Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Kolik renal adalah nyeri pinggang hebat yang bersifat hilang timbul
(intermitten), yang datangnya mendadak. Nyeri ini timbul akibat peregangan
peningkatan perstaltik dan spasme otot polos untuk melawan obstruksi akut di
ginjal, pelvis renal atau ureter. Nyeri awalnya dirasakan di daerah pinggang dan
dapat menjalar ke seluruh perut, ke daerah inguinal, hingga ke daerah kemaluan.
Angka kejadian kolik renal adalah sekitar 1-2 kasus per 1000 penduduk. Laki-laki
mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan.1-3
Penyebab kolik renal pada umumnya adalah batu ginjal (nephrolithiasis).
Bertambah parahnya nyeri bergantung pada posisi, letak, ukuran, atau sifat abrasi
batu ginjal. Penyebab kolik renal yang lain adalah bekuan darah atau fragmen
jaringan. Kolik karena bekuan darah sering ditemui pada penyakit gangguan
pembekuan darah herediter, trauma, neoplasma dari ginjal dan traktus urinarius,
perdarahan setelah biopsi renal perkutan, kista renal, malformasi vaskular renal,
nekrosis papilar, tuberkulosis, dan infark pada ginjal. Nyeri non kolik biasanya
terjadi akibat peregangan kapsul ginjal karena terjadi hidronefrosis atau infeksi
pada ginjal.2
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui definisi, etiologi,
patofisiologi, gambaran klinis, serta tatalaksana pada pasien dengan kolik renal
sesuai dengan kompetensi dokter umum. Kompetensi dokter umum untuk kolik
renal adalah 3A dimana dokter umum mampu membuat diagnosis dan
memberikan terapi awal pada keadaan yang bukan gawat darurat.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi dan Fisiologi Ginjal


2.1.1 Anatomi Ginjal
Ginjal merupakan suatu organ yang terletak retroperitoneal pada dinding
abdomen di kanan dan kiri columna vertebralis setinggi vertebra T12 hingga L3.
Ginjal kanan terletak lebih rendah dari yang kiri karena besarnya lobus hepar.
Ginjal dibungkus oleh tiga lapis jaringan. Jaringan yang terdalam adalah kapsula
renalis, jaringan pada lapisan kedua adalah adiposa, dan jaringan terluar adalah
fascia renal. Ketiga lapis jaringan ini berfungsi sebagai pelindung dari trauma
dan memfiksasi ginjal.2

Gambar 1: Anatomi Ginjal

Ginjal memiliki korteks ginjal di bagian luar yang berwarna coklat terang
dan medula ginjal di bagian dalam yang berwarna coklat gelap. Korteks ginjal
mengandung jutaan alat penyaring disebut nefron. Setiap nefron terdiri dari
glomerulus dan tubulus. Medula ginjal terdiri dari beberapa massa-massa
triangular disebut piramida ginjal dengan basis menghadap korteks dan bagian
apeks yang menonjol ke medial. Piramida ginjal berguna untuk mengumpulkan

2
hasil ekskresi yang kemudian disalurkan ke tubulus kolektivus menuju pelvis
ginjal.2

Gambar 2: Nefron dengan unit pembuluh darahnya

Vaskularisasi
Ginjal mendapat suplai darah dari arteri renalis yang merupakan cabang
dari aorta abdominalis. Arteri renalis bercabang menjadi arteri interlubaris dan
kemudian menjadi arteri akuarta. Arteri interlubaris yang berada di tepi ginjal
yang bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut glomerolus.
Glomerolus ini dikelilingi alat yang disebut simpai bowmen, disini terjadi
peyadangan pertama dan kapiler darah yang meninggalkan simpai bowmen
kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.1

Persarafan
Ginjal mendapat persarafan dari pleksus renalis, yang seratnya berjalan
bersama dengan arteri renalis. Saraf ini berfungsi mengatur jumlah darah yang
masuk ke ginjal. Input dari sistem simpatetik menyebabkan vasokonstriksi yang
menghambat aliran darah ke ginjal. Ginjal diduga tidak mendapat persarafan
parasimpatetik. Impuls sensorik dari ginjal berjalan menuju korda spinalis
segmen T10-11 dan memberika sinyal sesuai dengan level dermatomnya. Oleh
karena itu nyeri di daerah pinggang (flank) bisa merupakan nyeri referal dari
ginjal.1

3
2.1.2 Fisiologi Ginjal
Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur volume dan
komposisi kimia darah dan lingkungan dalam tubuh dengan mengekresikan zat
terlarut dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal dicapai dengan filtrasi plasma
darah melalui glomerulus dengan reabsorpsi sejumlah zat terlarut dan air dalam
jumlah yang sesuai di sepanjang tubulus ginjal. Kelebihan zat terlarut dan air di
eksresikan keluar tubuh dalam urin melalui sistem pengumpulan urin.2
Ginjal memiliki fungsi yaitu:
a. Mempertahankan keseimbangan H2O dalam tubuh.
b. Memelihara volume plasma yang sesuai sehingga sangat berperan dalam
pengaturan jangka panjang tekanan darah arteri.
c. Membantu memelihara keseimbangan asam basa pada tubuh.
d. Mengekskresikan produk-produk sisa metabolisme tubuh.
e. Mengekskresikan senyawa asing seperti obat-obatan.

Ginjal mendapatkan darah yang harus disaring dari arteri. Ginjal kemudian
akan mengambil zat-zat yang berbahaya dari darah. Zat-zat yang diambil dari
darah pun diubah menjadi urin. Urin lalu akan dikumpulkan dan dialirkan ke
ureter. Setelah ureter, urin akan ditampung terlebih dahulu di kandung kemih.
Bila orang tersebut merasakan keinginan berkemih dan keadaan memungkinkan,
maka urin yang ditampung dikandung kemih akan di keluarkan lewat uretra.
Tiga proses utama akan terjadi di nefron dalam pembentukan urin, yaitu filtrasi,
reabsorpsi, dan sekresi. Pembentukan urin dimulai dengan filtrasi sejumlah besar
cairan yang hampir bebas protein dari kapiler glomerulus ke kapsula Bowman.
Kebanyakan zat dalam plasma, kecuali protein, di filtrasi secara bebas sehingga
konsentrasinya pada filtrat glomerulus dalam kapsula bowman hampir sama
dengan plasma. Awalnya zat akan difiltrasi secara bebas oleh kapiler glomerulus
tetapi tidak difiltrasi, kemudian di reabsorpsi parsial, reabsorpsi lengkap dan
kemudian akan dieksresi.3

4
2.2. Kolik Renal
2.2.1 Definisi
Kolik renal adalah nyeri pinggang hebat yang datangnya mendadak,
hilang-timbul (intermitten) yang terjadi akibat spasme otot polos untuk melawan
suatu hambatan. Perasaan nyeri bermula di daerah pinggang dan dapat menjalar
ke seluruh perut, ke daerah inguinal, testis, atau debris yang berasal dari ginjal
dan turun ke ureter.1
Batu kecil yang turun ke pertengahan ureter pada umumnya menyebabkan
penjalaran nyeri ke pinggang sebelah lateral dan seluruh perut. Jika batu turun
mendekati buli-buli biasanya disertai dengan keluhan lain berupa sering kencing
dan urgensi. Kolik renal sering disertai, hematuria, dan demam, bila disertai
infeksi.1,4

2.2.2 Etiologi
Penyebab kolik ginjal yaitu:5,6
a. Batu Ginjal
1. Kalsium oksalat 70% kasus, kalsium posfat dan kombinasi kalsium
oksalat dan posfat
2. Batu asam urat 10%
3. Sturvit 15 %
4. Sistin 1%

Gambar 3: Lokasi Batu Ginjal


b. Penyebab lain:
1. Papila ginjal yang rusak (diabetes, penyakit sel sabit)
2. Kolik akibat bekuan darah (diastesis perdarahan)
3. Kolik akibat tumor

5
2.2.3 Epidemiologi
Insiden tahunan pada kolik renal adalah sekitar 1-2 kasus per 1000
penduduk. Laki-laki mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi dibandingkan
perempuan. Risiko rata-rata 5-12% dari total populasi yang menderita BSK di
USA. Frekuensi berulang kolik renal ini pada pasien yang telah menderita batu
ginjal yaitu sekitar 60-80% atau rata-rata 50% setelah 10 tahun. Penyakit ini
sering pada kulit putih dan pada iklim tropis. Risiko menderita BSK pada
riwayat keluarga penderita BSK 3 kali lebih besar.7
2.2.4 Klasifikasi
a. Kolik Renal Tipikal
Nyeri ini terjadi di sekitar dermatom T10-S4. Keseluruhan proses
ini terjadi selama 3-18 jam. Ada 3 fase dalam serangan kolik renal akut,
yaitu:
1. Fase akut/onset
Serangannya secara tipikal terjadi pada pagi atau malam hari sehingga
membangunkan pasien dari tidurnya. Jika terjadi pagi hari, pasien
umumnya mendeskripsikan serangan tersebut sebagai serangan yang
mulanya perlahan sehingga tidak dirasakan. Sensasi dimulai dari
pinggang, unilateral, menyebar ke sisi bawah, menyilang perut ke lipat
paha (groin). Nyerinya biasanya tetap, progresif, dan kontinu.
Beberapa pasien mengalami serangan intermiten yang paroksismal
dan sangat parah. Derajat nyeri bisa meningkat ke intensitas
maksimum setelah 30 menit sampai 6 jam atau lebih lama lagi. Pasien
umumnya mencapai nyeri puncak pada 1-2 jam setelah onset.

2. Fase konstan/plateau
Saat nyeri telah mencapai intensitas maksimum, nyeri akan menetap
sampai pasien diobati atau hilang dengan sendirinya. Periode dimana
nyeri maksimal ini dinamakan fase konstan. Fase ini biasanya
berlangsung 1-4 jam tetapi dapat bertahan lebih lama dari 12 jam pada
beberapa kasus.
Kebanyakan pasien datang ke IGD selama fase ini. Pasien yang
menderita kolik biasnaya banyak bergerak, di atas tempat tidur atau
6
saat berjalan, untuk mencari posisi yang nyaman dan mengurangi
nyeri. Walaupun ginjal dan traktus urinarius terletak retroperitoneal,
mual dan muntah disertai bising usus menurun/hipoaktif adalah tanda
yang dominan; sehingga memungkinkan kesalahan diagnosis
intraperitoneal. Contohnya terutama adalah obstruksi ureteropelvis
junction pada ginjal kanan.

3. Fase hilangnya nyeri


Pada fase terakhir ini, nyeri hilang dengan tiba-tiba, cepat, dan pasien
merasakan kelegaan. Kelegaan ini bisa terjadi secara spontan
kapanpun setelah onset. Pasien kemudian dapat tidur, terutama jika
diberikan analgesik. Fase ini berlangsung 1,5 – 3 jam

b. Kolik Renal Atipikal


Etiologi kolik tipikal bisa juga menyebabkan kolik atipikal.
Obstruksi pada kaliks dapat menyebabkan nyeri pinggang yang lebih
ringan tapi episodik. Hematuria dapat juga terjadi. Lesi obstruktif pada
ureterovesical junction ataupun segmen intramural dari ureter dapat
menyebabkan disuria, keinginan buang air kecil yang mendadak dan
sering, serta nyeri yang menjalar ke atas atau bawah. Kolik renal dapat
disertai muntah-muntah hebat, mual, diare, ataupun nyeri ringan yang
tidak biasa sehingga memungkinkan kesalahan diagnosis.

2.2.5 Patofisiologi
Mekanisme nyeri yang berasal dari ginjal terdiri dari dua tipe yaitu kolik
renal dan non kolik renal. Kolik renal terjadi oleh karena peningkatan tekanan
dinding dan peregangan dari sistem genitourinary. Non kolik renal disebabkan
oleh karena distensi dari kapsul renal. Secara klinis sulit untuk membedakan
kedua tipe ini. Peningkatan tekanan pelvis renal oleh karena obstruksi berupa
batu akan menstimulasi sintesis dan pelepasan prostaglandin yang secara
langsung menyebabkan spasme otot ureter. Serta kontraksi otot polos ureter ini
akan menyebabkan gangguan peristaltik dan pembentukan laktat lokal.
Akumulasi dari laktat ini akan menyebabkan iritasi serabut syaraf tipe A dan C
pada dinding ureter. Serabut syaraf ini akan mengirimkan sinyal ke dorsal root

7
ganglia T11-L1 dari spinal cord dan akan diinterprestasikan sebagai nyeri pada
korteks serebri. Kolik renal terjadi karena obstruksi dari urinary flow oleh
karena BSK, dan diikuti dengan peningkatan tekanan dinding saluran kemih
(ureter dan pelvik), spasme otot polos ureter, edema dan inflamasi daerah dekat
BSK, meningkatnya peristaltik serta peningkatan tekanan BSK di daerah
proksimal.8
Peningkatan tekanan di saluran kemih ini serta peningkatan tekanan aliran
darah dan kontraksi otot polos uretra merupakan mekanisme utama timbulnya
nyeri atau kolik ini. Selain itu juga karena terjadinya peningkatan sensitifitas
terhadap nyeri. Peningkatan tekanan di pelvik renal akan menstimulasi sintesis
dan pelepasan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi dan diuresis dimana
hal ini akan menyebabkan peningkatan tekanan intrarenal. Prostaglandin
berperan langsung pada ureter untuk spasme otot polos ureteral. Permanen
obstruksi saluran kemih oleh karena BSK, menyebabkan lepasnya prostaglandin
sebagai respon terhadap inflamasi. Beberapa waktu pertama obstruksi ini
perbedaan tekanan antara glomerulus dan pelvik menjadi sama sehingga
berakibat GFR (Glomerular Filtration Rate) dan aliran darah ginjal menurun.
Jika obstruksi ini tidak diatasi maka dapat terjadi gagal ginjal akut (acute renal
failure).5,9
2.2.6 Gejala Klinis
Gejala utama kolik renal ini adalah nyeri dengan onset akut dan intensitas
berat, unilateral yang berawal dari daerah pinggang atau daerah flank yang
menyebar ke labia pada wanita dan pada paha atau testis pada laki-laki. Nyeri
berlangsung beberapa menit atau jam, dan terjadi spasme otot bersifat hilang
timbul. Nyeri biasanya sangat berat dan merupakan pengalaman buruk yang
pernah dialami pasien. Derajat keparahan nyeri tergantung pada derajat obstruksi
dan ukuran batu. Posisi batu juga berhubungan dengan penyebaran nyeri. Kolik
biasanya disertai dengan mual, muntah, sering BAK, disuria, oliguria dan
hematuria.5,7
Kolik renal muncul oleh karena hasil dari obstruksi saluran kemih oleh
batu pada area anatomi yang sempit di ureter, Pelvic Ureter Junction (PUJ),
Vesico Ureteric Juntion (VUJ). Lokasi nyeri berhubungan dengan prediksi letak
8
batu namun bukan merupakan hal yang akurat. Batu yang berada pada Pelvic
Uretra Junction (PUJ) biasanya nyeri dengan derajat berat pada daerah sudut
kostovertebra dan menyebar sepanjang ureter dan gonad. Jika batu pada
midureter, maka rasa nyeri sama dengan batu di PUJ, namun pasien
mengeluhkan nyeri tekan pada regio abdominal bawah. Batu yang berada pada
daerah distal ureter akan menimbulkan rasa nyeri yang menyebar ke paha serta
ke testis pada laki-laki dan ke labia mayor pada perempuan. Pada pemeriksaan
fisik didapati pasien banyak bergerak untuk mencari posisi tertentu untuk
mengurangi nyeri dan hal ini sangat kontras dengan iritasi abdomen yaitu
dimana pasien dengan Posisi diam untuk mengurangi nyeri. Selain itu juga
didapati nyeri pada sudut kostovertebra ataupun pada kuadran bawah. Hematuria
masif sekitar 90%. Namun absen hematuri tidak mengeksklusi adanya BSK.
Mual dan muntah juga muncul oleh karena distensi sistem saraf splanchnic dari
kapsul renal dan usus.5,8

9
2.2.7 Diagnosis
Diagnosis dari kolik renal dimulai dari anamnesis yang meliputi riwayat
penyakit, riwayat keluarga dengan penyakit yang sama, durasi, gejala penyakit
dan apabila terdapat tanda-tanda sepsis. Berikut adalah cara mendiagnosis pasien
dengan kolik renal.8

Gambar 4: Alur diagnosis kolik renal.8

a. Anamnesis
Pada anamnesis akan ditemukan gejala-gejala berupa nyeri hilang
timbul yang menjalar dari punggung, perut bagian bawah, genital dan
bagian dalam paha. Nyerinya bersifat mendadak dan hilang timbul. Selain
itu dapat pula ditemukan mual dan muntah, perut yang membesar, demam,
gangguan berkemih yaitu nyeri kandung kemih terasa di bawah pusat,
terasa nyeri saat buang air kecil, polakisuria, hematuria, anuria, oliguria.9

10
b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan:
1. Kadang-kadang teraba ginjal yang mengalami hidronefrosis/
obstruktif.
2. Nyeri tekan/ketok pada pinggang.
3. Batu uretra anterior bisa di raba.
4. Pada keadaan akut paling sering ditemukan adalah kelembutan di
daerah pinggul (flank tenderness) yang disebabkan oleh
hidronefrosis akibat obstruksi sementara yaitu saat batu melewati
ureter menuju kandung kemih.

c. Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah :
- Urinalisa
Urin dipstik dapat digunakan untuk menegakkan suatu diagnosa
kolik renal dan untuk mengeksklusi infeksi. Biasanya ditemukan
hematuria yaitu terdapatnya eritrosit pada urinalisa yang
mendukung suatu diagnosa akut kolik renal. Jika tidak
ditemukan hematuria bukan berarti diagnosa ini dapat dieksklusi.
Sedangkan adanya nitrit dan leukosit esterase pada urin
menandakan suatu infeksi.7,10

- Foto polos abdomen


Foto polos abdomen meliputi Kidney Ureter Blader (KUB)
memiliki sensitifitas 45-60%. Keadaan yang dapat mempersulit
diagnosa ini yaitu jika didapati keadaan faecolith dan phlebiliths
(kalsifikasi abdomen dan pelvik). KUB tidak dapat
memvisualisasi batu radiolusen (10-20%).5
Contoh foto KUB berikut:10

11
Gambar 5: KUB x ray menunjukkan batu radioopak 7 mm berada pada sisi
lateral dari processus transversus10

- Ultrasonograpi
Ultrasonograpi dapat menilai BSK pada daerah PUJ, VUJ dan
pelvik renal serta kaliks. Ultrasonograpi merupakan pilihan yang
aman pada wanita hamil. Sensitif dalam menilai obstruksi,
namun bergantung kepada operator dan sulit dalam menilai batu
berukuran kecil pada ureter.5,10

- Intravenous Urography (IVU)


Intravenous urography (IVU) merupakan gold standar untuk
mendiagnosa kolik renal. IVU ditemukan pertama kali pada
tahun 1923. IVU ini dapat memberikan informasi struktral dan
fungsional dari renal yang terdiri dari ukuran dan derajat
obstruksi. IVU dapat mendeteksi sekitar kasus sekitar 70 -90%.
Namun IVU hanya dapat mendeteksi batu radioopak (80-90%).
Beberapa efek negatif IVU yaitu paparan radiasi, resiko
nefrotoksik dan alergi kontras.5

12
Gambar 6: IVP10

- Non – contrast enhanced computed tomography


Computed Tomography (CT) ini merupakan alternatif yang yang
populer pada saat sekarang ini.

2.2.8 Diagnosis Banding


Beberapa keadaan yang dapat menjadi diagnosa banding kolik renal ini
adalah:7,11
a. Apendisitis
b. Divertikulitis
c. Pyelonefritis
d. Salpingitis
e. Ruptur aneurisma aorta

2.2.9 Tatalaksana
Berhasilnya penatalaksanaan medis ditentukan oleh lima faktor yaitu
ketepatan diagnosis, lokasi batu, adanya infeksi dan derajat beratnya, derajat
kerusakan fungsi ginjal, serta tata laksana yang tepat. Terapi dinyatakan berhasil
bila keluhan menghilang, kekambuhan batu dapat dicegah, infeksi telah dapat
dieradikasi dan fungsi ginjal dapat dipertahankan.

Terapi Konservatif

13
Manajemen kolik renal akut terdiri dari manajemen nyeri, mual
dan muntah dan menilai indikasi pasien untuk dirawat inap. Manajemen
kolik renal akut yaitu memberikan analgesik yang adekuat sehingga tercapai
penurunan skor nyeri dan penurunan dosis. Terdapat dua prinsip pengobatan
penghilang rasa nyeri pada kolik renal akut yaitu Nonsteroidal anti
inflammatory drugs (NSAIDS) dan opioid. Nyeri yang berhubungan dengan
kolik renal selama ini diterapi dengan opioid. Namun sesuai dengan
berkembangnya penelitian terbaru bahwa penggunaan NSAID (Non
steroidal antiinflammatory drugs) dan COX-2 inhibitors (Cyclooxygenase-
2) lebih efektif dalam mengatasi nyeri dengan mekanisme memblok
vasodilatasi arteri afferen sehingga menurunkan diuresis, edema dan
stimulasi otot polos ureter. NSAID menyebabkan muntah yang minimal
dibanding narkotik. Namun NSAID dapat menyebabkan fungsi renal yang
semakin buruk pada pasien dengan obstruksi. Opioid khususnya pethidin
memiliki banyak efek samping, hal sesuai dengan hasil penelitian Anna
Holdgate dan Tamara Pollock tahun 2006. Berdasarkan data yang ada
bahwa penggunaan ketorolak dengan dosis tertentu hanya akan
menyebabkan risiko minimal gangguan fungsi renal dan tidak
meningkatkan risiko perdarahan pada saat operasi. Penggunaan intravena
lebih efektif dan cepat dalam mengatasi nyeri.9,12

14
Beberapa obat yang dapat digunakan sebagai terapi kolik renal akut
dapat dilihat pada tabel berikut:

Gambar 7: Obat-obatan pada kolik renal akut.

15
Beberapa contoh obat yang sering digunakan pada kolik renal dan
sebagai Medical Expulsion Therapy (MET) yaitu:8,10,11,12,13,14,15
a. Opioid
Narkotik memiliki efek dalam mengontrol kolik renal namun tidak
sesuai dengan patofisiologi yeri yang terjadi pada kolik renal.
Beberapa contoh opiod yang sering digunakan adalah morphin, codein
dan meperidin. Keuntungan dalam menggunakan opioid yaitu : biaya
rendah, efek analgesik kuat dan dapat dititrasi. Sedangkan efek
sampingnya lebih banyak yaitu : mual, muntah, sedasi, dizziness,
adiksi, depresi nafas dan hipotensi.Morphin memiliki efek yang lebih
kuat dan adiksi yang lebih rendah dibandingkan dengan mepiridine.
Tramadol merupakan jenis narkotik yang berguna untuk analgesik
dengan skala nyeri sedang.
b. NSAIDS
NSAIDS bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin.
Kemudian NSAIDS mencegah vasodilatasi arteri afferent dan
meningkatkan permiabilitas vaskuler sehingga menyebabkan diuresis
dan peningkatan tekanan pada pelvis renal. NSAIDS juga berperan
dalam mengurangi edema, inflamasi dan aktivitas otot ureter.
Cyclooxygenase inhibitor berfungsi pada kolik renal akut yaitu dalam
mengatasi inflamasi dan edema oleh karena BSK. COX-2 inhibitor
selective bekerja dengan cara menurunkan tekanan atau kontraksi
melalui penghambatan aksi yang dimediasi oleh calsium channel.
Pada penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa diclofenac dan
celecoxib tidak memiliki efek expulsi terhadap batu.
c. Rowatinex
Merupakan kombinasi terpenes yang berfungsi sebagai diuretik
antiinflamasi dan analgetik. Rowatinex memiliki efek expulsi terhadap
batu.
d. Antimuscarinik
Berperan dalam merelaksasikan otot polos dari saluran urinari dan

16
dapat menurunkan kolik renal, namun antimuscarinik tidak berperan
pada expulsi batu.
e. Kortikosteroid
Berperan sebagai antiinflamasi untuk memfasilitasi expulsi batu.
Prednisone 10 mg 2 x sehari selama 5 hari tanpa menurunkan dosis.
Dapat dikombinasikan dengan Calsium Chanel Blocker (CCB) atau
alpha blocker. Hal ini berguna dalam mereduksi waktu batu untuk
keluar oleh karena terlalu besar serta mereduksi reaksi inflamasi.
f. Terapi alpha blocker
Beberapa obat alpha blocker seperti tamsulosin, alfuzosin, terazosin
dan doxazosin pada pasien dengan BSK, berdasarkan metaanalisis
Seitz et al dilaporkan berguna dalam expulsi batu dan menurunkan
kolik renal. Tamsulosin (Flomax) 4 mg setiap hari bekerja dalam
merangsang alpha reseptor blocker dan meningkatkan kemungkinan
keluarnya batu secara spontan. Efek samping berupa : hipotensi,
asthenia, dizziness, malaise dan diare pada ±4% pasien.
g. α1D blockers
α1D reseptor antagonist naftopidil telah dievaluasi pada 60 pasien dan
secara signifikan meningkatkan expulsi batu dibandingkan dengan
kontrol serta memiliki efek samping minimal.
h. Calsium channel blocker
Nifedipin memiliki efek expulsi terapi meskipun tidak mengurangi
kolik renal. Waktu yang diperlukan untuk expulsi terapi sekitar 12 hari
pada batu di distal ureter atau pada vesikoureter junction. Nifedipin Xl
30 mg setiap hari dapat mengeluarkan batu ±35%-79% ketika
dikombinasi dengan steroid, dengan nilai number needed to treat
(NNT) 3,9. Efek samping berupa : hipotensi, palpitasi, efek
gastrointestinal, sakit kepala, edema dan asthenia ± 15,4%.
i. Paracetamol
Aman & efektif, memiliki efek samping minimal dibandingkan opioid
& NSAID. Pemberian oral, rektal & IV, mekanisme kerja melalui
CNS, menghambat sintesis prostaglandin & metabolitnya →inhibit
17
endogen canabinoid→efek analgesik. Efek samping minimal : lemah,
hipotensi, LFT↑. Pada gangguan ginjal pemberian/6 jam
Pada tabel berikut dapat dilihat penggunaan obat sesuai dengan derajat
keparahan kolik renal.

Gambar 8: Derajat keparahan kolik renal dan pilihan terapi8

Rawat inap perlu dipertimbangkan jika terdapat hal-hal sebagai


berikut:
-
Pasien dalam keadaan shok, demam dan atau dalam kondisi sepsis
-
Tanda-tanda kerusakan ginjal ataupun resiko peningkatan fungsi ginjal
-
Terjadinya obstruksi bilateral oleh karena BSK
-
Pasien dehidrasi oleh karena mual dan muntah.
-
Penyebab lain yang belum diketahui.1

Beberapa indikasi dalam melakukan rujukan sebagai berikut:


- Batu berukuran > 10 mm
- Obstruksi derajat tinggi
- Urosepsis
- Gagal ginjal akut
- Anuria
- Nyeri persisten, mual dan muntah
- Pasase batu tidak berhasil setelah 4-6 minggu. 7

Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)


Berbagai tipe mesin ESWL bisa didapatkan saat ini. Walau prinsip
kerjanya semua sama, terdapat perbedaan yang nyata antara mesin generasi lama

18
dan baru, dalam terapi batu ureter. Pada generasi baru titik fokusnya lebih sempit
dan sudah dilengkapi dengan flouroskopi, sehingga memudahkan dalam
pengaturan target/posisi tembak untuk batu ureter. Hal ini yang tidak terdapat
pada mesin generasi lama, sehingga pemanfaatannya untuk terapi batu ureter
sangat terbatas. Meskipun demikian mesin generasi baru ini juga punya
kelemahan yaitu kekuatan tembaknya tidak sekuat yang lama, sehingga untuk
batu yang keras perlu beberapa kali tindakan.

Gambar 9: Proses ESWL


Dengan ESWL sebagian besar pasien tidak perlu dibius, hanya diberi obat
penangkal nyeri. Pasien akan berbaring di suatu alat dan akan dikenakan
gelombang kejut untuk memecahkan batunya Bahkan pada ESWL generasi
terakhir pasien bisa dioperasi dari ruangan terpisah. Jadi, begitu lokasi ginjal
sudah ditemukan, dokter hanya menekan tombol dan ESWL di ruang operasi
akan bergerak. Posisi pasien sendiri bisa telentang atau telungkup sesuai posisi
batu ginjal. Batu ginjal yang sudah pecah akan keluar bersama air seni.
Biasanya pasien tidak perlu dirawat dan dapat langsung pulang.

Pencegahan
a. Pencegahan Primer
Tujuan pencegahan primer adalah untuk mencegah agar penyakit tidak
terjadi, dengan mengendalikan faktor penyebab suatu penyakit. Kegiatan
yang dilakukan meliputi promosi kesehatan, pendidikan kesehatan dan
perlindungan kesehatan. Pencegahan primer penyakit BSK seperti minum
air putih yang banyak. Konsumsi air putih minimal 2 liter per hari akan

19
meningkatkan produksi urin. Konsumsi air putih juga akan mencegah
pembentukan kristal urin yang dapat menyebabkan terjadinya batu.
Selain itu, dilakukan pengaturan pola makan yang dapat
meningkatkan risiko pembentukan BSK seperti, membatasi konsumsi
daging, garam dan makanan tinggi oksalat (sayuran berwarna hijau, kacang,
coklat), dan sebagainya. Aktivitas fisik seperti olahraga juga sangat
dianjurkan, terutama bagi yang pekerjaannya lebih banyak duduk.

b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk mengurangi keparahan penyakit
dengan melakukan diagnosis dan pengobatan dini. Untuk jenis penyakit
yang sulit diketahui kapan penyakit timbul, diperlukan pemeriksaan teratur
yang dikenal dengan pemeriksaan “Check-up”. Pemeriksaan urin dan darah
dilakukan secara berkala, bagi yang pernah menderita BSK sebaiknya
dilakukan setiap tiga bulan atau minimal setahun sekali. Tindakan ini juga
untuk mendeteksi secara dini apabila terjadi pembentukan BSK yang baru.
Untuk pengobatan, pemberian obat-obatan oral dapat diberikan tergantung
dari jenis gangguan metabolik dan jenis batu. Pengobatan lain yang
dilakukan yaitu melakukan kemoterapi dan tindakan bedah (operasi).

c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier mencakup pembatasan terhadap segala
ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera
atau ketidakmampuan sudah terjadi dan menimbulkan kerusakan. Kegiatan
yang dilakukan meliputi rehabilitasi (seperti konseling kesehatan) agar
orang tersebut lebih berdaya guna, produktif dan memberikan kualitas hidup
yang sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.

2.2.10 Komplikasi
Komplikasi pada kolik renal terjadi akibat batu ginjal, yaitu:
1. Gagal ginjal
2. Infeksi
3. Hidronefrosis
20
4. Avaskuler iskemia

21
BAB III
KESIMPULAN

Kolik renal adalah nyeri pinggang hebat yang datangnya mendadak, hilang-
timbul (intermitten) yang terjadi akibat spasme otot polos untuk melawan suatu
hambatan. Perasaan nyeri bermula di daerah pinggang dan dapat menjalar ke seluruh
perut, ke daerah inguinal, testis, atau debris yang berasal dari ginjal dan turun ke
ureter. Laki-laki mempunyai risiko tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan
perempuan. Kolik renal terbagi menjadi dua, yaitu kolik renal tipikal dan atipikal.
Etiologi paling umum adalah terdapatnya batu ginjal. Penyebab lainnya adalah
bekuan darah atau fragmen jaringan Diagnosis kolik renal dapat di tentukan melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan radiologis. Penanganan kolik renal meliputi
manajemen nyeri, manajemen mual dan muntah serta pasase oleh karena batu.

22