Anda di halaman 1dari 2

Home Nasional Internasional Ekonomi Olahraga Teknologi Hiburan Gaya Hidup CNN TV LAINNYA

Home ! Ekonomi ! Berita Bisnis

ANALISIS

Saat Rupiah Melemah Bahkan Tak Mampu


Tolong Ekspor
NDY & Agustiyanti, CNN Indonesia | Selasa, 15/05/2018 20:23 WIB

Malaysia Airlines Promo


Bagikan : " # $
Dengan makanan gratis dan bagasi
30kg, rencanakan perjalanan hari ini

TERPOPULER

Pelemahan rupiah sejak Februari belum mampu mendorong ekspor di April 2018. Ekspor tercatat turun 7,19
persen dibanding bulan sebelumnya menjadi US$14,7 miliar. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak pihak yang sebelumnya optimis neraca perdagangan
Indonesia pada April 2018 bakal mencatatkan surplus. Namun, kenyataannya, neraca
perdagangan Indonesia justru mencatatkan defisit US$1,63 miliar pada April 2018, defisit
bulanan tertinggi sejak 2014.

Defisitnya neraca perdagangan tak hanya disebabkan oleh impor yang kian membengkak,
tetapi juga kinerja ekspor yang melempem. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per April BI Akhirnya Restui Uang Elektronik
2018, impor naik 11,28 persen dibanding bulan sebelumnya sebesar US$16,09 miliar,
Paytren Milik Yusuf Mansur
sedangkan ekspor turun 7,19 persen menjadi US$14,7 miliar.
Ekonomi • 3 jam yang lalu

Kepala Ekonom BCA David Samual menjelaskan pelemahan rupiah memang tak banyak
Jonan: Proses Akuisisi
membantu ekspor, khususnya di Indonesia. Pasalnya, ekspor Indonesia saat ini didominasi
Saham Freeport Rampung
oleh komoditas yang saat ini tengah mengalami penurunan harga.
Juni 2018
Ekonomi
4 jam yang lalu
Secara teori, rupiah yang melemah pada dolar AS seharusnya mampu mendorong ekspor
karena harga produk yang menjadi lebih murah saat dikonversi dalam dolar AS sehingga lebih Sebanyak 200 Motor Siap
kompetitif. Jual Pertamax Kemasan di
Tol Jawa
"Efek rupiah melemah tak bisa instan pada ekspor. Selain itu, ekspor kita juga hingga saat ini Ekonomi
kebanyakan komoditas yang harganya sedang turun, sehingga pengaruh pelemahan rupiah 5 jam yang lalu
sangat kecil," ujar David kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/5).
Asing Mulai Jual, IHSG
David menyebut ekspor Indonesia sebenarnya menghadapi masalah struktural yang hingga Terkoreksi Terbatas 0,94
kini tak kunjung diselesaikan pemerintah. Hingga kini, ekspor Indonesia masih bergantung Persen
Ekonomi
pada ekspor komoditas.
8 jam yang lalu

Sementara itu, David menduga, melonjaknya impor pada April disebabkan oleh dua hal.
Pertama, adanya persiapan menjelang bulan Ramadan. Kedua, importir mengantisipasi
kemungkinan rupiah melemah lebih jauh dari posisi saat ini.

Lihat juga:BPS: Neraca Dagang April 2018 Defisit US$1,63 Miliar

Pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup melemah 64 poin dan kembali ke level Rp14.037 per
dolar AS.
"Untuk itu, yang harus dilakukan pemerintah saat ini ada tiga. Mencari sumber ekspor lain
dengan membangun industri manufaktur, mendorong subtitusi impor, dan mendorong
subtitusi jasa," terang dia.

Selain bermasalah dengan neraca perdagangan barang, menurut David, Indonesia juga
memiliki masalah menahun pada defisit neraca jasa. Alhasil, selama ini, neraca transaksi
berjalan Indonesia yang mencakup neraca perdagangan dan jasa, serta pendapatan primer
selalu mencatatkan defisit. Defisit transaksi berjalan ini pada akhirnya membuat neraca
pembayaran bergantung pada aliran modal asing dan membuat nilai tukar rupiah gampang
bergejolak jika aliran dana asing keluar.

Di sisi lain, David memperkirakan impor pada bulan-bulan mendatang tak akan setinggi April.
Ia pun optimis neraca perdagangan pada Mei dan Juni bisa kembali surplus, kendati tipis.

"Sepanjang tahun ini kemungkinan neraca perdagangan masih bisa surplus, tetapi
kemungkinan surplusnya lebih kecil," jelas dia.

Lihat juga:Produk Banjiri RI, Neraca Dagang dengan China Defisit US$2 M

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi
menilai defisit neraca perdagangan April yang cukup besar memang kontras dengan
konsensus ekonom yang memperkirakan neraca perdagangan surplus. Ia menduga banyaknya
produk ekspor manufaktur yang menggunakan komponen impor membuat pelemahan rupiah
tak mampu mendorong ekspor.

"Karena biaya impor komponen juga naik sehingga harga jual ekspornya tidak turun banyak
walaupun rupiah melemah," ungkap dia.

Namun, Eric memperkirakan tingginya impor pada April 2018 sejalan dengan aktivitas
perusahaan untuk melakukan kegiatan produksi. Sedangkan kenaikan impor barang konsumsi,
terkait dengan faktor musiman menjelang bulan Ramadan.

"Pemerintah bisa teruskan implementasi paket-paket kebijakan untuk menaikkan daya saing,
tetapi itu kemungkinan sulit untuk mempengaruhi kinerja ekspor karena banyak ditentukan
faktor eksternal, misalnya permintaan dari negara tujuan dan harga dari komoditas," kata dia.

Senanda dengan David, Eric juga memperkirakan defisit neraca perdagangan pada sepanjang
tahun ini masih akan surplus. Namun, surplus perdagangan di tahun ini diperkirakan akan
lebih kecil dari tahun lalu yang mencapai US$11,84 miliar.

Lihat juga:Lepas Kapal Ekspor, Jokowi Optimis Ekspor RI Bisa Kompetitif

Kejar Target Ekspor 11 Persen

Kendati kinerja ekspor melempem di April, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku
tetap bakal mengejar pertumbuhan ekspor tahun ini sebesar 11 persen, sesuai target
pemerintah.

"Ekspor target kami 11 persen. Saat ini sekitar 9 persen, saya kejar kenaikan pertumbuhan 2
persen lagi," kata Enggar.

Terkait neraca perdagangan Indonesia yang defisit US$1,63 miliar pada April 2018, Enggar
menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi akibat impor yang tinggi.

"Kalau dari sisi ekspor kita naik 9 persen, tapi dari segi impor kenaikannya memang tinggi,"
ujarnya.

Lihat juga:Menko Darmin Sebut Defisit Perdagangan US$1,63 M Masih Wajar

Enggar juga mengaku tak khawatir dengan kenaikan impor. Pasalnya, kenaikan impor
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan barang modal dan bahan baku industri yang dapat
berdampak positif pada perekonomian.

"Di sisi lain impor barang konsumsi naik, terutama karena mendekati Lebaran," kata Enggar.

Kedepan, Enggar mengaku akan terus mendorong ekspor, terutama pada komoditas garmen,
alas kaki, dan otomotif.

Sementara itu, Bank Indonesia memandang defisit neraca perdagangan April 2018 tidak
terlepas dari peningkatan kegiatan produksi dan investasi. Hal ini sejalan dengan membaiknya
prospek perekonomian domestik.

"Ke depan, Bank Indonesia meyakini kinerja neraca perdagangan akan membaik seiring
berlanjutnya pemulihan ekonomi dunia dan harga komoditas global yang tetap tinggi," terang
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman. (agi/agi)