Anda di halaman 1dari 26

PENGELOLAAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT

DENGAN LAND APPLICATION

TUGAS KULIAH
KESEHATAN LINGKUNGAN

Dosen Pengampu :
Lenie Marlinae,SKM,M.Kes

NAMA : BAINI RAHMAN


NIM : 1720930310009

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami
dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “Pengelolaan Limbah cair Pabrik
Kelapa Sawit Dengan Land Application ” yang merupakan tugas Mata Kuliah
Kesehatan Lingkungan.

Pembuatan tugas ini tidak akan selesai dengan sebagaimana mestinya bila tidak
ada bantuan pihak lain. Untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang
telah banyak membantu, yang banyak memberikan masukan dan bimbingan sehingga
tugas ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penulisan tugas ini kami menyadari bahwa masih jauh dari sempurna,
Jika dalam penulisan dan penggunaan kata-kata sekiranya masih ada kesalahan, kami
sebagai penulis mohon maaf. Kritik dan saran sangatlah kami harapkan serta semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua amin.

Banjarbaru, Oktober 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i


KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..................................................................................... 1


B. Perumusan Masalah ............................................................................... 3
C. Tujuan Penulisan ................................................................................... 3
D. Manfaat Penulisan................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN
A. Timbulan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit ....................................... 4
B. Penanganan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit..................................... 7
C. Gambaran Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit ................... 11
D. Pemanfaatan Limbah Cair Untuk Land Application ............................. 16

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ........................................................................................... 20
B. Saran ............................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... . iv

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis yang bergerak
pada sektor pertanian yang banyak berkembang di negara-negara tropis seperti
Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Hasilnya biasa digunakan sebagai bahan dasar
industri seperti industri makanan, komestika dan industri sabun. Perkembangan
industri kelapa sawit saat ini sangat pesat, dimana terjadi peningkatan jumlah
produksi kelapa sawit seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat. Limbah yangdihasilkan dari
proses pengolahan minyak kelapa sawit adalah limbah padat, cair dangas (Pardamean, 2014)

Perkembangan bisnis dan investasi kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir mengalami
pertumbuhan yang sangat pesat. Permintaan atas minyak nabati dan penyediaan biofuel telah
mendorong peningkatan permintaan minyak nabati yang bersumber dari crude palm oil (CPO)
yang berasal dari kelapa sawit. Hal ini disebabkan tanaman kelapa sawit memiliki potensi
menghasilkan minyak sekitar 7 ton/hektar lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai yang hanya 3
ton/hektar. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan perkebunan dan
industri kelapa sawit karena memiliki potensi cadangan lahan yang cukup luas, ketersediaan
tenaga kerja, dan kesesuaian agroklimat. Luas perkebunan kelapa sawit pada tahun 2007 sekitar
6,8 juta hektar. Dari luas tersebut sekitar 60 % diusahakan oleh perkebunan besar dan sisanya
diusahakan oleh perkebunan rakyat.

Saat ini di Kaltim terdapat 301 perusahaan sawit memegang 199 Ijin Usaha Perkebunan
(IUP) dengan luasan mencapai 2,54 juta hektare. Sedangkan pemegang ijin Hak Guna Usaha
(HGU) sebanyak 124 perusahaan dengan luas lahan 1,05 juta hektar, Sementara perkebunan
swadaya masyarakat dan plasma yang sudah terbangun mencapai 109.166 ha. Perkebunan itu
dikelola secara mandiri di lahan milik warga serta kebun kemitraan masyarakat dengan
perusahaan besar swasta (PBS) maupun negara (PBN) dengan jumlah pabrik pengelohan kelapa
sawit sebanyak 87 pabrik (Bappeda Prop Kaltim, 2015).

sedangkan khusus kabupaten Paser yang merupakan salah satu kabupaten di propinsi
kalimantan timur dengan luas wilayah 11.603,94 KM2, serta telah berdiri sebanyak 18 buah pabrik

1
kelapa sawit (PKS) dengan berbagai kapasitas diantaranya PTPN dengan kapasitas produksi 60
ton/jam, PT Borneo Indah Marjan dengan Kapasitas 120 ton / jam dan PT BWS dengan kapasitas
45 ton/jam. perekonomian daerah banyak ditopang oleh sektor pertambangan dan perkebunan.
Perkebunan di kabupaten paser utamanya adalah perkebunan kelapa sawit yang di dominasi oleh
perusahaan, sampai akhir tahun 2015 luas areal perkebunan kelapa sawit 180,239,78 Ha, dengan
produksi tahunan 2.127.991 Ton (Bappeda Kab Paser, 2015).

Peningkatan luas perkebunan kelapa sawit telah mendorong tumbuhnya industri-industri


pengolahan, diantaranya pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) yang menghasilkan CPO. PMKS
merupakan industri yang sarat dengan residu pengolahan. Pabrik kelapa sawit hanya
menghasilkan 25-30 % produk utama berupa 20-23 % CPO dan 5-7 % inti
sawit (kernel).Sementara sisanya sebanyak 70-75 % adalah residu hasil pengolahan berupa
limbah. (Naibaho, 2003)

Limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen pencemaran yang terdiri
dari zat atau bahan yang tidak mempunyai kegunaan lagi bagi masyarakat. Limbah industri dapat
digolongkan kedalam tiga golongan yaitu limbah cair, limbah padat, dan limbah gas yang dapat
mencemari lingkungan. Jumlah limbah cair yang dihasilkan oleh PMKS berkisar antara 600-700
liter/ton tandan buah segar (TBS). Saat ini diperkirakan jumlah limbah cair yang dihasilkan oleh
PMKS di Indonesia mencapai 28,7 juta ton. Limbah ini merupakan sumber pencemaran yang
potensial bagi manusia dan lingkungan, sehingga pabrik dituntut untuk mengolah limbah melalui
pendekatan teknologi pengolahan limbah (end of the pipe). Bahkan sekarang telah digulirkan
paradigma pencegahan pencemaran (up of the pipe) (Naibaho, 2003)

Berbagai jenis penelitian dilaksanakan selain bertujuan untuk menekan dampak negatif
limbah terhadap manusia dan lingkungan, juga agar limbah tersebut dapat dimanfaatkan secara
maksimal dan tidak menimbulkan sampah (the zero waste concept) sehingga memberikan nilai
tambah. Diantara upaya tersebut adalah pemanfaatan limbah cair PMKS dengan proses untuk land
application.

2
B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara pengelolaan limbah cair dengan pola land application dari pabrik kelapa
sawit?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini ini adalah

Mengetahui cara pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit dengan pola land application.

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah

Untuk mengetahui manfaat penggunaan limbah cair pabrik kelapa sawit serta mengetahui
dampak positif dan negatif cara pengelolaan limbah dengan pola land appllication.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Timbulan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Konsep Zero Emissions seyogyanya dapat diterapkan pada Industri Kelapa sawit,
karena konsep ini mempunyai falsafah dasar yang menyatakan bahwa proses industri
seharusnya tidak menghasilkan limbah dalam bentuk apapun karena limbah tersebut
merupakan bahan baku bagi industri lain. Melalui penerapan konsep ini, proses-proses
industri akan menghemat sumber daya alam, memperbanyak ragam produk, menciptakan
lebih banyak lapangan kerja baru serta mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Zero Emissions menggambarkan perubahan konsep industri dari model linier dimana limbah
dipandang sebagai norma, sistem terintegrasi yang memandang kepada nilai gunanya. Zero
Emissions mengawali revolusi industri selanjutnya, dimana industri meniru siklus
berkelanjutan alam dan manusia dan tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara terus
menerus.
Limbah cair yang dihasilkan oleh pabrik minyak kelapa sawit ( PMKS) berkisar antara
550-670 kg/ton tandan buah segar (TBS) . Limbah cair kelapa sawit ini mengandung bahan
organik dan anorganik yang cukup tinggi. Semua parameter limbah cair PMKS berada diatas
ambang batas baku mutu limbah. Jika tidak dilakukan pencegahan dan pengolahan limbah,
maka akan berdampak negatif terhadap lingkungan seperti pencemaran air yang mengganggu
bahkan meracuni biota perairan, menimbulkan bau, dan menghasilkan gas methan dan CO2
yang merupakan emisi gas penyebab efek rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan.
(Hidayat, 2016)

Berbagai jenis penelitian dilaksanakan selain bertujuan untuk menekan dampak negatif
limbah terhadap manusia dan lingkungan, juga agar limbah tersebut dapat dimanfaatkan
secara maksimal dan tidak menimbulkan sampah (the zero waste concept) sehingga
memberikan nilai tambah. Di antara upaya tersebut adalah pengolahan limbah cair sawit
dengan cara konvensional menggunakan kolam anaerob dan aerob. Pengolahan dengan
cara ini mampu menurunkan kadar BOD dan COD sampai 85% - 95% (Rahardjo R. N., 2005).
Tetapi proses pengolahan dengan cara ini kurang ekonomis karena memerlukan
arealpengolahan limbah yang luas, timbulnya bau, dan kontaminasi air limbah di daerah
sekitar kolam, membutuhkan waktu penahanan hidrolisis yang lama serta gas metana yang

4
dihasilkan tidak dapat dimanfaatkan (Ermadani, Muzar, & Ali, 2011)).

Limbah cair pabrik kelapa sawit di hasilkan dari pengolahan Tandan buah segar (TBS)
yang telah dipanen di kebun diangkut ke lokasi pabrik minyak sawit yang di olah menjadi
CPO dan menghasilkan limbah padat, cair dan gas sewaktu pengeloahannya. Limbah
cair kelapa sawit berasal dari kondensat, stasiun klarifikasi dan hidrocyclon
atau yang lebih dikenal dengan istilah Palm Oil Mill Effluent (POME).
POME merupakan sisa buangan yang tidak memiliki racun tetapi memiliki daya
pencemaran yang tinggi karena kandungan organiknya dengan nilai BOD berkisar
18.000 - 48.000 mg/L dan nilai COD berkisar 45.000 - 65.000 mg/L. Jumlah limbah cair
yang dihasilkan dari beberapa unit pengolahan adalah 120 m3/hari berupa kondensat

rebusan, 450 m3/hari dari stasiun klarifikasi, dan 30 m3/hari dari buangan hidrosiklon. Total
volume limbah dari setiap pabrik kelapa sawit dengan kapasitas

30 ton tandan buah segar /hari adalah 600 m3/hari (Naibaho, 2003)
Timbulan limbah cair bisa di lihat pada diagram alir di bawah ini

5
Sedangkan lanjutannya seperti pada bagan berikut :

Gas Bio
Pemanfaatan Gas Bio

Limbah Cair Kelapa Pemisah Perombakan Perombakan


aerobik Sungai
Sawit Lumpur An aerobik

Perombakan
Aneorobik Aplikasi Lahan

Pengeringan
Dengan Panas

Pengomposan
KOMPOS
/Pengering Biologis

Tandan Kosong
Sawit Pencacahan

Sedangkan untuk limbah cair hampir seluruh air buangan PKS mengandung bahan
organik yang dapat mengalami degradasi. Oleh karenanya dalam pengelolaan limbah perlu
diketahui karakteristik limbah tersebut, antara lain yaitu :

1. Jumlah, waktu pengadaan dan lokasi limbah maupun fluktuasinya sepanjang tahun atau
musim.
2. Pemanfaatan di lapangan, jumlah biomassa, kebutuhan tenaga kerja, peralatan, kondisi
jalan, bahaya, resiko kerusakan atau pelapukan
3. Transportasi, volume limbah, jarak sampai ditujuan, kondisi jalan.
4. Struktur fsik dan komposisi kimia maupun kandungan energi (nilai kalor bakar) bahan
limbah.
5. Berbagai alternatif pemanfaatan limbah, teknologi yang tersedia, biaya dan nilai produk

6
yang dihasilkan.

Dari Balance sheet ekstraksi minyak kelapa sawit diketahui bahwa jumlah air imbah
yang dihasilkan dari 1 ton CPO yang diproduksi adalah 2,50 ton disajikan pada tabel

Efisiensi pabrik kelapa sawit dapat ditingkatkan dengan pemakaian Decanter yang
hanya menghasilkan limbah cair sekitar 0,3-0,4 ton untuk setiap 1 ton TBS yang diolah,
sehingga limbah cair yang dihasilkan dapat ditekan hanya 24 ton/jam atau 1,667 m3 per 1 ton
CPO yang dihasilkan. Limbah cair yang akan dihasilkan dari seluruh proses produksi minyak
kelapa sawit diperkirakan maksimal ± 60% dari seluruh tandan buah segar yang diolah.
(Pertanian, Departemen, 2006)

Berdasarkan hasil penelitian terhadap beberapa PKS milik PTP (dianggap mewakili
PKS pada umumnya) oleh Bank Dunia diketahui bahwa kualitas limbah cair (inlet) yang
dihasilkan berpotensi mencemari badan air penerima limbah adalah seperti yang disajikan
pada Tabel berikut.

Limbah Cair Baku


Parameter
NO Satuan Mutu
Lingkungan Kisaran Rata rata
MELH
1 BOD mg/l 8.200- 35.000 21.280 250
2 COD mg/l 15.103 -65.100 34.720 500
3 TSS mg/l 1.330 – 50.700 31.170 300
4 Nitrogen mg/l
12 – 126 41 20
Total
5 Minyak dan mg/l
190 – 14.720 3.075 30
Lemak
6 pH - 3,3 – 4,6 4,0 6-9

7
B. Penangan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Konsep Zero Emissions seyogyanya dapat diterapkan pada Industri Kelapa sawit,
karena konsep ini mempunyai falsafah dasar yang menyatakan bahwa proses industri
seharusnya tidak menghasilkan limbah dalam bentuk apapun karena limbah tersebut
merupakan bahan baku bagi industri lain. Melalui penerapan konsep ini, proses-proses
industri akan menghemat sumber daya alam, memperbanyak ragam produk, menciptakan
lebih banyak lapangan kerja baru serta mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Zero Emissions menggambarkan perubahan konsep industri dari model linier dimana limbah
dipandang sebagai norma, sistem terintegrasi yang memandang kepada nilai gunanya. Zero
Emissions mengawali revolusi industri selanjutnya, dimana industri meniru siklus
berkelanjutan alam dan manusia dan tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara terus
menerus.
Zero Emissions memperlihatkan keseluruhan input yang dipakai atau dicetak dalam
produk akhir sehingga memiliki nilai tambah sebagai input untuk industri atau proses lain.
Dengan cara ini, industri akan mengorganisasikan kembali sistemnya menjadi kelompok-
kelompok“ yang akan menerima masukan produk sampai atau limbah yang dihasilkan proses
sebelumnya. Secara keseluruhan proses ini menjadi proses yang terintegrasi tanpa limbah.
Ilustrasi yang terlihat pada Gambar dibawah ini dapat menggambarkan perbedaan linear
konvensional dengan model Zero Emissions.

Dalam pengolahan limbah cair pada Industri Kelapa Sawit dapat menerapkan
beberapa teknik sebagai berikut :

1. Sistem Kolam Stabilisasi Biasa


Proses pengolahan Limbah Pabrik Kelapa Sawit (LPKS) terdiri Minimalisasi
limbah Pemanfaatan kembali/recycle nutrisi dari perlakuan awal dan pengendalian
lanjutan. Perlakuan awal meliputi segregasi aliran, pengurangan minyak di tangki
pengutipan minyak (fat-pit), penurunan suhu limbah dari 70-80°C menjadi 40-45°C
melalui menara atau bak pendingin. Setelah segregasi aliran limbah pada PKS
kapasitas olah 60 ton TBS/jam, volume air limbah yang diolah berkurang menjadi
700-750 m3/hari (Rahardjo P. N., 2009).
Proses biologis dapat mengurangi konsentrasi B0D limbah hingga 90%.
Dekomposisi anaerobik meliputi penguraian bahan organik majemuk menjadi senyawa

8
asam-asam organik dan selanjutnya diurai menjadi gas-gas dan air. Selanjutnya air
limbah dialirkan ke dalam kolam pengasaman dengan waktu penahanan hidrolis
(WPH) selama 5 hari. Air limbah di dalam kolam ini mengalami asidifikasi yaitu
terjadinya kenaikan konsentrasi asam-asam mudah menguap (volatile fatty acid
=FTA), sehingga air limbah yang mengandung bahan organic lebih mudah mengalami
biodegradasi dalam suasana anaerobik. Sebelum diolah di unit pengolahan limbah
(UPL) anaerobik, limbah dinetralkan terlebih dahulu dengan menambahkan kapur
tohor hingga mencapai pH antara 7,0-7,5. Pengendalian lanjutan dapat dilakukan
dengran proses biologis yang direkomendasi.
2. Proses Biologis Anaerobik-Aplikasi Lahan
Proses bologis dan aplikasi lahan (Land Application System=LAS), merupakan
salah satu sistem yang mernberikan keuntungan dalam Penanganan limbah. Limbah
yang diolah dengan cara tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk. Air limbah
yang langsung keluar dari fat-pit tidak sesuai untuk diaplikasikan ke areal tanaman
kelapa sawit, karena menimbulkan masalah terhadap lingkungan seperti timbulnya bau
yang tajam, meningkatnya populasi ulat dan lalat, tertutupnya pori-pori tanah oleh
padatan tersuspensi, minyak dan lain sebagainya. Pada Prinsipnya konsep pemakaian
limbah ke areal tanaman kelapa sawit adalah pemanfaatan dan bukan pembuangan
atau mengalirkan sewenang wenang. Pemanfaatan ini meliputi pengawasan terhadap
pemakaian limbah di areal, agar diperoleh keuntungan dari segi agronomis dan tidak
menimbulkan dampak yang merugikan (Huan, 1987).
Pemilihan teknik aplikasi yang sesuai untuk tanaman kelapa sawit sangat
tergantung kepada kondisi dan luas areal yang tersedia maupun faktor berikut: Luas
lahan yang tersedia dan jaraknya dari pabrik, dekat tidaknya dengan air sungai atau
pemukirnan penduduk. Tekhnik aplikasi lahan telah banyak dikembangkan di beberapa
negara pemilihan teknik aplikasi tergantung kepada kondisi topografi areal kebun.
3. Proses Biologis Tangki Anaerobik-Aerasi lanjut
Gasbio merupakan gas yang dihasilkan dengan proses biologis dalam kondisi
anaerobik. Gas yang dihasilkan berupa karbondioksida dan metan. Kom posisi rata-
ratanya adalah 60-70% gas metan, 20-40% gas karbondioksida, antara 0,2-0,3%
hidrogen sulfida, dan gas lainnya. Proses produksi gasbio ini se cara mikrobiologis
dikenal dengan istilah fermentasi metan. Bakteri yang berperan dalarn proses tersebut

9
adalah bakteri metan, terutama Methanobacillus omelianskii, dan bakteri metan lainnya
sepe.rti Methanobacterium formicum, Methanosarcina methanica, dan
methanococcusmazeki.
Pemilihan teknik ini memberikan keuntungan seperti pemanfaatan gasbio dan
lahan tidak perlu luas. Jika sistem tangki tertutup dan proses biologis menggunakan
bakteri termofil pada suhu 50-57 C, reaksi biologis berlangsung lebih cepat
dibandingkan dengan proses biologis menggunakan bakten mesofil. Masa retensi
dengan sistem tangki antara 10-17 hari. Kecepatan aliran dengan bahan organik > 4,8
kg padatan mudah menguap (volatile solids =VS) m3/hari atau 2,5 kg BOD/m3/hari
dengan ukuran tangki antara 1500-4200 m3. Pengadukan di dalam tangki dilakukan
dengan resirkulasi gasbio sebagai pengganti pengaduk mekanis dan temasuk
penghematan biaya sekitar 12 kw/1000 m3 kapasitas tangki anaerobik. Pengadukan
dengan, mengalirkan atau resirkulasi gasbio hanya memerlukan 1,8 kw/1000 m3
kapasitas tangki. Produksi gasbio diperkirakan 28 m3 per ton limbah yang diolah.
Banyaknya gasbio yang dihasilkan dari perombakan limbah merupakan sumber
energi yang potensial. Jumlah gasbio yang dihasilkan oleh PKS kapasitas olah 60 ton
TBS/jam dengan waktu operasi 20 jam/h dengan siklus 10 hari akan menghasilkan
20.000 m3 /hari atau 4,5 juta meterkubik pertahun. Apabila gasbio langsung dibakar,
setara dengan 3 juta liter bahan bakar solar perrtahun (nilai kalor 5.300 kkal/m
4. RANUT (Reaktor Anaerobik Unggun Tetap)
Secara konvensional pengolahan LCPKS dilakukan dengan sistem kolam yang
terdiri dari kolam anaerobik dan aerobik dengan total waktu retensi sekitar 90-120
hari. Keuntungan dari cara ini antara lain adalah:
- Kebutuhan energi rendah
- Sederhana
- Biaya investasi untuk peralatan rendah

Akan tetapi bila ditelaah lebih lanjut, sistem kolam mempunyai beberapa
kerugian antara lain:

- Emisi gas metana ke udara bebas


- Perlu Lahan yang luas
- Biaya pemeliharaan dan pengangan lumpur

10
- Hilangnya nutrisi saat limbah di buah kesungai.
Dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat dunia tentang pelestarian
lingkungan hidup serta adanya persaingan pada pasar global, maka mutu produk tidak
hanya dilihat dari aspek fisik dan kimianya saja, tetapi juga aspek lingkungannya. Eko
label akan menjadi parameter baru pada mutu produk dimasa depan. Pada prinsipnya
persyaratan untuk mendapatkan eko label adalah proses produksi yang menerapkan zero
waste.

C. Gambaran Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa sawit

Limbah cair kelapa sawit berasal dari kondensat, stasiun klarifikasi dan
hidrocyclon atau yang lebih dikenal dengan istilah Palm Oil Mill Effluent (POME).
POME merupakan sisa buangan yang tidak memiliki racun tetapi memiliki daya
pencemaran yang tinggi karena kandungan organiknya dengan nilai BOD berkisar
18.000 - 48.000 mg/L dan nilai COD berkisar 45.000 - 65.000 mg/L. Jumlah limbah cair
yang dihasilkan dari beberapa unit pengolahan adalah 120 m3/hari berupa kondensat
rebusan, 450 m3/hari dari stasiun klarifikasi, dan 30 m3/hari dari buangan hidrosiklon
Total volume limbah dari setiap pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton
tandan buah segar /hari adalah 600 m3/hari. (Naibaho, 2003)
Penanganan limbah cair secara umum dikelompokkan menjadi 6 bagian yaitu,
penanganan pendahuluan (pretreatment), penanganan pertama (primary treatment),
penanganan kedua (secondary treatment), penanganan ketiga (tertiary treatment),
pembunuhan kuman (disinfection), dan pembuangan lanjutan (ultimate disposal)
Penanganan buangan cair tidak harus melalui tahap tahap seperti di atas, tetapi sesuai
dengan kebutuhan. (Kementerian Kesehatan RI, 2011)
Penanganan pendahuluan dan penanganan pertama mencakup proses
pemisahan bahan bahan mengapung dan mengendap, baik secara fisik maupun kimia
Penanganan kedua umumnya mencakup proses biologi untuk mengurangi bahan
bahan organik melalui mikroorganisme yang ada didalamnya. Penanganan
ketiga merupakan kelanjutan dari penanganan sebelumnya bila masih terdapat bahan
berbahaya. Beberapa jenis penanganan ketiga ini adalah penyaringan pasir,

11
penyerapan, vakum filter, dan lain lain. Penanganan lanjutan dilakukan untuk
menangani lumpur yang dihasilkan pada penanganan sebelumnya (Rahardjo P. N., 2009).
Limbah lumpur aktif maupun limbah organik lainnya dapat ditangani dengan
proses pencernaan aerobic. Beberapa keuntungan proses pencernaan aerobic antara
lain tidak berbau, bersifat seperti humus, mudah dibuang, dan mudah dikeringkan.
Selain itu, pencernaan aerobik lebih mudah dilakukan dan biayanya lebih murah
dibandingkan pencernaan anaerobic. Beberapa kerugian pencernaan aerobic adalah
penambahan energy untuk memasok oksigen sehingga biaya operasinya lebih mahal,
tidak menghasilkan gas metana, dan lebih banyak menghasilkan lumpur sisa
dibandingkan pencernaan anaerobik (Pertanian, Departemen, 2006)

1. Kolam Fat Fit


Limbah dari PKS dialirkan masuk kedalam fat pit. Pada fat pit ini terjadi pemanasan
dengan menggunakan steam dari BPV. Pemanasan ini diperlukan untuk memudahkan
pemisahan minyak dengan sludge sebab pada fat pit ini masih dimungkinkan untuk
melakukan pengutipan minyak dengan menggunakan skimmer. Fungsi kolam fat-fit adalah
untuk mengutip sisa-sisa minyak yang masih tersisa dalam sludge dengan sistem pemanasan
(70-800C) dan pengendapan sesuai dengan prinsip pemurnian minyak. Setelah itu cairan
sludge dialirkan ke instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk diproses sebelum di
buang ke perairan umum. Sludge yang masih mengandung kadar minyak, ada yang langsung
dibuang ke deoling pond maupun ke bagian fat-fit untuk dikutip kadar minyaknya. Setelah
itu, sisa minyak tersebut dipompakan kembali ke bagian decanting basin. Selanjutnya sisa
minyak yang terkutip ini akan dipompakan ke bagian vibro untuk diayat kembali, setelah itu
minyak kembali dipompakan ke bak RO melalui Vibrating Screen/Vibro Seperator tadi.
Sedangkan minyak yang berasal dari bak RO akan dipompakan kembali ke bagian CST
untuk diolah kembali hingga diperoleh minyak murni, atau kembali lagi pada proses
pemurnian minyak sebelumnya.
Sebenarnya apabila pengutipan minyak dalam stasiun klarifikasi dapat dilakukan
maksimal, maka sisa minyak yang ada di bak Fat-fit relatif sangat sedikit atau dianggap tidak
ada. Jumlah minyak yang ada dalam bak dapat di jadikan sebagai indikator, apakah

12
pengutipan minyak di stasiun klarifikasi berjalan maksimal atau tidak. Bila jumlah minyak di
bak fat-fit banyak, maka harus dievaluasi stasiun klarifikasinya.

2. Kolam Pendingin
Merupakan kolam yang berfungsi untuk mendinginkan limbah cair. Limbah dari
sludge pit memiliki suhu (70-80C) dan didinginkan sampai (40-45C) selama 24 jam, hal ini
bertujuan agar limbah memiliki kondisi yang memungkinkan bagi bakteri mesophilic untuk
dapat berkembang Untuk mempercepat pendinginan maka limabah cair dilewatkan pada
sebuah tower. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengoperasian cooling pond adalah:

Sebelum Proses
a. Tentukan Cooling Pond mana yang akan diisi.
b. Pastikan pompa dalam kondisi siap digunakan.

Pada saat Proses


a. Buka keran inlet dari sludge pit ke Cooling Pond.
b. Hidupkan pompa sludge pit
c. Kontrol pengisian Cooling Pond agar tidak terisi terlalu penuh, batas pengisian 15 cm
dari permukaan kolam.
d. Check kebocoran pada mekanikal seal atau gland packing pada pompa
e. Pengisian cooling pond setiap hari bergantian agar penurunan tercapai.

Setelah Proses
a. Matikan pompa jika cooling pond sudah terisi penuh.
b. Tutup kran in let dari sludge pit ke cooling pond dengan baik.
c. Keesokan harinya jika minyak muncul dipermukaan maka dilakukan pengutipan.
d. Pengisian raw sludge dari cooling pond ke mixing pond tidak boleh sampai habis, untuk
mencegah terikutnya minyak.
Di dalam kolam ini akan terjadi penurunan BOD dari 15.000 – 35.000 mg/l,
menjadi 10.000 – 20.000 mg/l; COD dari 45.000 – 65.000 mg/l menjadi 25.000 – 45.000
mg/l; nitrogen total dari 80 – 120 mg/l menjadi 60 – 100 mg/l; TSS daei 15.000 – 25.000
mg/l menjadi 10.000 – 15.000 mg/l, Minyak dan lemak dari 6.000 – 10.000 mg/l menjadi

13
4.000 – 8.000 mg/l dan pH dari 3,5 – 4,6 menjadi 4,0 – 6,0.
3. Kolam Pengasaman ( Mixing Pond)

Mixing pond adalah tempat melakukan pencampuran antara limbah yang telah
didinginkan dengan lumpur yang diambil dari kolam anaerobic dengan perbandingan
tertentu. Pencampuran ini dimaksudkan agar bakteri yang telah aktif dari kolam anaerobic
dapat bercampur dengan limbah cair sehingga proses pengaktifan bakteri dapat lebih cepat.
Masa tinggal limbah di kolam pencampur adalah 24 jam. Mixing pond merupakan tempat di
mana fasa pertama proses acido genesis terjadi. Diharapkan pada mixing pond dengan
retention time satu hari mulai terjadi hidrolisis dan asidifikasi dari senyawa kompleks
menjadi senyawa sederhana. Temperatur raw effluent dari cooling pond diperhatikan sekitar
40 – 45 C agar bakteri mesophylic dapat berkembang. Perhitungan back mix ratio
disesuaikan agar fluktuasi ratio dapat di minimalkan. Tujuan pengoperasian kolam ini adalah
untuk meningkatkan pH menjadi 6 - 8
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian Mixing pond adalah :

Sebelum Proses
a. Tentukan Mixing Pond mana yang akan diisi.
b. Catat ketinggian level sludge pada mixing pond.
c. Pastikan pompa untuk back mix siap digunakan.

Pada saat Proses


a. Buka kran inlet dari cooling pond ke mixing pond.
b. Tutup kran apabila sludge telah mencapai level ketinggian, sesuai dengan rasio yang
diinginkan
c. Buka kran back mixing pond yang akan diisi.
d. Hidupkan pompa back mixing
e. Kontrol pengisian kolam mixing pond jangan sampai meluber
f. Dalam pelaksanaannya dilaksanakan parallel dengan kolam lainnya agar hemat waktu.

Setelah Proses
a. Setelah kolam mixing pond penuh, matikan pompa dan tutup kran dengan sempurna.

14
b. Setelah didiamkan selama 24 jam baru boleh untuk difeedingkan ke Anaerobik Pond.
c. Untuk sludge yang sudah dimix pada kolam mixing pada saat feeding harus dihabiskan,
untuk mencegah terbentuknya kerak pada kolam mixing.

Sasaran Di dalam kolam ini akan terjadi penurunan BOD dari 10.000 – 20.000 mg/l
menjadi 6.000 – 15.000 mg/l; COD dari 25.000 – 45.000 mg/l menjadi 15.000 – 25.000
mg/l; nitrogen total dari 60 – 100 mg/l menjadi 40 – 80 mg/l ; TSS dari 10.000 – 15.000
mg/l menjadi 6.000 – 10.000 mg/l, Minyak dan lemak dari 4.000 – 8.000 mg/l menjadi
2.000 – 6000 mg/l dan pH dari 4,0 – 6,0. Menjadi 6 – 9.

4. Kolam An-aerobik
Setelah 1 hari, limbah cair di mixing pond dialirkan ke kolam anaerobic, Limbah
yang telah dinetralkan kemudian dialirkan ke kolam anaerobik. Pada kolam ini limbah cair
masih mengandung senyawa organik yang kompleks seperti lemak, karbohidrat, dan protein
yang akan dirombak oleh bakteri anaerobik menjadi asam organik dan selanjutnya menjadi
gas metana (CH4), karbondioksida (CO2), dan air (H2O). Proses perombakan limbah dapat
berjalan lancar jika kontak antara limbah dengan bakteri yang berasal dari kolam pembiakan
juga berjalan dengan baik, Sasaran parameter air limbah setelah keluar dari kolam an
aerobik ini adalah BOD 3.000 – 5.000 mg/l, COD 1.000 – 2000 mg/l, nitrogen total 30 – 50
mg/l, TSS 1.000 – 5000 mg/l, Minyak dan lemak 500 – 1.000 mg/l dan pH 6.0 – 9.0
(Indianrto, Idwar, & Amri, 2016)

5. Kolam Pengendapan (Contact Pond)


Kolam pengendapan berfungsi sebagai pengendapan lumpur sebelum seluruh air
limbah di manfaatkan untuk kegiatan land application, sehingga tidak terdapat air limbah
yang tidak di manfaatkan (tidak di buang di perairan umum). Mekanisme pembersihan hasil
endapan pada unit kolom pengendapan adalah dilakukan secara mekanis yaitu menggunakan
pompa penyedot lumpur. Lumpur tersebut di tampung didalam drum atau bak truk yang
tertutup kemudian digunakan untuk pemupukan kelapa sawit

15
Proses pengelolaan limbah bisa dilihat pada diagram berikut ini :

Inlet IPAL

Fat Fit

Cooling Pond Cooling Pond

Mixing Pond Mixing Pond

An aerobic An aerobic An aerobic An aerobic


Pond Pond Pond Pond

Contac Pond LAND APPLICATION

D. Pemanfaatan Limbah Cair Untuk Land Application


Ada beberapa pilihan dalam pengelolaan limbah cair PKS setelah diolah di kolam
pengelolaan limbah (IPAL) diantaranya adalah dibuang ke badan sungai atau diaplikasikan
ke areal tanaman kelapa sawit yang dikenal dengan land application. Pembuangan limbah
cair ke badan sungai bisa dilakukan dengan syarat telah memenuhi baku mutu yang

16
ditetapkan oleh peraturan perundangan. Alternatif ini mempunyai beberapa kelemahan
diantaranya:
1. Pengelolaan limbah cair sehingga menjadi layak dibuang ke badan sungai (BOD
dibawah 100 ppm ), secara teknis bisa dilakukan tetapi memerlukan biaya dan teknologi
yang tinggi di samping waktu retensi efluen yang panjang di kolam-kolam pengelolaan.
2. Tidak ada nilai tambah baik bagi lingkungan maupun bagi perusahaan
3. Merupakan potensi sumber konflik oleh masyarakat karena perusahaan dianggap
membuang limbahnya ke badan sungai adalah berbahaya walaupun limbah tersebut
mempunyai BOD di bawah 100 ppm.
Model alternatif lainnya dalam pengelolaan efluen adalah dengan mengaplikasikan
ke areal pertanaman kelapa sawit (land application), sebagai sumber pupuk dan air irigasi.
Banyak lembaga penelitian yang melaporkan bahwa efluen banyak mengandung unsur hara
yang cukup tinggi. Potensi ini menjadi semakin penting artinya dewasa ini karena harga
pupuk impor yang meningkat tajam serta kerap terjadinya musim kemarau yang
berkepanjangan. (Irvan, Agusta, & Yahya, 2009)
Persiapan aplikasi limbah cair sebelum dilaksanakan pengaplikasian limbah
cair terlebih dahulu dipersiapkan hal-hal sebagai berikut :
1. Menentukan lokasi yang akan diaplikasikan limbah cair, diutamakan lokasi
dekat dengan pabrik.
2. Menentukan sistem aplikasi yang cocok, apakah Flat bed, Long bed, Furrow
bed, dan Spraying.
3. Jika yang dipilih sistem bed, maka terlebih dahulu dibuat Bed nya dan
dipasang jaringan pipa saluran limbah cair serta kran pengaturnya
4. Jika yang dipilih sistem Spraying, maka dipersiapkan traktor, tangki dan
Pompanya
5. Membuat jadwal aplikasi selama setahun
6. Mempersiapkan petugas untuk mengoperasikan sistem aplikasi yang
digunakan, diberi petunjuk dan pelatihan yang memadai

Pada Prinsipnya konsep pemakaian limbah ke areal tanaman kelapa sawit adalah
pemanfaatan dan bukan pembuangan atau mengalirkan sewenang-wenang. Pemanfaatan ini
meliputi pengawasan terhadap pemakaian limbah di areal, agar diperoleh keuntungan dari
segi agronomis dan tidak menimbulkan dampak yang merugikan Pemilihan teknik aplikasi
yang sesuai untuk tanaman keiapa sawit sangat tergantung kepada kondisi dan luas areal

17
yang tersedia maupun faktor berikut: Luas lahan yang tersedia dan jaraknya dari pabrik,
dekat tidaknya dengan air sungai atau pemukirnan penduduk.

Tekhnik aplikasi lahan telah banyak dikembangkan di beberapa negara. Pemilihan


teknik aplikasi tergantung kepada kondisi topografi areal kebun, (Pertanian, Departemen,
2006) teknik aplikasi sebagai berikut:

1. Teknik penyemprotan/sprinkler
Limbah cair yang sudah diolah dengan PBAn dengan WPH selama 75-80 hari
diaplkasikan ke areal tanaman kelapa sawit dengan penyemprotan/sprinkler berputar
atau dengan arah penyemprotan yang tetap Sistem ini dipakai untuk lahan yang datar
atau sedikit bergelombang, untuk mengurangi aliran permukaan dari limbah cair yang di
gunakan. Setelah penyaringan limbah kemudian dialirkan ke dalam bak air yang
dilengkapi dengan pompa setrifugal yang dapat memompakan lumpur dan me
ngalirkannya ke areal melalui pipa PVC diameter 3“. Kelemahan sistem ini adalah
sering tersumbatnya nozzle sprinkler oleh lumpur yang dikandung limbah cair tersebut.
Disamping itu biaya pembangunan instalasi sistern sprinkler relative mahal.

2. Sistem Flatbed atau teknik parit dan teras


Sistem ini digunakan di lahan berombak-bergelombang dengan membuat
konstruksi diantara baris pohon yang dihubungkan dengan saluran parit yang dapat
mengalirkan limbah dari atas ke bawah dengan kemiringan tertentu. Sistem ini
dibangun mengikuti kemiringan tanah. Teknik aplikasi limbah adalah dengan
mengalirkan limbah (kadar BOD 3.500-5.000 mg/l), dari kolam limbah melalui pipa ke
bak-bak distribusi, berukuran 4m x 4m x 1m, ke parit sekunder (flatbed) berukuran
2,5m x 1,5m x 0,25m, yang dibuat setiap 2 baris tanaman.

Sistem ini dapat dibangun secara manual atau dengan mekanis menggunakan
back-hoe. Flatbed dibangun dengan kedalaman yang cukup dangkal. Limbah cair yang
akan diaplikasi dipompakan melalui pipa ke atas atau ke dalam bak distribusi. Setelah
penuh, lalu dibiarkan mengalir ke bawah dan masing-masing teras atau flatbed diisi
sampai ke tempat yang paling rendah. Seperti pada gambar dibawah ini aplikasi
tergantung kepada kecepatan alir, dan dapat dialirkan secara simultan melalui beberapa
baris flatbed dalam areal tanaman. Dengan teknik pengaliran ini, secara periodik lumpur

18
yang tertinggal pada flatbed dikuras agar tidak tertutup lumpur

Aplikasi ini bisa dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar di atas menunjukan penggunan land application pada perkebunan kelapa


sawit, di mana di Kabupaten Paser baru beberapa perusahaan yang menerapkan metode ini
salah satunya PT Borneo Indah Marjan ( BIM), dimana pengelolaan limbahnya sudah cukup
bagus seperti gambar di bawah ini :

19
Keuntungan pemanfaatan timbah cair PKS secara umum adalah seperti berikut:
1. Meningkatkan populasi mikroflora dan mikrofauna tanah maupun aktivitasnya
2. Memperbaiki struktur fisik tanah
3. Meningkatkan aerasi, peresapan, retensi, dan kelembaban
4. Meningkatkan kandungan organik tanah, pH tanah dan kapasitas tukar kation tanah.
5. Meningkatkan perkembang-biakan dan perkembangan akar.
Aplikasi limbah cair sebagai pupuk tidak boleh menyebabkan penurunan mutu air
tanah, kerusakan tanah, dam penurunan mutu air tanah pada sumber-sumber air yang
berasal dari air larian dari kegiatan pernanfaatan pupuk tersebut, sehingga diperlukan
sumur pantau yang berfungsi untuk memantau kemungkinan terjadinya pencemaran pada
air tanah. Penetapan titik sumur pantau dilaksanakan dengan melibatkan instansi terkait
seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan dicantumkan dalam suatu berita acara, sumur
pantau di periksa setiap 6 bulan – 1 tahun sekali.

20
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia mengalami peningkatan yang
sangat signifikan. Hal ini disebabkan tingginya permintaan atas Crude Palm Oil (CPO) sebagai
sumber minyak nabati dan penyediaan untuk biofuel. Namun industri pengolahan kelapa sawit
merupakan industri yang yang sarat dengan residu hasil pengolahan. Jika tidak dilakukan
pengolahan secara baik dan profesional, maka limbah industri merupakan sebuah potensi
bencana bagi manusia maupun lingkungan. Perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengeolahan
buah kelapa sawit sudah berkembang dengan pesatnya, apalagi di kabupaten komoditas utama
penyumbang pendapatan daerah terbesar kedua setelah pertambangan adalah sektor perkebunan
terutama kebun kelapa sawit
Perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengeolahan buah kelapa sawit selain membawa
dampak positif bagi perekonomian daerah juga mempunyai dampak negatif dengan
menghasilkan sisa buangan produksi berupa limbah padat, limbah cair dan limbah gas. Konsep
pengelolaan limbah sawit dilakukan dengan strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat
preventif, terpadu, dan diterapkan secara terus menerus pada setiap kegiatan mulai dari hulu
hingga hilir yang terkait dengan proses produksi, produk, dan jasa untuk meningkatkan
efesiensi pemakaian sumberdaya alam, mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan dan
mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya
Apabila limbah tersebut di biarkan saja akan berakibat terhadap gangguan ekosistem
lingkungan serta berdampak pada kesehatan manusia. Sehingga di perlukan penanganan
terhadap limbah yang di hasilkan oleh perusahaan kelapa sawit tersebut,seperti pemanfaatan
limbah cair untuk land application, untuk menghemat biaya pemupukan dan bisa menghasilkan
zero waste pada limbah cair.
B. Saran
1. Dalam pengelolaan industri kelapa sawit agar terwujud produk bersih perlu menerapkan
prinsip 1E 4R (Elimination, Reduce, Reuse, Recycle, dan Recovery).
2. Diperlukan penelitian-penelitian lanjutan teknologi pengelolaan limbah industri kelapa
sawit, sehingga limbah yang dihasilkan secara maksimal dapat dimanfaatkan (zero waste).
3. Diperlukan penyusunan kebijakan pengelolaan industri kelapa sawit yang ramah
lingkungan dan lestari

21
DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Kab Paser. (2015). Profil Kabupaten Paser. Dalam B. K. Paser


(Penyunt.). Tanah Grogot: Bappeda Kab Paser.
Bappeda Prop Kaltim. (2015). Profil Provinsi Kalimantan Timur (1 ed.).
Samarinda: Bappeda Prop Kaltim.
Ermadani, Muzar, & Ali. (2011). Pengaruh Aplikasi Limbah Cair Pabrik Kelapa
Sawit terhadap Hasil Kedelai dan Perubahan Sifat Kimia Tanah Ultisol.
Jurnal Agronomi Indonesia, 39, 160.
Hidayat, N. (2016). Bio Proses Limbah Cair (1 ed.). Yogyakarta: CV Andi Offset.
Husaini, & marliane, l. (t.thn.).
Indianrto, A., Idwar, & Amri, A. I. (2016). Beberapa Dosis Limbah Cair Pabrik
Kelapa sawit dan Media Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Fase
Main Nursery. Jom Faferta, 3, 1.
Irvan, H., Agusta, H., & Yahya, S. (2009). Pengelolaan Limbah Kelapa Sawit di
Sungai Pinang Estate, PT Bina Sains Cemerlang, Minamas Plantation.
Bogor.
Kementerian Kesehatan RI. (2011). Pedoman Teknis Instalasi Pengolahan Air
Limbah Dengan Sistem Biofilter Anaerob Aerob Pada Fasilitas Pelayanan
Kesehatan. Jakarta: Direktorat Bina Sarana Kesehatan.
Naibaho, P. M. (2003). Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit (2 ed.). Medan:
PPKS.
Pardamean, M. (2014). Mengelola Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit Secara
Profesional (1 ed.). Jakarta: Penebar Swadaya.
Pertanian, Departemen. (2006). Pedoman Pengelolaan Limbah Pabrik Kelapa
Sawit (1 ed.). Jakarta: Departemen Pertanian.
Rahardjo, P. N. (2009). STUDI BANDING TEKNOLOGI PENGOLAHAN
LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT. JURNAL TEKNOLOGI
LINGKUNGAN, 10, 9.
Rahardjo, R. N. (2005). Permasalahan Teknis Instalasi Pengeolahan Air Limbah
Pabrik Kelapa Sawit. JAI, 1, 44.
Rupani, P. F., Embrandiri, A., Ibrahim, M. H., Shahadat, M., & Mansor, N. N.

iv
(2017). Bioremediation of palm industry wastes using vermicomposting
technology: its environmental application as green fertilizer. Springer-
Verlag, 155.