Anda di halaman 1dari 31

BAB II

PROFIL SUMATERA TIMUR

Bab II akan menjelaskan profil Sumatera Timur, mulai dari kerajaan-kerajaan

yang tergabung dalam keresidenannya, batas wilayahnya, kondisi sosial ekonominya,

hingga kondisi sosial politiknya yang sangat erat dengan penyebab terjadinya

peristiwa berdarah pada Maret 1946 di keresidenan ini. Profil ini penting diketahui

sebab Sumatera Timur merupakan tempat peristiwa yang jadi objek penelitian ini.Hal

penting lainnya adalah, diharapkan dari profil ini bisa membantu mengasah penelitian

ini dengan pisau teori kesempatan struktur politik yang dipilih.

2.1. Profil Sumatera Timur

Pada mulanya, Sumatera Timur merupakan sebutan untuk sebuah keresidenan

yang terdiri dari Kerajaan Langkat, Kerajaan Deli, Kerajaan Serdang, Kerajaan

Asahan, Kedatukan di Batubara, Kerajaan Panai, Kerajaan Bilah, Kerajaan Kota

Pinang dan Kerajaan Kualuh-Leidong di Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhan

Batu, Kerajaan Simalungun serta Kerajaan-kerajaan di Tanah Tinggi Karo. Ketika

Belanda sampai di wilayah Kerajaan Melayu di tepi Selat Malaka pada Agustus 1865,

keresidenan ini berhasil diinvasi.Wilayah ini kemudian diakui sebagai salah satu

keresidenan yang dibawahi Pemerintah Hindia Belanda. Berkat kualitas tembakau

terbaik yang dimiliki keresidenan ini, dalam tempo 10 tahun saja, Keresidenan

Sumatera Timur menjadi terkenal di dunia sebagai penghasil ekspor 1/3 dari total

ekspor yang dilakukan di seluruh Hindia Belanda (nama Indonesia saat dijajah oleh

23
Belanda). Oleh sebab kemakmuran dan banyaknya investasi modal asing itu tertanam

dalam bidang perkebunan besar dan tambang minyak, maka pada 1915, Keresidenan

Sumatera Timur sudah ditingkatkan statusnya menjadi Gouvernement yang dipimpin

seorang Gubernur di Medan. 37

Memasuki abad ke-20, Pemerintah Hindia Belanda mulai lebih keras lagi

turut campur di dalam urusan setiap kerajaan. Di Sumatera Timur, Pemerintah

Kolonial Belanda memaksakan raja-raja yang besar yaitu Siak, Langkat, Deli,

Serdang, Asahan dan Kualuh dan Pelalawan (Kampar) serta Riau-Lingga untuk

menandatangani “Politik Kontrak” tahun 1907. Hal ini juga berlaku pada Kerajaan di

Jawa, Kalimantan, dan lain-lain. Dengan tekanan yang keras maka Sultan Sulaiman

Syariful Alamsyah dari Serdang adalah yang terakhir dipaksa menandatangani Politik

Kontrak 1907 sambil mengucapkan pidato protes berbunyi, bahwa sekarang Raja-raja

Bumiputera diikat Belanda dengan rantai emas. Isi Politik Kontrak kira-kira bertujuan

untuk: (1) Membuat satu buah Kas Kerajaan bersama-sama, sehingga pendapatan

yang masuk ke kas masuk ke Pemerintah Hindia Belanda. Anggaran itu pula yang

nantinya dipakai masing-masing kerajaan sesuai dengan Anggaran Belanja Kerajaan

itu; (2) Membuat Anggaran Belanja Kerajaan yang terpisah dari kas raja dan

banyaknya sesuai pendapatan yang bisa diperoleh oleh kerajaan itu sendiri dan hasil

negerinya; (3) Adanya pembayaran yang tetap dari hasil negeri kepada raja dan orang

besarnya; (4) Hak untuk memungut beacukai di pelabuhan (ekspor dan impor)

diambil alih Belanda dari tangan raja dengan dibayarkan ganti rugi tetap; (5) Adanya

37
Basarshah II, Tuanku Luckman Sinar. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Kata
Pengantar.

24
garis jelas mengenai warga/kaula kerajaan sebagaimana halnya di daerah

Gubernemen lainnya; (6) Membuka kesempatan timbulnya hak kebendaan atas tanah

untuk tempat tinggal di ibukota kerajaan (perlahan-lahan hak ulayat tanak dihapus). 38

Sehingga lambat laun, kerajaan-kerajaan dengan Politik Kontrak diubah

menjadi kerajaan-kerajaan dengan “Korte Velarking” 39 berisi: Pengakuan atas

kedaulatan Hindia Belanda. Tidak mengadakan hubungan dengan negara asing,

mengikuti sembarang perintah yang disampaikan melalui pamongpraja Belanda.

Untuk mempermudah memahami konteks profil Keresidenan Sumatera

Timur, maka akan diklasifikasikan menjadi kondisi sosial ekonomi dan kondisi sosial

politik. Sesuai dengan definisi gerakan sosial menurut Ritzer, gerakan sosial dapat

berkembang meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat.Gerakan ini dapat

disisipkan dalam aktivitas ekonomi, sosial, kebudayaan hingga politik. Hal ini akan

mempermudah menganalisis gerakan sosial politik yang terjadi di Sumatera Timur

dengan teori yang akan dipakai.

2.1.1. Kondisi Sosial Ekonomi

Sampai pertengahan abad ke-20 ekonomi perkebunan dan Pemerintah

Belanda bersama-sama menimbulkan perubahan drastis terhadap masyarakat

Sumatera Timur, khususnya kaum aristokrat Melayu.Kekuasaan kolonial Belanda

dengan sistem ekonomi perkebunannya telah meningkatkan kesejahteraan hampir

38
Basarshah II, Tuanku Luckman Sinar. Ibid. Hal. 252-253.
39
Korte Velarking adalah bahasa Belanda dari Pernyataan Pendek, sebuah politik Belanda memperpendek jalur
birokrasi.Misalnya yang terjadi pada Indragiri, dalam hal ini rajanya haruslah tunduk kepada sembarang perintah
dari pembesar Belanda secara tak terbatas. Baca Basarshah II, Tuanku Luckman Sinar. Ibid. Hal 255.

25
semua raja-raja di Sumatera Timur.Di antara raja-raja yang paling banyak mendapat

keuntungan adalah Sultan Deli, Sultan Langkat, Sultan Serdang, dan Sultan Asahan.

Perjanjian Politik Kontrak dengan Pemerintah Belanda, masih membolehkan mereka

menjalankan kekuasaan hukum adat mereka, antara lain yang terpenting adalah tanah.

Imbalan honorarium dari perusahaan perkebunan terus-menerus mengalir ke kantong

pribadi para sultan dan datuk yang berkuasa di Sumatera Timur. Pada tahun 1915,

39,2 persen penghasilan pajak di Deli, 37,9 persen di Langkat, dan 51,9 persen di

Serdang masuk ke kantong pribadi sultan dan datuk-datuknya. Keuntungan dari pajak

itu masih ditambah lagi dengan gaji resmi dan honorarium. 40

Di Simalungun dan Tanah Karo, raja-rajanya yang diikat dengan Korte

Verklaring, masing-masing memperoleh 16,1 persen dan 10,9 persen. Sultan

Machmoed dari Kerajaan Langkat adalah yang paling kaya di antara mereka.Dengan

hasil honorarium dari perusahaan minyak di Pangkalan Brandan, pendapatannya pada

tahun 1931 mencapai f.184.568.Sultan Amaloedin dari Deli mendapat f. 472.094 dan

Sultan Soelaiman dari Serdang memperoleh f.103.346.Raja-raja Simalungun,

meskipun tidak sehebat Sultan-sultan Melayu juga menerima keuntungan yang besar

dari perkebunan itu.Di samping gaji mereka sebanyak f.6.720 setahun, dua rajanya

yang terkaya menerima uang jalan sebesar f.1800 setahun dan menerima upeti dari

rakyatnya.Para Sibayak di Tanah Karo mendapat gaji rata-rata f.2.400 setahun, jauh

40
Reid, Anthony. Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera Utara. Jakarta: Sinar
Harapan. 1987. Hal. 89

26
lebih sedikit dan gaji Sultan-sultan Melayu.Perinciannya adalah sebesar f.3.960

setahun untuk Sibayak Lingga dan f.1.200 setahun untuk Sibayak Kutabuluh. 41

Sejalan dengan kekayaan yang luar biasa inilah muncul perubahan gaya hidup

sebagian sultan dan bangsawan Sumatera Timur, khususnya Melayu. Kaum

bangsawan Melayu termasuk sultan-sultannya sebelum kedatangan Belanda berada

dalam keadaan yang melarat.Setelah hadirnya sistem ekonomi perkebunan mereka

mampu membangun istana yang megah, membeli mobil mewah, dan pesiar ke

Eropa.Gaya hidup mewah pada gilirannya mewarnai kehidupan mereka sehari-

hari.Sultan-sultan Melayu kerap kali mengadakan pesta-pesta untuk menyambut

tamu-tamu penting (orang-orang Eropa).Untuk menunjukkan kebesaran dinastinya,

mereka membentuk pasukan yang terdiri dari para keluarga bangsawan.

Pengaruh penting lainnya dari perkembangan ekonomi perkebunan adalah

terjadi jurang pemisah yang lebar antara kaum elite Eropa dan kerajaan dengan orang

Cina, Jawa, India, Banjar, Sunda Mandailing, Bawean, Batak, Gayo, Alas, dan

sebagainya yang menjadi buruh di perkebunan. Susunan golongan di Sumatera Timur

pada zaman kolonial Belanda benar-benar kompleks dan bervariasi antara satu daerah

dengan daerah lainnya. Lengenberg menggambarkan sebagai berikut:

Pada lapisan atas terdapat kaum elite penguasa kolonial yang terdiri dari
beberapa lapisan. Pertama, orang-orang Eropa, yaitu pejabat-pejabat kolonial,
administrator perkebunan, dan para pengusaha.Kedua, keluarga enam
kesultanan Melayu, Langkat, Deli, Serdang dan Asahan, Kota Pinang, dan
Siak. Ketiga adalah para raja Karo dan Simalungun, kaum intelektual

41
Suprayitno.2001. Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia. Yogyakarta: Yayasan untuk Indonesia. Hal. 22-23.

27
Indonesia berpendidikan barat (dokter, pengacara, pejabat, sipil kolonial
senior), dan para pedagang kaya, Cina, India, dan Indonesia. 42

Sementara itu dampak perkembangan ekonomi perkebunan juga telah

mengubah komposisi demografi.Perkembangan perusahaan perkebunan telah

menciptakan perubahan besar dalam aspek kependudukan dan perkotaan di Sumatera

Timur.Pada pertengahan abda ke-19, jumlah penduduk Sumatera Timur diperkirakan

berjumlah 150.000 jiwa.Dalam tempo delapan puluh tahun terjadi peningkatan

beberapa kali lipat yakni menjadi 1.693.200 jiwa. Penyebab semua ini adalah

masuknya kuli-kuli dari Jawa dan Cina dalam jumlah besar ke perkebunan-

perkebunan di Sumatera Timur dan adanya migrasi orang-orang dari Tapanuli, Aceh,

dan Sumatera Barat.

Dalam tahun 1929 diperkirakan terdapat 301.936 orang kuli yang bekerja di

perkebunan. Jumlah ini terdiri dari 275.233 kuli dari Jawa dan 26.703 kuli asal

Cina.Penduduk dari keseluruhan penduduk Sumatera Timur.Dengan demikian,

jumlah penduduk Sumatera Timur lebih dari separuhnya adalah para penduduk

pendatang yang bukan berasal dari Sumatera.

Adanya komposisi penduduk yang demikian itu menjadi penting dilihat dari

perbedaan kultur dan aspirasi politik di masa pergerakan kebangsaan Indonesia. Para

pendatang politik yang berbeda dari penduduk asli. Di samping itu, para pendatang

ini memiliki perbedaan kultur dengan para penduduk asli Sumatera Timur. Jumlah

42
Langenberg, Micheal. 1985. Regional Dynamic of The Indonesian Revolution: Unity from Diversity. Honolulu,
Hawaii. Hal. 115.

28
penduduk asli (Melayu, Karo dan Simalungun) pada tahun 1929 secara keseluruhan

kurang dari empat puluh persen dari seluruh penduduk Sumatera Timur.Dengan

jumlah kerajaan-kerajaan seperti Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan.Di empat

kesultanan Melayu itu penduduk Jawa dan Cina menempati posisi mayoritas.Ini

terjadi karena adanya pemusatan perkebunan di daerah itu.Kondisi yang serupa juga

terjadi di tujuh kerajaan yang lebih kecil, yaitu Suku Siantar, dan Panai.Hanya di

empat kerajaan yaitu Karo, Lingga, Berusjahe, Suka dan Sarinembah, orang-orang

Batak dan Melayu menjadi penduduk mayoritas. 43

Pemukiman Cina dan Jawa tidak hanya ada di perkebunan tetapi juga di luar

perkebunan.Pada tahun 1926 hanya sekitar separuh dari penduduk Jawa yang tinggal

di perkebunan, selebihnya tinggal di sekitar perkebunan sebagai petani atau

bermukim di kota-kota terdekat. Mereka yang Cina lebih banyak tinggal di daerah

kota-kota besar seperti Medan, Siantar, Tebingtinggi, dan Binjai.Kota pelabuhan

seperti Belawan juga dihuni oleh orang Cina dalam jumlah yang besar.Di samping

itu, meluasnya penyebaran penduduk Batak Toba ke Sumatera Timur akibat adanya

daya tarik perkembangan ekonomi perkebunan membuat komposisi penduduk di

Sumatera Timur semakin heterogen.Sebagian besar orang Batak Toba bermukim di

Simalungun, sebab sultan-sultan Melayu menolak masuknya orang-orang Kristen

Toba dalam jumlah besar ke wilayah kerajaan mereka. Kehadiran mereka ke

Sumatera Timur juga diakibatkan adanya kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda

yang mendesak raja-raja Panei, Bilah dan Siantar untuk mendatangkan para petani

43
Langenberg. Op.cit. Hal. 93-99.

29
Batak Toba ke wilayah kerajaan mereka.Kebijaksanaan itu diberlakukan karena pada

dekade pertama abad ke-20 Sumatera Timur kekurangan beras. Dengan demikian

diperlukan adanya perluasan tanah-tanah pertanian dan mendatangkan para petani

Batak Toba ke Sumatera Timur.Penyebaran petani Batak Toba juga diikuti pula

dengan datangnya sejumlah besar para misionaris agama Kristen, guru-guru dan

pedagang ke Sumatera Timur.Diperkirakan antara tahun 1907-1920 jumlah pendatang

Batak Toba di Simalungun meningkat dari tiga ratus menjadi 21.000 orang.Mereka

secara berangsur-angsur mendesak orang Batak Simalungun menjadi

minoritas.Kehadiran mereka akhirnya juga menimbulkan masalah karena tanah-tanah

di Sumatera Timur yang secara turun-temurun dimiliki penduduk asli, kini digarap

tidak hanya oleh perkebunan asing tetapi juga oleh para petani Batak Toba.Kondisi

ini berpengaruh terhadap perkembangan gerakan kebangsaan di Sumatera

Timur.Dengan demikian jelas bahwa mengalirnya ratusan ribu buruh dan kaum

pendatang lainnya ke Sumatera Timur, akhirnya menyebabkan penduduk asli turuan

menjadi minoritas.Suku Jawa menjadi komunitas tunggal yang terbesar sedangkan

orang Cina menempati urutan ketiga. 44

Di atas telah diuraikan bahwa perkembangan perkebunan telah menyebabkan

daerah Sumatera Timur menjadi terkenal dan secara ekonomis sangat maju

dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Sumatera. Hasil produksi

perkebunannya telah memberikan keuntungan besar terhadap para pengusaha,

Pemerintah Kolonial Belanda, dan pemerintahan kerajaan di Sumatera Timur.Akan

44
Sinar, T Luckman. Op.cit. Hal. 240-243.

30
tetapi hal itu tidak dialami oleh para buruh perkebunan yang pada dasarnya adalah

sebagai ujung tombak hidup matinya ekonomi perkebunan di Sumatera Timur. 45

Buruh-buruh perkebunan itu seringkali mendapat perlakuan buruk dari

majikannya dan mereka kebanyakan tidak mengetahui isi kontrak yang mereka

tandatangani dengan pihak perkebunan.Sistem rekrutmen kuli kontrak itu didukung

oleh tiga peraturan pemerintah.Pertama, Koeli Ordonantie yang diajukan pada tahun

1880, 1884, dan 1893.Peraturan itu memberikan kewenanganhukum kepada para

manajer perkebunan selama masih berlaku kontrak.Kedua, Ponalie Sanctie

dimasukkan ke dalam pasal kerja kuli-kuli untuk menghukum kuli-kuli yang

melanggar pasal-pasal kontrak kerja mereka. Mereka yang melarikan diri dari

perkebunan dapat ditangkap dan dipaksa kembali oleh polisi untuk meneruskan

kontrak kerja mereka di perkebunan atau dihukum dengan cara lain. Ketiga, untuk

mempertahankan sistem kuli kontrak adalah melalui peranan perkumpulan para

pengusaha perkebunan, Deli Planters Vereneging (DPV) yang dibentuk pada

1897.DPV dibentuk dengan tujuan untuk menyuarakan kepentingan para pengusaha

perkebunan seperti mengatur pembagian kuli-kuli kebun. 46

Para kuli perkebunan pada tahun 1926 hanya mendapat gaji sebesar f.19.50,

sementara gaji terendah asisten perkebunan Eropa berjumlah dua puluh kali lebih

besar dari gaji kuli orang Jawa dan Cina, yakni f.350 sampai f.540 dan gaji menajer

perkebunan sebesar f.675. Suatu peristiwa penyiksaan terhadap kuli kebun dengan

45
Hasil wawancara dengan Bapak Suprayitno pada tanggal 26 Juli 2015 pukul 13.37 WIB di Kantor Prodi Ilmu
Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, USU.
46
Sinar, T Luckman. Op.cit. Hal. 91.

31
diberlakukannya poenale sanctie adalah peristiwa Pulau Mandi yang terjadi pada

tahun 1926.Pada bulan Oktober tahun itu seorang asisten perkebunan bangsa Jepang

bernama Kozo Oriuchu dinyatakan bersalah karena melakukan penganiayaan dan

menyekap para kuli perkebunan Pulau Mandi. Para kuli yang jumlahnya tujuh orang

dipukuli dan dikurung selama satu bulan dalam ruangan yang luasnya tidak kurang

dari dua meter persegi dan dipaksa memakan kotoran manusia dan kuda. Kuli-kuli itu

diancam akan dibunuh bila melaporkan kejadian yang dialaminya kepada orang lain.

Buruh-buruh yang kondisinya sangat miskin itu terus bertambah. Yakni dari 31.454

pada tahun 1883 menjadi 186.556 tahun 1912 dan 336.000 tahun 1932. Mereka

sebagian besar adalah para buruh Jawa.Mereka adalah sekelompok masyarakat yang

terpisah secara sosial. Gambaran tentang kehidupan buruh-buruh perkebunan itu

dilukiskan dengan baik oleh Liddle sebagi berikut:

… fasilitas kesehatan sangat minim dan mereka tinggal berdesak-desakan di


dalam pondok-pondok yang berfungsi sebagai tempat tinggal mereka. Dari
tahun 1915 sampai 1919 menurut laporan Tideman, ribuan buruh-buruh
perkebunan yang meninggal terus meningkat dibandingkan dengan seluruh
penduduk Sumatera Timur. Selama periode ini rasio antara laki-laki dan
perempuan tinggi dan mereka sulit untuk membangun hubungan kekeluargaan
yang normal. Usaha-usaha untuk mengembangkan rasa memiliki terhadap
komunitas di dalam pondok juga tidak berhasil karena pekerja-pekerja baru
terus didatangkan dan yang lain dipindahkan ke tempat lain. 47

Demikianlah gambaran kondisi para buruh perkebunan di Sumatera Timur.

Mereka sama sekali tidak menikmati keuntungan dari perkembangan daerah

Sumatera Timur yang justru dengan nyata sekali punya andil dalam proses

perkembangannya. Pengaruh penting lainnya atas masyarakat Sumatera Timur akibat


47
Langenberg. Op.cit. Hal. 106.

32
perkembangan perkebunan dan masuknya Pemerintah Kolonial Belanda adalah

munculnya suatu pelapisan sosial yang mempunyai garis pisah yang tajam. Ciri yang

menonjol dari masyarakat Sumatera Timur pada akhir tahun 1920-an adalah jurang

sosial ekonomi yang lebih memisahkan secara tajam kelompok kecil elite dengan

massa penduduk, petani-petani, kuli perkebunan, dan buruh kota. 48

Dengan pesatnya perkembangan perkebunan, maka satu aspek lagi yang

menjadi prasarana pendukungnya adalah munculnya kota-kota di Sumatera

Timur.Medan sebagai pusat administrasi pemerintahan dan ekonomi perkebunan

telah berkembang dengan cepat. Kota-kota besar lainnya dengan cepat berkembang di

seluruh Sumatera Timur dengan sebab-sebab yang sama. Siantar khususnya, menjadi

sebuah pusat administrasi dan ekonomi yang penting dan sekaligus menjadi jalur

silang yang menghubungkan wilayah Tapanuli, Karo, Simalungun, dan dataran

rendah Sumatera Timur.

Bersamaan dengan perkembangan kota-kota itu muncullah sebuah budaya

baru di perkotaan. Para perantau dari daerah lain yang datang ke Sumatera Timur

sebagian besar tinggal di daerah perkotaan. Mereka bekerja sebagai kerani, guru

sekolah, pedagang kaki lima, pengrajin, dan pekerja di sektor jasa. Jumlah mereka

sangat cepat berkembang dari tahun ke tahun. Di Medan misalnya jumlah penduduk

kota ini meningkat dari 42,5 ribu pada tahun 1920 menjadi 76,6 ribu pada tahun

1930. Secara detail jumlah penduduk kota-kota Sumatera Timur adalah sebagai

48
Hasil wawancara dengan Bapak Suprayitno pada tanggal 26 Juli 2015 pukul 13.37 WIB di Kantor Prodi Ilmu
Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, USU.

33
berikut; Medan (76.584), Pematang Siantar (15.328), Tebingtinggi (14.026), Binjai

(9.176), Tanjung Balai (6.823). 49

Kota Medan telah dihuni oleh 4.293 orang Eropa, 27.287 Cina, dan

selebihnya adalah orang Melayu, Karo, Simalungun, Toba, Jawa, Aceh,

Minangkabau, Mandailing, Angkola, Banjar, Sunda, Manado, dan Ambon. Semuanya

merupakan cermin dari penduduk Indonesia. Orang-orang Eropa yang tinggal di

Medan, bangga menyebut dirinya sebagai Deliaan (Belanda Deli), dengan ciri-ciri

khas, kasar, pemabuk, kurang adat, dan benci pada birokrasi yang menghambat

penumpukan harta. 50

Di samping itu selama tahun 1930-an, Siantar, Tebingtinggi, dan Binjai juga

menjadi kota-kota yang secara etnis sangat heterogen.Penduduk kota itu telah

melahirkan suatu budaya baru yang terlepas dari lingkungan budaya asalnya dan

wewenang Kerajaan Melayu. Mereka adalah rakyat gubernemen, bukan rakyat

kerajaan. Di Medan muncul suatu kesadaran baru, yakni kesadaran akan identitas ke-

Indonesiaan lewat berkembang pesatnya penggunaan bahasa Indonesia sebagai

bahasa yang dipakai sejumlah perusahaan penerbitan seperti Pewarta Deli yang

dipimpin oleh seorang wartawan Djamaludin Adinegoro. Di samping Pewarta Deli

masih ada sejumlah penerbitan seperti Sinar Deli yang nasionalis radikal, Pelita

Andalas dan beberapa mingguan Islam.Komunikasi di antara mereka semakin lancar

dengan diakuinya Bahasa Melayu sebagai Bahasa Nasional pada tahun

49
Reid, Anthony. 1987. Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera. Jakarta. Sinar
Harapan. Hal. 108-109.
50
Ibid. Hal. 78 dan catatan No.5.

34
1928.Pengakuan ini penting artinya dalam menumbuhkan budaya baru yang bersifat

nasional di Kota Medan. Dengan cermat Hamka melukiskan, bahwa anak Deli adalah

tunas yang paling mekar dalam pembangunan bangsa Indonesia. Anak Deli adalah

keturunan campuran dari berbagai etnis yang bebas dari kungkungan budaya

tradisional. 51

2.1.2. Kondisi Sosial Politik

Bersamaan dengan terjadinya kepincangan sosial, penguasa kolonial Belanda

telah menciptakan suatu lingkungan baru di pusat-pusat kota, khususnya di Medan

dan Pematangsiantar. Di lingkungan baru ini muncul kesadaran untuk mencari

identitas nasional.Pencarian identitas nasional itu diwujudkan dalam bentuk

pembentukan cabang Boedi Oetomo di Medan pada tahun 1908. Di bawah pimpinan

dr. Pirngadi, Boedi Oetomo merekrut anggota dari kalangan dokter, guru, ahli hukum,

wartawan, dan pegawai pemerintah. Secara organisatoris Boedi Oetomo mampu

menghubungkan daerah Sumatera Timur dengan pulau Jawa. 52

Pada tahun 1919, awal gerakan kebangsaan muncul di daerah perkebunan,

yaitu dengan dibentuknya cabang-cabang Sarekat Islam. Sarekat Islam mampu

menggerakan massa sampai ke daerah pedesaan. Dalam pertemuan cabang-cabang

Sarekat Islam di Tebingtinggi pada bulan Februari1919, Abdul Muis berpidato

mengajak massa untuk menghancurkan sistem kuli kontrak dan poenale sanctie.

51
Hamka. 1966. Merantau ke Deli. Kuala Lumpur. Pustaka Antara. Hal. 56.
52
Hasil wawancara dengan Bapak Suprayitno pada tanggal 26 Juli 2015 pukul 13.37 WIB di Kantor Prodi Ilmu
Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, USU.

35
Sarekat Islam juga melancarkan kampanye demokrasi ekonomi untuk memperbaiki

kehidupan kaum buruh dan tani. 53

Sementara itu, organisasi Muhammadiyah, Al-Djami’atul Washliyah, dan

Taman Siswa mulai melebarkan sayapnya ke Sumatera Timur.Berbeda dengan

organisasi politik, organisasi-organisasi ini lebih menekankan pada masalah

pendidikan dan sosial.Cabang-cabang Taman Siswa mulai banyak bermunculan di

perkebunan-perkebunan dan kota-kota di Sumatera Timur, seperti Medan, Pangkalan

Brandan, dan Tebingtinggi.Sekolah Taman siswa mengalami perkembangan pesat

berkat jasa Sugondo Kartoprodjo.Muhammadiyah juga mengembangkan sekolah

dasar, guru dan membentuk perkumulan kepanduan Hisbul Wathan.Masuknya Partai

Komunis Indonesia (PKI) ke Sumatera Timur pada 1920, membuat wajah pergerakan

politik menjadi radikal.Kekuatan partai ini tidak hanya terletak pada kepiawaiannya

dan keterampilan para tokoh-tokohnya, tetapi terletak pada program-programnya

yang langsung mengancam kepentingan pemerintahan Belanda dan kerajaan.Partai ini

berhasil mengorganisasi pemogokan buruh di Pelabuhan Belawan pada tahun 1925. 54

Partai Komunis tidak hanya mendapat simpati dari buruh kota, tetapi juga dari

buruh perkebunan.Kegiatan PKI akhirnya mendapat perhatian serius dari pemerintah

Belanda.Tahun 1927 pemerintah Kolonial Belanda secara resmi melarang

pegawainya menjadi anggota PKI.Pemerintah Belanda juga mengizinkan pihak

53
Kampanye itu akhirnya membuat kaum buruh menjadi radikal.Mereka melancarkan aksi mogok pada bulan
September 1920 yang melumpuhkan aktivitas Deli Spoorweg Maatschappij (D.S.M). Reid, Anthony. Op.cit. Hal.
128.
54
Basarshah II, T Luckman Sinar. 1992. Revolusi Sosial Pihak Kiri 1946 di Serdang dalam Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Revolusi Nasional di Tingkat Lokal. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan
Dokumentasi Sejarah Nasional.Hal. 79

36
perkebunan mendirikan jaringan mata-mata untuk mengawasi kegiatan PKI. Deli

Spoorweg Maatschappij (DSM) mengemukakan bahwa setiap pegawai DSM yang

terlibat di dalam kegiatan melanggar ketertiban umum akan diberhentikan. Partai ini

akhirnya dibubarkan Pemerintah Belanda akibat keterlibatannya dalam

pemberontakan di Jawa Barat dan Silungkang Sumatera Barat.Gerakan Revolusioner

Marxis hancur pada tahun 1927.Pemimpinnya banyak yang dibuang ke Digul atau

dipulangkan ke kampung halamannya.Dalam konteks Sumatera Timur, PKI telah

melangkah di luar batas-batas primordialisme untuk menghimpun dukungan

rakyat.PKI telah membangun sikap militan dan konfrontatif antikolonial.Pada tahun

1928 perkembangan nasionalisme di Sumatera Timur memasuki periode

penting.Periode ini ditandai dengan didirikannya cabang Partai Nasional Indonesia

(PNI) oleh Mr. Iwa Kusuma Sumantri dan Mr. Sunaryo pada tahun 1929 di

Medan.Sebagian besar pendukung utama PNI adalah kalangan buruh-buruh Jawa di

Perkebunan.Partai Nasional Indonesia dan Taman Siswa memiliki hubungan yang

erat.Banyak tokoh Taman Siswa aktif dalam membangun PNI dan tokoh PNI

mengajar di sekolah-sekolah Taman Siswa. Kedua organisasi ini menekankan

perhatian yang besar pada konsep Negara Nasional Indonesia, Bahasa Nasional

Indonesia, Kebudayaan Nasional Indonesia, Bendera Nasional Indonesia, dan Lagu

Nasional. Akan tetapi aktivitas PNI tidak berlangsung lama.PNI kemudian

dibubarkan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1931, demikian juga penggantinya

Partai Indonesia (Partindo). 55

55
Reid, Anthony. Op.cit. Hal. 113.

37
Namun demikian PNI memberi sumbangan penting dalam mengembangkan

ideologi nasionalisme di Sumatera Timur.PNI telah menghubungkan gerakan

antikolonial di Sumatera Timur.Program-program PNI menarik bagi orang Karo dan

Simalungun di Medan, Siantar, Kabanjahe yang frustrasi terhadap struktur kekuasaan

konservatif di daerahnya.Kembalinya sejumlah aktivis pergerakan nasional dari

Boven Digul, akhirnya membangkitkan kembali gerakan nasionalis di Sumatera

Timur.Pelopor kebangkitan itu adalah Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) dan

Partai Indonesia Raya (Parindra).Kedua organisasi ini mendapat dukungan luas dari

semua suku bangsa di Sumatera Timur. Gerindo benar-benar menampakkan

organisasi massa yang bersifat nasional dan radikal. Gerindo dengan tegas

membedakan diri dengan Parindra yang moderat dan kooperatif, yang mereka

pandang sebagai borjuis.Pemimpin Gerindo Sumatera Timur sudah sejak awal

bersikap militan antikolonial, berbeda dengan koleganya di Jawa.Orang-orang

pergerakan bekas anggota PKI, Partindo, dan PNI bergabung dengan Gerindo. 56

Di bawah kendali Mohammad Djoni, Gerindo dengan keras menyerang

kemapanan sistem kolonial dan feodalisme.Partai ini mengambil sikap antikolonial,

anti-Eropa, dan anti-kapitalisme.Mereka menuntut kemerdekaan nasional,

penghancuran aristokrat feodal, nasionalisasi semua perusahaan asing, pengakuan hak

tanah pribumi.Hak-hak tanah dengan cepat menjadi isu utama program partai untuk

memobilisasi dukungan melawan Pemerintah Belanda, raja-raja, dan pengusaha

perkebunan.Melalui program distribusi tanah kepada para petani, Gerindo mendapat

56
Dootjes, F.J.J. 1939. Kroniek 1938. Amsterdam: Oostkust van Sumatra Instituut. Hal. 55.

38
dukungan kuat dari buruh-buruh Jawa, petani Karo, dan Simalungun. 57Gerindo

mampu membangkitkan semangat nasionalisme, khususnya di kalangan masyarakat

karo di Langkat dan Deli Hulu. 58

Cabang-cabang Gerindo juga tersebar di seluruh wilayah Sumatera

Timur.Pada tahun 1938 cabang Gerindo didirikan di Binjai, Arnhemia, dan Tanah

Jawa.Di Kisaran dan Sunggal, cabang Gerindo dibentuk pada tahun 1939, sedangkan

di Tanjung Balai dan Kabanjahe pada tahun 1940.Gerindo aktif memberikan kursus-

kursus politik secara teratur.Sekitar 1.500 orang menghadiri pertemuan Gerindo di

gedung Bioskop Medan. 59Melalui kursus-kursus itu Gerindo berhasil memperkuat

semangat nasionalisme yang sebelumnya sudah diupayakan oleh PKI, PNI,

Muhammadiyah, Taman Siswa, Parindra, dan Partindo.Akibat pesatnya

perkembangan nasionalisme, akhirnya menyadarkan tokoh-tokoh masyarakat

Simalungun.Pada tahun 1936, beberapa pegawai sipil kolonial dan guru-guru sekolah,

mendirikan Kesatuan Simalungun (Simalungun Sapariahan), yang bertujuan untuk

mengembangkan kebudayaan Simalungun.Sentimen anti-Toba tampak kuat dalam

organisasi ini.Sentimen ini berkait dengan perampasan tanah-tanah pertanian oleh

orang-orang Batak Toba di daerah Simalungun.Perampasan tanah oleh para migran

Batak Toba ini, berkembang menjadi isu politik pada tahun 1930-an. Untuk

57
Ibid.
58
Reid, Anthony. Op.cit. Hal. 129-130.
59
Ibid. Hal. 121.

39
mengatasi hal ini, pemerintah Belanda menyediakan 1.500 hektare tanah sawah untuk

kepentingan penduduk asli (Simalungun). 60

Sementara itu, di kalangan suku Melayu muncul usaha-usaha untuk

melindungi identitas Melayu.Tahun 1930, kaum bangsawan Serdang membentuk

Bangsawan Sepakat dan Persatuan Sulaiman.Di Langkat dan Deli, para

bangsawannya membentuk Bangsawan Langkat Sejati dan Persatuan Kita.Pada

tanggal 20 September 1932, dibentuklah Syarikatul Moeloek sebagai sarana untuk

menggalang persatuan raja-raja dan kaum bangsawan di seluruh Sumatera

Timur.Semua organisasi ini tidak bertahan lama karena tidak mendapat dukungan

dari kalangan masyarakat bawah dan juga para bangsawan yang terpelajar.Kaum

intelektual Melayu sendiri sukar untuk melepaskan diri dari kungkungan adat

istana.Menurut tradisi istana, setiap problem yang dihadapi oleh orang Melayu

diselesaikan lewat tradisi istana.Ini merupakan prinsip tegas yang membatasi kaum

intelektual Melayu.Sebagian besar kaum bangsawan Sumatera Timur ternyata tidak

mampu menyiasati pergolakan dan perubahan sosial yang terjadi di

sekitarnya.Mereka tidak aktif dalam gerakan nasionalisme yang semakin

mendapatkan tempat berpijaknya di Sumatera Timur.Perkembangan gerakan

sosialisme itu akhirnya justru membuat merekamenjadi konservatif dan tidak

kritis.Ketidakaktifan mereka besar kemungkinan tidak hanya karena kungkungan adat

istana tetapi justru karena pergerakan nasional itu sendiri mengancam kelangsungan

hidup mereka dan rakyatnya.Dengan demikian tidaklah mengherankan, meskipun di

60
Dootjes, F.J.J. Op.cit. Hal. 84.

40
seluruh Sumatera Timur telah berdiri semua cabang organisasi politik namun etnis

Melayu tetap bersikap apatis.Organisasi yang ada di kalangan mereka justru ditujukan

untuk menghadang ancaman para imigran dan militansi gerakan nasionalisme dan

bersifat etnosentris. Organisasi yang bersifat etnosentris kembali hadir dengan nama

Persatoean Soematera Timoer (PST). PST dibentuk pada tahun 1938 di bawah

pimpinan Abdul Wahab dan Zahari.Organisasi ini mendapat sambutan luas dari

kalangan bawah suku Melayu, Karo, dan Simalungun, yang tidak senang dengan

dominasi kaum pendatang di Sumatera Timur.Tujuannya selain untuk memperhatikan

kondisi sosial penduduk asli Sumatera Timur, juga untuk melawan dominasi suku-

suku pendatang atas daerah Sumatera Timur. 61

Pada tahun 1940, dalam sebuah koferensi pertama PST, dr. Tengku Mansoer

dipilih menjadi ketua. Tengku Bahriun dari Deli diangkat sebagai sekretaris dan

pimpinan sebelumnya dijadikan anggota pengurus. 62PST dengan cepat mendapat

simpati dari kalangan birokrat kolonial dan pegawai-pegawai senior Melayu.Pada

tahun 1939, cabang-cabang PST sudah dibentuk di Langkat, Deli, Serdang,

Simalungun, dan Asahan. 63

Tokoh-tokoh aristokrat lokal memiliki andil dalam mendirikan cabang-cabang

PST, di antaranya adalah Mr. Djaidin Purba dan Madja Purba di Simalungun. Di

Serdang, PST mendapat perhatian serius dari kaum bangsawan, terutama Tengku

Rajih Anwar (putera mahkota). Organisasi ini meskipun menekankan pada orang asli,

61
Langenberg, Michael. Op.cit. Hal. 76.
62
Reid, Anthony. Op.cit. Hal/ 124-125.
63
Langenberg, Michael. Op.cit. Hal. 77

41
tetapi secara organisatoris didominasi oleh suku Melayu.Orang Karo dan Simalungun

sedikit sekali duduk di dalam dewan pimpinan partai.Namun demikian PST mampu

mengembangkan semangat nasionalisme orang asli melawan etnis non-asli di

Sumatera Timur.Memasuki tahun 1942, orbit Perang Pasifik semakin melebar ke

Hindia-Belanda. Sebagian besar masyarakat Sumatera Timur menyadari bahwa

mereka telah ditindas oleh tatanan sosial yang ada dan berupaya untuk mengubah

nasib mereka.Oposisi terhadap Pemerintah Belanda dan berbagai macam hak

istimewa kaum bangsawan menjadi sasaran utama gerakan ini.Pada masa

pendudukan Jepang kondisi sosial ekonomi daerah Sumatera Timur hancur sama

sekali. Pemerintah Jepang enggan untuk membangun kembali prasarana transportasi

yang telah hancur akibat pertempuran singkat pada Maret 1942.Bersamaan dengan itu

muncul kecenderungan dari berbagai residen dan kepala pemerintahan kabupaten

untuk membangun kebutuhan mereka sendiri secara semi otonomi.Keadaan ini

akhirnya menyebabkan surplus produksi dari daerah Karo dan Tapanuli Selatan tidak

dapat didistribusikan ke daerah Perkebunan di Sumatera Timur.Menghadapi situasi

kritis seperti itu, Pemerintah Jepang segera mengambil tindakan.Jepang memutuskan

bahwa seluruh tanah perkebunan adalah milik Kekaisaran Jepang dan semuanya di

bawah kontrol langsung Pemerintah Militer Jepang.Ini berarti bahwa hak istimewa

yang dimiliki oleh penguasa tradisional dan hak sewa tanah dihapuskan. 64 Daerah

64
Langenberg, Michael. Op.cit. Hal. 229.

42
perkebunan dibagi dalam lima divisi, yang masing-masing diatur oleh Cabang

Syonan Gomu Kumia. 65

Kebijaksanaan Jepang ini mendapat sambutan hangat buruh-buruh

perkebunan, petani Karo, dan Kabatak Toba.Pasalnya Syonan Gomu Kumia

mengumumkan semua tanah kosong di perkebunan diserahkan kepada para petani

penyewa.Mereka segera berdatangan ke Sumatera timur membuka tanah-tanah

kosong dan hutan lebat dijadikan persawahan.Sebagian orang Jawa, Toba, Karo, dan

Cina menduduki tanah-tanah perkebunan itu dan menganggap sebagai miliknya

sendiri. Pemerintah Jepang juga menginstruksikan agar penduduk menanami tanah

kosong yang ada di pinggiran kota Medan. 66

Tindakan ini akhirnya memberikan kontribusi pada proses polarisasi politik

yang tajam antara kaum pergerakan dan kerajaan/petani Melayu. Perkembangan ini

tentu saja membawa konsekuensi berat bagi para petani Melayu dan pihak

kerajaan.Mereka mengamati dengan perasaan cemas, karena mereka tidak hanya

kehilangan hak milik atas tanah di Sumatera Timur, tetapi juga menyaksikan sendiri

bagaimana tanah-tanah leluhur mereka diambil alih oleh sejumlah besar kaum

pendatang.Lebih parah lagi, pemerintah Jepang masih membolehkan para pemimpin

pergerakan mempropagandakan dan mengindoktrinasi kaum pendatang dengan

sentimen antikerajaan. 67Kondisi ini akhirnya mendapat reaksi dari kaum aristokrat

Melayu.Kaum aristokrat kerajaan segera mengorganisasi gerakan bawah

65
Ini adalah badan yang bertugas mengoordinasikan hasil perkebunan yang bermarkas di Singapura.Badan ini
sebelumnya bernama Rengokai. Dootjes, Kroenik 1941-1946. Hal 19.
66
Langenberg, Michael. Op.cit. Hal 232-233
67
Reid, Anthony. Op.cit. Hal 202

43
tanah.Gerakan ini mendapat dukungan dari kalangan bangsawan Serdang, Langkat,

dan Deli.Gerakan ini dibubarkan Jepang dan tokoh-tokoh utamanya dihukum

mati.Namun demikian aktivitas gerakan bawah tanah ini tetap dilanjutkan oleh tokoh-

tokoh lainnya.Pendukung gerakan bawah tanah ini kemudian membentuk organisasi

sendiri sengan nama Siap Sedia (SS). SS diharapkan dapat menggantikan peranan

PST yang sudah dibubarkan oleh Jepang, dengan tujuan untuk melindungi identitas

penduduk asli dan membangun otonomi politik Sumatera Timur.Pembentukan

organisasi ini sebagai jawaban atas semakin meningkatnya aktivitas kaum pergerakan

nasionalis.SS mendapat dukungan masyarakat Sumatera Timur, terutama dari

golongan bangsawan.Jumlah anggota SS diperkirakan mencapai ribuan orang. 68

Secara politis gerakan ini memang tidak berhasil, tetapi secara moral mampu

membangkitkan identitas kultur orang asli di kalangan anggota-anggotanya. Di

samping organisasi ini menjadi semacam wahana untuk memelihara hubungan antara

kaum aristokrat kerajaan dengan pemerintah Hindia Belanda yang telah mengungsi

ke Australia.Melalui organisasi ini identitas orang asli dan ide-ide otonomi Sumatera

Timur ditanamkan di kalangan para penduduk.Tokoh-tokoh kerajaan yang tergabung

dalam SS dan kepala desa Melayu, segera berusaha menggalang kekuatan untuk

mendapatkan kembali hak mereka.Pada tahun 1945, sebuah organisasi Persatuan

Anak Soematra Timur yang didominasi etnis Melayu dibentuk untuk merealisasi

tujuan itu. Organisasi ini dipimpin oleh dr. Tengku Mansoer dan Ustad Kadir yang

keduanya aktif dalam organisasi SS. Organisasi ini ternyata tidak mampu menahan

68
Suprayitno. Op.cit. Hal. 48.

44
derasnya gelombang para pendatang menyeroboti tanah leluhur mereka.Pada masa

Jepang terlihat bahwa dominasi kerajaan mulai merosot dengan tajam.Perubahan

yang terjadi akibat kebijaksanaan Pemerintah Jepang membuat martabat pada sultan

dan raja-raja memudar di mata masyarakat.Pada setiap upacara, para sultan dan raja-

raja diperintahkan berdiri sejajar dengan para pemimpin pergerakan politik sambil

menyanyikan lagu memuja Jepang.Lebih tragis lagi, raja dan kaum bangsawan harus

mengayunkan cangkul untuk memberi contoh kepada rakyat tentang pertanian dan

ikut dalam kegiatan gotong-royong. 69Merosotnya peranan elite kerajaan semakin

bertambah parah, meskipun Jepang pada masa pendudukannya mulai memperbesar

pertisipasi politik rakyat.

Pada November 1943, Jepang membentuk Shu Sangikai (Dewan Penasihat

Residensi) di setiap residensi (Shu).Dewan ini bertugas untuk memberikan nasihat

pada residen (Shu-Chokan).Di Sumatera Timur dewan itu didominasi kaum kerajaan

dan nasionalis konservatif. Sebagai ketua dewan diangkat Mangaradja

Soeangkoepon, dan wakilnya Tengku Musa dari Kerajaan Asahan.Kepemimpinan

dewan ini terus mengalami perubahan.Pada awal tahun 1945 Soeangkoepon

digantikan Tengku Hafaz, cucu Sultan Oesman dari Deli dan putra pangeran Bedagai.

Dalam sidang dewan bulan Maret 1945, jabatan kedua dewan diserahkan kepada dr.

Tengku Mansoer. Kerajaan benar-benar telah mendominasi kepemimpinan Shu

Snagi-Kai, namun Jepang mulai tidak tertarik pada dua tokoh bangsawan ini.Karena

dianggap tidak bersikap pro-Jepang dan tidak mampu mengatasi perpecahan sosial

69
Reid, Anthony. Op.cit. Hal 180.

45
yang terjadi.Oleh karena itu sebelum Jepang menyerah, jabatan ketua dewan itu

diserahkan kepada Mr. T. Mohammad Hasan.Sebagai langkah memperluas partisipasi

penduduk dalam mepersiapkan kemerdekaan, pada tanggal 21 Maret 1945,

Gunseikanbu mengumumkan pembentukan Chuo Sangiin (Dewan Penasihat

Pusat).Pada tanggal 17 Mei, 25 anggota dewan diangkat oleh Gunseikanbu. Anggota

dari Sumatera Timur adalah Djamalludin Adinegoro, Tengku Damrah, Putra Mahkota

Deli, Raja Kaliamsyah Sinaga, dr. Pirngadi, Hamka, dan Hsu-Hua-Chang. Dalam

sidang Chuo Sangiin yang pertama dan terakhir di Bukittinggi pada tanggal 27 Juni

hingga 2 Juli 1945, disahkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan untuk

seluruh Sumatera.Tiga minggu kemudian, formasi Panitia Penyelidik Persiapan

Kemerdekaan diumumkan.Mohammad Syafei diangkat menjadi ketua dan Adinegoro

dijadikan sekretaris.Dari 24 anggota panitia yang diangkat itu, enam orang berasal

dari Sumatera Timur. Mereka adalah dr. Pirngadi, dr. Amir, Mr. T.M. Hasan, Hamka,

Tengku Saibun, dan Hsu Hua-Chang.Pembentukan Panitia Penyelidik Kemerdekaan

pada tanggal 28 Juli 1945, pada dasarnya mencerminkan merosotnya peranan elite

kerajaan dalam percaturan politik di Sumatera Timur.Dengan menempatkan seorang

wakilnya dalam panitia itu, kelangsungan hidup kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur

memasuki ambang kehancuran. Apalagi resolusi Dewan itu mengatakan, bahwa

sebuah delegasi akan segera dikirim ke Jakarta untuk mengadakan koordinasi dengan

badan serupa yang sudah aktif di Jawa.Lebih tragis lagi, bahwa tiga utusan yang

mewakili Sumatera bukanlah dari golongan kerajaan. Mereka adalah Mr. T.

Mohammad Hasan, dr. Amir, dan Mr. Abdul Abbas. Keputusan itu tidak hanya

membuat kaum bangsawan kehilangan kekuatan untuk melakukan bargaining politik,

46
tetapi kaum pergerakan semakin bertambah radikal dalam menuntut penghapusan

unsur feodalisme dan kolonialisme di Sumatera Timur.Dalam sidang PPKI tanggal 22

Agustus 1945, Mr. T.M. Hasan, diangkat sebagai Gubernur Sumatera, dr. Amir

sebagai Wakil Gubernur, dan Mr. Abbas ditugaskan untuk membentuk Komite

Nasional Indonesia (KNI) dan Dewan Perwakilan Daerah di seluruh Sumatera. Mr.

T.M. Hasan diberi kekuasaan penuh untuk mengangkat residen (kepala daerah) dan

pegawai pemerintah. Atas usul T.M. Hasan dn Amir, PPKI mengesahkan Medan

sebagai Ibu Kota Provinsi Sumatera. Selain itu, PPKI menetapkan PNI sebagai partai

negara dan Barisan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai pengawal Republik.Kota

Medan pada Agustus 1945 diselimuti oleh konflik politik dan sosial yang jauh lebih

serius dibandingkan dengan masa sebelumnya.Baik di Medan maupun di kota-kota

lainnya di Sumatera Timur, tidak terdapat kepemimpinan tunggal yang dapat

mempersatukan semua golongan atau faksi yang bertikai.Sebagian masyarakat masih

mengharapkan hadirnya kembali penguasa lama dan mereka tidak ingin berlindung di

bawah Republik yang belum jelas.Hal ini menyebabkan kabar proklamasi

kemerdekaan Indonesia di Jawa baru bisa menyebar pada Oktober 1945 di Sumatera

Timur. 70

Setelah proklamasi kemerdekaan, raja-raja Melayu bersikap tunggu dan

lihat.Namun, ada beberapa tokoh kerajaan yang berlangsung menunjukkan sikap

simpati kepada Belanda, seperti Datuk Jamil dan Tengku Musa. Sultan Serdang,

Langkat, dan Asahan setelah berunding dengan para pemuda yang tergabung dalam

70
Suprayitno. Op.cit. Hal 50-51.

47
BPI baru mau mengibarkan bendera merah putih. Sementara Sultan Deli secara

terang-terangan tidak mengakui kedaulatan Republik.Sementara itu, pada tanggal 10

Oktober 1945 tentara Sekutu/Inggris dari Divisi India ke-26 di bawah pimpinan

Brigadir T.E.D. Kelly menduduki tiga kota penting di Sumatera yaitu, Medan,

Palembang dan Padang. Kedatangan tentara Sekutu dan Netherlands Indies Civil

Administration (NICA) mempertebal semangat penentang Republik, yang sejak

zaman Jepang mengkhawatirkan kelangsungan kekuasaannya. Di bawah

perlindungan NICA/Inggris mereka menganggap impiannya untuk membangun

keadaan seperti sebelum Perang Dunia II akan tercapai. Sebaliknya pendukung

Republik memandang kerjasama sekutu, NICA, dan kerajaan sebagai ancaman

terhadap Republik.Akibatnya berkobarlah sentimen anti-Belanda, antifeodal, dan

anti-asing.Meskipun demikian, dalam barisan Republik terdapat perpecahan antara

golongan moderat dan radikal.Perpecahan itu bersumber pada kebijaksanaan

diplomasi yang diterapkan oleh golongan moderat.Tokoh-tokoh moderat seperti T.M.

Hasan tetap mengikuti kebijaksanaan Pemerintah Republik di Jawa.Sementara para

pemuda yang tergabung dalam BPI, BKPI, National Control semakin tidak sabar

dengan pendekatan Hasan yang hanya memberi napas lebih lama kepada NICA dan

kerajaan.Akibatnya, bentrokan hebat segera terjadi, setelah terang-terangan ada

konspirasi antara NICA-Inggris dan kerajaan.Tercatat selama Oktober sampai

Desember 1945 telah terjadi bentrokan bersenjata antara pemuda-pemuda Republik

dengan sekutu dan NICA.Di antaranya adalah Peristiwa Jalan Bali, Peristiwa Siantar

Hotel, Peristiwa Berastagi, dan Peristiwa Jalan Serdang. 71

71
Ibid. Hal 52-56.

48
Peristiwa Jalan Bali dan Siantar Hotel telah memicu semangat para pemuda

untuk berdiri teguh di belakang Republik.Bagi mereka peristiwa itu merupakan sinyal

dimulainya perjuangan melawan musuh-musuh Republik.Darah orang Belanda dan

kaki tangannya harus ditumpahkan demi Revolusi Nasional.Sejumlah pemuda itu

mulai bergabung dengan TKR dan Lasykar Rakyat.Pada Oktobernya, muncullah

sejumlah gerakan pemuda bersenjata yang masing-masing menguasai Kota Medan.

Mereka mencari biaya dari berbagai sumber yang dapat mereka kuasai. TKR dalam

kadar tertentu mengikuti model ini, meskipun lebih berdispilin mengikuti instruksi

dari Jawa. Tindakan gerombolan perampok ini tidak hanya membuat Inggris,

Belanda, orang Cina, dan Kerajaan menjadi gusar, tetapi juga mencemaskan tokoh-

tokoh Republik.Kepemimpinan sipil Republik menjadi terhambat karena adanya aksi

kekerasan itu. Sebagian besar masyarakat mengkhawatirkan Republik akan jatuh ke

tangan kaum radikal atau komunis.Sultan-sultan Melayu mulai mengambil inisiatif

untuk melindungi kerajaan dan kepentingan Melayu.Pada bulan Oktober mereka

mendirikan Perkoempoelan Anak Deli Islam (PADI). Organisasi ini telah melatih

sekitar lima ribu orang pemuda Melayu untuk mempertahankan atatus quo

kerajaan.Pada tahap ini kerajaan mulai cemas melihat ke arah mana arus gerakan

pemuda Republik.Sebagai seorang bangsawan, T.M. Hasan mengerti betul kesulitan

yang dihadapi raja-raja Sumatera Timur yang merasa ditekan oleh para pemuda dan

hubungan moral mereka dengan Belanda.Sikap politik T.M. Hasan cenderung

mengarah ke politik rekonsiliasi daripada mengancam raja-raja itu.Pengangkatan

pejabat-pejabat pemerintahannya yang terutama, semuanya berdasarkan

pertimbangan untuk merangkul pihak kerajaan ke dalam Republik.Sebagai tanda

49
untuk membuktikan adanya suatu dukungan kepada pihak kerajaan, pada tanggal 29

Oktober T.M. Hasan mengangkat Tengku Hafas dari kerajaan Deli sebagai residen

Sumatera Timur. Pada saat yang sama ia juga mengangkat Mr. Mohammad Yusuf

sebagai Wali Kota Medan juga mengangkat Tengku Musa sebagai asisten Republik

untuk Labuhan Batu, dan Tengku Amir Hamzah sebagai asisten residen Republik

untuk daerah Langkat. Madja Purba diangkat sebagai asisten residen Simalungun,

Negerajai Meliala di Tanah Karo dan Tulus di daerah Deli.Usaha Mr. T.M. Hasan

untuk menarik dukungan kerajaan pada Republik tidak hanya sampai di situ.Beberapa

tokoh kerajaan lainnya diangkat menjadi asistennya.Semua pengangkatan ini secara

langsung dimaksudkan untuk meredakan kekuatan pihak kerajaan, Belanda-Inggris

yang didominasi kaum “ekstremis” di dalam pemerintahan Republik. 72

Sesudah melakukan perubahan-perubahan ini, T.M. Hasan kemudian

mengumumkan bahwa Republik siap untuk mengakui posisi istimewa raja-raja,

sebagai pengganti dukungan mereka kepada Republik.T.M. Hasan juga menawarkan

kepada Sultan Deli dan Sultan Langkat tunjangan sebesar setengah juta uang Jepang,

melalui kas Republik.Tawaran T.M. Hasan itu tidak mendapat tanggapan serius dari

para sultan.Pemuda-pemuda Republik memandang sikap dingin dan hati-hati para

sultan itu sebagai hal yang tidak dapat ditoleransikan lagi. Pada tanggal 1 Desember,

Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Tanjung Pura mengultimatum Sultan Langkat

agar mengakui Republik, menyerahkan senjata mereka kepada cabang Pesindo

setempat, dan menghentikan semua hubungannya dengan Inggris dan NICA. Sultan

72
Ibid. hal. 61-64.

50
Langkat akhirnya menuruti kemauan mereka dan segera mengibarkan bendera

Merah-Putih di depan istananya, menyerahkan senjata kepada Pesindo dan uang

sebesar seratus ribu rupiah kepada Pemerintah Republik. Sultan Langkat memohon

kepada Presiden Soekarno agar Republik mengakui otonomi Kesultanan

Langkat.Sultan Serdang dan Asahan juga mengalami tekanan dari Lasykar rakyat,

Kedua penguasa ini dipaksa membuat pernyataan resmi mengakui keberadaan

Republik. Mereka dengan segera mengibarkan bendera Merah-Putih di depan istana

dan kantor mereka. 73

Seperti Kesultanan Langkat, kedua sultan ini juga memohon kepada

Pemerintah Republik untuk mengakui kekuasaannya. Untuk membuktikan

pernyataannya Sultan Serdang membentuk Badan Pecinta Keamananan dan

Kemerdekaan Indonesia (BPPKI) di Perbaungan.Namun demikian, semua pernyataan

sultan-sultan itu belum memuaskan pemuda Republik.Pada tanggal 14 Desember,

sebuah pengumuman bersama TKR dan Pesindo menyatakan, bahwa setiap orang

yang didapati bekerjasama dengan NICA atau agen-agennya akan dihukum mati.

Pada hari yang sama PNI mengeluarkan pernyataan, setiap cabang PNI harus

mendistribusikan senjata dan mewaspadai aktivitas para kaki-tangan NICA.

Bersamaan dengan itu, barisan pemuda dan laskyar mulai menyerang masyarakat

Cina.Pada awal Desember sekelompok pemuda merampas toko-toko Cina dan

gudang-gudang perbekalan di Medan dan kota-kota lainnya di Sumatera

73
Langenberg, Michael. Op.cit. Hal 339.

51
Timur.Meledaknya sentimen anti-Cina diduga karena adanya hubungan erat antara

tokoh-tokoh masyarakat Cina dengan NICA. 74

Pada 3 Februari 1946, diadakan musyawarah di gedung KNI Medan. Kerajaan

diwakili oleh Sultan Langkat, Deli, Asahan, Siak, Putra Mahkota Serdang, Datuk

Sukapiring, dan Batubara, Yang Dipertuankan Kualuh-Ledong, Sultan Panai, Sultan

Bilah, dan Raja-raja dari Tanah Karo dan Simalungun. Delegasi Republik dipimpin

oleh T.M Hasan, Amir, Xarim M.S, Loeat Siregar. Mohammad Yusuf, Tengku Hafas,

Tengku Dr. Mansoer, Tengku Damrah dan Tengku Bahriun. Dalam Undang-Undang

Dasar Republik Indonesia mengakui secara resmi posisi istimewa raja-raja. T.M.

Hasan mendesak agar raja-raja memutuskan hubungannya dengan Belanda,

melakukan proses demokratisasi dan mendukung Republik Indonesia. 75

Dalam musyawarah itu, Loeat Siregar secara lebih tegas menyatakan, bahwa

Pemerintah Republik berdasarkan kepada rakyat, semua yang berbau feodal akan

dilenyapkan. Rakyat menginginkan semua wilayah kerajaan didemokratisasikan.

Keinginan rakyat iu adalah ibarat banjir yang tidak dapat dibendung. Sultan Langkat

atas nama raja-raja Sumatera Timur menyatakan bahwa mereka akan mendukung

Republik dan turut memperkuat Republik Indonesia. Sultan Langkat juga berjanji

akan melakukan proses demokratisasi sesuai dengan prinsip yang dikemukakan oleh

T.M. Hasan. 76

74
Suprayitno. Op.cit. Hal 65-66.
75
Reid, Anthony. Op.cit. Hal. 397.
76
Hasil wawancara dengan Bapak Suprayitno pada tanggal 26 Juli 2015 pukul 13.37 WIB di Kantor Prodi Ilmu
Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, USU.

52
Pertemuan antara Gubernur Mr. T.M. Hasan dengan pihak raja-raja

melegakan banyak orang tetapi tidak mengenakkan bagi para pemuda Republik dan

tokoh politik revolusioner.Posisi raja-raja di Sumatera Timur benar-benar terancam

oleh radikalisme pemuda di bawah kendali tokoh-tokoh politik, lasykar dan sebagian

TRI. 77Sejumlah tokoh partai bergerak di bawah Persatuan Perjuangan untuk

menghancurkan kekuasaan raja-raja.Kerja penghancuran ini dilakukan pada saat

Gubernur Hasan mengadakan perjalanan ke Sumatera Selatan selama satu bulan. 78

77
Sesuai dengan intruksi pemerintah pusat, pada tanggal 26 Januari TKR diubah namanya menjadi TRI. Nasution,
A.H. 1963. Tentara Nasional Indonesia, Jilid I. Bandung dan Jakarta. Hal. 246.
78
Reid, Anthony. Op.cit. Hal. 397.

53