Anda di halaman 1dari 15

Jurnal yang digunakan sebagai rujukan

S, M. . D. (2009). KARAKTERISTIK PROSES BERPIKIR SISWA DALAM


MEMPELAJARI MATEMATIKA BERBASIS TIPE KEPRIBADIAN. Prosiding
Seminar Nasional, Pendidikan Dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas
Negeri Yogyakarta, 481–492.

Treffinger, D. J. (1994). Creative Problem Solving: Problem Finding, Problem Solving,


and Creativity., 223–236.

Type, T. M., Mbti, I., & Briggs, I. (1985). Myers-Briggs Type Indicator (MBTI). New
York, 60, 2–5. Retrieved from
http://go.galegroup.com.miman.bib.bth.se/ps/retrieve.do?sgHitCountType=None&so
rt=RELEVANCE&inPS=true&prodId=GVRL&userGroupName=blekinge&tabID=
T003&searchId=R1&resultListType=RESULT_LIST&contentSegment=&searchTy
pe=BasicSearchForm&currentPosition=1&contentS

Kandemir, M. A., & Gür, H. (2009). The use of creative problem solving scenarios in
mathematics education: views of some prospective teachers. Procedia - Social and
Behavioral Sciences, 1(1), 1628–1635. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2009.01.286

MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PEMECAHAN


MASALAH BERDASAR PENGGOLONGAN TIPE KEPRIBADIAN

golek ng mendeley ya un dewiyani seng ngarang mendeleyku error wkwkwk

Improving Learning Outcomes of Students Through Group Work Based on Personality


Type in Mathematics Problem Solving

IMPROVING PROBLEM SOLVING ABILITY AND TOLERANCE ATTITUDE


OF STUDENTS THROUGH GROUP WORK BASED ON MYERS BRIGGS
PERSONALITY TYPE USING CPS LEARNING MODEL.
Hasil Diskusi:

 Proses berpikir tergantung dari karakter masing-masing


 Dengan menyadari kondisi pada masing-masing siswa, maka pengajar dapat
memberikan metode mengajar terbaik untuk masing-masing pribadi siswa.
 Tahapan penelitian:
1. Tes kepribadian melalui angket atau wawancara untuk menggolongkan siswa
sesuai kepribadiannya
2. Siswa dikelompokkan menurut kepribadian
3. Pengelompokkan siswa menggunakan model pembelajaran CPS
4. Kompetensi yang ditingkatkan pemecahan masalah dan sikap toleransi

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

(JURNAL: KARAKTERISTIK PROSES BERPIKIR SISWA DALAM


MEMPELAJARI MATEMATIKA BERBASIS TIPE KEPRIBADIAN)

Dari hasil penelitian yang dilakukan, di dapatkan karakteristik proses berpikir


masing- masing siswa dalam mempelajari materi matematika adalah sebagai berikut :

a. Tipe Guardian

Tipe Guardian ini menyukai kelas dengan model tradisional, beserta


prosedur yang teratur. Siswa dengan tipe ini menyukai pengajar yang dengan
gamblang menjelaskan materi, dan memberikan perintah secara tepat dan nyata. Materi
harus diawali pada keadaan nyata. Sebelum mengerjakan tugas, tipe Guardian
menghendaki instruksi yang mendetail, dan apabila memungkinkan, termasuk
kegunaan dari tugas tersebut. Segala pekerjaan dikerjakan secara tepat waktu. Tipe ini
mempunyai ingatan yang kuat, menyukai pengulangan dan drill dalam menerima
materi, dan penjelasan yang terstruktur. Meskipun tidak selalu berpartisipasi dalam
kelas diskusi, tapi tipe ini menyukai saat tanya-jawab. Tidak menyukai gambar,
namun lebih condong kepada kata-kata. Materi yang disajikan, harus dihubungkan
dengan materi masa lalu, dan kegunaan di masa datang. Jenis tes yang disukai adalah
objektif tes.

b. Tipe Artisan

Pada dasarnya, tipe ini menyukai perubahan, dan tidak tahan terhadap
kestabilan. Artisans selalu aktif dalam segala keadaan, dan selalu ingin menjadi
perhatian dari semua orang , baik guru maupun teman-temannya. Bentuk kelas yang
disukai adalah kelas dengan banyak demonstrasi, diskusi, presentasi, karena dengan
demikian tipe ini dapat menunjukkan kemampuannya. Artisans akan bekerja dengan
keras, apabila dirangsang dengan suatu kontes. Segala sesuatunya ingin dikerjakan dan
diketahui secara cepat, bahkan sering cenderung terlalu tergesa. Artisans akan cepat
bosan, apabila pengajar tidak mempunyai teknik yang berganti-ganti dalam mengajar.

c. Tipe Rationalists

Rationalists menyukai penjelasan yang didasarkan pada logika, mereka mampu


menangkap abstraksi dan materi yang memerlukan intelektualitas yang tinggi. Setelah
diberikan materi oleh guru, biasanya rationalists mencari tambahan materi melalui
membaca buku. Rationalists menyukai guru yang dapat memberikan tugas tambahan
secara individu setelah pemberian materi. Dalam menerima materi, rationalists
menyukai guru yang menjelaskan selain materinya, namun juga mengapa atau dari
mana asalnya materi tersebut. Bidang yang disukai biasanya sains, matematika, dan
filsafat, meskipun tidak menutup kemungkinan akan berhasil di bidang yang diminati.
Cara belajar yang paling disukai adalah eksperimen, penemuan melalui eksplorasi
intelektual, dan pemecahan masalah yang kompleks. Kelompok ini cenderung
mengabaikan materi yang dirasa tidak perlu atau membuang waktu, oleh karenanya,
dalam setiap pemberian materi, guru harus dapat meyakinkan kepentingan suatu
materi terhadap materi yang lain.

d. Tipe Idealist.

Idealist menyukai materi tentang ide dan nilai-nilai. Lebih menyukai untuk
menyelesaikan tugas secara pribadi, daripada diskusi kelompok. Dapat
memandang persoalan dari berbagai perspektif. Menyukai membaca, dan juka
menyukai menulis. Oleh karenanya, kurang cocok dengan bentuk tes objektif,
karena tidak dapat mengungkap kemampuannya dalam menulis. Kreativitas menjadi
bagian yang sangat penting bagi seorang Idealist. Kelas besar, sangat
mengganggu Idealist dalam belajar, sebab lebih menyukai kelas kecil di mana setiap
anggotanya saling mengenal satu dengan yanglain.
(JURNAL : THE USE OF CREATIVE PROBLEM SOLVING SCENARIOS IN
MATHEMATICS EDUCATION: VIEWS OF SOME PROSPECTIVE TEACHERS)

Adapun implementasi dari model pembelajaran Creative Problem Solving

(CPS), terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:


(1) Tahap Awal

Guru menanyakan kesiapan siswa selama pelajaran dasa ranimasi


berlangsung, guru mengulas kembali materi sebelumnya mengenai materi yang
dijadikan sebagai prasyarat pada materi saat ini kemudian guru menjelaskan
aturan main ketika model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)
berlangsumg serta guru memberiu motivasi kepada siswa akan pentingnya
pembahasan materi melalui pembelajaran Creative Problem Solving (CPS).

(2) Tahap Inti

Siswa membentuk kelompok kecil untuk melakukan small discussion. Tiap


kelompok terdiri dari 2 - 4 anak yang ditentukan oleh guru dan kelompok ini bersifat
permanen. Tiap-tiap kelompok mendapat bahan ajar siswa (BAS) untuk dibahas
bersama. Secara berkelompok, siswa memecahkan permasalahan yang terdapat dalam
bahan ajar siswa sesuai petunjuk yang terdapat di dalamnya. Siswa mendapat bimbingan
dan arahan dari guru dalam memecahkan permasalahan (peranan guru dalam hal ini
menciptakan situasi yang dapat memudahkan munculnya pertanyaan dan mengarahkan
kegiatan brainstrorming serta menumbuhkan situasi dan kondisi lingkungan yang
dihasilkan atas dasar interest siswa). Adapun penekanan dalam pendampingan siswa
dalam menyelesaikan permasalahan sebagai berikut:

(2.1) Klasifikasi masalah

Klasifikasi masalah meliputi pemberian penjelasan kepada siswa tentang


masalah yang diajukan agar siswa dapat memahami tentang penyelesaian seperti
apa yang diharapkan.

(2.2) Brainstroming
Pada tahap ini siswa dibebaskan untuk mengungkapkan pendapat tentang
berbagai macam strategi penyelesaian masalah, tidak ada sanggahan dalam
mengungkapkan ide gagasan satu sama lain.

(2.3) Evaluasi dan Seleksi

Pada tahap ini, setiap kelompok mendiskusikan pendapat-pendapat atau


strategi-strategi mana yang cocok untuk menyelesaikan masalah.

(2.4) Implementasi

Pada tahap ini, siswa menentukan strategi mana yang dapat diambil untuk
menyelesaikan masalah kemudian menerapkannya sampai menemukan
penyelesaian dari masalah tersebut (Pepkin, 2004:2).

Lebih lanjut perwakilan salah satu siswa dari kelompoknya mempresentasikan hasil yang
telah didiskusikan ke depan kelas dan peserta lain menanggapinya. Kemudian guru
bersama siswa menyimpulkan materi.

(3) Tahap Penutup

Sebagai pemantapan materi, secara individu siswa mengerjakan soal tes


dan memberikan kredit poin bagi siswa yang mampu memecahkannya sebagai
upaya motivasi siswa mengerjakan soal dan menyelesaikan tugas yang telah
diberikan guru.

Model-model pembelajaran yang diterapkan oleh guru masing-masing


memiliki kelebihan dan kelemahan, begitu pula dengan model pembelajaran
Creative Problem Solving (CPS). Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran
Creative Problem Solving (CPS) adalah sebagai berikut:

(1) Kelebihan

(1.1) Siswa dapat berpartipasi aktif selama proses pembelajaran


(1.2) Dapat menanamkan sikap rasa ingin tahu

(1.3) Melatih kemampuan berpikir siswa dalam memecahkan masalah

(1.4) Menumbuhkan kerjasama dan interaksi antar siswa

(2) Kelemahan

(2.1) Selama pembelajaran berlangsung, waktu yang tersita lebih lama

(2.2) Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan model pembelajaran

Creative Problem Solving (CPS)

(2.3) Tidak semua materi pembelajaran cocok bila disampaikan dengan model

TUJUAN

1. Siswa akan dapat menyatakan urutan langkah-langkah yang terlibat dalam Masalah
Kreatif Memecahkan.

2. Siswa akan bisa melakukan brainstorming (menghasilkan solusi yang mungkin untuk
suatu masalah).

3. Siswa akan dapat mengevaluasi manfaat solusi yang mungkin dalam hal kepatuhan
terhadap kriteria.

4. Berdasarkan seperangkat kriteria, siswa akan dapat membuat pilihan yang optimal.
5. Siswa akan dapat mengembangkan rencana untuk mengimplementasikan solusinya.

6. Siswa akan dapat mengartikulasikan bagaimana Creative Problem Solving dapat


digunakan di berbagai bidang
A. Pengertian Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)
Menurut teori belajar kognitif, pemecahan masalah dipandang sebagai aktivitas mental
yang melibatkan keterampilan berfikir kompleks. Hal ini juga sesuai dengan pendapat
Kirkley (2003) yang menyatakan bahwa pemecahan masalah melibatkan keterampilan
berfikir tingkat tinggi seperti visualisasi, asosiasi, abstraksi, manipulasi, penalaran,
analisis, sintesis dan generalisasi.

Pemecahan masalah adalah proses yang melibatkan penggunaan langkah-langkah


tertentu, yang sering disebut sebagai model atau langkah-langkah pemecahan masalah,
untuk menemukan solusi suatu masalah (Nakin, 2003).

Pemecahan masalah juga merupakan proses mensintesis berbagai konsep, aturan atau
rumus untuk memecahkan masalah (Kirkley 2003). Pengertian pemecahan masalah ini
mengindikasikan bahwa diperolehnya solusi suatu masalah menjadi syarat bagi proses
pemecahan masalah.

Pemecahan masalah yang melibatkan proses kreatif disebut pemecahan masalah kreatif
(Creative Problem Solving). Creative Problem Solving (CPS) pertama kali diperkenalkan
oleh Alex Osborne sehingga Creative Problem Solving ini dikenal juga dengan nama The
Osborne-Parnes Creativity Problem Solving Models.

Sementara itu menurut Treffinger (2005) model Creative Problem Solving disebut
sebagai model konseptual mengusulkan tiga komponen proses, yaitu 1) memahami
tantangan; 2) menghasilkan gagasan; 3) menyiapkan tindakan. Komponen-komponen
proses tersebut terdiri dari enam tahap dimana menekankan adanya keseimbangan dalam
menggunakan kemampuan berfikir kreatif dan kritis. Tiga komponen utama dalam CPS
yang saling berkaitan (membentuk siklus) yang dapat dilihat pada gambar.

Komponen memahami tantangan merupakan suatu upaya sistimatis untuk menegaskan,


membangun atau berfokus pada suatu usaha pemecahan masalah. Komponen proses
kedua yakni menghasilkan gagasan merupakan suatu tahap menghasilkan banyak pilihan
yang bervariasi dan tidak biasa sebagai respon terhadap masalah yang ada. Sedangkan
komponen proses ketiga adalah menyiapkan tindakan, yakni suatu tahap untuk membuat
keputusan, mengembangkan, atau untuk memperkuat alternatif solusi yang telah dipilih,
dan untuk merencanakan keberhasilan implementasi aksi.
Model treffinger merupakan salah satu dari sedikit model yang menangani masalah
kreativitas secara langsung dan memberikan saran-saran praktis bagaimana mencapai
keterpaduan. Menurut Shoimin (2014: 219) model treffinger untuk mendorong belajar
kreatif menggambarkan susunan tiga tahap yang mulai dengan unsur-unsur dasar dan
menanjak ke fungsi-fungsi berpikir yang lebih majemuk, peserta didik terlibat dalam
kegiatan membangun keterampilan pada dua tahap pertama untuk kemudian menangani
masalah kehidupan nyata pada tahap ketiga.

Menurut Sunata (dalam Shoimin, 2014: 219) model treffinger adalah suatu strategi
pembelajaran yang dikembangkan dari model belajar kreatif yang bersifat developmental
dan mengutamakan segi proses. Strategi pembelajaran yang dikembangkan Treffinger
yang berdasarkan kepada model belajar kreatifnya.

Lebih lanjut Huda (2013: 318) model treffinger sebenarnya tidak berberda jauh dengan
model pembelajaran yang digagas oleh Osborn. Model treffinger ini juga dikenal dengan
Creative Problem Solving, kedua sama-sama berupaya untuk mengajak peserta didik
berpikir kreatif dalam menghadapi masalah, namun sintak yang diterapkan antara Osborn
dan Treffinger sedikit berbeda satu sama lain.

Menurut Treffinger (dalam Huda, 2013: 218) model treffinger adalah model yang
berupaya untuk mengajak peserta didik berpikir kreatif dalam memecahkan masalah
dengan memperhatikan fakta-fakta penting yang ada di lingkungan sekitar lalu
memunculkan berbagai gagasan dan memilih solusi yang tepat untuk diimplementasikan
secara nyata.

Menurut Ngalimun, (2014: 179) pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan
pengetahuan siap dengan sintaks: keterbukaan-urutan ide-penguatan, penggunaan ide
kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara
mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama, kebebasan-
terbuka, reward.

Strategi pemecahan masalah kreatif dalam penyelesaian problematik maksudnya segala


cara yang dikerahkan oleh seseorang dalam berpikir kreatif, dengan tujuan menyelesaikan
suatu permasalahan secara kreatif. Dalam implementasinya, Treffinger, dilakukan melalui
solusi kreatif.
Menurut Noller (dalam Suryosubroto, 2009: 199) solusi kreatif sebagai upaya pemecahan
masalah yang dilakukan melalui sikap dan pola pikir kreatif, memiliki banyak alternatif
pemecahan masalah, terbuka dalam perbaikan, menumbuhkan kepercayaan diri,
keberanian menyampaikan pendapat, berpikir divergen, dan fleksibel dalam upaya
pemecahan masalah.

Menurut Sarson (dalam Huda, 2013: 320) karakteristik yang paling dominan dari model
pembelajaran treffinger ini adalah upayanya dalam mengintegrasikan dimensi kognitif
dan afektif peserta didik untuk mencari arah-arah penyelesaian yang akan ditempuhnya
untuk memecahkan permasalahan, artinya peserta didik diberikan keleluasaan untuk
berkreativitas menyelesaikan permasalahannya sendiri dengan cara-cara yang ia
kehendaki, tugas guru adalah membimbing peserta didik agar arah-arah yang ditempuh
oleh peserta didik ini tidak keluar dari permasalahan.

Menurut Shoimin (2014: 218) karakteristik model treffinger adalah melibatkan


keterampilan kognitif dan afektif pada setiap tingkat dari model ini, treffinger
menunjukkan saling hubungan dan ketergantungan antara keduanya dalam mendorong
belajar kreatif.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model


pembelajaran treffinger adalah model pembelajaran yang mengajak peserta didik berpikir
kreatif dalam memecahkan masalah dengan memperhatikan fakta-fakta penting yang ada
di lingkungan sekitar lalu memunculkan berbagai gagasan dan memilih solusi yang tepat
untuk diimplementasikan secara nyata. Model ini lebih menekankan pada aspek kognitif
dan afektif peserta didik dalam pembelajaran.

B. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)

Kelebihan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)


Menurut Huda (2013: 320) manfaat yang bisa diperoleh dari menerapkan model ini antara
lain:
a. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memahami konsep-konsep dengan
cara menyelesaikan suatu permasalahan.
b. Membuat peserta didik aktif dalam pembelajaran.
c. Mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik karena disajikan masalah pada
awal pembelajaran dan memberi keleluasaan kepada peserta didik untuk mencari arah-
arah penyelesaiannya sendiri.
d. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mendifinisikan masalah,
mengumpulkan data, menganalisis data, membangun hipotesis, dam percobaan untuk
memecahkan suatu permasalahan.
e. Membuat peserta didik dapat menerapkan pengetahuan yang sudah dimilikinya ke
dalam situasi baru.

Kelemahan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)


Menurut Huda (2013: 320) kelemahan dari menerapkan model treffinger antara lain:
a. Perbedaan level pemahaman dan kecerdasan peserta didik dalam menghadapi masalah.
b. Ketidaksiapan peserta didik untuk menghadapi masalah baru yang dijumpai di
lapangan.
c. Model ini mungkin tidak terapkan untuk peserta didik taman kanak-kanak atau kelas-
kelas awal sekolah dasar.
d. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mempersiapkan peserta didik
melakukan tahp-tahap di atas.

Shoimin (2014: 222) kelemahan model treffinger yaitu butuh waktu yang lama. Namun
menurut Shoimin (2014: 221-222) model treffinger memiliki kelebihan yaitu sebagai
berikut:
a. Mengasumsikan bahwa kreativitas adalah proses dan hasil belajar.
b. Dilaksanakan kepada semua peserta didik dalam berbagai latar belakang dan tingkat
kemampuan.
c. Mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif dalam pengembangannya.
d. Melibatkan secara bertahap kemampuan berpikir konvergen dan divergen dalam proses
pemecahan masalah.
e. Memiliki tahapan pengembangan yang sistematik, dengan beragam metode dan teknik
untuk setiap tahap yang dapat diterapkan secara fleksibel.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa kelebihan


dari model treffinger yaitu lebih menekankan aspek kognitif dan afektif peserta didik.
Melalui model treffinger peserta didik diberi kesempatan untuk memahami konsep-
konsep dengan cara menyelesaikan suatu permasalahan, peserta didik menjadi aktif dalam
pembelajaran, dikembangkannya kemampuan berpikir peserta didik dan kemampuan
menyelesaikan permasalahan, serta peserta didik dapat menerapkan pengetahuan yang
sudah dimilikinya ke dalam situasi baruModel Pembelajaran Creative Problem Solving
(CPS).

Kekurangan dari model treffinger yaitu memerlukan waktu yang lama, sehingga untuk
meminimalisir kekurangan tersebut maka guru perlu memperhatikan perbedaan level
pemahaman dan kecerdasan peserta didik dalam menghadapi masalah dan kesiapan
peserta didik untuk menghadapi masalah dalam pembelajaran.

C. Langkah- langkahModel Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)


Treffinger (dalam Huda, 2013: 318) menyebutkan bahwa model pembelajaran ini terdiri
atas 3 komponen penting yaitu understanding challege, generating ideas, dan preparing
for action. Penjelasan sintaknya mengenai model ini sebagai berikut:

a. Komponen I - Understanding Challege (Memahami Tantangan)


yaitu 1) menentukan tujuan: guru menginformasikan kompetensi yang harus dicapai
dalam pembelajarannya, 2) menggali data: guru mendemonstrasi/ menyajikan fenomena
alam yang dapat mengundang keingintahuan peserta didik dan 3)

b. merumuskan masalah
Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengindentifikasi permasalahan.

c. Komponen II - Generating Ideas (Membangkitkan Gagasan)


yaitu memunculkan gagasan: guru memberi waktu dan kesempatan pada peserta didik
untuk mengungkapkan gagasannya dan juga membimbing peserta didik untuk
menyepakati alternatif pemecahan masalah yang akan diuji.

d. Komponen III - Preparing For Action (Mempersiapkan Tindakan)


yaitu 1) mengembangkan solusi: guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah, 2) membangun penerimaan: guru mengecek solusi yang telah
diperoleh peserta didik dan memberikan permasalahan yang baru namun lebih kompleks
agar peserta didik dapat menerapkan solusi yang telah ia peroleh.

Menurut Munandar (dalam Shoimin, 2014: 219-220) model treffinger terdiri dari
langkah-langkah berikut:

a. Tahap I: basic tools


Basic tool atau teknik kreativitas meliputi keterampilan berpikir divergen dan teknik
kreatif. Adapun kegiatan pembelajaran pada tahap I yaitu (1) guru memberikan suatu
masalah terbuka dengan jawaban lebih dari satu penyelesaian, (2) guru membimbing
peserta didik melakukan diskusi untuk menyampaikan gagasan atau idenya sekaligus
memberikan penilaian pada masing-masing kelompok.

b. Tahap II: practice with process


Practice with process yaitu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan
keterampilan yang telah dipelajari pada tahap I dalam situasi praktis. Kegiatan
pembelajaran pada tahap II yaitu (1) guru membimbing dan mengarahkan peserta didik
untuk berdiskusi dengan memberikan contoh analog, (2) guru meminta peserta didik
membuat contoh dalam kehidupan sehari-hari.

c. Tahap III: working with real problems


Working with real problem, yaitu menerapkan keterampilan yang dipelajari pada dua
tahap pertama terhadap tantangan pada dunia nyata.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa yang


dimaksud dengan model pembelajaran treffinger adalah model pembelajaran yang
berupaya untuk mengajak peserta didik berpikir kreatif dalam menghadapi masalah.
Model treffinger merupakan model yang menangani masalah kreativitas secara langsung
dan memberikan saran-saran praktis bagaimana mencapai keterpaduan. Model ini lebih
menekankan pada aspek kognitif dan afektif peserta didik dalam pembelajaran.

Schoenfeld, Alan H.. 1985. Mathematical Problem Solving. Orlando: Academic


Press, Inc..

Iki yo nek perlu dibuka


62