Anda di halaman 1dari 36

Karakteristik Perkembangan Peserta

Didik
Peserta didik
Peserta didik dalam arti luas adalah setiap orang yang terkait dengan proses
pendidikan sepanjang hayat, sedangakan dalam arti sempit adalah setiap siswa yang
belajar disekolah (Sinolungan, 1997). Departemen Pendidikan Nasional (2003)
menegaskan bahwa, peserta didik adalah angota masyarakat yang berusaha
mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Peserta didik usia
SD/MI adalah semua anak yang berada pada rentang usia 6-12/13 tahun yang sedang
berada dalam jenjang pendidikan SD/MI.
Peserta Didik merupakan subjek yang menjadi fokus utama dalam
penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Penting anda pahami sebagai guru kelas
SD bahwa pemahaman dan perlakuan terhadap peserta didiksebagai suatu totalitas atau
kesatuan.

Sinolungan (1997) juga mengemukakan, manusia termasuk peserta didik adalah


mahluk totalitas ”homo trieka”. Ini berarti manusia termasuk peserta didik yaitu :
 mahluk religius yang menerima dan mengakui kekuasaan Tuhan atas dirinya dan alam
lingkungan sekitarnya
 mahluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam berinteraksi dan saling mempengaruhi
agar berkembang sebagai manusia
mahluk individual yang memiliki keunikan (ciri khas, kelebihan, kekurangan, sifat dan
kepribadian, dll.), yang membedakan dari individu lain.
Perkembangan
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan berkesinambungan dan
progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati (Chaplin C.P.,1989:134) menyatakan
bahwa “Perkembangan dapat didefinisikan sebagai deretan progresif dari perubahan yang
teratur dan koheren “.”Progresif “ menandai bahwa perubahannya terarah, membimbing
mereka maju, dan bukan mundur. “Teratur” dan “ koheren” menunjukan hubungan yang
nyata antara perubahan yang terjadi dan telah mendahului atau mengikutinya. (Hurlock
E.B. 1978:23)
Ini berarti bahwa perkembangan juga berhubungan dengan proses belajar terutama
mengenai isinya yaitu tentang apa yang akan berkembang berkaitan dengan perbuatan
belajar. Disamping itu juga bagaimana suatu hal itu dipelajari,
apakah melalui memorisasi (menghafal) atau melalui peniruan dan atau dengan
menangkap hubungan-hubungan, hal-hal ini semua ikut menentukan proses
perkembangan.
Dapat pula dikatakan bahwa perkembangan sebagai suatu proses yang kekal dan tetap
yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi terjadi
berdasarkan proses pertumbuhan, kemasakan, dan belajar.
Dari lahir sampai tua perkembangan dibagi dalam empat periode yaitu periode
anak, periode remaja, periode dewasa dan periode tua dimana masing-masing periode
tidak berdiri sendiri secara terpisah melainkan saling berkaitan. Periode yang mendahului
merupakan dasar bagi periode berikutnya dan masing-masing periode memiliki
karakteristik sendiri-sendiri.
1. Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Usia Taman Kanak-kanak
Anak usia prasekolah merupakan fase perkembangan individu sekitar 4-6 tahun,
ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau wanita, dapat
mengatur diri dalam buang air (toilet training), dan mengenal beberapa hal yang dianggap
berbahaya (mencelakakan dirinya).
 Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya.
Dengan meningkatnya pertumbuhan tubuh maka memungkinkan anak untuk dapat lebih
mengembangkan keterampilan fisiknya dan ekplorasi terhadap lingkungannya dengan
tanpa bantuan dari orang tuanya.
Pertumbuhan otaknya pada usia lima tahun sudah mencapai 75% dari ukuran
orang dewasa, dan 90% pada usia enam tahun. Pada usia ini juga terjadinya pertumbuhan
”myelinization” (lapisan urat syaraf dalam otak yang terdiri dari bahan penyekat
berwarna putih, yaitu myelin) secara sempurna. Lapisan urat syaraf ini membantu
transmisi impul-impul syaraf secara cepat, yang memungkinkan pengontrolan terhadap
kegiatan-kegiatan motorik lebih seksama dan efisien. Di samping itu pada usia ini banya
juga perubahan fisiologis lainnya, seperti pernapasan menjadi lebih lambat dan
mendalam dan denyut jantung lebih lambat dan menetap.
Untuk perkembangan fisik anak sangat diperlukan gizi yang cukup.
Perkembangan fisik akan ditandai juga dengan berkembangnya kemampuan atau
keterampilan motorik, baik yang kasar maupun yang lembut.
 Perkembangan Intelektual
Menurut Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berada pada periode
Preoperasional, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi mental
secara logis. Yang dimaksud dengan operasi adalah kegiatan-kegiatan yang diselesaikan
secara mental bukan fisik. Periode ini ditandai dengan berkembangnya representasional
atau “Symbolic function” yaitu kemampuan menggunakan sesuatu untuk mewakili
sesuatu yang lain dengan menggunakan simbol. Dapat juga dikatakan sebagai “semiotic
function”, kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol untuk melambangkan suatu
kegiatan, benda yang nyata atau peristiwa.
Meskipun berpikir melalui simbol ini dipandang lebih maju dari berpikir periode
sensorimotor, namun kemampuan berpikir ini masih mengalami keterbatasan.
Keterbatasan yang menandai atau yang menjadi karakteristik periode preoperasional ini
adalah sebagai berikut :
a) Egosentrisme
b) Kaku dalam berpikir (Rigidity of thought)
c) Semilogikal reasoning
 Perkembangan Emosional
Pada usia 4 tahun, anak sudah mulai menyadari bahwa dirinya berbeda dengan
borang lain atau benda. Kesadaran ini diperoleh dari pengalaman bahwa tidak setiap
keinginannya dipenuhi oleh orang lain atau benda lain. Bersama dengan itu, berkembang
pula perasaan harga diri yang menuntut pengakuan dari lingkungannya. Jika
lingkungannya (terutama orang tuanya) tidak mengakui harga diri anak maka pada diri
anak akan berkembang sikap-sikap keras kepala/menentang atau menyerah menjadi
penurut yang diliputi rasa harga diri kurang dengan sifat pemalu.
Guru di taman kanak-kanak seyogyanya memberikan bimbingan kepada mereka
agar mereka dapat mengembangkan hal-hal berikut :
a) Kemampuan untuk mengenal, menerima dan berbicara perasaan-perasannya.
b) Menyadari bahwa ada hubunan antara emosi dengan tingkah laku sosial.
c) Kemampuan untuk menyalurkan kegiatannya tanpa menganggu perasaan orang lain.
d) Kemampuan untuk peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.
 Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa anak usia pra sekolah, dapat diklasifikasikan ke dalam dua tahap
(sebagai kelanjutan dari dua tahap sebelumnya) yaitu sebagai berikut :
Masa ketiga (2,0-2,6) yang bercirikan
o Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna.
o Anak sudah mampu memahami tentang perbandingan.
o Anak banyak menanyakan nama dan tempat : apa dimana dan darimana.
o Anak sudah banyak menggunakan kata-kata yang berawalan dan berakhiran.
Masa kekempat (1,2-6,0) yang bercirikan
o Anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya.
o Tingkat berpikir anak sudah lebih maju, anak banyak menanyakan soal waktu-
sebab akibat melalui pertanyaan : kapan, kemana,mengapa dan bagaimana
Berbagai peluang yang diberikan oleh orang tua/guru kepada anak untuk membantu
perkembangan bahasa anak diantaranya yaitu :
 Bertutur kata yang baik dengan anak
 Mau mendengarkan pembicaraan anak
 Menjawab pertanyaan anak
 Mengajak berdialog dalam hal-hal sederhana
 Di tman kanak-kanak, anda diiasakan untuk bertanya, menghafal dan melantunkan lagu dan
puisi.

 Perkembangan Bermain
Usia pra sekolah dapat dikatakan sebagai masa bermain. Yang dimaksud bermain
disini adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan kebebasan batin untuk memperoleh
kesenangan. Terdapat beberapa macam permainan anak yaitu :
1) Permainan fungsi (permainan gerak), seperti meloncat-loncat
2) Permainan fiksi, seperti menjadikan kursi sebagai kuda
3) Permainan reseptif atau apresiatif, seperti melihat gambar
4) Permainan membentuk (konstruksi), seperti membuat gunung pasir
5) Permainan prestasi, seperti sepak bola
Secara psikologis dan paedagogis bermain mempunyai nilai-nilai yang sangat berharga
bagi ana diantaranya :
 Anak memperoleh perasan senang, puas, bangga, atau berkatarsis (peredan ketegangan)
 Anak dapat mengembangkan sikap percaya diri, tanggung jawab, dan kooperatif (mau
bekerja sama)
 Anak dapat mengembangkan daya fantasi atau kreatifitas
 Anak dapat mengenal aturan atau norma yang berlaku dalam kelompok serta belajar untuk
menaatinya.
 Anak dapat memahami bahwa baik dirinya maupun orang lain sama-sama memiliki
kelebihan dan kekurangan.
 Anak dapat mengembangkan sikap sportif, tenggang rasa atau toleran terhadap orang lain.
2. Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Usia Sekolah Dasar

Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui para
guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar.
Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan
siswanya, maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik
siswanya.
Adapun karakeristik peserta didik dibahas sebagai berikut:
1) Karakteristik pertama anak SD adalah senang bermain. Karakteristik ini menuntut guru
SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih
untuk kelas rendah. Guru SD diharap merancang model pembelajaran yang
memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya.
2) Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-
jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh
karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak
berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang
lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
3) Karakteristik yang ketiga dari anak usia SD adalah anak senang bekerja dalam
kelompok. Guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk
bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik
ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang
memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok.
4) Karakteristik yang keempat anak SD adalah senang merasakan atau
melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. Bagi anak SD, penjelasan guru
tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, Dengan
demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak
terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia
dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi
merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa
ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara
optimal.
 Perkembangan Intelektual
Pada usia dasar (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual
atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau
kemampuan kognitif (seperti membaca, menulis, dan menghitung).
Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak,maka sekolah dalam hal ini
guru seyogyanya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan
pertanyaan, memberikan komentar atau pendapat tentang materi pelajaran yang
dibacanya atau dijelaskan oleh guru, membuat karangan, menyusun laporan.
 Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini
tercakup semua cara berkomunikasi, dimana pikirandan perasaan dinyatakan dalam
bentuk tulisan, lisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata,kalimat, bunyi,
lambang, gambar, atau lukisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya,
sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama.
Terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa yaitu :
1) Proses jadi matang dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (organ-organ
suara/bicara sudah berfungsi) untuk berkata-kata.
2) Proses belajar, yang berarti bahwa anak yang telah matang untuk berbicara lalu
mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi atau meniru ucapan/kata-kata
yang didengarnya. Kedua proses ini berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak
Dengan dibekali pelajaran bahasa di sekolah, diharapkan peserta didik dapat menguasai
dan mempergunakannya sebagai alat untuk :
 Berkomunikasi dengan orang lain
 Menyatakan isi hatinya
 Memahami keterampilan mengolah informasi yang diterimanya
 Berpikir (menyatakan gagasan atau pendapat)
 Mengambangkan kepribadiannya seperti menyatakan sikap dan keyakinannya.
 Perkembangan Sosial
Pada usia ini anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri
(egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau
memperhatikan kepentingan orang lain).
Berkat perkembangan sosial anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok
teman sebayanya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam proses
belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosila ini dapat dimanfaatkan atau
dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga
fisik maupun tugas yang membutuhkan pikiran. Hal ini dilakukan agar peserta didik
belajar tentang sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati dan
betanggung jawab.
 Perkembangan Emosi
Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan
(pembiasaan). Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua dalam mengndalikan
emosinya sangatlah berpengaruh pada anak.
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu,
dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Memgingat hal tersebut, maka guru
hendaknya mempunyai kepedulian untuk menciptakan situasi belajar yang
menyenangkan atau kondusif bagi terciptanya proses belajar mengajar yang efektif.
Upaya yang dilakukan antara lain :
 Mengembangkan iklim kelas yang bebas dari ketegangan
 Memperlakukan peserta didik sebagai individu yang mempunyai harga diri
 Memberikan nilai secara objektif
 Menghargai hasil karya peserta didik
 Perkembangan Emosional
Anak mulai mengenal konsep moral pertama kali dari lingkungan keluarga. Pada
mulanya, mungkin anak tidak mengerti konsep moral ini, tapi lambat laun anak akan
memahaminya. Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti peraturan atau
tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak sudah dapat
memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Di samping itu, anak sudah dapat
mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk.
 Perkembangan Penghayatan Keagamaan
Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaannya ditandai dengan ciri-
ciri sebagai berikut :
 Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara asional berdasarkan kaidah-kaidah
logika yang berpedoman pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari
keagungan-Nya.
 Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterima
sebagai keharusan moral.
 Periode usia sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama sebagai
kelanjutan periode sebelumnya.
 Perkembangan Motorik
Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang maka
perkembangan motorik anak sudah terkoordinasi dengan baik.
Sesuai dengan perkembangan fisik (motorik) maka di kelas-kelas permulaan
sangat tepat diajarkan :
a) Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar
b) Keterampilan dalam mempergunakan alat-alat olahraga
c) Gerakan-gerakan untuk meloncat, berlari, berenang, dsb.
d) Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan, ketertiban dan
kedisiplinan.
3. Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Usia Remaja (SMP)

Remaja dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa adolescere
yang berarti “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Perkembangan lebih lanjut,
istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti mencakup kematangan mental, emosional,
sosial dan fisik.
Remaja sering disebut dengan istilah puberteit danadolescentia. Puberteit (Belanda),
puberty(Ingris), pubertas (Latin) yang artinya tumbuh rambut di daerah ”pusic” daerah
kemaluan.Adolescentia dari bahasa latin adalah masa muda.
Secara umum remaja dapat didefinisikan sebagai suatu tahap perkembangan pada
individu, dimana remaja mengalami perkembangan biologis, psikologis, moral dan
agama. Remaja juga merupakan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa. Dapat
dikatakan juga, bahwa remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak menuju
dewasa. Untuk memudahkan identifikasi, biasanya masa remaja dibatasi oleh waktu
tertentu.

WHO membagi 2 tahap usia remaja yaitu:


a. Remaja Awal : 10 – 14 tahun
b. Remaja akhir : 15 – 20 tahun

Oleh karena itu, anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) dapat dikategorikan sebagai
anak usia remaja awal.
Ciri-ciri Masa Remaja:
Beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
 Ciri Fisik/Biologis
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi
pertama pada remaja perempuan dan perubahan suara pada remaja laki-laki.
 Ciri Psikologis
Secara umum, dari sisi psikologis seorang remaja memiliki beberapa cirri sebagai
berikut:
1). Kegelisahan
2). Pertentangan
3). Mengkhayal
4). Aktivitas kelompok
5). Keinginan mencoba segala sesuatu

Ciri-ciri penting pada masa remaja awal atau anak SMP sebagai berikut :
 Pada masa ini terjadi kematangan alat-alat seksual.
Dengan tumbuh dan kembangnya fungsi-fungsi organ maka ciriciri seks sekunder mulai
berkembang seperti tumbuhnya rambut pubis dan timbulnya jakun pada anak laki-laki.
Sedangkan pada anak perempuan mulai memasuki masa menstruasi dan mulai
tumbuhnya buah dada.
 Masa remaja awal merupakan periode yang singkat.
Masa puber merupakan periode yang paling singkat, yaitu sekitar dua sampai empat
tahun pada usianya.
 Masa remaja awal merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat.
Perubahan-perubahan yang pesat ini akan menimbulkan dampak pada anak. Misalnya
timbul keraguan, perasaan tidak mampu dan tidak aman dan dalam beberapa hal
memungkinkan timbulnya perilaku negatif.
 Masa remaja awal merupakan masa negatif.
Pada masa ini anak cenderung mengambil sikap anti terhadap kehidupan atau kehilangan
sifat-sifat baiknya yang pada masa sebelumnya sudah berkembang. Kondisi ini
merupakan sesuatu yang wajar. Beberapa ahli psikologi perkembangan menyebut ini
sebagai masa negatifistik kedua.

 Perkembangan fisik
Masa remaja merupakan salah satu diantara dua masa rentangan kehidupan
individu, dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Masa pertama yang terjadi
pada fase pranatal dan bayi. Bagian-bagian tubuh tertentu pada tahun-tahun permulaan
kehidupan secara proporsional terlalu kecil, namun pada masa remaja proporsionalnya
menjadi terlalu besar, karena terlebih dahulu mengalami kematangan daripada bagian-
bagian yang lain. Pada masa remaja akhir, proporsi tubuh individu mencapai proporsi
tubuh orang dewasa dalam semua bagiannya. Dalam perkembangan seksualitas remaja
ditandai dengan dua ciri yaitu ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder.
 Perkembangan kognitif (Intelektual)
Ditinjau dari perkembanga kognitif menurut Piaget, masa remaja sudah mencapai
tahap operasi formal (operasi = kegiatan-kegiatan mental tentang berbagai gagasan).
Keating merumuskan lima pokok yang berkaitan dengan perkembangan berpikir operasi
formal, yaitu sebagai berikut :
a) Berlainan dengan cara berpikir anak-anak yang tekanannya kepada kesadarannya sendiri
disini dan sekarang, cara berpikir remaja berkaitan erat dengan dunia kemungkinan.
Remaja mampu menggunakan abstraksi dan dapat membedakan yang nyata dan konkret
dengan abstrak dan mungkin.
b) Melalui kemampuannya untuk menguji hipotesis, muncul kemampuan nalar secara
ilmiah.
c) Remaja dapat memikirkan tentang masa depan dengan membuat perencanaan dan
mengekplorasi berbagai kemungkinan untuk mencapainya.
d) Remaja menyadari tentang aktivitas kognitif dan mekanisme yang membuat proses
kognitif itu efisien dan tidak efisien. Dengan demikian, introspeksi (pengujian diri)
menjadi bagian kehidupannya sehari-hari.
e) Berpikir operasi formal memungkinkan terbukanya topik-topik baru dan ekspansi
berpikir.
Implikasi pendidikan atau bimbingan dari periode berpikir operasi formal ini
adalah perlunya disiapkan program pendidikan atau bimbingan yang memfasilitasi
perkembanga kemampuan berpikir remaja. Upaya yang dapat dilakukan seperti :
o Penggunaan metode mengajar yang mendorong anak untuk aktif bertanya,
mengemukakan gagasan atau mengujicobakan suatu materi
o Melakukan dialog, diskusi dengan siswa tentang masalah-masalah sosial atau
berbagai aspek kehidupan seperti agama, etika pergaulan dan pacaran, politik,
lingkungan hidup, bahayanya minuman keras dan obat-obatan terlarang.
 Perkembangan Emosi
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang
tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama ogran seksual mempengaruhi perkembangan emosi
dan dorongan baru yang dialami sebelumnya seperti perasaan cinta. Pada usia remaja
awal, perkembanga emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat
kuat terhadap berbagai peristiwa, emosinya bersifat negatif dan tempramental. Sedangkan
remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya. Mencapai kematang emosional
merupakan tugas perkembangan yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya
sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan
keluarga dan kelompok teman sebaya.
 Perkembangan sosial
Pada masa remaja berkembang ”social cognition”, yaitu kemampuan untuk
memahami orang lain. Ramaja memahami orang lain sebagi individu yang unik, baik
menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai, maupun perasaannya.
Pada masa ini juga berkembang sikap ”conformity”, yaitu kcenderungan untuk
menyerah atau megikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan
orang lain (teman sebaya).
Apabila kelompok teman sebaya yang diikuti menampilkan sikap dan perilaku
yang secara moral dan agama dapat dipertanggungjawabkan maka kemungkinan besar
remaja tersebut akan menampilkan pribadinya yang baik. Sebaliknya, apabila
kelompoknya itu menampilkan sikap dan perilaku yang melecehkan nilai-nilai moral
maka sangat dimungkinkan remaja akan melakukan perilaku seperti kelompoknya
tersebut.
 Perkembangan moral
Melalui pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya
atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang jika
dibandingkan dengan usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral
atau konsep-konsep moralitas, seperti kejujuran, keadilan, kesopanan dan kedisiplinan.
Menurut Adam dan Guallatta terdapat berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa
orang tua mempengaruhi moral remaja, yaitu :
 Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat moral remaja dengan tingkat moral
orang tua.
 Ibu-ibu remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam tahapan nalar
moralnyadaripada ibu-ibu yang anaknya nakal, dan remaja yang tidak nakal mempunyai
skor yang lebih tinggi dalam kemampuan nalar moralnya daripada remaja yang nakal.
 Terdapat dua faktor yang dapat meningkatkan perkembangan moral anak atau remaja yaitu
(a) orang tua yang mendorong anak untuk diskusi secara demokratis dan terbuka
mengenai berbagai isu dan (b) orang tua yang menerapkan disiplin terhadap anak dengan
teknik berpikir induktif.
 Perkembangan kepribadian
Kepribadian merupakan sistem yang dinamis dari sifat-sifat, sikap dan kebiasaan
yang menghasilkan tingkat konsistensi respons individu yang beragam. Sifat-sifat
kepribadian mencerminkan perkembangan fisik, seksual, emosional, sosial, kognitif dan
niali-nilai. Masa remaja merupakan saat berkembangnya identity (jati diri).
Perkembangan ”identity” merupakan isu sentral pada masa remaja yang memberikan
dasar bagi masa dewasa. Apabila remaja gagal mengintegrasikan aspek-aspek dan pilihan
atau merasa tidak mampu untuk memilih, maka dia akan mengalami kebingungan
(confusion).
4. Karakteristik Peserta Didik Usia Taman Dewasa (SMA)

Perkembangan siswa SMA yang rata-rata berada pada usia antara 15-19 tahun berada
pada masa remaja madya (middle adolescence).
Dalam Panduan Umum Pelayanan BK Berbasis Kompetensi (Pusat Kurikulum, 2002)
diuraikan tugas-tugas perkembangan siswa SMA yakni:
 Mencapai kematangan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 Mencapai kematangan dalam hubungan dengan teman sebaya, serta kematangan dalam
peranannya sebagai pria atau wanita.
 Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat.
 Mengembangkan penguasan ilmu, teknologi dan seni sesuai dengan program kurikulum
dan persiapan karir atau melanjutkan pendidikan tinggi, serta berperan dalam kehidupan
masyarakat yang lebih luas.
 Mencapai kematangan dalam pilihan karir.
 Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional,
sosial, intelektual dan ekonomi.
 Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
 Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual, serta apresiasi seni.
 Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.
Secara psikologis kedewasaan diwarnai dengan aktualisasi diri yaitu menunjukkan
semua kemampua yang dimiliki dalam rangka mandiri, bisa mencari nafkah sendiri,
dapat menentukan kehidupan sendiri, ingin merdeka.
Pada sebagian besar kebudayaan kuno, status ini tercapai apabila pertumbuhan
pubertas telah selesai atau setidak-tidaknya sudah mendekati selesai dan apabila organ
kelamin anak telah mencapai kematangan serta mampu bereproduksi.
Pada umumnya psikolog menetapkan seseorang dikatakn telah dewasa sekitar usia
20 tahun sebagai awal masa dewasa dan berlangsung sampai sekitar usia 40-45 dan
pertengahan masa dewasa berlangsung dari sekitar 40-45 sampai sekitar 65 tahun, serta
masa dewasa lanjut atau masa tua berlangsung dari sekitar 65 tahun sampai meninggal.
 Perkembangan Fisik
Dilihat dari aspek perkembangan fisik, pada awal masa dewasa kemampuan fisik
mencapai puncaknya dan sekaligus mengalami penurunan selama periode ini.
 Kesehatan Badan
Awal masa dewasa ditandai dengan memuncaknya kemampuan dan kesehatan
fisik. Mulai dari sekitar usia 18 hingga 25 tahun, individu memiliki kekuatan yang
terbesar, gerak-gerak reflek mereka sangat cepat. Meskipun pada awal masa dewasa
kondisi kesehatan fisik mencapai puncaknya, namun selama periode ini penuruna keadaa
fisik juga terjadi. Sejak usia sekitar 25 tahun, perubahan-perubahan fisik mulai terlihat.
Perubahan ini sebagian besar lebih bersifat kuantitatif daripada kualitatif.
 Perkembangan Sensori
Pada awal masa dewasa penurunan fungsi penglihatan dan pendengaran belum
begitu kelihatan. Akan tetapi, pada masa dewasa tengah perubahan dalam penglihatan
dan pendengaran merupakan dua perubahan fisik yang paling menonjol. Pada usia antara
40 dan 59 tahun, daya akomodasi mata mengalami penurunan paling tajam. Karena itu,
banyak orang pada usia setengah baya mengalami kesulitan dalam melihat objek-objek
yang dekat.
 Perkembangan Otak
Mulai masa dewasa awal, sel-sel otak juga berangsur-angsur berkurang. Tetapi,
perkembangbiakan koneksi neural (neural connection), khususnya bagi orang-orang tetap
aktif, membantu mengganti sel-sel yang hilang. Hal ini membantu menjelaskan pendapat
umum bahwa orang dewasa tetap aktif, baik secara fisik, seksual, maupun secara mental,
menyimpan lebih banyak kapasitas mereka untuk melakukan aktivitas demikian pada
tahun selanjutnya.
 Perkembangan Kognitif
Kemampuan kognitif terus berkembang selama masa dewasa. Akan tetapi,
bagaimanapun tidak semua perubahan kognitif pada masa dewasa tersebut mengarah
pada peningkatan potensi. Kadang-kadang beberapa kemampuan kognitif mengalami
kemerosotan seiring dengan pertambahan usia. Meskipun demikian sejumlah ahli percaya
bahwa kemunduran keterampilan kognitif yang terjadi terutama pada masa dewasa akhir
dapat ditingkatkan kembali melalui serangkaian pelatihan.
 Perkembangan Memori
Sejumlah bukti menunjukkan bahwa perubahan memori bukanlah suatu yang
sudah pasti terjadi sebagai bagian dari proses penuaan, melainkan lebih merupakan
stereotip budaya.
Kemerosotan dalam memori episodik, sering menimbulkan perubaha-perubahan
dalam kehidupan orang tua. Untuk dapat mencegah kemunduran memori jangka panjang
sekaligus memungkinkan dapat meningkatkan kekuatan memori mereka maka dapat
dilakukan latihan menggunakan bermacam-macam strategi mnemonic (strategi
penghafalan) bagi orang tua.
 Perkembangan Intelegensi
Sejumlah peneliti berpendapat bahwa seiring dengan proses penuaan selama masa
dewasa terjadi kemunduran dalam intelegensi umum. David Wechsler menyimpulkan
bahwa kemunduran bahwa kemunduran kemampuan mental merupakan bagian dari
proses penuaan organisme secara umum. Hampir semua studi menunjukkan bahwa
setelah mencapai puncaknya pada usia antara 18-25 tahun, kebanyakan kemampuan
manusia terus-menerus mengalami kemunduran.
 Perkembangan Psikososial
Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas
dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa ini,
individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang
dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan tersebut tidak
disebabkan oleh perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan dengan penuaan, tetapi lebih
disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan
pekerjaan. Selam periode ini orang melibatkan diri secara khusus dala karir, pernikahan
dan hidup berkeluarga. Menurut Erikson, perkembangan psikososial selama masa dewasa
dan tua ini ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif dan integritas.
Pedagogik : Hakekat Pendidikan dan
Peserta Didik
HAKEKAT PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK

Pendidikan
Pendidikan secara umum dapat dimengerti sebagai suatu usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak dan budi mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara. Pada intinya pendidikan adalah suatu proses yang disadari untuk mengembangkan potensi
individu sehingga memiliki kecerdasan pikir, emosional, berwatak dan berketerampilan untuk
siap hidup ditengah-tengah masyarakat.

Dan perlu kita ketahui bahwa di dalam “pendidikan” mempunyai pengertian suatu proses
bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang didalamnya mengandung beberapa unsur-unsur yang
harus diperhatikan, diantaranya adalah:
 Didalam bimbingan ada pembimbingnya ( pendidik ) dan yang dibimbing (terdidik).
 Bimbingan mempunyai arah yang bertitik tolak pada dasar pendidikan dan berakhir pada
tujuaqn pendidikan.
 Bimbingan berlangsung pada suatu tempat, lingkungan atau lembaga pendidikan tertentu.
 Bimbingan merupakan proses, maka harus proses ini berlangsung dalam jangka waktu terntu.
 Didalam bimbingan harus mempunyai bahan yang akan disampaikan pada anak didik untuk
mengembangkan pribadi seperti yang di inginkan.
 Didalam bimbingan menggunakan metode tertentu.
Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi
tanggung jawab untuk mempengaruhi peserta didik agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai
dengan cita-cita pendidikan.
Mendidik adalah membantu anak dengan sengaja (dengan jalan membimbing, membantu dan
memberi pertolongan) agar ia menjadi manusia dewasa, susila, bertanggungjawab dan mandiri.
Dewasa yang dimaksud adalah:
a) dewasa pedagogis (menyadari dan mengenali diri sendiri atas tanggung jawab sendiri)
b) dewasa biologis (mampu mengadakan keturunan)
c) dewasa psikologis (fungsi kejiwaan telah matang)
d) dewasa sosiologis (telah memenuhi syarat untuk hidup bersama yang telah ditentukan
masyarakat)

Ilmu pendidikan diarahkan kepada perbuatan mendidik yang bertujuan. Tujuan itu ditentukan
oleh nilai yang dijunjung tinggi oleh seseorang. Sedangkan nilai itu sendiri merupakan ukuran
yang bersifat normatif, maka dapat kita tegaskan bahwa ilmu pendidikan adalah ilmu yang
bersifat normatif. Ilmu pendidikan juga memerlukan pemikiran teoritis, yaitu pemikiran yang
disusun secara teratur dan sistematis. Suatu sistem terdiri atas komponen-komponen yang disebut
sub-sistem. Sebagai suatu sub-sistem pendidikan dapat digambarkan sebagai berikut:
Unsur-unsur pendidikan yaitu :
1. Peserta didik
2. Pendidik
3. Tujuan
Menurut Langeveld, ada beberapa macam tujuan pendidikan.
 Tujuan umum/tujuan sempurna= Tujuan yang berakar dari tujuan hidup yaitu membentuk
manusia yang dewasa, susila, mandiri, dan bertanggungjawab.
 Tujuan tidak sempurna= Tujuan yang mencakup segi-segi tertentu seperti kesusilaan,
keagamaan, kemasyarakatan, keindahan, dll.
 Tujuan sementara= Tujuan yang merupakan pijakan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.
 Tujuan perantara= Tujuan yang ditentukan untuk mencapai tujuan sementara.
 Tujuan insidental= Tujuan yang berkaitan dengan keadaan dalam proses mencapai tujuan
umum.
 Tujuan khusus= Pengkhususan dari tujuan umum.
4. Isi pendidikan
Adalah segala sesuatu yang oleh pendidik langsung diberikan kepada peserta didik dan
diharapkan untuk dikuasai peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Materi
tersebut harus sesuai dengan tujuan pendidikan dan sesuai dengan peserta didik.
5. Metode
6. Lingkungan
Hakikat Pendidikan secara umum dapat digolongkan atas dua kelompok besar yaitu :

 Pendekatan Redaksional
Teori-teori atau pendekatan redaksional sangat banyak dikemukakan di dalam khazanah ilmu
pendidikan. Dalam hal ini akan dibicarakan berbagai pendekatan reduksionaisme sebagai berikut
:
a. Pendekatan pedagogis / pedagogisme
Titik tolak dari teori ini ialah anak yang akan di besarkan menjadi manusia dewasa. Pandangan
ini apakah berupa pandangan nativisme schopenhouer serta menganut penganutnya yang
beranggapan bahwa anak telah mempunyai kemampuan-kemampuan yang dilahirkan dan tinggal
di kembangkan saja.

b. Pendekatan Filosofis
Anak manusia mempunyai hakikatnya sendiri dan berada dengan hakikat orang dewasa. Oleh
sebab itu, proses pendewasaan anak bertitik-tolak dari anak sebagai anak manusia yang
mempunyai tingkat-tingkat perkembangan sendiri.

c. Pendekatan Religius
Pendekatan religius / religionisme dianut oleh pemikir-pemikir yang melihat hakikat manusia
sebagai makhluk yang religius. Namun demikian kemajuan ilmu pengetahuan yang sekuler tidak
menjawab terhadap kehidupan yang bermoral.

d. Pendekatan Psikologis
Pandangan-pandangan pedagogisme seperti yang telah diuraikan telah lebih memacu masuknya
psikologi ke dalam bidang ilmu pendidikan hal tersebut telah mempersempit pandangan para
pendidik seakan-akan ilmu pendidikan terbatas kepada ilmu mengajar saja.

e. Pendekatan Negativis
Pendidikan ialah menjaga pertumbuhan anak. Dengan demikian pandangan negativisme ini
melihat bahwa segala sesuatu seakan-akan telah tersedia di dalam diri anak yang bertumbuh
dengan baik apabila tidak dipengaruhi oleh hal-hal yang merugikan pertumbuhan tersebut.

f. Pendekatan Sosiologis
Pandangan sosiologisme cenderung berlawanan arah dengan pedagogisme. Titik-tolak dari
pandangan ini ialah prioritas kepada kebutuhan masyarakat dan bukan kepada kebutuhan
individu.
Peserta didik adalah anggota masyarakat. Dalam sejarah perkembangan manusia kita lihat bahwa
tuntutan masyarakat tidak selalu etis. Versi yang lain dari pandangan ini ialah develop
mentalisme. Proses pendidikan diarahkan kepada pencapaian target-target tersebut dan tidak
jarang nilai-nilai kemanusiaan disubordinasikan untuk mencapai target pembangunan.
Pengalaman pembangunan Indonesia selama Orde Baru telah mengarah kepada paham
developmentalisme yang menekan kepada pencapaian pertumbuhan yang tinggi, target
pemberantasan buta huruf, target pelaksanaan wajib belajar 9 dan 12 tahun. Salah satu pandangan
sosiologisme yang sangat populer adalah konsiensialisme yang dikumandangkan oleh ahli pikir
pendidikan Ferkenal Paulo Freire.

 Pendekatan Holistik Integratif


Pendekatan-pendekatan reduksionisme melihat proses pendidikan peserta didik dan keseluruhan
termasuk lembaga-lembaga pendidikan, menampilkan pandangan ontologis maupun metafisis
tertentu mengenai hakikat pendidikan. Teori-teori tersebut satu persatu sifatnya mungkin
mendalam secara Vertikal namun tidak melebar secara horizontal.
Peserta didik, anak manusia, tidak hidup secara terisolasi tetapi dia hidup dan berkembang di
dalam suatu masyarakat tertentu, yang berbudaya, yang mempunyai visi terhadap kehidupan di
masa depan, termasuk kehidupan pasca kehidupan.

Pendekatan reduksionisme terhadap hakikat pendidikan, maka dirumuskan suatu pengertian


operasional mengenai hakikat pendidikan. Hakikat pendidikan adalah suatu proses menumbuh
kembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan
yang berdimensi lokal, nasional dan global.
Secara umum menurut H.A. R. Tilaar hakikat pendidikan mempunyai beberapa komponen
sebagai berikut:
• Pendidikan adalah merupakan suatu proses berkesinambungan
• Proses Pendidikan berarti menumbuh kembangkan eksistensi manusia
• Eksistensi manusia yang memasyarakat
• Proses Pendidikan dalam masyarakat yang berbudaya
• Proses yang memiliki dimensi ruang dan waktu
Bila dilihat secara operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk, yaitu :
a) Alat untuk memelihara, memperluas, dan menghubungkan tingkat kebudayaan, nilai-nilai
tradisi dan sosial,serata ide-ide masyarakat dan nasional.
b) Alat untuk mengadakan perubahan, inovasi dan perkembangan. Pada garis besarnya, upaya ini
dilakukan melalui potensi ilmu pengetahuan dan skill yang dimiliki, serta melatih tenaga manusia
(peserta didik) yang produktif dalam menemukan perimbangan perubahan sosialekonomi yang
demikian dinamis.

Faktor – faktor pendidikan yaitu :

Menurut Imam Sutari bahwa perbuatan mendidik dan didik memuat faktor – faktor tertentu yang
mempengaruhi dan menentukan, beberapa diantaranya adalah :
1. Tujuan pendidikan yang hendak dicapai
2. Adanya subjek manusia (pendidik dan anak didik yang melakukan pendidikan)
3. Hidup bersama dalam lingkungan tertentu
4. Yang memungkinkan alat – alat tertentu untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.
 Hakekat Pendidik
Menurut Abudin Nata pendidik adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberikan kesan
bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Secara khusus
pendidikan dalam persepektif pendidikan islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab
terhadap perkembangan seluruh potensi peseta didik. Kalau kita melihat secara fungsional kata
pendidik dapat di artikan sebagai pemberi atau penyalur pengetahuan, keterampilan.
Jika menjelaskan pendidik ini selalu dikaitkan dengan bidang tugas dan pekejaan, maka fareable
yang melekat adalah lembaga pendidika. Dan ini juga menunjukkan bahwa akhirnya pendidik
merupakan profesi atau keahlian tertentu yang melekat pada diri seseorang yang tugasnya adalah
mendidik atau memberikan pendidikan.
a. Tugas dan Tanggung Jawab Pendidik
Tugas-tugas dari seorang pendidik adalah :
 Membimbing peserta didik, dalam artian mencari pengenalan terhadap anak didik mengenai
kebutuhan, kesanggupan, bakat, minat dan sebagainya.
 Menciptakan situasi untuk pendidikan, yaitu ; suatu keadaan dimana tindakan-tindakan
pendidik dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan.
 Seorang penddidik harus memiliki pengetahuan yang diperlukan, seperti pengetahuan
keagamaan, dan lain sebagainya.
Seperti yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali, bahwa tugas pendidik adalah
menyempurnakan, membersihkan, menyempurnakan serta membaha hati manusia untuk Taqarrub
kepada Allah SWT.
Sedangkan tanggung jawab dari seorang pendidik adalah :
o Bertanggung moral.
o Bertanggung jawab dalam bidang pedidikan.
o Tanggung jawab kemasyarakatan.
o Bertanggung jawab dalam bidang keilmuan.
b. Tujuan Pendidik

Pendidik adalah orang yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk memberi bimbingan atau
bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya demi mencapai
kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk tuhan, makhluk sosial dan
sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.
Orang yang pertama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak atau pendidikan anak
adalah orang tuanya, karena adanya pertalian darah secara langsung sehingga ia mempunyai rasa
tanggung jawab terhadap masa depan anaknya. Orang tua disebut juga sebagai pendidik kodrat.
Namun karena mereka tidak mempunayai kemampuan, waktu dan sebagainya, maka mereka
menyerahkan sebagian tanggung jawabnya kepada orang lain yang dikira mampu atau
berkompeten untuk melaksanakan tugas mendidik.
c. Syarat-syarat dan Sifat-sifat yang Harus dimiliki oleh Seorang Pendidik
Syarat-syarat umum bagi seorang pendidik adalah :
 Sehat Jasmani
 Sehat Rohani
Menurut H. Mubangit syarat untuk menjadi seorang pendidik yaitu :
o Harus beragama.
o Mampu bertanggung jawab atas kesejahteraan agama.
o Tidak kalah dengan guru-guru umum lainnya dalam membentuk Negara yang demokratis.
o Harus memiliki perasaan panggilan murni.
Sedangkan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pendidik adalah :
• Integritas peribadi, peribadi yang segala aspeknya berkembang secara harmonis.
• Integritas sosial, yaitu peribadi yang merupakan satuan dengan masyarakat.
• Integritas susila, yaitu peribadi yang telah menyatukan diri dengan norma-norma susila yang
dipilihnya.
Adapun menurut Prof. Dr. Moh. Athiyah al-Abrasyi, seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat
tertenru agar ia dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, seperti yang diungkapkan oleh
beliau adalah :
a) Memiliki sifat Zuhud, dalam artian tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari
ridha Allah.
b) Seorang Guru harus jauh dari dosa besar.
c) Ikhlas dalam pekerjaan.
d) Bersifat pemaaf.
e) Harus mencintai peserta didiknya.
 Hakekat Peserta Didik

Peserta didik merupakan salah satu komponen terpenting dalam pendidikan. Tanpa anak didik,
proses kependidikan tidak akan terlaksana. Oleh karena itu pengertian tentang anak didik dirasa
perlu diketahui dan dipahami secara mendalam oleh seluruh pihak. Sehingga dalam proses
pendidikannya nanti tidak akan terjadi kemelencengan yang terlalu jauh dengan tujuan
pendidikan yang direncanakan.
Menurut UU no.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, peserta didik adalah anggota
masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang
tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Peserta didik merupakan seseorang yang sedang berkembang memiliki potensi tertentu dengan
bantuan pendidik (guru), ia mengembangkan potensinya tersebut secara optimal . Istilah peserta
didik merupakan sebutan bagi semua orang yang mengikuti pendidikan dilihat dari tatanan
makro.
Dalam pengertian umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang
atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.sedangkan dalam arti sempit anak
didik adalah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik
(Yusrina, 2006).
Peserta didik menunjukkan seseorang manusia yang belum dewasa yang akan dibimbing oleh
pendidiknya untuk menuju kedewasaan. Peserta didik adalah komponen masukan dalam sistem
pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang
berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Menurut Samsul Nizar (2002) beberapa hakikat peserta didik dan implikasinya terhadap
pendidikan Islam, yaitu :
1. Peserta didik bukan merupakan miniatur orang dewasa, akan tetapi memiliki dunia sendiri.
2. Peserta didik adalah manusia yang memiliki diferensiasi priodesasi perkembangan dan
pertumbuhan.
3. Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik yang menyangkut kebutuhan
jasmani maupun rohani yang harus dipenuhi.
4. Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individual.
5. Peserta didik terdiri dari dua unsur utama, yaitu jasmani dan rohani.
6. Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat dikembangkan dan
berkembang secara dinamis.
Menurut Raka Joni menyatakan bahwa hakikat peserta didik didasarkan pada 4 hal yaitu:
 Peserta didik bertanggung jawab terhadap pendidikan sesuai dengan wawasan pendidikan
seumur hidup.
 Memiliki potensi baik fisik maupun psikologi yang berbeda-beda sehingga masing-masing
subjek didik merupakan insan yang unik.
 Memerlukan pembinaan individual serta perlakuan yang manusiawi.
 Pada dasarnya merupakan insan yang aktif menghadapi lingkungan.
Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan
menurut fitrahnya masing-masing, mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang
konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. Didalam pandangan yang lebih
modern anak didik tidak hanya dianggap sebagai objek atau sasaran pendidikan, melainkan juga
mereka harus diperlukan sebagai subjek pendidikan, diantaranya adalah dengan cara melibatkan
peserta didik dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan
pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan
pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.

Dasar-dasar kebutuhan anak untuk memperoleh pendidikan, secara kodrati anak membutuhkan
dari orang tuanya. Dasar-dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang
dimiliki oleh setiap anak dalam kehidupannya, dalam hal ini keharusan untuk mendapatkan
pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan, antara
lain :
1). Aspek Paedogogis
Dalam aspek ini para pendidik mendorang manusia sebagai animal educandum, makhluk yang
memerlukan pendidikan. Dalam kenyataannya manusia dapat dikategorikan sebagai animal,
artinya binatang yang dapat dididik, sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik,
melainkan hanya dilatih secara dresser. Adapun manusia dengan potensi yang dimilikinya dapat
dididik dan dikembangkan kearah yang diciptakan.
2). Aspek Sosiologi dan Kultural
Menurut ahli sosiologi, pada perinsipnya manusia adalah moscrus, yaitu makhlik yang berwatak
dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.
3). Aspek Tauhid
Aspek tauhid ini adalah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang
berketuhanan, menurut para ahli disebut homodivinous (makhluk yang percaya adanya tuhan)
atau disebut juga homoriligius (makhluk yang beragama).
a. Tugas dan Kewajiban Peserta Didik
Menurut Asma Hasan Fahmi tugas dan kewajiban yang harus dipenuhi peserta didik diantaranya
adalah :
 Peserta didik hendaknya senantiasa membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu.
 Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi ruh dengan berbagai sifat keimanan.
 Setiap peserta didik wajib menghormati pendidiknya.
 Peserta didik hendaknya belajar secara bersungguh-sungguh dan tabah dalam belajar.
b. Sifat-sifat Ideal Peserta Didik
Sifat-sifat ideal yang perlu dimiliki peserta didik misalnya : berkemauan keras atau pantang
menyerah, memiliki motivasi yang tinggi, sabar, dan tabah, tidak mudah putus asa dan
sebagainya.
Berkenaan dengan sifat ideal diatas, Imam Al-Ghazali, sebagaimana dikutip Fatahiyah Hasan
Sulaiman, merumuskan sifat-sifat ideal yang patut dimiliki peserta didik yaitu :
1) Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah. Mempunyai ahklak yang baik dan
meninggalkan yang buruk.
2) Mengurangi kecendrungan pada kehidupan duniawi disbanding ukhrawi dan sebaliknya.
3) Bersifat tawadhu’ (rendah hati).
4) Menjaga pikiran dari berbagai pertentangan dan aliran.
5) Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji baik ilmu umum dan agama.
6) Belajar secara bertahap atau berjenjang dengan melalui pelajaran yang mudah menuju pelajran
yang sulit.
7) Mempelajari ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih kepada ilmu yang lainnya.
8) Memahami nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari
9) Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
10) Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan yang dapat bermanfaat,
membahagiakan, serta memeberi keselematan dunia dan akhirat.
c. Karakteristik Peserta Didik
Setiap peserta didik memiliki ciri dan sifat atau karakteristik yang diperoleh lingkungan. Agar
pembelajaran dapat mencapai hasil yang optimal guru perlu memahami karakteristik peserta
didik. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik yang dimiliki sejak lahir baik menyangkut
faktor biologis maupun faktor sosial psikologis Untuk mengetahui siapa peserta didik perlu
dipahami bahwa sebagai manusia yang sedang berkembang menuju kearah kedewasaan memiliki
beberapa karakteristik.
Menurut Tirtaraharja, 2000 (Uyoh Sadullah, 2010: ) mengemukakan 4 karakeristik yang
dimaksudkan yaitu :
 Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas sehingga merupakan makhluk yang
unik
 Individu yang sedang berkembang. Anak mengalami perubahan dalam dirinya secara wajar.
 Individu yang membutuhkan bimbingan individual.
 Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri dalam perkembangannya peserta didik
memiliki kemampuan untuk berkembang kea rah kedewasaan.

Edi Suardi (1984) mengemukakan 3 ciri anak didik:


• Kelemahan dan ketidakberdayaan.
Anak ketika dilahirkan dalam keadaan lemah yang tidak berdaya untuk dapat bergerak harus
melalui berbagai tahapan. Kelemahan yang dimiliki anak adalah kelemahan rohaniah dan
jasmaniah misalnya tidak kuat gangguan cuaca juga rohaniahnya tidak mampu membedakan
keadaan yang berbahaya ataupun menyenangkan. Kelemahan dan ketidakberdayaan anak makin
lama makin hilang karena berkat bantuan dan bimbingan pendidik atau yang disebut dengan
pendidikan. Pendidikan akan berhenti manakala kelemahan dan ketidakberdayaan sudah berubah
menjadi kekuatan dan keberdayaan, yaitu suatu keadaan yang dimiliki oleh orang dewasa.
Pendidikan justru ada karena adanya ciri kelemahan dan ketidakberdayaan tersebut.
• Anak didik adalah makhluk yang ingin berkembang
Keinginan berkembang yang menggantikan ketidakmampuan pada saat anak lahir merupakan
karunia yang besar untuk membawa mereka ketingkat kehidupan jasmaniah dan rohaniah yang
tinggi lebih tinggi lebih tinggi dari makhluk lainnya. Keinginan berkembang mendorong anak
untuk giat, itulah yang menyebabkan adanya kemungkinan atau pergaln yang disebut pendidikan.
Tanpa keinginan berkembang pada anak, akan menjadikan tidak ada kemauan tidak mempunyai
vitalitas, tidak giat bahkan barang kali menjadi malas dam acuh tak acuh.
• Anak didik yang ingin menjadi diri sendiri.
Sepeti pernah dikemukakan bahwa anak didik itu ingin menjadi diri sendiri. Hal tersebut penting
baginya karena untuk dapat bergaul dalam masyarakat. Seseorang harus merupakan diri sendiri,
orang seorang atau pribadi. Tanpa itu manusia akan menjadi manusia penurut, dan manusia yang
tidak punya pribadi. Pendidikan yang bersifatotoriter bahkan mematikan pribadi anak yang
sedang tumbuh.
Secara garis besar karakteristik peserta didik dibentuk oleh dua faktor yaitu :
1. Faktor bawaan merupakan faktor yang diwariskan dari kedua orang tua individu yang
menentukan karakteristik fisik dan terkadang intelejensi,
2. Faktor lingkungan merupakan faktor yang menentukan karakteristik spiritual, mental, psikis,
dan juga terkadang fisik dan intelejensi. Faktor lingkungan dibagi menjadi tiga yaitu :
a). Lingkungan keluarga
Pada lingkungan keluarga seperti motivasi dari kedua orang tua agar menjadi orang yang sukses
kedepannya dan tidak boleh kalah dengan kesuksesan orang tuanya, kesuksesan teman orang
tuanya, kesuksesan anak teman orang tuanya, ingin merubah nasib keluarga yang melarat,
motivasi sebagai kakak yang merupakan contoh bagi adik-adiknya, motivasi sebagai adik yang
tidak boleh kalah dengan kesuksesan kakaknya.
b). Lingkungan sekolah
Dari lingkungan sekolah seperti motivasi ingin menjadi juara kelas, motivasi ingin kaya karena
melihat orang tua temannya yang kaya, ataupun motivasi dari gurunya.
c). Lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat misalnya motivasi dari tetangganya yang sukses, motivasi karena
keluarganya selalu diremehkan masyarakat, ataupun motivasi karena masyarakatnya diremehkan
masyarakat lain.
Hakekat pendidikan d
Setelah mengetahui faktor-faktor tersebut guru dapat memahami bahwa peserta didiknya
digolongkan sebagai individu yang unik karena peserta didik pada hakikatnya terdiri dari
individu-individu yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Terdapatnya perbedaan
individual dalam diri masing-masing peserta didik membuat guru harus pandai-pandai
menempatkan porsi keadilan dengan tepat pada setiap peserta didiknya. Misalnya saja dalam
pelajaran fisika, tentunya tidak semua siswa berminat dalam pelajaran fisika, mungkin ada siswa
berminat pada musik, lantas guru tidak harus memaksanya untuk dapat menyukai fisika apalagi
memaksakan agar paham fisika lebih mendalam dengan memberikan soal dan tugas yang banyak
dan sulit ditambah lagi sanksinya yang berat bila tidak dapat mengerjakan soal/tugas tersebut. Hal
inilah yang nantinya menciptakan potensi buruk pada diri peserta didik sebagai hasil
ketidakpuasanya terhadap lingkungan yang diterimanya.
Pada prinsipnya perkembangan psikis peserta didik selalu ke arah yang lebih baik seiring dengan
tingkat materi pelajaran yang diberikan juga semakin tinggi sehingga membuat peserta didik
terbiasa berpikir secara realistis dan sistematis. Tapi guru hendaknya mendukung dan
membantunya mengembangkan potensi tersebut agar lebih optimal. Peserta didik yang demikian
tidak perlu diajarkan fisika sampai mendalam karena itu hanya akan membuatnya menjadi jenuh
pada setiap pertemuan dan sudah menjadi kompetensi guru untuk dapat menyadari hal ini, tapi
bisa juga divariasikan konsep-konsep fisika yang berhubungan dengan bidang yang diminatinya,
seandainya peserta didik tersebut tidak mengerti paling tidak pasti ia akan menikmati proses
pembelajaran di kelasnya. Selain dengan cara itu guru juga bisa melakukan pendekatan-
pendekatan dalam proses pembelajaran terhadap peserta didiknya dengan terlebih dahulu
membaca situasi. Misalnya saja dengan memberikan kesempatan kepada siswa yang pintar untuk
mengajarkan kepada temannya yang kurang mengerti. Seperti itulah guru yang profesional.

Pedagogik : KONSEP DIDAKTIK


KONSEP DIDAKTIK
 Belajar
Belajar adalah suatu aktifitas dimana terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak
mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal. Belajar
adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari
pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah
belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam
belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus
adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau
tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara
stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat
diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh
guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.

Belajar merupakan salah satu topik paling penting dalam psikologi masa kini, namun belajar
merupakan konsep yang sangat sulit untuk di-definisikan (Hergenhan & Olson, 1997).Belajar
adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau dalam potensialitas perilaku
yang diakibatkan pengalaman dan tidak dapat diatribusikan pada kondisi tubuh sementara seperti
kondisi tubuh yang disebabkan oleh penyakit, kelelahan, atau obat-obatan (1997). Definisi ini
mengandung :

(a) Perubahan perilaku


(b) Relatif permanen,
(c) Belajar
(d) Performan
Belajar dimanifestasikan dengan adanya perubahan tingkah laku, yaitu tingkah laku yang dapat
diamati (Observable behavior). Perubahan di sini menyangkut perubahan afektif, kognitif &
psikomotor. Perubahan tingkah laku tersebut mungkin tidak aktual, tetapi potensial saja.
Perubahan tersebut sifatnya relatif permanen, yaitu bertahan cukup lama, tetapi juga tidak
menetap terus menerus, bisa berubah lagi dalam proses belajar selanjutnya. Perubahan tingkah
laku tersebut merupakan hasil dari pengalaman atau latihan, terjadinya perubahan karena adanya
unsur usaha atau pengaruh dari luar. Perubahan tersebut tidak harus segera nampak mengikuti
pengalaman belajar itu. Perubahan dari hasil belajar itu tidak harus nampak pada saat itu juga,
tapi dapat nampak pada saat lain. Pengalaman/latihan tersebut mengandung sesuatu yang
memperkuat (reinforcement). Berarti respon yang memperoleh reinforcement-lah yang lebih
dipelajari.
• Menurut Slameto (1995:2)
Belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.” Selanjutnya Winkel (1996:53) belajar adalah “suatu aktivitas
mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai
sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstant.” Kemudian Hamalik (1993:28)
mendefinisikan belajar adalah “suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang
dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.”

Slameto (2003:3), menyatakan bahwa seseorang dapat dikategorikan mengalami perubahan


tingkah laku dalam belajar jika :
1. Perubahan terjadi secara sadar
Ini berarti seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-
kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya ia
menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, kebiasaannya
bertambah.
2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara
berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan
berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.
3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar, perubahan–perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk
memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, makin banyak usaha
belajar dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang
bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena
usaha individu sendiri.
4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang bersifat sementara terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti berkeringat,
keluar air mata, bersin, menangis, dan sebagainya, tidak dapat digolongkan sebagai perubahan
dalam arti belajar. Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen.
Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.

5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah


Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai.
Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh sesorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan
keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami
perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, ketrampilan, pengetahuan, dan
sebagainya.
Jadi aspek perubahan yang satu berhubungan erat dengan aspek lainnya.
• Menurut Sardiman (1986 : 230)
Belajar berarti usaha merubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada
individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak karena berkaitan dengan penambahan ilmu
pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, ketrampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat,
watak dan penyesuaian diri. Jelasnya menyangkut perubahan segala aspek organisme dan tingkah
laku pribadi seseorang. Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar
merupakan suatu usaha yang mengarah kepada penguasaan pengetahuan dan skill yang dicapai
oleh siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah.
Slameto (2003 : 2) mengemukakan bahwa secara psikologi, belajar merupakan suatu proses
perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek
tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai “Belajar ialah suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Sementara itu, Sardiman (2006 : 50 - 51) mengemukakan bahwa belajar secara esensial
meruapakan proses bermakna, bukan sesuatu yang berlangsung secara mekanis belaka, tidak
sekedar rutinisme. Menurut penelitian psikologis, mengungkapkan adanya sejumlah aspek yang
khas sifatnya dari yang dikatakan belajar penuh makna.

Belajar yang penuh makna itu adalah sebagai berikut :


 Belajar menurut esensinya memiliki tujuan.
 Belajar memiliki makna yang penuh,dalam arti siswa/subyek belajar memperhatikan makna
tersebut.
 Dasar proses belajar adalah sesuatu yang bersifat eksplorasi serta menemukan dan bukan
merupakan pengulangan rutin.
 Hasil belajar yang dicapai itu selalu memunculkan pemahaman atau pangertian atau
menimbulkan reaksi atau jawaban yang dapat dipahami dan diterima oleh akal.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat
dipahami bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur,
yaitu jiwa dan raga. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan
jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman
individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan
psikomotorik (Djamarah, 2002 : 12 - 13).
Belajar dikatakan sukses apabila dari peserta didik dapat diharapkan didalam kegiatan belajarnya
suatu hasil yang tinggi, yang berupa nilai-nilai dan tingkah laku yang bagus dan memuaskan.
Seseorang yang ingin berhasil dalam belajar maka ia harus mengetahui tentang prinsip belajar
sebagaimana dikemukakan oleh Anomymous (1984 : 319) yang meliputi :
a) Bahwa dalam belajar dibutuhkan dorongan atau motivasi.
b) Harus dapat memusatkan perhatian
c) Untuk lebih menghasilkan penyerapan ilmu, sebaiknya materi yang telah diajarkan harus selalu
diulang-ulang.
d) Harus diyakini bahwa semua yang dipelajari akan berguna kelak.
e) Dalam belajar perlu adanya istirahat
f) Hasil belajar dari suatu pelajaran dapat digunakan untuk mempelajari pelajaran lainnya.
g) Hasil belajar yang telah diperoleh dicoba untuk diutarakan kembali.
h) Hal-hal yang menghambat pelajaran misalnya : rasa takut, benci, malu, marah dan kesal harus
dihindari.

Ciri-ciri belajar adalah :


o Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan
tersebut tidak hanya pada aspek pengethauan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap
dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor);
o Perubahan itu merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang terjadi pada individu
karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan . interaksi ini dapat berupa interaksi
fisik dan psikis;
o Perubahan perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen.

 Mengajar
Mengajar pada prinsinya adalah membimbing siswa dalam kegiatan mengajar yang mengandung
pengertian bahwa mengajar merupakan usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungan
dengan anak didikdan bahan pengajaran, sehingga terjadi proses belajar mengajar.
Menurut Sudirman (2003:45) mengjar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau
mengatur lingkungan sebaik-baiknyadan menghubungkandengan anak, sehingga terjadi proses
belajar atau dikatakan, mengajar sebagai upaya menciptakankondisi yang kondusip untuk
berlangsungnyakegiatan belajar bagi para siswa.
Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa
untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. K arenanya belajar
merupakan suatu proses yang komplek. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru
kepada siswa. Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan
belajar lebih baik pada seluruh peserta didiknya.

Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan itu dapat dipahami peserta didik.
Guru yang berhasil mengajar disuatu sekolah belum tentu berhasil disekolah lain.
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat.
Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam
melaksanakan tugasnya. Zamroni (2000:74) mengatakan “guru adalah kreator proses belajar
mengajar”. Ia adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk
mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-
batas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Dengan demikian dapat dikemukakan
bahwa orientasi pengajaran dalam konteks belajar mengajar diarahkan
untuk pengembangan aktivitas siswa dalam belajar.
Gambaran aktivitas itu tercermin dari adanya usaha yang dilakukan guru dalam kegiatan
proses belajar mengajar yang memungkinkan siswa aktif belajar. Oleh karena itu mengajar tidak
hanya sekedar menyampaikan informasi yang sudah jadi dengan menuntut jawaban verbal
melainkan suatu upaya integratif ke arah pencapaian tujuan pendidikan. Dalam konteks ini guru
tidak hanya sebagai penyampai informasi tetapi juga bertindak sebagai director and facilitator of
learning.
Mengajar adalah “suatu kegiatan agar proses belajar seseorang atau sekelompok orang dapat
terjadi, untuk keperluan tersebut seorang guru seharausnya membuat suatu sistim lingkungan
sedemikian rupa sehingga proses belajar dapat tercapai secara efektif dan efisien (Sunaryo, 1989 :
10).

Dengan demikian, istilah mengajar dalam pengertian ini adalah menciptakan situasi dan kondisi
yang mampu merangsang siswa untuk belajar. Suatu proses belajar mengajar dapat berjalan
efektif, bila seluruh komponen yang berpengaruh dalam proses belajar yaitu siswa, guru,
kurikulum, metode, sarana prasarana, serta lingkungan saling mendukung dalam rangka mencapai
tujuan. Belajar yang efektif akan melahirkan kecakapan-kecakapan ketrampilan yang
fundamental. Landasan utama dalam mencapai keberhasilan belajar adalah kesiapan mental,
karena tanpa kesiapan mental ini para siswa pada umumnya tidak dapat bertahan dalam kesulitan
yang dialami selama belajar. Kesiapan mental tersebut merupakan keterikatan terhadap tujuan
belajar, minat terhadap pelajaran dan kepercayaan pada diri sendiri.
Biggs (1991), seorang pakar psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian
yaitu:
• Pengertian Kuantitatif dimana mengajar diartikan sebagai the transmission of knowledge, yakni
penularan pengetahuan.
Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan
kepada siswa dengan sebai-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggung jawab
pengajar.
• Pengertian institusional yaitu mengajar berarti . the efficient orchestration of teaching skills,
yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk
selalu siapmengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai
macam tipe belajar serta berbeda bakat , kemampuan dan kebutuhannya.
• Pengertian kualitatif dimana mengajar diartikan sebagai the facilitation of learning, yaitu upaya
membantu memudahkan kegiatan belajar siswa mencari makna dan pemahamannya sendiri.
Menurut Sudjana (1991) dalam Fathurrohman (2007:9), mengajar pada hakikatnya adalah suatu
proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat
menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan prose belajar. Pada tahap berikutnya adalah
proses memberikan bimbingan dan bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.
Dengan demikian belajar tidak harus merupakan proses transformasi pengetahuan dari guru
kepada siswa. Proses itu merupakan proses pembelajaran. Tugas guru adalah menciptakan situasi
siswa belajar. Jadi proses belajar mengajar merupakan serangkaian aktivitas yang disepakati dan
dilakukan guru dan murid untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal.

Hamalik (2001:44-53) mengemukakan, mengajar dapat diartikan sebagai :


a) menyampaikan pengetahuan kepada siswa
b) mewariskan kebudayaan kepada generasi muda
c) usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa
d) memberikan bimbingan belajar kepada murid
e) kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik
f) suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Burton (dalam Usman, 1994:3) menegaskan “teaching is the guidance of learning
activities”. Hamalik (2001:44-53) mengemukakan, mengajar dapat diartikan sebagai :
 menyampaikan pengetahuan kepada siswa,
 mewariskan kebudayaan kepada generasi muda,
 usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa,
 memberikan bimbingan belajar kepada murid,
 kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik,
 suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari. Tardif (dalam
Adrian, 2004) mendefinisikan, mengajar adalah any action performed by an individual (the
teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the learner), yang berarti
mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini pendidik) dengan tujuan
membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini peserta didik) melakukan kegiatan belajar.
Berdasarkan definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
mengajar adalah aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan
kepada siswa, sehingga terjadi proses belajar. Aktivitas kompleks yang dimaksud antara lain
adalah:
1) mengatur kegiatan belajar siswa
2) memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas
3) memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa.
Adapun beberapa teori tentang mengajar yang dikemukakan yaitu sebagai berikut :
- Definisi yang lama : mengajar ialah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-
pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita atau usaha mewariskan kebudayaan
masyarakat pada generasi berikut sebagai generasi penerus.
- Definisi dari DeQueliy dan Gazali : mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada
seseorang dengan cara paling singkat dan tepat.
- Definisi yang modern di negara-negara yang sudah maju : mengajar adalah bimbingan
kepada siswa dalam proses belajar. Definisi ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa,
yang mengalami proses belajar. Sedangkan guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan
memperhatikan kepribadian siswa.
Proses pembelajaran menyangkut aktifitas yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Pada
aktivitas belajar, ada 5 hal yang dapat dijadikan sebagai acuan antara lain:
 Aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi,
menyanyi.
 Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah,
pengarahan.
 Aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen dan
demonstrasi.
 Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, atletik, menari, melukis.
 Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat
Menurut Gagne, Briggs, dan wagner dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian pembelajaran
adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada
siswa.

Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi
peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkingan belajar.
Ciri utama dari pembelajaran adalah inisiasi, fasilitasi, dan peningkatan proses belajar siswa.
Sedangkan komponen-komponen dalam pembelajaran adalah tujuan, materi, kegiatan, dan
evaluasi pembelajaran.
Hakikat Proses Belajar Mengajar
Proses belajar adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan guru dan antara
sesama siswa dalam proses pembelajaran. Pengertian interaksi mengandung unsur saling
memberi dan menerima. Dalam interaksi belajar mengajar ditandai sejumlah unsur :
a. Tujuan yang hendak dicapai
b. Siswa, guru dan sumber belajar lainnya
c. Bahan atau materi pelajaran
d. Metode yang digunakan untuk menciptakan situasi belajar mengajar.
Hakekat belajar adalah suatu proses perubahan sikap, tingkah laku, dan nilai setelah terjadinya
interaksi dengan sumber belajar. Sumber belajar ini selain guru dapat berupa buku, lingkungan,
teknologi informasi dan komunikasi atau sesama pembelajar (sesama siswa). Sedangkan istilah
mengajar dalam pengertian di atas adalah kegiatan dalam menciptakan situasi yang mampu
merangsang siswa untuk belajar.
Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar dan mengajar merupakan kegiatan yang
paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak
bergantung pada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan dijalankan secara profesoinal.
Menurut Fathurrohman (2007:8) bahwa setiap kegiatan belajar mengajar selalu melibatkan dua
pelaku aktif, yaitu guru dan siswa. Guru sebagai pengajar merupakan pencipta kondisi belajar
siswa yang didesain secara sengaja, sistematis dan berkesinambungan. Sedangkan anak sebagai
subjek pembelajaran merupakan pihak yang menikmati kondisi belajar yang diciptakan guru.
Pengertian Belajar | Hakikat Proses Belajar Mengajar.
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.
Belajar lebih mengarahkan kepada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek yang
menerima pelajaran sebagai sasaran didik, sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus
dilakukan oleh seorang guru sebagai pengajar. Dua konsep tersebut menjadi nyata ketika interaksi
antara guru dengan siswa terjadi di dalam suatu proses belajar mengajar. Interaksi ini memegang
peranan penting dalam mencapai tujuan pembelajaran yang efektif.

Pedagogik : Asas - Asas Didaktik


Asas - Asas Didaktik
Didaktik merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani didaskein yang berarti
pengajaran dan didaktikos berarti pandai mengajar. Dengan didaktik kila maksud ilmu mengajar
yang memberikan prinsip-prinsip tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran sehingga
dikuasai dan dimiliki oleh peserta didik.
Didaktik berarti ilmu mengajar yang didasarkan atas prinsip kegiatan penyampaian bahan
pelajaran sehingga bahan pelajaran itu dimiliki oleh siswa. Kegiatan yang dimaksud ialah
kegiatan langsung yang timbul didalam pergaulan siswa dengan gurunya. Dengan kata lain
kegiatan apa yang dimainkan oleh guru dalam menyajikan bahan pelajaran itu. Apakah ia dapat
menarik minat, motivasi, atau mengaktifkan siswa atau tidak?. Oleh karena kegiatan itu bertujuan
untuk mempengaruhi siswa atau anak didik, maka karakteristik-karakteristik pribadi anak
didiklah yang menjadi sasaran didaktik. Psikologi pada umumnya dapat menyumbangkan asas-
asas didaktik itu, seperti motivasi, aktivitas, minat, persepsi, peragaan, individualitas, korelasi,
konsentrasi, integrasi, penghayatan, penghargaan pengakuan lingkungan dan sebagainya.

Adapun prinsip-prinsip mengajar antara lain :


 Asas perhatian, yaitu asas membangkitkan perhatian murid-murid.
 Asas aktivitas, yaitu asas mengaktifkan jasmani dan mental murid-murid.
 Asas apersepsi, yaitu asas menghubungkan dengan apa yang telah dikenal anak.
 Asas peragaan, yaitu asas memperagakan pengajaran.
 Asas ulangan, yaitu mengadakan ulangan-ulangan yang teratur.
 Asas korelasi, yaitu mengadakan hubungan dengan pelajaran lainnya.
 Asas konsentrasi, yaitu asas pemusatan pada pokok masalah.
 Asas individualisasi, yaitu asas penyesuaian pada sifat dan bakat masing-masing anak.
 Asas sosialisasi, yaitu menciptakan / menyesuaikan dengan lingkungan.
 Asas evaluasi, yaitu mengadakan penilaian yang tepat dan teliti.
Menurut L Marsell mengemukakan enam prinsip mengajar yaitu:
1. Prinsip konteks.
2. Prinsip fokus.
3. Prinsip urutan.
4. Prinsip evaluasi.
5. Prinsip individualisme.
6. Prinsip sosialisasi.
Sedangkan menurut Mandigers agar anak mudah dan berhasil dalam belajar, guru dalam
mengajar harus memperhatikan:
o Prinsip aktifitas mental.
o Prinsip menarik perhatian.
o Prinsip penyesuaian perkembangan siswa.
o Appersepsi.
o Prinsip peragaan.
o Prinsip aktifitas motoris.
Evaluasi proses dan hasil belajar harus dilaksanakan dengan prinsip-prinsip:
a. Menyeluruh
b. Berkesinambungan
c. Berorientasi pada tujuan
d. Obyektif
e. Terbuka
f. Bermakna
g. Mendidik
Prinsip-prinsip atau asas-asas didaktik itu tidak berdiri sendiri, melainkan bertalian erat satu sama
lain. Misalnya motivasi (minat) timbul bila anak-anak aktif, atau bila kita gunakan alat-alat
peraga, atau kita bawa berkaryawisata ke luar sekolah (lingkungan). Karena itu biasanya asas-
asas itu timbul serempak.
Menguasai asas-asas didaktik belum merupakan suatu jaminan bahwa seseorang dengan
sendirinya akan menjadi guru yang baik. Mengajar itu sangat kompleks dan dipengaruhi oleh
macam-macam faktor antara lain pribadi guru sendiri, suasana kelas, hubungan antar-manusia di
sekolah, keadaan sosial ekonomi negara, organisasi kurikulum dan sebagainya.
Akan tetapi seseorang pasti tidak akan menjadi guru yang baik kalau ia mengabaikan asas-asas
didaktik. Itu sebabnya didaktik perlu dipelajari oleh setiap pengajar.
1. Asas Motivasi
David B. Guralnik (Moekijat, 2002: 4) mengemukakan bahwa “motive : an inner drive, impulse,
etc. that causes one to act” (motif : suatu perangsang dari dalam, suatu gerak hati, dan sebagainya
yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu). Kemudian Malayu S.P. Hasibuan (2003:141)
mengemukakan “Motif adalah suatu perangsang keinginan (want) dan daya penggerak kemauan
bekerja seseorang. Motif terkadang didefinisikan sebagai kebutuhan (needs), pengendali (drives),
atau impuls dalam diri seseorang”. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara (2001:93) mendefinisikan
“Motif sebagai suatu suatu dorongan kebutuhan dalam diri pegawai yang perlu dipenuhi agar
pegawai tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya”.
Motivasi merupakan dorongan yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dalam
rangka memenuhi kebutuhanya. Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Makin kuat
motivasi seseorang dalam belajar, makin optimal dalam melakukan aktivitas belajar.Dangan kata
lain intensitas (kekuatan) belajar sangat ditentukan oleh motivasi/dorongan. ( Wasty Soemanto,
Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998)
Anak yang memiliki motif, sikap, minat, penghargaan dan cita-cita akan mendorong
seseorang berbuat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Namun tidak semua anak memiliki
motivasi seperti itu, maka tugas guru untuk membangkitkan motif dan mendorong anak untuk
mencapai tujuan belajar.
Pada dasarnya motivasi memiliki 2 jenis yaitu :
 Motivasi Instrinsik
Motivasi Instrinsik mengacu pada faktor-faktor dari dalam, tersirat baik dalam tugas itu sendiri
maupun pada diri siswa. Kebanyakan teori pendidikan modern mengambil motivasi instrinsik
sebagai pendorong aktivitas dalam pengajaran dan pemecahan soal.
 MotivasiEkstrinsik
Motivasi Ekstrinsik mengacu pada faktor-faktor dari luar dan ditetapkan pada tugas siswa oleh
guru. Motivasi ekstrinsik biasa berupa penghargaan, pujian, hukuman atau celaan.
Menurut Malayu S.P. Hasibuan (2003:98) asas-asas motivasi meliputi:
1. Asas Mengikutsertakan.
Artinya mengajak bawahan untuk ikut berpartisipasi dan memberikan kesempatan kepada mereka
mengajukan pendapat, rekomendasi dalam proses pengambilan keputusan.
2. Asas Komunikasi.
Artinya menginformasikan secara jelas tentang tujuan yang ingin dicapai, cara-cara
mengerjakannya dan kendala-kendala yang dihadapi.
3. Asas Pengakuan.
Artinya memberikan penghargaan, pujian dan pengakuan yang tepat serta wajar kepada bawahan
atas prestasi kerja yang dicapainya.
4. Asas Wewenang yang Didelegasikan.
Artinya memberikan kewenangan, dan kepercayaan diri pada bawahan, bahwa dengan
kemampuan dan kreativitasnya ia mampu mengerjakan tugas-tugas itu dengan baik.
5. Asas Adil dan layak.
Artinya alat dan jenis motivasi yang diberikan harus berdasarkan atas “keadilan dan
kelayakan” terhadap semua karyawan. Misalnya pemberian hadiah atau hukuman terhadap semua
karyawan harus adil dan layak kalau masalahnya sama.
6. Asas Perhatian Timbal Balik.
Artinya bawahan yang berhasil mencapai tujuan dengan baik, maka pimpinan harus bersedia
memberikan alat dan jenis motivasi. Tegasnya kerjasama yang saling menguntungkan kedua
belah pihak.

Ada 4 fungsi pengajar dalam memelihara dan meningkatkan motivasi siswa, yaitu sebagai
berikut: ( S. Nasution, Dikdatif Asas-Asas Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000).
• Menggairahkan
Siswa Dalam kegiatan rutin dikelas sehari-hari pengajar harus berusaha menghindari hal-hal yang
monoton dan membosankan. Guru harus memelihara minat siswa dalam belajar, misalnya melalui
metode Discovery Learning dan Brain Storming.
• Memberikan Harapan Realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan siswa yang realistis dan memodifikasi harapan yang
tidak relistis. Pengajar harus dapat membedakan antara harapan yang realistis, pesimis dan
optimis.
• Memberikan Insentif
Bila siswa mendapatkan keberhasilan, pengajar diharapkan memberikan hadiah pada siswa atas
keberhasilanya. Dapat berupa pujian, angka yang baik, dsb. Sehingga siswa terdorong untuk
melakukan usaha lebih lanjut.
• Mengarahkan
Pengajar harus mengarahkan tingkah laku siswa dengan cara menunjukan pada siswa hal-hal
yang dilakukan secara tidak benar dan meminta mereka memperbaikinya.
Usaha meningkatkan motivasi dalam belajar siswa, guru dapat melakukanberbagai cara sebagai
berikut:
a) Memberi angka.
Umumnya setiap anak ingin mengetahui hasil pekerjaannya, yakni berupa angka yang diberikan
oleh guru. Siswa yang mendapat angka baik, maka akan terdorong motivasi belajarnya menjadi
lebih besar. Sebaliknya, siswa yang mendapat angka kurang, mungkin menimbulkan frustasi atau
dapat juga menjadi pendorong agar belajar lebih baik.
b) Pujian.
Pemberian pujian kepada siswa atas hal-hal yang telah dilakukan dengan berhasil, besar
manfaatnya sebagai pendorong belajar. Pujian menimbulkan rasa puas dan senang.
c) Pemberian hadiah.
Cara ini dapat juga dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu, misalnya, memberikan hadiah
pada akhir tahun ajaran, dengan menunjukkan hasil belajar yang baik, atau kegiatan-kegiatan lain
yang mendorong siswa untuk berprestasi.
d) Kerja kelompok.
Dalam kerja kelompok di mana para siswa melakukan kerja sama dalam belajar. Setiap anggota
memberikan motif belajar pada anggota lainnya. Kadang-kadang rasa untuk mempertukarkan
anggota kelompok menjadi pendorong dalam perbuatan belajar.
e) Persaingan.
Baik bekerja kelompok maupun persaingan mencari motif-motif sosial kepada siswa. Hanya saja
persaingan antara individual akan menimbulkan pengaruh yang kurang baik, seperti hubungan
persahabatan, perkelahian dan pertentangan. Persaingan yang baik ialah dalam bentuk antar
kelompok belajar.
Motivasi sering tumpang tindih dengan asas-asas belajar lainnya, namun demikian kita perlu
mengenal konsep pokok (key concept) dari pada motivasi kelas ini sebagai suatu asas belajar
tersendiri.Tafsiran tentang motivasi menurut pandangan lama, sering dianggap sama artinya
dengan perhatian. Misalnya guru berupaya menarik perhatian siswa terhadap pokok yang akan
diajarkan dengan cara tertentu, sehingga siswa tertarik minatnya untuk mempelajari bahan yang
baru tersebut. Tumbuhnya perhatian dan minat siswa belajar dianggap telah tumbuhnya motivasi
belajar siswa bersangkutan.Motivasi dapat bersumber dan dalam diri siswa sendiri berdasarkan
kebutuhan,dorongan dan kesadaran pada tujuan belajar. Motivasi ini disebut motivasi intrinsik.
Motivasibelajar dapat juga tumbuh berkat rangsangan dan tekanan atau desakan dari
luar,misalnya dengan hadiah, ganjaran, hukuman dan pemberian harapan lainnya, yang
disebutmotivasi ekstrinsik. Kedua jenis motivasi ini berdayaguna dalam melakukan proses
belajar,kendatipun motivasi yang bersumber dari diri sendiri dinilai lebih baik.Kendatipun
demikian, motivasi ekstrinsik perlu digerakkan dan digunakan untuk mendorong kegiatan belajar
siswa, dengan cara menciptakan kondisi-kondisi yang relevan.
Kondisi-kondisi kelas berikut ini dapat meningkatkan motivasi di dalam kelas:
 Suasana Lingkungan Kelas
Pada umumnya, siswa memberikan respons dan berperilaku baik jika guru bersifatmenunjang dan
membantu selama berlangsungnya pembelajaran. Motivasi siswa dipengaruhisecara positif oleh
guru yang bersemangat dan antusias terhadap isi/materi yang diajarkannya.Guru juga perlu
memberikan umpan balik yang positif sepanjang berlangsungnya kegiatanbelajar mengajar.
Untuk itu, guru perlu menciptakan suasana lingkungan kelas yangmenyenangkan (comportable)
dan menunjang (supportive), sehingga membangkitkan motivasisiswa untuk mencapai hasil
belajar yang positif.
 Keterlibatan Langsung Siswa
Jika mata ajaran dalam kelas dihubungkan dengan kehidupan pribadi siswa dan minatnya,maka
proses belajar biasanya lebih melibatkan dan memotivasi siswa. Karena itu guruhendaknya
memilih topik pelajaran yang populer bagi para siswa, agar mereka secara aktif berpartisipasi
dalam kegiatan belajar. Karena itu guru perlu sewaktu-waktu mengubah pelajaranyang
diberikannya untuk mengakomodasikan minat dan daerah keterlibatan pribadi siswa.
 Menjamin Keberhasilan
Umumnya siswa akan memberikan respons yang positif bila mereka mengalamikeberhasilan.
Memang kadang-kadang ada siswa yang justru bekerja keras setelahmengalami kegagalan,
namun umumnya motivasi belajar lebih meningkat berkat tumbuhnyarasa keberhasilan. Karena
itu, guru hendaknya berupaya sebanyak mungkin memberikankesempatan berhasil kepada siswa
sepanjang urutan belajar. Untuk itu, guru dituntut memberikanpenguatan ekstra (extra
reinforcement) dan bimbingan, agar supaya siswa mau belajar lebih kerasdengan penuh perhatian
melaksanakan tugas-tugas belajarnya.
2. Konsep Didaktik
Didaktik adalah sebagaian dari pedagogik atau ilmu mendidik anak. Dengan demikian dapat
dinyatakan bahwa didaktik adalah ilmu mengajar yang memberikan prinsip-prinsip tentang cara-
cara menyampaikan bahan pelajaran sehingga dikuasai dan dimilki oleh siswa.
Prinsip-prinsip yang utama untuk dihayati dan diterapkan oleh guru dalam pembelajaran
diuraikan sebagai berikut:
1. Prinsip Apersepsi
Herbart (1841) menyatakan bahwa apersepsi adalah memperoleh tanggapan-tanggapan baru
dengan bantuan tanggapan yang telah ada. Apersepsi digunakan dalam mengajar dengan maksud
untuk mempermudah memahami ide-ide yang baru dipelajari dengan mangaitkan pada
pemahaman ide yang telah dimiliki siswa. Apersepsi membangkitkan minat dan perhatian untuk
sesuatu. Karena itu pelajaran harus selalu dibangun di atas pengetahuan yang telah ada.
2. Prinsip Peragaan
Ada pepatah yang menyatakan:
• Saya dengar, saya lupa
• Saya lihat, saya tahu
• Saya kerjakan, saya mengerti
Konsep akan mudah dipahamai jika siswa aktif memanipulasi benda konkrit dan semi konkrit
sebagai model representasi dari konsep yang abstrak. Prof. Burner juga mengatakan kepada kita
dengan teorema belajarnya yang dikenal dengan:
a. Teorema Konstruktif
Dimana anak lebih mudah belajar mengkonstruksikan ide-ide abstrak ke dalam struktur
kognitifnya jika dengan menggunakan peragaaan konkrit (enactiive) dilanjutkan ke tahap semi
konkrit (iconic) baru ke tahap abstrak (simbolik).

b. Teorema Notasi
Untuk mengajarkan matematika yang begitu banyak symbol-symbol yang harus dipahami
maknanya harus dipahami secara bertahap dari yang paling sederhana sesuai tingkat pemahaman
siswa. Peragaan merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif.Para siswa akan lebih
tertarik jika peragaan tersebut mampu menggambarkan aktivitas yang sebenarnya.
c. Teorema Kekontrasan dan Variasi
Untuk mengajarkan bentuk segitiga, perlu diberikan contoh yang bukan segitiga, misalnya terbuat
dari kertas manila, atau bentuk-bentuk segitiga yang terdapat di lingkungannya. Demikian juga
variasi dalam menggambar bangun-bangun segitiga perlu dikembangkan supaya siswa tidak
berpandangan sempit terhadap konsep yang dipelajari. Misal, untuk menggambarkan segitiga
siku-siku perlu digambarkan dalam berbagai posisi. Dalam proses pembelajaran, guru dapat
menerima siswa untuk menjelaskan kekontrasan anatara: siang dan malam, terang dan gelap,
lurus dan begkok , dan sebagainya.
d. Teorema Konektivitas.
Untuk mengajarkan sesuatu konsep tertentu perlu diorganisasikan dengan urutan yang tidak
begitu saja dapat dibolak-balik karena konsep yang satu diperlukan untuk memahami konsep
yang lain.
3. Prinsip Motivasi
Salah satu fungsi yang melekat pada diri guru adalah guru sebagai motivator anak didik agar
memiliki semangat dan kemauan belajar yang lebih tinggi. Ada dua macam motivasi pada diri
siswa, yaitu motivasi yang tumbuh dan kesadaran pribadi untuk melakukan sesuatu yang
didorong oleh cita-cita, harapan pribadi yang bersangkutan (motivasi intrinsik), dan ada yang
dibangkitkan oleh pegaruh dari luar (motivasi ekstrensik). Tugas guru adalah mendorong siswa
untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu demi suksesnya tujuan belajar.
4. Prinsip Belajar Aktif.
Pada hakekatnya, belajar adalah wujud keaktifan siswa walaupun derajatnya tidak sama antara
siswa satu dengan yang lain dalam sustu proses belajar mengajar di atas. Menurut Mc. Keachie
(1954) siswa belajar secara aktif adalah belajar dengan melibatkan keaktifan mental (intelektual-
emosional) walaupun dalam banyak hal diperlukan keaktifan phisik.
5. Prinsip Kerjasama
Wujud nyata dalam proses belajar mengajar adalah diharapkan keterlibatan setiap siswa di dalam
tugas-tugas klasikal atau kelompok. Tugas guru adalah mengakomodasikan dan memfasilitasi
agar kegiatan kelompok dapat berlangsung secara produktif dan dinamis.
6. Prinsip Mandiri
Siswa perlu dibiasakan untuk mencapai kepuasan dengan usaha yang keras dari diri siswa sendiri.
Pendidikan tidak boleh terlalu memanjakan anak, bantuan yang kita berikan sifatnya hanya
berupa kail untuk dapat memancing penyelesaian masalah oleh siswa sendiri. Perlu ditanamkan
pada siswa motto “Tidak ada sukses tanpa kerja keras”.
7. Prinsip Penyesuaian Dengan Individu Siswa.
Idealnya karena adanya perbedaan setiap idividu siswa maka dalam memberikan pelayanan
pendidikan kepada siswa tentu dengan cara dan kecepatan yang berbeda-beda pula.
8. Prinsip Korelasi.
Prinsip korelasi pada intinya adalah mengaitkan pokok bahasan yang diajarkan dengan pokok
bahasan lain dalam satu mata pelajaran, dan mengaitkan hubungan atau manfaat suatu mata
pelajaran dengan mata pelajaran lain dan dalam kehidupan sehari-hari serta dalam perkembangan
IPTEK. Penerapan prinsip korelasi juga dapat meningkatkan daya tarik minat, dan motivasi siswa
terhadap proses pembelajaran.
9. Prinsip Evaluasi Yang Teratur.
Kegiatan mengevaluasi keberhasilan proses belajar mengajar yang ditunjukkan oleh kinerja siswa
dalam belajar perlu dilakukan secara teratur dan kesinambungan selama dan setelah proses belajar
mengajar berlangsung.
Didaktik dapat dibagi kedalam 2 macam yaitu :
 Didaktik umum memberi prinsip-prinsip yang umum yang berhubungan dengan penyajian
bahan pelajaran (yakni motivasi, peragaan dan lain-lain) agar anak-anak menguasainya. Prinsip-
prinsip itu berlaku bagi semua mata pelajaran, apakah itu ilmu alam, pekerjaan tangan,
antropologi atau psikologi.
 Didaktik khusus membicarakan tentang cara mengajarkan mata pelajaran tertentu di mana
prinsip didaktik umum digunakan. Didaktik khusus perlu oleh sebab tiap mata pelajaran lain.
Didaktik khusus juga disebut metodik. Metodik berasal dari methodos (bahasa Yunani), meta
(melalui) + hodos (jalan) artinya cara melakukan sesuatu, prosedur. Ada metodik berhitung,
metodik membaca dan lain-lain. Untuk vak-vak di Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi
masih diperlukan metodiknya, misalnya metodik ekonomi, metodik psikologi, metodik filsafat
dan lain-lain.
Didaktik memperoleh bantuan dari ilmu-ilmu lain dan bertalian erat dengan sejumlah ilmu
lainnya.
Didaktik adalah sebagian dari pedagogik atau ilmu mendidik. Didaktik digunakan dalam
pendidikan formal yang dilakukan di sekolah. Didaktik sangat dipengaruhi oleh psikologi.
Psikologi memberikan petunjuk-petunjuk tentang perkem-bangan dan sifat-sifat anak-anak.
Mengajar itu akan efektif bila kita mengenal anak. Selain dari itu psikologi memberi penjelasan
tentang proses belajar. Psikologi asosiasi mendasari didaktik "lama" yang menekankan hafalan,
sedangkan psikologi Gestalt menimbulkan didaktik "baru" yang mengutamakan pemahaman dan
pemecahan soal. Juga filsafat mempengaruhi didaktik. Filsafat menentukan tujuan pendidikan dan
dengan demikian bahan yang harus diajarkan. Filsafat menentukan pandangan kita terhadap anak
sebagai manusia dan hubungan antara guru dan anak. Kita mendidik anak dalam masyarakat
tertentu. Dengan demikian didaktik juga memerlukan bahan dari sosiologi dan antropologi.
Itu sebab pendidikan guru harus mempunyai dasar yang luas antara lain meliputi bidang-bidang
ilmu seperti yang disebutkan di atas. Selain itu ia harus pula menguasai bahan yang akan
diajarkannya. Guru sejarah harus menguasai bahan sejarah, guru geografi harus menguasai bahan
pelajaran geografi. Guru yang tak benar-benar memahami sendiri seluk-beluk matematika dengan
jelas, tak mungkin memberi pelajaran itu dengan baik. Dengan pengetahuan yang tanggung-
tanggung tak dapat tiada ia menimbulkan pengertian dan pemahaman yang samar-samar pada
anak, mengacaukan pikiran mereka dan dengan demikian menyulitkan hidup anak-anak dan akan
memupuk sikap yang negatif terhadap pelajaran yang diberikan oleh guru itu. Salah satu
tanggung jawab guru adalah memupuk sikap yang positif terhadap bidang studi yang
diberikannya. Dalam hal ini ia mendapat bantuan dari didaktik.
Hubungan Didaktik dengan Metodik
Untuk mengetahui hubungan antara didaktik dan metodik perlu diperbincangkan lebih dahulu
lingkaran permasalahan Didaktik dan Metodik itu, setelah itu barulah kita mengetahui garis temu
antara kedua lingkaran tersebut.
Menurut sejarahnya, Johann Amos Comenius (1592-1670) adalah tokoh pertama yang
memformulasikan ide didaktik itu. Ia terkenal dengan bukunya yang bernama “Didactica Magna”
yang dalam penerbitannya yang pertama (1632) ditulis dalam bahasa Ceko.
Dalam pasal 2 bab 17 dari buku Didactica Magna itu disebutkannya bahwa pengajaran akan
menjadi mudah, jika diikuti langkah-langkah:
 Jika pengajaran dimulai awal benar, sebelum jiwa rusak.
 Jika jiwa telah sedia untuk menerimanya.
 Jika dimulai dari yang umum kepada yang khusus.
 Jika dimulai dari yang mudah kepada yang sukar.
 Jika siswa tidak dibebani dengan mata pelajaran yang banyak.
 Jika pelajaran berangsur-angsur maju dengan perlahan-lahan dalam setiap hal.
 Jika kecerdasan tidak dipaksa untuk suatu yang belum mengarah kepada kecenderungan dan
harus sesuai dengan umur dan metode yang benar.
 Jika segala sesuatu diajarkan dengan media pengertian.
 Jika penggunaan segala sesuatu pengajaran berkesinambungan.
 Jika segala sesuatu diajarkan dengan satu dan metode yang sama.
Jika diformulasikan maka Didaktik itu bergerak dalam lingkaran penghidangan bahan pelajaran
sewaktu pelajaran sedang berlangsung. Sedangkan Metodik bergerak didalam lingkaran
penyediaan jalan atau siasat yang akan ditempuh. Jadi, garis sentuh yang menghubungkan antara
Didaktik dengan Metodik terletak pada titik persiapan pengajaran. Pengajaran yang diharapkan
akan berjalan baik dimulai dari pemilihan metode mengajar dan kemudian atas dasar metode
yang dipilih itu dipersiapkan kegiatan penghidangan bahan pelajaran. Kegiatan yang demikian
itulah yang disebut dengan Metodik Khusus.
Jika diformulasikan maka didaktik itu dalam lingkaran penghidangan bahan pelajaran sewaktu
pelajaran sedang berlangsung.Sedangkan metodik bergerak didalam lingkaran penyediaan jalan
yang akan ditempuh.
Jadi garis sentuh yang menghubungkan antara didaktik dengan metodik terletak pada titik
persiapan pengajaran. Pengajaran yang diharapkan akan baik dimulai dari pemilihan metode
mengajar dan kemudian atas metode yang itu dipersiapkan kegiatan penghidangan bahan
pelajaran.kegiatan yang demikian itulah yang disebut methodic khusus.
3. Asas Aktifitas
Siswa adalah suatu oraganisasi yang hidup. Dalam dirinya terkandung banyak kemungkinan dan
potensi yang hidup dan sedang berkembang. Dalam diri masing- masing siswa tersebut terdapat
“prinsip aktif” yakni keinginan berbuat dan bekerja sendiri. Prinsip aktif mengendalikan tingkah
lakunya. Pendidikan perlu mengarahkan tingkah laku menuju ke tingkat perkembangan yang
diharapkan. Potensi yang hidup perlu mendapat kesempatan berkembang ke arah tujuan tertentu.
Siswa memiliki kebutuhan- kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial yang perlu mendapat
pemuasan, dan oleh karenanya menimbulkan dorongan berbuat tertentu. Tiap saat kebutuhan itu
bisa berubah dan bertambah, sehingga varietasnya menjadi bertambah besar. Dengan sendirinya
perbuatan itupun menjadi banyak macam ragamnya.
Pendidikan modern sekarang ini lebih menitik beratkan pada aktivitas sejati, dimana siswa belajar
sambil bekerja. Dengan bekerja, siswa memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan
serta perilaku lainnya, termasuk sikap dan nilai. Sehubungan dengan hal tersebut, sistem
pembelajaran dewasa ini sangat menenaknkan pada pendayagunaan asas keaktifan (aktivitas)
dalam proses belajar mengajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Menurut Sriyono (http://ipotes.wordpress.com/2008)”Aktivitas adalah segala kegiatan yang
dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani”. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar
merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa merupakan
kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan – kegiatan yang
dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan
pendapat, mengerjakan tugas – tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama
dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Menurut Diedrich yang dikutip oleh Sardiman (Sardiman, 2006: 99), aktivitas atau kegiatan siswa
dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Visual activities, misalnya membaca, memperhatikan gambar, mengamati eksperimen,
mengamati demonstrasi dan pameran, mengamati orang lain bekerja atau bermain.
b. Moral activities, mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian,
mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, mengadakan wawancara,
diskusi, dan iterupsi.
c. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan
atau diskusi kelompok, mendengarkan permainan, mendengarkan radio, mendengarkan musik,
dan pidato.
d. Writing activities, seperti misalnya menggambar, membuat grafik, membuat peta, diagram,
pola, dan membuat chart.
e. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, memilih alat-
alat, melaksanakan pameran, membuat model, meyelenggarakan permainan, kegiatan menari,
berkebun, berternak.
f. Mental activities, sebagai contoh misalnya:merenungkan, mengingat, memecahkan masalah,
menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan, mengambil keputusan.
g. Emotional activities, seperti misalnya menaruh minat, membedakan, merasa bosan, senang atau
gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Menurut Oemar Hamalik (2001 :21) penggunaan asas aktivitas besar nilainya bagi pembelajaran
kepada siswa karena:
 Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung menglaminya
 Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral
 Memupuk kerjasama yang harmonis antara siswa
 Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri
 Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis
 Mempererat hubungan sekolah dengan masyarakat dan guru dengan orang tua
 Pelajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret, sehingga mengembangkan pemahaman
dan berpikir kritis serta menghindarkan verbalitas
 Pembelajaran di sekolah menjadi sebagaimana aktivitas dalam kehidupan masyarakat.
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa aktivitas pembelajaran di sekolah sangat kompleks dan
beragam. Guru hendaknya dapat memotivasi peserta didik agar aktivitas dalam pembelajaran
dapat optimal. Dengan demikian proses pembelajaran tidak membosankan dan siswa dapat
terlibat aktif. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi seorang guru agar dalam proses
pembelajaran dapat menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga aktivitas siswa dalam
pembelajaran dapat optimal.
Jenis- jenis aktivitas
Aktivitas belajar banyak macamnya. Para ahli mencoba mengadakan klasifikasi, antara lain Paul
D. Dierich membagi kegiatan belajar menjadi 8 kelompok, sebagai berikut:
o Kegiatan-kegiatan visual : membaca, melihat gambar- gambar, mengamati eksperimen,
demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja atau bermain.
o Kegiatan-kegiatan lisan (oral) : Mengemukakan fakta atau prinsip, menghubungkan suatu
kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara,
diskusi.
o Kegiatan-kegiatan mendengarkan : Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan
atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan instrumen musik, mendengarkan siaran
radio.
o Kegiatan-kegiatan menulis : Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-
bahan kopi, membuat sketsa, atau rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket.
o Kegiatan-kegiatan menggambar : Menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.
o Kegiatan-kegiatan metrik : Melakukan percobaab, memilih alat- alat, melaksanakan pameran,
membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, berkebun.
o Kegiatan-kegiatan mental : Merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis
faktor-faktor, menemukan hubungan- hubungan, membuat keputusan.
o Kegiatan-kegiatan emosional : Minat, membedakan, berani, tenang, dan sebagainya. Kegiatan-
kegiatan dalam kelompok ini terdapat pada semua kegiatan tersebut diatas, dan bersifat tumpang
tindih (Burton, 1952, h. 436).
Upaya pelaksanaan aktivitas dalam pembelajaran
Asas aktivitas dapat diterapkan dalam semua kegiatan dan proses pembelajaran. Untuk
memudahkan guru dalam melaksanakan asas ini, maka dalam hal ini dipilih empat alternatif
pendayagunaan saja, yakni :
1) Pelaksanaan aktivitas pembelajaran dalam kelas.
Asas aktivitas dapat dilaksanakan dalam setiap tatap muka dalam kelas yang terstruktur, baik
dalam bentuk komunikasi langsung, kegiatan kelompok, kegiatan kelompok kecil, belajar
independen.
2) Pelaksanaan aktivitas pembelajaran sekolah masyarakat.
Dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan dalam bentuk membawa kelas kedalam masyarakat,
melalui metode karyawiasata, survei, keja lapangan, pelayanan masyarakat, dan sebagainya. Cara
lain, mengundang nara sumber dari masyarakat ke dalam kelas, dan pelatihan diluar.
3) Pelaksanaan aktivitas pembelajaran dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Pembelajaran dititik beratkan pada keaktifan siswa dan guru bertindak sebagai fasilitator dan nara
sumber, yang memberikan kemudahan bagi siswa untuk belajar.
Masalah Pendidikan di Indonesia
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan bahwa
indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Kualitas pendidikan di
Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Indonesia memiliki daya
saing yang rendah Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya
berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik
pendidikan formal maupun informal. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam
meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena
itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah
bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain. Setelah kita amati, nampak
jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah
rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal
maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang
menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan
keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.

Jenis-jenis Masalah Pendidikan di Indonesia dan Penanggulangannya. Pada bagian ini


ada empat masalah pokok pendidikan yang telah menjadi kesepakatamn nasionalyang
perlu dipriorotaskan penanggulannya masalah yang dimaksud yaitu:
1. Masalah Pemerataan Pendidikan
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan
kebudayaan nasional. Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana
system pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh
warga negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan ini menjadi wahana
bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.
Masalah pemerataan ini timbul apabila masih banyak warga negara khususnya anak usia
sekolah yang tidak dapat ditampung di dalam system atau lembaga pendidikan karena
kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Minat dan kemampuan anak, keperluan
tenaga kerja dan keperluan pengembangan masyarakat, kebudayaan, ilmu dan teknolohi.
Penanggulangan masalah pemertaan pendidikan ini cara konvensional antara lain:
Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan. Utamanya untuk pendidikan dasar ialah
membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat keluarga yang kurang mampu agar
mau menyekolahkan anaknya.

Cara inovatif antara lain:


o Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua dan guru)
o SD kecil pada daerah terpencil
o SMP terbuka

2. Masalah mutu pendidikan


Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf yang
seperti diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga
penghasil sebagai produsen tenaga terhadap calon luaran, dengan system sertifikasi.
Selanjutnya jika luaran tersebut terjun ke lapangan kerja. Penilaian dilakukan oleh
lembaga pemakai sebagai konsumsin tenaga dengan system tes unjuk kerja.

Jadi mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada keluarannya. Jika tujuan pendidikan
nasional dijadikan criteria mislany hasil EBTA dan lain-lain tersebut dipandang sebagai
gambaran tentang hasil pendidikan padahal hasil belajar yang bermutu karena mungkin
dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit
diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu.
 Penanggulangan masalah mutu pendidikan dalam hal-hal yang bersifat fisik dan
perangkat lunak, personalia dan manajemen.
 Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya
berupa pelatihan, penataran, seminar
 Penyempurnaan kurikulum misalnay dengan memberi materi yang lebih esensial.
 Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk
belajar.

3. Masalah efisiensi Pendidikan


Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu system pendidikan
mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika
penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang
sebaliknya efisiensinya berarti rendah.
Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting:
a) Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan
b) Bagaimana sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia digunakan
Seperti halnya perubahan kurikulum sering membawa akibat tidak dipakainya lagi paket
siswa dan buku pegangan guru. Kurikulum merupakan tindakan antisipasi terhadap
pemberian bekal bagi calon iuran agar sesuai dengan tuntutan zaman.

4. Masalah relevansi pendidikan


Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana system pendidikan dapat
menghasilkan iuran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah
seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. Luaran pendidikan
diharapkan dapat mengisi semua sector pembangunan yang beraneka ragam seperti sector
produksi maka relevansi pendidikan dianggap tinggi.
Penanggulangan relevansi pendidikan ini antara lain:
• Dapat nmenyediakan kesempatan pemerataan belajar artinya semua warga negara yang
butuh pendidikan dapat ditampung dalam suatu satuan pendidikan.
• Dapat mencapai hasil yang bermutu artinya: perencanaan, pemrosesan pendidikan dapat
mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
• Produknya yang bermutu tersebut relevan artinya hasil pendidikan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat dan pembangunan.