Anda di halaman 1dari 7

Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

Peningkatan Kemandirian Belajar Mahasiswa Melalui


Penggunaan Pendekatan Modifikasi APOS
Yerizon
Jurusan Matematika FMIPA UNP Padang
E-mail: yerizon@yahoo.com

Abstrak. Penelitian ini mengkaji tentang pengaruh pembelajaran dengan pendekatan


modifikasi APOS terhadap kemandirian belajar matematis mahasiswa pada mata kuliah
Analisis Real. Kelompok eksperimen diberi perlakuan berupa pendekatan modifikasi
APOS yang mempunyai empat karakteristik: (1) pengetahuan matematika dikonstruksi
melalui tahapan konstruksi mental aksi, proses, objek, dan skema; (2) menggunakan
lembaran kerja terstruktur; (3) belajar dalam kelompok kecil; (4) Menggunakan siklus
ADL (activitas, diskusi kelas, dan latihan). Penelitian adalah kuasi-eksperimen dengan
desain perbandingan kelompok statis yang melibatkan 62 mahasiswa Program Studi
Pendidikan Matematika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang
mengikuti pembelajaran dengan pendekatan modifikasi APOS memiliki kemandirian
belajar yang lebih baik dari pada mahasiswa yang mengikuti pembelajaran secara
konvensional. Kemandirian belajar matematik mahasiswa masih tergolong dalam kategori
sedang. Dapat disimpulkan bahwa pendekatan modifikasi APOS dapat meningkatkan
kemandirian belajar mahasiswa.

Kata Kunci: kemandirian belajar, modifikasi APOS, siklus ADL

PENDAHULUAN dan Fisher [2] bahwa kemandirian belajar


mempunyai korelasi yang tinggi dengan
Kemandirian belajar sebagai salah satu keberhasilan siswa.
objek tak langsung, diterjemahkan dari Dalam hal ini, kemandirian belajar
istilah self-regulated learning. bukan merupakan kemampuan mental
Kemandirian belajar merupakan hal yang atau keterampilan akademik tertentu,
sangat mempengaruhi keberhasilan melainkan merupakan proses pengarahan
mahasiswa dalam belajar. Sumarmo [1] diri dalam mentransformasikan
mendefinisikan kemandirian belajar kemampuan mental ke dalam
sebagai proses perancangan dan keterampilan akademik tertentu. Terdapat
pemantauan yang seksama terhadap tiga karakteristik utama yang termuat
proses kognitif dan afektif dalam dalam pengertian kemandirian belajar di
menyelesaikan suatu tugas akademik atas, yaitu (1) Individu merancang
Kemandirian belajar matematik juga belajarnya sendiri sesuai dengan
didefinisikan sebagai kecendrungan diri keperluan atau tujuan belajar individu
dalam belajar yang meliputi: perancangan, yang bersangkutan; (2) Individu memilih
pengaturan, pemantauan, dan pandangan strategi dan melaksanakan rancangan
terhadap kemampuan diri dalam belajar belajarnya; (3) Individu memantau
matematik [1]. Individu yang memiliki kemajuan belajarnya sendiri,
kemandirian belajar yang tinggi mengevaluasi hasil belajarnya dan
cenderung belajar lebih baik. Mereka dibandingkan dengan standard tertentu.
mampu memantau, mengatur dan Woolfolk [3] menyatakan bahwa
mengevaluasi proses belajarnya secara faktor-faktor yang mempengaruhi
efektif (Hargins: dalam [1]). Hal ini kemandirian belajar meliputi :
sejalan dengan yang dikatakan oleh Darr pengetahuan (knowledge), motivasi

Semirata 2013 FMIPA Unila |557


Yerizon: Peningkatan Kemandirian Belajar Mahasiswa Melalui Penggunaan
Pendekatan Modifikasi APOS

(motivation) dan disiplin pribadi (self- sendiri, membandingkan posisi diri


discipline). Agar dapat mempunyai dengan standar tertentu, dan memberikan
kemandirian dalam belajar siswa harus respon sendiri(respon positif dan respon
mempunyai pengetahuan tentang dirinya, negatif). Bandura [1] menyatakan bahwa
tentang subyek yang akan dipelajari, kemandirian dalam belajar merupakan
tentang tugas, tentang strategi belajar dan suatu proses terbuka yang memerlukan
tentang aplikasi dari subyek yang aktivitas siklis (cyclical activity) dalam
dipelajari. Siswa dengan kemandirian tiga fase: pemikiran awal (forethought),
belajar yang baik juga mempunyai kontrol kemauan (volitional control), dan
motivasi belajar yang tinggi. Mereka refleksi diri (self reflection). Fase
tertarik untuk mengerjakan berbagai tugas pemikiran awal mengacu pada proses-
yang diberikan karena menyukainya. proses yang akan berpengaruh dan
Mereka mengetahui mengapa mereka keyakinan-keyakinan awal sebelum
belajar, sehingga mereka melakukan dan belajar. Fase kedua, kontrol kemauan,
memilih sesuatu merupakan dorongan dari merupakan proses-proses yang terjadi
diri mereka sendiri dan bukan karena selama belajar yang mempengaruhi
dikontrol oleh orang lain. Siswa dengan konsentrasi dan kinerja. Fase ketiga,
kemandirian belajar yang baik di samping refleksi diri, merupakan proses-proses
memiliki pengetahuan dan motivasi, juga yang terjadi setelah belajar dan reaksi
mempunyai disiplin pribadi yang baik. pebelajar terhadap pengalaman belajar
Corno [1] menyatakan bahwa motivasi tersebut. Fase refleksi diri ini, pada
menandakan adanya komitmen, gilirannya akan pengaruh pada pemikiran
sedangkan disiplin pribadi menandakan tentang upaya pembelajaran berikutnya,
adanya keberlanjutan. Kedisiplinan yang sehingga merupakan suatu siklus yang
dimiliki siswa akan menjamin bahwa utuh dalam kemandirian belajar.
tindakan yang dilakukan akan berlangsung Selanjutnya, Zimmerman (2001) juga
secara terus menerus sehingga bisa menambahkan bahwa siswa yang
didapatkan hasil yang lebih baik. memiliki kemandirian belajar mempunyai
Pintrich [3] menyatakan ada 4 jenis kemandirian dalam berfikir, merasakan
strategi umum harus digunakan para siswa (feelings) dan bertindak untuk mencapai
untuk mengembangkan kemandirian tujuan pembelajaran.
belajar mereka, yaitu: (1) strategi Menurut Sumarmo [1] kemandirian
kemandirian berpikir, strategi ini berfokus belajar merupakan proses perancangan
pada memonitor, mengontrol dan dan pemantauan diri yang seksama
mengatur pikiran; (2) strategi kemandirian terhadap proses kognitif dan afektif dalam
motivasi dan perasaan, strategi ini meyelesaikan suatu tugas akademik dan
berfokus pada memonitor, mengontrol dan kemandirian belajar bukan merupakan
mengatur motivasi, emosi maupun kemampuan mental atau ketrampilan
perasaan; (3) strategi kemandirian akademik tertentu, tapi merupakan proses
perilaku, strategi ini berfokus pada pengarahan diri dalam mentransformasi
memonitor, mengontrol dan mengatur kemampuan mental ke dalam ketrampilan
perilaku; (4) strategi kemandirian konteks, akademik tertentu.
strategi ini berfokus pada memonitor, Namun dari kenyataan ditemui bahwa
mengontrol dan mengatur konteks dan mahasiswa atau siswa belum mempunyai
lingkungan. kemandirian belajar yang baik. Mereka
Bandura [1] menyarankan tiga langkah masih sangat bergantung kepada dosen
dalam melaksanakan kemandirian belajar atau guru, sehingga kurang punya inisiatif
yaitu: mengamati dan mengawasi diri dalam belajar. Dari hasil penelitian

558| Semirata 2013 FMIPA Unila


Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

Ratnaningsih [2] dan Qohar [3] diperoleh hal yang internal dan dibawah kontrol
bahwa secara rata-rata kemandirian individu sendiri.
belajar matematik siswa tergolong sedang. Ketika individu melakukan refleksi
Tapi untuk siswa level sedang dan rendah pada operasi yang diterapkan pada
kemandirian belajar mereka masih rendah. process tertentu, menjadi sadar terhadap
Untuk perlu dilakukan suatu process sebagai suatu totalitas, menyadari
pendekatan pembelajaran yang dapat bahwa transformasi (baik action maupun
meningkatkan kemandirian belajar process) dapat dilakukan, dan benar-benar
mahasiswa. Salah satu pendekatan yang dapat mengkonstruksi transformasi itu,
memperhatikan konstruksi-konstruksi maka individu tersebut memaknai process
mental yang dilakukan mahasiswa adalah sebagai object. Dalam kasus ini dikatakan
APOS (Action-Process-Object-Schema). bahwa process telah dirangkum (di-
Teori APOS mengasumsikan bahwa enkapsulasi) menjadi sebuah object
pengetahuan matematika yang dimiliki kognitif. Seseorang dikatakan telah
oleh seseorang merupakan hasil interaksi memiliki konsep object dari suatu konsep
dengan orang lain dan hasil konstruksi matematik apabila dia telah mampu
mental orang tersebut dalam memahami memperlakukan konsep tersebut sebagai
ide matematika. Istilah konstruksi yang sebuah objek kognitif yang mencakup
dimaksudkan di sini mirip dengan istilah kemampuan melakukan aksi atas objek
akomodasi dan asimilasi dari Piaget [4]. tersebut serta memberikan alasan atau
Aksi (action) adalah suatu transformasi penjelasan tentang sifat-sifatnya.
objek mental untuk memperoleh objek Kemudian individu juga telah mampu
mental lainnya. Tansformasi dilakukan mengurai kembali suatu objek menjadi
dengan melakukan aksi terhadap petunjuk proses sebagaimana asalnya pada saat
eksternal, yang memberikan rincian sifat objek tersebut akan digunakan.
mengenai langkah apa yang harus diambil. Skema (schema) merupakan koleksi
Seseorang dikatakan mengalami suatu yang koheren dari action, process, object,
aksi apabila seseorang tersebut dan schema lainnya, yang terhubung
memfokuskan proses mentalnya pada secara padu dan diorganisasi secara
upaya untuk memahami suatu konsep terstruktur dalam pikiran individu.
yang diberikan. Seseorang yang memiliki Schema ini dapat diandalkan dalam
pemahaman yang lebih baik mungkin menghadapi persoalan dalam bidang
dapat melakukan aksi lebih baik. matematika. Perbedaan antara schema
Ketika suatu action diulang dan dengan konstruksi mental lainnya adalah
individu melakukan refleksi terhadap aksi seperti perbedaan dalam bidang biologi
yang telah dilakukan, maka action antara organ dengan sel. Keduanya adalah
diinteriorisasi menjadi process, yaitu object, tetapi organ (schema) memberikan
konstruksi internal yang dibuat dengan keperluan agar sel berfungsi sebagaimana
melakukan action yang sama. Tetapi mestinya, Schema dari seorang individu
sekarang, aksi tidak diarahkan atau adalah keseluruhan pengetahuan yang ia
dirangsang oleh stimulus dari luar. hubungkan secara sadar maupun tidak
Individu yang sudah mengkonstruksi sadar dengan konsep matematika tertentu.
process konsep dapat menguraikan atau Namun dalam pelaksanaan teori APOS
bahkan membalikkan langkah dari terdapat beberapa kendala. Berdasarkan
transformasi tanpa benar-benar penelitian Nurlaelah [5] dan Arnawa [6]
melakukannya. Berbeda dengan action, ditemukan bahwa terdapat beberapa
process dirasakan oleh individu sebagai kendala dalam mengimplementasikan
teori APOS, khususnya dalam aktivitas di

Semirata 2013 FMIPA Unila |559


Yerizon: Peningkatan Kemandirian Belajar Mahasiswa Melalui Penggunaan
Pendekatan Modifikasi APOS

laboratorium. Kendala tersebut terjadi modifikasi APOS terhadap kemandirian


karena mahasiswa tidak dapat belajar matematika mahasiswa dalam
mengkonstruksi pengetahuan secara pembelajaran Analisis Real. Penelitian ini
optimal melalui aktivitas komputer. merupakan penelitian kuasi eksperimen,
Kendala tersebut terutama terjadi ketika walaupun demikian juga akan dilakukan
mahasiswa menyusun instruksi ISETL analisis kualitatif. Analisis kualitatif
untuk suatu konsep. Misalnya terjadi dimaksudkan untuk mengkaji lebih jauh
sedikit dalam pengetikan instruksi ISETL hal-hal yang terjadi dibalik kesimpulan
menyebabkan program yang disusun yang diperoleh melalui uji statistik.
tidak jalan dan mahasiswa tidak dapat Penelitian ini melibatkan dua kelas
membuat kesimpulan dari konsep yang dengan kemandirian belajar awal sama.
termuat dalam program itu. Akibatnya Dari dua kelas tersebut akan dipilih secara
pada fase diskusi kelas, mahasiswa lebih acak satu kelas untuk dijadikan kelas
tertarik untuk mendiskusikan penyusunan ekperimen dan satu kelas lagi sebagai
program komputernya dibandingkan kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan
dengan mendiskusikan konsep yang perlakuan berupa pembelajaran Analisis
termuat dalam konsep tersebut. Kendala Real berdasarkan pendekatan modifikasi
lainnya adalah ketidaksiapan software dan APOS yang, sedangkan kelas kontrol pola
hardware pada saat diperlukan, sehingga pembelajarannya berjalan seperti biasa.
secara keseluruhan menghambat Untuk mengetahui besarnya
pelaksanaan pembelajaran yang sudah peningkatan kemandirian belajar
direncanakan. matematika mahasiswa dalam
Untuk itu diadakan modifikasi terhadap pembelajaran Analisis Real, maka semua
APOS. Dalam hal ini yang dimodifikasi mahasiswa yang terlibat dalam penelitian
adalah pada aktivitas kegiatan ini diberikan pretes dan postes. Dengan
laboratorium pada APOS diganti dengan demikian, disain penelitiannya adalah The
mengerjakan lembaran kerja tugas. Static-Group Pretest-Posttest Design [7]
Lembaran kerja tugas ini akan memandu sebagai berikut.
mahasiswa dalam memahami suatu O X1 O
konsep yang akan dipelajari. Siklus
pembelajaran dalam pendekatan O O
modifikasi APOS meliputi: (1) aktivitas Gambar 1. Desain Penelitian
dalam mengerjakan lembaran kerja tugas, Keterangan:
(2) diskusi kelas, dan (3) latihan. Dengan O = Pretes = Postes
demikian, pembelajaran berdasarkan X = Pembelajaran dengan pendekatan
pendekatan modifikasi APOS memberi modifikasi APOS
peluang kepada mahasiswa untuk Populasi pada penelitian ini adalah
berkreativitas, memperoleh intuisi, dan semua mahasiswa jurusan Matematika
memperoleh pengalaman dalam FMIPA UNP Padang. Sedangkan
bermatematika. Dari sini dapat kita lihat sampelnya adalah mahasiswa Program
bahwa, pendekatan ini cukup menjanjikan Studi Pendidikan Matematika yang
jika digunakan dalam pembelajaran mengambil mata kuliah Analisis Riil yang
Analisis Real. terdiri dari 2 kelas yang masing-masing
terdiri dari 31 mahasiswa..
METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk melihat
pengaruh penerapan pendekatan Untuk mengetahui perbedaan

560| Semirata 2013 FMIPA Unila


Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

peningkatan kemandirian belajar Pendidikan Matematika tidak berbeda


matematika mahasiswa dalam mata kuliah secara signifikan.
Analisis Real yang memperoleh Dari hasil uji t diperoleh nilai
pendekatan pembelajaran yang berbeda signifikansinya untuk kelompok tinggi
dilakukan uji statistic yaitu uji-t. 0,503, untuk kelompok sedang 0,242, dan
Perbedaan dilihat dari berbagai untuk kelompok rendah 0,005.
kemampuan awal yaitu: tinggi, sedang, Berdasarkan angka ini diperoleh bahwa
dan rendah. tidak terdapat perbedaan capaian dan
Pada Tabel 1 ditampilkan rata-rata dan peningkatan kemandirian belajar
simpangan baku dari kemandirian belajar matematika antara mahasiswa yang diajar
matematika mahasiswa dan gainnya dengan pendekatan M-APOS dibanding
berdasarkan kemampuan awal. mahasiswa yang diajar secara
Untuk melihat seberapa besar konvensional pada Program Studi
keberartian (signifikansi) perbedaan skor- Matematika untuk level kemampuan awal
skor dan peningkatannya, dilakukan tinggi dan sedang. Kemudian terdapat
analisis statistik ANOVA dua-jalur. perbedaan capaian kemandirian belajar
Dari hasil analisis data diperoleh matematika antara mahasiswa yang diajar
bahwa untuk capaian nilai signifikansi dengan pendekatan M-APOS dibanding
adalah 0,010 dan untuk N-gainnya 0,029 mahasiswa yang diajar secara
yang lebih kecil dari 0,05. Maka dapat konvensional untuk level kemampuan
disimpulkan bahwa skor rata-rata dan rendah. Tapi terdapat perbedaan
peningkatan kemandirian belajar peningkatan kemandirian belajar
matematika mahasiswa Program Studi matematika antara mahasiswa yang diajar
Pendidikan Matematika yang diajar dengan pendekatan M-APOS dibanding
dengan pendekatan pendekatan M-APOS mahasiswa yang diajar secara
lebih baik dibandingkan mahasiswa konvensional untuk level kemampuan
Program Studi Pendidikan Matematika awal tinggi dan rendah.
yang diajar dengan pendekatan Ditinjau dari faktor pendekatan
konvensional. pembelajaran maka diperoleh secara
Untuk melihat gambaran umum tentang keseluruhan bahwa capaian dan
kualitas hasil belajar ditinjau dari faktor peningkatan kemandirian belajar
kemampuan awal mahasiswa maka matematik dari kelas dengan pendekatan
diperoleh rata-rata dan simpangan baku M-APOS lebih tinggi dari kelas dengan
dari skor kemandirian belajar matematika pendekatan konvensional. Ditinjau dari
dan N-gain untuk level kemampuan tinggi faktor program studi, secara keseluruhan
memperoleh capaian 151,80 dan N-gain diperoleh tidak terdapat perbedaan
0,13. Untuk mahasiswa dengan level capaian dan peningkatan kemandirian
kemampuan sedang memperoleh capaian belajar matematik antara Program Studi
141,12 dan N-gain 0,10. Untuk mahasiswa Matematika dan Program Studi
dengan level kemampuan rendah Pendidikan Matematika.
memperoleh capaian 137,41 dan N-gain Ditinjau dari faktor program studi yang
0,05. Secara keseluruhan untuk Program memperoleh pendekatan pembelajaran
Studi Pendidikan Matematika diperoleh yang sama terdapat perbedaan yang
capaian 140,89 dan N-gain 0,10. Dari signifikan untuk capaian tapi tidak
hasil ini terlihat bahwa capaian dan terdapat perbedaan untuk gain. Artinya
peningkatan kemandirian belajar terdapat perbedaan capaian kemandirian
matematik mahasiswa Program Studi belajar matematik antara kedua program
Matematika dengan Program Studi studi yang menggunakan pendekatan M-

Semirata 2013 FMIPA Unila |561


Yerizon: Peningkatan Kemandirian Belajar Mahasiswa Melalui Penggunaan
Pendekatan Modifikasi APOS

APOS tapi tidak terdapat perbedaan untuk terdapat pebedaan capaian dan
gain. Untuk kelas dengan pendekatan peningkatan kemandirian belajar
konvensional tidak terdapat perbedaan matematik mahasiswa yang diajar dengan
capaian dan peningkatan kemandirian pendekatan M-APOS disbanding
belajar matematik mahasiswa Program mahasiswa yang diajar secara
Studi Matematika yang diajar dengan konvensional. Untuk mahasiswa dengan
pendekatan konvensional dibandingkan kemampuan awal level rendah, tidak
mahasiswa Program Studi Pendidikan terdapat pebedaan capaian kemandirian
Matematika yang diajar dengan belajar matematik mahasiswa yang diajar
pendekatan yang sama. dengan pendekatan M-APOS disbanding
Ditinjau dari faktor pendekatan mahasiswa yang diajar secara
pembelajaran di masing-masing program konvensional. Ditinjau dari faktor
studi diperoleh hasil yang agak berbeda. kemampuan awal dan program studi,
Untuk Program Studi Matematika tidak diperoleh tidak terdapat perbedaan
terdapat perbedaan capaian dan capaian dan peningkatan kemandirian
peningkatan kemandirian belajar belajar matematik antara Program Studi
matematik antara kelas yang diajar dengan Matematika dan Program Studi
pendekatan M-APOS dengan kelas yang Pendidikan Matematika pada semua level
diajar dengan pendekatan konvensional. kemampuan awal tinggi.
Untuk Program Studi Pendidikan Secara umum dapat dikatakan bahwa
Matematika terjadi sebaliknya yaitu kemandirian belajar matematik mahasiswa
terdapat perbedaan capaian dan yang diajar dengan pendekatan M-APOS
peningkatan kemandirian belajar sedikit lebih baik dibanding mahasiswa
matematik antara kelas yang diajar dengan yang diajar secara konvensional.
pendekatan M-APOS dengan kelas yang Walaupun pada bagian tertentu kelas
diajar dengan pendekatan konvensional. konvensional lebih baik, tapi secara
Ditinjau dari faktor kemampuan awal, statistik tidak berbeda. Kemandirian
secara keseluruhan diperoleh terdapat belajar matematik mahasiswa masih
perbedaan capaian kemandirian belajar tergolong dalam kategori sedang. Perlu
matematik antar kemampuan awal yang waktu yang lama bagi mahasiswa untuk
berbeda kecuali tinggi dengan sedang. memperoleh kemandirian belajar yang
Mahasiswa dengan kemampuan awal level baik.
tinggi memperoleh capaian kemandirian Tabel 1 Skor Rata-rata dan Simpangan
belajar matematik lebih tinggi dari level Baku Kemandirian Belajar Matematis
rendah. Begitu juga untuk mahasiswa berdasarkan Program Studi Pendidikan
dengan kemampuan awal level sedang Matematika berdasarkan Kemampuan
memperoleh capaian dan peningkatan Awal
kemandirian belajar matematik lebih
tinggi dari level rendah.
Kemudian untuk mahasiswa dengan
kemampuan awal level tinggi, tidak
terdapat perbedaan capaian dan
peningkatan kemandirian belajar
matematik antara mahasiswa yang diajar
dengan pendekatan M-APOS dan
mahasiswa yang diajar secara
konvensional. Untuk mahasiswa dengan KESIMPULAN
kemampuan awal level sedang, tidak
Dari hasil penelitian yang telah
562| Semirata 2013 FMIPA Unila
Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai Universitas Pendidikan Indonesia:


berikut: Tidak diterbitkan.
1. Skor rata-rata kemandirian belajar Qohar, A. (2010). Mengembangkan
matematika mahasiswa Program Studi Kemampuan Pemahaman, Koneksi dan
Pendidikan Matematika yang diajar Komunikasi Matematis Serta
dengan pendekatan pendekatan M- Kemandirian Belajar Matematika
APOS lebih baik dibandingkan Siswa SMP Melalui Reciprocal
mahasiswa yang diajar dengan Teaching: Disertasi pada Universitas
pendekatan konvensional. Pendidikan Indonesia: Tidak
2. Peningkatan Kemandirian belajar diterbitkan
matematika mahasiswa yang diajar
dengan pendekatan M-APOS lebih Asiala, M et al. (1997). “The development
tinggi dari kelas konvensional. of students‟ graphical understanding of
3. Kemandirian belajar matematik the derivative”. Journal of
mahasiswa masih tergolong dalam Mathematical Behavior, 16(4), 399-
kategori sedang 431
Arnawa, M. (2006). Meningkatkan
DAFTAR PUSTAKA Kemampuan Pembuktian Mahasiswa
dalam Aljabar Abstrak Melalui
Sumarmo, U. (2004). Kemandirian
Pembelajaran Berdasarkan Teori
Belajar: Apa, Mengapa dan
APOS. Disertasi pada Universitas
Bagaimana Dikembangkan pada
Pendidikan Indonesia: tidak diterbitkan
Peserta Didik. Makalah disajikan pada
Seminar Pendidikan Matematika di Nurlaelah, E. (2009). Pencapaian Daya
Jurusan Pendidikan Matematika dan Kreativitas Matematik Mahasiswa
FMIPA Universitas Negeri Calon Guru Melalui Pembelajaran
Yogyakarta, tanggal 8 Juli 2004. Tidak Berdasarkan Teori APOS: Disertasi
diterbitkan. pada Universitas Pendidikan Indonesia:
tidak diterbitkan
Ratnaningsih, N. (2007). Pengaruh
Pembelajaran Kontekstual terhadap Fraenkel, J. R. dan Wallen, N. E. (2007).
Kemampuan Berpikir Kritis dan How to Design and Evaluate Research
Kreatif Matematik serta Kemandirian in Education, New York: Mc Graw
Belajar Siswa SMA: Disertasi pada Hill

Semirata 2013 FMIPA Unila |563