Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Online Pendidikan Fisika

ISSN 2301-7651

UPAYA PENGUATAN STRUKTUR KOGNITIF SISWA MELALUI


MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER
DENGAN PEMBERIAN LKS TERSTRUKTUR
BERDASARKAN TEORI APOS

Abdul Rahman Hakim dan Mara Bangun Harahap


Jurusan Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Medan
abdrahmanhakim@gmail.com

Abstrak. Tujuan penelitian ini untuk (1) Meningkatkan struktur kognitif


siswa dengan menerapkan model pembelajaran Advance Organizer dengan
pemberian LKS Terstruktur berdasarkan teori APOS, (2) Meningkatkan
aktivitas siswa dengan menerapkan model pembelajaran Advance Organizer
dengan pemberian LKS Terstruktur berdasarkan teori APOS. Penelitian ini
merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan di SMK
Negeri 1 Arse Tapanuli Selatan. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII
Agribisnis Tanaman Pangan/ Hortikultura Tahun Pelajaran 2012/2013
sebanyak 31 orang yang terdiri dari 18 orang laki-laki dan 13 orang
perempuan. Objek pada penelitian ini adalah penguatan struktur kognitif
yang diukur melalui hasil belajar dan aktifitas belajar siswa dalam
pembelajaran Advance Organizer melalui pemberian LKS Terstruktur
berdasarkan teori APOS. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus, siklus pertama
terdiri dari 3 pertemuan dan siklus kedua terdiri dari 4 pertemuan. Tes
struktur kognitif dilakukan di akhir setiap siklus. Tes struktur kognitif terdiri
dari 15 soal. Hasil penelitian yaitu: (1) Terdapat peningkatan hasil belajar
siswa kelas XII Agribisnis Tanaman Pangan/Hortikultura SMK Negeri 1
Arse yang menunjukkan adanya peningkatan penguatan struktur kognitif
yang ditunjukkan dari: (a) Tes hasil belajar siswa pada siklus pertama, yaitu:
rata-rata = 63,66; persentase ketuntasan = 41,94%, (b) Tes hasil belajar siswa
pada siklus kedua, yaitu: rata-rata = 82,58; persentase ketuntasan 90,32%.
Peningkatan persentase ketuntasan 48,39%; dan indeks gain 0,51 kriteria
peningkatan sedang. (2) Terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa kelas
XII Agribisnis Tanaman Pangan/Hortikultura SMK Negeri 1 Arse yang
ditunjukkan dari: siklus pertama hanya rata-rata 59,72 menjadi 74,47 pada
siklus kedua.

Kata kunci: penguatan struktur kognitif, model pembelajaran, advance


organizer, lks, teori apos

COGNITIVE STRUCTURE STRENGTHENING STUDENTS OF


SMK N 1 ARSE CLASS XII WITH LEARNING MODEL ADVANCE
ORGANIZER BY GRANT STRUCTURED
LKS BASED APOS THEORY

Abdul Rahman Hakim and Mara Bangun Harahap


Physical Education Program, Graduate State University of Medan
abdrahmanhakim@gmail.com

Volume: 2 (1) Juni 2013 33 Prodi Dikfis Pascasarjana Unimed


Hakim, A.R. dan Harahap, M.B.: Upaya Penguatan Jurnal Online Pendidikan Fisika
Struktur Kognitif Siswa Melalui Model ISSN 2301-7651
Pembelajaran Advance Organizer Dengan
Pemberian LKS Terstruktur Berdasarkan Teori
APOS.

Abstract. The purpose of this research: (1) Improving Students' Cognitive


Structures through the Advance Organizer Model Learning by giving
Structured Worksheets based on APOS Theory, (2) Improving student
activity through the Advance Organizer Model Learning by giving Structured
Worksheets based on APOS Theory. This research was a Classroom Action
Research (CAR) which was carried out at SMK Negeri 1 Arse South
Tapanuli. The research subject was grade 12 students of academy year
2012/2013 consisting 31 students, namely 18 males and 13 females. Object
on this research were the student activity and student learning outcomes
through the Advance Organizer Model Learning by giving Structured
Worksheets based on APOS Theory. The research consisted of two cycles,
each cycle consisting of three meetings. Test of achievement conducted at the
end of each cycle. Test of achievement consisting of 15 questions. The results
of the research are: (1) There is an increased of student learning outcomes on
class XII Agribusiness Crop/Horticulture SMK Negeri 1 Arse which showed
an increase in cognitive structure indicated strengthening of: (a) Outcomes of
achievement test in the first cycle, namely: the average = 63.66; percentage
of completeness = 41.94%, (b) Outcomes of achievement test in the second
cycle, namely: the average = 82.58; percentage of completeness 90.32%. The
percentage of completeness 48.39%, and the index gain 0.51 or moderate
improvement criteria. (2) There is an increased of student activity on class
XII Agribusiness Crop/Horticulture SMK Negeri 1 Arse shown from: first
cycle is only the average of 59.72 up to 74.47 in the second cycle.

Keywords: cognitive structure strengthen, learning model, advance


organizer, lks, apos theory

PENDAHULUAN yang diketahui menjadi yang ditanya maka


Berdasarkan pengamatan terhadap hasil mereka akan bingung seakan permasalahan
belajar Fisika, yaitu pada nilai ulangan semester tersebut tidak pernah dibahas.
siswa kelas XI ATP&H SMK Negeri 1 Arse Menurut Albert Bandura dalam Idham
Tahun Pelajaran 2011/2012, diketahui bahwa (2011), struktur kognitiflah yang memberi
pada semester ganjil hanya 25,80% dari jumlah gambaran tingkah laku dan hasil pembelajaran.
siswa dinyatakan tuntas dengan perolehan rata- Hal ini menjelaskan bahwa tingkah laku
rata kelas 6,57 dan kriteria ketuntasan minimal menjiplak dan ketidakmampuan siswa dalam
sebesar 6,15; pada semester genap hanya mengerjakan soal-soal latihan sesuai dengan
29,03% dari jumlah siswa yang dinyatakan konsepnya menandakan bahwa siswa bermasalah
tuntas dengan rata-rata kelas 6,29 dan kriteria pada stuktur kognitif, dan semakin jelas terlihat
ketuntasan minimal sebesar 6,25. pada hasil belajar siswa yang sangat rendah.
Setelah dilakukan penyelidikan terhadap Di dalam teori belajar Cognitive-Field dari
rendahnya rata-rata hasil belajar siswa, yaitu Kurt Lewin menyatakan bahwa belajar berlang-
melalui latihan mengerjakan soal di kelas sung sebagai akibat dari perubahan di dalam
ternyata mereka bisa mengerjakan soal hitungan struktur kognitif dan pernyataan tersebut semakin
jika soal tersebut mirip dengan contoh soal. menguatkan bahwa pembelajaran yang dilakukan
Apabila soal dikecoh misalnya dengan mengubah telah gagal dalam mengubah, menyusun,

Volume: 2 (1) Juni 2013 34 Prodi Dikfis Pascasarjana Unimed


Hakim, A.R. dan Harahap, M.B.: Upaya Penguatan
Struktur Kognitif Siswa Melalui Model
Pembelajaran Advance Organizer Dengan
Pemberian LKS Terstruktur Berdasarkan Teori
APOS.

menyambung ataupun melengkapi struktur kognitif. Dalam melaksanakan proses belajar


kognitif siswa. mengajar guru menggunakan model pembelajaran
Pembelajaran konvensional pada kelas XII advance organizer dimana upaya memperkuat
ATP&H menggunakan model pembelajaran struktur kognitif dilaksanakan pada fase ketiga.
Advance Organizer dengan harapan dapat Model pembelajaran advance organizer
digunakan sebagai jembatan konsep antara merupakan salah satu model pembelajaran yang
materi baru dan materi yang sudah dimiliki mampu menolong siswa memanggil kembali
siswa. Rendahnya rata-rata hasil belajar siswa pengetahuan yang telah dipelajarinya dan
bukanlah karena buruknya model pembelajaran memindahkan pengetahuan tersebut ke topik
yang digunakan. Kemungkinan besar gagalnya yang baru. Karakteristik advance organizer
suatu model pembelajaran diakibatkan karena adalah: (1) berbentuk singkat dan abstrak, (2)
pelaksanaan model pembelajaran tersebut belum dapat menyatukan informasi baru dengan yang
sesuai pelaksanaannya dengan teori. telah diketahui, (3) perkenalan terhadap pelajaran
Model pembelajaran Advance Organizer baru secara unit atau bagian, (4) suatu kerangka
merupakan suatu model pembelajaran yang informasi baru dan satu pernyataan kembali dari
efektif dan telah terbukti melalui penelitian. pengatahuan sebelumnya, (5) menyediakan
Rendahnya hasil belajar berkaitan erat dengan informasi baru pada siswa, (6) menolong siswa
ketidaksesuaian penggunaan metode pembela- memindahkan atau menggunakan apa yang
jaran terhadap karakteristik siswa. Dalam mereka ketahui, dan (7) berisikan sumbangsih
penyajian materi seorang guru harus pandai pemikiran materi yang lebih banyak dari
memilih metode yang tepat serta cara pengua- pengetahuan biasa.
saan kelas yang sesuai dengan kondisi siswa Advance Organizer dapat dianggap
agar siswa tidak merasa bosan tapi justru malah sebagai pertolongan mental dan disajikan
tertarik untuk belajar. Demikian juga pada fase sebelum materi baru. Advance Organizer
penguatan kognitif siswa ternyata dengan merupakan strategi kognitif yang mampu
menggunakan metode diskusi terhadap soal menolong siswa mengingat kembali pengeta-
permasalahan terbukti tidak efektif. Hal ini huan yang telah dipelajarinya dan memindahkan
disebabkan karna minimnya buku bahan ajar pengetahuan tersebut ke materi yang baru.
untuk siswa sebagai sumber belajar saat Dalam Djiwandono (2002) tujuan Advance
melaksanakan diskusi kelompok. Dengan Organizer adalah memberi siswa informasi yang
demikian aktivitas siswa pun semakin menurun mereka butuhkan untuk mempelajari pelajaran
karena tidak ada lagi yang bisa mereka atau membantu mereka dalam mengingat dan
diskusikan. Apabila metode yang digunakan menerapkan pengetahuan yang telah mereka
guru tepat dengan materi pelajaran yang sedang punyai. Jadi, jelas hakekatnya jika Advance
berlangsung maka kemungkinan aktivitas belajar Organizer merupakan sebuah model pembela-
siswa akan lebih tinggi. Hal ini bisa dilihat dari jaran yang membantu para siswa untuk meng-
aktivitas apa yang dilakukan siswa ketika organisasikan informasi yang menyambungkan
mereka belajar. Aktivitas siswa ketika proses ke struktur kognitif yang lebih luas dan
belajar mengajar Jurnal
terjadi Online
adalah Pendidikan Fisika
ketika siswa bisa menggambarkan pengorganisasian yang disiplin.
ISSN 2301-7651
bekerjasama, serius, bertanggungjawab dengan Sehubungan dengan masalah di atas guru
belajarnya, bertanya tentang materi yang tidak bermaksud untuk mengadakan sebuah penelitian
dipahaminya serta mampu menjawab pertanyaan tindakan yang ditekankan pada penguatan
yang diberikan oleh guru. struktur kognitif yaitu pada fase ketiga dari
Faktor lain yang juga diperkirakanakan model pembelajaran advance organizer. Dan
mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor pada fase tersebut tindakan yang dilakukan
dari guru yang kurang memvariasikan metode adalah dengan pemberian LKS Terstruktur
mengajar dalam upaya memperkuat struktur dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa

Volume: 2 (1) Juni 2013 35 Prodi Dikfis Pascasarjana Unimed


Hakim, A.R. dan Harahap, M.B.: Upaya Penguatan
Struktur Kognitif Siswa Melalui Model
Pembelajaran Advance Organizer Dengan
Pemberian LKS Terstruktur Berdasarkan Teori
APOS.

kelas XII ATP&H SMK N 1 Arse. rata-rata ketepatan prosedur pelaksanaan


Untuk memecahkan masalah tersebut tindakan yang dilakukan oleh guru dan
seharusnya model pembelajaran advance persentase skor rata-rata aktivitas siswa.
organizer dibuat menjadi suatu rancangan Dihitung dengan menggunakan rumus:
pembelajaran yang menarik, tepatnya pada fase Jumlah Skor
SR = ×100%
pembelajaran yang bermasalah. Secara konseptual Skor maksimal
model pembelajaran advance organizer terdiri Kriteria yang digunakan
dari 3 fase pembelajaran, (1) Presentasi Advance Interval SR Kriteria
Organizer, (2) Presentasi tugas-tugas belajar 90% ≤ SR < 100% Sangat Baik
atau materi pembelajaran, (3) Memperkuat 80% ≤ SR < 90% Baik
struktur kognitif. Ketiga langkah pembelajaran 70% ≤ SR < 80% Cukup
tersebut mencerminkan keterorganisiran materi 60% ≤ SR < 70% Kurang
(Presentasi Advance Organizer), pemaparan SR < 60% Sangat Kurang
materi yang terorganisir (Presentasi tugas-tugas
belajar atau materi pembelajaran), dan Dari skor tes hasil belajar siswa yang
menekankan pada keaktifan siswa untuk belajar diperoleh dihitung ketuntasan belajar siswa
lebih, namun pada kenyataannya karakteristik secara individual dan persentase ketuntasan
siswa kelas XII ATP&H tidak sesuai dengan belajar siswa secara klasikal. Ketuntasan belajar
metode konvensional dan malah kegiatan siswa secara individual dihitung dengan rumus:
terpenting dalam pembelajaran menjadi pasif. T
Maka dari itu guru bermaksud memberikan KB = ×100
T1
tindakan perbaikan pada fase ketiga dari
Kriteria ketuntasan belajar siswa tercapai
pembelajaran ini, yaitu dengan pemberian LKS
bila KB ≥ 65 (Kriteria ketuntasan minimal mata
terstruktur yang didalamnya telah terancang
kegiatan pembelajaran bagi siswa yang mencakup pelajaran adaptif SMK).
kegiatan diskusi kelompok, simulasi dan Sedangkan untuk menghitung persentase
bereksperimen. Pemberian LKS ditujukan untuk ketuntasan belajar klasikal dihitung dengan
menanamkan konsep di dalam diri dan upaya rumus:
Σsiswa yang tuntas belajar
tersebut sangat meyakinkan untuk dapat mewu- PK = ×100%
judkan pencapaian kompetensi belajar siswa. Σsiswa
Kriteria ketuntasan belajar klasikal tercapai bila
METODE PENELITIAN Pk ≥ 85% .
Lokasi penelitian tindakan kelas (PTK) ini Untuk menentukan peningkatan hasil belajar
adalah SMK Negeri 1 Arse kabupaten Tapanuli Fisika siswa dihitung dengan menggunakan
Selatan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas rumus gain ternormalisasi yaitu:
XII-ATP/H yang berjumlah 31 siswa dengan S − S1
g= 2
objek penelitian Penguatan Struktur Kognitif S mak − S 1
melalui Model Pembelajaran Advance Kategori gain ternormalisasi (g) adalah:
Jurnal Online Pendidikan
Organizer dengan Pemberian LKS terstruktur Fisika
Hakim,
g < 0,3A.R. dan Harahap, M.B.: Upaya Penguatan
: rendah
ISSN 2301-7651
berdasarkan Teori APOS. Observasi dilakukan Struktur Kognitif Siswa Melalui Model
0,3 ≤ g < 0,7 : sedang
untuk melihat ketepatan prosedur pelaksanaan Pembelajaran Advance Organizer Dengan
0,7 ≤ g
Pemberian : LKS
tinggiTerstruktur Berdasarkan Teori
tindakan yang dilakukan oleh guru dan aktivitas APOS.
belajar siswa selama pembelajaran berlangsung.
Data observasi ketepatan prosedur HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru Observasi indikator keberhasilan proses
dan aktivitas belajar siswa yang diperoleh belajar mengajar ini dibagi atas dua aspek, yaitu
dianalisa dengan menentukan persentase skor (1) aspek ketepatan prosedur pelaksanaan

Volume: 2 (1) Juni 2013 36 Prodi Dikfis Pascasarjana Unimed


tindakan yang dilaksanakan guru (peneliti) dan Pelaksanaan Tindakan yang
(2) aspek aktivitas siswa selama proses belajar dilakukan Siklus ke-1
mengajar. Perte- Perte- Perte- Rata-
Hasil observasi ketepatan prosedur Indikator muan I muan II muan III rata
Nilai Nilai Nilai %
pelaksanaan tindakan yang dilakukan dalam
kegiatan belajar mengajar pada siklus pertama 1 60 60 80 66,67
masih tergolong kurang dengan perolehan rata- 2 60 80 80 73,33
rata skor 3,19 pada nilai ideal 5 (63,81%). 3 60 80 80 73,33
Sedangkan dikatakan berhasil harus mencapai 4 60 60 80 66,67
lebih atau sama dengan 65%. 5 60 60 60 60,00
Adapun penjelasan dari rendahnya per- 6 60 60 60 60,00
olehan rata-rata skor antara lain: 7 40 40 60 46,67
a) Indikator 1: Guru masih kurang komunikatif Jumlah 400 440 500
dalam menghubungkan tujuan pembelajaran Rata-rata 57,14 62,86 71,43 63,81
dengan informasi yang diingatkan. Indikator
ini merupakan langkah pertama pembentukan Data observasi aspek Ketepatan Prosedur
struktur kognitif siswa. Pelaksanaan Tindakan yang dilakukan peneliti
b) Indikator 2: Guru tidak meminta siswa pada siklus 1 pada Tabel 1 dapat dilihat dalam
untuk mengaitkan materi dengan kehidupan bentuk diagram seperti pada Gambar 1.
sehari-hari padahal mengaitkan materi
pelajaran dengan kehidupan sehari-hari
dapat memberi arti kebutuhan akan materi
pelajaran tersebut bagi siswa.
c) Indikator 3: Pengetahuan prasyarat sangatlah
perlu dicek sebagai sambungan struktur
kognitif siswa.
d) Indikator 4: Guru terlalu sibuk dalam
menyampaikan materi pelajaran tanpa
memperhatikan perhatian siswa.
e) Indikator 5: Suasana yang agak kaku dan
monoton mengakibatkan siswa enggan
menjawab pertanyaan siswa lain.
f) Indikator 6: Pembentukan kelompok dan Gambar 1. Perolehan Skor Ketepatan Prosedur
penyampaian informasi kerja kurang baik Pelaksanaan Tindakan Mengajar Siklus ke-1
sehingga kinerja kurang terarah.
g) Indikator 7: Siswa menganggap LKS Dalam aspek aktivitas siswa hasil
Terstruktur adalah beban pekerjaan rumah observasi pada siklus pertama dengan per-
(PR) semata. Dengan menjelaskan bahwa olehan rata-rata skor 92,57 dengan skor ideal
adanya LKSJurnal Online Pendidikan
Terstruktur Fisika
adalah sebagai 155. Sedangkan perolehan persentase nilai rata-
ISSN 2301-7651 rata aspek aktivitas siswa adalah 59,72% dan
latihan pembentukan struktur kognitif sesuai
dengan teori APOS, maka siswa akan ini tergolong kurang, aktivitas siswa dikatakan
temotivasi untuk mengerjakan LKS berhasil jika mencapai lebih dari atau sama
Terstruktur. dengan 65%. Fokus pengamatan observer
Observasi aspek Ketepatan Prosedur terhadap aktivitas siswa pada penelitian ini ada
Pelaksanaan Tindakan yang dilakukan pada tujuh indikator yaitu: (1) Visual, (2) Oral, (3)
siklus 1 dapat dilihat pada Tabel 1. Listening, (4) Writing, (5) Motor, (6) Mental, (7)
Tabel 1. Perolehan Skor Ketepatan Prosedur Emotional.

Volume: 2 (1) Juni 2013 37 Prodi Dikfis Pascasarjana Unimed


Hakim, A.R. dan Harahap, M.B.: Upaya Penguatan Jurnal Online Pendidikan Fisika
Struktur Kognitif Siswa Melalui Model ISSN 2301-7651
Pembelajaran Advance Organizer Dengan
Pemberian LKS Terstruktur Berdasarkan Teori
APOS.

Observasi aspek aktivitas siswa selama keberhasilan tes hasil belajar ini akan
proses belajar mengajar pada siklus 1 dapat dipengaruhi oleh keberhasilan proses. Setelah
dilihat pada Tabel 2. diadakan tes hasil belajar pada akhir
Tabel 2. Perolehan Persentase Skor Aspek pembelajaran siklus pertama, diperoleh
Aktivitas Siswa Siklus ke-1 hasil penguasaan siswa terhadap materi belajar
tergolong cukup yaitu dengan rata-rata 63,66.
Indi- Rerata Skor Persen-
Ket. Dari skor ideal 15 skor perolehan rata-rata
kator Skor Ideal tase
hanya mencapai 10 (63,66%) dan siswa yang
1 95,33 155 61,51 Kurang mencapai ketuntasan belajar hanya 41,94%.
2 88,33 155 56,99 Kurang
3 96,33 155 62,15 Kurang
Adapun rendahnya perolehan rata-rata yang
4 96,00 155 61,94 Kurang masih berada di bawah angka cukup yaitu 65,00
5 87,67 155 56,56 Kurang disebut sebagai kegagalan yang terjadi pada
6 95,33 155 61,51 Kurang siklus pertama.
7 89,00 155 57,42 Kurang Kegagalan ini sebahagian besar disebab-
Rerata 92,57 59,72 Kurang kan oleh kekhilafan ataupun kelalaian dalam
pelaksanaan tindakan dimana pelaksanaan tidak
Data observasi aspek aktivitas siswa sesuai dengan prosedur. Faktor terbesar yang
dalam proses belajar mengajar siklus 1 pada mempengaruhi hal tersebut tidak lain karena
Tabel 2 dapat dilihat dalam bentuk diagram pengajar belum menguasai prosedur tindakan
seperti pada Gambar 2. yang akan dilaksanakan. Hal ini dapat diatasi
dengan membaca ulang dan berusaha mengingat
langkah-langkah prosedur tindakan yang akan
dilaksanakan. Jika ternyata permasalahan serupa
masih ditemukan maka untuk membiasakan diri
guru bisa melihat lembar observasi ketepatan
pelaksanaan tindakan sebagai acuan dalam
melaksanakan langkah-langkah pelaksanaan
tindakan.
Pada siklus kedua, terlihat beberapa
kemajuan dimana siswa semakin serius
menanggapi materi baru yang disampaikan guru
setelah mengupayakan penyampaian informasi
Gambar 2. Persentase Skor Rata-rata yang berhubungan dengan materi pelajaran dan
Kelompok Aspek Aktivitas Siswa Siklus ke-1 menghubungkan tujuan pembelajaran dengan
informasi yang disampaikan. Hal ini sesuai
Data proses pada siklus pertama, yang dengan pendapat Dahar (1988) yang
berupa data mengenai (1) aspek ketepatan menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan
prosedur pelaksanaan tindakan yang dilakukan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada
guru atau peneliti, dan (2) aspek aktivitas siswa konsep-konsep relevan yang terdapat dalam
secara rata-rata diperoleh 61,77%, ini berarti struktur kognitif seseorang. Hal tersebut juga
keberhasilan proses dalam siklus pertama dapat dibuktikan pada saat siswa diskusi pada
tergolong cukup. Setelah observasi indikator pertemuan ke-enam. Mereka bisa menjawab
keberhasilan proses belajar mengajar dilaksa- bahwa pada sebuah lampu pijar terdapat tulisan
nakan, selanjutnya akan dibahas mengenai 220 V-25 W, maka maksud dari tulisan itu
indikator keberhasilan penguatan struktur lampu tersebut menyala seefisien mungkin pada
kognitif yang merupakan tes hasil belajar siswa tegangan 220 volt dan dengan daya yang
selama siklus pertama berjalan, dan tentu digunakan sebesar 25 Watt. Dari jawaban

Volume: 2 (1) Juni 2013 38 Prodi Dikfis Pascasarjana Unimed


Hakim, A.R. dan Harahap, M.B.: Upaya Penguatan Jurnal Online Pendidikan Fisika
Struktur Kognitif Siswa Melalui Model ISSN 2301-7651
Pembelajaran Advance Organizer Dengan
Pemberian LKS Terstruktur Berdasarkan Teori
APOS.

tersebut disimpulkan bahwa siswa dapat terbantu diatasi dengan mengingatkan informasi
mengaitkan materi dalam kehidupan sehari-hari. yang berhubungan, walaupun guru belum
Adapun beberapa siswa yang belum tuntas berhasil dalam mempertahankan perhatian siswa
pada pengetahuan prasyarat, peneliti langsung selama menjelaskan materi pelajaran tetapi guru
memberi tindakan dengan mengingatkan berhasil membawa suasana keterbukaan dan
informasi yang berhubungan dengan siswa yang sering memberi reward sehingga siswa lebih
belum pernah mempelajari hal tersebut. partisipatif. Sementara pada sesi diskusi
Walaupun peneliti menganggap usaha sudah kelompok guru berhasil membuat kinerja
maksimal ternyata dari hasil observasi ketepatan kelompok semakin terarah dengan menjelaskan
prosedur pelaksanaan tindakan diperoleh bahwa kerja dan tanggung jawab kelompok dan siswa
guru belum maksimal dalam mempertahankan mulai temotivasi untuk mengerjakan LKS
perhatian siswa selama menjelaskan materi Terstruktur. Perolehan skor aspek ketepatan
pelajaran, namun peneliti tidak tinggal diam prosedur pelaksanaan tindakan tersebut
dalam kekurangan tersebut dan ditingkatkan dirangkum pada Tabel 3.
pada pertemuan selanjutnya. Ternyata dengan Tabel 3. Data Ketepatan Prosedur Pelaksanaan
peningkatan perhatian siswa dapat membuat Tindakan yang Dilakukan Guru Siklus II
siswa lebih partisipatif, dengan hal tersebut Perte- Perte- Perte- Perte-
siswa lebih merasa adanya suasana keterbukaan Indi- muan muan muan muan Rerata
Kator IV V VI VII
dan di akhir pembelajaran peneliti memberi
Nilai Nilai Nilai Nilai %
reward atas kinerja kelompok yang baik yang 1 100 100 100 100 100
diharapkan agar pembelajaran setelah penelitian 2 80 80 80 100 80,00
pun akan berlangsung dengan bersemangat 3 80 100 100 100 93,33
seperti saat penelitian. 4 80 80 100 100 86,67
Hasil observasi aspek ketepatan prosedur 5 80 80 80 100 80,00
pelaksanaan tindakan yang dilakukan guru atau 6 80 80 80 100 80,00
7 80 80 80 80 80,00
peneliti dalam proses belajar mengajar pada Jumlah 580 600 620 680
siklus kedua tergolong Sangat baik dengan Rerata 82,86 85,71 88,57 97,14 85,71
perolehan rata-rata skor 4,43 pada nilai ideal 5,
atau persentase rata-rata 85,71%. Sementara Hasil observasi aspek aktivitas siswa
hasil dikatakan berhasil jika pencapaian lebih pada siklus kedua mencapai rata-rata skor
atau sama dengan 65. Hal ini berarti mengalami 115,43 pada skor ideal 155. Sedangkan
perbaikan dari siklus pertama sebesar 1,24 poin perolehan persentase nilai rata-rata aspek
atau persentase meningkat sebesar 21,90% dan aktivitas siswa adalah 74,47%, dalam hal ini
hal ini dapat dikatakan telah mencapai target aspek aktivitas siswa sudah tergolong cukup,
minimal yang ditetapkan pada indikator yang mana aspek aktifitas siswa dikatakan
keberhasilan proses sebesar 85%. berhasil jika mencapai lebih dari atau sama
Penjelasan dari perolehan rata-rata skor dengan 65%. Pada siklus kedua ada pening-
aspek ketepatan prosedur pelaksanaan tindakan katan aktivitas bertanya, memberikan tang-
yang dilaksanan guru atau peneliti yaitu pada Hakim,
gapan, A.R.
dan dan Harahap, M.B.:
memberikan Upaya kepada
penjelasan Penguatan
Struktur Kognitif Siswa
langkah pertama pembentukan struktur kognitif anggota atau teman lain kelompok. Melalui Model
Pembelajaran Advance Organizer Dengan
siswa berjalan dengan baik dengan cara Fokus pengamatan
Pemberian observer
LKS Terstruktur terhadap
Berdasarkan Teori
menghubungkan tujuan pembelajaran dengan aktivitas APOS.siswa pada siklus ke-dua selama proses
informasi yang terlebih dahulu diingatkan. belajar mengajar dapat dilihat pada Tabel 4.
Kemudian guru berhasil membuat siswa Tabel 4. Persentase Skor Rata-rata Kelompok
mengaitkan materi dengan kehidupan sehari- Aspek Aktivitas Siswa dalam Proses Belajar
hari. Hal lain yang ditemukan yaitu siswa yang Mengajar Siklus ke-2
belum tuntas pada pengetahuan prasyarat merasa

Volume: 2 (1) Juni 2013 39 Prodi Dikfis Pascasarjana Unimed


guru atau peneliti dan (2) data aktivitas siswa
Rata-rata Skor
Aspek Persentase Ket. secara rata-rata diperoleh persentase 80,09%.
Skor Ideal
Berarti ada peningkatan 18,32% bila diban-
1 115,00 155 74,19 Baik dingkan dengan siklus pertama yang hanya
2 113,00 155 72,90 Baik
3 117,25 155 75,65 Baik
mencapai 61,77%. Ini berarti keberhasilan
4 116,75 155 75,32 Baik proses dalam siklus kedua tergolong baik. Hal
5 115,25 155 74,35 Baik ini telah sesuai dengan hasil penelitian Arnawa
6 116,00 155 74,84 Baik (2009) yang menyatakan bahwa lembar kerja
7 114,75 155 74,03 Baik yang disusun berdasarkan teori APOS dapat
Rerata 115,43 74,47 Baik meningkatkan aktivitas belajar mengajar.
Indikator keberhasilan penguatan struktur
Secara rata-rata ada peningkatan sebesar kognitif siklus ke-dua merupakan tes hasil
14,75%, yaitu dari 59,72% pada siklus belajar siswa selama siklus ke-dua. Hal ini
pertama menjadi 74,47% pada siklus kedua menerangkan bahwa penguasaan siswa terhadap
dan dapat dilihat pada Tabel 5 dan dalam materi pembelajaran meningkat 18,92% dari
bentuk diagram seperti pada Gambar 3. perolehan rata-rata pada siklus pertama
Tabel 5. Data Persentase Skor Rata-rata mencapai 63,66 (63,66%) kemudian pada siklus
Kelompok Aspek Aktivitas Siswa kedua menjadi 82,58 (82,58%). Dari skor ideal
Perolehan Perolehan 15 skor perolehan rata-rata mencapai 12,39.
Siklus I Siklus II
As
Rata- Rata-
Skor % Perolehan nilai rata-rata tersebut dapat dijadikan
pek Ideal Gain sebagai tolak ukur bahwa adanya peningkatan
rata % rata %
Skor Skor penguatan struktur kognitif siswa. Sedangkan
1 95,33 61,50 115,00 74,19 155 12,69 siswa yang mencapai ketuntasan belajar sudah
2 88,33 56,99 113,00 72,90 155 15,91 mencapai 90,32%.
3 96,33 62,15 117,25 75,65 155 13,50 Untuk Indikator peningkatan Penguatan
4 96,00 61,94 116,75 75,32 155 13,38
Struktur Kognitif secara rata-rata ada pening-
5 87,67 56,56 115,25 74,35 155 17,79
6 95,33 61,50 116,00 74,84 155 13,34 katan sebesar 18,92%, yaitu dari 63,66% pada
7 89,00 57,42 114,75 74,03 155 16,61 siklus pertama menjadi 82,58% pada siklus
Re- kedua. Untuk mengetahui kategori peningkatan
92,57 59,72 115,43 74,47 14,75
rata Keberhasilan Proses Pelaksanaan Tindakan dan
Peningkatan Penguatan Struktur Kognitif dapat
dilihat berdasarkan nilai gain ternormalisasi
penguatan struktur kognitif siswa. Telah terjadi
peningkatan rata-rata Keberhasilan Proses
Pelaksanaan Tindakan sebesar 15,55 poin
dengan gain ternormalisasi 0,44 berkategori
sedang.
Selain Peningkatan Penguatan Struktur
Kognitif, juga terjadi peningkatan rata-rata tes
Hakim, A.R. dansebagai
hasil belajar Harahap,indikator
M.B.: Upaya Penguatan
peningkatan
Jurnal Online Pendidikan Fisika Struktur Kognitif Siswa Melalui Model
ISSN 2301-7651 penguatan struktur kognitif
Pembelajaran Advancesiswa sebesar 18,92
Organizer Dengan
poin,Pemberian
persentaseLKS
ketuntasan sebesar
Terstruktur 48,39% dan
Berdasarkan Teori
Gambar 3. Persentase Skor Rata-rata peningkatan
APOS. nilai tes hasil belajar berkategori
Kelompok Aspek Aktivitas Siswa dalam sedang (gain (g) = 0,51). Hal ini menunjukkan
Proses Belajar Mengajar bahwa proses kinerja guru dan siswa pada siklus
Data proses pada siklus kedua, yang II tercapai secara optimal.
berupa data mengenai (1) aspek ketepatan Berdasarkan hasil yang diperoleh pada
prosedur pelaksanaan tindakan yang dilakukan

Volume: 2 (1) Juni 2013 40 Prodi Dikfis Pascasarjana Unimed


Jurnal Online Pendidikan Fisika
ISSN 2301-7651

siklus kedua ini khususnya penggunaan LKS (Analisis) yaitu sebanyak 14 orang (45%)
Terstruktur dalam Pembelajaran dapat mening- sedangkan pada siklus kedua siswa mampu
katkan penguatan struktur kognitif Fisika siswa menjawab soal dengan kategori C4
yang ditandai dengan meningkatnya hasil (Analisis) yaitu sebanyak 29 orang
belajar siswa sebesar 2 poin (18,92%) dari (93,5%) dan mampu menjawab soal
hasil rata-rata 10 pada skor ideal 15 (63,66%) sampai dengan kategori C6 (Mencipta)
kategori cukup pada siklus pertama menjadi 12 yaitu sebanyak 11 orang (35%).
(82,58%) kategori baik pada siklus kedua. Ini 5. Melalui kombinasi teori APOS pada LKS
sesuai dengan hasil penelitian Indraswati Terstruktur, siswa membangun sendiri
(2010) yang menyatakan bahwa penggunaan struktur kognitifnya, menemukan langkah-
LKS Terstruktur adalah salah satu solusi yang langkah dalam mencari penyelesaian dari
dapat digunakan untuk meningkatkan suatu materi yang harus dikuasai oleh
kemampuan kognitif siswa dalam proses siswa, baik secara individu maupun
pembelajaran. kelompok.

SIMPULAN DAFTAR PUSTAKA


Berdasarkan hasil penelitian tindakan Arnawa, I.M.,dkk. 2009. Pengembangan
kelas dapat disimpulkan sebagai berikut : Perangkat Pembelajaran Berdasarkan
1. Penerapan model pembelajaran Advance Teori APOS untuk Meningkatkan
Organizer dengan pemberian LKS Kualitas Perkuliahan Aljabar Abstrak.
Terstruktur berdasarkan teori APOS dapat Artikel: Artikel Ilmiah Penelitian Hibah
meningkatkan Penguatan Struktur Kognitif Bersaing Jurusan Matematika FMIPA
siswa. UNAND, Padang
2. Penerapan model pembelajaran Advance Dahar, R.W. 1988. "Konstruktivisme dalam
Organizer dengan pemberian LKS Mengajar dan Belajar”; Pidato
Terstruktur berdasarkan teori APOS dapat Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap
meningkatkan aktivitas proses belajar pada FPMIPA IKIP Bandung, Bandung.
mengajar. Djiwandono, S.E.W. 2002. Psikologi Pendidikan.
3. Hasil observasi menunjukkan bahwa akti- Jakarta: Grasindo.
vitas belajar siswa meningkat pesat pada Idham, F. 2011. Teori Pembelajaran Sosial
aspek visual, listening, dan motor yaitu Albert Bandura. http://kaunselingelie.
dengan rerata masing-masing aspek visual blogspot.com/2011/02/teori-pembelaja
dari 2,83 menjadi 3,72; aspek listening dari ran-sosial-albert.html. Diakses tanggal 10
2,87 menjadi 3,70; dan aspek motor dari Oktober 2012.
2,85 menjadi 3,65. Indraswati, N. 2010. Penerapan Model
4. Data tes hasil belajar mengindikasikan Pembelajaran Learning Cycle “5E”
adanya peningkatan penguatan struktur Berbantuan LKS Terstruktur untuk
kognitif yaitu dari kemampuan siswa Meningkatkan Kemampuan Kognitif
dalam menjawab tes hasil belajar pada Siswa pada Pokok Bahasan Geometri.
siklus pertama dan siklus kedua, dimana Tesis, Surakarta, Perpustakaan Fakultas
pada siklus pertama siswa mampu Keguruan dan Ilmu Pendidikan
menjawab soal sampai dengan kategori C4 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Volume: 2 (1) Juni 2013 41 Prodi Dikfis Pascasarjana Unimed