN
Petugas Penanggung jawab Kesehatan Jiwa diharapkan mampu melaksanakan tugas yang
sudah direncanakan dan benar-benar dilaksanakan di masyarakat.
Demikian perencanaan ini kami buat, kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan di
masa yang akan datang. Tidak lupa ucapan terima kasih kami haturkan kepada pihak yang
telah membantu dalam penyusunan perencanaan ini.

Anda mungkin juga menyukai