Anda di halaman 1dari 1

Restorasi Sungai dan Penataan Hunian Tepi Sungai

Dampak cepatnya pembangunan kota dan berkurangnya daerah resapan air


menjadi daerah terbangun. Permasalahan pokok yang dijumpai di daerah aliran
sungai adalah erosi dan degradasi lahan, banjir, penurunan kualitas air sungai, dan
pendangkalan sungai. Kota besar di seluruh dunia mengalami banjir dan mulai
kewalahan mengatasinya, termasuk kota di Indonesia.
Penyelesaian banjir di Indonesia masih berfokus pada sungai, yakni dengan metode
normalisasi atau pembangunan turab berdinding beton di bantaran sungai.
Normalisasi sungai dianggap sebagai solusi paling cepat, namun Penanganan
tersebut tidak efektif mengatasi permasalahan banjir jangka panjang. Kini, terjadi
pergeseran paradigma penanganan banjir oleh negara maju seperti Jepang,
Belanda, dan Amerika Serikat. Penanganan kini bersifat menyeluruh (integrated
flood management), yaitu kombinasi berbagai upaya yang bersifat infrastruktur dan
non-struktur. Perencana kota, arsitek, penyusun detail tata ruang, dan aktor
perencanaan kota harus mulai berfokus pada restorasi kampung tepian sungai,
yakni dengan peningkatan fungsi filter vegetatif dengan penanaman rumput,
belukar, dan pohon pohonan atau dengan membuat sediment trap, restorasi sungai
dari turab beton benjadi alami, dan memberlakukan regulasi daerah resapan
(berupa ruang biru dan wetland) dengan presentase lebih (60-70%) pada area
kampung di daerah aliran sungai untuk mengurangi penurunan muka tanah.
Penanaman tanaman permanen pada luasan sekitar 10% saja dari luas DAS,
mungkin sudah sangat efektif dalam mengurangi sedimentasi ke sungai asalkan
tanaman tersebut ditanam pada tempat yang benar-benar menjadi masalah,
misalnya pada zone riparian (zone penyangga di kiri kanan sungai).

Tindakan konservasi tanah harus disesuaikan dengan keadaan sosial ekonomi setempat
(misalnya status pemilikan tanah, tenaga kerja, penghasilan rumah tangga). Tindakan
konservasi yang mudah diterima petani adalah tindakan yang memberi keuntungan jangka
pendek dalam bentuk peningkatan hasil panen dan peningkatan pendapatan, terutama
untuk petani yang status penguasaan lahannya tidak tetap. Kegiatan konservasi yang akan
diterapkan seharusnya dipilih oleh petani dengan fasilitasi penyuluh. Petani paling berhak
mengambil keputusan untuk kegiatan yang akan dilakukan pada lahan mereka.