Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN

DHF

DISUSUN OLEH

KELOMPOK II

NAMA : 1. EDUARDUS E.C.MORUK


2. ERICH YANPIT TANUE
3. ERNIYATI INA
4. ERWIN A.S.L API
5. EXAUDI V.OHELLO
6. FEBERI Y.FETRICK TATO
7. HILDEGARD WORA DEGHU
8. IRAWAN J NDAPAMERANG
9. DJ HUDZAIRI
10. MESYA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN WIRA HUSADA YOGYAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa Atas Berkat dan Rahmat-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas asuhan keperawatan dengan judul
“DENGUE HEMORAGIK FEVER”.Asuhan Kperawatan ini kami susun agar pembaca
dapat memahami tentang asuhan keperawatan yang di berikan kepada pasien dengan
Dengue Hemoragic Fever dan semoga makalah ini dapat wawasan dan pemahaman
kepada pembaca.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan asuhan
keperawatn ini.Oleh kerena itu kami sangat menghargai akan saran dan kritik untuk
membangun asuhan keperawatan ini lebih baik lagi.Demikian yang dapat kami
sampaikan,semoga melalui asuhan keperawatan ini dapat memberikan manfaat bagi
kita semua

Yogyakarta,09 juni 2018

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian DHF
Demam berdarah dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus
(Arthropadborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aides (Aides albopictus
dan Aedes Aegepty)
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri
demam manifestasi perdarahan dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang
dapat menyebabkan kematian
Dengue hemoragic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan
dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang disertai
leukopenia, dengan / tanpa ruam (rash) dan limfadenopati. Thrombocytopenia
ringan dan bintik-bintik perdarahan
Jadi demam berdarah dengue adalah suatu penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan menifestasi klinis demam disertai gejala
perdarahan dan bila timbul renjatan dapat menyebabkan kematian. Untuk
memahami DHF perlu pemahaman terkait Anatomo fisiologi pada sistem sirkulasi.

B. Etiologi DHF
Penyebab penyakit Dengue Hemorragic Fever (DHF) atau demam berdarah adalah
Virus Dengue, di indonesia virus tersebut sampai saat ini telah di isolsi menjadi 4
serotipe virus Dengue yang termasuk dalam grup B dalam Arthropedi bone viruses
(arbu viruses), yaitu DEN-1,DEN -2,DEN-3, dan DEN-4.Ternyata DEN-2 dan DEN-3
merupakan serotipe yang menjadi penyebab terbanyak.

C. Manifetasi Klinis
Kasus DHF di tandai oleh manifestasi klinis, yaitu : demam tinggi dan mendadak
yang dapat mencapa 40 C atau lebih dan terkadang di sertai dengan kejang demam,
sakit kepala, anoreksia, muntah-muntah (vomiting), epigastric,discomfort, nyeri
perut kana atas atau seluruh bagian perut; dan perdarahan, terutama perdarahan
kulit,walaupun hanya berupa uji tuorniquet poistif.
Selain itu, perdarahan kulit dapat terwujud memar atau dapat juga dapat
berupa perdarahan spontan mulai dari ptechiae (muncul pada hari -hari pertama
demam dan berlangsung selama 3-6 hari) pada extremitas, tubuh, dan muka,
sampai epistaksis dan perdarahan gusi. Sementara perdarahan gastrointestinal
masif lebih jarang terjadi dan biasanya hanya terjadi pada kasus dengan syok
yang berkepanjangan atau setelah syok yang tidak dapat teratasi. Perdarahan lain
seperti perdarahan sub konjungtiva terkadang juga di temukan.
Tanda dan gejala yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF, dengan
masa inkubasi antara 13-15 hari menurut WHO (1975) sebagai berikut
1. Demam tinggi mendadak dan terus menerus 2-7 hari
2. Manifestasi perdarahan, paling tidak terdapat uji tourniquet positif, seperti
Perdarahan pada kulit (petekie, ekimosis. Epistaksis, Hematemesis, Hematuri,
dan melena)
3. Pembesaran hati (sudah dapat diraba sejak permulaan sakit)
4. Syok yang ditandai dengan nadi lemah, cepat disertai tekanan darah menurun
(tekanan sistolik menjadi 80 mmHg atau kurang dan diastolik 20 mmHg atau
kurang) disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung,
jari dan kaki, penderita gelisah timbul sianosis disekitar mulut.

Selain timbul demam, perdarahan yang merupakan ciri khas DHF gambaran klinis
lain yang tidak khas dan biasa dijumpai pada penderita DHF adalah:

a. Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, sakit waktu menelan.
b. Keluhan pada saluran pencernaan: mual, muntah, anoreksia, diare, konstipasi
c. Keluhan sistem tubuh yang lain: nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot,
tulang dan sendi, nyeri otot abdomen, nyeri ulu hati, pegal -pegal pada saluran
tubuh dll.
d. Temuan-temuan laboratorium yang mendukung adalah thrombocytopenia
(kurang atau sama dengan 100.000 mm3) dan hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit lebih atau sama dengan 20 %)
D. Patofisiologi
Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk terjadi
viremia, yang ditandai dengan demam mendadak tanpa penyebab yang jelas
disertai gejala lain seperti sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot, pegal di seluruh
tubuh, nafsu makan berkurang dan sakit perut, bintik-bintik merah pada kulit. Selain itu
kelainan dapat terjadi pada sistem retikulo endotel atau seperti pembesaran
kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Pelepasan zat anafilaktoksin,
histamin dan serotonin serta aktivitas dari sistem kalikrein menyebabkan
peningkatan permeabilitas dinding kapiler/vaskuler sehingga cairan dari intravaskuler
keluar ke ekstravaskuler atau terjadinya perembesaran plasma akibatnya terjadi
pengurangan volume plasma yang terjadi hipovolemia, penurunan tekanan darah,
hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Selain itu sistem reikulo
endotel bisa terganggu sehingga menyebabkan reaksi antigen anti body yang
akhirnya bisa menyebabkan Anaphylaxia.
Akibat lain dari virus dengue dalam peredaran darah akan menyebabkan depresi
sumsum tulang sehingga akan terjadi trombositopenia yang berlanjut akan
menyebabkan perdarahan karena gangguan trombosit dan kelainan koagulasi dan
akhirnya sampai pada perdarahan kelenjar adrenalin.
Plasma merembas sejak permulaan demam dan mencapai puncaknya saat
renjatan. Pada pasien dengan renjatan berat, volume plasma dapat berkurang
sampai 30% atau lebih. Bila renjatan hipovolemik yang terjadi akibat kehilangan plasma
yang tidak dengan segera diatasi maka akan terjadi anoksia jaringan asidosis
metabolik dan kematian. Terjadinya renjatan ini biasanya pada hari ke -3 dan ke-7.
Reaksi lainnya yaitu terjadi perdarahan yang diakibatkan adanya gangguan
pada hemostasis yang mencakup perubahan vaskuler, trombositopenia (trombosit
<100.000/mm3), menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi
(protrombin, faktor V, IX, X dan fibrinogen). Pembekuan yang meluas pada intravaskuler
(DIC) juga bisa terjadi saat renjatan. Perdarahan yang terjadi seperti petekie,
ekimosis, purpura, epistaksis, perdarahan gusi, sampai perdarahan hebat pada
traktus gastrointestinal
E. Komplikasi
1. Perdarahan
2. Kegagalan sirkulasi
3. Hepatomegali
4. Efusi Pleura

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Uji rumple leed/tourniquet positif
2. Pemeriksaan Darah, akan ditemukan adanya trombositopenia,
hemokonsentrasi, masa perdarahan memanjang, hiponatremia, hipoproteinemia.
3. Pemeriksaan Urine
Pada pemeriksaan urine di temukan albumin ringan
4. Pemeriksaan serologi
Beberapa pemeriksaan serologi yang biasa di lakukan pada klien yang diduga
terkena DHF adalah
a. Uji Hemaglutinasi inhibisi (HI test)
b. Uji komplemen fiksasi (CF test)
c. Uji Netrualisasi (N test)
d. IgM Elisa (Mac.Elisa)
e. IgG Elisa
5. Pemeriksaan Radilogy
a. Foto thorax
Pada foto thorax mungkin di jumpai efusi pleura
b. Pemeriksaan USG
Pada USG di dapatkan hematomegali dan splenomegali
G. Penatalaksanaan
1. Tirah Baring
2. Pemberian makanan lunak
3. Pemberian antiperetik,Kompres,pemberian minum sesuai kebutuhan (1,5-2
liter/hari)
4. Pemeberian Infuse,yaitu RL Dan D5%.Infuse di berikan apabila :
a. Pasien terus-menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga
mengancam terjadinya dehidrasi.
b. Hematokrit yang cenderung meningkat.Peningkatan hematokrit
menandakan adanya kebocoran plasma dan beresiko terjadi syok
5. Pemberian obat anti konvulsan (luminal,diazepam)jika terjadi kejang
6. Monitor adanya tanda-tanda rejatan
7. Monitor tanda-tanda vital
8. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
9. Pemeriksaan Hemaglobin,Hematokrit,dan Trombosit sesuai permintaan dokter
setiap 4 jam
H. Pengkajian
1. Indetitas Pasien
Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia
kurang dari 15 tahun), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua,
pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua.
2. Keluhan utama
Alasan atau keluhan yang menonjol pada pasien DHF datang ke rumah sakit adalah
panas tinggi dan pasien lemah.
3. Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak dengan disertai menggigil dan
saat demam kesadaran kompos mentis. Panas turun terjadi antara hari ke-3
dan ke-7, dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk
pilek, nyeri telan, mual, muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri
otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal,
serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena
atau hematemasis.
4. Riwayat penyakit yang pernah diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF, anak biasanya mengalami
serangan ulangan DHF dengan type virus yang lain
5. Riwayat imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemumgkinan akan
timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
6. Riwayat gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan
status gizi baik maupun buruk dapat berisiko, apabila ada faktor
predisposisinya. Anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual,
muntah,dan nafsu akan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak
disertai pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat mengalami
penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang
7. Kondisi lingkungan
Sering terjadi pada daerah yang padat penduduknya dan lingkumgan yang
kurang bersih (seperti yang mengenang dan gantungan baju yang di kamar).
8. Pola kebiasaan
 Nutrisi dan Metabolisme : frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan
berkurang, dan nafsu makan menurun.
 Eliminasi BAB : kadang-kadang anak mengalami diare atau konstipasi.
Sementara DHF grade III-IV bisa terjadi melena.
 Eliminasi BAK : perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit atau banyak,
sakit atau tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria.
 Tidur dan istirahat : anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami sakit
atau nyeri otot dan persendian sehingga kualitas dan kuantitas tidur
maupun istirahatnya kurang.
 Kebersihan : upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan
cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang nyamuk aedes
aegypti.Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upa untuk
menjaga kesehatan.

9. Pemeriksaan Fisik
Meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi dari ujung rambut sampai
ujung kaki. Berdasarkan tingkatan grade DHF, keadaan fisik anak adalah :
a. Kesadaran : Compos metis
b. Vital sign : TD : 110/70 mmHg00
c. Kepala : Bentuk mesochepal
d. Mata : simetris, konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, mata anemis
e. Telinga : simetris, bersih tidak ada serumen, tidak ada gangguan
pendengaran
f. Hidung : ada perdarahan hidung / epsitaksis
g. Mulut : mukosa mulut kering, bibir kering, dehidrasi, ada perdarahan
pada rongga mulut, terjadi perdarahan gusi.
h. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kekakuan leher tidak ada,
nyeri telan
i. Dada
Inspeksi : simetris, ada penggunaan otot bantu pernafasan
Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan
Perkusi : Sonor
Palpasi : taktil fremitus normal
j. Abdomen :
Inspeksi : bentuk cembung, pembesaran hati (hepatomegali)
Auskultasi : bising usus 8x/menit
Perkusi : tympani
Palpasi : turgor kulit elastis, nyeri tekan bagian atas
k. Ekstrimitas : sianosis, ptekie, echimosis, akral dingin, nyeri otot, sendi
tulang
l. Genetalia : bersih tidak ada kelainan di buktikan tidak terpasang
kateter

I. Diagnosa Keperawatan yang biasa muncul


1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penumpukan penupukan cairan di
rongga paru
2. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubngan dengan intake
nutrisi yang tidak adekuat akibat mula muntah dan nafsu makan yang menurun
4. Resiko syok berhubungan dengan berhubungan dengan penurunan factor-faktor
pembekuan darah (trombositopenia)
5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler
6. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kebocoran plasma
darah

J. Intervensi Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas b.d penumpukan cairan di rongga paru
Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan pola nafas dapat efektif
Kriteria Hasil : a. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang
bersih,tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan
sputum,mampu bernafas dengan mudah,tidak ada pursed lips)
b. Menunjukkan jalan napas yang paten (klien tidak meras
tercekik,irama nafas,frekuensi pernafasan dalam rentang
normal,tidak ada sura nafas abnormal
c. Tanda-tanda vital dalam rentang normal
Intervensi : a. Manajemen jalan nafas

 Gunakan teknik yang menyenangkan untuk memotivasi


bernafas dalam kepada anak-anak (misalnya meniup
gelembung,meniup kincir,peluit,harmonica,balon,meniup
layaknya pesta,buat loma menutup dengan bola ping
pong,meniup bulu)
 Posisikan pasien untuk meringankan sesak napas
 Lakukan fisioterapi dada,sebagaimana mestinya
 Motivasi pasien untuk bernafas pelan,dalam,berputas dan
batuk

b. Monitor Pernapasan

 Monitor kecepatan,irama.kedalaman dan kesulitan bernafas


 Monitor suara tambahan seperti ngorok atau mengik
 Monitor pola napas pasien
 Monitor hasi foto thoraxs
 Berikan bantuan terapi nafas jika di perlukan (misalnya
nebulizer)
2. Hipertermia b.d proses penyakit
Tujuan : setelah di lakukan tindakan keperawatan hipertermia dapat teratasi
Kriteria Hsil : a. Suhu tubuh dalam rentang normal

b. Nadi dan RR dalam rentang normal

c. Tidak ada perubahan warna kulit dan pusing

Intervensi : a. Perawatan demam

 Pantau suhu dan tanda-tanda vital lainnya


 Monitor warna kulit dan suhu
 Beri obat atau cairan IV (misalnya antipiretik,agen
antibakteri,dan agen antimenggigil)
 Mndikan pasien dengan spons hangat dengan hati-hati ( yaitu
berikan untuk pasien dengan suhu yang sangat tinggi)
 Dorong konsumsi cairan
 Pantau komplikasi-komplikasi yang berhubungan dengan
demam serta tanda dan gejala kondisi penyebab demam (
misalnya kejang,penurunan tingkat kesdaran,status elektrolit
abnormal,ketidakseimbangan asam-basa,aritmia jantung dan
perubahan abnormalitas sel)
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake utrisi yang
tidak adekuat
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak mual muntah dan
nafsu makan meningkat

Kriteria Hasil : Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan

Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan

Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

Tidak terjadi penurunan berat badan

Intervensi : a. Manajemen Nutrisi

 Tentukan status gizi dan kemampuan pasien untuk


memenuhi kebutuhan gizi
 Identifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan yang di
milki pasien
 Tawarkan makanan ringan yang padat gizi
 Monitor kalori dan asupan makanan

b. Monitor Nutrisi

 Monitor adanya penurunan berat badan


 Monitor mual dan muntah
 Monitor kadar albumin,Ht,Hb dan total protein
 BB pasien dalam batas normal
 Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
4. Resiko syok berhubungan dengan berhubungan dengan penurunan factor-faktor
pembekuan darah (trombositopenia)
Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan resiko syok dapat teratasi
Krteria Hasil : Nadi dalam batas yang di harapkan
Irama jantung dalam batas yang di harapkan
Frekuensi nafas dalam batas yang di harapkan
Irama pernapasan dalam batas yang di harapkan

Intervensi : a. Pencegahan syok

 Monitor terhadap respon kompensasi awal syok ( misalnya


tekanan darah normal,tekanan nadi melemah,hipotensi
ortostatik ringan,perlambatan pengisian kapiler,pucat/dingin
atau kulit kemerahan,takpnea ringan,mual muntah dan
kelemahan)
 Posisikan pasien dalam posisi supine dengan posisi kaki di
tinggikan.
 Ajarkan keluarga dan pasien tentang tanda dan gejala
datangnya syok
 Ajarkan keluarga dan pasien tentang langkah untuk mengatasi
gejala syok

b. Pencegahan perdarahan

 Monitor dengan ketat risiko terjadinya perdarahan pada pasien


 Monitor tanda dan gejala perdarahan menetap
 Pertahankan agar pasien tetap tirah baring jika terjadi
perdarahan aktif
 Berikan produk-produk penggantian darah (misalnya trombosit
dan plasma beku segar (FFP) dengan cara yang tepat
 Hindarkan pemberian Injeksi (IV,IM dan subkutan)
 Intruksikan pasien dan keluarga untuk memonitor tanda-tanda
perdarahan dan mengambil tindakan yang tepat jika terjadi
perdarahan (misalnya lapor ke perawat)
5. Kekurangan volume cairan b.d perpindahan cairan dari intravaskuler ke
ekstravaskuler