Anda di halaman 1dari 14

“ PENYELESAIAN UTANG PIUTANG ”

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas pada

Mata Kuliah Akad - Akad Syariah Lama

Disusun Oleh Kelompok 8:

Alfiyan ( 15.2300.188 )

Masniah ( 15.2300. )

Dosen Pengampu : Dr. M. Ali Rusdi, S.TH.I.

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN) PAREPARE

TAHUN AKADEMIK 2018


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya
sehingga makalah kami dapat diselesaikan tepat waktu dengan hasil yang insya Allah
semaksimal mungkin.

Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi agung
Muhammad SAW yang telah membawa ajaran kebenaran yang menerangi hati kita dengan
nur ilahi, dan semoga kita mendapatkan syafaatnya di yaumul kiyamah kelak amin.

Kami mengangkat makalah ini dengan judul “ Penyelesaian Utang Piutang ” dalam
rangka menyelesaikan tugas pada mata kuliah Akad - Akad Syariah Lama.

Kami menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna termasuk makalah kami
ini, untuk itu kami membutuhkan segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari
semua pihak untuk kebaikan bersama yaitu kesempurnaan makalah ini. Terima kasih.

Parepare, 02 Juni 2018

Penyusun

( Kelompok 8 )

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i

DAFTAR ISI........................................................................................................................ ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................... 1

1.2 Tujuan Penulisan ............................................................................................................ 2

1.3 Rumusan Masalah ......................................................................................................... 2

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Hiwalah .......................................................................................................................... 3

2.2 Kafalah ........................................................................................................................... 3

2.3 Taflis ............................................................................................................................. 3

2.4 Hajr ............................................................................................................................... 3

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan .................................................................................................................... 4

3.2 Saran .............................................................................................................................. 4

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berbagai model pakaian dengan design baru dikeluarkan oleh produsen tiap

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa saja ruang lingkup dalam hiwalah ?
1.2.2 Apa saja ruang lingkup dalam kafalah ?
1.2.3 Apa saja ruang lingkup dalam taflis ?
1.2.4 Apa saja ruang lingkup dalam hajr ?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Untuk mengetahui ruang lingkup dalam hiwalah.
1.3.2 Untuk mengetahui ruang lingkup dalam kafalah.
1.3.3 Untuk mengetahui ruang lingkup dalam taflis.
1.3.4 Untuk mengetahui ruang lingkup dalam hajr.

3
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Hiwalah

2.1.1 Pengertian Hiwalah

Menurut bahasa yang dimaksud dengan hiwalah adalah al-intiqal dan al-tahwil
artinya ialah memindahkan atau mengoperkan. Maka Abdur Rahman Al Jaziri
berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hiwalah menurut bahasa ialah :

“ Pemindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain ”.

Sedangkan pengertian hiwalah menurut istilah, para ulama berbeda-beda dalam


mendefinisikannya antara lain:

2.1.1.1 Menurut Hanafiyah, yang dimaksud hiwalah adalah : “Memindahkan tagihan


dari tanggung jawab yang berutang kepada yang lain yang punya tanggung jawab
kewajiban pula”.

2.1.1.2 Menurut Syafi’i, Maliki dan Hanbali, hiwalah adalah : “Pemindahan atau
pengalihan hak untuk menuntut pembayaran hutang dari satu pihak kepada pihak
yang lain”.

2.1.1.3 Al Jaziri berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hiwalah adalah:


Pengalihan utang dari tanggung jawab seseorang menjadi tanggung jawab orang lain.

2.1.1.4 Syihab Al Din Al Qalyubi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hiwalah
adalah : “Akad yang menetapkan pemindahan beban hutang dari seseorang kepada
yang lain”.

2.1.1.5 Menurut Sayyid Sabiq, yang dimaksud dengan hiwalah adalah pemindahan
dari tanggungan muhil menjadi tanggungan muhal’alaihi.

4
2.1.1.6 Menurut Idris Ahmad, hiwalah adalah semacam akad (ijab Kabul) pemindahan
hutang dari tanggungan seseorang yang berhutang kepada orang lain, dimana orang
lain itu mempunyai utang pula kepada yang memindahkannya.

2.1.2 Dasar Hukum Hiwalah

Islam mensyari’atkan dan membolehkan hiwalah karena kebutuhan manusia.

2.1.2.1 Sunnah

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa


Rasulullah SAW bersabda :

“Menunda-nunda pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang mampu


adalah suatu kezaliman. Maka, jika seseorang di antara kamu dialihkan hak penagihan
piutangnya (dihiwalahkan) kepada pihak yang mampu, terimalah.”

Dalam hadits tersebut, Rasulullah memerintahkan kepada orang yang


menghutangkan, apabila orang yang berhutang mengalihkan pembayarannya kepada
orang kaya dan mampu, dianjurkan untuk menerima tawaran tersebut. Dan ia harus
menagih orang yang mendapat pengalihan (muhal’alaih) agar haknya terpenuhi.

2.1.2.2 Ijma’

‘Ulama sepakat membolehkan hiwalah. Hiwalah dibolehkan pada utang yang


tidak berbentuk barang / benda Karena hiwalah adalah perpindahan hutang. Oleh
karena itu, harus pada uang atau kewajiban financial.

2.1.3 Rukun Dan Syarat Hiwalah

2.1.4 Beban Muhil Setelah Hiwalah

Apabila hiwalah berjalan sah, dengan sendirinya tanggung jawab muhil


gugur.Jika muhal’alaih mengalami kebangkrutan atau membantah hiwalah atau
meninggal dunia, maka muhal tidak boleh kembali lagi kepada muhil. Hal ini adalah
pendapat Ulama Jumhur. Menurut Madzhab Maliki, bila muhil telah menipu muhal,
ternyata muhal’alaih orang fakir yang tidak memiliki sesuatu apapun untuk membayar
maka muhal boleh kembali kepada muhil. Menurut Imam Malik, orang yang
menghiwalahkan hutang kepada orang lain, kemudian muhal’alaih mengalami

5
kebangkrutan atau meninggal dunia dan ia belum membayar kewajiban, maka muhal
tidak boleh kembali kepada muhil.
Menurut Abu Hanifah, Syarih dan Usman bahwa dalam keadaan muhal’alaih
mengalami kebangkrutan atau meninggal dunia maka muhal boleh kembali lagi
kepada muhil untuk menagih hutangnya.

2.2 Kafalah

2.2.1 Pengertian Kafalah

2.2.2 Dasar Hukum Kafalah

2.3 Taflis

2.3.1 Pengertian Taflis

Secara etimologi, at-taflis berarti pailit (muflis) atau jatuh miskin. Dalam
hukum positif, kata pailit mengacu kepada keadaan orang yang terlilit oleh utang.
Dalam bahasa fiqh, kata yang digunakan untuk pailit adalah iflas (berarti: tidak
memiliki harta/fulus), sedangkan orang yang mengalami pailit disebut pailit dan
putusan hakim yang menetapkan bahwa seseorang jatuh pailit disebut taflis.

Secara terminologi, at-taflis (penetapan pailit) didefinisikan oleh para ulama


fiqh dengan :

‫له ما فى ف التصر من بمنعه مفلسا ن يو المد كم الحا جعل‬

“Keputusan hakim yang melarang seseorang bertindak hukum atas hartanya.”


Apabila seseorang dalam kehidupannya sebagai pedagang yang banyak
meminjam modal dari orang lain, ternyata perdagangan yang ia lakukan tidak lancar,
sehingga seluruh barang dagangannya habis, maka atas permintaan orang-orang yang
meminjami pedagang ini modal dagang, kepada hakim, pedagang ini boleh
dinyatakan sebagai orang yang jatuh pailit, sehingga segala bentuk tindakan
hukumannya terhadap sisa harta yang ia miliki boleh dicegah. Maksud pencegahan
tindakan hukum orang pailit ini adalah demi menjamin utangnya yang cukup banyak
kepada orang lain.

6
2.3.2 Dasar Hukum Taflis

Atas pengaduan orang-orang yang berpiutang, menurut para ulama fiqh,


seseorang yang terlilit utang pada mereka dapat diajukan sebagai tergugat kepada
hakim, sehingga ia dinyatakan jatuh pailit. Sebuah riwayat menyatakan bahwa
Rasulullah SAW menetapkan Mu’az ibn Jabal sebagai orang yang terlilit utang dan
tidak mampu melunasinya (pailit). Kemudian Rasulullah SAW melunasi utang Mu’az
ibn Jabal dengan sisa hartanya. Akan tetapi, karena para piutang merasa piutangnya
tidak sepenuhnya dapat mereka terima, mereka melakukan protes kepada Rasulullah
SAW. Protes ini dijawab Rasulullah SAW dengan mengatakan :

‫}كم والحا رقطنى الدا روه{ ذّ ِلك إِلا ل ُك ْم ليْس‬

Tidak ada yang boleh diberikan kepada kamu selain itu. (HR ad-Daruqutni dan
al-Hakim)

Berdasarkan hadis ini, para ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa seorang
hakim berhak menyatakan seseorang jatuh pailit, dan tidak mampu membayar utang-
utangnya. Oleh sebab itu, hakim yang menyatakan seseorang jatuh pailit, berhak
melarang orang yang pailit itu bertindak hukum terhadap sisa hartanya, dan hakim
berhak melunasi utang orang yang pailit dari sisa hartanya, sesuai dengan persentase
utangnya.

2.3.3 Status Hukum Orang Pailit

Para ulama fiqh juga mempersoalkan status hukum orang yang jatuh pailit.
Apakah seseorang yang telah dinyatakan jatuh pailit harus berada di bawah
pengampuan hakim atau harus ditahan/dipenjarakan? Dalam perosalan ini terdapat
perbedaan pendapat ulama fiqh. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa orang yang
jatuh pailit tidak dinyatakan sebagai orang yang berada dibawah pengampuan,
sehinga ia tetap dipandang cakap untuk melakukan tindakan hukum. Menurutnya,
dalam perosalan harta, tindakan hukum seseorang tidak boleh dibatasi atau dicabut
sama sekali, karena harta itu adalah harta Allah, boleh daatng dan boleh juga habis.
Oleh sebab itu, menurut Abu Hanifah, seseorang yang jatuh pailit karena terbelit
hutang tidak boleh ditahan atu dipenjarakan, karena memenjarakan seseorang berarti
mengekang kebebasannya sebagai makhluk merdeka. Hal ini menurutnya lebih
berbahaya jika dibandingkan dengan mudharat yang diderita para pemberi utang.

7
Oleh sebab itu, hakim tidak boleh memaksa orang yang dililit utang itu untuk menjual
hartanya, tetapi hakim boleh memerintahkan untuk melunasi utang-utang itu. Apabila
perintah hakim itu tidak diikuti, maka hakim boleh menahannya sampai ia lunasi
utang, atau hakim menganjurkan agar orang pailit ini menjual sisa hartanya untuk
membayar utangnya itu.

Menurut jumhur ulama, termasuk dua orang tokoh fiqh terkemuka mazhab
Hanafi, yaitu Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad ibn al-Hasan asy-Syaibani,
seseorag yang telah dinyatakan pailit oleh hakim, boleh dianggap sebagai seorang
yang berada di bawah pengampuan, dan dia dianggap tidak cakap lagi bertindak
hukum terhadap hartanya yang ada. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk
memelihara hak-hak orang yang memberi utang kepadanya. Menurut mereka, apabila
tindakan hukumnya terhadap harta yang masih ada tidak dibatasi, maka orang pailit
ini akan lalai membayar utangnya, yang pada akhirnya membuat perselisihan semakin
kuat antara para pemberi utang dengan orang yang pailit itu.

Apabila seseorang telah dinyatakan jatuh pailit oleh hakim, maka para ulama
fiqh sepakat menyatakan bahwa segala tindak hukumnya dinyatakan tidak sah, harta
yang ada di tangnnya menjadi hak para pemberi piutang, dan sebaiknya kepailitannya
diumumkan, agar khalayak ramai mengetahui keadaanya, dan lebih berhati-hati dalam
melakukan transaksi ekonomi dengan orang yang dinyatkan pailit itu. Namun, apakah
orang yang dinyatkan jatuh pailit itu boleh melakukan perjalanan ke luar kota? Dalam
persoalan ini terdapat dua pendapat di kalangan ulama fiqh. Ulama Hanafiyah dan
Syafi’iyah menyatakan bahwa para pemberi utang tidak boleh melarang orang ang
jatuh pailit itu melakukan perjalanan ke luar kota sebelum waktu pembayaran jatuh
tempo, karena mereka tidak berhak menuntut piutang mereka sebelum jatuh tempo
pembayaran, sekalipun orang itu telah dinyatakan jatuh pailit. Akan tetapi, apabila
masa pembayaran utang itu telah jatuh tempo, maka pemberi utang berhak melarang
orang pailit itu melakukan perjalanan ke luar bandar.

Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa pemberi utang berhak


melarang orang jatuh pailit itu melakukan perjalanan apabila selama dalam
perjalanannya itu masa pembayaran jatuh tempo, karena diduga ia menghindari
tanggung jawab.

2.3.4 Sanksi Orang Yang Tidak Mau Membayar Utang

8
Bila orang yang telah jatuh bangkrut memiliki kesempatan untuk membayar
utang tetapi dilalikan, maka semua orang yang mengutangkan mengambil hartanya
dengan paksa dan diberi hukuman. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW : “Orang
yang telah sanggup untuk membayar utang (kewajibannya), tetapi dilalikan, maka
boleh dirampas hartanya dan diberi ganjaran”. (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i).
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda : “Menunda-nunda (pembayaran) yang
dilakukan oleh orang yang mampu adalah suatu kedzaliman”. (HR Jemaah).

2.4 Hajr

2.4.1 Pengertian Hajr

Secara bahasa, al-hajr berarti akal; akal dapat menghambat seseorang


melakukan perbuatan yang berakibat buruk. Kata alhajr dengan arti tersebut terdapat
dalam Al-Qur’an surah al-Fajr ayat 5, “pada demikian itu terdapat sumpah (yang
dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” Istilah al-hajr dibahas dalam fikih
Islam berkenaan dengan kecakapan seseorang bertindak hukum. Hajara ‘alaihi
hajran berarti seseorang yang dilarang bertindak hukum. Dalam istilah hukum, al-
hajr diartikan sebagai pengampuan. Hajr merupakan suatu pencegahan, karena dalam
hukum hajr terdapat pencegahan suatu harta dari mereka yang disita hartanya.
Maksudnya cegahan bagi seseorang untuk mengelola hartanya karena adanya hal-hal
tertentu yang mengharuskan adanya pencegahan.
Sedangkan menurut arti syar’i adalah pencegahan dari suatu tindakan yang
berkaitan dengan harta tertentu dikarenakan sebab tertentu. Jadi yang dicegah
tindakannya disini adalah sebuah tindakan yang berkaitan dengan harta, kalau tidak
berkaitan dengan harta maka dihukumi sah segala tindakan orang-orang yang disita
hartanya selain anak kecil dan orang gila, seperti talaknya, dhiharnya, khulu’nya dan
lain-lain semuanya dihukumi sah darinya karena semua tindakan itu tidak terkait
dengan hartanya
2.4.2 Dasar Hukum Hajr

Dalil bolehnya menyita suatu harta yang harus disita adalah firman Allah
SWT dalam surat (Al-Baqarah:282)
“Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia
sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan
jujur.”

9
Imam Syafi’i Ra. Menafsirkan ayat tersebut, mereka yang disebutkan
ditentukan oleh seorang wali yang melaksanakan tindakan mereka hal ini
menunjukkan adanya hajr yaitu pencegahan dari tindakan mereka yang berkaitan
dengan harta, dan yang dimaksudkan dengan safihan dalam ayat tersebut adalah orang
yang bangkrut, dan dho ifan adalah anak kecil, sedangkan yang dimaksudkan dengan
la yastathi an yumilla adalah orang gila.
Allah juga berfirman dalam surah an-Nisaa’4:5
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya,
harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok
kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah
kepada mereka kata-kata yang baik”. (Q.S. An-Nisaa’ 4:5).
Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini bahwa Allah SWT melarang
memperkenankan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya melakukan
tasharruf (penggunaan) harta benda yang dijadikan oleh Allah untuk dikuasakan
kepada para wali mereka.

2.4.3 Macam – Macam Orang Yang Disita Hartanya

Sedangkan orang-orang yang disita hartanya adalah delapan orang berikut ini:

 Anak kecil.
 Orang gila.
 Seorang safih (idiot/bodoh).
 Seorang yang bangkrut.
 Seorang budak.
 Seorang yang murtad.
 Seorang yang sakit.
 Seorang yang menggadaikan hartanya karena hutang.

Mereka yang disita hartanya terbagi menjadi dua golongan sebagai berikut :

2.4.3.1 Golongan yang pertama adalah mereka yang disita hartanya demi kebaikan
mereka sendiri yaitu ada tiga orang:

 Seorang anak kecil, dilarang membelanjakan hartanya hingga beranjak dewasa


dan sudah pandai mengelola dan mengendalikan harta

10
 Orang gila, dilarang mengelola hartanya sebelum dia sembuh, hal ini dilakukan
juga untuk menjaga hak-haknya sendiri
 Seorang safih (idiot/bodoh), dilarang membelanjakan hartanya sebelum dia sadar,
hal ini juga untuk menjaga hak terhadap hartanya ketika ia membutuhkan
pembelanjaannya.

2.4.3.2 Golongan yang kedua adalah mereka yang disita hartanya demi kebaikan
orang lain, ada lima orang yaitu:

 Seorang yang bangkrut, yang memiliki hutang yang lebih banyak daripada
hartanya, dilarang mengelola harta guna menjaga hak-hak yang berpiutang.
 Seorang budak, tidak lagi berkuasa untuk mengurus harta sebab ia sendiri dimiliki
oleh tuannya dan berarti derajat hamba (budak) sama dengan derajat benda. Dia
dapat dijual atau dibeli sebagaimana harta sehingga dia tidak berkuasa apa-apa.
 Seorang murtad, dilarang mengedarkan hartanya guna menjaga hak muslim.
 Seorang yang sakit parah, dilarang berbelanja lebih dari sepertiga hartanya guna
menjaga hak-hak ahli warisnya.
 Seorang yang menggadaikan harta karena hutangnya,
dilarang membelanjakan harta yang digadaikan.

2.4.4 Status Pengampuan Berakhir

Status pengampuan (al-hajr) berakhir apabila:

 Anak kecil sudah baligh dan berakal


 Orang bodoh/dungu sudah menjadi sadar
 Pemboros sudah mulai hemat
 Orang gila sudah menjadi waras
 Orang yang sakit parah sudah sembuh kembali
 Orang yang bangkrut (muflis), dia baru bebas dari status hukum pengampuan
setelah dia lunasi hutang-hutangnya.
 Apabila al-hajr (pengampuan) ditentukan berdasarkan penetapan qadhi (hakim),
maka pencabutannya juga harus demikian supaya mempunyai kekuatan hukum.
Apabila pengampuan itu berada di bawah kekuasaan wali maka wali-lah yang
dapat mempertimbangkannya.

11
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dalam memulai studi kelayakan bisnis pada umumnya dimulai dari aspek
hukum. Penilaian atas aspek hukum sangat penting meningat sebelum usaha tersebut
dijalankan, segala prosedur yang berkaitan dengan izin atau berbagai persyaratan lain
harus terlebih dahulu dipenuhi. Bagi penilai studi kelayakan bisnis, dokumen yang
perlu diteliti keabsahan, kesempurnaan dan keasliannya meliputi badan hukum,
perizinan yang dimiliki, sertifikat tanah maupun dokumen pendukung lainnya.
Masalah yang timbul kadang kala sangat vital, sehingga usaha yang semula
dinyatakan layak dari semua aspek, ternyata menjadi sebaliknya. Hal tersebut dapat
terjadi karena kurangnya ketelitian dalam penilaian di bidang hukum sebelum usaha
tersebut dijalankan. Berkaitan dengan keberadaan secara legal dimana memulai suatu
usaha yang meliputi ketentuan hukum yang berlaku termasuk surat-surat izin dan
referensi yang telah dimiliki dan photo copynya yang dilampirkan dalam proposal ini
adalah :

3.1.1 Sertifikat (akte tanah)

3.1.2 Bukti pembayaran PBB yang terakhir,

3.1.3 Rekomendasi dari RT / RW / Kecamatan

3.1.4 IMB (Izin Mendirikan Bangunan)

3.2 Saran
Demikian makalah yang dapat kami buat. Apabila ada kata-kata yang kurang
berkenan di hati atau belum sesuai dengan apa yang diharapkan, kami mohon maaf.
Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dalam tugas-
tugas selanjutnya, kami dapat menyelesaikannya dengan lebih baik lagi.

12
13