Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI DAN KIMIA KLINIK

PRAKTIKUM V
URINALISIS

Hari, Tanggal Praktikum: Senin, 14 Mei 2018


Kelas: A1B Farmasi Klinis
Kelompok: II
I Gusti Ngurah Bagus Darma Suwitra
161200048

Dosen Pengampu: I Ketut Putra Juliantara, S.Si., M.Si.

PROGRAM STUDI FARMASI KLINIS


INSTITUT ILMU KESEHATAN MEDIKA PERSADA BALI
DENPASAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum


1. Untuk penentuan kunatitatif secara in vitro dari total bilirubin dalam serum
2. Untuk penentuan kuantitatif secara in vitro dari konsentrasi albumin dalam
serum

1.2 Prinsip Praktikum


1. Bilirubin
Bilirubin diubah menjadi azobilirubin yang berwarna oleh asam
diozotized sulfanilic dan diatur secara fotometrik. Dari dua fraksi yang
mengandung dalam serum, bilirubin – glucoramide dan bilirubin bebas yang
terikat ke albumin hanya yang pertama bereaksi langsung dalam larutan cair
(bilirubin langsung), sementara bilirubin bebas yang membutukan solubilisasi
dengan dimethylsulpoxide untuk bereaksi (bilirubin tak langsung). Dalam
penentuan bilirubin tak langsung, yang langsung (direct bilirubin) juga
dibersikan. Hasil sesuai dengan total bilirubin.
Intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi bilirubin
dalam sampel.

2. Albumin
Controlled PH
BCG + Albumin Green BCG / Albumin complex
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bilirubin Total


Pemeriksaan bilirubin total mengukur jumlah total bilirubin dalam darah untuk
mengevaluasi fungsi hati atau membantu diagnosis anemia yang disebabkan oleh
kerusakan sel darah merah (anemia hemolitik). Bilirubin merupakan komponen hasil
pemecahan sel darah merah yang sudah tua. Secara normal, bilirubin akan
dimetabolisme lalu dikeluarkan melalui feses dan urin. Bila terjadi kerusakan pada
hati, bilirubin dapat masuk ke dalam aliran darah. Peningkatan bilirubin dalam darah
dapat menyebabkan jaundice (warna mata dan kulit menjadi kuning), urin berwarna
gelap, atau feses berwarna lebih terang. Pemeriksaan bilirubin total menggunakan
sampel darah yang diambil dari pembuluh darah vena di lengan.
Bilirubin adalah produk penguraian hem: sebagian besar (85-90%) terjadi dari
penguraian hemoglobin dan sebagian kecil (10-15%) dari senyawa lain seperti
mioglobin. Sel retikuloendotel menyerap kompleks haptoglobin dengan hemoglobin
yang telah dibebaskan dari sel darah merah .Sel-sel ini kemudian mengeluarkan besi
dari hem sebagai cadangan untuk sintesis berikutnya dan memutuskan cincin hem
untuk menghasilkan tetrapirol bilirubin, yang disekresikan dalam bentuk tidak larut
air (bilirubin tidak terkonjugasi, indirek) sehingga bilirubin dalam plasma terikat ke
albumin untuk diangkut ke medium air. Pada saat bilirubin terikat pada plasma
beredar dalam tubuh dan melewati lobulus hati, hepatosit melepas bilirubin dari
albumin dan meyebabkan larut air dengan mengikat bilirubin ke asam glukuronat
(bilirubin terkonjugasi, direk) (Sacher dan McPherson, 2004).
Setelah bilirubin masuk ke dalam usus, bakteri kolon merubah bilirubin menjadi
urobilinogen (suatu istilah kolektif untuk beberapa senyawa tidak berwarna yang
kemudian mengalami oksidasi menjadi pigmen coklat urobilin). Urobilin
disekresikna ke dalam feses, tetapi sebagian urobilinogen direabsorpsi melalui usus
dan melalui sirkulasi portal diserap oleh hati dan direekskresikan dalam empedu.
Karena larut air, urobilinogen juga dapat keluar melalui urine apabila mencapai
ginjal. (Sacher dan McPherson, 2004)
Gambar 1: Metabolisme Bilirubin

 Macam dan Sifat Bilirubin


a) Bilirubin terkonjugasi / direct
Bilirubin terkonjugasi /direct adalah bilirubin bebas yang bersifat
larut dalam air sehingga dalam pemeriksaan mudah bereaksi. Bilirubin
terkonjugasi (bilirubin glukoronida atau hepatobilirubin ) masuk ke
saluran empedu dan diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus
akan mengubahnya menjadi urobilinogen (Riswanto, 2009).
Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang
terdiazotasi membentuk azobilirubin. Peningkatan kadar bilirubin
direk atau bilirubin terkonjugasi dapat disebabkan oleh gangguan
ekskresi bilirubin intrahepatik antara lain Sindroma Dubin Johson dan
Rotor, Recurrent (benign) intrahepatic cholestasis, Nekrosis
hepatoseluler, Obstruksi saluran empedu. Diagnosis tersebut diperkuat
dengan pemeriksaan urobilin dalam tinja dan urin dengan hasil negatif
(Riswanto, 2009).

b) Bilirubin tidak terkonjugasi / indirect


Bilirubin tak terkonjugasi (hematobilirubin) merupakan bilirubin
bebas yang terikat albumin, bilirubin yang sukar larut dalam air
sehingga untuk memudahkan bereaksi dalam pemeriksaan harus lebih
dulu dicampur dengan alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat
bereaksi, karena itu dinamakan bilirubin indirek. Peningkatan kadar
bilirubin indirek mempunyai arti dalam diagnosis penyakit
bilirubinemia karena lemah jantung akibat gangguan dari pengantaran
bilirubin ke dalam peredaran darah. Pada keadaan ini disertai dengan
tanda-tanda lemah jantung, setelah lemah jantung diatasi maka kadar
bilirubin akan normal kembali dan harus dibedakan dengan chardiac
chirrhosis yang tidak selalu disertai bilirubinemia (Riswanto, 2009)

2.2 Albumin
Pemeriksaan albumin mengukur kadar albumin dalam darah yang dianjurkan
secara berkala sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan; direkomendasikan oleh
dokter ketika seseorang dicurigai mengalami gejala gangguan hati atau penyakit
ginjal; terkadang ketika seseorang mengalami penurunan berat badan yang tidak
diinginkan, kekurangan gizi, atau sebelum operasi direncanakan. Pemeriksaan
albumin membutuhkan sampel berupa darah yang diambil dari pembuluh darah vena
di lengan.
Albumin merupakan protein plasma yang paling tinggi jumlahnya sekitar 60%
dan memiliki berbagai fungsi yang sangat penting bagi kesehatan yaitu
pembentukan jaringan sel baru, mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang
rusak serta memelihara keseimbangan cairan di dalam pembuluh darah dengan
cairan di rongga interstitial dalam batas-batas normal, kadar albumin dalam darah
3,5-5 g/dl (Rusli, et all, 2011).
Albumin adalah istilah yang digunakan untuk merujuk ke segala jenis protein
monomer yang larut dalam air dan larutan garam, dan mengalami koagulasi saat
terpapar panas. Substansi yang mengandung albumin, seperti putih telur, disebut
albuminoid.Albumin merupakan protein plasma yang paling banyak dalam tubuh
manusia, yaitu sekitar 55-60% dari protein serum yang terukur. Albumin terdiri dari
rantai polipeptida tunggal dengan berat molekul 66.4 kDa dan terdiri dari 585 asam
amino. Pada molekul albumin terdapat 17 ikatan dislufida yang menghubungkan
asam-asam amino yang mengandung sulfur. Molekul albumin berbentuk elips
sehingga bentuk molekul seperti itu tidak akan meningkkatkan viskositas plasma
dan terlarut sempurna (Medicinus. 2008).
 Proses Terbentuknya Albumin
Albumin pada umumnya dibentuk di hati. Hati menghasilkan sekitar 12
gram albumin per hari yang merupakan sekitar 25% dari total sintesis protein
hepatic dan separuh dari seluruh protein yang diekskresikan organ tersebut.
Albumin pada mulanya disintesis sebagai preprotein. Peptida sinyalnya
dilepaskan ketika preprotein melintas kedalam sinterna reticulum endoplasma
kasar, dan heksa peptide pada ujung terminal-amino yang dihasilkan itu
kemudian dipecah lebih lanjut disepanjang lintasan skreotik. Albumin dapat
ditemukan dalam putih telur dan darah manusia. Golongan protein ini paling
banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum), dalam
susu (laktalbumin). Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin
telur 44.000, dalam daging mamalia 63.000.
Peranan albumin dalam darah adalah menjaga tekanan osmotik dari
cairan koloid plasma, sebagai alat pengangkut dan memperbaiki kadar
bilirubin, sebagai alat pengangkut asam lemak dan bahan metabolit lain
seperti hormon dan enzim. Dengan demikian albumin sering kali dipakai pada
penelitian karena kemampuan mempertahankan tekanan osmotik, sebagai
plasma expander dan kemampuannya sebagai pengikat berbagai bahan toksik,
termasuk bilirubin serta logam berat, serta kemampuan angkutnya dalam
mengangkut asam lemak, bahan metabolit, hormon serta enzim, sebagai
antioksidan dan buffer.

 Mekanisme Abnormal Kadar Albumin Dalam Darah


Protein plasma terdiri dari kombinasi albumin dengan berat molekul rata-
rata 69.000 ; globulin, 140,000 ; dan fibrinogen, 400.000.

Nilai normal albumin :


1. Orang dewasa : 3,5 – 5,0 g / dL
2. Anak-anak : 4-5,9 g / dL.
3. Bayi : 4.4 - 5.4 g/Dl
4. Neonatus : 2.9 - 5.4 g/dl
BAB III
ALAT DAN BAHAN

3.1 Alat
1. Mikropipet dan tip
2. Tabung Reaksi
3. Spektrofotometer
4. Water bath
5. Kuvet

3.2 Bahan
1. Sampel Darah (Serum K)
2. Reagen Bilirubin dan Albumin (Reiged)
BAB IV
CARA KERJA

4.1. Bilirubin Total


Reagent Blank Sampel Blank Sampel
Reagent 1 300 ul 300 ul 300 ul
Reagent 2 10 ul - 10 ul
Standar - - -
Sampel K - 20 ul 20 ul

Larutan Reagen Blank

Dibuat larutan Reagen Blank

Siapkan reagen 1 sebanyak 300 µL didalam tabung

Ditambah Reagen 2 sebanyak 10 µL

Campur dan inkubasi selama 5 menit pada suhu 15-250C (Suhu Ruangan)

dibaca di spektrofotometer dengan panjang gelombang 555 nm (530 –


580nm)
Larutan Sampel Blank

Dibuat larutan sampel blank

Siapkan tabung reagen 1 sebanyak 300 µL didalam tabung

Ditambahkan sampel sebanyak 20 µL

Campur dan inkubasi selama 5 menit pada suhu 15-250C (Suhu Ruangan)

dibaca di spektrofotometer dengan panjang gelombang 555 nm (530 –


580nm)

Larutan Sampel

Dibuat larutan sampel K

Siapkan tabung reagen 1 sebanyak 300 µL didalam tabung


Ditambahkan reagen 2 sebanyak 20 µL

Ditambahkan Sampel K sebanyak 10 µL

Campur dan inkubasi selama 5 menit pada suhu 15-250C (Suhu Ruangan)

dibaca di spektrofotometer dengan panjang gelombang 555 nm (530 –


580nm)
4.2. Albumin
Blank Standar Sampel
Reagent 1000 ul 1000 ul 1000 ul
Aqua dest 10 ul - -
Standar - 10 ul -
Sampel K - - 10 ul

Larutan Blank

Dibuat larutan Blank

Siapkan reagen sebanyak 1000 µL didalam tabung

Ditambahkan Aquadest sebanyak 10 µL

Campur dan inkubasi selama 90 detik pada suhu 370C

dibaca di spektrofotometer
Larutan Standar

Dibuat larutan standar

Siapkan reagen sebanyak 1000 µL didalam tabung

Ditambahkan Standar sebanyak 10 µL

Campur dan inkubasi selama 90 detik pada suhu 370C

dibaca di spektrofotometer
Larutan Sampel

Dibuat larutan sampel K

Siapkan reagen sebanyak 1000 µL didalam tabung

Ditambahkan sampel K sebanyak 10 µL

Campur dan inkubasi selama 90 detik pada suhu 370C

dibaca di spektrofotometer
BAB V
HASIL PRAKTIKUM

5.1 Hasil Praktikum Bilirubin Total


a. Absorbansi
Absorbansi
Blank 0
Sampel K 0,236
Sampel Blank 0,126

b. Perhitungan
1. Bilirubin = Sampel – Sampel Blank x Faktor
= 0,236 – 0,126 x 19,1
= 0,11 x 19,1
= 2,10 mg / dl

5.2 Hasil Praktikum Albumin


a. Absorbansi
Absorbansi
Blanko 0
Standar 0,355
Sampel K 0,422

b. Perhitungan
𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
2. Albumin = 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑥 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖
0.422
= 0.355 𝑥 4 𝑔/𝑑𝑙

= 4,75 g/dl
BAB VI
PEMBAHASAN

6.1 Bilirubin
Pada praktikum yang dilakukan, sampel darah yang dipakai adalah sampel K
(sampel yang digunakan adalah serum darah) dan dibuat larutan reagen blank,
larutan sampel blank dan larutan sampel. Percobaan kali ini tidak menggunakan
larutan standar blank dan larutan standar. Masing-masing larutan reagen dan sampel
dibuat oleh orang yang berbeda bertujuan untuk mengetahui apakah hasil yang
didapatkan sama ataukah berbeda.
Pada saat praktikum, semua larutan tidak perlu dipanaskan menggunakan
water bath, dikarenakan suhu 15-250C merupakan suhu ruangan, hanya ditunggu
selama 5 menit, kemudian akan dibaca dengan menggunakan spektrofotometer
dengan panjang gelombang 555 nm. Larutan blank merupakan larutan yang
digunakan sebagai kontrol atau sebagai nilai transmittan sebanyak 100% (Rizkiany,
2011). Larutan reagen blank yang digunakan dalam praktikum adalah reagen 1
sebanyak 300 ul dan reagen 2 sebanyak 10ul yang dilakukan untuk mengkalibrasi
spektrofotometr, larutan sampel blank yang digunakan dalam praktikum adalah
reagen 1 sebanyak 300ul dan sampel sebanyak 20ul. Larutan sampel merupakan
larutan yang akan digunakan untuk mengecek kadar bilirubin didalam darah. Lautan
sampel yang digunakan pada praktikum adalah campuran antara reagen 1 sebanyak
300 ul dengan reagen 2 sebanyak 10 ul dan dicampurkan dengan sampel sebanyak
20 ul.
Percobaan penentuan kadar bilirubin total didalam darah menggunakan
metode spektrofotometri dimana metode ini memiliki prinsip menggnakan cahaya
untuk mengetahui kadar bilirubin didalam darah. Terdapat dua cahaya yang ada
pada spektrofotometri, yaitu cahaya absorban dan cahaya transmittan. Cahaya
absorban merupakan cahaya yang tidak bergerak atau diam pada kuvet yang sudah
mengandung sampel yang akan dicek kadar bilirubin totalnya. Nilai yang keluar dari
cahaya yang diteruskan akan dinyatakan dalam suatu nilai yang disebut nilai
absorbansi karena nilai absorbansi memiliki hubungan dengan konsentrasi didalam
sampel (Rizkiany, 2011). Cahaya transmittan merupakan cahaya yang bergerak atau
melewati kuvet yang sudah mengandung sampel.
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu
sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Prinsip kerja spektrofotometer uv-vis
mengacu pada hukum Lambert-Beer. Apabila cahaya monokromatik melalui suatu
media, maka sebagian cahaya tersebut akan diserap, sebagian dipantulkan dan
sebagian lagi akan dipancarkan (Basset, 1994). Pada panjang gelombang inilah
diharapkan hasil yang didapat daya absorbansinya optimal. Pada saat menggunakan
alat spekrofotometer UV-Vis, kuvet yang akan digunakan harus dicuci bersih agar
tidak ada kontaminan. Adanya kontaminan menyebabkan pengukuran tidak tepat.
Pada saat memegang kuvet harus diperhatiakan cara memegangnya. Kuvet harus
dipegang pada bagian yang buram, karena jika dipegang pada bagian bening kuvet
maka dikhawatirkan akan mengganggu absorbansi, disebabkan oleh adanya protein
dari tangan kita yang mungkin tertinggal pada kuvet.

Konsentrasi bilirubin yang ada didalam darah memiliki nilai yang sama
dengan cahaya yang diam, maka perhitungan untuk konsentrasi bilirubin dapat
dirumuskan sebagai berikut:

𝐵𝑖𝑙𝑖𝑟𝑢𝑏𝑖𝑛 = 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 − 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘 𝑥 𝐹𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟

Berdasarkan hasil praktikum yang sudah didapatkan, maka dihasilkan nilai


larutan reagen blank adalah 0, nilai larutan sampel blank adalah 0,126 dan nilai
larutan sampel adalah 0,236 Bilirubin Total didapatkan dengan mengurangi nilai
sampel dengan nilai sampel blank dan dikalikan faktor (19,1) . Sehingga,
berdasarkan data diatas kadar bilirubin total didalam darah didapatkan hasil sebesar
2.10 mg/dL. Nilai normal Bilirubin total berada pada rentang 0,2-1,10 mg/dL. Nilai
bilirubin yang didapatkan saat praktikum tidak berada pada rentang nilai normal,
faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas kadar bilirubin total dalam serum
diantaranya yaitu :
1. Sinar
Stabilitas bilirubin dalam serum pada suhu kamar tidak stabil dan
mudah terjadi kerusakan terutama oleh sinar, baik sinar lampu ataupun
sinar matahari. Hindari sampel yang hemolisis dan sinar matahari
langsung. Sinar matahari langsung dapat menyebabkan penurunan kadar
bilirubin serum sampai 50% dalam satu jam, dan pengukuran bilirubin
total hendaknya dikerjakan dalam waktu dua hingga tiga jam setelah
pengumpulan darah. Bila dilakukan penyimpanan serum hendaknya
disimpan di tempat yang gelap, dan tabung atau botol yang berisi serum
di bungkus dengan kertas hitam atau aluminium foil untuk menjaga
stabilitas serum dan disimpan pada suhu yang rendah atau lemari
pendingin (Helvi, 2004).
2. Suhu Penyimpanan
Suhu merupakan faktor luar yang selalu berhubungan langsung
terhadap sampel, baik saat penyimpanan maupun saat pemeriksaan.
Pemeriksaan kadar bilirubin total sebaiknya diperiksa segera, tapi dalam
keaadaan tertentu pemeriksaan kadar bilirubin total bisa dilakukan
penyimpanan. Dengan penyimpanan yang benar stabilitas serum masih
stabil dalam waktu satu hari bila disimpan pada suhu 15 ºC-25ºC, empat
hari pada suhu 2ºC-8ºC, dan tiga bulan pada penyimpanan -20ºC
(DialineDiagnostik ). Lamanya sampel kontak dengan faktor-faktor di
atas berpengaruh terhadap kadar bilirubin didalam sampel sehingga perlu
upaya mengurangi pengaruh tersebut serta mengoptimalkan kadar
bilirubin total di dalam serum agar dapat bereaksi dengan zat pereaksi
secara sempurna, sedangkan reagen bilirubin total akan tetap stabil
berada pada suhu 2-8ºC dalam keadaan tertutup, terhindar dari
kontaminan dan sinar. Dalam hal ini dapat dimungkinkan bahwa
penurunan kadar bilirubin dipengaruhi oleh kenaikan suhu dan pengaruh
sinar yang berintensitas tinggi (Helvi, 2004).
Kadar bilirubin uji yang tidak berada pada rentang normalnya dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Kesalahan pada saat praktikum, misalnya saja kesalahan pada saat


memegang tabung reaksi sehingga suhu tubuh dapat merusak
bilirubin uji, pipet yang kurang akurat, penyimpanan serum yang
kurang baik, suhu yang tidak sesuai waktu pemeriksaan.
2. Hemolisis pada sampel darah.
3. Sampel darah yang terpapar matahari atau lampu yang terang.
4. Alkohol, penumpukan lemak, virus hepatitis, genetik dan penyakit
autoimun.

6.2 Albumin
Pada praktikum yang dilaukan, sampel darah yang dipakai adalah sampel K
(sampel yang digunakan adalah serum darah). Total larutan yang dibuat ada
sebanyak 3 yang terdiri dari larutan blanko (Aquadest), larutan standar dan larutan
sampel. Masing-masing larutan standar dan sampel dibuat oleh orang yang berbeda,
bertujuan untuk mengetahui apakah hasil yang didapatkan sama ataukah berbeda.
Pada saat praktikum, semua larutan standar dan sampel dipanaskan pada
water bath pada suhu 370C dipanaskan selama 90 detik, lalu dibaca pada
spektrofotometer. Larutan blanko merupakan larutan yang dapat digunakan sebagai
kontrol atau yang digunakan sebagai nilai transmittan sebanyak 100% (Rizkiany,
2011). Larutan blanko yang digunakan pada saat praktikum adalah aquadest.
Larutan standar merupakan larutan yang mendapatkan perlakuan yang sama dengan
analit dan mengandung komponen analit dengan konsentrasi yang sudah diketahui
(Rizkiany, 2011). Larutan standar yang digunakan pada saat praktikum
menggunakan campuran reagen sebanyak 1000 µl dengan standar sebanyak 10 µl.
Untuk larutan sampel menggunakan campuran reagen sebanyak 1000 µl dengan
sampel sebanyak 10 µl.
Percobaan penentuan kadar Albumin didalam darah menggunakan metode
spektrofotometri dimana metode ini meggunakan prinsip cahaya untuk mengetahui
kadar kreatinin didalam darah. Pada spektrofotometer terdapat 2 cahaya, yaitu
cahaya absorban dan cahaya transmittan. Cahaya absorban merupakan cahaya yang
tidak bergerak atau diam pada kuvet yang sudah berisikan sampel yang akan dicek
kadar kreatininnya. Nilai yang didapatkan dari cahaya yang dikeluarkan akan
diteruskan dan dinyatakan dalam suatu nilai yang disebut nilai absorbansi karena
nilai absorbansi memiliki hubungan dengan konsentrasi didalam sampel (Rizkiany,
2011). Cahaya transmittan merupakan cahaya yang bergerat atau cahaya yang
melewati kuvet yang berisikan sampel. Konsentrasi albumin yang ada didalam darah
memiliki nilai yang sama dengan cahaya yang diam, maka perhitungan untuk
konsentrasi albumin dapat dirumuskan sevagai berikut:

𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝐴𝑙𝑏𝑢𝑚𝑖𝑛 = 𝑥 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

Berdasarkan hasil praktikum yang sudah didapatkan, maka dihasilkan nilai


larutan blanko adalah 0, nilai larutan standar adalah 0.355 dan nilai larutan sampel
adalah 0.422. Nilai absorbansi Sampel dibagi dengan nilai absorbansi standar dan
dikali dengan konsentrasi. Sehingga, berdasarkan data diatas kadar albumin
didalam darah didapatkan hasil sebesar 4.75 g/dL. Rentang nilai normal albumin
adalah 3.5-5.0 g/dL. Nilai albumin yang didapatkan berada pada rentang normal.
Akurasi hasil pemeriksaan kadar albumin dipengaruhi oleh banyak faktor
diantaranya persiapan pasien, pengumpulan sampel, persiapan sampel, dan metode
yang digunakan. Suhu inkubasi yang sesuai dengan prosedur yang digunakan akan
menjaga stabilitas sampel albumin darah karena perubahan dari zat-zat terlarut
didalamnya (termasuk protein) dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
BAB VII
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa sampel yang digunaka


adalah sampel K (Serum Darah) dengan hasil pengukuran kadar bilirubin didalam darah
mendapatkan hasil yang kurang vaild karena kadar yang didapatkan berada di atas
normal yaitu 2.10 mg/dl. Hal tersebut dikarenakan kesalahan pada saat praktikum,
misalnya saja kesalahan pada saat memegang tabung reaksi sehingga suhu tubuh dapat
merusak bilirubin, pipet yang kurang akurat, penyimpanan serum yang kurang baik,
suhu yang tidak sesuai waktu pemeriksaan, Hemolisis pada sampel darah, Sampel darah
yang terpapar matahari atau lampu yang terang.
Sedangkan pengkuruan kadar Albumin didalam darah mendapatkan hasil yang
normal karena kadar yang didapatkan berada direntang normal yaitu 4,75 g/dl. Hal
tersebut dikarenakan Suhu inkubasi yang sesuai dengan prosedur yang digunakan akan
menjaga stabilitas sampel albumin darah
DAFTAR PUSTAKA

Andri, Aniek, Haidar Riski, dkk. 2015. Praktikum PSG Biokimia Pemeriksaan Albumin

(MetodeBromoCressol Green/BCG. Surabaya: Universitas Airlangga.

Israr, Y. A, 2010, Metabolisme Bilirubin, Diakses dari

http://yayanakhyar.wordpress.com/2010/04/06/sedikit-mengenai metabolisme-

bilirubin/ . diakses pada tanggal 10 Mei 2018

m.prodia.co.id/id/produklayanan/pemeriksaanlaboratoriumdetails/albumin

m.prodia.co.id/id/produklayanan/pemeriksaanlaboratoriumdetails/bilirubin-total

Rizkiany, H.N. 2011. Pendahuluan Spektrofotometer. Bogor: Institut Pertanian Bogor.