Anda di halaman 1dari 11

TUGAS SEBAGAI BIDAN BERDASARKAN ETIK DAN KODE ETIK PROFESI

1. ASPEK LEGAL DALAM PELAYANAN KEBIDANAN

A. LEGISLASI

 Pengertian
Legislasi adalah proses pembuatan undang-undang atau penyempurnaan
perangkat hukum yang sudah ada melalui serangkaian kegiatan sertifikasi (
pengaturan kompetensi ), registrasi ( pengaturan kewenangan ), dan lisensi (
pengaturan penyelenggaraan kewenangan ).
Ketetapan hukum yang mengantur hak dan kewajiban seseorang yang
berhubungan erat dengan tindakan dan pengabdiannya. (IBI)
Rencana yang sedang dijalankan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI)
sekarang adalah dengan mengadakan uji kompetensi terhadap para bidan,
minimal sekarang para bidan yang membuka praktek atau memberikan
pelayanan kebidanan harus memiliki ijasah setara D3.
Uji kompetensi yang dilakukan merupakan syarat wajib sebelum terjun ke
dunia kerja. Uji kompetensi itu sekaligus merupakan alat ukur apakah tenaga
kesehatan tersebut layak bekerja sesuai dengan keahliannya. Mengingat
maraknya sekolah-sekolah ilmu kesehatan yang terus tumbuh setiap
tahunnya. Jika tidak lulus dalam uji kompetensi, jelas bidan tersebut tidak bisa
menjalankan profesinya. Karena syarat untuk berprofesi adalah memiliki surat
izin yang dikeluarkan setelah lulus uji kompetensi.
 Tujuan Legislasi
Tujuan legislasi adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat
terhadap pelayanan yang telah diberikan. Bentuk perlindungan tersebut adalah
meliputi :
1. Mempertahankan kualitas pelayanan
2. Memberi kewenangan
3. Menjamin perlindungan hukum
4. Meningkatkan profisionalisme

 Latar Belakang Sistem Legislasi Tenaga Bidan Indonesia


1. UUD 1945
Amanat dan pesan mendasar dan UUD 1945 adalah UUD 1945 upaya
pembangunan nasional yaitu pembangunan disegadan bidang guna
kepentingan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan seluruh rakyat
Indonesia secara terarah, terpadu dan berkesinambungan.

2. UU No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan.

Tujuan dan Pembangunan Kesehatan adalah meningkatkan kesadaran,


kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap warga Negara Indonesia
melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif sebagai upaya
peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas.
Dengan adanya arus globalisasi salah satu focus utama agar mampu
mempunyai daya saing adalah bagaimana peningkatan kualitas sumber daya
manusia. Kualitas sumber daya manusia dibentuk sejak janin di dalam
kandungan, masa kelahiran dan masa bayi serta masa tumbuh kembang
balita. Hanya sumber daya manusia yang berkualitas, yang memiliki
pengetahuan dan kemampuan sehingga mampu survive dan mampu
mengantisipasi perubahan serta mampu bersaing.
3. Bidan erat hubungannya dengan penyiapan sumber daya manusia.
Karena pertayanan bidan meliputi kesehatan wanita selama kurun
kesehatan reproduksi wanita, sejak remaja, masa calon pengantin, masa
hamil, masa persalinan, masa nifas, periode interval, masa klimakterium
dan menopause serta memantau tumbuh kembang balita serta anak pra
sekolah.

B. REGISTRASI

 Pengertian

Registrasi adalah sebuah proses dimana seorang tenaga profesi harus


mendaftarkan dirinya pada suatu badan tertentu secara periodik guna
mendapatkan kewenangan dan hak untuk melakukan tindakan profesionalnya
setelah memenuhi syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh badan tesebut.

 Tujuan Registrasi

a) Meningkatkan keemampuan tenaga profesi dalam mengadopsi kemajuan


ilmu pengetahuan dan tehnologi yang berkembang pesat.
b) Meningkatkan mekanisme yang obyektif dan komprehensif dalam
penyelesaian kasus mal praktik.
c) Mendata jumlah dan kategori melakukan praktik

C. LISENSI
 Pengertian

Lisensi adalah proses administrasi yang dilakukan oleh pemerintah atau


yang berwenang berupa surat ijin praktik yang diberikan kepada tenaga profesi
yang teregistrasi untuk pelayanan mandiri.
Lisensi adalah pemberian ijin praktek sebelum diperkenankan melakukan
pekerjaan yang telah ditetapkan.(IBI)

 Tujuan Lisensi

a) Memberikan kejelasan batas wewenang


b) Menetapkan sarana dan prasarana
c) Meyakinkan klien

Aplikasi Lisensi dalam praktik kebidanan adalah dalam bentuk SIPB (Surat Ijan
Praktik Biadan). SIPB adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Depkes RI kepada
tenaga bidan yang menjalankan praktik setelah memenuhi persyaratan yang
ditetapkan. Bidan yang menjalankan praktik harus memiliki SIPB, yang diperoleh
dengan cara mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
atua Kota setempat dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : fotokopi SIB
yang masih berlaku, fotokopi ijasah bidan, surat persetujuan atasan, surat keterangan
sehat dari dokter, rekomendasi dari organisasi profesi, pas foto.
Rekomendasi yang telah diberikan organisasi profesi setelah terlebih dahulu
dilakukan penilaian kemampuan keilmuan dan keterampilan, kepatuhan terhadap
kode etik serta kesanggupan melakukan praktik bidan. Bentuk penilaian kemampuan
keilmuan dan keterampilan inilah yang diaplikasikan dengan rencana
diselenggarakannya Uji Kompetensi bagi bidan yang mengurus SIPB atau lisensi.
SIPB berlaku sepanjang SIB belum habis masa berlakunya dan dapat diperbaharui
kembali.

D. SERTIFIKASI
Sertifikasi adalah dokumen penguasaan kompetensi tertentu melalui kegiatan
pendidikan formal maupun non formal (Pendidikan berkelanjutan). Lembaga
pendidikan non formal misalnya organisasi profesi, rumah sakit, LSM bidang
kesehatan yang akreditasinya ditentukan oleh profesi. Sedangkan sertifikasi dan
lembaga non formal adalah berupa sertifikat yang terakreditasi sesuai standar
nasional.
Ada dua bentuk kelulusan, yaitu:
a. Ijasah merupakan dokumentasi penguasaan kompetensi tertentu, mempunyai
kekuatan hukum atau sesuai peraturan perundangan yang berlaku dan diperoleh
dari pendidikan formal.
b. Sertifikat adalah dokumen penguasaan kompetensi tertentu, bisa diperoleh dari
kegiatan pendidikan formal atau pendidikan berkelanjutan maupun lembaga
pendidikan non formal yang akreditasinya ditentukan oleh profesi kesehatan.

Tujuan umum Sertifikasi adalah sebagai berikut:


a. Melindungi masyarakat pengguna jasa profesi.
b. Meningkatkan mutu pelayanan.
c. Pemerataan dan perluasan jangkauan pelayanan.

Tujuan khusus Sertifikasi adalah sebagai berikut:


a. Menyatakan kemampuan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku (kompetensi)
tenaga profesi.
b. Menetapkan kualifikasi dari lingkup kompetensi.
c. Menyatakan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku (kompetensi) pendidikan
tambahan tenaga profesi.
d. Menetapkan kualifikasi, tingkat dan lingkup pendidikan tambahan tenaga
profesi.
e. Memenuhi syarat untuk mendapat nomor registrasi.

2. TUGAS BIDAN DALAM STANDAR PRAKTEK KEBIDANAN ,HUBUNGAN


STANDAR PRAKTEK KEBIDANAN(SPK) DENGAN HUKUM ATAU PERUNDANG-
UNDANGAN

Standar praktek kebidanan


Standar Praktek Kebidananan (SPK) di bagi menjadi sembilan standar, yang terdiri dari :

Standar I : Metode asuhanAsuhan kebidanan dilaksanakan dengan metode manajemen


kebidanan denganlangkah yaitu pengumpulan data dan analisis
data, penentuan diagnosa perencanaan pelaksanaan, evaluasi dan
dokumentasi.Definisi Operasional
a. Ada format manajemen kebidanan yang sudah terdaftar pada catatan medis.
b. Format manajemen kebidanan terdiri dari : format pengumpulan data,
rencanaformat pengawasan resume dan tindak lanjut catatan kegiatan dan
evaluasi

Standar II : PengkajianPengumpulan data tentang status kesehatan kilen dilakukan secara


sistematisdan berkesinambungan. Data yang diperoleh dicatat dan
dianalisis.Definisi Operasional :
a. Ada format pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan secara sistematis terfokus yang meliputi


data :
 Demografi identitas klien
 Riwayat penyakit terdahulu
 Riwayat kesehatan reproduksi
 Keadaan kesehatan saat ini termasuk kesehatan reproduksi

Analisis data.
Data dikumpulkan dari :
 Klien/pasien, keluarga dan sumber lain
 Tenaga kesehatan
 Individu dalam lingkungan terdekat
Data diperoleh dengan cara :
 Wawancara
 Observasi
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan penunjang3.

Standar III : Diagnosa kebidananDiagnosa kebidanan dirumuskan berdasarkan analisis


data yang telahdikumpulkan.Definisi Operasional :
a . Diagnosa kebidanan dibuat sesuai dengan kesenjangan yang dihadapi oleh
klien /suatu keadaan psikologis yang ada pada tindakan kebidanan sesuai
denganwewenang bidan dan kebutuhan klien.
b. Diagnosa kebidanan dirumuskan dengan padat, jelas, sistematis mengarah
padaasuhan kebidanan yang diperlukan oleh klien

Standar IV : Rencana asuhanRencana Asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosa


kebidananDefinisi Operasional :
a. Ada format rencana asuhan kebidanan
b. Format rencana asuhan kebidanan terdiri dari diagnosa, rencana
tindakan danevaluasi

Standar V : TindakanTindakan kebidanan dilaksanakan berdasarkan rencana


dan perkembangan keadaanklien dan dilanjutkan dengan evaluasi keadaan
klien.Definisi Operasional :
a. Ada format tindakan kebidanan dan evaluasi
b. Format tindakan kebidanan terdiri dari tindakan dan evaluasic.

Standar VI : Partisipasi klienTindakan kebidanan dilaksanakan bersama-sama /


partisipasi klien dankeluarga dalam rangka peningkatan pemeliharaan dan
pemulihan kesehatanDefinisi Operasional :
a. Klien / keluarga mendapatkan informasi tentang :
 Status kesehatan saat ini
 Rencana tindakan yang akan dilaksanakan
 Peranan klien / keluarga dalam tindakan kebidanan
 Peranan petugas kesehatan dalam tindakan kebidanan
 Sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan

b. Klien dan keluarga bersama-sama dengan petugas melaksanakan


tindakan kegiatan.

Standar VII : PengawasanMonitor / pengawasan terhadap klien dilaksanakan secara terus


menerus dengantujuan untuk mengetahui perkembangan klien.Definisi
Operasional :
a. Adanya format pengawasan klien
b. Pengawasan dilaksanakan secara terus menerus sitematis untuk
mengetahui keadaan perkembangan klien
c. Pengawasan yang dilaksanakan selalu dicatat pada catatan yang telah
disediakan

Standar VIII : EvaluasiEvaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan terus menerus seiring


dengan tindakankebidanan yang dilaksanakan dan evaluasi dari rencana yang
telah dirumuskan.Difinisi Operasional :
a. Evaluasi dilaksanakan setelah dilaksanakan tindakan kebidanan kepada
klien sesuaidengan standar ukuran yang telah ditetapkan
b. Evaluasi dilaksanakan untuk mengukur rencana yang telah dirumuskan
c. Hasil evaluasi dicatat pada format yang telah disediakan.

Standar IX : DokumentasiAsuhan kebidanan didokumentasikan sesuai dengan standar


dokumentasiasuhan kebidanan yang diberikanDefinisi Operasional :
a. Dokumentasi dilaksanakan untuk disetiap langkah manajemen
kebidanan
b. Dokumentasi dilaksanakan secara jujur sistimatis jelas dan ada yang
bertanggung jawab
c. Dokumentasi merupakan bukti legal dari pelaksanaan asuhan
kebidanan
Hubungan Standar Profesi dan Hukum Perundangan di Indonesia

Hubungan hukum perundang-undangan dan hokum yang berlaku dengan tenaga


kesehatan adalah:
Klien sebagai penerima jasa kesehatan mempunyai hubungan timbal balik dengan
tenaga kesehatan yang dalam hal ini adalah pemberi jasa. Hubungan timbale balik ini
mempunyai dasar hokum yang merupakan peraturan pemerintah. Klien sebagai penerima
jasa kesehatan dan tenaga kesehatan sebagai pemberi jasa sama-sama mempunyai hak
dan kewajiban
Hak dan kewajiban tersebut adalah:
Hak dan kewajiban bidan
a.Hak bidan
• Bidan berhak mendapat perlindungan hokum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan
profesinya
• Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap timgkat jenjang
pelayanan kesehatan
• Bidan berhak menolak keinginan pasien/klien dan keluarga yang bertentangan dengan
peraturan perundangan, dank ode etik profesi.
• Bidan berhak atas privasi/kerahasiaan dan menuntut apabila nama baiknya dicemarkan
baik oleh pasien, keluarga maupun profesi lain.
• Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui pendidikan
maupun pelatihan.
• Bidan berhak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan jenjang karir dan jabatan
yang sesuai
• Bidan berhak mendapat kompensasi dan kesejahteraan yng sesuai.
b.Kewajiban bidan
• Bidan wajib mematuhi peraturan rumah sakit sesuai dengan hubungan hokum antara
bidan tersebut dengan rumah sakit bersalin dan sarana pelayanan dimana ia bekerja.
• Bidan wajib memberikan pelayanan asuhan kebidanan sesuai dengan standar profesi
dengan menghormati hak-hak pasien.
• Bidan wajib merujuk pasien dengan penyulit kepada dokter yang mempunyai
kemampuan dan keahlian sesuai dengan kebutuhan pasien.
• Bidan wajib member kesempatan kepada pasien untuk didampingi suami atau keluarga.
• Bidan wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadah sesuai
dengan keyakinannya.
• Bidan wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien.
• Bidan wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan yang akan dilakukan
serta resiko yang mungkin dapat timbul.
• Bidan wajib meminta persetujuan tertulis atas tindakan yang akan dilakukan
• Bidan wajib mendokumentasikan asuhan kebidanan yang diberikan
• Bidan wajib mengikuti perkembangan iptek dan menambah ilmu pengetahuannya
melalui pendidikan formal dan non formal.
• Bidan wajib bekerja sama dengan profesi lain dan pihak yang terkait secara timbal
balik dalam memberikan asuhan kebidanan.
Hak dan kewajiban pasien
a.Hak pasien
1. Pasien mempunyai hak untuk mempertimbangkan dan menghargai asuhan
keperawatan/keperawatan yang akan diterimanya.
2. Pasien berhak memperoleh informasi lengkap dari dokter yang memeriksanya
berkaitan dengan diagnosis, pengobatan dan prognosis dalam arti pasien layak untuk
mengerti masalah yang dihadapinya.

3. Pasien berhak untuk menerima informasi penting dan memberikan suatu persetujuan
tentang dimulainya suatu prosedur pengobatan, serta resiko penting yang kemungkinan
akan dialaminya, kecuali dalam situasi darurat.
4. Pasien berhak untuk menolak pengobatan sejauh diizinkan oleh hukum dan
diinformasikan tentang konsekuensi tindakan yang akan diterimanya.
5. Pasien berhak mengetahui setiap pertimbangan dari privasinya yang menyangkut
program asuhan medis, konsultasi dan pengobatan yang dilakukan dengan cermat dan
dirahasiakan
6. Pasien berhak atas kerahasiaan semua bentuk komunikasi dan catatan tentang asuhan
kesehatan yang diberikan kepadanya.
7. Pasien berhak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ketempat lain yang lebih
lengkap dan memperoleh informasi yang lengkap tentang alasan rujukan tersebut, dan
RS yang ditunjuk dapat menerimanya.
8. Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang hubungan RS dengan instansi lain,
seperti instansi pendidikan atau instansi terkait lainnya sehubungan dengan asuhan yang
diterimanya.
9. Pasein berhak untuk memberi pendapat atau menolak bila diikutsertakan sebagai suatu
eksperimen yang berhubungan dengan asuhan atau pengobatannya.
10. Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang pemberian delegasi dari
dokternya ke dokter lainnya, bila dibutuhkan dalam rangka asuhannya.
11. Pasien berhak untuk mengetahui dan menerima penjelasan tentang biaya yang
diperlukan untuk asuhan keehatannya.
12. Pasien berhak untuk mengetahui peraturan atau ketentuan RS yang harus dipatuhinya
sebagai pasien dirawat.
b.Kewajiban pasien
1. Pasien atau keluarganya wajib menaati segala peraturan dan tata tertib yang ada
diinstitusi kesehatan dan keperawatan yang memberikan pelayanan kepadanya.
2. Pasien wajib mematuhi segala kebijakan yanga da, baik dari dokter ataupun perawat
yang memberikan asuhan.
3. Pasien atau keluarga wajib untuk memberikan informasi yang lengkap dan jujur
tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter atau perawat yang merawatnya.
4. Pasien atau keluarga yang bertanggungjawab terhadapnya berkewajiban untuk
menyelesaikan biaya pengobatan, perawatan dan pemeriksaan yang diperlukan selama
perawatan.
5. Pasien atau keluarga wajib untuk memenuhi segala sesuatu yang diperlukan sesuai
dengan perjanjian atau kesepakatan yang telah disetujuinya.
Di dalam praktek apabila terjadi pelanggaraan praktek kebidanan, aparat penegak hukum
lebih cenderung mempergunakan Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
Sehingga masyarakat sangat berharap adanya pemahaman yang baik dan benar tentang
beberapa piranti hukum yang mengatur pelayanan kesehatan untuk menunjang
pelaksanaan tugas di bidang kebidanan dengan baik dan benar

PERTANYAAN:
1. Apa yang terjadi apabila bidan tidak bisa memenuhi salah satu aspek legal dalam
pelayanan kebidanan?
2. Mengapa bidan erat hubungannya dengan SDM?
3. Mengapa registrasi dapat meningkatkan mekanisme yang objektif dan komprehensif
dalam pengelesaian kasus mal praktek
4. Siapakah yang lebih dahulu menjalankan hak dan kewajibannya. Bidan ataukah
pasien?
5. Bila pasien pergi berobat ke fasilitas kesehatan, namun ia tadak mampu membayar
biaya pengobatan. Konpensasi seperti apakah yang ia dapatkan?
Daftar pustaka
http://niningwarningsih9.blogspot.com/2013/05/standar-profesi-kebidanan.html
http://etikaindahdianhusada.blogspot.com/p/standar-praktek-bidan.htm
http://rahmadewihadhisty.blogspot.com/2013/04/undang-undang-yang-melandasi-
praktik_8.html