Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MATA KULIAH

BIOKIMIA DAN FISIOLOGI NUTRISI


(TNK 42216)
Doesn pengampu : Dr. drh. I Gusti Agung Arta Putra, M.Si
E-mail artaputra@gmail.com

Review Makalah
PERBAIKAN PAKAN DAN PENGGUNAAN HORMON PADA
SAPI INDUK UNTUK MENGHASILKAN PEDET KEMBAR
DI JAWA TIMUR

AMBIUS ANTON
NIM. 1790511001

PROGRAM STUDI DOKTOR ILMU PETERNAKAN


PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018
Judul PERBAIKAN PAKAN DAN PENGGUNAAN HORMON PADA
SAPI INDUK UNTUK MENGHASILKAN PEDET KEMBAR DI
JAWA TIMUR
Sumber Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011
1
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, Jl. Raya
Karangploso Km. 4, Malang 65101
2
Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Malang, Jl. Dr. Cipto 144 A,
Bedali, Lawang, Malang
Website Pdf. PERBAIKAN PAKAN DAN PENGGUNAAN HORMON PADA
SAPI INDUK UNTUK MENGHASILKAN PEDET KEMBAR DI
JAWA TIMUR.
peternakan.litbang.pertanian.go.id
Penulis Dini Hardini1, A. Mualif1, Iswati2 Dan Riyanto2
Reviewer Ambius Anton
Tanggal 13 Juni 2018
unggah
Pendahuluan Penelitian ini ditujukan untuk menjawab semua tantangan yang

dihadapi oleh bangsa Indonesia terkait dengan penyediaan pangan

khususnya daging sapi. Permasalahan yang diuraikan adalah produksi

daging sapi dalam negeri masih rendah dan untuk memenuhi konsumsi

daging sapi diperlukan impor. Selain itu, juga diuraikan kinerja

reproduksi sapi potong yang berada di peternakan rakyat masih rendah

yang ditujukkan dengan panjangnya jarak beranak, jumlah kelahiran

anak pertahun rendah, service perconception tinggi dan daya fertilitas

rendah.

Solusi dalam mengatasi masalah ini tercermin dalam Peratutan Menteri

Pertanian Nomor: 59/Permentan/HK.060/8/2007 tentang Pedoman

Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS). Upaya

yang akan dilakukan untuk peningkatan populasi yaitu melalui

terobosan teknologi “twinning”. Hasil estimasi yang diperoleh dalam

satu populasi sapi potong induk akan lebih efisien dibandingkan


teknologi konvensional. Dari hasil estimasi diperoleh efisiensi produksi

sapi potong meningkat sekitar 24% apabila twinning rate >40%.

Dijelaskan juga, bahwa untuk mengakselreasi peningkatan populasi

tersebut salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan teknik

suveropulasi dengan bantuan hormon seperti PMSG (Pregnant Mare

Serum Gonadotrophine) atau FSH (Folicle Stimulating Hormone). Dari

beberapa penelitian yang dilakukan pada sapi induk menunjukkan

bahwa sapi yang diinduksi dengan kedua preparat hormon tersebut,

induk dalam 1 kali ovulasi menghasilkan lebih dari sel telur (ovum)

yang masak.

Kelahiran kembar umumnya terjadi pada kambing/domba sekitar 60-

70% dari pada sapi yang hanya 0,5-4%, hal ini disebabkan oleh satus

nutrisi pada saat ovulasi selain karena keturunan. Dengan perbaikan

kualitas pakan dan bantuan hormon, kelahiran sapi kembar berpeluang

meningkatkan populasi dan produksi sapi di Indonesai.

Metode Metode yang diuraikan oleh Hardiani et al., (2011) adalah sebagai
berkut:
Pelaksanaan penelitian
1. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan
dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5
perlakuan, masing-masing perlakuan menggunakan 3 ekor sapi
induk sebagai ulangan.
2. Pemberian obat cacing dilakukan per oral pada awal pengkajian
untuk mengobati dan menghindari materi pengkajian dari gangguan
cacing yang akan mempengaruhi kondisi fisiologis dan
metabolisme tubuh ternak.
3. Pemberian garam 2 sendok makan dan mineral 1 sendok makan per
ekor rutin setiap hari.
4. Pemberian rumput lapang sebanyak 30 kg/ekor setiap hari sebagai
pakan basal.
5. Pemberian pakan berfitohormon (ampas tahu dan bungkil kedelai)
diberikan selama 2 kali siklus birahi (42 hari).
6. IB (Inseminasi Buatan) dilakukan 2 kali (10 jam setelah tanda awal
birahi, kemudian 5 jam kemudian) dengan dosis dobel (kiri dan
kanan).
7. Test untuk mengetahui kebuntingan dilakukan dengan palpasi rektal
dilakukan pada umur < 2 bulan kebuntingan.
8. Sampling darah dan analisis kadar hormone progesteron saat hari ke
19 dan 45 hari setelah IB.
9. Pemberian hormon PMSG dengan metode terdapat pada Gambar 1.

Parameter yang diamati


1. Jumlah CL (corpus luteum) pada hari ke 19 setelah IB melalui
palpasi rektal.
2. Kadar progesteron darah (ng/ml) dengan menggunakan metode
Enzyme Immunoassay Test Kit Catalog Number: 4S00121,
dilakukan sesaat sebelum dilakukan injeksi hormon (H0), hari ke-19
dan hari ke-45 setelah IB.
3. Kualitas sperma.

Analisis data
Data hasil ditabulasikan dan dianalisis dengan menggunakan analisis
deskriptif, dan uji perbandingan untuk masing-masing parameter.

Hasil dan Hasil dan pembahasan diuraikan sebagai berikut:


Pembahasan Dijelaskan bahwa dasar pertimbangan penggunaan sapi PO (peranakan
ongol) sebagai objek adalah dikarenakan berdasarkan hasil survei
tahun 2009 menunjukkan bahwa bangsa induk sapi yang melahirkan
pedet kembar adalah PO. Selain itu, untuk mempertahankan dan
mengembangkan sapi lokal yang mulai cendrung kurang disukai oleh
peternak, tergantikan dan beralih memelihara bangsa sapi silangan
(cross breed). Kinerja induk sapi PO seperti disajikan pada Tabel 2.
Hasil pengamatan terdapat beberapa induk sapi PO belum di
inseminasi (IB) dikarenakan faktor teknis yaitu (1) waktu pengamatan
estrus tidak tepat sehingga masa estrus terlewat; (2) induk sapi
menunjukkan gejala silent heat karena kondisi induk masih menyusui
(umur pedet >3 bulan belum disapih).
Solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah pada induk yang
mengalami silent heat adalah (1) menunggu waktu estrus pada periode
berikutnya; (2) meningkatkan kewaspadaan pada masa sapi estrus dan
(3) khusus untuk materi dengan aplikasi hormon, dilakukan
penyuntikan kembali hormon PGF untuk merangsang sapi estrus
kembali.
Semen yang digunakan sesuai hasil evaluasi (Tabel 3) untuk inseminasi
memiliki kualitas relatif baik, sehingga salah satu faktor penyebab
gagal/tidak terjadinya kebuntingan yang diakibatkan karena jeleknya
kualitas semen dapat ditekan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan CL dilakukan pada hari ke-19 setelah
IB dengan cara palpasi rektal, jumlah CL yang dapat dihitung tertera
pada Tabel 4. Dari hasil pemeriksaan CL menunjukkan tidak ada
perbedaan yang nyata (ns= non significant) antara semua perlakuan.
Namun demikian terlihat bahwa peluang induk sapi potong memiliki
anak kembar pada perlakuan III dan IV yaitu pemberian pakan
berfitohormon ampas tahu atau bungkil kedelai yang dikombinasikan
dengan pemberian hormone PMSG yaitu 1,67 dan 2. Hal ini terlihat
dari adanya CL pada masing-masing 2 sisi kiri dan kanan dan didukung
oleh data kadar progesterone darah hari ke-45 setelah IB yaitu berturut-
turut 6,573 dan 6,970 ng/ml yang tertera pada Tabel 5. Tabel 5
menunjukkan data kadar progesterone darah sapi induk pada 45 hari
setelah IB > 4 ng/ml, berarti sapi dalam kondisi bunting. Sapi dapat
dikatakan bunting apabila kadar hormone progesteron saat usia
kebuntingan 1,5 bulan (> 4 ng/ml), 3 bulan (> 10 – < 25 ng/ml) dan > 3
bulan (> 25 ng/ml) (MAHAPUTRA et al., 1996).
Dengan demikian aplikasi penggunaan hormon pada sapi efektif untuk
meningkatkan kadar progesterone darah. Dibandingkan dengan
perlakuan non hormone. Hal ini terlihat jelas bahwa, kadar progesteron
darah sapi dengan perlakuan hormon sudah terdeteksi lebih tinggi sejak
hari ke-19 setelah pelaksanaan IB dan semakin nyata terlihat
perbedaannya pada hari ke-45.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hardini et al., (2011) didukung
oleh beberapa peneliti seperti:
Milvae et al., (1996) mengatakan bahwa, pemberian GnRH untuk
memperbaiki kondisi ovarium agar dapat berfungsi secara optimum,
sedangkan pemberian PMSG atau FSH bertujuan untuk membuat super
ovulasi sehingga setiap kali sapi estrus dapat mengovulasi lebih dari
satu sel telur dan sperma dari pejantan dapat membuahi lebih dari satu
sel telur.

Demikian juga Macmillan (1983) menjelaskan bahwa setelah folikel


tumbuh karena pengaruh hormon FSH dari pituitary anterior maka sel-
sel folikel mampu menghasilkan estrogen dan progesteron. Kedua
hormon ini dalam dosis kecil akan menyebabkan terlepasnya hormon
LH. Hormon LH memegang peranan penting dalam menggertak
terjadinya ovulasi. Sisa folikel yang telah mengalami ovulasi akan
terbentuk korpus luteum sebagai akibat dari proses luteinasi dari
korpus haemoragikum oleh pengaruh hormon LTH, terjadilah
pertumbuhan lebih lanjut dari sel-sel tersebut. Temunan baru akan
berubah warna menjadi kuning dan menghasilkan progesteron yang
semakin lama akan semakin tinggi pada puncak siklus birahi.
Disini juga dijelaskan bahwa, proses terjadinya ovulasi pada sapi
terjadi sekitar 10-12 jam setelah estrus berakhir, adanya gangguan pada
saat ovulasi dapat menyebabkan tidak terjadinya fertilisasi dan atau
gangguan perkembangan embrio. Gangguan ovulasi dapat terjadi
karena defisiensi atau ketidakseimbangan endokrin dan faktor lainnya.
Dijelaskan juga peluang terjadinya sapi kembar juga terdapat pada sapi
induk yang diberi pakan berfitohormon tanpa pemberian hormon, hal
ini dapat disebabkan karena perbaikan pemeliharaan ternak selama
pengkajian dengan adanya pemberian obat cacing, vitamin, mineral
serta didukung kondisi kandang dan ternak yang sehat. Beberapa
vitamin dan mineral sangat diperlukan tubuh untuk proses metabolisme
nutrien dan enzim yang maksimal, seperti vitamin A yang salah satu
fungsinya untuk diferensiasi seluler dan poliferasi reproduksi serta
imun. Demikian pula pada asam folat yang terkandung dalam pakan
dapat menjaga/mempertahankan kondisi janin dalam kandungan.
Perbaikan kondisi tubuh terutama organ reproduksi ternak akibat
pemberian pakan yang lebih baik jumlah dan mutunya.
Pakan berbasis kedelai seperti ampas tahu dan bungkil kedelai
diketahui merupakan limbah dari pangan fungsional yang selain secara
nutrisi baik untuk kesehatan, juga mengandung zat lain yaitu
isoflavonoid dan lignan. Isoflavonoid merupakan senyawa yang
berfungsi sebagai anti oksidan dan dikenal sebagai zat anti kanker.
Bahan pakan yang berasal dari biji- bijian juga memiliki fitosterol yang
merupakan prekursor hormon reproduksi (Murray et al., 2003). Bila
konsentrasi hormon telah mencapai tingkat yang diperlukan tubuh,
maka sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai berekspresi.

Kelebihan 1. Pemanfaatan limbah pangan fungsional dari biji-bijian yang


dan
keunggulan mengandung fitosterol dan isoflavonoid baik digunakan sebagai
makalah ini
pakan sebagai ternak yang berfungsi sebagai prekursor hormon

reproduksi dan sebagai anti oksidan dan dikenal sebagai zat anti

kanker.
2. Teknologi twinning dengan bantuan hormon (PMSG dan FSH) dan

perbaikan kualitas dan kuantitas pakan dapat diaplikasikan ditingkat

lapang untuk peningkatan populasi dan produksi daging nasional.


3. Adanya temunan baru pada perberubahan warna menjadi kuning

dan menghasilkan progesteron yang semakin lama akan semakin

tinggi pada puncak siklus birahi.


Kekurangan 1. Ulasan tentang metabolisme nutrisi pakan yang mengandung
atau
kelemahan fitohormon terhadap mekanime kerja hormon reproduksi terutama
makalah ini
sebagai perkusor hormon masih terbatas.
2. Penggunaan preparat hormon secara terus menerus diduga dapat

mempengaruhi siklus reproduksi normal ternak sapi pada perode

berikutnya.
3. Preparat hormon tidak tersedia dan dijual secara bebas dipasaran
(import) yang diduga dapat menghambat pelaksaan program

twinning.
Kesimpulan 1. Pemberian pakan berfitohormon dapat meningkatkan peluang

terjadinya kelahiran pedet kembar (jumlah CL 1,33).


2. Pemberian pakan dan hormon berpeluang paling tinggi untuk

menghasilkan pedet kembar (jumlah CL 1,67 s/d 2).


3. Perlu dilakukan pengulangan IB pada beberapa ekor sapi induk

karena saat di IB belum kondisi menyapih (walaupun telah berusia

> 3 bulan) menyebabkan munculnya tanda estrus tidak jelas (silent

heat) sehingga waktu estrus terlewati.


Manfaat 1. Memberikan informasi tentang teknologi reproduksi bidang

peternakan khususnya pada program twinning.


2. Sebagai bahan acuan bagi peneliti untuk mengkaji peranan pakan

berfitohormon terhadap kinerja hormon reproduksi.


3. Bagi pengambil kebijakan dapat digunakan sebagai acuan dalam

mengambil keputusan untuk program peningkatan populasi dan

produksi daging dalam negeri.