Anda di halaman 1dari 2

MELAYANI DENGAN HATI

Apa "Melayani dengan Hati" itu menurut Anda?
Hm.. kata-kata atau kalimat ini memang sudah lebih dari
sering kita dengar.

Saking seringnya, kita pun cenderung untuk tidak mempercayai lagi ketulusan dari pernyataan "Melayani
dengan Hati". Terlebih, para trainer/ fasilitator/ konsultan selalu mengajarkan kita untuk senantiasa
"Melayani dengan Hati." Ketika saya mendengar ini, sekarang jawaban saya hanya "Ya..ya.. ya." Paling om-do
(omong doang -red).



Sebenarnya bukan itu yang terbersit dalam benak saya. Saya malah berfikir bahwa, sayang sekali ya, kalimat
yang sebenarnya mengandung makna begitu dalam, digunakan seenaknya saja. Sebenarnya, adakah yang
benar-benar memahami makna dari "Melayani dengan Hati". Ketika saya bertanya kepada banyak Kepala
Divisi Layanan sampai jajaran BOD, jawabannya kok tidak terlalu memuaskan ya. Kebanyakan hanya
menjawab, yah, itu melayani dengan tulus, ya.. tanpa pamrih. Saya pikir, lho, bukannya itu kata lainnya
ya?Bukan benar-benar maknanya.



Yang selalu saya pikirkan adalah, bagaimana sih sebenarnya untuk melayani dengan hati? Untuk melayani
secara tulus? Untuk melayani tanpa pamrih? Karena secara jujur, berapa banyakkah dari kita yang bisa
menunjukkan ketulusan ini? Berapa banyakkah dari orang-orang yang Anda temui setiap harinya yang benar-
benar berinteraksi dengan Anda secara tulus dan tanpa pamrih? Padahal, setiap saya jalan-jalan keliling
jakarta, baik lagi terjebak macet, berada di hall kantor, menunggu di dalam lift sampai ketika sedang ngopi-
ngopi di mall, kok tidak banyak yang tersenyum ya?

Bagaimana bisa tulus kalau tersenyum saja sulit?

Mungkin karena kita diajarkan hanya "tersenyum" ketika bertemu dengan pelanggan.. Hahahah, lucu ya.
Padahal, tersenyum kan sebaiknya setiap saat dalam setiap kesempatan.. Jika tersenyum saja sulit,
bagaimana bisa "Melayani dengan Setulus Hati"?



Jadi, di sini saya ingin sekedar membahas, jika kita ingin membangun jiwa dan kepribadian yang "Melayani
dengan Setulus Hati", bagaimana sih caranya?
Jika kita lihat dalam kalimatnya saja, ada tiga hal yang perlu
kita fokuskan, yaitu Melayani, Tulus dan Hati.

Yang menjadi alat di sini adalah si Hati ini. Dan saya percaya memang fokus utamanya harus kepada si "Hati"
ini.

Pernahkah Anda mengamati dan menganalisa hati Anda? Bagaimana kondisi hati Anda? Apakah hati Anda
penuh dengan kesenangan atau kesedihan? Penuh dengan kedamaian atau kedengkian? Penuh dengan
entusiasme atau kekhawatiran? Penuh dengan hal-hal yang positif atau hal-hal yang negatif? Karena Ibu Irene
pun mengatakan suatu hal yang sangat mengena di saya, Ia berkata "Ketika seseorang itu disakiti atau
mengalami trauma, maka hatinya akan tertusuk oleh duri-duri. Dan sebelum ia dapat mencabut duri-duri
dari hatinya, Ia akan secara tidak sengaja selalu menyakiti orang lain." Jadi, bagaimana hati Anda? Ketika
saya mencoba mengintrospeksi hati saya, saya pun mengakui bahwa saya masih merasakan beberapa rasa
sakit, kecewa, khawatir, tidak pede dan lain-lain. Hal-hal ini yang menyebabkan sulitnya untuk terus
melayani dengan hati secara tulus. Bagaimana saya bisa melayani dengan hati, kalau hati saya terluka?



Jadi, langkah pertama adalah fokuskan ke diri Anda dulu - ke hati Anda.

Bagaimana Anda dapat menyembuhkan hati Anda dari hal-hal negatif dan mengisinya dengan hal-hal positif.
Tentu saja ini tidak mudah.. saya pun membutuhkan waktu 29 tahun untuk mengetahui caranya
menyembuhkan atau merevitalisasi kembali hati kita yang telah diciptakan secara sempurna dengan cinta
yang penuh dengan cinta. Ini bila dibahas bisa memakan waktu satu hari sendiri.. hahahaha..

Tetapi, jika saya boleh merangkumnya, inspirasi yang saya dapatkan yang membantu saya mendapatkan
proses penyembuhan ini, adalah menggunakan tahap-tahap berikut:
1. Desire - Ingin dan minta ketenangan dan kebahagiaan hati, karena.. dari mana Tuhan tahu kalau Anda
tidak memintanya?
2. Faith - Percaya bahwa Tuhan YME pasti memberikan apa yang Anda minta, karena Tuhan pasti
menginginkan semua makhluknya untuk bahagia bukan?
3. Nurture - Tentu saja Tuhan tidak suka kalau kita hanya duduk-duduk saja menggerutu dan mengeluhkan
diri kita seperti seorang victim, jadi sebaiknya kita memupuk diri kita sehari hari dengan hal yang positif.
Ingat, bukan artinya memaksakan diri Anda untuk positif, tapi rangsang hari-hari Anda dengan hal-hal yang
positif. Contohnya, dengarkan lagu-lagu yang membuat senang dalam perjalanan ke kantor, dansa dan
menyanyilah untuk lagu kesayangan Anda.
4. Gratitude - Jangan lupa tersenyum dan berterima kasih untuk segala hal positif yang terjadi dalam hari
Anda, baik itu kecil maupun besar. Contohnya, terima kasih atas hari yang cerah, anak yang sangat
semangat, mobil yang tidak mogok. Bisa tidak Anda berterima kasih 100 kali dalam sehari?
Bisakah Anda
mulai menjaga hati Anda kembali? Memenuhinya kembali dengan cinta dan kedamaian? Mulailah dari hari ini,
hanya dengan itu Anda bisa memulai "Melayani dengan Setulus Hati".