Anda di halaman 1dari 11

cara menghitung stabilitas bendung

STABILITAS BENDUNG

1. Stabilitas bendung

Suatu konstruksi dikatakan stabil kondisi tersebut mampu menahan semua beban yang berasal dari liar maupun

beban karena berat sendiri konstruksi.

Untuk itu dalam perencanaan ini perlu dilakukan control stabilitas terhadap konstruksi yang telah

direncanakan yang memperkirakan beban – beban yang bekerja selain itu perlu ditinjau kondisi tanah pondasi

bawahnya, karena pada akhirnya semua beban yang bekerja pada bangunan diatas akan disalurkan ketanah

dibawahnya sehingga perlu diperiksa daya dukung ijin tanah.

Dalam analisa stabilitas bendung ini, control stabilitas yang diperhitungkan adalah :

Ø stabilitas terhadap guling

untuk mencegah terjadinya guling, momen guling harus lebih kecil daripada momen tahanan.

Ø Staqbilitas terhadap geser

Untuk mencegah terjadinya geser, gaya – gaya Horizontal harus lebih kecil dari pada gaya – gaya vertical.

Ø Stabilitas terhadap gaya dukung tanah

Tanah sekitar pondasi bendung harus mampu menahan beban ultimate yang dihasilkan oleh tubuh bendung.

Gaya – Gaya yang bekerja pada tubuh bendung

Gaya yang bekerja pada tubuh bendung dan mempunyai arti penting dalam perencanaan adalah :

a. Gaya berat bendung

b. Gaya uplift pressure

c. Gaya hidrostatis

d. Gaya berat air

e. Gaya berat sendimen

f. Gaya hidrodinamis karena gempa.

g. Gaya tekan sedimen

h. Gaya tekanan hidrostatis

Ø Saran-saran
Dari hasil analisa dan perhitungan kami dapat menemukan beberapa saran sabagai berikut:

· Dalam perencanaan sebuah bangunan bendungan perlu adanya study kelayakan bendung sebelum proses

pelaksanaan konstruksi bendung tersebut di laksanakan

· Perencanaan bendung diperlukan pengentahuan tentang pendetailan desain secara rinci untuk mengetahui

faktor keamanan bendung dan manfaat yang di peroleh pada saat bendung tersebut di operasikan, serta untuk

mengetahui ketahanan bangunan bendung yang di rencanakan tersebut pada masa yang akan datang agar sesuai

dengan umur rencana.

· Untuk masa yang akan datang pemeliharaan dan perbaikan struktur bendung secara berkala sangat di

perlukan agar menjamin kapasitas hingga umur rencana.

http://ikaseptihanisunitasari.blogspot.com/2015/07/cara-menghitung-stabilitas-bendung.html
CONTOH PERHITUNGAN STABILITAS DAM / BENDUNG

CONTOH PERHITUNGAN STABILITAS DAM / BENDUNG

DAM SUKASENANG-JAWABARAT ( SEBAGAI EXAMPLE )

1. DESKRIPSI TEKNIK / DASAR TEORI PONDASI

Dalam perencanaan pondasi untuk suatu konstruksi dapat digunakan beberapa type pondasi. Pemilihan Type

pondasi berdasarkan :

 Fungsi bangunan atas ( upper structure ) yang akan dipikul oleh pondasi tersebut

 Besarnya beban dan beratnya bangunan atas

 Keadaan tanah dimana bangunan tersebut akan dibangun

Pondasi tiang pancang dipergunakan sebagai pondasi untuk suatu bangunan apabila tanah dasar di bawah

bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung ( bearing capacity ) yang cukup untuk memikul berat

bangunan dan bebannya. Pondasi tiang juga digunakan untuk mendukung bangunan yang menahan gaya angkat

keatas.

Pondasi tiang mempunyai fungsi :

1. Untuk meneruskan beban bangunan yang terletak diatas air atau tanah lunak, ke tanah pendukung yang

kuat

2. Untuk meneruskan beban ke tanah yang relative lunak sampai kedalaman tertentu sehingga pondasi

banguan mampu memberikan dukungan yang cukup untuk mendukung beban tersebut oleh gesekan

dinding tiang dengan tanah disekitarnya.

3. Untuk mengaker bangunan yang dipengaruhi oleh gaya angkat ke atas akibat tekanan hidrostatis atau

momen penggulingan

4. Untuk menahan gaya – gaya horizontal dan gaya yang arahnya miring

5. Untuk memadatkan tanah pasir, sehingga kapasitas dukung tanah tersebut bertambah

6. Untuk mendukung pondasi bangunan yang permukaan tanahnya mudah tergerus air.

Dalam perencanaan pondasi bangunan ada dua hal utama yang harus diperhatikan :

– Daya dukung tanah, yaitu apakah tanah yang bersangkutan cukup kuat untuk menerima beban pondasi

tanpa terjadi keruntuhan akibat menggeser. Dan hal ini tergantung kekuatan geser tanah.
– Penurunan yang terjadi dan hal ini tergantung pada macam tanah.

Teori daya dukung Terzaghi yang umum dipakai sebagai dasar perhitungan untuk pondasi langsung yang tidak

dalam , dinyatakan dengan rumus

Q = c * Nc + ɣ * D * Nq + 1/2ɣ * B * Nɣ

Dimana :

Q = daya dukung keseimbangan ( ultimate bearing cpasity )

C = Kohesi tanah

ɣ = berat isi tanah

D = dalam pondasi

B = Lebar pondasi

Ф = sudut perlawanan geser

Nc,Nq, dan Nɣ = factor daya dukung yang tergantung kepada besarnya sudut perlawanan geser Ф.

Untuk bentuk pondasi bujur sangkar / persegi , rumus Terzaghi :

Q = 1.3c * Nc * ɣ * D * Nq + 0.4ɣ * B * N

Tabel koefisien daya dukung dari TERZAGHI

Ф Nc Nq Nɣ Nc’ Nq’ Nɣ’

00 5,71 1,00 0 3,81 1,00 0

50 7,32 1,64 0 4,48 1,39 0

100 9,64 2,70 1,2 5,34 4,94 0

150 12,8 4,44 2,4 6,46 2,73 1,2

200 17,7 7,43 4,6 7,9 3,88 2,0

250 25,1 12,7 9,2 9,86 5,6 3,3

300 37,2 22,5 20 12,7 8,32 5,4

350 57,8 41,4 44 16,8 12,8 9,6

400 95,6 81,2 114 23,2 20,5 19,1

450 172 173 320 34,1 35,1 27,00


Untuk keperluan perencanaan ( design ), pondasi tiang dibagi dua golongan :

1. Tiang yang tertahan pada ujungnya ( Point Bearing Piles )

2. Tiang yang tertahan oleh pelekatan antara tiang dengan tanah ( Friction Piles )

Secara teoritis daya dukung keseimbangan tiang ( Q ) dapat dihitung dengan rumus :

Q = ( p . A ) / 3+ ( f. O ) / 5

Dimana :

P = nilai konus ( Kg/ Cm2)

A = Luas tiang ( Cm2 )

F = Jumlah hambatan pelekat ( Kg/ cm’)

O = Keliling Tiang

3 & 5 = factor keamanan.

Rumus tersebut diatas cukup tepat untuk tiang yang dipancangkan sampai lapisan tanah pasir. Bilamana untuk

dipakai pada tiang dilapisan tanah lempung, seharusnya factor keamanan lebih besar dari factor keamanan

tanah berpasir.

Daya dukung tiang dapat diperhitungkan kepada single pile ( bediri sendiri ) dan pile group ( pondasi tiang

pancang kelompok ). Rumus tersebut diatas berlaku untuk tiang pancang yang berdiri sendiri, dengan

memperhitukan daya dukung akibat dari Tahanan pada ujung tiang Point bearing Pile ) dan tahanan pelekatan

antara dinding tiang dan tanah ( Friction Piles ).

Dalam perhitungan pondasi tiang pancang kelompok ( Pile group ), diperhatikan beberapa hal, yaitu :

1. Poer / pelat penutup Pile group dianggap / dibuat kaku sempurna sehingga ,

 Bila beban – beban yang bekerja pada pile group tersebut menimbulkan penurunan maka setelah

penurunan bidang poer tetap akan merupakan bidang datar.

 Gaya – gaya yang akan bekerja pada tiang berbanding lurus dengan penurunan tiang.

1. Jarak antar tiang dalam kelompok

Berdasarkan pada perhitungan daya dukung tanah oleh Dirjen Bina Marga Depertemen PUTL, disyaratkan :

S 2,5 D / 3 D

Dimana :
S = jarak masing – masing tiang dalam kelompok

D = diameter tiang

1. Daya dukung keseimbangan kelompok tiang, dapat diperhitungkan dengan cara :

2. BERDASARKAN DAYA DUKUNG TANAH

Qpg = 1/3 ( C * Nc * A + 2 ( B + Y ) * I.c

Qpg : daya dukung yang diijinkan pada kelompok tiang

3 : Faktor keamanan

C : Kohesi

l.c : Total hambatan pelekatan / clef

A : luas kelompok tiang ( B x Y )

B : Lebar kelompok tiang

Y : panjang kelompok tiang

Nc : factor daya dukung yang dapat diperoleh dari grafik menurut “Skempton”.

2. BERDASARKAN EFISIENSI KELOMPOK TIANG

Ada beberapa Teori / metoda effesiensi yang bisa digunakan, yaitu :

2.1 METODE FELD

Metode ini berdasarkan pembagian effisiensi kepada setiap tiang dari pengaruh tiang – tiang disekitarnya

terhadap tiang yang ditinjau.

Dimana , Qt = Effisiensi X Qsp ( daya dukung tiang single )

2.2. PERUMUSAN DARI UNIFORM BUILDING CODE DARI AASHO

2.3 MENURUT LOS ANGELES GROUP – ACTION FORMULA

1. Kemampuan Tiang pancang terhadap kekuatan bahan tiang.

Jika dilakukan pemancangan tiang sampai ke tanah keras harus diperhitungkan terhadap kekuatan bahan tiang

pancang itu sendiri .

1. KAJIAN TEKNIK DARI PERHITUNGAN DESAIN

B.1. Langkah – langkah dalam perhitungan desain Pondasi meliputi :

1. Pengumpulan data teknik, yaitu :

 Data tanah dan geologi tanah dari hasil test Sondir, Boring & SPT, dan Laboratorium
 Desian bangunan atas.

2. Perhitungan beban dan gaya yang akan bekerja pada pondasi yang ditinjau.

 Perhitungan beban / gaya Vertikal akibat berat bangunan sendiri dan beban lainnya yang bekerja pada

bangunan tersebut.

 Perhitungan beban / gaya horizontal , ( Aktif dan Pasif )

 Perhitungan Momen gaya yang bekerja.

3. Perhitungan Daya dukung.

 Perhitungan Daya dukung tanah keseimbangan terhadap pondasi

 Bilamana Daya dukung tanah tidak mampu memikul beban dan berat sendiri bangunan yang bekerja,

maka direncanakan digunakan pondasi tiang pancang dengan kondisi pencapaian tanah keras cukup

dalam.

4. Kontrol Stabilitas bangunan.

 Kontrol Stabilitas terhadap Guling, dimana gaya yang memengaruhi akibat gaya Momen ( Momen

akibat gaya Vertikal dan Momen akibat gaya Horisontal ). Dengan Faktor control : F > 1,5 ( factor

control keamanan ).

 Kontrol Stabilitas terhadap Geser, dimana gaya yang memengaruhi akibat gaya Vertikal dan gaya

Horisontal ( Lateral ). Dengan factor control : F > 1,5 ( factor control keamanan )

 Kontrol stabilitas daya dukung, dimana gaya yang memengaruhi gaya vertical terhadap daya dukung

tanah. Dengan factor control , GAYA VERTIKAL < DAYA DUKUNG TANAH.

5. Direncanakan dengan pondasi tiang pancang akibat daya dukung tidak mampu dan pencapaian tanah

keras cukup dalam.

 Perhitungan Kekuatan Tiang Pancang ( desaian tiang pancang yang akan digunakan )

 Perhitungan daya dukung tiang pancang single pile terhadap daya dukung tanah dan gesekan.

 Perhitungan daya dukung tiang pancang pile group terhadap daya dukung tanah dan gesekan.

 Kontrol kemampuan tiang terhadap gaya vertical, dengan syarat


Pmax ( gaya vertikal yang bekerja pada setiap tiang dalam kelompok ) < Ptiang ( daya dukung /

kemampuan tiang )

 Kontrol kemampuan tiang terhadap gaya horisontal, dengan syarat

Pt ( gaya horisontal yang bekerja pada setiap tiang dalam kelompok ) < Ptiang ( daya dukung /

kemampuan tiang ).

B.2. KAJIAN TERHADAP DESAIN BANGUNAN.

Desain bangunan yang akan dikaji terkait pondasi adalah bangunan induk SABO DAM SUKASENANG ,

JAWA BARAT. Dimana hasil analisa terkait pondasi sebagai berikut :

1. Pengumpulan data teknik :

– Desain bangunan induk sabo dam sudah direncanakan , dengan desain sebagaimana gambar perencanaan

terlampir. Diketahui bangunan bawah sabo dam yang masuk dibawah tanah dasar sedalam 6.00 M’

diperlakukan sebagai pondasi pendukung bangunan atas sabo dam.

– Data Tanah / geologi yang didapat dari hasil test sondir, Boring & SPT, dan data Laboratorium diketahui

bahwa kondisi tanah dimana rencana bangunan Sabo Dam Suka Senang akan didirikan adalah :

1. Diketahui nilai konus terbesar, tahanan gesek tanah/ clef terbesar, dan nilai N-SPT > 50 berada pada

kedalaman lebih dari 10 m’. Dengan demikian dapat diartikan tanah keras baru dapat tercapai pada

kedalaman lebih dari 10 m’

2. Diketahui Jenis tanah pada kedalaman 0 – 5 m’ adalah tanah lempung berpasir, mempunyai kohesi dan

kadar air cukup tinggi, jenis tanah lunak sampai dengan sedang. Jenis tanah pada kedalaman 5 – 16 m’

Pasir padat dengan sedikit lempung, non cohesi, jenis tanah sedang sampai dengan keras / padat.

Ditunjukan dari data boring ( N- SPT > 50 / tanah padat ) pada kedalaman lebih dari 10 m’.

Semua data data tersebut ( nilai konus, tahanan gesek, nilai kohesi, sudut geser perlawanan tanah, dll )

digunakan untuk dasar perhitungan dan penentuan nilai –nilai koefisien lainnya yang dibutuhkan dalam

perhitungan dengan rumus empiris. ( sebagaimana terlampir dalam data perhitungan )

2. Perhitungan beban dan gaya.

Sesuai desaian bangunan dan data tanah diperhitungkan beban dan gaya sebagai berikut :
1. Gaya Vertikal

 Gaya vertical bawah akibat berat bangunan sendiri ( bangunan induk sabo dam dari beton ). (

Perhitungan terlampir )

 Gaya vertical bawah akibat beban air, diperhitungkan beban puncak pada saat muka air banjir. (

Perhitungan terlampir )

 Gaya vertical atas ( Gaya UPLIFT ) akibat gaya angkat beban air pada beban puncak pada saat muka air

banjir. ( Perhitungan terlampir )

1. Gaya Horisontal / Gaya Lateral

 Gaya horizontal Aktif, yaitu gaya yang bekerja penuh secara horizontal terhadap bangunan,

diperhitungkan gaya horizontal aktif yang bekerja yaitu : gaya horizontal aktif akibat air banjir , gaya

horizontal aktif akibat tekanan tanah aktif pada kedalaman 0 – 5 m’ ( tanah berkohesi dan terendam air

), dan gaya horizontal aktif akibat air tanah. ( Perhitungan terlampir ).

 Gaya horizontal Pasif, yaitu gaya yang bekerja sebagai perlawanan akibat adanya gaya aktif yang

bekerja, gaya horizontal pasif yang bekerja yaitu : gaya horizontal pasif akibat air banjir ( tinjauan muka

air belakang bangunan sabo dam ), gaya horizontal akibat tekanan tanah pasif pada kedalaman 0 – 5 m’

( kondisi tanpa tiang pancang ) dan akibat tekanan tanah pasif pada kedalaman 5 – 16 m’ ( kondisi

dengan tiang pancang )

1. Gaya Momen .

 Gaya momen, yaitu gaya yang bekerja secara statis terhadap titik tertentu ( mempunyai lengan momen ).

Diperhitungkan gaya momen akibat beban vertical dan beban horizontal. ( Perhitungan terlampir )

3. Perhitungan Daya dukung

Sesuai desain rencana bangunan bawah Sabo Dam berada 6 m’ dibawah tanah dasar dan bilamana

diperhitungkan sebagai pondasi bawah bentuk persegi, dengan data tanah pada kedalaman 0 – 5 m’

sebagaimana diketahui dan digunakan rumus empiris daya dukung dari TERZAGHI diketahui bawa daya

dukung tanah pada kedalaman 0 – 5 m ‘ tidak mampu memikul beban vertical yang bekerja pada bangunan

Sabo Dam ( beban Vertikal puncak ). ( perhitungan terlampir ).


4. Kontrol Stabilitas

Bilamana bangunan sabo dam direncanakan tanpa pondasi tiang pancang maka sesuai perhitungan control

stabiltas ( perhitungan terlampir ). Didapat Kesimpulan

1. Kontrol Guling, Bangunan Sabo dam Aman / mampu menahan gaya guling.

2. Kontrol Geser, Bangunan Sabo dam Aman / Mampu menahan gaya geser akibat gaya horizontal aktif,

meskipun gaya horizontal aktif > gaya horizontal pasif ( perlawanan ) ini akibat dari beban bangunan

sendiri yang cukup berat untuk menahan gaya geser.

3. Kontrol daya dukung, Daya dukung tanah tidak mampu menahan beban / gaya vertical yang bekerja

pada bangunan sabo dam sehingga akan mengakibatkan penurunan / keruntuhan bangunan.

5. Berdasarkan daya dukung tanah ( pada kedalaman 0 – 5 m ) yang tidak mampu menahan beban

dan sesuai dari data tanah dimana tanah keras bisa tercapai pada kedalaman > 10 m’, maka

direncanakan desain pondasi dengan tiang pancang ( Pile Group ).

6. Kekuatan tiang pancang, Direncanakan digunakan tiang pancang Spun Piles Ǿ 40 dikarenakan tiang

pancang ini mempunyai kekuatan baik terhadap tahanan ujung ( end bearing point ) dan tahanan gesek

tanah ( Friction bearing ). ( Perhitungan terlampir )

7. Perhitungan daya dukung single pile terhadap tahanan ujung dan tahan gesek, dengan rumus empiris

yang ada . ( Perhitungan terlampir )

8. Perhitungan daya dukung pile group dengan menggunakan metoda efisiensi ( dipakai Metoda Feld ). (

Perhitungan terlampir )

9. Kontrol Stabilitas

d.1. Kontrol Stabilitas Guling, Bangunan Sabo dam dengan pondasi tiang pancang mampu menahan gaya

guling terhadap bangunan. ( perhitungan terlampir )

d.2. Kontrol Stabilitas Geser, Bangunan Sabo dam dengan pondasi tiang pancang mampu menahan gaya geser

akibat gaya horizontal aktif dimana gaya horizontal pasif ( perlawanan ) > gaya horizontal aktif yang bekerja.

d.3. Kontrol daya dukung , dengan adanya tiang pancang beban pada bangunan Sabo dam diterima dan

disalurkan secara merata pada setiap tiang pile group , sesuai perhitungan , Pmax ( beban yang bekerja ) <

Ptiang ( daya dukung tiang ).


d.4. Kontrol kekuatan tiang terhadap gaya vertical dan gaya horisontal, Kekuatan tiang mampu menahan gaya

vertical dan gaya horizontal yang bekerja pada Pile Group. ( Perhitungan terlampir )

https://ideteknikindonesia.com/2017/07/30/contoh-perhitungan-stabilitas-dam-bendung/