Anda di halaman 1dari 13

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Makanan merupakan kebutuhan pokok utama untuk menunjang segala aktivitas manusai
karena berfungsi sebagai sumber energi dan sumber zat gizi yang diperlukan di dalam tubuh
seperti karbihidrat, lemak, vitamin, mineral protein dan zat gizi lain yang dibutuhkan oleh
tubuh manusia. Asupan makanan yang salah dapat menyebabkan terganggunya sistem kerja
tubuh yang dapat menghambat aktifitas fisik seseorang. Salah satu penyebab dalam asupan
makanan yang sakah adalah dalam pengolahan makanan tidak olah dengan baik dan tanpa
memperhatikan sanitasi dalam mengelola makanan tersebut sehingga, makanan tersebut
beresiko terkontaminasi dengan bakteri, jamur, virus, dan bahkan menyebabkan terjadinya
rantai penularan penyakit akubat lingkungan yang tidak bersih.
Sanitasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan makanan yang harus dilaksanakan
dengan baik. Sanitasi dapat didefinisikan sebagai suatu usaha pencegahan penyakit dengan
cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai
perpindahan penyakit tersebut. Masalah snitasi menjadi suatu masalah yang kompleks
sehingga senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Kurangnya perhatian akan kondisi sanitasi
lingkungan sekitar yang menjadi sumber vektor mengakibatkan gangguan kesehatan pada
orang yang mengkonsumsi makanan tersebut. Makanan mulai dari proses pengolahan sampai
siap dihidangkan dapat memungkinkan terkontaminsai dengan bakteri. Berbagai faktor yang
dapat meneyebabakan kontaminasi bakteri pada makanan antara lain dapat berasal dari orang
yang mengolah atau menangani makanan termasuk perilaku dan higiene perorangan dan
orang yang menangani makanan tersebut serta faktor tempat/bangunan pengolahan makanan
termasuk sanitasinya ( Depkes, 1999).
Makanan adalah kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia, agar makanan dapat berfungsi
sebagaimana mestinya, kualitas makanan harus diperhatikan. Salah satu aspek yang harus
diperatikan adalah sanitasi yang mencangkup faktor-faktor lingkungan hidup yang dapat
menurunkan kualitas makanan itu sendiri. Mulia (2005) menambahkan bahwa “ Dalam
mekanisme pemaparan faktor lingkungan, makanan merupakan salah satu faktor yang dapat
mengakibatkan terpaparnya manusia terhadap penyakit”. Faktor lingkungan tersebut sangat
berpengaruh besar dalam menjaga kualitas makanan karena lingkungan yang bersih saat
mengolah makanan akan menjamin makanan tersebut bersih dan tidak menjadi rantai

1
penularan penyakit. Hal ini terwujud bila ditunjang dengan keadaan sanitasi Tempat
Pengolahan Makanan (TPM) yang baik dan dipelihara secara bersama oleh pengusaha dan
masyarakat, karena tempat pengolahan maknaan memiliki potensi yang cukup besar untuk
menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit bahkan keracunan akibat dari makanan yang
dihasilkan. Dengan demikian kualitas makanan yang dihasilkan, disajikan dan dijual oleh
TPM harus memenuhi syarat-syarat kesehatan. Melalui makalah ini kami akan membahas
tentang faktor lingkungan yang terkait dengan sanitasi tempat pengolahan makanan mulai
dari persyarat tempat pengolahan makanan yang baik dan manfaat memiliki sanitasi tempat
pengolahan makanan yang baik.

1.2 Rumusan Masalah


A. Apa itu Tempat Pengolahan Makanan (TPM) ?
B. Apa saja persyaratan dari Sanitasi Tempat Pengolahan Makanan (TPM) ?
C. Bagaimana cara Pembersihan dan Pemeliharaan Tempat Pengolahan makanan ( TPM) ?
D. Apa manfaat dari Sanitasi Tempat Pengolahan Makanan (TPM) ?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui Sanitasi Tempat Pengolahan Makanan (TPM).
b. Untuk mengetahui persyaratan dari Sanitasi Tempat Pengolahan Makanan (TPM).
c. Untuk mengetahui cara Pembersihan dan Pemeliharaan Tempat Pengolahan
makanan(TPM).
d. Untuk mengetahui manfaat dari Sanitasi Tempat Pengolahan Makanan (TPM).

1.4 Metode Penulisan


Metode yang digunakan dalam menyelesaikan tugas ini adalah kepustakaan.

2
BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tempat Pengolahan Makanan


Tempat Pengolahan makanan adalah suatu tempat dimana makanan-makanan
diolah sampai disajkan atau yang biasa disebut dengan dapur. Dapur merupakan salah
satu bagian dari sebuah rumah, rumah sakit, asrama, atau hotel yang digunakan untuk
menyiapkan dan mengelola bahan makanan serta menyajikannya sehingga menjadi aneka
ragam hidangan yang siap untuk dimakan. Dapur memiliki fungsi tersendiri yaitu
sebagai tempat persiapan, pemanasan/pengolahan, pendinginan, pencampuran,
pewadahan/pengawasan, pencucian peralatan, cuci tangan dan penyimpanan. Ruang atau
tempat pengolahan makanan atau dapur juga berperan dalam menentukan berhasil
tidaknya upaya sanitasi secara keseluruhan. Dapur yang bersih dan dipelihara dengan
baik akan merupakan tempat yang higienis sekaligus menyenangkan sebagai tempat
kerja. Dapur seperti itu juga dapat menimbulkan citra ( image) yang baik bag institusi
yang bersangkutan (cooleer dkk, 1990). Ruang dapur tidak perlu besar, karena untuk
menyimpan lemari persediaan bahan makanan, lemari alat-alat yang tidak digunakan
setiap hari, tempat beras dan sebagainya di bangun gudang yang letaknya berdekatan
dengan dapur.
Gedung-gedung yang dibangun di zaman dahulu (coba perhatikan gedung
kabupaten, kowedanan, atau gedung-gedung kuno) mempunyai dapur yang letaknya jauh
dari bangunan induk. Dapur dan bangunan induk dihubungkan dengan sebuah gang
(lorong). Pola ini disebabkan kerena pada waktu itu digunakan tungku dengan kayu bakar
sebagai bahan bakar yang menimbulkan asap yang dapat mengganggu skebersihan dan
ketertiban ruangan lainya. Peralatan memasak masih sederhana, bila di pakai
menimbulkan kegaduhan yang mengganggu penghuni Seperti, mencincang daging
dengan pisau cincang di atas telanan kayu; menumbuk bumbu dalam lumping batu, dll.
Dapurnya luas karena selain untuk memasak sering pula digunakan untuk menyimpan
padi, hasil palawija seperti jagung, ubi jalar, kacang kedelai, dsb. Dapur semacam ini
hingga sekarang masih terapat di pedesaan.
Berkat penemuan peralatan memasak yang praktis, bersih dan tidak mengganggu
ketenangan orang lain, (kompor gas atau kompor listrik sebagai alat pemanas, alat

3
penghancur bahan makanan, alat mengocok telur bertenaga listrik), memungkinkan untuk
membangun dapur berdekatan dengan ruang makan. Untuk memudahkan mencuci bahan
makanan yang akan diolah, atau piring, dan peralatan lainnya, dibuat bak cuci permanen
pada salah satu dinding dapur, oleh karena itu dapur mempunyai peranan yang penting
dalam proses pengolahan makanan sehingga, kebersihan dapur dan sekitarnya harus terus
dijaga dan harus mememnuhi persyaratan sanitasi.

2.2 Persyaratan Sanitasi Tempat Pengolahan Makanan


Tempat pengolahan makanan harus cukup untuk orang bekerja dengan mudah dan
efisien, mencegah kemnunginan kontaminasi makanan dan memudahkan pembersihan.
Rung pengolahan tidak boleh berhubungan langsun dengan jamban, kamar mandi, dan
dibatasi dengan ruangan antara. Terdapat dua hal yang menentukan dalam menciptakan
saniter dapur adalah konstruksi dapur dan tata letak dapur.
a. Konstruksi Dapur
Konstruksi bangunan dapur meliputi dinding, lantai, langit-langit, ventilasi, dan
pencahayaan, dan lainnya. Salah satu hal uatama yang perlu diperhatikan dalam
merencanakan dapur yang baik, adalah konstruksi bangunan yang anti tikus (
rodentproof). Kontruksi dapur sebaiknya menghindari terbentuknya sudut-sudut dan
celah mati yang sulit dibersihkan. Bagian ruangan seperti ini kemungkinan besar akan
menjadi tempat akumulasi kotoran, atau tempat bersarangnya serangga dan hewan
pengerat.
Berdasarkan Persyaratan sanitasi Tempat pengolahan makanan menurut (Permenkes
1098/Menkes/sk/VII/2003 tentang Hygiene rumah makan dan restoran). Yang perlu
diperhatikan dari tempat pengolahan antara lain:
1. Lantai
Permukaan lantai harus rata, lantai harus dibuat dari bahan yang kuat dan tahan
lama akan kerusakan dan korosi bila terkena air, garam, basa, asam atau bahan
kimia lainnya, kedap air, tidak tergenang air, mudah dibersihkan, tidak licin, lantai
ruang pengolahan mempunyai kelandaian yang cukup kearah saluran
pembuangan. Lantai hendaknya dalam keadaan bersih dan terpelihara sebelum
dan sesudah melakukan kegiatan. Pertemuan lantai dengan dinding ( tidak

4
membuat sudut mati) dengan tujuan agar sisa-sisa kotoran mudah dibersihkan dan
tidak tertinggal atau menumpuk di sudut-sudut lantai. Pemakaian karpet sebagai
penutup lantai harus dari bahan yang mudah dibersihkan. Karpet tidak boleh
digunakan pada area preparasi makanan, ruang penyimpanan, dan area pencucian
peralatan karena akan terekspos air atau minyak ( cichy, 1984).
2. Dinding
Dinding pada tempat pengolahan sekurang – kurangnya satu meter diatas
permukaan lantai harus kedap air. Permukaan dinding bagian dalam harus rata
berwarna terang , halus, kuat dan kokoh, taham lama, tahan garam, tahan asam,
tahan basa, dan bahan kimia lainnya seta mudah dibersihkan. Dinding tidak dalam
keadaan rusak dan lembab.
Permukaan dinding yang sering terkena percikan air misalnya di tempat
pencucian dan tempat percikan dipasang porelin atau logam anti karat setinggi 2
(dua) meter dari langit. Tinggi dua meter dimaksudkan sebagai batas jangkauan
tangan dalam posisi berdiri, sehingga bilamana dinding pada jangkauan tersebut
dipasang porselin dapat mudah dibersihkan untuk itu, apabila digunakan pelapis
dinding, bahannya harus tidak beracun ( nontoxic).
Dari segi keamanan, dapur harus di buat dari bahan yang tidak mudah terbakar.
Kalau keuangan mengijinkan, ¾ dinding dibuat dari tegel porselin, tetapi bila
tidak mungkin di cat pun baik; kedua macam dinding tersebut selain tidak mudah
terbakar, dapat du cuci bila perlu. Dari segi kepraktisan dapur seharunya
berdekatan dengan ruang makan.
3. Atap
Atap pada pengolahan makanan air harus dibuat kedap air dan tidak bocor.
Tidak mudah terbakar atau tahan lama serta konstruksinya bebas tikus. Tinggi
langit-langit minimal 2,4 meter di atas lantai, makin tinggi langit-langit, makin
baik perysratannya, karena jumlah oksigen ruangan semakin banyak.
4. Langit-langit : langit-langit harus terbuat dari bahan yang tahan debu, tahan lama,
kedap air, dan mudah dibersihkan. Luas langit-langit harus menutupi permukaan
bawah atap dan rata, konstruksi bebas tikus dan sekurunag-kurangnya 2,4 meter

5
dari permukaan lantai. Permukaan langit-langit bagian dalam harus rata dan
berwarna ternag, kedap air, mudah dibersihkan, dan dalam keadaan bersih.
5. Pencahayaan : pecahayaan sebaiknya tidak menyilaukan dan tersebar merata
sehingga sedapat mungkin tidak menimbulkan bayangan nyata. Intensitas
pencahayaan/ penerangan setiap ruangan harus cukup untuk melakukan pekerjaan
pengolahan makanan secara efektif dan kegiatan pembersih ruangan.
6. Penghawaan atau ventilasi : penghawaan ini harus cukup, sehingga tidak
menimbulkan bau yang tidak sedap dan dapat menjaga keadaan nyaman .Suhu
nyaman berkisar 28oc-32oc, sehingga Ventilasi yang cukup dapat mencegah udara
dalam ruangan menjadi panas, mencegah terjadinya kondensasi uap air atau lemak
pada lantai, dinding atau langit, dan membuang asap, bau dan pencemaran lain
dari ruangan. Luas ventilasi ini minimal 10% dari luas lantai ruangan. Ventilasi
dapat diperoleh secara alamiah dengan membuat lubang penghawaan yang cukup.
Lubang penghawaan bisa berupa penghawaan tetap dan ditutup ( misalnya jendela
yang bisa dibuka dan dituttup). Bila ventilasi alamiah tidak dapat memenuhi
persyaratan maka bisa dibuat ventilasi buatan berupa ventilasi mekanis, misalnya
kipas angin dan AC.
7. Pintu dan Jendela
Pintu di ruangan memasak harus dapat ditutup sendiri (self closing) dan membuka
ke arah luar. Jendela, pintu dan lubang ventilasi harus dilengkapi dengan kawat
kasa yang dapat dibuka dan dipasang. Semua pintu dari ruang tempat pengolahan
makanan dibuat menutup sendiri atau dilengkapi peralatan anti lalat, seperti kawat
kasa, tirai plastik, pintu rangkap dan lain-lain. Setiap bagian bawah pintu
sebaiknya dilapisi dengan logam setinggi 36 cm., untuk mencegah masuknya
tikus. Jarak pintu dengan lantai harus cukup rapat dan tidak lebih dari 5mm. Pintu
dapur dibuat membuka kearah luar dengan maksud agar:
a. Mencegah masuknya lalat, karena pada saat pintu dibuka terjadi dorongan
angin sehingga lalat menjauh dari pintu.
b. Untuk memudahkan penyelamatan diri pada waktu keadaan darurat seperti
kebakaran dan sebagainya. Pada waktu panik, pintu langsung terdorong ke
arah luar.

6
8. Pembuangan Asap
Persyaratan sanitasi tempat pengolahan makanan untuk pembuangan asap adalah
dapur harus dilengkapi dengan pengumpal asap dan juga harus dilengkapi dengan
penyedot asap untuk mengeluarkan asap dan cerobongnya.
9. Penyediaan Air bersih
Air bersih harus tersedia dengan cukup untuk seluruh kegiatan pengolahan
makanan. Kualitas air bersih harus memenuhi syarat Peraturan Menteri kesehatan
nomor: 461/menkes/Per/IX/1990 yaitu air bersih secara fisik adalah jernih, tidak
berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau dan bebas dari kuman penyakit. Untuk
air biasa harus direbus terlebih dahulu sebelum digunakan.
10. Penampungan dan Pembuangan Sampah
Sampah harus ditangani sedemikian rupa untuk menghindari pencemaran
makanan dari tempat sampah harus dipisahkan antara sampah basah dan sampah
kering serta diusahakan pencegahan masuknya serangga ketempat pembuangan
sampah yang memenuhi syarat kesehatan antara lain:
a. Terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah berkarat.
b. Mudah dibersihkan dan bagian dalam dibuat licin, serta bentuknya dibuat
halus.
c. Mudah diangkat dan ditutup.
d. Kedap air, terutama menampung sampah basah.
e. Tahan terhadap benda tajam dan runcing.
Disamping itu sampah harus dikeluarkan dari tempat pengolahan makanan
sekurang-kurangnya setiap hari. Segera setelah sampah dibuang, tempat sampah
dan peralatan lain yang kontak dengan sampah harus dibersihkan.
11. Pembuangan Limbah
Harus ada sistem pembuangan limbah yang memenuhi syarat kesehatan. Bila
tersedia saluran pembuangan air limbah di Kota, maka sistem drainase dapat
disatukan dengan alur pembuangan tersebut harus didesain sedemikian rupa
sehingga air limbah segera terbawa keluar gedung dan mengurangi kontak air
limbah dengan lingkungan di luar sistem saluran.

7
12. Perlindungan dari serangga dan tikus
Serangga dan tikus sangat suka berserang ataupun berkembang biak pada tempat
pengolahan makanan, oleh karena itu pengendaliannya harus secara rutin karena
binatang tersebut bisa sebagai pembawa penyakit dan sekaligus menimbulkan
kerugian ekonomi.
Karena kebiasaan hidupnya, mereka dapat menimbulkan gangguan kesehatan .
Mereka dapat memindahkan kuman secara mekanis baik langsung kedalam
makanan/bahan makanan atau langsung mengontaminasi peralatan pengolahan
makanan dan secara biologis dengan menjadi vektor beberapa penyakit tertentu.
Beberapa penyakit penting yang dapat ditularkan/disebarkan antara lain demam,
malaria, disendtri, pest. Infestasi serangga tikus, tikus dapat pula menimbulkan
kerugian ekonomi karena mereka merusak bahan pangan dan peralatan
pengolahan makanan.
13. Jamban dan Peturasan
Tempat Pengolahan Makanan (TPM) harus mempunyai jamban dan peturasan
yang memenuhi syarat kesehatan serta memenuhi pedoman pumbling Indonesia.
Jamban harus dibuat dengan leher angsa dan dilengkapi dengan air penyiraman
dan untuk pembersih badan yang cukup serta tissue dan diberi tanda
pemberitahuan bahwa setiap pemakai harus mencucui tangan dengan sabun
sesudah menggunakan jamban.
14. Fasilitas Pencucian peralatan dan bahan makanan
Terbuat dari bahan yang tidak kuat, tidak berkarat dan mudah dibersihkan.
Peralatan dan bahan makanan yang telah disimpan dalam tempat yang terlindung
dari kemungkinan pencemaran oleh serangga, tkus dan serangga lainnya.
15. Tempat cuci tangan
Tersedia tempat cuci tangan yang terpisah dengan tempat cuci peralatan mauppun
bahan makanan yang dilengkapi dengan air kran, saluran pembuangan tertutup,
bak penampungan, sabun dan pengering.

8
2. Tata Letak Dapur

Tata letak peralatan dapur yang baik pada dasarnya harus memenuhi 2 tuntutan yaitu :

a. Memungkinkan dilakukannya pekerjaan pengolahan makanan secara runtut dan


efisien.
Penataan alat pengolahan dan fasilitas penunjang mengikuti urutan pekerjaan yang
harus dilalui, dari bahan mentah sampai makanan siap disajikan, yaitu mulai
preparasi, pengolahan, atau pemasakan, dan penyajian. Kontaminasi silang produk
makanan dari bahan mentah dapat dihindari apabila jalur yang ditempuh produk
makanan terpisah dari jalur bahan mentah. Penanganan peralatan yang kotor harus
menggunakan fasilitas penampung air yang berbeda dengan yang akan digunakan
untuk pengolahan. Fasilitas penyimpanan untuk makanan masak dipisahkan dari
makanan mentah.
b. Terhindarnya kontaminasi silang produk makanan ari bahan mentah, peralatan kotor,
dan limbah pengolahan.
Letak container limbah atau sampah dijauhkan dari produk makanan dan dalam
keadaan tertutup rapat. Sanitasi dapur dapat diupayakan dengan pembersihan secara
rutin, diikuti aplikasi sanitaiser apabila diperlukan. Makanan yang tercecer dilantai
harus segera dibersihkan. Lantai juga harus disapu dan dipel setiap hari dengan cara
sanitaiser. Dinding dan langit-langit dibersihkan sekurang-kurangnya 1 bulan sekali.,
dengan metode pembersihan yang sesuai misalnya, dengan aplikasi pembersih
menggunakan busa (Jenie, 1996).

2.3 Pembersih dan Pemeliharaan Tempat Pengolahan Makanan


Seluruh bangunan dan tempat pengolahan makanan harus selalu terpelihara
kebersihannya. Bila ada bagian yang rusak atau tidak berfngsi harus segera diperbaiki
atau diganti dengan yang baik. Tempat pengolahan makanan harus selalubersih oleh
sebab itu harus ada upaya permbersih ruang dan bangunan secara teratur. Tujuan
pembersihan ruangan atau bangunan adalah agar ruangan kerja layak pakai, yaitu dalam
arti bersih dan estetis.

9
a. Prinsip pembersih ruangan
Pada prinsipnya pembersihan ruangan adalah sebagai berikut:
 Tersedia sarana pembersih.
 Mengetahui jenis lantai, dinding, plafon, ventilasi dan karakteristiknya.
 Menggunakan teknik dan prosedur yang benar dan sesuai dengan tujuannya.
 Waktu dan frekuensi pencucian atau pembersih.
b. Sarana pencucian/pembersih ruangan
Sarana yang diperlukan adalah peralatan, air, deterjen, desinfektan dan deodorant.
Peralatan mesin tentu lebih efektif daripada manual untuk bidang yang lebih luas,
akan tetapi akan sulit untuk bidang kerja yang lebih sempit. Contohnya seperti:
 Sapu yang digunakan sebagai pembersih debu dan sampah yang agak kecil,
mulai dari yang halus sampai yang kasar.
 Brush (sikat) untuk membersihkan kotoran atau noda yang sulit dibersihkan
oleh sapu seperti kotoran pada celah atau kotoran yang lengket di lantai, mulai
dari bulu, plastik dan logam.
 Kain pel untuk membersihkan sekaligus mengeringkan lantai dan permukaan
yang dibersihkan lainnya, mulai dari kain kasar sampai bahan kanebo.
 Monceng yang digunakan untuk membersihkan debu yang menempel pada
kca, meja dan perabotan, mulai dari bulu ayam, sintesis dan bulu palsu.
 Kain lap yang digunakan untuk melap barang-barang agar bersih dari kotoran
dan debu, seperti lap meja, lap tangan, lap piring dan sebagainya.
 Mesin penghisap debu
Untuk membersihkan debu pada lantai.
c. Cara pembersihan peralatan lainnya adalah:
 Tangga, pegangan pintu/jendela, pipa-pipa dicuci dengan kain atau air dan
deterjen dibersihkan setiap minggu.
 Semua permukaan atas meja kerja, kursi dan kakinya dicuci dan dilap dnegan
air panas, deterjen, dan dibersihkan setiap selesa dan dipergunakan.
 Mesin pengiris/pemotong/penggiling daging, bumbu, cabe. Pertama-tama
matikan mesinnya, cabut sambungan listriknya, bongkar dan pisahkan bagian-
bagian yang tidak boleh kena air. Rendam bagian yang boleh kena air panas

10
yang diberi deterjen dan keringkan dan pembersihan dilakukan selesai
dipergunakan.
 Mesin cuci piring, gelang, sendok dan lain-lain disikat, dengan kain basah
yang diberi deterjen.
 Almari, laci, rak-rak dan tempat penyimpanan lainnya. Dipindah isi dari
almari kemudian dibersihkan dnegan kain basah dan dikeringkan dan
dibersihkan setiap minggu.
 Troli (kereta dorong) dan ban berjalan dibersihkan dengan kasin basah
menggunakan air, deterjen, kemudian dikeringkan dan dilakukan rutin setiap
seminggu sekali.
 Lemari pendingin/pembeku. Pertama matikan kontaknya dengan listrik,
setelah bunga es mencair bersihkan dengan kain basah menggunakan air,
deterjen, kemudia dikeringkan. Pembersihan dilakukan sebulan sekali.
 Pintu penutup plastik
Dibersihkan dengan kain basah menggunakan air, deterjen, kemudian
dikeringkan dan pembersihan dilakukan setiap hari.
 Gang disebelah tempat penyimpanan makanan dibersihkan dengan kain basah
yang mengandung deterjen, kemudian dikeringkan semiggu sekali.

2.4 Manfaat Sanitasi Tempat Pengolahan Makanan

Manfaat Tempat Pengolahan Makanan

Menurut ( Badan Pengawas Obat dan Makanan Deput Badan Penagawasan Keamanan
Pangan dan Bahan Berbahaya Direktorat Surveilans dan Penyuluhan Keamanan Pangan :
2002), bahwa manfaat dari tempat makanan yang baik adalah sebagai berikut :

1. Menentukan mutu dan keamanan kualitas makanan yang dihasilkan suatu industri
makanan. Kondisi tempat pengolahan yang nyaman akan membuat karyawan bekerja
dengan tenang, sebaliknya kondisi setempat pengolahan yang dikacaukan menganggu
pekerjaan karyawan. Oleh karena itu, selain harus tetap bersih, tempat pengolahan
juga harus dijaga tetap nyaman.

11
2. Ventilasi yang cukup menghasilkan pertukaran udara panas dan lembab didalam
ruangan pengolahan, diganti dengan udara segar.

3. Pencahayaan yang cukup membantu karyawan mengerjakan tugasnya dengan baik,


nyaman, serta tidak menyebabkan terjadinya kesalahan kerja.

12
BAB III. PENUTUP
3.1 Simpulan
Makanan merupakan kebutuhan pokok utama untuk menunjang segala aktivitas manusai
karena berfungsi sebagai sumber energi dan sumber zat gizi yang diperlukan di dalam
tubuh seperti karbihidrat, lemak, vitamin, mineral protein dan zat gizi lain yang
dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dalam mengolah makanan hal yang sangat penting di
perhaitikan adalah Sanitasi. Sanitasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan
makanan yang harus dilaksanakan dengan baik. Sanitasi dapat didefinisikan sebagai
suatu usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-
faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit tersebut. Selain itu
dalam mengolah makanan menggunakan sanitasi yang baik maka hal yang perlu di
perhatikan adalah tempat pengolahan makanan itu sendiri dimana Tempat Pengolahan
makanan adalah suatu tempat dimana makanan-makanan diolah sampai disajkan atau
yang biasa disebut dengan dapur dan Terdapat dua hal yang menentukan dalam
menciptakan saniter dapur adalah konstruksi dapur dan tata letak dapur. Tempat
pengolahan makanan atau dalam hal ini adalah dapur juga sangat penting untuk di jaga
kebersihannya adapun hal yang harus di perhatikan antara lain mengetahui prinsip
pembersihan ruangan, terdapatnya sarana pencucian atau pembersihan ruangan dan
mengetahui cara-cara pembersihan peralatan.
3.2 Saran
 Perlunya masyarakat dalam mengelola makanan menggunakan cara pengolahan atau
sanitasi yang baik agar makanan yang di kelola tetap sehat untuk di konsumsi
 Untuk pengoptimalan penggunaan tempat pengolahan makanan dalam hal ini dapur
,secara baik maka masyarakat harus mengetahui akan pentingnya tempat pengolahan
makanan yang bersih, mengetahui prinsip-prinsip pembersihan ruangan.

13