Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

SNAKE BITE

Disusun oleh:

Lala Aisyana

170070301111022

PROGRAM PROFESI NERS

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2018
CVA (Cerebrovascular Accident)

Definisi

CVA merupakan suatu keadaan yang timbul karena terjadi gangguan


peredaran darah di otak yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak
sehinngga mengakibatkan seseorang menderita kelumpuhan atau kematian.
CVA merupakan deficit neurologis yang mempunyai serangan mendadak dan
berlangsung 24 jam sebagai akibat dari cardiovascular disease (Batticaca, 2008).

Etiologi
CVA dapat disebabkan pecahnya pembuluh darah di otak dan atau
terjadinya thrombosis dan emboli, serta kekurangan suplai oksigen yang menuju
otak. Gumpalan darah akan masuk ke aliran darah akibat dari penyakit lain atau
karena adanya bagian otak yang cedera dan menutup/menyumbat arteri otak.
Akibatnya fungsi otak berhenti dan terjadi penurunan fungsi otak (Batticaca,
2008).
Thrombosis arteri (atau vena) pada SSP dapat disebabkan oleh salah
satu atau lebih dari Trias Virchow:
- Abnormalitas dinding pembuluh darah, umumnya penyakit degenerative,
dapat juga inflamasi (vaskulitis0a atau trauma (diseksi)
- Abnormalitas darah, misalnya polisitemia
- Gangguan aliran darah (Ginsberg, 2007)

Klasifikasi
1. Stroke iskemik (ischemic stroke)
Serangan sering terjadi pada usia 50 tahun atau lebih dan terjadi pada
malam hingga pagi hari. Sebagian besar merupakan komplikasi dari penyakit
vascular, yang ditandai dengan gejala penurunan tekanan darah yang
mendadak, takikardia, pucat, dan pernapasan yang tidak teratur.
a. Trombosisi pada pembuluh darah otak (thrombosis of cerebral vessels)
b. Thrombosis pada pembuluh darah otak (embolism of cerebral vessels)
2. Stroke hemoragik (hemorrhagic stroke).
Serangan yang sering terjadi pada usia 20-60 tahun dan biasanya timbul
setelah beraktivitas fisik atau karena psikologis (mental). Disebabkan oleh
adanya perdarahan intracranial dengan gejala peningkatan tekanan darah,
systole >200 mmHg pada hipertonik dan 180 mmHg pada normotonik,
bradikardi, wajah keunguan, sianosis, dan pernapasan mengorok.
a. Perdarahan intraserebral (parenchymatous hemorrhage), gejalanya yaitu:
Tidak jelas, kecuali nyeri kepada hebat karena hipertensi
Serangan terjadi pada siang hari, saat beraktivitas, dan emosi atau marah
Mual atau muntah pada permulaan serangan
Hemiparesis atau hemiplegia terjadi sejak awal serangan
Kesadaran menurun dengan cepat dan menjadi koma (65% terjadi kurang
dari ½ jam -2 jam; <2% terjadi setelah 2 jam – 19 hari)
b. Perdarahan subarachnoid (subarachnoid hemorrhage)
Nyeri kepala hebat dan mendadak
Kesadaran sering terganggu dan sangat bervariasi
Ada gejala dan tanda meningeal
Papilledema terjadi bila ada perdarahan subarachnoid karena pecahnya
aneurisma pada arteri komunikans anterior atau arteri karotis interna
(Batticaca, 2008)

Faktor risiko
1. Hipertensi
2. Obesitas
3. Kolesterol darah tinggi
4. Riwayat penyakit jantung
5. Riwayat penyakit diabetes mellitus
6. Merokok
7. Stress (Batticaca, 2008)

Gejala klinis
Gejala klinis timbul tergantung dari jenis stroke:
1. Gejala klinis stroke hemorrhagic
a. Deficit neurologis mendadak, didahului gejala prodromal yang terjadi
pada saat istirahat atau bangun pagi
b. Kadang tidak terjadi penurunan kesadaran
c. Terjadi terutama pada usia > 50 tahun
d. Gejala neurologis yang timbul tergantung pada berat ringannya gangguan
pembuluh darah dan lokasinya
2. Gejalla klinis stroke akut
a. Kelumpuhan wajah atau anggota badan (biasanya hemiparesis) yang
timbul mendadak
b. Gangguan sensibilitas pada satu anggota badan (gangguan
hemisensorik)
c. Perubahan mendadak pada status mental (konfusi, delirium, letargi,
strupor, atau koma)
d. Afasia (tidak lancer atau tidak dapat bicara)
e. Disartria (bicara pelo atau cedel)
f. Ataksia (tungkai atau anggota badan tidak tepat pada sasaran)
g. Vertigo (mual dan muntah atau nyeri kepala) (Batticaca, 2008)

Pemeriksaan diagnosis
Pemeriksaan klinis melalui anamnesis dan pengkajian fisik (neurologis)
1. Riwayat penyakit sekarang (kapan timbulnya, lamanya serangan, gejala yang
timbul)
2. Riwayat penyakit dahulu (hipertensi, jantung, DM, disritmia, ginjalm pernah
mengalami trauma kepala)
3. Riwayat penyakit keluarga (hipertensi, jantung, DM)
4. Aktivitas (sulit beraktivitas, kehilangan sensasi penglihatan, gangguan tonus
otot, gangguan tingkat kesadaran)
5. Sirkulasi (hipertensi, jantung, disritmia, gagal ginjal kronis)
6. Makanan/cairan (nafsu makan berkurang, mual, muntah pada fase akut,
hilang sensasi pengecapan pada lidah, obesitas sebagai faktor risiko)
7. Neurosensorik (sinkop atau pingsan, vertigo, sakit kepala, penglihatan
berkurang atau ganda, hilang rasa sensorik kontralateral, afasia motoric,
reaksi pupil tidak sama)
8. Kenyamanan (sakit kepala dengan intensitas yang berbada, tingkah laku
yang tidak stabil, gelisah, ketergantungan otot)
9. Pernapasan (merokok sebagai faktor risiko, tidak mampu menelan akrena
batuk)
10. Interaksi sosial (maslaah bicara, tidak mampu berkomunikasi)

Pemeriksaan penunjang
1. Angiografi serebral. Emmbantu menentukan penyebab stroke secara spesifik
misalnya pertahanan atau sumbatan arteri
2. CT Scan utnuk menegtahui adanya tekanan normal dan adanya thrombosis,
emboli serebral, dan tekanan intracranial. Peningatan tekanan intracranial
dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan
subarachnoid dan perdarahan intracranial. Kadar protein total meningkat,
beebrapa kasus thrombosis disertai proses inflamasi
3. MRI untuk menunjukka daerah infar, perdarahan, malformasi arteriovena
4. USG Doppler untuk mengidnetifikasi penyait arteriovena dan arteriosclerosis
5. Elektroensefalogram (EEG) untuk mengidnetifikasi masalah apda gelombang
otak dan memperlihatkan daerah lesi yang spesifik

Pemeriksaan laboratorium
1. Darah rutin
2. Gula darah
3. Urin rutin
4. Cairan serebrospinal
5. Analisa gas darah (AGD)
6. Biokimia darah
7. Elektrolit (Batticaca, 2008)

Komplikasi
1. Gangguan otak berat
2. Kematian bila tidak dapat mengontrol respons pernapasan atau
kardiovaskular (Battacaca, 2008)

Penatalaksanaan keperawatan
Pengkajian
1. Perubahan sensasi
2. Perubahan pergerakan
3. Deficit neurologis yang menandakan adanya edema atau perdarahan
serebral
4. Perubahan neurologis melalui pengkajian skala koma Glaslow (GCS)
5. Riwayat penyakit masa lalu (hipertensi, jantung)
6. Tanda-tanda vital
7. Perubahan fungsi sensorik, motoric, pupil, kesulitan bernapas,
perkembangan visual, afasia
8. Hemiplegia, aktivitas
Diagnsis keperawatan
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
perfusi ventilasi dan perubahan membrane alveolar kapiler
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
peningkatan tekanan intracranial
3. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan
neurovascular
4. Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan gangguan
sirkulasi serebral
5. Deficit perawatan diri berhubungan dengan paralisis, hemiparesis,
quadriplegia
6. Risiko penurunan curah jantung yang berhubungan dengan kerusakan
pada jaringan otak
7. Kurangnya pengetahuan tentang perawatan stroke yang berhubungan
dengan kurangnya informasi mengenai pencegahan, perawatan, dan
pengobatan stroke di rumah
8. Risiko cedera berhubungan dengan paralisis
9. Risiko aspirasi berhbungan dengan kehilangan kemampuan untuk
menelan
10. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuhyang
berhubungan dengan ketidakmampuan menelan sekunder terhadap
paralisis
11. Gangguan proses pikir yang berhubungan dengan gangguan aliran darah
serebral, gangguan sensasi, dan kegagalan interpretasi terhadap
rangsangan lingkungan (Battacaca, 2008)
DAFTAR PUSTAKA
Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
SIstem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika
Ginsberg, Lionel. Neurologi Edisi Kedepalan. 2007. Jakarta: Erlangga Medical
Series